OKP Se-Jakarta Dukung Pemilu

HMI MPO Cabang Jakarta dan sejumlah organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) se-Jakarta mengadakan pertemuan di Gedung PBNU jalan Salemba-Jakarta Pusat, Senin (6/4/09), pada pertemuan tersebut mereka menyatakan kebulatan tekad untuk mendukung pelaksanaan pemilu 9 April.

Ketua Umum HMI MPO Cabang Jakarta, Abdul Ghofar mengatakan tujuan diadakan pertemuan ini adalah untuk mempertegas pelaksanaan pemilu 2009. Menurutnya , Pemilu 2009 ini merupakan momentum strategis bangsa Indonesia  untuk mewujudkan demokratisasi dan partisipasi seluruh rakyat Indonesia dalam menentukan arah dan nasib bangsa pada masa yang akan datang.

“Pemilu kali ini harus kita jadikan momentum perubahan bagi bangsa ini, kami sebagai organisasi pemuda sepakat untuk mendukung pelaksanaa pemilu 2009 ini menjadi pemilu yang berpihak pada rakyat dengan berusaha meminimalisir terjadinya kecurangan politik”, kata Gofar.

Gofar juga mengatakan pertemuan yang turut dihadiri oleh perwakilan PMII, PMKRI, GMKI, GMNI ini merupakan bukti keseriusan OKP se-Jakarta untuk mewujudkan pemilu yang damai dan membawa perubahan bagi rakyat. Untuk mewujudkan itu semua, mereka sepakat menyerukan kepada masyarakat, tokoh agama, dan ormas yang ada di Jakarta ikut serta dalam mensuksekan pelaksanaan pemilu 2009.

“Kami menghimbau kepada seluruh masyarkat untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan pemilu ini, untuk itu kami akan membagikan langsung panduan pelaksanaan pemilu 2009 keseluuh wilayah DKI Jakarta”, kata Gofar

Selanjutnya Gofar manilai kesuksesan Pemilu 2009 merupakan salah satu tolok ukur tingkat partisipasi dan kepedulian rakyat Indonesia terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Karena itu, OKP se-Jakarata  bertekad mendukung sepenuhnya pelaksanaan Pemilu 2009 yang jujur, adil, elegan, dan demokratis.

Selain itu, mereka akan berusaha   mendesak  pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya  dan tunduk kepada undang-undang yang berlaku, demi kesuksesan pemilu 2009 ini.

Cut Rita Z

Kongres HMI Undang Capres dan Artis Dian Sastro

Kongres HMI ke XXVII di Jogjakarta rencananya akan mengundang calon-calon presiden yang akan bertarung dalam pemilihan presiden 2009. Panitia kongres akan mengundang wakil presiden Jusuf Kalla untuk membuka hajatan terbesar di HMI ini. Selain itu, panitia juga mengundang Sri Sultan Hamungkubuwono X dan Prabowo Subianto untuk menjadi pembicara dalam seminar pembukaan kongres.

Ketua SC kongres HMI ke XXVII, Azwar M Syafe’i menyatakan, pihaknya sekarang sedang berusaha menguhubungi wakil presiden Jusuf Kalla untuk bisa membuka kongres. Diharapkan wakil presiden Jusuf Kalla bisa menghadiri kongres HMI ini sebagai wakil dari pemerintah. “Kita lagi terus mencoba mengontak wakil presiden Jusuf Kalla agar bisa datang di kongres,” ujarnya, Sabtu (4/4). Saat ini,  panitia sedang meminta untuk melakukan audiensi dengan Wapres guna menjelaskan pelaksanaan kongres HMI ke XXVII sekaligus meminta kesediannya untuk membuka jalannya kongres.

Selain Jusuf Kalla, panitia juga mengundang dua calon presiden yakni  Sri Sultan Hamungkubuwono X dan Prabowo Subianto untuk menjadi pembicara dalam seminar pembukaan kongres bersama wakil ketua DPR RI Muhaimin Iskandar serta Rektor Paramadina Anies Baswedan.  “Senin (6/4) kita audiensi dengan Sri Sultan untuk meminta kehadirannya Sultan,” kata Azwar. Sementara untuk narasumber lainnya sedang diusahakan juga agar bisa hadir di seminar pembukaan yang mengusung tema “Gerakan Kemandirian Bangsa Menuju Masyarakat Berkeadilan”.

