Reformasi Berproduk (lah!)

Di Fith Avenue, New York, AS. Menengadah menatap ke ujung gedung jangkung menjulang langit, membuat leher sakit, ujung bangunan tak kunjung tampak. Gedung-gedung tinggi laksana beton memagari penglihatan, membuat tatapan fokus ke lingkup datar. Di salah satu butik di bilangan jalan itu, Anda bisa menemukan produk tas bermerk The Sak. Kendati branded luar negeri, sebagian buatan Jogyakarta, Pulau Jawa, Indonesia. Di sana tas buatan Jogya itu dijual berkisar US 35 hingga US $ 105.

Saya menjadi teringat momentum di New York itu, sebagai sebuah “penyesalan” terhadap reformasi yang telah berjalan sepuluh tahun di Indonesia. “Penyesalan” akan kehidupan yang tak kunjung lebih baik; jumlah sarjana yang lahir tiap tahun mencapai 780.000 orang, hanya untuk menganggur.

Jumlah enterprener hanya 0,8% saja dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta orang. Semangat melahirkan berbagai produk dan jasa yang masuk ke pasaran, animonya terindikasi menyusut. Apalagi di daerah kini, yang tersosialisasikan jika ingin kaya, ya, berpolitiklah!
Setelah memperhatikan demo memprotes kenaikan Bahan Bakar Minyak, juga menyimak siaran televisi yang memberitakan pendaftaran partai politik pada 12 Mei 2008 lalu, melalui TV One, saya menyaksikan gerak, langkah, aktifitas partai politik menyiapkan diri, mengikuti verifikasi, mendaftar di KPU Pusat. Mencengangkan. Berlemari-lemari, bekoli-koli dokumen di berbagai dus, box plastik, berjejalan. Manca warna.

Melihat tumpukan bahan, melihat desak-desakkan rombongan pengantar berkas mengejar tenggat, laksana orang hendak kebelet ke belakang, semuanya buru-buru, untuk tampil dahulu.

Di adegan itu, luar biasa etos dan kegigihan yang tampak. Sayangnya etos itu bukan dipusatkan melahirkan sebuah produk dan atau jasa tertentu. Sebaliknya animo berpolitik di berbagai lini kini, terutama di daerah kini, kian meninggi.

Saya sempat mengamati persiapan sebuah partai baru. Mulai dari menyiapkan berkas untuk pendaftaran Depkumham, lalu kini ke KPU, mulai dari tingkat desa di pelesok daerah, hingga kelurahan, camat, kabupaten, propinsi, berlapis-lapis. Untuk memfotokopi data perkabupaten saja, seorang kawan di Kupang, Nusa Tenggara Timur menghabiskan Rp 5 juta, sebuah angka yang ironis bila dibandingkan keadaan dengan masih banyaknya balita kurang gizi di sana.
Menjelang pemilu tahun depan, kehebohan perpolitikan memang manjadi-jadi. Ada partai-partai baru yang membagi Mobil untuk tingkat propinsi, membagikan komputer untuk tiap kabupaten. Juga membagi uang, mulai dari Rp 300 juta propinsi dan Rp 50 juta untuk kabupaten. Luar biasa heboh tampaknya.Inilah yang bisa disebut salah satu hikmah Reformasi?

EMPAT tahun silam, di sebuah hotel di Jogya. Seorang wanita menyetir mobil Jaguarnya seorang diri. Saya tak mengira. Berhenti di lobby hotel, ia menjemput saya. Usia kami sama. Ia mengajak ngobrol di sebuah café di sebuah mall di kota gudek itu.
Dialah, Delia Murwihartini. Ia sosok wanita pembuat tas yang dijual di Fith Avenue, New York, AS, itu. The Sak, mengorder khusus kepada Dolly – – begitu ia akrab disapa – – untuk dijual di butik-butik mahal dunia.

Bukan saja The Sak. Beberapa produk fashion lain, seperti Gian Franco Ferre, juga mengorder tas padanya. Keunikan tas produksi Dolly, berbahan alami. Ia memadukan bahan enceng gondok dengan rotan. Atau kombinasi kulit, dan rotan. Kombinasi ramin dan kulit. Pokoknya serba ada bahan alaminya.

