Dana Pendidikan Kurang dari 20 Persen

Presiden SBY diminta untuk minta maaf kepada rakyat dengan mengadakan pidato kepresidenan atas tidak konsistennya alokasi dana pendidikan yang ternyata tidak mencapai 20 persen. Pernyataan itu dilontarkan oleh Ade Irawan koordinator pelayanan publik Indonesia Corruption Watch  pada Konferensi Pers tentang Anggaran Pendidikan  yang diadakan oleh Koalisi  Pendidikan (ICW, AUDITAN, SEKNAS FITRA, Suara Ibu Peduli, YLKI, Sarikat Guru) di markas ICW Jl. Kalibata IVD No. 6 Jakarta Selatan.

Ketidakkonsisten pemerintah terlihat pada penyampaian nota keuangan APBN 2008 yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan akan mengalami tambahan sebesar Rp. 46,15 trilyun. Namun dalam pembahasan akhir pemerintah dan DPR tanggal 23 Oktober 2008 justru disepakati hanya sebesar Rp. 30,3 trilyun atau turun sebesar Rp. 15,94 trilyun (35%).
Pernyatan itu juga memperlihatkan ketidak seriusan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan tidak memprioritaskan pendidikan sebagai sesuatu hal yang penting. “hal tersebut  memperlihatkan bahwa tidak adanya keinginan pemerintah untuk memberikan anggaran pendidikan 20% dan merupakan angka akal-akalan saja” ujar Ade.

Koalisi Pendidikan meminta kepada pemerintah dan DPR untuk menyampaikan kepada publik perihal anggaran pendidikan secara transparan. Rakyat jangan ditakut-takuti dengan krisis global yang kemudian membuat beban APBN. Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk perlu mengawasi pelaksanaan anggaran pendidikan.”pemerintah tahun-tahun ini semestinya terbuka terhadap publik, misalnya anggaran ini digunakan untuk apa?. Tanpa 20% kita tidak bisa bersaing dengan negara-negara lain dalam dunia pendidikan” Tambah Ade. (Sugiyantie)

Burjo Fast Food Restaurant…

Udara dingin dini hari kota Bandung terasa hingga menusuk tulang. Perjalanan dari terminal Cicaheum ke Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), -Ledeng, Bandung ternyata lumayan panjang dan berkelak-kelok. Kunikmati perjalanan, terguncang-guncang di angkot yang hanya dinaiki tiga penumpang. Yeah…maklum, ini kan masih jam tiga pagi…

Suasana sangat lengang ketika kujejakkan kaki di depan kampus UPI. Agenda studi pustaka akan dimulai pukul 08.00 nanti. Serasa bagpacker aja kalo kayak gini. Menyusuri jalan kota Bandung sendirian. Beberapa agenda diluar kampus mengakibatkan aku nggak bisa turut rombongan kampus untuk melakukan Study Pustaka ke UPI-Bandung. So, harus berangkat sendiri deh.

Sebuah pondok terlihat terang diantara perumahan lain yang masih nampak gelap gulita. Wah..ada warung buka tuh!!! Kebetulan ingin menggenapkan puasa syawalan, jadi ada baiknya saur dulu. Ternyata warung yang masih “stay tune” itu pondok Burjo (bubur kacang ijo) yang juga menyediakan menu mie instant.

Sambil menunggu si ‘aa menyelesaikan “ekspresi”nya membuat mie rebus, aku teringat pada kenangan-kenangan di warung Burjo. Di dekat MAFAZA , tempatku siaran dan beraktivitas, ada sebuah warung Burjo juga. Kalo setiap Ahad pagi, setelah kajian keputrian, biasanya aku dan Tance nongkrong disitu. “Cui…laper nggak?makan yuk!!” Aku tersenyum sendiri kalo inget si Tance.

Deuh…kangen nieh bu!!!kapan ya aku nggak sibuk???!!! Yup, Warung BURJO MIRASA jadi salah satu tempat ningkrong favoritku, selain sama Tance, kadang juga sama Rina, temanku. Menu yang paling digemari itu tempe goreng. Disini tempe goreng-nya special. Apalagi kalo tinggal di Purwokerto yang terbiasa dengan tempe goreng dengan “style” mendoan”, dijamin Anda akan merasakan “sensasi” tempe goreng yang beda (lebai nggak sieh??). Yup, kadang aku agak bosan juga dengan mendoan…pengen ngrasain tempe goreng yang kering, yang biasa aja selayaknya tempe goreng yang lain. Sekedar promo aja, selain tempe gorengnya yang lezat, bubur kacang ijo di warung ini juga oke punya. Jadi ketauan kenapa aku Tance suka ngendon disini.

