Diskursus Islam dan Demokrasi

Islam dan demokrasi, dua buah konsep yang menjadi polemik lama dalam sejarah pemikiran Islam yang hingga sekarang belum tuntas diperdebatkan. Membongkar wacana demokrasi dan Islam tidak akan pernah lepas dari banyak hal seperti panggung pergulatan politik, Negara, kekuasaan, pemerintahan dan entitas lain di luar Islam.

Demokrasi dianggap menjadi sebuah pilihan terbaik dari berbagai pilihan system yang ada dalam wacana nation state karena dipandang sebagai substansi dan norma secara umum dimana demokrasi berangkat dari nilai-nilai pluralisme, sekulerisme, kebebasan, kesetaraan, toleransi, dan juga liberalisme. Pemikir-pemikir Islam, cendekiawan-cendekiawan muslim, dan aktivis-aktivis islam berbeda sikap dan pendapat dalam mengapresiasi dan mengkritisi konsep demokrasi. Ada yang mengingkari demokrasi dengan keyakinan antara islam dan demokrasi tidak dapat dipadukan . Ada pula yang menerima demokrasi karena menganggap nilai-nilai demokrasi yang universal tersebut mengacu kepada nilai-nilai islam. Diskursus diantara dua konsep inilah yang akan coba dibahas dalam paper ini dimana saya akan coba menyajikan bentuk pertentangan yang ada dalam dunia islam sebagai bagian penyikapan dunia Islam terhadap demokrasi.

Definisi Demokrasi

Demokrasi, sebuah kosakata politik yang begitu sering digunakan dan diperdengarkan dalam wacana social politik kenegaraan. Demokrasi disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu Negara. Demokrasi secara etimologis berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “demos” yang berarti rakyat atau penduduk setempat dan “creatain” atau “cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan rakyat. Dengan bahasa lain demokrasi adalah pemerintahan rakyat; pemerintahan yang diikuti oleh rakyat secara suka rela dan bukan karena takut atau paksa. Dalam setting sosio-historisnya di Barat, demokrasi lahir sebagai solusi dari dominasi gereja yang otoritarian dan absolut sepanjang Abad Pertengahan. Paham sekularisme, yakni paham pemisahan agama dari kehidupan menjadi bagian dari konsep demokrasi. Demokrasi memberikan kepada manusia dua hal : (1) hak membuat hukum (legislasi).Prinsip ini kebalikan dari kondisi sebelumnya yaitu hukum dibuat oleh para tokoh-tokoh gereja atas nama Tuhan; (2) hak memilih penguasa. Prinsip ini kebalikan dari kondisi sebelumnya yaitu penguasa (raja) diangkat oleh Tuhan sebagai wakil Tuhan di muka bumi dalam sistem monarki absolut.

Jadi, dalam demokrasi, rakyat adalah sumber legislasi dan sumber kekuasaan (source of legislation and authority). Dalam demokrasi kebebasan harus diwujudkan bagi setiap individu rakyats. Ada 4 jenis kebebasan yang dianut: (1) kebebasan beragama (freedom of religion), (2) kebebasan berpendapat (freedom of speech), (3) kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), dan (4) kebebasan berperilaku (personal freedom).

Diskursus Islam dan Demokrasi

Hubungan islam dan demokrasi, diskursus diantara dua konsep itu, bukanlah perkara baru dalam sejarah pemikiran Islam. Hubungan diantara keduanya masih menjadi isu yang sangat controversial dan merupakan sebuah perdebatan yang tak pernah usai. Salah satu sisi perdebatan adalah adanya pembedaan yang menyangkut nilai-nilai disatu sisi dan teknik pada lain sisi. Ini semua karena sitem dalam Islam berlandaskan kepada keselarasan rasio, wahyu dan sains sedangkan system barat menafikan kesemua itu.

Islam adalah universal, bukan territorial. Universalisme islam terlihat dari kandungan ajaran-ajarannya yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Tidak dapat dipungkiri bahwa demokrasi beserta nilai-nilai yang diusungnya merupakan hal baru dan cukup asing dalam mind-set Islam terutama dalam bidang pemerintahan. Demokrasi dianggap sebagai nilai impor dan pemahamannya yang ada sekarang bertolak belakang dengan pengalaman umat Islam selama ini. Landasan epistemologis demokrasi berwatak sekulerisme yakni pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi asas ideology kapitalisme sedangkan Islam adalah ajaran yang tidak layak di sekulerkan. Pemerintahan Islam di bangun diatas landasan aqidah islam. Tidak ada sekulerisasi atau pemisahan antara dan agama. Negara dalam Islam adalah institusi politik yang menerapkan persepsi, standar dan qona’ah yang digunakan untuk melakukan aktivitas ri’ayah su’unil ummah (mengurusi urusan rakyat). Artinya, diatur dengan aturan-aturan Islam.

Harvey Cox mengemukakan sebagaimana yang dikutip oleh Amin Rais (1991); komponen-komponen sekulerisasi adalah disenchanment of nature, desakralisasi politik, dan dekonsentrasi nilai-nilai. Disenchanment of Nature berarti pembebasan alam dari nilai-nilai agama agar masyarakat dapat melakukan perubahan dan pembangunan dengan bebas. Desakralisasi politik bermakna penghapusan legitimasi sakral (agama) atas otoritas dan kekuasaan. Hal ini merupakan syarat untuk mempermudah kelangsungan perubahan sosial dan politik dalam proses sejarah. Sementara itu, dekonsentrasi nilai-nilai maknanya adalah perelatifan setiap sistem nilai, termasuk nilai-nilai agama, supaya manusia bebas mendorong perubahan-perubahan evolusioner tanpa terikat lagi dengan nilai-nilai agama yang bersifat absolut. Dalam konsep demokrasi Agama dipandang sebagai masa lalu yang dibiarkan tumbuh dan berkembang hanya sebatas pada kehidupan individu, sedangkan upaya untuk melegal-formalkan aturan yang berasal dari tuhan (Allah) dalam sebuah pranata negara dianggap sebagai tindakan yang andemokratis, sekalipun ‘mayoritas masyarakat’ menginginkannya. Demokrasi dianggap sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam baik secara global maupun rinci. Kontradiksi demokrasi dengan Islam tampak dalam sumber kemunculannya, akidah yang melahirkannya, asas yang mendasarinya dan dalam berbagai ide serta aturan yang dihasilkannya.

Abdul Qadim Zallum (1990) menjelaskan adanya kontradiksi-kontradiksi lain antara demokrasi dan Islam. Antara lain :

Dari segi sumber : demokrasi berasal dari manusia dan merupakan produk akal manusia. Sedang Islam, berasal dari Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Muhammad SAW. Sistem yang dibuat oleh manusia tidak bisa lepas dari kesalahan, dan sesungguhnya hanya Allah-lah yang terbebas dari kesalahan, maka sistem dari Allah saja yang pantas dianut.

Dari segi asas : demokrasi asasnya adalah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sedang Islam asasnya Aqidah Islamiyah yang mewajibkan menerapkan Syariah Islam dalam segala bidang kehidupan (QS 2:208).

Dari segi standar pengambilan pendapat : demokrasi menggunakan standar mayoritas. Sedangkan Islam, permasalahannya tidak bergantung pendapat mayoritas atau minoritas, melainkan pada nash-nash syariat. Sebab yang menjadi musyarri'(pembuat hukum) hanyalah Allah SWT, bukan umat.

Dari segi ide kebebasan : demokrasi menyerukan 4 jenis kebebasan (al-hurriyat), di mana arti kebebasan adalah tidak adanya keterikatan dengan sesuatu apa pun pada saat melakukan aktivitas. Sedang Islam, tidak mengakui kebebasan dalam pengertian Barat. Sebaliknya, Islam mewajibkan keterikatan dengan syariah Islam, sebab pada asalnya, perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum-hukum Syariah Islam.

Kelompok Yang Menolak Demokrasi

Ada beberapa ahli atau ulama yang berpandangan bahwa dalam Islam tidak ada tempat yang layak bagi demokrasi, yang karenanya Islam dan demokrasi tidak bisa di padukan antara lain: Syakh Fadhalah Nuri dan Thabathai dari Iran Sayid Quthb dan al-Sya’rawi dari Mesir, serta Ali Benhajd dari Al Jazair. Syakh Fadallah Nuri (1905-1911) dengan jelas menolak legislasi oleh manusia. Menurutnya Islam, tidak memiliki kekurangan yang memerlukan penyempurnaan. Dalam Islam tidak ada seorang pun yang di izinkan mengatur hukum. Sayyid Quthb, pemikir Ihwanul al-Muslimin sangat keras menentang setiap kedaulatan rakyat. Baginya hal itu adalah pelanggaran terhadap kekuasaan Tuhan yang merupakan suatu bentuk tirani sebagian orang kepada yang lainnya. Mengakui kekuasaan Tuhan berarti melakukan penentangan secara menyeluruh terhadap kekuasaan manusia dalam seluruh pengertian, bentuk, sistem, dan kondisi.. Ia menekankan bahwa sebuah negara Islam harus berlandaskan pada prinsip musyawarah, ia percaya bahwa syari’ah sebagai sebuah sistem hukum dan sistem moral sudah sangat lengkap, sehinga tidak ada legislasi lain yang mengatasinya.

