Pemilih Pemula, Potensi Memenangkan Pemilu

Pemilih pemula yang sebagian besar masih berstatus pelajar dan mahasiswa sudah lama menjadi incaran partai-partai politik dalam Pemilu maupun Pilkada. Potensi kalangan pemilih pemula sebagai faktor penentu kemenangan sangatlah besar.

Dalam mensosialisasikan pemilihan umum 2009 bagi pemilih pemula, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menekan nota kesepahaman dengan Departemen Pendidikan Nasional. “Pemilih pemula sebagian besar berasal dari murid sekolah,” kata kata Anggota KPU yang mengetuai Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih, dan Pengembangan SDM, Endang Sulastri di ruang kerjanya, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemilih pemula, kata Endang, cukup berpengaruh dalam peningkatan partisipasi pemilih. KPU berharap, semua pemilih pemula menggunakan haknya.

Sosialisasi pemilih pemula akan dilakukan KPU Kabupaten/kota. Mereka mensosialisasikan ke lembaga pendidikan formal dan nonformal. Anggota KPU kabupaten/kota bekerja sama dengan Panitia Pemilihan Kecataman dan Panitia Pemungutan Suara.

Berbeda dengan Pemilu 2004, kali ini PPS dan PPK bisa membantu sosialisasi Pemilu. Saat ini, KPU sedang menyusun pedoman dan strategi sosialisasi Pemilu untuk PPS dan PPK.

Pemilih Pemula Condong Pilih Partai-partai Besar

Partai-partai politik baru agaknya tidak bisa terlalu berharap meraih banyak suara pada Pemilu 2009 nanti. Sampai saat ini, dari data yang dihimpun HMINEWS dalam beberapa Pilkada menunjukkan tidak ada perubahan perilaku pemilih masyarakat dalam pemilu mendatang.

Obsesi pemilih muda terhadap partai-partai besar wajar, karena sifat anak muda yang cenderung mengikuti tren. Mereka cenderung rendah diri jika memilih partai kecil.

Diperkirakan dalam Pemilu 2009 terdapat 20 juta pemilih yang akan memilih untuk pertama kali. Namun, partai-partai kecil masih berpeluang merebut 20 persen suara pemilih pemula 2004 yang kecewa terhadap kualitas partai. Sebab 78,1 persen pemilih pemula 2004 akan memilih partai yang sama pada Pemilu 2009. Sementara 21,9 persen lain tidak akan memilih partai yang sama.

Bagi masyarakat, pemilu bukan proses politik penting, tetapi sekadar festival, seperti lebaran atau hari raya. Walaupun sejak 1999 sudah ada kebebasan, tapi perilaku memilih mereka masih dipengaruhi ketokohan dan primordialisme,” ujar pengamat politik J Kristiadi.

Banyak partai-partai peserta pemilu menggunakan sentimen primordial seperti etnis dan agama untuk menarik simpati para pemilih, termasuk pemilih pemula.

Padahal untuk menghasilkan sebuah pemilu berkualitas yang akan menelurkan anggota legislatif dan eksekutif yang mampu menyuarakan aspirasi rakyat dan kompeten dibutuhkan para pemilih yang mampu memilih secara rasional berdasarkan visi misi partai atau kandidat yang bertarung. Namun, realitas di lapangan menunjukkan para pemilih tidak tertarik dengan visi misi partai dan kandidat, tapi lebih tertarik dengan “gizi” yang dibawa partai dan kandidat.

Strategi Dua Partai Besar

Sadar akan besarnya potensi kalangan pemilih pemula sebagai faktor penentu kemenangan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilu presiden/wapres. Beberapa partai sudah mempersiapkan itu. Diantaranya Partai Golkar, Partai Golkar membentuk organisasi Penggalangan Khusus (Galsus) bidang Pemilih Pemula yang merupakan organisasi di bawah lembaga Badan Pengendali Pemenangan Pemilu (Bappilu).

Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo mengatakan, partai berlambang pohon beringin itu sangat concern untuk membidik pemilih pemula dan kaum ibu pada Pemilu 2009. Partai Golkar, katanya, juga mempunyai tim penggalangan generasi muda yang ada di organisasinya.

“Partai Golkar adalah partai yang memandang regenerasi sebagai hal yang sangat penting. Karena itu, kami akan berupaya merebut hati para pemilih pemula dari kalangan muda agar mereka kelak bisa menjadi kader-kader Partai Golkar yang andal. Untuk itu, Partai Golkar bahkan memiliki sub bidang khusus untuk menggalang pemilih pemula di Bappilu,” kata Firman Subagyo.

Burhanuddin Napitupulu mengatakan, fenomena pemilih pemula yang saat ini memilih figur-figur generasi muda juga menjadi perhatian Partai Golkar.

“Dalam susunan kepengurusan Bappilu, kita rekrut generasi muda. Kurang lebih 75 persen pengurus Bappilu adalah anak-anak muda. Belum lagi soal calon legislatif, usia 30-40 kita berikan 50 persen,” ujarnya.