Nongkrong di warung BURJO emang mengasyikkan. Suasananya yang sederhana dan terbuka membuat kita bisa berinteraksi langsung dengan yang ada disitu, baik penjual maupun pengunjung. BURJO ini kan salah satu warung fastfood juga. Emang sieh..agak-agak nggak bergizi karena menyediakan mie rebus. Aku sendiri jarang makan mie instant disini, lebih tertarik pada bubur kacang ijo-nya atau ya itu tempe goreng-nya. Suasananya sangat merakyat. Aku dan Tania suka ngobrol panjang lebar disini, sampai nggak kerasa harus berangkat ke kampus, dan kadang dengan seenaknya si Tania bilang ” Lo bayar dulu ya Ta!!” Kalo udah kayak gitu, cuma ada cengegesan aja yang tersungging di wajah si anak Item itu. Sob, sumpah, gw kangen banget sama lo!!!
Warung fastfood Burjo, menjadi salah satu alternatif tempat makan ditengah-tengah maraknya restoran atau rumah makan yang sebenarnya lebih menjual gaya hidup dibanding menjual makanan. Gaya hidup hedonisme yang disuguhkan melalui rumah makan siap saji atau fastfood, yang memberikan kesan “keren dan elegan” bagi siapa saja yang makan di dalamnya. Tanpa terasa pengunjung dibius dengan budaya-budaya yang dijiwai oleh semangat kapitalisme.

Warung BURJO memberikan sensasi lebih buat para kuliner yang menginginkan kesederhanaan, kenyamanan, serta ekonomis. Dilihat dari harga, tentu saja warung BURJO punya nilai lebih. Disini nggak ada harga yang lebih dari lima ribu (saya sudah membandingkan harga warung BURJO di Purwokerto, Bandung, Jakarta, dan Jogja).

Untuk lingkungan mahasiswa, kehadiran warung BURJO memang sangat bermafaat, apalagi disaat kodisi kantong lagi kempes. Tapi pengunjug warung Burjo teryata juga dari berbagai kalangan , mulai dari anak gedong yang uang bulanannya hampir meyamai gaji pejabat sampe kaum mustad’afin yang punya PMDK (Program Makan Dua Kali). Hehehe.
Disini memang benar-benar ekonomis. Disini kita masih bisa dapetin harga gorengan yang masih gope alias lima ratus rupiah. Disini kita masih bisa dapatkan es teh dengan harga cuma seribu. Disini kita bisa makan kenyang dan bergizi dengan bubur kacang ijo dan ketan item. Disini kita bisa bertemu siapa saja dengan teman-teman dan ngobrol santai tentang apapun. Disini kita bisa bertukar ide, debat warung Burjo, dan bisa sekedar melepas stress.

Walaupun aku kadang masih agak ragu untuk masuk ruang Burjo kalo lagi sendirian. Image-nya blum enak, akhwat nongkrong di warung Burjo. Yeah…dipikir-pikir daripada nongkrong di mall!! (lho???!!!).
Buat sobatku Tance, kapan kita nongkrong-nongkrong lagi di Burjo dan angkringan? Sambil sesekali berdiskusi tentang program-program keumatan…tentang fenomena aktivis…tentang kita…dan tentang cinta… (Shinta)

Sikap Keblinger Pemerintah Harus Diakhiri

Krisis ekonomi global yang mencengangkan dan mencengkeram banyak negara sekarang ini harus membuka mata pemerintah Indonesia. Pemerintah semestinya lebih melindungi dan berpihak pada pasar rakyat, daripada harus membela pasar modal dan pasar bebas yang terbukti gagal dalam menciptakan kesejahteraan.

Demikian dikatakan Ketua Pengurus Majelis Nasional Korps Himpunan Mahasiswa Islam (PMN KAHMI) Fuad Bawazier dalam acara halal bihalal dan HUT KAHMI ke 42, di gedung Lemhanas, (18/10).  “Pemerintah harus meninggalkan sikap keblingernya. Jangan lagi mau menjadi murid yang patuh pada Bank Dunia dan IMF yang meminta kita masuk dalam pasar bebas,” ujar Fuad.