Kelompok Yang Menerima Demokrasi

Berbeda dengan kelompok sebelumnya, kelompok ini menerima demokrasi karena melihat demokrasi sebagai sesuatu yang universal, sebuah idealitas dan pilihan terbaik dibandingkan system politik otoriter. Pemikir yang masuk dalam kelompok ini antara lain: Fahmi Huwaidi, al Aqqad, Mohammad Husein Heikal, dan Zakaria Abdul Mun’im Ibrahim al-Khatib dari Mesir, Mahmoed Mohamed Taha dan Abdullani Ahmad al-Na’im dari Sudan, Bani Sadr dan Mehdi Bazargan dari Iran, dan Hasan al Hakim dari Uni Emirat Arab.

Fahmi Huwaidi satu diantara pemikir Islam yang melakukan sintesa antara Islam dan demokrasi, mengatakan demokrasi sangat dekat dengan jiwa Islam dan substansinya sejalan dengan Islam. Esensi demokrasi adalah penolakan terhadap diktatorisme dan otoritarianisme. Ada beberapa alasan yang di kemukakan Huwaidi dalam melihat kedekatan Islam dan demokrasi.

Pertama, beberapa hadist menunjukaan bahwa Islam menghendaki pemerintahan yang di setujui rakyat.

Kedua, penolakan Islam terhadap kediktatoran (QS. 2:258).

Ketiga, dalam Islam, pemilu merupakan kesaksian rakyat dewasa bagi kelayakan seseorang kandidat (QS, 2:282-283), (QS.22:30) dan (QS.65:2).

Keempat, demokrasi merupakan sebuah upaya mengembalikan sistem kekhilafiahan khulafa Rasyidin.

Kelima, negara Islam adalah negara keadilan dan persamaan manusia di depan hukum.

Keenam, demokrasi adalah bentuk dari sebuah kontrak sosial yang riil.

Selain huwaidi, Dr. Yusuf Qordhowi yang tidak lain seorang pemikir Islam pun menerima konsep demokrasi. Yusuf Qordhowi mengatakan bahwa substansi demokrasi serupa dengan ruh syuro Islam. Dan ia mengamini demokrasi adalah bagian dari Islam karena menurutnya jauh sebelum demokrasi dilahirkan masyarakat Barat, Islam terlebih dahulu menancapkan prinsip-prinsip kehidupan yang demokratis, seperti contoh adanya pemilu, meminta pendapat rakyat, menegakkan ketetapan mayoritas, multipartai politik, kebebasan pers, mengeluarkan pendapat, dan otoritas pengadilan adalah bagian kehidupan demokrasi yang substansinya telah ada dalam kehidupan Islam.

Alasan teoritis menerima demokrasi : demokrasi adalah konsep kedaulatan rakyat, Alasan teologis : demokrasi sesuai dengan nilai-nilai Islam, Alasan sosiologis : demokrasi mengutamakan kepentingan rakyat

Penutup

Dalam menyikapi konsep demokrasi, Islam mempunyai “dua wajah”. Di satu sisi Islam bisa sejalan dengan demokrasi, tapi di sisi yang lain justeru bertentangan. Hal ini sangat tergantung pada bagaimana Islam diekspresikan oleh para pemeluknya. Warna Islam sedemikian banyak dan beragam, sehingga persentuhan Islam dengan demokrasi, politik, negara, pemerintahan, dan masyarakat manusia di luar Islam pun, bisa sangat banyak ragamnya. Maka yang penting bukan faktor Islamnya itu sendiri, melainkan ekpresi para pemeluk Islam dalam dunia yang riil.

CITRA BANCH SALDY
Direktur Lapmi HMI-MPO Cabang Purwokerto

Golkar-PDI-P Sepakat Bangun Pemerintahan yang Kuat

JAKARTA – Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sepakat untuk bermitra dalam rangka menghadapi pertarungan Pemilihan Presiden 2009. “Golkar dan PDI Perjuangan sepakat untuk membangun pemerintahan yang kuat sebagaimana yang kita cita-citakan,” ujar Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla, Kamis (23/4) malam, seusai melakukan pertemuan tertutup dengan tim Moncong Putih.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Taufik Kiemas, Sekretaris Jenderal Pramono Anung, Ketua DPP Tjahjo Kumulo, putri Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani. Di kubu pohon beringin, selain JK, tampak Sekretaris Jenderal Sumarsono dan Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh.

Sebagai bentuk tindak lanjut pertemuan tersebut, esok hari JK akan menemui pihak PDI Perjuangan pada pukul 19.30 di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat. Serangkaian pertemuan dijadwalkan akan dilakukan guna membahas kerja sama tersebut.

Sementara itu, pecahnya kongsi Partai Demokrat-Partai Golkar dan kemudian merapatnya Partai Golkar ke PDI-P ditanggapi dingin oleh dua partai politik baru, yang dipastikan lolos ambang batas perolehan suara (electoral threshold), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hanura.

Walau sebelumnya kedua parpol sama-sama mengusung nama calon presiden sendiri, Prabowo Subianto dan Wiranto, maraknya manuver politik yang terjadi belakangan, menjelang pengajuan calon presiden dalam pemilihan umum presiden nanti, diyakini tidak menguntungkan atau pun merugikan bagi keduanya.

Menurut Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi, Kamis (23/4), pihaknya saat ini sebatas menyiapkan tiga macam skenario politik yang mungkin dilakukan untuk menyikapi berbagai perkembangan dan kondisi peta perpolitikan yang bakal terjadi di masa mendatang.

“Strategi untuk tetap mengusung nama Pak Prabowo menjadi calon presiden tetap oke. Namun, kami juga tidak menutup kemungkinan berkoalisi dengan parpol lain. Beberapa waktu lalu kami juga sudah sempat didekati Partai Golkar. Prinsipnya, sepanjang masih sejalan dengan visi dan misi Partai Gerindra, kami tidak memasalahkan,” ujar Suhardi.

Ketiga skenario politik yang disiapkan Partai Gerindra, antara lain, melanjutkan koalisi dengan PDI-P yang sejak awal dilakukan. Selain itu, Partai Gerindra juga membuka kemungkinan bergabungnya Partai Golkar yang kemudian diikuti dengan mencari kesepakatan bersama soal pasangan mana akan disusung dalam pemilu presiden mendatang.

Sedangkan kemungkinan ketiga, tambah Suhardi, bersama sejumlah partai politik lain yang sudah dijajaki sebelumnya, melanjutkan upaya mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden yang akan maju dalam kompetisi Pilpres 2009.

Dengan tiga skenario tadi, Suhardi mengaku yakin Partai Gerindra punya banyak pilihan untuk bersikap dan mengantisipasi berbagai kemungkinan serta kondisi politik yang terjadi dan terus berkembang di masa mendatang.

Di tempat terpisah, juru bicara Partai Hanura Yogi Soehandoyo menegaskan, pihaknya akan tetap berkomitmen mengusung kesepakatan Teuku Umar terlebih dahulu dan tidak akan membicarakan kemungkinan-kemungkinan berkoalisi dengan parpol mana pun.

Seperti diwartakan, sejumlah tokoh penting parpol-parpol termasuk Wiranto mendeklarasikan Kesepakatan Teuku Umar di kediaman Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, yang pada intinya menggugat dugaan kecurangan yang terjadi dalam pemilu presiden lalu, yang berdampak menghilangkan puluhan juta hak suara warga negara Indonesia.

“Komitmen kami tetap, pemerintah dan KPU harus mempertanggungjawabkan kesalahan dan dugaan kecurangan yang terjadi kemarin akibat banyak warga masyarakat yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT). Kami tidak akan merasa ditinggalkan oleh parpol lain dalam hal koalisi,” ujar Soehandoyo.

Terkait maraknya manuver politik antarparpol untuk mengusung calon-calon masing-masing, Soehandoyo menyatakan, Partai Hanura tidak ingin terlihat seolah haus kekuasaan karena mengingat hal prinsip, pertanggungjawaban hak suara masyarakat yang hilang, jauh lebih penting untuk dituntaskan.

“Kami yakin, PDI-P tetap bersikap bijak dan cerdas dalam menyikapi strategi yang dilancarkan Partai Golkar. Sosok Pak Wiranto itu sudah banyak pengalaman dalam pemerintahan, beliau paham kondisi yang terjadi. Kami tidak mau terkesan seperti haus kekuasaan dengan meributkan soal koalisi di saat seperti ini,” ujar Soehandoyo.

Sumber: Kompas.com, 23 April 2009

Israel Gagal Pojokkan Iran

Ribuan peserta Durban Review Conference di Jenewa menggagalkan upaya lobi-lobi Israel untuk memojokkan dan mengacaukan pidato Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Saat Presiden Iran sedang memberikan pidato di depan peserta Konferensi Dunia mengenai Rasisme yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu pada Senin (20/4) waktu setempat, seorang peserta berupaya melemparkan sesuatu ke arah wajah Ahmadinejad hingga Presiden Iran sempat menghentikan sebentar pidatonya.

Namun, lebih dari 4.500 wakil organisasi nonpemerintah (NGO) dan aktivis hak asasi manusia (HAM) meminta Presiden Iran untuk melanjutkan pidatonya. Para peserta terus memberikan tepuk tangan berulang kali hingga pidato Ahmadinejad selesai. “Saya minta seluruh peserta memaafkan mereka.Mereka orangorang yang kurang informasi,”kata Ahmadinejad sebelum dia melanjutkan kembali pidato-nya.

Setelah insiden itu, sebagian kecil perwakilan,dari 23 organisasi dan beberapa negara,memprotes pidato Ahmadinejad. Namun ribuan orang lain,termasuk perwakilan PBB, tetap berada di ruangan saat Presiden Iran melanjutkan pidatonya. Ahmadinejad menyebut Israel negara yang kejam dan rasis.

