Menulis Itu Seperti Berenang

SEORANG teman bertanya, bagaimana sih untuk memulai menulis? Rasanya kok sulit ya. Dulu ketika masih jaman mesin ketik, separo rim kertas habis disobek-sobek. Sekarang jaman komputer, tidak menyobek kertas tapi tidak satu file pun yang jadi di-saving. Rasanya tulisan yang kita buat masih sangat terlalu jelek untuk dibaca orang lain.

Kasus yang dialami teman saya pasti terjadi pula pada Anda atau siapapun yang menjadi penulis pemula. Persoalan paling mendasar disebabkan karena ketidakpercayaan kepada diri sendiri bahwa tulisan yang kita buat sudah cukup bagus. Lantaran tidak bagus maka malu kalau orang lain membaca. Daripada malu lebih baik dibatalkan, disobek, tidak disimpan dalam bentuk file. Langkah tersebut secara bawah sadar terasa menyelamatkan harga diri dan wibawa kita sendiri. Tapi proses keterampilan menulis tidak tercapai.

Ini kan aneh, mau belajar menulis tapi takut kalau tulisan kita jelek. Dan lucunya ketika tulisan jelek malu dibaca orang. Apakah kita lupa dulu ketika belajar berjalan sering terjatuh kemudian menangis? Apakah kita malu saat itu. Tidak kan? Buktinya kita bangun lagi dan bangun lagi walaupun dengkul kita berlumuran darah dan tambal-tambalan kapas dan obat merah.

Waktu kita belajar sepeda terus terjatuh, apakah kita juga malu? Ternyata tidak, malahan diulang kembali dan diulangi kembali. Sampai pada suatu ketika setimbangan mulai stabil, jalanlah sepeda roda dua tersebut. Lupa deh kepada dengkul yang luka-luka. Semuanya lunas terbayar ketika kita bisa menaiki sepeda tadi.

Atau masih ingatkah waktu kecil kita belajar berenang? Saya sendiri belajar berenang di sungai. Awalnya hanya nyemplung dan berdiam diri di pinggir sambil melihat teman-teman yang sudah mahir. Lucunya ada juga teman yang umurnya jauh lebih rendah dari saya tapi sudah lancar berenang dan masuk ke dalam air, kemudian menyembul lagi dan masuk lagi. Persis seperti lumba-lumba. Saya sangat kagum pada dia, tapi saya belum bisa menirunya.

Saya pergi ke sungai setiap hari. Hari pertama hanya diam sambil memperhatikan teman-teman, hari kedua bergeser satu meter dari tempat awal, hari ketiga geser 2-3 meter tapi masih di tepi. Hari keempat geser satu meter tanpa berpegangan ke tepi. Hari kelima berpegangan ke tepi sambil menghentak-hentakkan kaki, hari keenam berjalan agak ke tengah dikit kemudian meluncur ke pinggir tapi belum bisa menggerakkan kaki. Sampai suatu saat saya diseret ke tengah oleh teman-teman, kaki dan tangan saya bergerak-gerak dan tenggelam meminum air cukup banyak. Untungnya teman-teman saya menolong walaupun mereka mentertawakan.

Sebulan setelah kejadian yang sangat mengerikan tersebut akhirnya saya tidak ada lagi persoalan dengan berenang. Semuanya lancar-lancar saja dan dari itulah sebenarnya saya baru sadar bahwa kalau ingin berenang jangan terlalu banyak teori dan diskusi tentang berenang, tapi harus langsung menceburkan diri ke dalam air. Demikian halnya dengan menulis, kalau ingin menulis maka angsung saja menulis.

Mulai Menulis

Ketika kita mau mulai menulis, jangan terlalu banyak berpikir apakah tulisan kita baik atau jelek. Bahkan kita harus siap untuk menjadi penulis terjelek sedunia. Mengapa? Ya apapun hasilnya harus diterima dan ingat jangan pernah disobek atau dibuang hasil karya pertama kita, sejelek apapun. Dalam latihan berikutnya, pasti tulisan kita sudah jauh lebih baik dan pada tulisan yang kesekian kalinya bisa dipastikan tulisan kita sudah sangat enak untuk dibaca, minimal untuk diri kita sendiri.

Kemudian jenis tulisan apa yang bisa kita buat, apakah tulisan fiksi atau non-fiksi. Ini pun tidak bisa kita paksakan dan salah satunya tidak lebih baik dari yang lain. Artinya non fiksi tidak lebih baik dari fiksi, sebaliknya fiksi tidak lebih baik dari non fiksi. Semuanya memiliki kelebihan. Tapi yang paling penting, kita menulis dari hati. Artinya, apa yang kita tulis itulah yang benar-benar kita pahami. Jangan sampai juga tulisan-tulisan kita terlalu banyak mengutip tulisan orang lain supaya terkesan ilmiah.

Jenis tulisan memang berbeda-beda. Tapi sebelum melangkah ke arah sana akan lebih baik kalau kita mulai saja menulis, persis seperti kita menulis di diary. Tanpa beban kita coretkan kata demi kata pada diary kita. Kemudian untuk meningkatkan kualitas diri, kita mencoba untuk membaca hasil karya orang lain. Suatu ketika dipastikan kita menemukan pola menulis dengan gaya kita sendiri. Dan perlu diingat bahwa setiap jenis tulisan dan gayanya memiliki pangsa pembaca sendiri-sendiri. Tidak usah khawatir walaupun sudah banyak penulis, jumlah pembaca jauh lebih banyak. Bahkan negara kita masih membutuhkan banyak penulis-penulis agar negara kita ada akselerasi dalam cara berpikir.

Saya sendiri memiliki perjalanan menulis yang sangat variatif. Dulu di awal-awal menulis saya merasa bangga ketika banyak mengutip catatan dari buku. Bahkan menyisipi kata-kata asing yang belum dikenal, padahal saya sendiri tidak paham-paham banget maknanya. Setelah dibaca ulang hasil karya saya tersebut ternyata substansi menulisnya sendiri tidak ada, terlalu banyak istilah asing yang malah mempersulit pemahaman. Padahal salah satu misi tulisan adalah gampang dibaca dan pesan yang disampaikan dipahami.