Acara halal bihalal dan HUT KAHMI ke 42 ini dihadiri alumni HMI berbagai periode, Pengurus KAHMI berbagai kota, serta kader-kader HMI. Hadir juga ketua Partai Hanura, Wiranto, yang memberikan orasi politik di acara tersebut.

Fuad menyatakan, bangkrutnya berbagai perusahaan internasional tidak hanya membuat bingung berbagai kalangan di negara-negara dunia ketiga, seperti Indonesia. Tapi di negara dunia pertama, tempat dimana globalisasi dan pasar bebas diterompetkan. “Krisis global harus dijadikan waktu yang tepat untuk kita menolak neoliberalisme dan kapitalisme global serta kembali ke Pasal 33 UUD 1945 seperti keinginan the founding fathers bangsa ini,” tegas Fuad.

Bagi Fuad, secara prinisip kapitalisme global telah meminta  pasar modal dan pasar bebas lebih dilindungi pemerintah daripada pasar rakyat. Padahal pasar bebas dan pasar modal terdiri dari para pelaku yang sedikit jumlahnya,bersifat elitis dan spekulatif. Mereka juga bekerja secara abstrak dan  tidak menciptakan banyak lapangan kerja dengan hot money (uang panas) yang dimainkan. Meski tidak meningkatkan angka tenaga kerja, tapi para pelaku hot money ini justru dianggap yang mampu meningkatkan devisa oleh pemerintah. “Sementara pasar rakyat jelas.Pelakuanya riil berjuta-juta, lokasinya jelas ada dimana dengan aktifitas 24 jam dan mampu menyerap jutaan tenaga kerja,” ujar mantan menteri keuangan di era Orde Baru ini.

Selama ini, lanjut Fuad, apa yang terjadi di pasar modal selalu menjadi tolak ukur keberhasilan perekonomian. Padahal itu salah, sebab yang harusnya menjadi ukuran adalah bagaimana membangun pasar rakyat yang sebenarnya. “Pemerintah sekarang harus kembali ke jalan yang lurus dan tunduk pada amanah the founding fathers daripada ke Bank Dunia dan IMF. Ekonomi model Bank Dunia dan IMF sekarang harus dipertanyakan karena terbukti mengalami bencana,” tandasnya.

Fuad menambahkan, kepanikan dan kesibukan pemerintah Indonesia dalam menghadapi krisis global mencerminkan kedekatan pemerintah dengan rezim kapitalisme internasional dan para pelaku pasar bebas. Indonesia  sejatinya, kata Fuad, tidak perlu mengalami kebingungan dari krisis global yang ada sekarang. “Tapi karena sudah lama keblinger menjadi pengikut setia rezim neoliberal dan pasar bebas akhirnya ikut-ikutan mengalami kebingungan dan kepanikan,” kritiknya.

Bagi Fuad, krisis global di Amerika Serikat ini telah mengingatkan pada absolutism sosialisme yang mengalami kehancuran sebagai musuh bebuyutan absolutisme kapitalisme. Kalau sosialisme absolut melahirkan anak tunggal bernama totalitarianisme, kapitalisme absolut memiliki anak kembar, yakni pelaku pasar bebas sebagai anak pertama dan pemerintah sebagai anak kedua.

Krisis global, katanya, telah menyebabkan kapitalisme memakan anaknya sendiri. Anak kedua seperti di AS dan negara-negara Eropa diminta menanggung kesalahan anak pertama dengan cara pemerintah diminta mengeluarkan uang untuk menangani kesalahan yang dilakukan oleh anak pertama, yakni pelaku pasar bebas. “Ini tentu bertentangan dengan prinsip kapitalisme yang mengandaikan pasar mampu menolong dirinya,” tegas Fuad.

Dalam konteks Indonesia, politisi negeri ini dinilainya kurang mengerti sifat pelaku pasar yang serakah. Politisi di Indonesia hanya sibuk berebut kekuasaan dan membangun citra politiknya. “Indonesia adalah negara dengan rezim devisa yang paling liberal. Pelaku pasar bebas adalah orang-orang kawakan yang itu-itu juga dan tahu sikap pemerintah yang mudah panik dan suka menjaga citra. Dan para pelaku pasar bebas ini mampu dengan mudah mengintervensi poltisi dan pemerintah kita yang sibuk dengan diri mereka sendiri,” kritik Fuad. (Trisno Suhito)

PB HMI Dipo Akan Dorong Terus Proses Islah

Pengurus Besar (PB) HMI DIPO akan terus mendorong terjadinya proses islah dua HMI yang sudah dimulai dari peristiwa Palembang kemarin. Bagi mereka, pintu gerbang islah sudah dibuka dan tinggal diilanjutkan dengan keseriusan dua institusi, baik HMI MPO maupun HMI DIPO.