Presiden Iran menegaskan, Zionis Israel menggunakan peristiwa Holocaust sebagai dalih untuk mencuri tanah Palestina. Ahmadinejad menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme. Ribuan orang yang masih berada di dalam ruangan menunjukkan dukungan pada ide-ide Ahmadinejad selama pidatonya dengan tepuk tangan meriah berulang kali.

Berbagai kelompok lobi Zionis telah berulang kali menyuarakan protes atas kehadiran Ahmadinejad dalam konferensi antirasisme itu.Menurut Israel, kehadiran Presiden Iran itu dapat mengganggu objektivitas konferensi. Namun, juru bicara Menteri Luar Negeri Iran Hassan Qashqavi menggambarkan kehadiran Ahmadinejad di Durban Review Conference atau Durban 2 itu sebagai langkah yang tepat dan telah diperhitungkan dengan matang.

Durban 1 merupakan Konferensi Dunia mengenai Rasisme pertama di Afrika Selatan pada 2001. Kini, Durban 2 digelar di Jenewa mulai 20-24 April. Konferensi itu mendapat dukunganPBB dan negara-negara Afrika serta negara lain dengan mengangkat agenda antirasisme. Sebanyak 4.500 NGO,aktivis HAM, dan kelompok kampanye antirasisme hadir dalam konferensi itu.

Rencana menggagalkan pidato Ahmadinejad tidak pernah sukses sebelumnya, termasuk saat Presiden Iran itu berpidato di Colombo University di Amerika Serikat (AS) dua tahun silam. Seperti terjadi di Colombo University, para politikus AS dan negara pro-Israel sangat marah kepada Rektor Universitas Lee Bollinger karena mengundang Ahmadinejad.Bollinger menganggap berbagai kebijakan Washington gagal mengisolasi Teheran.

Menurut Bollinger,Ahmadinejad sukses menyampaikan ide dan pesanpesannya kepada warga AS. Dalam pidato di Jenewa kemarin, Ahmadinejad mengatakan,”Setelah Perang Dunia II, mereka (Israel) melakukan agresi militer untuk membuat sebuah bangsa (Palestina) kehilangan tanah air,dengan alasan penderitaan Yahudi.” “Mereka (Israel) mengirim migran dari Eropa,AS, dan bagian lain dunia untuk mengembalikan sebuah pemerintahan yang sangat rasis di wilayah pendudukan Palestina. Faktanya, sebagai kompensasi dan konsekuensi rasisme di Eropa, mereka (Barat) membantu rezim paling rasis dan kejam untuk berkuasa di Palestina,” tandas Ahmadinejad. Ahmadinejad menyesalkan pemerintahan negara-negara Barat dan AS yang membela aksi rasis dan agresi Israel di Jalur Gaza yang menewaskan 1.330 warga Palestina.” Apa akar penyebab serangan AS terhadap Irak atau invasi Afghanistan? Apa motif di balik invasi Irak, selain dari arogansi pemerintahan AS dan upaya meluaskan pengaruh dan kepentingan perusahaan-perusahaan raksasa manufaktur persenjataan,” kecamnya. Wakil Perdana Menteri Israel Silvan Shalom mengecam pidato Ahmadinejad. “Iran mencoba melakukan berbagai hal agar mereka dapat menghapus Israel dari peta dan pada saat yang sama merusak rezim moderat muslim Arab di Timur Tengah,”katanya. “Israel akan tetap ada,”tandas Shalom yang berpidato di bekas kamp kematian Nazi, Auschwitz- Birkenau.

AFP/Rtr/syarifudin
Sumber: Koran Sindo, Rabu, 22 April 2009

Gerakan Mahasiswa dan Pemilu di Papua

Menjelang Pemilu legislatif 9 April 2009, Tanah Papua digoyang oleh sejumlah peristiwa yang menarik perhatian media nasional. Diawali dengan penggerebekan kantor Dewan Adat Papua (DAP) di Jayapura pada 3 April 2009. Setelah itu Nabire menyusul rusuh pada 6 April. Pada 8 April penyerangan lima tukang ojek pendatang, tiga di antaranya tewas. Tidak berhenti di situ, pada hari H Pemilu, Polsek Abepura diserang oleh massa sekitar 75 orang dan 1 orang tewas. Gedung rektorat Universitas Cenderawasih pun dibakar. Lebih parah lagi, ada upaya pemboman jembatan Muara Tami, dekat perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Lapisan baru kelompok perlawanan ini dapat dikatakan militan. Mereka terdiri dari dan dipimpin sebagian besar oleh mahasiswa Papua asal pegunungan tengah baik yang berstatus mahasiswa di Papua maupun di luar Papua. Strategi aksinya mengutamakan demonstrasi dan serangan fisik jika diperlukan. Pola-pola aksi dan bahasa politiknya banyak dipengaruhi oleh Gerakan Mahasiswa (GM) 1998 dari kelompok militan. Dalam demo, kelompok ini tidak ragu-ragu untuk berbenturan dengan dan bahkan menyerang aparat keamanan. Bedanya dengan GM 1998, kelompok ini jelas-jelas mengusung agenda kemerdekaan Papua.

Dibandingkan dengan kelompok konvensional pro-kemerdekaan Papua, misalnya gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Presidium Dewan Papua (PDP), atau kelompok lainnya di luar negeri, kelompok ini memiliki “kelebihan”. Koordinasi aksinya sangat cepat, terpadu, dinamis, dan jangkauannya sangat luas. Koordinasi internasional, nasional, dan regional berlangsung terpadu dan serentak. Penggunaan teknologi komunikasi, seperti SMS, internet (email, website) sangat intensif. Kampanye dilakukan dengan agresif. Mereka memadukan strategi gerakan mahasiswa perkotaan dengan strategi gerilyawan OPM.

Jika kekerasan GM 98 dilakukan secara selektif dalam konteks Rezim Orde Baru dengan aparatnya yang masih beringas dan opresif, kekerasan kelompok Papua ini dilakukan pada saat polisi cenderung lebih persuasif. Bahkan di TV nasional kita melihat seorang mahasiswa Papua di Yogya memukul polisi dan yang lain memanah tanpa alasan jelas. Pengeboman jembatan Muara Tami juga tidak efektif secara politis, malah membuat mereka akan dilabel “teroris”. Yang terburuk dan tidak simpatik adalah pembakaran kantor rektorat Uncen. Kekerasan-kekerasan ini tidak bernilai politis dan justru membuat gerakan itu tidak mendapatkan dukungan publik di Papua, Indonesia, apalagi internasional.

Massa yang biasanya digerakkan biasanya kalangan pemuda atau mahasiswa yang sebagian besarnya adalah berasal dari daerah pegunungan, beberapa saja berasal dari daerah dataran rendah atau pantai Tanah Papua. Dugaan saya, massa yang militan ini lahir setelah Gejolak Sosial 1977 di Pegunungan Tengah dan memiliki memori kolektif buruk tentang kekerasan negara dan cenderung anti-pemerintah. Mereka tumbuh dengan ingatan kekerasan itu sehingga di dalam dirinya tumbuh identitas korban dan diliputi oleh dendam. Di tengah massa semacam ini, provokasi kekerasan dari siapa pun mudah dilakukan dan sulit dikendalikan.

Kelompok ini menganggap sebagian besar pemimpin Papua adalah pengkhianat rakyat Papua. Pemimpin-pemimpin seperti Theys Eluay, Tom Beanal, Otto Ondawame, Jacob Rumbiak, Nicholaas Jouwe, dan lain-lain dikritik keras. Bahkan Sekjen PDP Thaha Muhammad Alhamid yang dikenal aktif dan diplomatis dalam perjuangannya, pun kadang-kadang dikecam. Yang menjadi kekecualian adalah aktivis Papua Merdeka Benny Wenda yang lari ke Oxford Inggris. Lelaki asal Kabupaten Jayawijaya ini lebih banyak dipuji sebagai pemimpin yang konsisten berjuang, terutama setelah berhasil membuat Internastional Parliamentarians for West Papua (IPWP) dan International Lawyers for West Papua (ILWP). Sebagaimana karakter kepemimpinan Papua, kelompok ini cenderung sangat otonom dari para pemimpin Papua yang lain.

Menonjolnya pemimpin mahasiswa Papua dari kalangan Pegunungan Tengah bukanlah perkembangan yang terpisah dari perubahan-perubahan di Papua. Tidak hanya gerakan mahasiswa pro-merdeka yang tumbuh, di sektor pendidikan dan politik formal, juga terjadi peningkatan partisipasi orang asli Papua asal Pegunungan Tengah. Perkembangan ini dapat dikaitkan dengan jumlah penduduk asli pegunungan yang paling besar di lingkungan penduduk asli Papua. Sebagian besar dari mereka masih miskin tetapi memiliki daya juang paling tinggi. Mereka sejak akhir 1980-an bermigrasi ke kota-kota di Tanah Papua, misalnya ke Jayapura, Timika, Nabire, dan lain-lain. Banyak dari mereka kemudian meningkatkan kualitas pendidikannya. Tidak hanya kuliah di Jayapura dan Manokwari, tetapi juga di luar Tanah Papua seperti Manado, Makassar, Semarang, Jakarta, Yogyakarta, dan lain-lain. Secara umum, memang sedang terjadi kebangkitan orang asli Papua asal pegunungan, apalagi pada lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Insiden sekitar Pemilu di Tanah Papua tentu tidak signifikan untuk mengguncang Indonesia yang begitu luas wilayahnya dan begitu besar penduduknya. Tetapi perlu dicatat bahwa 1) orang pegunungan akan menjadi dominan di dalam perpolitikan di Papua tidak lama lagi; 2) bahwa masih ada akar masalah yang belum dituntaskan antara Jakarta dan Papua sehingga muncul kelompok baru perlawanan melawan pemerintah seperti yang sekarang ini muncul.