Dian Sastro Juga Diundang

Azwar menjelaskan, pembukaan akan digelar di Gedung Wanitatama Balai Shinta. Sementara untuk pelaksanaan kongres akan diadakan di Pondok Pesantren Darul Hikmah. “Untuk pembukaan dan pelaksanaan, rencananya kita akan gelar di dua tempat tersebut,” katanya. Menuju ke kongres, panitia juga mengadakan berbagai acara guna memeriahkan kongres agar semarak dan sekaligus juga bisa memberi kotnribusi ke masyarakat. “Kita sudah gelar kegiatan donor darah. Ada juga baksos untuk melakukan pembagian sembako dan pakaian murah di dusun Cangkringan,” tuturnya.

Tidak hanya itu,  panitia juga rencananya mengundang artis Dian Sastro Wardoyo dan sutradara Hanung Bramantyo dalam bedah novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’, 25 April mendatang. Acara ini diadakan untuk menyambut peringatan Hari Kartini sekaligus guna mengapresiasi novel dan film yang sempat membuat kontrioversi di masyarakat ini. “Kita sedang usahakan juga agar Dian Sastro Wardoyo dan Hanung Bramantyo bisa hadir. Diharapkan mereka bisa datang. Selain efek publikasi, juga untuk mendiskusikan film tersebut,” ujar Azwar.

Sejauh ini, panitia juga sudah mengirim term of reference (TOR) kongres ke cabang-cabang. Untuk cabang-cabang yang belum menerima TOR, diminta menghubungi Sekjend PB HMI sebagai penanggung jawab.  Mendekati kongres, kata Azwar, seluruh Badan Koordinasi (Badko) juga diharapkan membuat kegiatan untuk melakukan sosialisasi sekaligus membedah tema kongres. “Bedah tema kongres penting karena tema ini sangat menentukan wajah dan gerak HMI ke depan,” tandasnya.

Trisno Suhito

Rekayasa Teknologi Informasi Berbasis Masjid

Kalau kita sering berwacana mengenai gurita kapitalisme yang telah mencengkeram begitu erat, maka PR terberat bagi para pewacana adalah bagaimana solusinya? Perkembangan teknologi yang menjadi warna dari modernisasi zaman adalah salah satu bentuk komoditi para kapitalis. Murninya Sains for sains sudah mulai pudar, semua menjadi sasaran untuk bagaimana mendapatkan keuntungan semata. Kekuatan untuk menghadapi ini adalah dengan mengembangkan daya kreasi dan inovasi dalam dunia teknologi khususnya teknologi informasi.

Membangun teknologi informasi berbasis open source melalui pemberdayaan adalah sebuah visi yang coba dirintis oleh beberapa pemuda(i) yang tergabung dalam Puskom MAFAZA (Pusat Komputer Masjid Fatimatuzahra). Berawal dari pemikiran-pemikiran yang sederhana dengan semangat perlawanan terhadap kapitalisme dalam perkembangan teknologi informasi, kita mencoba berkarya dalam dunia TI. Perkembangan teknologi adalah untuk semua, bukan sebuah hal yang eksklusif dan tak dapat disentuh oleh masyarakat. Teknologi bukan sebuah hal yang mahal yang semakin memperluas kesenjangan sosial masyarakat.

Bahkan, Puskom Mafaza melakukan inovasi di tahun ini dengan membangun sebuah Pusat Pengembangan Keahlian Rekayasa Teknologi Informasi. Dalam dua pekan kemarin – dimulai sejak tanggal 29 Maret yang lalu- , telah melakukan open recruitment untuk divisi COC (center of Competency) IT Service, yang terdiri dari COC Aplikasi, COC Operating System, COC Database, COC Hardware, COC Elektronika, dan COC Network. Teknis kerja COC ini adalah seperti konsep perang gerilya dimana sebuah tim memiliki pasukan-pasukan komando yang memiliki keahlian husus dengan kemampuan memberikan layanan kepada unit yang membuthkan.

