Aktivis 98 Bukan Politisi Kosong

Ditengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik dan politisi, sejumlah aktivis 98 menyatakan terjun ke dunia politik dan bertarung pada pemilu 2009 mendatang. “Aktivis 98 bukan politisi kosong yang tidak mempunyai agenda dalam berpolitik seperi halnya para selebriti yang juga terjun kedunia politik”. Ujar Ray Rangkuti, Direktur ingkar Madani Untuk Indonesia (Lima) di Jakarta. Ray menambahkan, banyaknya mantan aktivis 98 yang terjun ke dunia politik menunjukkan bahwa adanya kesadaran baru dikalangan aktivis dalam melanjutkan agenda perjuangan.

Hal senada juga di sampaikan oleh Hanif Dhakiri mantan aktivis 98 yang menjadi caleg dari PKB dan Sarbini caleg dari partai Demokrat serta Kusfiardi mantan Koordinartor Koalisi Anti Utang (KAU) yang menjadi caleg dari Partai Gerindra pada pemilu 2009.

Ditemui disela-sela acara, Hanif mengatakan, perjuangan untuk melakukan perubahan tidak bisa lagi hanya dengan gerakan di jalanan, tapi harus langsung ke pusat pengambilan keputusan yakni DPR. “Ini merupakan salah satu jalan untuk melakukan perubahan dari dalam sistem” ujarnya.

Sarbini menambahkan, saat ini sistem penentuan tidak lagi dengan sistem nomor urut tapi dengan suara terbanyak, jadi sangat terbuka peluang bagi aktivis 98 untuk masuk dalam politik praktis. “Dengan sistem suara terbanyak seperti saat ini, jika ada partai manapun yang mencalonkan saya, saya akan terima” demikian ujarnya.
Kusfiardi mengatakan, persoalan utama bangsa ini terletak pada persoalan anggaran, kebijakan moneter, fiskal dan utang luar negeri. “Kita tidak bisa lagi menyerahkan persoalan ini kepada orang yang tidak mengerti hal ini, dan kita harus mengisi posisi itu” katanya melanjutkan.

Sementara itu, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimli Assidiqie mengingatkan para aktivis 98 yang bertarung pada pemilu 2009 bahwa menjadi anggota legislatif itu banyak godaannya. “Banyaknya mantan aktivis yang masuk ke DPR menandakan sebuah pertanda baik bagi regenerasi bangsa, tapi harus diingat bahwa anggota legislartif itu banyak godaannya, jadi harus tetap menjaga integritas, idealisme dan yang paling penting jangan korupsi serta jangan larut dalam suasana dan akhirnya terbawa sistem,”ujar Jimli.

Hal senada juga di sampaikan Ray Rangkuti. “Satu hal yang harus dijaga oleh kawan-kawan aktivis adalah integritas dan moral. Jika kawan-kawan terlibat dalam korupsi maka lawan anda adalah para aktivis 98.” (Sunardi)