Muridan S. Widjojo
(Peneliti LIPI)

Setelah Habib Tiada; Waktu, Kebangsaan & Pluralitas

Habib menutup mata beberapa bulan silam. Canda tawanya tak lagi terdengar. Tubuh direbahkan di ruang depan, dikelilingi rak-rak tanpa debu. Buku-buku terlihat rapi menghiasi ruangan dimana jenazah disemayamkan. Ruangan itu, adalah titik persimpangan waktu. Tempat berseterunya beberapa tempo dan narasi. Ruang-ruang di dalam ruangan. Semua berkumpul membentuk dinamika warna-warni tanpa keseragaman. Yang ada hanyalah multiplisitas suara keragaman. Dan ruangan itu menjadi monumen memori dan ingatan terlupakan.

Fragmen dari narasi tanpa ruang dalam imaji kebangsaan yang selalu mendobrak, menantang dan mengecam linearitas masa. Ruangan itu bukan taman makam pahlawan yang hanya menyediakan tempat bagi mereka yang terkenal dan dikenal karena telah mengamankan sudut pribadi dalam koridor republik. Ruangan Habib adalah sebuah monumen bagi mereka yang terlupakan dan dilupakan, gagal dalam menyejarah tanpa memiliki celah dalam narasi nasional. Ini adalah ruang pembuangan. Dimana tong sampah sejarah dibuka dan dipaparkan, diingat dan dibaca, dicermati dan diamankan. Dalam ruangan Habib, tidak ada narasi; yang ada kontestasi dan negosiasi…membentuk sebuah musyawarah akbar oleh para buku dengan teriakan dan bisikannya. Namun di hari habib tiada, musyawarah buku berakhir.
Setelah jenazah diusung, diceraikan dari atap, rumah dan pekarangannya untuk dibawa ke tanah lapang bunga kamboja, buku-buku dimasukkan dalam lemari secara paksa. Ditutup dan dikunci tanpa ruang untuk bernafas. Walaupun para buku berteriak, tiada satu orang-pun mendengar. Bagaimana bisa mendengar? Membuka buku saja tidak pernah, apalagi mencermati? Bagaimana bisa mamahami? Jika buku tak pernah dibiarkan bercerita namun hanya menjadi objek penalaran sang pembaca. Apakah beda sebuah buku dan catatan kosong? Toh sang pembaca yang berbicara. Biarkan saja buku-buku itu menjadi cermin, tempat berkaca guna mengagumi diri sendiri. Layaknya benda mati, kehidupan buku-buku diberangus dan perbedaan-perbedaan tempo disejajarkan dan disatukan hingga membentuk sebuah garis lurus. Mereka yang tak memiliki ruang akan tertinggal karena garis ini berjalan cepat menuju infinitas. Kereta api ekspress menuju negeri senja.

Habib Muhammad b. Husein al-‘Attas lahir di Jakarta diakhir dekade 50an. Mengenyam ilmu dari beberapa ulama lokal, sebelum dikirim ke Lawang, Jawa Timur untuk mengikuti ritus pendidikan pesantren. Kembali ke Jakarta beliau digembleng oleh kakeknya, Habib ‘Ali b. Husein al-‘Attas seorang ulama kharismatik dari Bungur, Kemayoran yang dahulu menulis buku Taj al-‘Arasberketebalan 1652 halaman. Sepeninggal sang kakek, Habib bertemu dengan seorang ulama ahli hadith dari Mekkah yang memiliki banyak murid di Indonesia, Sayyid Muhammad b. ‘Alawi al-Maliki. Namanya tersohor di seantero dunia Islam. Konon beliau meraih gelar doktorat summa cum laudee dari al-Azhar di umur yang sangat dini. Terkesima dengan sang ulama, Habib mengikutinya menuju tanah gersang penuh barokah. Belajar di salah satu pojok Masjid al-Haram, membaca buku dan memandang Ka’bah. Setelah beberapa tahun di Mekkah, Habib kembali ke tanah air dengan sebuah tekad baru.

Begitu banyak kitab-kitab, catatan, syair dan manuskrip tercecer di nusantara. Dilupakan oleh mereka yang tak lagi memperdulikan khazanah skriptural. Banyak masyarakat telah melupakan cara berdialog dengan teks-teks tersebut, sehingga mereka menjadi bosan karenanya. Habib mulai mengumpulkan manuskrip-manuskrip. Dengan segala keterbatasan material tekadnya tetap membara. Sewa kontrakan rumah petak mungil di Kebon Baru terpaksa ditunggak, karena uang telah dihabiskan di tempat fotokopi. Beliau mulai memasuki ruang-ruang berdebu yang telah lama dikunci. Melihat, mempelajari, mencatat dan menyelamatkan manuskrip-manuskrip usang. Tak ada yang melihat dan memahami perjuangannya. Namun ia tetap bersabar.

Akhirnya seorang kaya bersimpati kepadanya. Habib dibangunkan rumah di Kalibata. Disuntikkan dana guna menggaji beberapa pekerja: tukang jilid dan fotokopi. Bersama beberapa anak buahnya, Habib meneruskan pekerjaannya. Mengumpulkan dan mereparasi. Mencetak dan menjilid. Hingga akhirnya ruang depan rumah Habib dipenuhi rak-rak berisi buku-buku indah terjilid rapi. Sebuah perpustakaan timbul dan mengembang di ruangan itu dan Habib tak lagi sendiri. Ruangan kerja sepi itu berubah menjadi ajang dialog dan negosiasi, dimana suara-suara teks terdengar dan dialog berlangsung. Habib tak perlu sorak sorai tepuk tangan para hadirin seperti yang dinikmati oleh para dai. Ia cukup puas dengan teriakkan-teriakkan kitab yang hanya didengarnya sendiri tanpa gangguan orang lain. Setiap mengunjungi rumahnya, pasti kita temukan Habib duduk dimuka meja kerjanya, asyik mengkaji ataupun mencatat beberapa informasi yang didapat dari teks-teks yang sedang dibaca. Dan hobi ini terus berlanjut hingga saat Habib menutup mata di sebuah sore di akhir Agustus 2008. Sebuah investasi, ungkap Habib, agar masa depan tidak terputus dari masa lalunya.

Kini buku-buku itu hanya sekedar jadi penghias. Pemanis ruangan hampa tanpa makna. Sumber otoritas pria bersorban yang mungkin memahami saja tak bisa. “Yang penting image Boss!” Agar terlihat intelektual? Dapat berfoto didepan rak penuh buku? Sedangkan tangan semakin tipis karena terlalu banyak diciumi, oleh mereka yang terkesima dengan pajangan buku di dinding. Tak peduli jika buku-buku itu menipis membentuk sketsa satu dimensi. Multiplisitas ruang dan waktu telah sirna. Ruang depan rumah Habib menjadi senyap. Buku-buku menjadi tempat persemayaman debu dan rak-raknya kini pekuburan para rayap. Yang tinggal hanya suara jam dinding di sudut kiri. Tik..tok..tik..tok..tik..tok. Tanda waktu mekanis dan seragam. Horison telah tertutup dan waktu sukses di provinsikan.
Provinsialisasi Waktu

Macondo. Kesunyian terus berlangsung hingga seratus tahun lebih. Sebuah narasi berisikan ambiguitas waktu. Memang betul, waktu berjalan dan keluarga Buendía beranak-pinak. Namun Márquez memberikan ruang besar bagi multiplisitas waktu. Seakan-akan, seluruh kejadian dalam sejarah kesunyian itu berlangsung secara silmultan. Dan laboratorium sang alchemist tetap abadi. Tak bergeser dalam semakin kuatnya arus perubahan dan semakin dalamnya ruang waktu. Laboratorium Melquíades seakan tetap sama. Waktu memang tidak seragam…. kota Macondo terus berubah sedangkan laboratorium tak bergeming. Ruangan itu seakan-akan menertawakan disiplin masa yang selalu ingin menyempitkan ruang waktu. Laboratorium dan kota seakan berada dalam dua dimensi waktu berbeda walaupun dalam satu ruang ke-kinian. Koeksistensi tempo. Interpolasi masa. Selalu menantang laju sejarah menuju masa depan dengan iluminasi involunter masa lalu. Semua terjadi dalam teater masa kini.

Saul… Saul…Mengapa engkau menganiyaya diriku? Sang penunggang kuda terkejut melihat kilatan cahaya dalam perjalanan antara Yerusalem dan Damaskus. Siapakah engkau tuanku? Aku adalah Yesus yang engkau aniyaya, sekarang berdirilah engkau dan pergi ke kota itu. Saul terkejut dan akhirnya beriman. Dalam kisah ini, sejarah tidak memonopoli pemaknaan. Kronologi tidak jelas, karena Yesus, sebuah suara dari masa lalu, datang dan muncul di masa kini. Mengingatkan. Sebuah iluminasi involunter yang datang tiba-tiba. Mengagetkan dan mengejutkan hingga Saul akhirnya menyadari kesalahannya. Masa kini tidaklah sebatas properti mereka yang hidup. Yang sudah tiada-pun masih merupakan bagian integral dalam ruang kehidupan. Dan yang ada dalam masa kini menempati dimensi waktu yang beragam. Tidak semua sama dan tidak segala hal mengikuti alur historis tunggal. Ruang majemuk yang menandakan sebuah situasi kontemporer tanpa sinkronitas. Dinamika waktu yang ditandai oleh kontestasi dan negosiasi antara keberbedaan masa. Ini adalah ‘Pertanyaan Selatan’ yang dahulu dilontarkan Gramsci: pluralitas temporal dalam ruang kebersamaan sebuah bangsa.