“Kita akan dorong terus proses islah. Pada pihak kami tidak ada masalah sedikitpun untuk islah,” ujar Ketua PB HMI DIPO, Arif Mustofa kepada HMINEWS di sela-sela acara Halal Bihalal dan HUT KAHMI KE 42 di Istana Bogor, (19/10).

Arif menyatakan, untuk islah dalam konteks peleburan dua organisasi memang membutuhkan waktu lama. Namun, proses islah bisa dimulai sekarang dengan kegiatan bersama antar dua HMI. “Misalnya membentuk panitia dan training bersama,” katanya.

Untuk training dan kepanitian bersama, ujar Arif,  bisa dijalankan ketika ada kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama oleh kedua HMI. “Kongkrit kita akan mengajak HMI MPO untuk membikin panitia bersama ketika Dies Natalies HMI ke 63 tahun depan,” tegas Arif.

Basa-Basi Politik

Arif berharap islah bisa segera direalisasikan. Baginya, apa yang terjadi di Palembang bisa menjadi pintu terjadinya islah dua HMI yang sangat diharapkan banyak kalangan.  Namun, ia juga mempertanyakan keseriusan HMI MPO untuk melakukan islah. “Teman-teman HMI MPO kelihatan ragu. Kita berharap apa yang terjadi di Palembang bukan sekedar basa-basi politik dari HMI MPO,” katanya.

Ia juga mengakui draft MOU yang ditandatangani di Palembang antara dua ketua PB HMI masih sangat mengambang dan tidak bisa mewakili sebuah peristiwa islah dalam konteks peleburan dua organisasi. “Kita berharap ini bisa segera ditindaklanjuti adanya kongres bersama antara dua HMI. Saya tentu menyesalkan apabila peristiwa Palembang kemarin sekedar basa-basi politik dari HMI MPO,” tandas Arif. (Trisno Suhito)

Optimisme dan Humor Jusuf Kalla

Santai dan penuh tawa. Itulah kesan acara halal bihalal dan HUT KAHMI ke 42 di Istana Bogor bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Acara tahunan yang mengundang korps jamaah alumni HMI dari berbagai periode dan kader-kader HMI ini dihelat oleh KAHMI kubu Presidium.

Dibandingkan dengan acara yang sama, halal bihalal dan HUT KAHMI ke 42 oleh kubu Presidensial pimpinan Fuad Bawazier, yang digelar Jum’at (17/10) di gedung Lemhanas, bisa dikatakan acara di Istana Bogor ini lebih banyak yang datang.

Sebuah panggung disiapkan khusus di dalam area lapangan Istana Bogor, untuk gelaran acara ini dengan Wapres Jusuf Kalla sebagai tuan rumahnya. Wapres tampak didampingi beberapa pejabat di negeri ini yang juga alumni HMI seperti Menteri Sosial Bachtiar Chamsah dan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Hadir juga mendampingi Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf mewakili gubernur Jawa Barat yang tidak hadir.

Selalu optimis dan banyak joke, menjadi menu sambutan Jusuf Kalla dalam acara ini. Meski mengaku tidak ingin berbicara politik, namun mantan ketua HMI cabang Makasar ini tetap saja menyentuh dan menyerempet isu politik sebagai bumbu yang membuat tertawa.

“Kita tidak ingin bicara politik di sini. Makna pertemuan hari ini adalah kita berkumpul untuk bertemu kawan. Sebab dua kebahagiaan paling hakiki manusia adalah bertemu keluarga dan kawan. Acara ini penting untuk bertemu kawan,” katanya di awal sambutan.

JK juga memberi analog soal cara membangun silaturahmi dengan menyinggung dan mengaitkan hubungan antara partai politik di Indonesia dari segi usia.          “Kalau bicara adat istiadat Indonesia, yang muda tentu harus menghormati yang tua. Golkar sudah 44 tahun. KAHMI 42 tahun. PPP itu lebih muda.  PKS baru kemarin, apalagi Partai Bulan Bintang,” ujarnya disambut tawa peserta halal bihalal.

