25 Tahun Mizan: Membaca Membangun Karekter Bangsa

paragondesign.web.id

Perkembangan multimedia dan budaya menonton yang tinggi di kalangan masyarakat menyebabkan fenomena menyusutnya budaya baca. Masyarakat lebih suka memonton daripada membaca. Mizan yang sudah 25 tahun berdiri, kini mengembangkan usahanya guna meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia.

“Kebenaran adalah sesuatu yang mutlak. Menegakkan kebenaran tak mempan waktu. Seberapa kecil pun, seberapa lama pun, tak ada waktu yang hilang. Sementara, kesabaran menjulang mengatasi keterbatasan durasi hidup manusia. Tak ada waktu yang terlalu panjang di hadapan kesabaran. Kebenaran dan kesabaran, di hadapan durasi waktu, adalah dua sisi dari satu koin yang sama.”
Itulah kata-kata pembuka Haidar Bagir ketika mengantarkan perjalanan 25 tahun Mizan yang acara puncaknya akan diadakan pada Sabtu, 20 September 2008, di Jakarta. Mizan saat ini tentu berbeda dengan Mizan ketika didirikan pertama kali oleh anak-anak muda yang belum menuntaskan kuliahnya. Mizan awal, yang didirikan pada 7 Maret 1983, adalah sebuah penerbit buku Islam. Dalam sepuluh tahun perjalanannya (1983-1993), Mizan berhasil “mengukuhkan matra-baru pemikiran Islam di Indonesia”.

Kini, 25 tahun sudah Mizan menancapkan eksistensinya di bumi Indonesia. Mizan tidak lagi hanya menerbitkan buku-buku Islam. Meskipun buku-buku yang menjadi ciri-khas Mizan tetap dipertahankan, Mizan masa kini telah meluas dan melebar serta berhasil menerbitkan buku-buku yang dapat dikonsumsi oleh banyak sekali kelompok masyarakat. Di bawah payung Mizan Publika, yang didirikan pada 1999, kini ada sembilan perusahaan yang disebut sebagai unit usaha Kelompok Mizan. Kesembilan perusahaan tersebut terdiri atas lima perusahaan penerbitan buku dan empat perusahaan jasa untuk melayani penerbitan buku.

Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama yang turut hadir dan memberikan orasinya menyampaikan, Perkembangan multimedia dan budaya menonton yang tinggi di kalangan masyarakat Indonesia, dan menjadi bagian dari budaya kita, merupakan tantangan yang harus dijawab. Sebab hal ini menyebabkan fenomena menyusutnya budaya baca. Walaupun jumlah penerbit bertambah, jumlah toko buku bertambah, budaya baca harus terus dipicu dan dipacu. Karena budaya baca yang masih rendah, Human Index Indonesia berada pada peringkat 107 dari 177 negara.

“Membaca buku, budaya membaca, masih merupakan sesuatu yang harus kita picu dan pacu, agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara maju, ” tandasnya.

Syukuran 25 Mizan yang bertajuk Menjelajah Semesta Hikmah, dihadiri sekitar 300 orang dan tampak hadir sejumlah tokoh antara lain Komaruddin Hidayat, Mudji Sutrisno, Anis Baswedan, Mochtar Pabotinggi, dan August Parengkuan.

Jakob Oetama menilai 25 tahun Mizan yang mengesankan tidak saja menjelajah semesta, tapi juga telah memberikan sumbangsih untuk membangun karakter bangsa, sesuatu yang masih diperlukan bangsa ini. “Dengan kerja keras, disiplin waktu, dan dengan rasa saling percaya dan menafikan rasa curiga, Mizan mencoba menjawab tantangan bangsa ini. Tantangan justru membangkitkan jawaban,” ujarnya.

Kuntowijoyo Award

Syukuran 25 Tahun Mizan juga ditandai dengan peluncuran Kuntowijoyo Award. Komaruddin Hidayat selaku Ketua Komite Kontowijoyo Award mengatakan, Kuntowijoyo namanya diabadikan untuk Kuntowijoyo Award guna mengenang dia selaku cendekiawan, pemikir dan penggagas ilmu sosial profetik dan ilmu sastra profetik yang telah menulis lebih dari 50 buku.

“Kuntowijoyo Award akan diberikan kepada para cendekiawan yang berprestasi dalam mengembangkan penelitian dan praktik di berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, ” katanya.

Kepada hadirin sempat ditayangkan dokumenter tentang Kuntowijoyo yang semasa produktifnya sebagai penulis, karya-karya sastranya banyak meraih berbagai penghargaan. Bahkan ketika sembuh dari sakit, dengan dipaksakan, walau menulis dengan satu jari, Kuntowijoyo masih terus memberikan pemikiran buat bangsa. “Mas Kunto adalah sosok yang pantas diteladani, ” tandas Komaruddin Hidayat.

Selain peluncuran Kuntowijoyo Award, Mizan juga memberikan penghargaan kepada Andi F Noya (Host Progran TV Kick Andy) sebagai tokoh yang berjasa bagi dunia perbukuan. Dan Penghargaan Penulis Paling Fenomenal kepada Andrea Hirata.

Film Laskar Pelangi

Yang tak kalah menarik pada kesempatan malam itu ialah “Meet and Greet Produser dan Pemain Film Laskar Pelangi“. Para bintang dan produser film Laskar Pelangi maju ke atas panggung setelah trailer film Laskar Pelangi di putar.

Film yang disutradari Riri Reza ini diproduksi bersama Mizan Production dan Milis Film. Mizan Productiion semula bernama Mizan Cinema yang merupakan unit usaha baru di kelompok Mizan yang bergerak dibidang event organizind dan productiion house. Kemunculan Mizan Production ini bersamaaan dengan dirintiskannya Mizan New Media yang akan memastikan produk-produk Kelompok Mizan dapat diakses di berbagai media. (Busthomi Rifa’i)