Perlunya Pembenahan Moral dalam Eksekusi Para Terorisme

Eksekusi bagi para “aktor” bom Bali masih menyisakan kontroversi hingga kini. Pasalnya, tidak sedikit masyarakat yang mendukung Amrozi dan kawan-kawanya. Kelompok yang mendukung ketiga terpidana mati, sejak awal sudah mengecam keputusan pemerintah terhadap hukuman eksekusi. Di sisi lain, kelompok yang anti terhadap teroris (Amrozi dkk), tentunya tidak sabar lagi untuk menyaksikan berita hukuman mati ketiga bombers.

Bagi keluarga korban terorisme, eksekusi menjadi peristiwa yang melegakan. Sebaliknya, bagi keluarga tereksekusi sendiri adalah sebaliknya. Sejak awal, tragedi bom Bali telah menjadi refleksi dua pemahaman yang berbeda. Bagi Amrozi dan kawan-kawan, tindakan yang dilakukan mereka adalah benar. Menurut mereka, aksi peledakan bom tersebut sebagai jalan jihad. Namun, bagi sebagian yang lain, aksi pembom-an itu merupakan sebuah penyimpangan karena secara hukum melanggar undang-undang dan Hak Azazi Manusia (HAM). Konsekuensi dari aksi peledakan bom tersebut telah menghilangkan nyawa ratusan orang. Seperti pada peledakan bom Bali I yang sudah menghilangkan nyawa sebanyak 202 orang dan 209 lainya luka-luka.

Dari proses awal hingga pelaksanaan, eksekusi terhadap ketiga bombers Bali memang terkesan “eksklusif”. Entah event ini dieksploitasi untuk kepentingan politik atau tidak, yang jelas secara teknis service yang dilakukan pemerintah terhadap proses pengeksekusian memang istimewa. Pengawalan-pengawalan dilakukan dengan mengerahkan aparat kepolisian yang tidak sedikit dan tersebar di seluruh kawasan Nusakambangan, Cilacap. Jelas, eksekusi kali ini memang berbeda dari biasanya. Sudah tentu, biaya yang dikeluarkanpun tidak sedikit dan imbasnya rakyat kecil yang “tercekik”. Bila sekedar ingin menaikkan popularitas eksekusi, tentunya tidak fair jika harus menguras uang rakyat. Saat ini, rakyat sudah cukup menderita dengan segala goncangan ekonomi negeri ini. Event apapun, khususnya eksekusi Bali bombers memungkinkan oknum-oknum tertentu untuk mengambil kesempatan bagi kepentingan mereka masing-masing.

Pembenahan moral

Ending dari eksekusi ketiga bombers seharusnya menjadi bahan instropeksi dan evaluasi bagi pemerintah maupun masyarakat. Peledakan bom di Bali bukan tanpa sebab, melainkan dalam rangka memerangi kemaksiatan yang dilakukan oleh orang-warga asing. Hanya saja, cara yang dilakukan oleh penganut islam garis keras ini terlampau ekstrim sehingga efeknya justru menambah masalah baru dari pada menyelesaikan masalah (problem solving).

Di negara yang nota bene menjunjung tinggi hukum dan konstitusi yang berlaku, tindakan kekerasan maupun terorisme tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, peristiwa tragis di Bali beberapa waktu lalu harus mampu kita ambil hikmahnya, salah satunya dengan melakukan pembenahan moral dan perilaku masyarakat. Masyarakat kita mayoritas beragama islam yang sarat dengan kepribadian ramah dan tepo slira. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur tersebut harus senantiasa dijaga. Harus ada sikap saling menghormati antar agama, ras maupun komunitas-komunitas yang ada, mengingat negara ini terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Apalagi negara-negara barat kini mengidentikan islam sebagai teroris. Stigma inilah yang selalu membayangi setiap muslim di belahan bumi di mana muslim adalah minoritas. Sebagai muslim mayoritas, tanggung jawab kita adalah untuk senantiasa memberi pengertian dan berusaha meluruskan paradigma negara-negara barat yang terlampau sempit itu. Stigma yang membayangi umat muslim tentang teroris tersebut perlu sebuah pelurusan karena islam bukanlah agama teroris ataupun kekerasan. Pemahaman ini tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat kita saja, melainkan juga harus diperuntukan bagi Warga Negara Asing yang berada di Indonesia. Selain itu, orang-orang barat (westerner) yang berada di Indonesia perlu memahami bahwa negara kita mempunyai aturan dan etika yang harus dihormati, mengingat budaya yang ada sangat berbeda. Bukan tidak mungkin, jika masyarakat sendiri maupun Warga Negara Asing yang berada di negara kita mampu bersama-sama menjaga etika, moral dan norma yang berlaku, maka memungkinkan sekali untuk dapat meminimalisasi dampak timbulnya aksi terorisme. Namun, jika ternyata respon dari masyarakat maupun pemerintah kurang mendukung, maka bisa jadi akan muncul kembali Amrozi-Amrozi yang lain. Apalagi, dampak dari eksekusi telah cukup membuat para pendukung trio bombers menunjukan taringnya melalui ancaman-ancaman teror seperti, pembunuhan terhadap Presiden dan peledakan di sejumlah objek vital serta kantor kedutaaan asing.

Terlepas dari itu, banyak jalan berjihad yang bisa dilakukan umat islam tanpa harus menghilangkan nyawa-nyawa yang tidak bersalah, misalnya jihad umat islam yang lebih urgent saat ini yaitu jihad melawan hawa nafsu; nafsu korupsi dan keserakahan, ekspoloitasi alam dan kekerasan. (Sugiharti, Artikel ini pernah dimuat di WAWASAN edisi 18 Nopember 2008)