Selain untuk bertemu dan mengingat masa lalu, JK mengibaratkan pertemuan tersebut dapat digunakan untuk membangun networking, dan bukan justru sebaliknya membuat pertengkaran antar anggota KAHMI. “Disini ada yang sedang maju menjadi calon legeslatif. Kalau mendapat masalah dari KPU, khan bisa ketemu dengan anggota KPU yang hadir disini, minta kartu nama dan ijazah minta diperbaiki saja,” tutur ketua umum Partai Golkar ini yang kembali disambut tawa.

JK mengatakan, banyak hal diperoleh dari jalinan silaturahmi yang digelar sehingga bisa memberi manfaat terhadap alumni dan kader HMI. “Di sini ada pejabat, ada Dirjen, nanti bisa saling SMS. Kalau Wapres gampang lha, ada SMS dijawab atau tidak itu terserah saya,” ucapnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Menyinggung kondisi bangsa, JK mengatakan agar optimisme terus dibangun oleh seluruh komponen bangsa ini meski ada masalah yang dihadapi. “Tujuan kita adalah menjadikan yang sulit itu menjadi tantangan. Jangan jadikan ratapan. Saya yakin persoalan bangsa ini bisa diatasi,” ujarnya penuh optimisme.

Terkait pemilu 2009 yang sebentar lagi akan digelar JK meminta agar masyarakat tidak salah pilih dalam menentukan pilihannya di momentum politik tersebut. “Tapi saya mau bilang sesuai hati nurani nanti saya dikira berkampanye untuk lawan,” katanya yang kembali disambut tawa hadirin. Bagi JK, kritik yang disampaikan dari berbagai pihak terkait kondisi bangsa adalah bagian dari saling berpendapat, mengoreksi dan mempertukarkan ide. “Kritik itu bukan dosa yang penting kita menjaga persatuan bangsa,” ujarnya. (Trisno Suhito)

Kepemimpinan Nasional, Dari Jogja untuk Indonesia

Isu politik nasional yang menyeret Sri Sultan Hamengku Buwono XI maju ke RI I terus bergulir. Namun tarik ulur antar kepentingan dari pihak yang siap menggususung Sultan maju ke RI 1 dan pihak yang bersiskukuh memepertahankan Sultan tetap menjadi kepala daerah Jogajakarta masih terjadi.

Hal tersebut mengemuka dalam sebuah seminar yang digelar The Indonesian Power for Democrasy (IPD) di Kampus UGM, Jogjakarta, pekan silam. Hadir sebagai pembicara diantaranya dosen politik UKDW J.Kristiadi, dosen politk UGM Iketut Permana, sejarahwan Yogykarta PJ. Sujarwo, dan pengamat ekonomi Faisal Basri.

J. Kristiadi menilai bahwa sosok Sultan sangat berpeluang maju ke RI 1. Hasil survey menempatkan posisi Sultan berada di urutan ketiga setelah Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun kepastian Sultan untuk berkata secara terbuka mengenani keinginan dirinya menjadi Capres harus segera di utarakan. “Ini persoalan politik bukan batinan, jadi harus ada pernyatan yang jelas dari Sultan,”Ucap Kristiadi. Faisal Basri menilai para pemimpin Indonesia mengalami krisis ideologis  pasca pemerintahn Soekarno, bahkan saat ini banyak sekali muncul tokoh-tokoh politik yang lebih mengkampanyekan dirinya dari pada ideologi yang di usungnya. Sehingga kata Faisal, bila masyarakat Yogya dan Sri Sultan sudah siap maju menjadi Capres maka ideology yang diusungnya harus segera dimunculkan.

Iketut Permana mengomentari  dari segi konsep kepemimpinan dirinya  menilai system kepemimpinan yang berjalan hingga saat ini tidak bisa menciptakan sosok pemimpin seperti founding father.

Lebih lanjut Iketut menyarankan bagi siapapun yang nantinya terpilih menjadi presiden harus berani menyatakan manifesto “dari rakyat untuk rakyat dan demi rakyat”, yang dalam bahasa Faisal seorang pemimpin  harus memahami rakyat bukan rakyat yang harus memahami pemimpin.

