Muhammadiyah – NU Jangan Ikut Bargaining Politik

Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa seharusnya Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama (NU) menjadi institusi yang menjaga moral dan terus memikirkan peradaban bangsa.

Hal tersebut disampiakan Komaruddin dalam acara Orasi Budaya “Islam Kebangsaan & Kemerdekaan Indonesia” yang diselenggarakan IMPULSE, sebuah lembaga kajian multikultur dan pluralisme, Kamis malam (8 /01/2009) di Wisma Syahida UIN Syarif hidayatullah Jakarta.

“Bila Muhammadiyah dan NU terjun ikut bargaining politik, maka wibawa sebagai lembaga moral dan intelektual akan turun”, katanya.

Komaruddin menjelaskan Muhammadiyah dan NU memiliki kelebihan historis dan moral, terutama karena terlahir sebelum Indonesia merdeka dan ikut berinisiatif melahirkan negara.

Seharusnya, menurut Komaruddin, Muhammadiyah dan NU tetap berada di atas semua dan melahirkan putra-putra terbaiknya untuk memajukan bangsa dan negara.

“Kalau ternyata putra terbaik itu kemudian jelek, tarik, panggil ke induknya” terang Komaruddin. ”

“Sehingga seharusnya Muhammadiyah dan NU bisa berembug dan berkomitmen bersama untuk menjalankan fungsi layaknya Mahkamah Konstitusi, namun dalam konteks moral ” tambahnya.

Kecenderungan sikap politik kalangan Muhammadiyah dan NU akhir-akhir ini sangat disayangkan Komaruddin, karena menurutnya tindakan NU dan muhammadiyah sudah ikut turun terlalu jauh, seperti ikut sibuk di Pilkada dan malah protes ketika ada kekalahan tokohnya di Pilkada, “seharusnya permasalahan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan, cukup dititipkan ke Komisi Pemilihan Umum saja ,kalau sudah demikian, yang rugi adalah ummat !” jelas Komaruddin.

Komaruddin juga mengatakan sejauh ini Muhammadiyah dan NU berfungsi sebagai pengikat kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tahun 1945 ini bisa mengatasi berbagai masalah yang dihadapi negara, seperti gerakan transnasional yang mengimpor ideologi dari luar. Termasuk dengan komitmen Muhammadiyah dan NU yang menyatakan bahwa Pancasila sudah final, atau juga dengan Islam disini yang anti kekerasan – toleran. Tema-tema tersebut mampu dikomunikasikan oleh Muhammadiyah dan NU kepada khalayak dengan baik. Komaruddin mengingatkan sekali negara ini butuh pengikat. “Kalau tidak bisa roboh,” katanya. (Rita Zahara)