Sekarang saya malahan lebih suka menulis dengan gaya tutur. Ada cerita pengalaman sendiri, ditambah pengalaman orang dan sedikit teori. Tulisan yang menginspirasi dan menggerakkan pembacanya agar menjadi lebih baik jauh lebih penting darpada sekadar menulis dengan istilah yang keren-keren. Tulisan lebih hidup dan pembaca sendiri tidak perlu mengernyitkan dahi ketika membacanya. Ingat, kalau Anda penulis pemula dan mau mulai menulis, langsung saja menulis apapun hasilnya, persis seperti kita ingin berenang, langsung saja menceburkan diri ke air. Sukses selalu.

Oleh Ade Asep Syarifuddin
(Pemimpin Redaksi Harian Radar Pekalongan bisa dihubungi di asepradar@gmail.com)

Horor Itu Bernama Televisi

Kalau hari ini kita berbicara tentang tayangan televisi, mungkin sudah terlalu banyak kritik tentangnya. Tapi toh hingga hari ini kita masih disuguhi dengan hal yang sama, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Televisi bukanlah sekedar ‘kotak ajaib’ yang menayangkan sinyal elektrik hingga membentuk rangkaian visual serta imaji. Secara fisik, Tv pun telah mengalami revolusi yang sedemikian rupa. Dari tabung elektronik hingga menjadi sesuatu yang bisa kita bilang total virtual.

Sedemikian pentingnyakah kita memiliki TV digital dengan layar datar LCD, LED, LSD, atau apapun itu? Sedemikian pentingnyakah kita menyaksikan tayangan televisi hingga benar-benar ‘mendekati aslinya’? mungkin tidak, tapi yang penting kita punya. Itu dulu saja.

Televisi, yang saat ini bisa kita saksikan dimana saja dan kapan saja itu sesungguhnya telah mencengkram keseharian kita sedemikian rupa. Kita akan menjadi sangat tertinggal bila sedikit saja luput darinya. Coba bayangkan, betapa anehnya bila sebuah keluarga tidak memiliki pesawat televisi?  Atau bila hanya memiliki satu belaka?

Bila kita bicara soal program tayangannya, maka kita akan berhadapan dengan ‘realitas’ baru diluar apa yang kita lihat di dunia yang lebih nyata. Kita tahu bahwa televisi memiliki kekuatan untuk membentuk sebuah citraan. Mengutip sebuah dialog dalam film Man of the Year yang diperankan oleh Robin William, salah satu tokohnya mengatakan; “I have this hate-love relationship with TV. On TV everything seems credible, while they’re not. The more you seem credible on TV, and then more incredible it is. So, if you want to be credible, you have to be on TV”.

Dan dunia kita adalah dunia televisi. Hidup kita adalah apa yang tiap hari diproyeksikan olehnya. Yang membosankan adalah; tiap kali kita mengkritiknya, mereka selalu memiliki jawaban yang sama. Kita, para pengkritik, akan selalu dituduhkan sebagai ‘para idealis yang tidak mengerti kebutuhan masyarakat’. Mereka selalu meyakini bahwa masyarakat butuh hiburan, setelah segala tekanan yang mereka hadapi seharian di tempat kerja.

Masyarakat sangat butuh informasi. Segala macam informasi. Penting atau tidaknya bukan soal. Namun, apapun yang ditayangkan oleh TV seolah-olah menjadi sesuatu yang amat penting. Seberapa pentingnya bagi kita untuk tahu siapa yang paling kuat antara Barrack Obama dengan John Mc Cain? Apakah sama pentingnya untuk tahu bahwa si artis ini-itu akan menjadi calon legislatif negeri ini?

Kita menelannya bulat-bulat. Kita menjadikannya seolah-olah hal tersebut adalah benar bagian penting dalam hidup kita. Kita harus tahu apa yang dilakukan oleh seorang selebritis ketika wajahnya berjerawat. Atau ternyata seorang superstar pun mau makan di warung tegal. Itu penting.

Sedikit banyak menantang tingkat kecerdasan kita. Seberapa bodohnyakah kita untuk terus menerus menalan apa yang yang ia sajikan? Atau menjadikan sebuah gossip perselingkuhan selebritis sebagai diskusi riuh yang maha penting?

Menuntut tanggung jawab moral terhadap institusi TV adalah hal yang mustahil. Mereka sedmikian tidak tersentuhnya hingga mungkin hanya tuhan yang bisa menghentikan mereka. Toh memiliki ide untuk merubuhkan tiang pemancar semua stasiun TV hanya akan menjadi komoditas menarik buat mereka sajikan.

Ya, kita dan kehidupan kita sampai yang terkecil adalah komoditas yang sangat menguntungkan. Mari kita lihat sejenak segala macam benda yang kita konsumsi saat ini, yang ada di rumah kita saat ini? Darimanakah kita mendapatkan informasi mengenainya? Atau, mengapa kita merasa harus menggunakan deterjen dan pasta gigi tertentu?

Penguasa juga masih menggunakan televisi sebagai media propaganda politik kekuasaan mereka. Mereka sangat sadar, bahwa televisi masih memegang peran utama dalam hal tersebut. Dulu saya pikir setelah Soeharto turun, akan ada sedikit perubahan dalam bentuk propaganda politik penguasa. Jelas saya salah besar. Beberapa waktu lampau, kita menyaksikan tayangan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional di stadion Gelora Bung Karno, dengan tampilan persis dengan apa pemerintah Soeharto pernah lakukan. Ribuan siswa dikerahkan untuk bernyanyi dan membentuk formasi wajah presiden.

Saat ini pun kita akan semakin sering menyaksikan iklan layanan masyarakat (oya?) dimana seorang menteri bersabda dengan gemuruhnya untuk membangkitkan semangat kaum muda dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda. Banal. Tolol.