“Ini adalah Angelus Novus,” kata Walter Benjamin. Kepala malaikat ini melihat kebelakang. Mengingat yang terlupakan. Memperhatikan berlalunya masa dan mereka yang pernah melintas dalam panggung kehidupan. Tiba-tiba badai berhembus dari balik gerbang surga, meniupkan angin kencang hingga sang malaikat tak lagi dapat menahan tiupan angin yang mendorongnya ke depan. Matanya masih terbelalak melihat belakang, namun sayapnya terus mengepak meninggalkan masa silam. Sang malaikat akhirnya terus mengikuti badai menuju ke masa depan, walaupun kepalanya tetap mengamati masa lalu. Masa lalu yang semakin menjauh.Angelus Novus adalah malaikat sejarah dan badai dari balik gerbang surga adalah progressi. Maju… Maju… Maju… Semua harus maju… rakyat harus maju… bangsa harus maju… ummat harus maju… hidup untuk kemajuan! Ingin maju kemana pak? Wah, kalau itu kurang tahu juga dik…

Dalam logika kemajuan ruang menjadi sempit. Yang tinggal hanyalah kapital, bangsa atau negara. Sebuah lorong satu petak yang dipenuhi oleh imaji-imaji masa depan tanpa memikirkan masa lalu. Sepertinya disekeliling kita lautan tak bertepi dan satu-satunya jalan hanya maju kedepan melalui lorong sempit ini. Dengan tongkat Musa laut dibelah dan lorong perjalanan terbuka. Kita semua memasuki berdempet-dempetan. Semua menuju ke titik yang sama tanpa ada jalur alternatif maupun tujuan berbeda, dan bergerak secara seragam dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ayo cepat berbondong-bondong! Hati-hati jangan terinjak! Yang terinjak hilang ditelan masa. Sepertinya lorong waktu telah berubah bak lorong Mina.

Dahulu, ruangan buku Habib seperti laboratorium Melquíades. Disana kita duduk bersama ditemani buku-buku yang saling berteriak. Ruangan itu penuh dengan iluminasi sehingga tokoh-tokoh dari masa lalu duduk berdampingan dengan kita, menasehati dan berbincang dalam proses interpolasi temporal seperti yang terjadi antara Yesus dan Paulus. Dalam ruangan itu, ruang waktu tidak seperti lorong sempit ditengah laut merah. Kita tidak dibendung dan dibatasi oleh perbatasan negara dan penjara kebangsaan. Dipan Habib selalu bepergian dari Afrika Timur menyebrang Laut Merah ke Arabia melintas Teluk Persia menuju India hingga Asia Tenggara dan Cina. Ambivalensi ruang dan waktu selalu mewarnai. Kita duduk di masa kini ditemani para tokoh masa lalu bersama bermimpi akan masa depan. Sebuah dinamika temporal yang berbeda dari ruang waktu hampa dan homogen. Masa lalu hidup penuh arti, selalu aktif menantang masa kini. Tak ada kronologi natural. Yang ada hanyalah anak panah Tuhan, menandakan konflik temporal seiring dengan kontak dan bentrokan. Konflik inilah yang dalam imajinasi Chinua Achebe menghasilkan produksi dan penyebaran kultur hibrida. Paragon dari keseragaman kebangsaan.

Namun setelah Habib tiada, musyawarah buku berakhir dan waktu diprovinsikan. Provinsialisasi waktu tercapai pada saat dunia hanya menjadi properti bagi mereka yang hidup. Orang-orang mati tidak memiliki bagian apapun dalam kehidupan kita. Setidaknya begitu ungkap T.S. Eliot dahulu. Tik…tok…tik…tok…tik…tok. Demi Masa! Kita semua memang merugi. Merugi? Ya..yang ada hanyalah waktu yang ditunjukkan oleh panah jarum jam diatas dinding dipojok kiri ruangan hampa. Tanda waktu mekanis dan seragam. Tik..tok..tik..tok..tik..tok.

Pengkafanan Tradisi

Saat Habib dimandikan, tradisi juga ikut dikafankan. Bukankah setiap yang mati harus dikafankan? Begitu juga definisi kematian adalah terhentinya dinamika alur waktu. Gerakan adalah simbol kehidupan. Namun, setelah Habib tiada, tradisi menjadi statis, mati, tak bergerak, tanpa laju. Jalur dinamika tradisi telah ditutup. Tradisi telah diadopsi dan dijinakkan oleh waktu mekanis. Ia hanyalah sebuah bayangan dalam ruang waktu hampa dan homogen, seperti pajangan buku yang menghias dinding.

Di dipan Habib, tradisi adalah sebuah dinamika waktu. Sebuah perjanjian antara masa lalu, kini dan masa depan. Ia membuahkan sebuah ruang tersendiri, dengan dinamika temporal yang unik. Tradisi adalah wacana yang disetujui oleh sekelompok manusia. Melihat masa lalu mencari inspirasi. Mengintip masa depan mencari impian. Menilik masa kini mencari kesempatan. Namun kemungkinan-kemungkinan yang timbul dalam dinamika ini tertutup, disaat masa lalu terputus dan lemari buku dikunci. Dinamika tradisi hancur disaat komunikasi dengan suara-suara di balik kubur terputus. Ia hanya menjadi sederatan kitab-kitab indah, pajangan tak terbaca dan tak tersentuh. Tradisi masuk dalam ‘logika klasik’: buku-buku yang ‘harus’ dibaca namun tidak dibaca. Tiada lagi dimengerti, namun semua berasumsi memahami. Dalam lemari, buku dipuja-puja bagai berhala. Dan tradisi tak lagi dalam ruang dan waktu dan karenanya ia tak lagi berubah. Tetapi, bukankah hanya Tuhan yang tak berubah? Karena hanya Dia yang berada di luar ruang dan waktu? Jika memang tradisi telah menjadi seperti sebongkah batu hitam yang diciumi para pelancong, lebih baik tutup saja kisah ini. Mari kafankan tradisi!

Kini tradisi menjadi sebuah pementasan par excellence. Sebuah panggung teatrikal guna memukau warga sekampung. Ketimbang menyepi sendiri dengan buku-buku, lebih baik berkhotbah di mukai khalayak. Toh sekarang jaman internet. Sudah ada youtube kata para dai muda. Tinggal dengarkan saja ceramah-ceramah ulama Timur Tengah. Nanti tinggal diterjemahkan dan dibumbui sedikit. Pasti laku Boss! Undangan pasti akan bertumpuk. Bisa-bisa sehari tiga majelis harus dihadiri. Oh, jadi ceramahnya di daur ulang ustadz? Tentu saja, kan waktu adalah uang! Buka buku? Mana sempat! Yang penting banyakkan teriakan dan tangisan, sehingga para hadirin hadirat (rohimakumullah) bisa ikut menangis dalam kesyahduan. Menangislah seakan-akan besok kiamat! Kata sang ustadz dalam hatinya, aduh kiamat?.. padahal mobil mewah belum kudapat. Jangan lupa akhiri khutbah dengan kalimat syahadat. Untuk diikuti para penonton. Mungkin awan akan turut berdzikir. Membentuk nama Tuhan yang Maha Tinggi. Jangan ketinggalan juga rebana dan marawisnya, agar ibu-ibu merinding. Ini semua saudara, adalah resep mendapat amplop tebal.

Apa untungnya mengurus Kitab? Duit banyak keluar, tapi tak ada yang masuk. Jelas-jelas masyarakat kita tak suka buku. Banyak penerbit gulung tikar. Apalagi ngurus manuskrip! Apa bisa kertas-kertas itu dijadikan modal? Untuk akumulasi finansial? Jika tidak, bisa-bisa kita nyangkut jadi proletar! Saudara, ini sudah jaman post-post-moderen. Modal, kapital sudah merambat masuk hingga ke urat nadi. Tidak ada lagi ranah yang bebas dari penjinakkan ekspansi kapital. Dari mulai angkasa luar, hingga urat nadi. Urat nadi? Ya! Coba lihat kebun tebu yang diolah menjadi gula. Dari tanaman menjadi modal. Sebuah komoditas jadi santapan, tinggal di campur teh hangat langsung diminum. Gula bercampur darah pekat menguasai urat nadi. Pantas, semua kena diabet… penyakit kapitalisme paling mutakhir. Ternyata tidak hanya ‘logika klasik,’ tradisi juga telah resmi menjadi bagian dari logika kapital.

Pung ketipang ketipung, suara gendang bertalu-talu. Pergelaran dan pementasan tradisi masih berlanjut dan terus berlanjut. Menampilkan para dai muda manis rupawan sangat menawan. Inilah para penerus tradisi, para mubaligh bintang undangan. Setelah sekolah di luar negeri dapat kembali ke tanah Jawa dan merengkuh popularitas. Berapa tahun ustadz sekolahnya? Cukup empat tahun. Empat tahun? Kok singkat sekali? Ya.. karena empat tahun di tempat saya belajar, bagaikan tiga puluh tahun di al-Azhar. Wah kok bisa? Namanya juga barokah. Kini setelah pulang ke Jawa, dapat langsung memanjat panggung dan memukau penonton. Tidak perlu dibuka dengan salam, langsung saja mulai ceramah agar terlihat lulusan luar negeri. Inilah para penerus dan penjaga tradisi di era post-post-moderen. Yang penting kita banyak menghafal syair-syair masa lalu mengingatkan para hadirin bahwa tradisi kita adalah yang terbaik. Sanadnya sambung-menyambung dari anak ke ayah hingga kakek. Semua mengikuti langkah demi langkah. Jadi tak usahlah mengurus kitab, manfaatnya tak sebesar ceramah.