Keistemewaan Jogja

Sementara itu PJ. Sujarwo mengatakan dalam aspek histories sebenarnya perlu dilihat bahwa Jogyakarta berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan republik Indonesia sehingga RUU keistemewaan yang diusungkan masyarakat Yogyakarat tidak perlu menjadi kecemburuan daerah lain. “Namun senyatanya justru pemerintah pusat dinilainya telah menghambat RUU Keistimewaan Yogyakarta bisa kelar dengan membuat RUU tandingan yang itu jauh dari akar pemahaman mengenai  sejarah Yogya” tuturnya. (Lutsfi Siswanto)

KAHMI Masuk Istana Bogor

Rimbunnya pepohonan dan sejuknya udara di Istana Bogor dapat di nikmati oleh para anggota Korp Alumni HMI yang menghadiri HUT ke-42 KAHMI, Minggu (19/09/08). Acara yang juga silaturrahmi Idul Fitri 1429 Hijriyah tersebut berlangsung di halaman belakang Istana Bogor.

Sejumlah pejabat tampak sudah hadir dalam acara itu, di antaranya Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Baharuddin Aritonang, Dirut Bank Koperasi Indonesia (Bukopin) Glen Glenardy, Deputi Seswapres Bidang Kesra Asyumardy Azra, dan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf.

Para pejabat dan tokoh-tokoh penting duduk di kursi-kursi khusus yang diatur dalam beberapa meja bulat dengan pembungkus kain berwarna putih, sedangkan undangan lainnya duduk di deretan kursi lainnya yang diatur secara berbaris memanjang ke belakang. Sementara itu, meja-meja prasmanan diletakkan di sekeliling tempat acara yang dipayungi dengan tenda besar berwarna putih.

Istana memang diperuntukan bagi acara-acara kenegaraan, terkecuali tempat-tempat tertentu yang sudah dibuka untuk umum pada akhir pekan. Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan Rumah Tangga Kepresidenan untuk membuka ruang-ruang di Istana Bogor untuk acara ini.

“Saya sudah minta supaya dibuka Istana Bogor ini. Istana ini milik bersama, silakan saja berkeliling. Silakan yang mau melihat-lihat. Kecuali ruangan di mana ada lukisan koleksi Bung Karno yang ditutup karena posenya bermacam-macam,” tandas Wapres. Ruang yang berisi lukisan koleksi mantan Presiden pertama RI Soekarno ditutup gorden karena terdapat lukisan dan patung dengan model wanita telanjang.

Sementara itu, Ketua Presidium KAHMI, Laode M Kamaluddin dalam sambutannya saat membuka acara menegaskan bahwa KAHMI mendesak pemerintah dan parlemen mengesahkan Rancangan Undang-Undang pornografi dan pornoaksi menjadi ketentuan hukum di Tanah Air.

Meski memastikan memberi dukungan atas RUU pornografi dan pornoaksi, KAHMI tidak merinci alasan sokongannya kepada ratusan anggota KAHMI yang hadir.

KAHMI juga mengingatkan pemerintah pusat terkait penerbitan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK). Pasalnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpeluang untuk mengendus kebijakan tersebut dalam ranah korupsi.

“KAHMI memberi warning, jangan sampai niat baik dapat menimbulkan kebocoran dan penyimpangan yang membuka peluang masuknya KPK,” kata Laode M Kamaluddin. Menurut KAHMI, untuk menjaga agar tak terjerembab dalam ranah korupsi, KAHMI mengajak semua elemen masyarakat memiliki tekad yang sama dalam menghadapi krisis keuangan global. “Harus ada sikap patriotisme baru, mendahulukan kepentingan nasional untuk menghadapi krisis ini,” ujarnya.

Laode M Kamaluddin menambahkan, pemerintah sendiri memiliki modal politik, sosial, dan ekonomi yang lebih siap dibandingkan dengan saat krisis pada 1997-1998 menerpa Indonesia. “Kita berharap badai krisis ini segera berlalu,” ungkapnya. (Busthomi Rifa’i)

Caleg Muda Mendominasi Daerah

Wacana kepemimpinan kaum muda yang saat ini banyak digulirkan oleh sebahagian kalangan, tidak hanya terjadi di tingkatan pusat. Di daerah-daerah, kalangan muda juga mendominasi pencalegan disetiap partai-partai politik.