Namun apa yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya? Ini mungkin hal yang sulit untuk dilakukan. Adakah ruang bagi kita untuk bisa beraktivitas tanpa harus mengkonsumsi ketika ruang publik menjadi sesuatu yang teramat mahal di negri ini? Apakah ada kesempatan bagi kita untuk bisa tenang berkreasi, berdialog, beraktivitas seni, tanpa harus takut atau direpotkan dengan segala aturan pemerintah yang sedemikian paranoidnya? Jawabannya jelas tidak.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa Indonesia menjadi bangsa yang paling buruk budaya membacanya diantara negara asia tenggara. Tentu itu bukan hal yang mengejutkan sama sekali. Dan tampaknya kita tidak perlu malu dengan hal itu. Malu bukanlah hal yang lazim di negeri elok ini.

Bagi para orangtua, TV mungkin satu-satunya pengganti ideal bagi ketidakhadiran mereka di rumah untuk anak mereka. Bagi kebanyakan kita, mungkin TV adalah sang juru selamat. Bagi mereka yang mengelolanya, mungkin TV adalah tuhannya dan mereka adalah para nabi-nabinya.

Beberapa waktu lalu kita sering mendengar betapa perfilman Indonesia dikuasai oleh film jenis horror yang begitu menyebalkan, dan saking menyebalkannya maka jadi menyeramkan kehadirannya. Bagi saya, tayangan TV kita adalah horror sesungguhnya dan kita menyaksikannya hampir 24 jam selama 7 hari penuh.

Benarkah kita dapat mengintervensinya semudah menjentikkan jari pada tombol remote TV? Mungkin kasus pemadaman listrik yang menimpa kita belakangan ini menjadi lebih bermakna bila kita lihat dari sudut pandang lain. Membuat kita sedikit menghargai diri kita sendiri.

Oleh Dimas Jayasrana

Catatan Kaki Dari Palestina

Akhir pekan (29/3) yang renyah, nampak dinamika aktivitas di salah satu area kampus Universitas berpangkat Jenderal Soedirman ini. Settingan tempat yang formal awalnya membuatku menyalahkan diri sendiri yang lupa berganti sandal jepit walaupun setelan batik rapih telah dikenakan sepulang dari kegiatan di masjid tadi. Namun, siang ini ada sebuah undangan talkshow ” Catatan Kaki Seorang Dokter di Gaza”, dengan menghadirkan keynote speaker :  dr.Joserizal Jurnalis, SP.Ot.

Nama Joserizal memang bukan nama asing di Indonesia. Selain menjadi nama salah seorang penyair tenar…nama Joserizal dikenakan pula oleh salah satu putra terbaik bangsa yang mengabdikan dirinya di dunia medis. dr.Joserizal adalah salah satu dokter yang menjadi relawan dari MER-C Indonesia yang ditugaskan di Palestina saat agresi militer Israel beberapa tempo lalu. So, mengingat banyak ilmu yang bisa didapat, sandal jepit yang terkesan nggak matching itu membuatku cuek dan berkilah…“who care??!!”

Dijadwalkan dimulai pukul 10.30 WIB ternyata time error sekitar 30 menit. Beberapa tamu yang hadir -nampaknya para medisian yang fundamentalis – kemudian menyerukan panitia untuk lekas dimulai mengingat nanti bisa memotong waktu Dzuhur. Setelah dibuka oleh dua mahasiswa(i) dari jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan UNSOED, acara dimulai dengan dimoderatori oleh dr.Tarqib. Gaya kocak sang moderator lumayan membuat suasana cair, dan tanpa menunggu lama sang keynote speaker pun menyampaikan ulasannya.

Tragedi Gaza bak sebuah luka yang bekasnya menimbulkan luka perih yang menyebar dan menghujam di hati seluruh umat dunia. Hanya manusia yang punya hati yang mampu melihat tragedi itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Gaza adalah salah satu contoh saja dari sekian banyak konflik di dunia ini yang mampu membuat manusia seperti tak memiliki nilai dengan  dibantai tanpa tedeng aling-aling. Sebuah tanya retoris di awal ulasan pak dokter Jose, “Kenapa Gaza?”, karena disanalah kita menghadapi “mbahnya teroris” dengan kontak fisik secara langsung. Kekejaman yahudi Israel bukan hanya membuat dunia gempar, namun lebih jauh dari itu, masa depan saudara-saudara kita di Gaza terenggut oleh serpihan fosfor putih.

Gaza yang mengundang lautan simpati dan keprihatinan menggerakan ratusan relawan yang mencoba mengabdikan potensinya untuk menolong saudara-saudara yang menjadi korban. Bukan hanya ada MER-C disana, ratusan lembaga relawan juga tak absen hadir disana termasuk pula lembaga-lembaga non muslim. Namun menurut cerita bang dokter, mereka itu masuk setelah gencatan senjata. Sedangkan MER-C masuk ke Gaza saat peperangan masih berlangsung. Ikhlas menjadi amunisi yang kuat bagi perjuangan teman-teman di MER-C. Dalam kesempatan itu Joserizal tak lupa menceritakan ihwal MER-C ini dan dari diskusi yang ada juga banyak audiens yang menanyakan kaitannya mengenai independensi lembaga ini. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan berasaskan Islam serta berprinsipkan rahmatan lil alamin.

Abang dokter yang putra melayu ini menyuguhkan tayangan video perjalanan jihadnya bersama beberapa rekan yang tergabung di MER-C(Medical Emergency Rescue Committe ) Indonesia di Gaza, Palestina. Bukan sebuah travelling yang penuh hura-hura atau piknik yang fresh..tapi tim relawan dokter itu tetap nampak have fun dengan ghirah perjuangannya. Video itu tampak membius ratusan audiens yang telah diundang oleh DDII dan BEM Fapet UNSOED – Purwokerto selaku penyelenggara event tersebutt. Sekitar 120 peserta memadati ruang seminar I di lt.3 Gdg Fak.Peternakan UNSOED.

Bang joserizal bisa dibilang salah satu sosok intelektual profetik yang bisa kita tiru. Wawasannya yang luas membuat alumni FKUI ini mampu membaca masalah secara komprehensif. Beberapa kali terulang di  ucapan si abang mengenai intelektual-intelektual di negara kita yang kini mudah lena oleh kipasa dollar. Sains for sains, -menurut bang jose harus dapat menjadi prinsip bagi para ilmuwan apapun bidangnya. Ungkap sang abang, orang pinter di Indonesia (baca : intelektual) mudah dibeli kapabilitas keilmuannya hanya dengan kipasan dollar atau tawaran beasiswa misalnya.