Dalam pementasan ini, tradisi menjadi fenomena satu dimensi. Sebuah retorika panggung. Dialog telah berubah jadi monolog. Dengan pembicara-pembicara tetap, tradisi menjadi objek untuk didefinisikan, dan karena tak lagi bergerak, ia dapat dengan mudah diartikan. Para juru bicara menjadi pemegang hak tunggal artikulasi tradisi. Tetapi mengapa sangat banyak juru bicara? Mending kita langsungkan kontes pidato agar kita memiliki satu juru bicara. Tetapi saudara, jurinya bingung. Kok bingung? Seratus peserta, gara ceramahnya sama semua! Mungkin di hari pengkafanan tradisi, kreativitas dan improvisasi ikut mati. Semua bergaya sama, berpakaian sama, berjenggot sama dan berkacamata sama. Intonasi suara-pun ikut sama.

Pung ketipang ketipung, suara gendang bertalu-talu. Ritual hanya tinggal ritual. Makna hilang bersama perginya Habib. Ritual tak lagi menjadi ranah liminal, ruang tak disini dan tak disana…antara ada dan tiada. Ritual tidak lagi menjadi tempat anti-struktur dimana communitasegaliter yang berbeda dari hierarkhi struktural sehari-hari dapat tercipta. Dik dik.. tolong jangan duduk didepan ya, itu khusus untuk para habaib dan kyai. Eh, disitu juga tidak boleh dik.. itu khusus untuk para pejabat dan para donatur berdompet tebal. Tolong anda duduk dibelakang saja ya. Ternyata ritual tidak lagi jadi ranah liminal. Hierarki struktural sudah tercipta didalamnya.

Dan juga waktu. Ritual adalah tempat dimana dinamika waktu yang berbeda mendapat ruang. Dalam ritual, interpolasi waktu layak terjadi dan yang mati dapat kembali hadir. Itulah sebabnya kita berdiri ditengah pembacaan maulid, karena sang nabi hadir. Tetapi kini ritual tak lagi membuka jalur waktu alternatif. Majelis maulid kemarin diadakan untuk memperingati hari ulang tahun republik. Wah. Tampaknya ranah liminal tak lagi ada dan tiada. Yang ada hanya keberadaan. Keberadaan dalam ruang waktu hampa dan homogen. Ritual hanya sebatas pementasan dalam ruang waktu kenegaraan. Ruang kekinian. Yang ada hanyalah waktu yang ditunjukkan oleh panah jarum jam diatas dinding dipojok kiri ruangan hampa. Tanda waktu mekanis dan seragam. Tik..tok..tik..tok..tik..tok.

Buntut Komet

Di hari habib tiada, sang janda menangis durja. Musik tak lagi terdengar dan teater telah mati. Coretan mulai tampak didinding, seperti dahulu ia terlihat di tembok istana Belshazzar. Mene, Mene, Tekel u-Pharsin. Dan sang raja terbunuh malam itu juga. Yang tinggal hanya Sisyphus, terus mendorong batu hingga ke atas bukit. Tetapi batu kembali mengelinding kebawah dan proses bermula kembali. Kemana hilangnya makna? Berkata atau mengkritik sedikit dituduh berubah, taghayyar! Perubahan menjadi kata paling ditakuti, karena tradisi sudah beku dan semua sudah final bak kitab suci yang tak perlu diperbaharui. Pembaruan itu madzhab Nurcholis dan pengikutnya! Disini semua telah stabil, seperti pilar pilar ‘Iram. Alladzi lam yuthlak mitslahu fi al-bilad. Kota seribu pilar, yang tak pernah ada sepertinya di kota-kota lain. Tapi toh akhirnya ‘Iram hancur dan pilar-pilarnya runtuh. Habis tak berbekas menjadi dogengan sebelum tidur.

Tetapi, walaupun komet telah berlalu, buntutnya tetap terlihat. Tetap bersama kita, bersedimentasi, membubuhkan pemaknaan-pemaknaan plural di sudut-sudut ruang hampa, membentuk masa kini yang tidak sinkron. Marx telah memikirkannya, sebelum Husserl membubuhkan konsep ‘buntut komet.’ Walaupun proses ekspansi pasar dunia menyeluruh, Marx juga menegaskan perkembangan tak seimbang dalam mode produksi. Ekspansi kapital yang ingin menenggelamkan mode-mode produksi yang beragam dalam sebuah logika universal dan ruang waktu seragam, tidak akan pernah sepenuhnya berhasil karena setiap ranah yang dimasukinya tetap memiliki bekas-bekas mode produksi sebelumnya. Bekas-bekas ini, buntut komet yang bersedimentasi di pojok-pojok ruang homogen kapital, menyimpan memori dan dimensi waktu tanpa sinkronitas. Begitu juga dalam ranah negara-bangsa yang ingin memonopoli semua pemaknaan politik, budaya dan identitas, buntut-buntut komet tetap ada diantara celah-celah kebangsaan. Zona-zona ini, seperti halnya laboratorium Melquíades dan ruang buku Habib, terus menawarkan pemaknaan-pemaknaan yang menurut Immanuel Kant, ‘kekanak-kanakan,’ karena tidak mempersiapkan masyarakat untuk praktik-praktik kewarganegaraan dan tidak pula didasari oleh penggunaan nalar. Buntut komet selalu menantang monopoli kapital dan negara terhadap imajinasi dan artikulasinya.

Refleksi ini bukan requiem. Bukan sebuah missa pro defunctis guna mengakhiri sesuatu yang tak lagi berfungsi. Refleksi ini adalah sebuah intervensi dalam ruang waktu yang kian menghampa. Politik putus asa, kata Dipesh Chakrabarty. Refleksi ini memperlihatkan represi modernitas tunggal dan monopoli ke[maju]an oleh proyek kebangsaan dan kenegaraan moderen. Represi yang mengubur, melupakan dan menghancurkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam solidaritas kemanusiaan. Juga mereka yang tidak memiliki kavling dalam fresco agung republik. Yang tidak memiliki tanah di taman makan pahlawan. Politik putus asa menunjukkan ketidakmungkinan proyek yang diusungnya. Bagaimana mungkin buntut-buntut komet akan hidup dan imajinasi ruang waktu berubah? Sebuah intervensi tanpa kemungkinan. Sebuah proyek sejarah yang selalu melihat pada kematiannya sendiri dengan memaparkan proses kehancurannya. Terikat dalam represi peminggiran dan pelupaan. Terperangkap dalam ruang kosong dengan jam dinding. Tik..tok…tik…tok.. Mungkin makna timbul dalam proses dan bukan pada akhir tujuan. Mungkin dalam keputus-asaan ini timbul kemungkinan imajinasi-imajinasi yang berbeda secara radikal dari apa yang sudah ada. Dan imajinasi-imajinasi ini dapat membuka temporalitas yang plural dan heterogen, dimana setiap alur sejarah memiliki ruangnya sendiri. Tak terpinggirkan dan dipinggirkan, seperti dalam ruang hampa homogen. Toh, apa artinya demokrasi jika pluralitas dan heterogenitas tidak memiliki ruang expressi?

Oleh Ismail F. Alatas
(Penulis adalah Ph.D Student, University of Michigan)

Target 80 Persen, Tabulasi Tutup di 10 Persen

Jakarta – Tabulasi nasional hasil perhitungan suara Pemilu 2009 yang dijadwalkan berakhir hari ini, Senin (20/4), gagal total. Target total suara yang masuk sebesar 80 persen tidak tercapai. Hingga hari terakhir ini, total suara yang masuk hanya 10 persen dari jumlah pemilih di Indonesia.Pada pembukaan tabulasi hari ini sekitar pukul 10.18, jumlah suara yang masuk baru sebesar 12.921.123 suara. Perolehan suara dari Maluku, Papua, dan Sulawesi Barat bahkan masih kosong, belum menampakkan perubahan dari hari pertama, sepuluh hari lalu. Namun demikian, angka 10 persen belum menjadi persentase mutlak mengingat kemungkinan tingginya angka golput.

Hasil tabulasi hari ini menunjukkan Demokrat masih unggul dengan perolehan 20.477 persen suara, disusul Golkar dengan perolehan 14.597 persen suara, dan PDI-P 14.092 persen suara.

Sementara itu, situasi di Pusat Tabulasi Nasional Pemilu 2009 yang dipusatkan di Hotel Borobudur, Jakarta, hari ini diperketat. Selain pemeriksaan standar terhadap barang bawaan yang dilakukan oleh pihak hotel, pemeriksaan berlapis juga dilakukan di depan Ruang Flores, tempat penayangan hasil tabulasi berlangsung, termasuk terhadap para jurnalis.