Di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur,dari 626 caleg yang terdaftar di DCS (Daftar Caleg Sementara) KPUD kabupaten Lumajang, 75 persen adalah kaum muda. Hal ini menandakan transformasi wacana kepemimpinan kaum muda di daerah begitu kencang. Mereka mempunyai beberapa alasan untuk maju sebagai caleg pada pemilu mendatang.

Irfan Nurdiansyah misalnya. Pria berusia 23 tahun ini ikut mencalonkan diri sebagai salah satu caleg dari partai Gerindra meskipun umurnya sangat muda. Irfan mengaku tertarik untuk berpolitik berawal dari keinginannya menjadi wakil dari masyarakat sekitarnya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pedagang. Hal itu pula yang menjadi alasan pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha kayu ini memilih Gerindra sebagai kendaraan politiknya.

“Saya terkesan dengan figur Prabowo yang mengangkat masalah-masalah rakyat kecil terutama petani dan pedagang sebagai prioritas ” ujar Irfan yang juga merupakan salah satu anggota Asosiasi pedagang pasar pimpinan Prabowo.

Berbeda dengan Irfan, Yuni Puspita Anggraini (21) caleg dari Partai Karya Perjuangan (PKP) mengatakan bahwa dirinya diminta oleh pengurus PKP untuk menjadi caleg. Yuni dipilih PKP lantaran PKP belum memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan dalam daftar calegnya.

Meski masih muda,Yuni bersemangat dan yakin bahwa dirinya bisa melakukan yang terbaik untuk rakyat Lumajang. “Saya tidak mau bicara banyak, kalau sudah terpilih insyaAllah saya akan melakukan yang terbaik” tambah Yuni ditemui disela-sela kesibukannya merias pengantin.

Hal serupa juga dirasakan oleh Fidyah (28) yang merupakan anggota DPRD termuda se-Jawa Timur periode 2004-2009. Wanita lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta ini mengawali karir politiknya karena ketidaksengajaan. “Dulu saya diminta oleh pengurus Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) untuk menjadi caleg karena PKPB belum memenuhi 30 persen keterwakilan perempuan” kenang Fidyah.

Ditanya mengenai banyaknya anak-anak muda yang maju pada pemilu 2009, Fidyah menanggapinya positif . “Memang pada periode kali ini semangat kaum muda Lumajang lebih tampak dibandingkan sebelumya” ujar perempuan yang mendapatkan nomor urut 1 untuk pemilu 2009 dengan partai yang sama. Dia menambahkan hal tersebut setidaknya memberikan banyak pilihan kepada masyarakat untuk memilih wakilnya yang pantas duduk sebagai anggota dewan baik tua atau muda, karena usia tidaklah menjadi tolok ukur pantas tidaknya mereka menjadi wakil rakyat. (Daimah)

RUU Pornografi Harus Segera Disahkan

DPR diminta segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pornografi menjadi UU oleh massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Peduli Moral Bangsa (APPMB) dalam aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat.(15/10). “Kami memandang penting lahirnya produk hukum yang secara tegas mampu mengatur agar pornografi tidak semakin berkembang luas,” kata Nur Amelia Kahar, koordinator APPMB dalam orasinya.

Massa APPMB yang menggelar aksi unjuk rasa itu adalah gabungan dari berbagai organisasi antara lain Pelajar Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO, dan Forum Indonesia Muda. Dalam pernyataan sikapnya, APPMB mengutuk dan mengecam keras perseorangan maupun koorporasi yang turut andil dalam merebaknya peredaran materi pornografi yang telah merusak moral dan karakter pemuda Indonesia.

“Anak-anak Indonesia kini telah dijadikan sebagai model gambar-gambar porno yang beredar di situs-situs internet,” ujar Nur Amelia seraya mengimbau masyarakat untuk tetap kritis dan obyektif terhadap masalah dekadensi moral yang terjadi pada bangsa ini.

APPMB juga membeberkan ancaman pornografi dan seks bebas hasil survai Yayasan Kita dan Buah Hati sepanjang tahun 2005 bahwa kalangan anak-anak SD usia 9-12 tahun ternyata 80 persen sudah mengakses materi pornografi dari bermacam-macam sumber.