Saat ini jeratan neoliberalisme yang menurunkan paham-paham sejenis kayak kapitalisme memang sudah menggurita dengan berbagai form-nya. Beberapa skandal seperti kasus virus H5N1 menjadi salah satu contoh yang dikisahkan oleh Joserizal. Ngeri juga sieh kalo kita tahu bagaimana “cerdik”nya para antek kapitalis memainkan aksinya. Bukan hanya di bidang medis, pendidikan dan bidang lain juga tak luput menjadi sasaran.

Ulasan ini membuat kita semua merasa perlu untuk memahami filosofis ilmu itu sendiri. Bukannya sok ngefilosofis sieh, tapi dipikir kalo keilmuan yang kita miliki tak mampu menjadi sebuah alat untuk melakukan keberpihakan dan hanya terbius pada kesenangan duniawi saja….kita secara langsung merendahkan ilmu! Kalo kata abang Jose, persepsi Yahudi adalah bahwa ilmu itu : how to get d’money!, kalo kata orang Amerika melihat ilmu adalah ; “how to look the money”. Disini kita melihat adanya perbedaan persepsi mengenai ilmu yang itu berpengaruh pada implementasi yang dilakukan.

So, buat para anak muda kayak kita-kita nih kudu bisa memahami hakikat ilmu yang kita cari selama ini. Biar ilmunya jadi berkah. Perjuangan yang dilakukan dokter Jose adalah salah satu bentuk jihad. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan yang tentunya dengan potensi kita masing-masing. Jangan dikira Yahudi cuma memerangi secara fisik aja!!! Bagi para pejuang medis…berjuanglah dengan ilmunya, bagi para pejuang pena gunakanlah ketajaman pena dan pemikiran, bagi yang punya ilmu di bidang hukum bisa berjuang dengan kemampuannya. Kita adalah kita saat mampu berbuat, saat mampu berkarya untuk hidup ini. Tapi..hati-hati jangan sampai kita nggak bisa membedakan mana yang perjuangan dan mana yang “antek”.

nta

HMI Jaksel Buka Posko Peduli Situ Gintung

Setelah mendengar kejadiaan musibah Situ Gintung, HMI Cabang Jaksel segera melakukan rapat konsolidasi untuk membuka posko peduli Situ Gintung.

Hari pertama (Jum’at/27-03-09) difokuskan untuk membantu proses evakuasi. Setelah evaluasi pada malamnya, diputuskan untuk fokus pada penggalangan dana. Karena proses evakuasi sudah banyak dilakukan oleh tim SAR dan relawan-relawan dari berbagai institusi.

Hari kedua, Sabtu, kader-kader HMI Jaksel disebar di jalan-dijalan, terminal dan tempat perbelanjaan di sekitar Jakarta Selatan guna menghimpun dana untuk korban Musibah Situ Gintung. Beberapa cabang sekitar pun sudah melakukan konsolidasi. Seperti cabang Jakarta dan Bogor kabarnya akan mengirimkan bantuan dana dan tenaga bagi korban Situ Gintung.

Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Selatan Muhammad Insan Kamil mengatakan tujuan utama dari penggalangan dana ini adalah untuk meringankan beban penderitaan saudara kita yang tertimba musibah.

“Penggalangan dana ini kami lakukan untuk memberikan bantuan secara moril dan materi kepada para korban yang sedang tertimpa musibah di Situ Gintung”, kata Kamil.

Selain itu, Kamil mengatakan penggalangan ini juga dilakukan untuk menanamkan jiwa sosial pada setiap kader HMI , khususnya HMI Cabang Jakarta Selatan agar lebih tanggap dan peduli terhadap sesama.

“Semoga penggalangan ini dapat melahirkan jiwa sosial dalam setiap kader HMI Cabang Jakarta Selatan”, tambahnya.

Ahmad Muzakki, Sekretaris Umum HMI Cabang Jakarta Selatan juga mengatakan hal yang sama, menurutnya penggalangan dana ini adalah bukti nyata solidarita HMI terhadap korban Situ Gintung.

“Penggalangan dana ini adalah bukti kongret solidaritas HMI terhadap para korban bencana”, kata Zaki.

Lebih lanjut, Zaki menjelaskan penggalangan dana ini juga dilakukan untuk membantu korban secara jangka panjang, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi lambatnya bantuan yang datang dari pemerintah.

“Kami berniat untuk membantu korban secara jangka panjang, kita mencoba mengantisipasi bantuan dari pemerintah yang terkesan lambat”, jelas Zaki.

“Semoga bantuan ini dapat berguna bagi para korban bencana”, tambahnya mengakhiri pembicaraan.

Call Center Posko HMI dapat menghubungi 021-92886400 atau 081389924925
Rif/Rit

Serukan Pemilu Bersih, HMI MPO Demo KPU

Aktivis  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO kemarin menggelar  aksi  seruan moral menuntut pemerintah  untuk mewujudkan pemilu bersih  yang bebas dari praktik Kolusi, Korupsi dan Nepotisme di Bundaran Hotel Indonesia dan gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

Ketua Umum PB HMI Sahrul Efendi Dasopang mengatakan tujuan utama aksi ini adalah  membuka hati  pemerintah agar melaksanakan pemilu untuk kepentingan rakyat dan membangkitkan kesadaran publik bahwa pemilu ini berisiko tinggi. Menurut Sahrul pelaksanaan pemilu tahun ini masih sarat dengan permainan politik yang mengesampingkan kepentingan rakyat.

” Aksi ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap nasib bangsa ini, kami berusaha mendorong pemerintahan untuk  menyelenggarakan pemilu 2009 ini untuk membawa perubahan bagi  rakyat”, kata Sahrul.

Sahrul  mengatakan kekecewaannya terhadap elit politik bangsa ini yang tidak pernah memperdulikan kepentingan rakyat. ” Kami sangat kecewa dengan sikap elit-elit politik yang tidak pro terhadapa rakyat”, kata Sahrul.