Sumber: KOMPAS.COM, 20 April 2009

Indonesia Pasca Pemilu dan Tanggung jawab Mahasiswa

Pemilu 2009 terdiri atas pemilu legislatif dan pemilu Presiden. Pemilu legislatif yang baru saja lewat, 9 April 2009, telah berhasil diselenggarakan. Hasilnya cukup mengejutkan. Partai Demokrat mampu mengalahkan Partai Golkar dan PDIP. Kendati banyak pihak yang tidak puas dengan realitas ini, namun pergeseran Partai Demokrat menjadi partai pemenang, telah memunculkan suasana baru. Partai Golkar yang selalu merasa superior, kali ini harus mampu menghadapi kenyataan baru. Daya tawar Partai Golkar merosot seketika. Akankah ini pertanda redupnya peranan partai-parati yang dibentuk sebelum dan semasa Orde Baru?

Karakter pemilu 2009 berbeda jauh dengan pemeilu-pemilu sebelumnya, khususnya pada tingkat pemilu legislatif. Dalam pemilu legislatif sebelumnya, para pemilih hanya mencoblos simbol-simbol partai peserta pemilu, kali ini para pemilih mencontreng nama-nama caleg. Implikasinya jelas berbeda. Anggota-anggota legislatif terpilih itu nantinya lebih bersifat otonom di depan kekuasaan partainya. Sebab mereka merasa mendapat mandat langsung dari rakyat ketimbang mandat dari partai. Akhirnya kontrol partai terhadap anggota-anggotanya yang berada di DPR akan berkurang. Tak pelak lagi, kesempatan untuk lebih bertindak mandiri (berpetualang) bagi anggota-anggota DPR akan terbuka luas. Fenomena anggota DPR pembelot dan penentang kebijakan partai di kemudian hari diprediksikan akan menjadi tren. Namun bagaimana jadinya jika anggota-anggota DPR tersebut membelot kepada politik pemerintah yang berkuasa, sementara partainya mengambil kebijakan menentang? Jadi, bagaimana pun partai menentang kebijakan pemerintah, sementara anggota-anggota partainya di DPR membelot, maka penentangannya itu sama sekali tidak ada gunanya. Sebab yang dihitung adalah DPR vis a vis Pemerintah. Lantas, bagaimanakah nantinya nasib check and balance dalam sistem Trias Politika kita?

Membaca gelagat hasil dan watak pemilu legislatif 2009 ini, terbayang di kemudian hari kekuasaan eksekutif akan semakin tidak terimbangi oleh DPR, tertama apabila SBY calon dari Partai Demokrat kembali berkuasa. DPR hasil pemilu 2004 saja yang masih terkendali oleh partai tidak dapat berbuat banyak di dalam rangka mengimbangi dan mengkritisi eksekutif, apalagi dengan DPR hasil pemilu 2009 yang semakin tipis ketergantungannya dengan partai. DPR hasil pemilu 2004 saja dapat bersekongkol secara diam-diam dengan eksekutif, apalagi DPR hasil pemilu 2009. Apabila hal ini terjadi, tirani dalam bentuk baru dari eksekutif akan terjadi. Demokrasi sejati akan macet akibat saluran demokrasi di tingkat legislatif sudah tidak berfungsi. Pihak eksekutif akan lenggang-kangkung menentukan kebijakan-kebijakannya tanpa khawatir mendapat hambatan dari legislatif. Apabila legislatif tidak berfungsi lagi, maka jalur ekstra parlementer pun jelas akan kembali menjadi alternatif bagi rakyat.

Belajar dari kinerja DPR 2004, bagaimanakah kita dapat membayangkan Indonesia yang lebih baik di tangan DPR 2009? DPR 2004 saja telah mencatatkan kekecewaan yang mendalam di hati rakyat. Di antaranya, pensahan Undang-undang BHP yang liberal dan penenggelaman sendiri hak angket tentang kenaikan BBM. Lalu, bagaimana pula dengan DPR 2009 yang sebagian besar anggotanya tidak memiliki latar belakang aktivis politik yang kuat dan bahkan semakin ramai dengan artis-artis?

Mencermati performa DPR 2009 itu, saya pribadi pesimis dengan masa depan Indonesia yang akan diletakkan di pundak para legislator baru itu. Karena itu, mahasiswa sebagai pewaris agenda reformasi sudah secepatnya menyiapkan langkah-langkah agar agenda reformasi tidak semakin diselewengkan oleh para elit-elit baru yang berada di eksekutif maupun legislatif yang tidak peduli dengan persoalan penuntasan reformasi secara menyeluruh.

Peranan Mahasiswa

Langkah yang mendesak untuk dilakukan oleh gerakan mahasiswa adalah membangunkan kembali spirit dan tanggung jawab historis mahasiswa terhadap bangsa, tatkala aroma penyelewenangan mulai tercium. Adalah fakta bahwa penyelewengan terhadap misi reformasi telah terjadi dengan nyata. Tuntutan pengadilan terhadap mendiang Presiden Soeharto sama sekali tidak digubris oleh pemerintah yang berkuasa. Kemudian pensahan Undang-undang BHP dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan terhadap mahasiswa. Amat mengecewakan, tidak ada sedikit pun bentuk penghargaan pemerintah terhadap jerih-payah mahasiswa yang teleh memperjuangkan reformasi. Bukankah keadaan politik yang dinikmati oleh elit politik itu merupakan hasil perjuangan mahasiswa di tahun 1998?

Pentingnya membangunkan spirit dan tanggung jawab historis mahasiswa ini disebabkan belakangan ini gerakan mahasiswa semakin meredup. Redupnya gerakan mahasiswa disebabkan banyak faktor. Di antaranya yang mendasar adalah minimnya konsolidasi dan komunikasi antar gerakan mahasiswa. Untuk itu, perlu digalakkan komunikasi ide melalui berbagai saluran, seperti mimbar bebas yang mengundang berbagai mahasiswa, menerbitkan media milik semua organ mahasiswa, lokakarya, dan sebagainya. Tidak perlu ada polarisasi antara elemen ekstra dan intra seperti yang menjadi mitos selama ini. Keduanya harus sinergi untuk memmperjuangkan misi bersama.

Apabila spirit dan tanggung jawab historis mahasiswa telah terbangunkan, maka gerakan mahasiswa kembali menjadi avant garde bagi perubahan dan perwujudan agenda-agenda mendasar bangsa ini. Gerakan mahasiswa hanya bisa menjadi avant garde seperti yang ia nikmati pada 1966 dan 1998, apabila gerakan mahasiswa benar-benar merefleksikan aspirasi rakyat yang murni dan bebas dari pengaruh kepentingan sempit elit politik.

Agaknya, menghidupkan kembali gerakan mahasiswa dalam sosoknya yang sejati semakin relevan dengan buruknya masa depan legislatif pasca pemilu 2009 ini. Sebab, kalau bukan mahasiswa yang bersuara lantang kepada penguasa, lalu siapa lagi?

Syahrul Efendi Dasopang (Mantan Ketum PB HMI)

Bakti Sosial Menyambut Kongres HMI-MPO Ke 27

Pelaksanaan kogres HMI ke 27 di Yogjakarta sudah semakin dekat. Para panitia dengan sibuk-sibuknya bergerilya mempersiapkan diri menyiapkan berbagai kebutuan yang berkaitan dengan pelaksaan kogres HMI nantinya. Gelora semangat selalu mengema dari setiap individu orang dalam panitia kogres HMI, dengan satu tujuan yaitu menyatukan kekuatan bersama demi tersukseskan  acara kogres HMI ke 27.

Acara donor darah yang merupakan salah satu rangkaian acara pra kogres HMI ke 27 berlangsung dari tanggal 1-17 April selesai kemarin. Panitia kogres HMI sekarag melakukan persiapan lagi untuk pelaksanaan acara bakti sosial (baksos) yang rencananya akan diadakan pada tanggal 26 April 2009. Acara bakti sosial ini masih merupakan rangkaian acara pra kogres HMI ke 27. Nantinya bakti sosial akan diadakan di Desa Pulak Salak, Cangringan, Sleman-Yogjakarta. Untuk itu panitia kogres membuat selembaran dengan tujuan nantinya para seluruh kader HMI dimanapuan berada dapat berpartisipasi dalam acara baksos ini. Dukungan partisipasi dalam acara ini dapat disalurkan lewat Seketariat HMI Cabag Yogjakarta dengan alamat Karang Kajen MG III/966 dengan nomer tlp: (0274) 370269.

Untuk bantuan nantinya dapat berupa: Uang tunai, Pakaian layak pakai, Sembako (beras, minyak goreng, susu, gula, dll). Dan batas pengumpulan bantuan tanggal 23 April 2009. Bagi yang berminat menyalurkan bantuan bisa dikirim melalaui alamat yang sudah ditetapkan. Nantinya acara bakti sosial ini tidak hanya sekedar bakti sosial saja, tapi juga ada pengobatan gratis untuk warga di desa Cangringan juga.

Sejenak mengurangi kepanakan dan supaya para panitia kogres HMI ke 27 ini semakain solit dan kompak. SC dan seluruh panitia lainya mengadakan makrap 18/4 bertempat di pantai Parangtritis Bantul-Yogjakarta. “Acara makrap ini nantinya bersenag-senag tapi mendidik,” ujar Jondy sebagai ketua Kongres HMI ke 27. “Jadi nantinya setelah acara makrap selesai seluruh panitia tetap semangat untuk menyukseskan acara Kogres HMI-MPO sampai selesai,” kata Jondy diahir pembicaraan pada LAPMI.

M.Ismail ismail

Perempuan dalam Propaganda Media Televisi

Budaya dalam pandangan cultural studies, bersifat politis yang dimaknai secara mendalam sebagai ranah atau tempat konflik dan pergumulan, ini yang kemudian memperluas kajian budaya yang selama ini menganggap budaya hanya dalam wilayah estetika. Budaya yang didalamnya ada sebuah pergumulan konflik ini akan berkaitan dengan perubahan dan representasi dari kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan terutama representasi kelas, gender dan ras.