Puskom Mafaza yang disetting sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan rekayasa teknologi informasi terbuka untuk semua umat muslim. Beberapa hal yang menjadi syarat dasar adalah : 1) mau menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ummat serta memakmurkan, dan 2) Berkemauan menjadikan diri pribadi unggul dibidang rekayasa Teknologi Informasi. Untuk kemampuan-kemampuan teknisnya akan dilakukan melalui test tertulis mengenai bidang-bidang khusus sesuai peminatan bidang masing-masing.

Puskom MAFAZA adalah sebuah pengembangan dari divisi kesekretariatan yang selama ini telah berfungsi sebagai pusat database takmir masjid Fatimatuzahra – Purwokerto. Pengembangan secara optimal di bidang teknologi informasi ini diharapkan mampu melahirkan insan-insan kreatif dan inovatif dalam dunia TI. Dalam lingkup kecil,disini misalnya kita belajar seperti membuat software-software yang dibutuhkan dalam ativitas sehari-hari, setidaknya kita mengenal dunia IT disini. Sistem Open Source ini membuat para anggota memiliki ruang bebas untuk belajar dan berkreasi. Pemikiran dasarnya adalah perkembangan teknologi adalah bagian dari sains yang harus kita pelajari, teknologi nggak mahal, teknologi nggak susah, belajar itu enjoy! Tentunya dalam proses pengembangan ini, Puskom telah memiliki jaringan dengan pihak-pihak yang terkait yang berkompeten di bidangnya.

Kenapa Masjid? (catatan kaki tentang MAFAZA)

Puskom Mafaza ini berbasiskan kekuatan masjid sebagai pusat ibadah umat Islam. Ibadah dalam arti yang sangat universal, termasuk didalamnya mengembangkan ilmu pengetahuan. Takmir masjid Ir.M.Nuskhi Zetka yang juga mantan sekum PB HMI (MPO) era 1986 (Periode Egy Sudjana), memiliki strategi manajemen masjid sebagai pusat aktivitas masayarakat yang berlandaskan nilai Islam. Bisa dikatakan bahwa Masjid Fatimatuzahra (Mafaza) adalah Islamic Centre di kota Satria Purwokerto ini.

Sudah saatnya kita sadari bahwa masjid adalah sebuah aset berharga bagi umat Islam. Masjid adalah benteng pertahanan umat Islam untuk menyusun strategi-strategi yang progresif. Masjid bukan saja sebagai tempat untuk sholat berjamaah, tapi lebih dari itu masjid merupakan jantung aktivitas masyarakat dan pengembangan keilmuan untuk dapat dimanfaatkan umat. Keseimbangan IPTEK dan IMTAQ serta pemberdayaan masyarakat adalah ruh dari pengembangan masjid yang berlokasi di Jl.Madrani – Grendeng Purwokerto ini. Selain di bidang pengembangan teknologi informasi, pengembangan ilmu pengetahuan juga dilakukan di berbagai bidang seperti hiburan, pendidikan, ekonomi, budaya, kesehatan, pembinaan keluarga, pemberdayaan masyarakat, dll.

Mafaza adalah salah satu benteng umat Islam di kota Satria. Dengan pemakmuran masjid di berbagai wilayah, kita harapkan pondasi kekuatan umat muslim menjadi kuat. Semoga.

Shinta arDjahrie
(crew of divisi COC Electricity Puskom Mafaza).
untuk info, tawaran kerjasama, dll, silahkan hub, 0281-638536

HMI MPO Makassar Tolak Politisi Busuk

Matahari menyengat di pagi hari jam sembilan. Sekitar tiga puluhan kader HMI-MPO Cabang Makassar berjejer satu barisan di depan pintu gerbang kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Gunung Sari. Mereka membentangkan spanduk, petaka, membagi-bagi selebaran, mengibarkan bendera HMI dan berorasi bergantian di depan hilir-mudiknya arus lalu lintas yang semakin ramai.