“Kami juga mengkritisi elit politik yang masih rela menempuh segala cara untuk memperoleh kedudukan, seharusnya mereka sadar 2009 merupakan ajang perubahan bagi bangsa Indonesia kedepan”, tambah Sahrul.

Aksi HMI MPO dimulai dari Bunderan HI, Jakarta. Mereka mempunyai empat tuntutan penting terkait dengan pelaksanaan pemilu 2009, yaitu menuntut penyelenggaraan pemilu bersih, menolak partai dan politisi yang terbukti melakukan pelanggaran kampanye, menghentikan praktik suap, dan menghentikan manipulasi dalam penyelenggaraan pemilu 2009.

Aktivis HMI MPO. Muhammad Akhiruddin  dalam orasinya menghimbau kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan politik yang dapat menghambat pelaksanaan pemilu. Menurutnya masih banyak pekerjaan rumah pemerintah terkait dengan pemilu yang belum terselesaikan dengan maksimal.

“Pemerintah harus bekerja keras untuk menuju pemilu bersih, karena sampai saat ini masih ada persoalan yang harus diselesaikan, diantaranya adalah persoalan manipulasi uang, apakah ini bentuk keberpihakkan pemerintah terhadap rakyat”, kata Muhammad.

Setelah melakukan orasi didepan bundaran HI, massa aksi langsung mengadakan Long macth menuju Gedung KPU.

Di gedung KPU massa aksi kembali meneriakkan tuntutan keras kepada KPU untuk segera menghentikan praktik penyimpangan dalam pelaksanaan pemilu 2009. Setelah beberapa saat menggelar orasi, akhirnya massa aksi disambut dengan baik oleh anggota KPU I Gusti Putu Artha untuk berdialog langsung.

Dalam dialog tersebut Putu mengatakan dukungannya terhadap aksi yang dilakukan HMI, pihak KPU  berjanji akan mewujudkan pemilu bersih yang sesuai dengan keinginan rakyat.

” kami serius untuk melaksanakan pemilu bersih, kami tidak ingin bersilat lidah, kami berusaha rendah hati dengan siap menerima segala bentuk kritikan dari rakyat, “, kata Putu.

” kami akan berusaha untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, kami akan mencermati isu-isu penyimpangan yang terjadi pada pemilu 2009″, tambahnya

Putu juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh elemen ormas, termasuk HMI yang banyak memberikan dukungan kepada KPU.

Selain itu, Putu juga mengajak seluruh anggota HMI agar turut memberikan motivasi kepada masyarakat untu menggunakan hak pilih dengan benar.

Dalam pertemuan yang berlangsung seitar 30 menit tersebut, pihak PB HMI  KPU sepakat menandatangani lima keputusan bersama yaitu: berusaha untuk mewujudkan pemilu 2009 secara bersih untuk menuju perubahan, menjalankan system dan tahapan pemilu secara konsisten, tidak berpihak terhadap salah satu kepentingan partai politik, kerjasama untuk menegakkan dan mewujudkan demokrasi di negara kesatuan RI, dan melakukan pendidikan polotik terhadap masyarakat diseluruh Indonesia.

Rita Z

Anies Baswedan: HMI MPO, Ayo Wake Up Kalian!

HMI MPO harus bangun dari ‘tidur’ yang cukup lama dijalaninya. Organisasi ini harus membangun kesadaran untuk merespons masa depan. Bukan justru merespons masa lalu yang selama ini masih tampak dilakukan.

Jika tidak membangun kesadaran tersebut, dikhawatirkan HMI MPO akan menjadi penonton dan bukan menjadi pemain utama dalam gerak perubahan bangsa.

Demikian disampaikan Rektor Paramadina, Anies Baswedan, kepada HMINEWS.COM di kampus Universitas Paramadina, beberapa waktu lalu menanggapi kondisi HMI MPO sekarang ini. Anies yang terpilih di urutan ke 60 dari 100 intelektual dunia mengkhawatirkan kondisi HMI MPO sekarang yang menurut dia alam pikirnya masih merespons masa lalu seperti ketika masa perlawanan terhadap Orde Baru.

“Nuansa itu terasa. Padahal tantangan sekarang berbeda. Tapi, teman-teman masih merespons masa lalu. Kalau kebekuan ini tidak dipecahkan, maka HMI MPO tidak akan bisa berperan sebagai pemain dalam perubahan,” kritiknya. Salah satu rektor termuda di Indonesia tersebut meminta, perlu ada keseriusan untuk memecahkan masalah ini di internal HMI MPO. “Ayo wake up, wake up (bangun, bangun-red) kalian! Saya sungguh khawatir dengan kondisi HMI MPO sekarang,” ujar Anies dengan nada serius.

Market dan Kompetitor Masa Depan

Anies yang baru saja menerima penghargaan Young Global Leader 2009 di World Economi Forum mengatakan, perkaderan HMI MPO sekarang harus bisa mendesain agar sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan melahirkan orang-orang yang mampu memainkan peran utama dalam perubahan. Tema-tema diskusi dan kegiatan di HMI MPO juga harus bisa memikirkan ini dan jangan terjebak seperti tema-tema ketika periode perlawanan terhadap Orde Baru. “Di masa depan, kompetitor kader HMI bukanlah anak-anak GMNI, KAMMI, PMII atau teman -teman di perguruan tinggi dalam negeri. Tapi, ribuan anak-anak muda Indonesia yang sekarang ini sedang menuntut ilmu di luar negeri,” katanya.

Sekarang ini, ujar Anies, ada 29.000 anak muda Indonesia yang sedang kuliah di Australia. Belum lagi ribuan orang yang mengambil studi di Amerika dan negara-negara luar lainya. Anak-anak muda inilah ke depan yang diprediksi akan mengambil peran dalam proses perubahan Indonesia. “Mereka memiliki perangkat ilmu dan kekuatan network internasional yang lebih bagus. Apakah mereka tidak punya nasionalisme? Anda salah kalau mengatakan tidak. Mereka tinggi sekali komitmennya terhadap Indonesia,” tandasnya.