Salah satu yang menjadi sorotan menarik dalam kajian budaya ini adalah mengenai isu gender yang sedang mencari keproporsionalitasan peran antara laki-laki dengan perempuan. Yang selama ini terjadi adalah budaya patriarki yang selalu menempatkan perempuan dalam posisi yang subordinat, begitu pun  dalam sebuah kajian budaya dan media massa.

Kajian mengenai budaya dan politik ini kemudian masuk dalam sebuah peran media yang berfungsi sebagai sarana penyaluran dari ide mengenai budaya tersebut dan banyak mempengaruhi persepsi atau pandangan masyarakat mengenai suatu hal. Media dalam konteks ini lebih menyorot mengenai televisi itu sendiri yang banyak berperan dalam melalui pesan visual yang menjadi kelebihannya dan sangat mempengaruhi konstruksi masyarakat mengenai suatu hal yang sebelumnya mereka pikirkan. Proses mempengaruhi ini dilakukan secara terus menerus dalam kaitannya sebagai reproduksi modal dari para pemasang iklan. Proses ini yang sering kita dengar dengan sebutan propaganda televisi dalam ranah masyarakat dengan melihat seberapa sering media televisi melakukan propaganda mengenai ketidak-proporsionalitasan gender dalam media televisi.

Ini pula yang kemudian mendasarkan mengapa sangat menarik menulis mengenai propaganda televisi dalam kaitannya dengan perempuan yang selalu disubordinasikan didalamnya. Perempuan sendiri menjadi objek yang harmonis antara budaya patriarki dengan kapitalisme yang ada dalam media televisi.

Makna Propaganda

Arti atau makna propaganda dalam pandangan beberapa ahli memiliki perbedaan terkait dengan sudut pandangan ahli tersebut dalam melihat makna propaganda. Menurut Dan Nimmo (1993), ada tiga pendekatan kepada persuasi politik, yakni propaganda, periklanan dan retorika. Ketiganya ini memiliki tujuan, disengaja dan memiliki pengaruh, sedangkan ketiganya harus menjalankan fungsi timbal balik yang melibatkan orang didalamnya dan kemudian menghasilkan persepsi dan kepercayaan yang beragam didalam proses tersebut. Menurut Jacques Ellul (dalam Dan Nimmo, 1993), propaganda sebagai komunikasi yang digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan di dalam suatu organisasi.

Dalam Encyclopedia International dikatakan bahwa propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan. Pendapat ini bila kita kontekskan pada pesan yang disampaikan oleh media televisi, banyak hilangnya sebuah makna dari hal yang ditampilkan dalam media televisi tersebut. Salah satunya adalah mengenai representasi perempuan dalam televisi, yang dalam pandangan budaya tidak mencerminkan kebebasan perempuan tersebut dan tidak bisa menonjolkan nilai luhur seorang perempuan.

Harold D. Laswell menyebutkan bahwa propaganda merupakan semata-mata kontrol opini yang dilakukan melalui simbol-simbol yang mempunyai arti atau menyampaikan pendapat yang konkret dan akurat melalui sebuah cerita, rumor laporan gambar-gambar dan bentuk-bentuk lain yang bisa digunakan dalam komunikasi sosial. Salah satu hal yang membedakan propaganda dengan kampanye adalah sifat propaganda itu sendiri yang terus-menerus dalam mengangkat isu yang menjadi fokusnya. Artinya sifat propaganda itu sendiri tidak terpengaruh oleh sesuai atau tidak isu yang diangkatnya dengan agenda masyarakat yang sedang terjadi pada saat itu.

Propaganda Televisi

Pada sebuah media televisi, isi maupun kemasan acara yang mereka gunakan cenderung mengikuti selera “pasar” yang dimaknai sebagai kepentingan kelas kapital yang secara banyak menguasai produksi. Pola pasar ini yang kemudian akan mengakibatkan banyaknya pengaruh persepsi pasar dalam sebuah kemasan acara yang nantinya akan ditayangkan oleh televisi tersebut. Alasan yang cukup mendasar mengapa para perusahaan sangat antusias dalam mempromosikan acara mereka di televisi adalah karena televisi sendiri memiliki kelebihan dalam hal audio-visual yang mampu didengar dan dilihat. Kelebihan ini yang secara ekonomis bisa mempromosikan produk mereka dengan cara yang sangat maksimal dengan menampilkan secara jelas mengenai produk mereka tersebut.

Dalam sebuah televisi, produksi pesan yang disampaikan akan menghasilkan pesan tertentu yang nantinya akan berimbas pada pemaknaan pesan tersebut secara berulang. Penandaan masyarakat terhadap hal atau sesuatu yang ditampilkan oleh televisi, akan menyebabkan berubahnya pola pandang masyarakat terhadap suatu hal, ini akan terjadi jika sesuatu yang ditandai oleh masyarakat tersebut ditampilkan secara terus menerus atau berulang-ulang. Ini yang kemudian disebut sebagai propaganda televisi pada sesuatu yang menjadi kepentingannya. Pola propaganda televisi seperti ini, menurut saya sudah tidak sesuai dengan fungsi utamanya yang selalu harus diperhatikan yaitu fungsi informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru.

Ketiadaan fungsi utama ini yang kemudian menyebabkan berubahnya peran televisi itu sendiri dalam masyarakat. Penghilangan sebuah esensi dalam setiap kemasan media televisi, yang berubah pada sebuah orientasi modal dalam balutan kepentingan “pasar”. Contohnya adalah sebuah iklan yang ditampilkan oleh media televisi, yang sifatnya terus menerus dalam beberapa waktu kedepan dan tentunya lama dari sebuah iklan tersebut disesuai dengan kepentingan produk tersebut. Sebuah iklan yang dalam setiap penayangannya menjanjikan pemasukan bagi televisi dan sisi lain bisa mempromosikan produk dari pihak perusahaan. Hubungan timbal balik ini yang sering menghilangkan makna dari sebuah iklan dan bahkan ada iklan yang sangat menyudutkan perempuan dalam kemasan iklan tersebut.

Perempuan dalam Televisi

Sebuah pertarungan yang terjadi dalam wilayah budaya, membawa akibat pada masuknya perempuan sebagai salah satu aktor dalam media televisi. Keikutsertaan perempuan dalam sebuah televisi belakangan ini, merupakan sebuah penunjukkan eksistensi diri mereka di ruang publik. Artinya, peran televisi disini perlu digarisbawahi bahwa tidak selamanya peran televisi ini mampu membangkitkan sebuah nilai estetika perempuan dalam layar kaca. Masuknya jenis macam kepentingan modal dalam sebuah “isi” televisi menyebabkan berubahnya orientasi kepentingan televisi tersebut yang berimbas pada masyarakat sebagai konsumen acara TV.

Masuknya perempuan dalam televisi dapat kita lihat dalam sebuah media iklan yang secara jelas menampilkan sosok perempuan yang sedemikian cantik dengan kriteria putih, tinggi, langsing dan berambut hitam lurus yang panjang. Pola konstruksi ini yang sangat mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai sosok perempuan dengan kriteria diatas. Propaganda yang dilakukan oleh media televisi dalam membangun secara terus menerus pola pemikiran mengenai perempuan tersebut, mempengaruhi pandangan masyarakat yang kemudian menganggap bahwa perempuan ideal adalah perempuan dengan kriteria diatas.

Sementara itu, iklan-iklannya dengan gencar menawarkan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan fisik yang sifatnya sementara : alat kecantikan, makanan, minuman, pakaian dan kendaraan, yang umumnya hanya dapat dijangkau oleh keluarga yang berada. Seksisme yang terjadi dalam iklan televisi ini dengan menampilkan perempuan sebagai objek utamanya yang diekspoitasi dengan pola pikir yang sudah dibangun oleh kepentingan pemodal yang masuk dalam media televisi. Kemudian yang terjadi adalah bentuk ketidakmandirian pada perempuan, artinya perempuan tersebut diposisikan bukan sebagai perempuan yang sebenarnya yang memiliki nilai estetika murni dalam dirinya.

Referensi:
Nurudin. 2001. Komunikasi Propaganda. Remaja Rosdakarya; Bandung.
Storey, John. 2004. Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Qalam; Yogyakarta.
—————- . 2007. Pengantar Komprehensif TEori dan Metode Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Jalasutra; Yogyakarta.
Oleh : Imam Budilaksono*
* PTK HMI-MPO Cabang Purwokerto, Pemerhati Gender & Lingkungan

Kekisruhan Mewarnai Pemilu 2009

Seperti telah diramalkan sebelumnya bahwa pelaksanaan pemilu 2009, pada tanggal 09 April 2009 ini akan mengalami banyak kendala  dan persoalan dilapangan.

Seperti yang terjadi di Desa Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas pada TPS 6 dimana untuk kertas suara DPR-RI tertukar dengan kertas suara milik daerah lain yakni sumatera utara. Hal ini jelas mengganggu pelaksanaan pemungutan suara, padahal sebanyak 65 kertas suara telah tercontreng. Terpaksa pihak TPS menghentikan sementara proses pemungutan suara. Akhirnya para pemilih hanya melakukan pemilihan hanya untuk 3 wilayah yakni DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPD-RI dan dapat dipastikan pemilihan ulang akan dilakukan setelah pihak KPU mengganti surat suara untuk DPR-RI.

Read moreKekisruhan Mewarnai Pemilu 2009