Saya teringat menuliskan kembali Dolly di saat perayaan sepuluh tahun reformasi, demo-demo mulai lagi terjadi di petang di sebuah mall di Jogya itu, saya begitu bangga ketika Dolly mengucapkan, ekspornya kala itu sudah US $ 7 juta setahun. Untuk pembayar pajak ukuran usaha UKM, dia menempati yang terbesar sedaerah istemewa Jogyakarta. Lalu jika banyak pengusaha lain begitu bergantung kepada proyek pemerintah, Dolly sama sekali tak menjamah.

Bahkan Sultan pun sering mengajaknya berbisnis. Dolly lebih banyak menampik. Hal itu telah membuat langkahnya ringan: dalam setiap seminar jika ia diundang, Dolly bisa bicara apa adanya, misalnya, tentang isu rencana pembangunan airport baru di Jogya, kala itu. Dolly tampil kritis.

Terbayangkankah oleh Anda, jika reformasi yang ada, melahirkan orang-orang seperti Dolly? Ia menciptakan lapangan kerja. Untuk pasar lokal ia memilki merek sendiri dengan label Reads Bag. DOLLY seorang sarjana komunikasi lulusan Universitas Gadjah Mada. Lantaran ogah bekerja kantoran seperti teman-temannya, selepas kuliah Delia malah kursus menjahit. Buntutnya, sejak 1989 ia menjahit tas yang ia titipkan di berbagai penginapan yang banyak mendapat tamu asing, di Prawirotaman, Yogyakarta.

Setiap minggu, tak lebih dari 15 buah tas berhasil ia produksi. “Saya nenteng-nenteng anak pertama saya ikut ngasong,” kenang Delia. Modalnya hanya gunting, jarum dan sebuah mesin jahit merek Butterfly.
Menjajakan tas dari satu guest house ke guest house lainnya, Delia berkeliling mengendarai sepeda motor bututnya. Selain di guest house, ia juga menitipkan tas di Tourist Information Center, di bilangan Malioboro.

Meski satu-dua bule terlihat membeli tas buatannya sebagai buah tangan dari Indonesia. Saat itu tas buatannya tidak punya label merek. Harganya cuma US$ 3 – US$ 5.

Di saat betrkeliling mejajakan tas itu, tanpa malu Dolly menceritakan pula pengalamannya “ditawar” oleh pria hidung belang. Ia tentu menolak, karena dagangannya adalah: tas!

Mujur tak dapat ditampik. Kurang dari setahun mengasong tas, Delia bertemu bule Swedia yang langsung memesan tas senilai US$ 6.000. Ia harus mengirim pesanan itu dalam waktu satu bulan. Bermodal nekat, ia menyanggupi pesanan itu.

Sayang, pinjaman bank tak juga mengucur ke kantongnya. Padahal, ia harus segera menggarap pesanan tas dalam jumlah ribuan unit. Tak kehabisan akal, Delia lalu menyambangi toko-toko yang menjual bahan baku. Pada mereka, Delia bilang bahwa ia sedang mendapat order namun tak punya uang untuk membeli bahan baku. Karenanya, ia mengajak kerja sama untuk memberikan barang-barang yang dibutuhkan, dan akan dibayar kemudian. “Dan itu berjalan!” ujarnya.

Dengan bahan baku “utangan”, Delia merangkul lima orang perajin lokal untuk menggarap pesanan itu. Para perajin itu memproduksi tas di rumah mereka sendiri lantaran Dolly tak punya lahan yang cukup untuk menampung mereka.

Makanya, ia rela setiap hari menyambangi para perajin dari satu desa ke desa lain demi mengontrol kualitas tas sesuai standarnya.
Maret 1990, ekspor pertama tas Delly berangkat ke Swedia. Inilah pengalaman pertamanya membuat tas dalam jumlah ribuan dan harus mengatur pengerjaan, mengontrol kualitas, serta mengirimnya dengan rapi. “Dari situ saya punya keberanian, bahwa ternyata barang ini bisa terjual dengan bagus,” ungkapnya.