Sekitar tiga puluh menit kemudian barisan aksi bergerak menuju Kantor KPUD Sulawesi Selatan di Jalan AP.Pettarani dengan menumpangi mobil pikap. Selama dalam perjalanan megapon tak henti menderum meneriakkan yel-yel anti politisi busuk. Pada saat yang sama sedang berlangsung pula arak-arakan massa kampanye Partai Damai Sejahtera yang melalui jalur depan Kampus UNM ketika sedang digelar orasi politik di sana.

Beruntung tidak terjadi insiden bentrokan antara HMI-MPO dengan massa kampanye karena peserta aksi mengacungkan tanda “peace” dua jari kepada massa kampanye yang beratus-ratus jumlahnya itu. Mereka pun membalasnya serupa.

Aksi Tolak Politisi Busuk ini dipimpin oleh Edi Saputra (Kabid PTK HMI-MPO Cabang Makassar) sebagai Jenderal Lapangan (Jendlap). Mereka memasuki halaman kantor KPUD Sulsel sekitar pukul sepuluh dan berorasi beberapa menit sambil membentuk barisan menghadang pintu kantor. Matahari menyiram bumi. Tak selang beberapa lama, ketua KPUD Sulsel, Dr. Jayadi Nas langsung keluar menemui massa aksi dan ikut menanda tangani MoU antara HMI-MPO Cabang Makassar dengan KPUD Sulsel untuk pemilu Legislatif yang bebas dari Politisi Busuk. Penandatanganan dilakukan antara beliau Ketua Umum HMI-MPO Cabang Makassar (Muhammad Fauzi).

Dalam MoU itu disepakati upaya bersama dan komitmen KPUD Sulsel mewujudkan pemilu yang bersih dan berkualitas terbebas dari Politisi Busuk. Kriteria politisi busuk diantaranya politisi yang terlibat kejahatan korupsi, pelanggar HAM, terlibat dalam jaringan bisnis illegal logging dan perusak lingkungan, money politic, terlibat jaringan narkoba, pelaku jaringan trafficking on woman and child, politisi yang ditunggangi pihak tertentu yang tidak pro rakyat, politisi yang berkampanye di area bebas kampanye, pelaku KDRT, miras, judi, sabung ayam dll.

Usai penandatanganan MoU, massa aksi melanjutkan kampanye Tolak Politisi Busuknya sekitar setengah jam di pinggir jalan depan Kantor KPUD. Selebaran disebarkan dan orasi politik berlanjut. Dalam orasinya, Jendlap menegaskan bahwa kalau MUI memfatwakan haram Golput, maka HMI MPO mewakili umat memfatwakan Halal Golput apabila para politisi busuk tetap saja dibiarkan bebas melaju ke parlemen. Demokrasi liberal saat ini memberikan peluang selebar-selebarnya bagi Politisi Cumi yang tidak kapabel dan politisi busuk yang tak punya rasa malu untuk bermetamorfosis menjadi bandit-bandit politik yang sendirinya akan membajak demokrasi yang sejatinya untuk rakyat. Massa aksi bubar menuju sekretariat cabang menjelang shalat jumat.

Rus’an Latuconsina

Kejar Target, TPK Segera Rampungkan Draft

Menghadapi Kongres HMI ke XXVII, Tim Pekerja Kongres (TPK) sedang membahas berbagai tawaran perubahan yang ada di konstitusi. Diharapkan, sehabis Pemilu legeslatif draft final dari TPK sudah selesai untuk selanjutnya disebarkan ke cabang-cabang guna dipelajari.

“Kita masih terus membahas dan belum sampai pada draft final,” ujar Ketua TPK Roni Hidayat, Selasa (31/3) kepada HMINEWS.COM. Roni mengatakan, TPK akan intensif untuk melakukan kerjanya dengan target tanggal 12 April selesai. “Minggu-minggu ini kita akan all out agar sebulan sebelum kongres, teman-teman cabang sudah mempelajari  draft dari TPK,” katanya.