Leo Nababan menambahkan, Partai Golkar melihat pemilih pemula merupakan sesuatu hal yang potensial. “Karena itu, di Bappilu dibentuk Galsus bidang pemilih pemula. Menurut saya, segmentasi pemilih pemula harus diberikan prioritas khusus oleh partai politik, karena saat ini kita tidak mungkin bicara lagi soal-soal yang konvensional,” katanya.

Untuk itu, strategi Partai Golkar ke depan untuk meraih simpati pemilih pemula adalah dengan melihat selera dari pemilih pemula itu sendiri yang rata-rata berasal dari kalangan muda.

“Strateginya dengan memfokuskan pada minat para pemilih pemula itu, misalnya saja minat di bidang seni atau olah raga. Tidak mungkin untuk pemilih pemula yang segmentasinya anak-anak muda kita kasih musik keroncong,” katanya.

Burhanuddin Napitupulu mengatakan tidak ada korelasi antara pemilih pemula dengan pilihan kepada calon kepala daerah yang berusia muda. “Harus dilihat bahwa dalam memilih kepala daerah yang dipilih adalah figurnya, rakyat melihat dan menetapkan pilihannya bukan hanya dari faktor usia saja,” ujarnya.

Tak mau kalah, PDI Perjuangan pun membentuk organisasi sayap Taruna Merah Putih untuk merangkul generasi muda. Organisasi yang baru dideklarasikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri itu, termasuk dalam pembinaan kader jangka panjang.

“Tidak hanya untuk tahun 2009, tetapi juga kepentingan partai di tahun 2014 dan tahun-tahun seterusnya,” kata Maruarar yang juga Ketua Umum Taruna Merah Putih.

Anggota Taruna Merah Putih tidak hanya kader-kader PDI Perjuangan, namun juga dari organisasi lain khususnya mahasiswa yang sudah eksis sebelumnya. “Pelajar, profesional dan mahasiswa menjadi target PDI Perjuangan melalui Taruna Merah Putih. Porsinya 75 persen kader non partai,” katanya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat Taruna Merah Putih akan dideklarasikan ke seluruh Indonesia. Generasi muda menjadi kunci membangun bangsa karena penuh ide-ide kreatif sehingga perlu didukung agar semangat dan kegigihan mereka tersalurkan secara tepat.

Maruarar juga mengklaim, kini PDI Perjuangan tercatat sebagai partai yang paling banyak mengantarkan pasangan figur menjadi kepala daerah. “Sekitar 40 persen kepala daerah di Indonesia menggunakan perahu PDI Perjuangan maupun berkoalisi dengan partai lain,” kata Maruarar.

“Banyak kekecewaan terhadap pemerintah dan kader PDI Perjuangan mampu membuktikan bahwa mereka siap memberikan yang terbaik untuk rakyat,” kata Maruarar. (Busthomy Rifa’i)

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Mahasiswa Tak Peduli

Sebagian mahasiswa di Jakarta tidak peduli dengan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Wida (21), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta mengaku tak ambil pusing dengan kenaikan harga bahan pokok.  “Peduli amat gue, mikirin kuliah aja udah ribet” katanya kepada HMINEWS,  Rabu pekan silam (21/4). Menurutnya melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan telor sudah menjadi kebijakan pemerintah.

Hambali (21), mahasiswa UNJ lainnya mengatakan, ” saya sih setuju saja dengan kebijakan pemerintah, habisnya mau apa lagi.” Kebijakan pemerintah menaikkan harga kebutuhan bahan pokok sudah membuat rakyat susah. Hanum (41) seorang ibu rumah tangga sekaligus pemilik warung kelontong di Bekasi mengeluhkan harga yang kian hari kian tak menentu.

Hanum mencontohkan ketidakpastian harga minyak tanah dari pemerintah bikin harga minyak tanah tak menentu. Kadang terjual dengan harga Rp 10 ribu per 3 liter, tapi sewaktu-watu dapat berubah jadi Rp 10 ribu per liter, bahkan bisa mencapai 12 ribu per liter. Mendapati harga minyak tanah dengan harga yang demikian, Hanum masih harus mengantri tiga hari sekali dengan nomer antrian pemberitan ketua Rukum Tetangga (RT) setempat.

Hanum juga mengeluh harga barang-barang dagangan yang lain juga ikut naik, seperti mie instan, gula, terigu dan beras. Mie instan, misalnya, yang biasa dibeli seharga 38 ribu per dus kini molonjak jadi Rp 43 per dus. Kanaikan itu, katanya, membuat dia tak bisa belanja untuk menenuhi warungnya karena modal yang sedekit tapi daya beli makin menurun.

Edi (22), seorang mahasiswa Jakarta, mengaku mengetahui fenomena yang terjadi pada Hanum, tapi ia menjelaskan tidak bisa berbuat apa-apa sehingga ia tidak mau ambil pusing dengan kenaikan harga bahan pokok.

Berbeda dengan mahasiswa lain, Nida (20), mahasiswa UNJ mengatakan, ” Tentu sangat prihatin, itu semua membuat rakyat susah semakin susah dan yang miskin makin miskin, hidup menjadi terjepit dalam kesengsaraan, karena kejahatan ada di mana-mana, copet merajalela, dan angka kriminalistas yang tinggi.” (Rita Z)