“Di Indonesia, komik-komik porno harganya cuma Rp2.000-Rp3.000, sementara VCD bisa Rp10.000 dua keping. Itu bisa dibeli di stasiun kereta, di depan sekolah, di depan kantor polisi, bisa dimana saja,” kata Nur Amelia. (Antara)

510, Biar Padat Asal Cepat

Setiap hari, Nani, mahasiswa semester II PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta harus pergi-pulang dari rumahnya di kawasan Cipayung Jakarta Timur menuju  kampusnya di Ciputat. Mahasiswi yang akrab dengan sapaan eNda ini selalu menggunakan jasa angkutan Kowantas Bima (510) dengan trayek Ciputat-Kampung (Kp) Rambutan. Alasannya satu, tak ada bis angkutan dari Ciputat ke Kp. Rambutan yang lebih cepat dari pada 510.

Awal Oktober lalu, sekitar pukul 16.00 WIB Nani telah bersiap-siap di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak lama kemudian, Metromini dengan cat kuning hijau itu pun tiba. Kenek 510 tak henti-hentinya berkoar-koar, “Rambutan-rebo, rambutan, rebo, jalan baru langsung tol-langsung tol.” Di dalam bus 510, penumpang telah penuh sesak hingga mulut pintu. Nani pun harus naik dengan posisi berdiri. Setelah masuk tol dari Pondok Pinang, Kowantas Bima 510 ini melaju dengan cepat tanpa halangan berarti hingga Pasar Rebo.

Mendekati area Jalan Baru, Nani merasa beberapa orang berusaha mendesaknya. Ia segera waspada. Disadarinya, desakan itu berasal dari tiga arah, satu orang di depan dan dua lagi di belakang. Spontan ia menyodokkan siku tangannya dengan sasaran ulu hati salah-orang di belakangnya tersebut. Nani menatap orang itu dengan tatapan tajam. Terlihat ia menyeringai kesakitan. “Mau Nyopet lo ya?! Awas kalau mendekat lagi gua teriak.” Bisik Nani tegas.

Beberapa menit kemudian 510 sampai di Jalan Baru. Nani turun. Ia melihat satu dari orang yang mendesaknya tadi masih mengikuti. Mahasiswi yang juga aktivis HMI ini segera meminta perlindungan polisi yang siaga di sana. Setelah merasa aman Nani pun mengucapkan terima kasih pada aparat keamanan itu dan segera menyetop Angkot yang searah dengan rumahnya.

Kejadian bukan hanya di alami Nani. Imah, mahasiswa Tarbiyah  semester akhir ini juga pernah mengalami musibah di 510. Siang itu, selepas dzuhur, Daimah berada dalam bis dengan kondisi penuh sesak. Ia hendak menuju kawasan Cibubur untuk menghadiri acara HMI. Sampai di Pasar Rebo ia baru menyadari bahwa HP-nya telah raib. “Waktu itu di 510 bejubel banget, sampai saya nggak bisa bergerak. Memang sepertinya saat itu ada orang di belakang saya yang bergerak-gerak melulu, tapi saya nggak melihatnya. Sampai di Pasar Rebo, saya baru sadar kalau HP saya telah hilang,” jelas Imah.

Imah dan Nani hanyalah dua diantara deretan korban pencopetan di 510. Peristiwa ini juga sudah banyak banyak menimpa mahasiswa UIN Jakarta lain maupun penumpang pada umumnya.

Rata-rata penumpang 510 telah mengalami dan mengetahui situasi yang tidak mengenakkan tersebut, bahkan ada juga pelecehan terhadap penumpang wanitanya. Akan tetapi mereka tak pernah jera dan terus menggunakan jasa 510. Satu alasan yang hampir semua pengguna 510 sepakati, yakni cepat. “Efesiensi waktu. Soalnya kalau naik yang lain, misalnya Kowantas Bima 509 dari Lebak Bulus, waktu tempuhnya bisa dua kali lipat lebih lambat. Belum lagi kalau pas melewati jalan TB Simatupang, terkadang macetnya minta ampun, malah bikin stres. Menguras tenaga dan pikiran,” keluh Nani. Begitu pula Rani (mahasiswi IIQ), “Lebih baik desak-desakan asal cepat. Dari Ciputat ke Pasar Rebo paling 15-20 menit. Soalnya kan langsung lewat tol. Beda dengan yang lain. Masalah pencopetan, hal itu bisa terjadi kapan dan dimana saja. Untungnya saya naik dari Ciputat. Jadi selalu kebagian tempat duduk,” papar Rani sambil berharap kasus-kasus itu tak menimpa dirinya. (Busthomi Rifa’i)