Roni menjelaskan, TPK dibentuk tanggal 1 Februari 2009 berdasarkan SK No.62/A/KPTS/02/1430. Anggotanya ada sembilan orang yakni Roni Hidayat sebagai ketua dibantu oleh Syahrul E Dasopang, Erman Siswanto, Heri Setiawan, Abdul Hayyi Akrom, La Ode Rahmat, Muhyidin, Roham A dan Maftuhah Umami. Sampai sejauh ini, TPK sudah berkumpul sebanyak tiga kali setelah dibentuk.

Dikatakan, TPK dibagi beberapa bagian dengan person-person yang menjadi penanggung jawab. Misalnya untuk AD/ART dan Pedoman Anggota dipegang dirinya. Pedoman Perkaderan oleh Muhyidin, Pedoman Struktur oleh Syahrul E Dasopang dan Roham A. Sementara Pedoman Kesekretariatan, Atribut dan Keuangan doleh Maftuhah Umami. Untuk Program Kerja Nasional (PKN) itu penanggung jawabnya adalah Heri Setiawan, Abdul H Akrom dan La Oder Rahmat.

“Minggu-minggu ini kita akan bertemu semua untuk selanjutkan kita finalkan tawaran draf dari TPK,” ujarnya. Setelah draf final selesai, nanti TPK akan menyebarkan ke cabang-cabang untuk dipelajari dan dikritisi sebelum masuk arena kongres. Roni juga meminta kepada cabang-cabang untuk bisa menawarkan isyu-isyu perubahan konstitusi sebelum kongres agar menjadi wacana untuk diperbincangkan. “Kita berharap teman-teman bisa menulis di HMINEWS misalnya, agar itu menjadi wacana sebelum kongres,” pintanya.

Trisno Suhito

Politik Uang Para Caleg

Politik uang terang – terangan sudah menjadi hal biasa bagi para caleg. Pembagian uang, barang, sembako adalah cara yang paling efektif untuk mencari suara. Hal ini bukan hanya terjadi pada satu partai tetapi banyak partai. “Kalau tidak masyarakat tidak dikasih apa-apa mana mungkin mereka mau datang” ucap Hardi calon legelatif Demokrat nomor urut 1 Jakarta Utara.

Hardi mengungkapkan tidak ada cara yang efektif selain mengumpulkan warga sekitar dan mengkampanyekan diri kemudian seusai itu masyarakat yang datang mendapatkan imbalan berupa uang sebesar Rp 15.000 , sembako, dan jilbab.

“Sekarang ini cara apa lagi yang efektif untuk mendapatkan suara, dengan cara seperti ini saya yakin 60% mereka akan memilih saya, karena setidaknya mereka sudah kenal saya dan mereka tidak enak kalau tidak memilih saya karena sudah menerima uang saya.” kata Hardi.

“Pastinya mereka yang datang tidak sendiri pasti punya keluarga dan akan mengajak keluarganya untuk memilih saya,”lanjut Hardi.

Anehnya Hardi sendiri mengetahui kalau politik uang itu terlarang, tapi ia melakukan itu hampir setiap hari dan diluar jadwal kampanye, itu semua demi mencari suara yang pasti karena menurutnya kampanye terbuka itu hanya membuang uang yang lebih banyak dan hanya mendapatkan suara abu-abu atau dukungan tidak jelas.

“Kalau saya tidak mau kampanye terbuka karena pendukunya tidak jelas, hanya memperoleh suara abu-abu, kalau ketemu langsung kan jelas tiap kampung saya datang dan kampanye seperti itu kan jelas mereka warga kampung tersebut dan mempunyai hak pilih.” ujar Hardi yang juga ketua DPC Demokrat Jakarta Utara ini.

Warga yang datang pada kampanye hardi dikediamanya di Koja Jakarta Utara, mengaku senang mendapatkan sembako dan uang.

“Saya mau milih pak Hardi karena bapak baik, yang pasti ada amplopnya,”kata ibu yang enggan disebutkan namanya.

Bukan hanya membagikan uang dan sembako Hardi juga menyumbang masjid untuk penyelenggaraan maulid Nabi.

Tidak berbeda dengan Hardi, Sri Rahayu, Caleg Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) diduga membagikan uang sebesar RP 70 ribu per orang, namun tidak ada bukti dokumentasi yang menyatakan hal tersebut. Hanya pernyataan supir bajai yang pulang seusai kampanye. “Kita dapat 70 ribu tapi tadi harus pake kupon dulu,”katanya.