Lulusan-lulusan luar negeri ini, lanjut Anies, menyiapkan diri tidak hanya untuk mengisi ruang di state (pemerintahan). Tapi juga di market (pasar) yang belum banyak anak muda berminat untuk mengisi wilayah ini. Dijelaskan Anies, unsur masyarakat itu ada tiga yakni state (negara), market ( pasar) dan civil society (masyarakat sipil). “Pasar sekarang dan ke depan itu masih relatif kosong. Perkaderan HMI mestinya sekarang juga mendesain orang-orang untuk menjadi pemain utama di pasar. Jangan hanya fokus untuk mengisi state dan civil society seperti di masa lalu. Padahal ke depan pasar akan semakin menentukan, ” tandasnya. Menurut dia, pasar jangan sampai hanya diisi oleh orang-orang asing saja atau para pengusaha yang hanya berorientasi akumulasi kapital dan tidak memiliki keberpihakan sosial.

Di HMI MPO, kata Anies, harus dikhawatirkan ketika aktivis itu hanya menjadi label semata. Namun, tidak diikuti dengan kapasitas yang harusnya dimiliki sebagai aktivis sesungguhnya. “Sederhana, misalnya ketika kader HMI MPO ditanya kemampuan bahasa Inggrisnya, tumbang mereka. Bagaimana ini, padahal itu kemampuan dasar yang harus dimiliki,” ujarnya. Kalau kader-kader HMI MPO sekarang tidak bisa membaca masa depan dan mempersiapkan diri, anak-anak muda lulusan luar negeri inilah yang akan menjadi pemain utama dalam perubahan Indonesia di masa mendatang. “Sementara kalau kalian sekarang masih lebih suka merespons masa lalu, siap-siap menjadi penonton saja,” kritik Anies lagi.

Alumni HMI UGM ini berharap, perkaderan HMI MPO bisa melahirkan calon-calon pemimpin yang bisa memainkan peran di masa depan. Baik di state, civil society dan termasuk di market. Anies menganalogikan, ketika bulan Ramadhan kemarin ada undangan dari Korps Alumni HMI (KAHMI). Undangan itu berisi buka bersama di kediaman alumni-alumni HMI yang sekarang menjadi menteri atau pejabat tinggi negara. “Saya khawatir, sepuluh sampai dua puluh tahun mendatang, undangan yang datang ke saya, bukan lagi dari alumni HMI. Tapi dari korps alumni mahasiswa Amerika atau ikatan alumni mahasiswa Australia dan sejenisnya,” tuturnya.

Triso Suhito

Rakyat Perlu Janji Kampanye yang Jelas

Tepat tanggal 9 April 2009 mendatang pemilu legislatif akan dilaksanakan. Kampanye pun telah didengung-dengungkan oleh para elit politik sejak sebulan sebelumnya, meski  kampanye secara terbuka dimulai tanggal 16 Maret 2009 ini.

Berbagai cara kampanye dilakukan oleh para elit politik dari mulai pemasangan baliho, reklame, spanduk, stiker maupun bendera partai dan media elekronik. Namun, dari sekian banyaknya partai yang ada belum ada satupun partai yang memiliki visi dan misi yang jelas dan terukur (kwanitative). Mayorias partai maupun elit politik hanya memberikan slogan-slogan yang terlalu general dan idak jelas dalam setiap kampanye. Visi misi dan slogan-slogan yang tidak jelas tersebut bisa jadi mengindikasikan janji-janji yang manipulatif dan rakyat harus jeli melihat situasi ini.

Kampanye Ideal

Idealnya sebuah kampanye harus memiliki visi dan misi yang jelas dan terukur sehingga ketika parpol tersebut menang, rakyat dapat mudah untuk menagih janji. Selain itu, parpol seharusnya membuat draf tandingan yang jelas dan bersedia melakukan kontrak sosial dengan rakyat. Dengan kontrak  sosial tersebut, dapat diketahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan rakyat saat ini dan masa mendatang. Membuka ruang dialog oleh para parpol di tengah para mahasiswa juga merupakan salah satu kampanye alternatif yang efekif karena mahasiswa yang nota bene sebagai poros intelektual dapat mengkritisi setiap muatan kampanye.

Namun yang kita temui di lapangan kini justru banyak parpol yang tidak sportif dalam melakukan kampanye. Tidak sedikit kasus yang berkenaan dengan pelanggaran kampanye, sejauh ini masih 56 kasus pelanggaran kampanye yang tersebar di seluruh Indonesia dan sudah ditangani oleh Satuan Kerja Penegakan Hukum Terpadu seperti mencuri start kampanye, saling menjatuhkan antara satu partai dengan partai lain, pemalsuan ijazah serta jenis pelangaran kampanye lain yang dikategorikan sebagai black campaign (kampanye hitam). Secara konstitusi pelanggaran kampanye tersebut melanggar pasal 270 UU No. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD.

Sungguh ironis jika pemilu yang menguras uang rakyat ini harus diisi dengan kampanye hitam dan janji-janji yang tidak jelas. Apalagi parpol saat ini lebih banyak memilih “jalan pintas” dalam berkampanye untuk meraup dukungan suara. Jalan pragmatis yang banyak ditempuh oleh para elit politik saat ini mencerminkan tidak adanya penghargaan atas sebuah proses dan kerja keras. Hal itu tidak lain menjadi sebuah pembodohan dalam demokrasi karena kampanye tidak dilakukan sesuai dengan jalan yang seharusnya.

Beberapa persoalan signifikan kini belum mendapat perhatian oleh para elit politik untuk disuarakan dalam kampanye pemilu, diantaranya berbagai kasus yang menyangkut HAM (Hak Azasi Manusia) seperti kasus Pembunuhan Munir yang belum tuntas hingga kini, persoalan lumpur lapindo yang selama 3 tahun ini tidak juga mendapat solusi yang adil bagi 12.000 orang korbanya, bencana banjir yang sudah menjadi masalah klasik dan belum juga ada problem solving, namun jika dibiarkan akan sangat rentan terhadap timbulnya masalah kemanusiaan dan persoalan lahan petani miskin yang penguasaan lahanya kini rata-rata hanya sekiar 0,25%.

Isu-isu tersebut seharusnya menjadi tantangan bagi para parpol untuk menyusun draf tandingan yang jelas sebagai jalan kampanye yang sehat. Keinginan rakyat sangat sederhana, pemilu tahun ini dapat membawa perubahan bagi kesejahteraan hidup mereka.