Sejak itu Dolly lebih berani berhadapan dengan calon-calon pemesannya. Pesanan senilai US$ 3.000-US$ 4.000 kemudian masuk dalam daftar order yang biasa ia garap. Salah satu cara menggaet pembeli dari mancanegara itu, ia mendatangi kantor Departemen Perdagangan dan minta daftar perusahaan-perusahaan di Eropa yang membutuhkan tas dari Indonesia.

Setelah nama dan alamat ada di tangan, ia mengirimkan katalog tas produksinya. Tak hanya itu, ia berkorespondensi dengan calon pembeli dan berniat menyambangi mereka satu per satu di Eropa.
Akhirnya niat itu kesampaian. Tahun 1991 Dolly menyeret satu koper besar berisi contoh tas ke Eropa. Ia menuju Italia, Belanda, Belgia, dan berakhir di Paris. Di negara-negara itu ia menggelar dagangannya di depan calon pembeli dan berpromosi menjajakan tas buatannya. “Wah, saya seperti bakul. Buka koper, dagang sampel tas di sana,” kenangnya.

Pulang ke Indonesia, ia membawa setumpuk order. Ia pun menggandeng sekitar 100 orang perajin lokal untuk menyelesaikan pesanan itu. Terpaksa, ia juga mengubah rumah orang tuanya menjadi pabrik tas dadakan.

Berikutnya, Dolly juga menyambangi Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk mencari tahu jadwal pameran yang kerap digelar di Eropa.
Ia bertekad harus mampu menembus pasar Eropa. Lantaran tabungannya masih tipis, ia mendapat bantuan Dewan Penunjang Ekspor terbang ke Paris untuk menggelar pameran di sana. Pameran ini merupakan awal ia berhubungan dengan dunia internasional untuk perdagangan tas. “Setelah itu saya ketagihan untuk pameran di luar negeri,” tukasnya.
Kerja kerasnya berbuah manis. Pada 1994 ia sudah mampu membangun pabrik di lahan seluas 2.000 m2, di kawasan Parangtritis. Kini pabrik ini luasnya sudah menjadi 1 ha. Delia pun mengibarkan bendera bisnis dengan nama PT Rumindo Pratama.

Tak puas dengan menembus pasar Eropa, Delia terus merangsek ke pasar Amerika. Berikutnya, ia malah mandek mengirimkan tas untuk pasar Eropa yang bermerek Russel and Brownly, Missoni, dan Massini. Ia ingin berkonsentrasi penuh membangun pasar Amerika.
Tahun 1998 ia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 6.000 meter persegi di Sleman. Ia juga meladeni kembali pasar Eropa yang sempat ia hentikan. Karyawannya bertambah hingga 600 orang dengan kapasitas produksi tak kurang dari 100.000 unit tas per bulan.
Jika sedang peak season, antara Agustus-September, produksinya mencapai 150.000 unit per bulan. Di tahun yang sama, ia mematenkan merek Read’s yang kualitas dan desainnya mirip dengan tas-tas yang ia produksi sebelumnya. Merek ini ada di pasar Indonesia, Australia dan Swis.

Kini Delia sudah menjadi pemain besar. Salah satu indikasinya, produk-produknya sudah menjadi sasaran pembajak, terutama dari China. The Sak dijiplak dengan menggunakan bahan baku yang berkualitas lebih rendah. “Kalau punya saya harganya US$ 10, mereka jual jiplakannya US$ 3.”

Di saat mengantar saya kembali ke hotel, Dolly menceritakan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Saya pun begitu memprihatinkan konten pengajaran anak-anak kini. Dengan adanya pengusaha yang mandiri, memang seharusnya mampu menggerakkan masyarakat menjadi madani.
Ketika melihat demo-demo di hari ini mulai membuncah lagi, kenangan saya lebih tertuju kepada Dolly, yang memiliki produk merambah pasar dunia dibanding melirik sosok politikus muda macam Budiman Sujatmiko, misalnya.

Di saat lapangan kerja kian berkurang, Dolly-Dolly baru dibutuhkan bangsa kini. Premis saya, di era reformasi, berproduklah! Dan berjasalah. Tetapi jangan pula jasa penyelenggara demonstrasi. (Iwan Piliang)