Politik uang juga tidak luput dari partai golongan karya. Kampanye besar – besaran di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta diwarnai bagi-bagi uang. Massa Agung Laksono misalnya, menerima amplop yang berisikan uang Rp 25.000.

Motif pemberian uang di Partai Golkar sangat tertutup dan rapi. Mereka mengkoordinir massa melalui koordinator tiap kelurahan dengan meminta foto kopi KTP warga yang akan ikut kampanye. Para caleg akan mengirimkan uang tersebut ke rumah masing – masing orang sesuai alamat.

Warga mengaku ikut kampanye partai Golkar hanya untuk mendapatkan uang, dan senang – senag saja. Tapi sayang hingga acara usai warga yang dijanjikan mendapat uang Rp 25000 mengeluh belum mendapatkan uang.

“Huh gimana sih koodinatornya kita gak pegang uang sama sekali, kapan dikasihnya nih?ujar rohmat massa yang ikut berkampanye. “Memangnya dikasih berapa pak?” “25 ribu, tapi kayaknya dikasihnya nanti kalau dah pulang.” Di Golkar tiap koodinator hanya akan memberikan uang kepada koordinator daerahnya masing – masing. Dengan begitu sangat sulit untuk dibuktikan transaksi pembagian uang tersebut.

Nurul Leily A

Pemilih Pemula Rawan Dipolitisasi Parpol

Posisi pemilih pemula sangat rentan terhadap upaya politisasi yang dilakukan oleh kekuatan politik tertentu untuk mendongkrak perolehan suara partai politik tertentu. Pendidikan politik bagi mereka diharapkan dapat membentuk kesadaran pemilih pemula agar menjadi pemilih yang kritis pada pemilu 2009 dan pada pemilu-pemilu selanjutnya.

Demikian dikatakan Ketua HMI Cabang Purwokerto Susrobiyanto disela-sela acara Diskusi & Sosialisasi Pemilu 2009 bagi para pemilih pemula yakni siswa/siswi SMA/STM/SMK/SMEA se Purwokerto yang digelar HMI Cabang Purwokerto, Selasa (31/3) kemarin. Acara ini melibatkan puluhan siswa SMA/STM/SMK/SMEA Se-Purwokerto. Hadir sebagai pembicara Anggota KPU Kab.Banyumas Unggul Warsiadi dan Komisi Politik PB HMI Heri Setiawan.

Susrobiyanto mengatakan acara ini bertujuan untuk menempatkan para pemilih pemula pada kerangka pendidikan politik yang lebih mencerdaskan dalam pemilu 2009.

“Selama ini pemuda (pelajar) selalu menjadi objek politik. Mereka hanya dilirik untuk hitungan suara saja, tidak lebih,”katan Rabin, sapaan akrab Susrobiyanto. Oleh karena itu, kata Robin, pendidikan politik bagi para pemilih pemula ini perlu dilakukan agar mereka tidak apatis terhadap perosalan-persoalan politik bangsa serta dinamika perubahan sosial.

Pemilu Bersih

Heri Setiawan mengatakan Pemilu 2009 yang akan segera berlangsung harus bersih dari berbagai kecurangan-kecurangan demi terciptanya perubahan bagi rakyat. Kita jangan tertipu dengan apa yang dijanjikan para caleg, teliti dengan cerdas dan buat kontrak politik dengan mereka” kata Heri.

Kelambanan, pengkhianatan, kebusukan perilaku penguasa yang gagal mengatasi krisis kesejahteraan dan seluruh tuntutan reformasi total selama sebelas tahun kejatuhan kediktatoran Orde Baru, menurut Heri harus segera diakhiiri.

” Karakter perubahan dalam pemilu 2009 ini adalah harga mati bagi HMI-MPO, ” lanjut Heri. Unggul Warsiadi  dari KPU mengatakan siap mengawal proses pemilu agar terhindar dari kecurangan atau politik kotor.

Citra Banch Saldy
(greenpeanutz@gmail.com)