Sugiharti,
Penulis adalah mahasiswa IKIP PGRI Semarang, saat ini menjabat sebagai Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam Kom. FPBS periode 2008/2009

Rendezvous Kekuasaan di Tepi Serayu

stainpress.com

Serayu memang selalu mendayu. Memainkan riak kreativitasnya, kali ini puluhan pengulir zaman melalui tulisan berkumpul dan bercengkerama dalam perhelatan ” Launching dan Bedah Buku Bunga Rampai Esay ‘Kekuasaan dan Agama’ dan Bunga Rampai Cerpen ‘Rendezvous Di Tepi Serayu’ “.

Hadir sebagai pembedah : KH.M. Nashruddin Anshory, CH (Penulis) , Geidurrahman El-Mishry (penulis Novel Bait-Bait Cinta), Gugun El-Guyani (Juara I Lomba Esay), Mahwi Air Tawar (Juara I Lomba Cerpen) dengan dimoderatori oleh Abdul Wahid, B.S, SS, M.Hum (dosen dan sastrawan).

Acara yang digelar di Auditorium STAIN Purwokerto hari Sabtu (14/3) kemarin merupakan puncak dari rangkaian acara tahunan “Lomba Cipta Esay dan Tulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia” yang digelar sekitar Januari 2009 silam. Gelaran tahunan itu dimeriahkan oleh sekitar 400 naskah cerpen dan 317 naskah Esay dari mahasiswa di penjuru tanah air. Berdasarkan penilaian yang dilakukanoleh tim juri : Ahmadun Yosi Herfanda, Heru Kurniawan, Ridwan,M.Ag, dan Abdul Wahid BS, SS, M.Hum, berhasil meraih juara pertama, Gugun El-Guyani, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Gugun menguraikan idenya dalam esay berjudul “Khilafah Versus Demokrasi : Relasi Antara Agama dan Kekuasaan” . Sedangkan untuk lomba cerpen, Mahwi Air Tawar berhak menjadi pemenang I dengan judul cerpennya “Pulung”. Mahwi juga tercatat sebagai mahasiswa UIN Kalijaga Jogakarta. Bersama 27 nominator lainnya, esay dan cerpen yang ada masing-masing dibukukan oleh Penerbit Grafindo Press yang bekerjasama dengan Obsesi Press Publishing.

Dalam bedah buku yang berjalan selama durasi kurang lebih 2 x 60 menit tersebut, perbincangan yang berjalan cukup meriah. Gus Nas (panggilan akrab KH. Nashruddin) mencoba mengungkapkan mengenai filosofi kekuasaan dalam Islam. Sempat diungkapkan juga kegelisahannya dalam melihat hal-hal normatif (simbolis) Islam saja yang kemudian kadang diadopsi oleh para pelaku-pelaku kekuasaan. Bahwa kekuasaan dan kepemimpinan itu berbeda dan harus dipahami, dan diharapkan mampu memaknai kekuasan bukan sebagai sebuah alat penindasan. Di sisi lain, Gugun El-Guyani yang juga aktivis KUTUB – Yogyakarta, menguraikan dengan gamblang mengenai pola kekuasaan pada zaman khulafaur rasyidin. Gugun juga mengkritisi gerakan-gerakan mahasiswa yang tak mampu memberikan bergaining position fragmen kekuasaan di bangsa ini.

Sementara Geidurrahman mencoba membedah beberapa karya cerpen dalam buku “Rendezvous Di Tepi Serayu”. Beliau mengungkapkan banyak mengenai Sastra Religius dan Permasalahannya. Bahwa sastrawan memiliki tanggungjawab yang begitu besar dalam pemasifan nilai pada masyarakat. Dalam perkembangan diskusinya, terdapat kontroversi perbedaan pendapat antara Geidurrahman dan Mahwi Air Tawar dalam penyikapan sastra Religius. Diskusi semakin meriah dengan partisipasi para audiens yang siang itu memenuh ruangan audit.

Acara itu masih berlanjut hingga malam penganugerahan pada pemenang dan nominator lomba Esay dan Cerpen. Nampak para nominator dan pemenang menikmati rangkaian acara yang diselenggarakan dengan apik oleh panitia. Event itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para nominator yang hadir dari berbagai universitas di Indonesia. Rembulan meredup di tujuh belas Rabiul Awal-pun menjadi pertanda akhir rangkaian acara di hari itu. Namun semangat tak akan meredup di masing sanubari untuk terus menghidupkan nyala lilin pena dalam peradaban. Semua harus tetap mengalir…seperti tarian arus serayu. Semoga. (Nta)

Menilai Kinerja Bidang Hukum SBY

Beberapa bulan belakangan ini banyak iklan politik yang mengklaim keberhasilan beberapa sektor pembangunan adalah milik beberapa partai politik. Semisal Partai Demokrat yang mengklaim bahwa angka pengangguran berkurang menjadi 8,5%. Semata keberhasilan para elit Partai Demokrat.

Para penggawa partai pendukung pemerintah ini mengklaim lewat iklannya bahwa kinerja selama 4 tahun pemerintahannya, Partai Demokrat (mengutip hasil survei LSI) menyebut bahwa 69% rakyat puas atas kinerja pemerintahan SBY. Yang lebih miris Partai Demokrat mengaku pemberantasan korupsi meningkat dengan bukti 500 pejabat publik diproses secara hukum. Padahal keberhasilan tersebut tidak bersumber dan tidak sejalan dengan data-data yang ada di lapangan.

Bidang Hukum

Pada bidang ini kinerja pemerintahan SBY hampir tidak ada kemajuan malah boleh dibilang mengalami banyak kemunduran. Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan pada tanggal 5 Nopember 2007 yang menjatuhkan vonis bebas terhadap pembalak hutan Adelin Lis menjadi satu bukti kegagalan pemerintahan yang dipilih lewat pemilihan presiden secara langsung yang pertama kalinya diadakan di Indonesia.

