510, Biar Padat Asal Cepat

Setiap hari, Nani, mahasiswa semester II PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta harus pergi-pulang dari rumahnya di kawasan Cipayung Jakarta Timur menuju  kampusnya di Ciputat. Mahasiswi yang akrab dengan sapaan eNda ini selalu menggunakan jasa angkutan Kowantas Bima (510) dengan trayek Ciputat-Kampung (Kp) Rambutan. Alasannya satu, tak ada bis angkutan dari Ciputat ke Kp. Rambutan yang lebih cepat dari pada 510.

Awal Oktober lalu, sekitar pukul 16.00 WIB Nani telah bersiap-siap di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak lama kemudian, Metromini dengan cat kuning hijau itu pun tiba. Kenek 510 tak henti-hentinya berkoar-koar, “Rambutan-rebo, rambutan, rebo, jalan baru langsung tol-langsung tol.” Di dalam bus 510, penumpang telah penuh sesak hingga mulut pintu. Nani pun harus naik dengan posisi berdiri. Setelah masuk tol dari Pondok Pinang, Kowantas Bima 510 ini melaju dengan cepat tanpa halangan berarti hingga Pasar Rebo.

Mendekati area Jalan Baru, Nani merasa beberapa orang berusaha mendesaknya. Ia segera waspada. Disadarinya, desakan itu berasal dari tiga arah, satu orang di depan dan dua lagi di belakang. Spontan ia menyodokkan siku tangannya dengan sasaran ulu hati salah-orang di belakangnya tersebut. Nani menatap orang itu dengan tatapan tajam. Terlihat ia menyeringai kesakitan. “Mau Nyopet lo ya?! Awas kalau mendekat lagi gua teriak.” Bisik Nani tegas.

Beberapa menit kemudian 510 sampai di Jalan Baru. Nani turun. Ia melihat satu dari orang yang mendesaknya tadi masih mengikuti. Mahasiswi yang juga aktivis HMI ini segera meminta perlindungan polisi yang siaga di sana. Setelah merasa aman Nani pun mengucapkan terima kasih pada aparat keamanan itu dan segera menyetop Angkot yang searah dengan rumahnya.

Kejadian bukan hanya di alami Nani. Imah, mahasiswa Tarbiyah ¬†semester akhir ini juga pernah mengalami musibah di 510. Siang itu, selepas dzuhur, Daimah berada dalam bis dengan kondisi penuh sesak. Ia hendak menuju kawasan Cibubur untuk menghadiri acara HMI. Sampai di Pasar Rebo ia baru menyadari bahwa HP-nya telah raib. “Waktu itu di 510 bejubel banget, sampai saya nggak bisa bergerak. Memang sepertinya saat itu ada orang di belakang saya yang bergerak-gerak melulu, tapi saya nggak melihatnya. Sampai di Pasar Rebo, saya baru sadar kalau HP saya telah hilang,” jelas Imah.

Imah dan Nani hanyalah dua diantara deretan korban pencopetan di 510. Peristiwa ini juga sudah banyak banyak menimpa mahasiswa UIN Jakarta lain maupun penumpang pada umumnya.

Rata-rata penumpang 510 telah mengalami dan mengetahui situasi yang tidak mengenakkan tersebut, bahkan ada juga pelecehan terhadap penumpang wanitanya. Akan tetapi mereka tak pernah jera dan terus menggunakan jasa 510. Satu alasan yang hampir semua pengguna 510 sepakati, yakni cepat. “Efesiensi waktu. Soalnya kalau naik yang lain, misalnya Kowantas Bima 509 dari Lebak Bulus, waktu tempuhnya bisa dua kali lipat lebih lambat. Belum lagi kalau pas melewati jalan TB Simatupang, terkadang macetnya minta ampun, malah bikin stres. Menguras tenaga dan pikiran,” keluh Nani. Begitu pula Rani (mahasiswi IIQ), “Lebih baik desak-desakan asal cepat. Dari Ciputat ke Pasar Rebo paling 15-20 menit. Soalnya kan langsung lewat tol. Beda dengan yang lain. Masalah pencopetan, hal itu bisa terjadi kapan dan dimana saja. Untungnya saya naik dari Ciputat. Jadi selalu kebagian tempat duduk,” papar Rani sambil berharap kasus-kasus itu tak menimpa dirinya. (Busthomi Rifa’i)