Belum lagi Adelin Lis tertangkap, kinerja bidang hukum SBY kembali tercoreng. Pada tanggal 9 Desember 2008 kejaksaan hanya memvonis satu tahun penjara terhadap terdakwa pemilik 1 juta ekstasi di apartemen taman anggrek. BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Monas (nama di terdakwa) disulap menjadi berkas BAP pecandu dan kepemilikan sabu 1,5 gram saja. Sementara itu, istrinya Jetil alias JJ alias Cece malah dihukum mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terbukti sebagai anggota sindikat narkoba terorganisir. Kesalahan BAP pada kasus Monas adalah kesalahan paling esensial kinerja bidang hukum pemerintahan SBY.

Selagi pihak kepolisian sibuk mengklarifikasi dan menyelidiki ulang kasus kesalahan dalam BAP Monas, dunia hukum kembali dikagetkan dengan vonis bebas Muchdi Pr. Pada tanggal 31 Desember 2008. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyatakan bahwa bukti-bukti yang ada mengatakan Muchdi Pr bukanlah aktor dibalik terbunuhnya Munir. Padahal data dan fakta menunjukkan setelah Munir meninggal dunia, Pollycarpus menelpon kepada Muchdi Pr sebanyak 41 kali namun tidak diketahui apa isinya kemudian Pollycarpus juga menelpon Yetti Susmiyarti, Oedi Irianto dengan menyatakan untuk bertemu guna menyamakan persepsi bila dimintai keterangan oleh polisi agar jawabannya berkesesuaian (data kontras). Dengan bebasnya Muchdi Pr membuat penyelidikan kasus ini kembali ke titik nol.

Bidang Pemberantasan Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi yang sering disingkat KPK sebenarnya lahir atas desakan rakyat yang diwakili mahasiswa yang sudah muak dengan budaya korupsi selama orde baru, harapan itu disandarkan kepada KPK. Berharap agar komisi ini dapat memberantas korupsi hingga keakar-akarnya. Anggaran yang sangat besar pun dikucurkan ke lembaga ini. Total anggaran KPK tahun 2004 sampai dengan 2006 mencapai Rp. 247,6 miliar. Anggaran yang sangat besar ini juga belum dibarengi oleh kinerja KPK yang terus membaik. Pemerintahan SBY hanya mengukur keberhasilan KPK dari sudut kuantitatif belaka tidak pada aspek-aspek yang kualitatif. Ini terbukti total kerugian negara yang berhasil dikembalikan KPK hanya sebesar Rp. 50,4 miliar.

Pemberantasan korupsi juga belum menyentuh sampai ke lembaga peradilan, wajar jika vonis bebas sering di dapat pada kasus-kasus yang menarik perhatian masyarakat, semisal Adelin Lis, Monas dan kasus kematian Munir.

Sebenarnya sebelum KPK menangkapi para pejabat negeri ini, KPK seharusnya memulai kinerjanya dengan terlebih dahulu memberantas korupsi di lembaga peradilan yang notabene menjadi benteng terakhir para pencari keadilan.

Sebelum lembaga peradilan bersih dan kasus-kasus dugaan korupsi dan suap menyuap tidaklah layak satu pemerintahan siapa pun yang memimpin negeri ini mengklaim keberhasilan di bidang hukum khususnya pemberantasan korupsi.

Rakyat negeri ini telah lelah dengan janji-janji. Berharap setelah pemilu legislatif di bulan April dan pemilu presiden di bulan Juli 2009, masyarakat negeri ini tidak lagi hanya menerima janji-janji namun kenyang akan bukti-bukti yang akan diberikan para elit pasca pemilu. Semoga. (Anthomi Kusairi; Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana, Fakultas Hukum, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.  Mantan Ketua Komisi Hukum dan HAM PB HMI MPO, 2005-2007)

Jelang Kongres, Panita Mulai Sibuk

Menjelang pelaksanaan kongres HMI-MPO ke-27 di Yogyakarta pada Mei mendatang kesibukan panitia mulai terlihat. Agenda menyebarkan proposal, silaturrahmi berbagai tokoh, media, dan alumnipun telah gencar dimulai.

Ketua Panitia Kongres, Supriadi dan Bendahara Kongres, Fadnan Farid dikabarkan saat ini masih berada di Jakarta guna mencari dukungan dana bagi pelaksanaan kongres.

Ketika  ditanya melalui via telpon pada Senin (15/3), tentang kesiapan acara kongres tersebut, Supriadi menyatakan bahwa penyebaran proposal pendanaan akan diusahakan secara maksimal. Tapi kata Supriyadi, untuk penyebaran proposal tersebut masih membutuhkan tambahan orang,meningat penyesuaian  dengan jadwal yang akan dituju.

Menurut Supriadi, tambahan tenaga tersebut jelas penting. ” Saya sebenarnya sudah membagi tugas dengan teman-teman panitia temasuk bagian pendanaan, makanya yang berangkat ke Jakarta ini dibagi dalam  tiga gelombang, dan saya sudah mengontak mas Dedi (koordiantor Pendanaan) agar nantinya bisa berangkat menyusul,”tuturnya.

Ketika ditanya terkait dengan kebaradaan panitia di Yogyakarta, Supriadi mengatakan bahwa hal-hal lain yang berakitan dengan di Jogja diharpkan dapat berkomunikasi dengan wakil ketua panita kongres, Lutsfi.

“Saya berharap teman-teman panitia di Jogja tidak ada lagi waktu untuk bersantai karena masih banyak yang harus kita kerjakan dan ini salah satu perjuangan supaya HMI semakin Jaya,”

Butuh kerja keras

Kabid Kastrad (kajian analisis dan satategis cabang) M. Awaludin diminta konfirmasinya menyatakan bahwa dirinya mengamati kerja-kerja panitia belum berjalan secara maksimal. Sampai saat ini belum ada laporan final dari beberapa bidang tentang rangkaian kerja atau job description.” Saya pikir kalau seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut akan menyulitkan kerja-kerja selanjutnya, ” katanya,

Awaludin usul agar Pengurus harian HMI Cabang Jogjakarta bisa mengambil alih untuk kerja taktis. “Ini butuh kerja keras dari semua pihak, mengingat semakin dekatnya hari pelaksanaan kongres,” (Lutfi)