Lania-Lania Kapitan Achmad Lussy

Untuk mengusir kejenuhan di atas tempat tidur karena istirahat akibat serangan flu (mudah-mudahan cuma flu biasa dan bukan flu burung, flu baby, flu kuda dan atau jenis flu yang ramai bermunculan belakangan ini) kusempatkan diri membuka-buka majalah tua “Panjimas”, yang terbundel rapi di perpustakaan “Yaa Rinqa” kepunyaan Yayasan Arruhul Ittihadi Takalar yang ditukangi oleh Sitti Wahyuni Hafid, istriku.

Pada salah satu edisi yang kertasnya sudah sangat kuning, Panjimas No. 431 Tahun XXV, 10 Sya’ban 1404 H bertepatan dengan 11 Mei 1984 pada halaman 24 – 27, kutemukan sebuah tulisan Drs. M. Nour Tawainella (mengingatkanku pada seorang kawan, Rosita Tawainella), seorang budayawan dan esais sejarah lokal Ambon dengan judul “Menjernihkan Sejarah Pahlawan Pattimura”.

Dalam tulisan sepanjang 4 (empat) halaman ini, N. Tawainella memberikan sanggahan atas sebuah buku “Sedjarah Perdjoeangan Pahlawan Pattimura, Pahlawan Indonesia” tulisan M. Sapija. Buku yang diterbitkan oleh PT. Djambatan pada tahun 1959 (cetakan ke-3) ini mengulas tentang siapa dan dari mana sang pahlawan, Kapitan Pattimura yang memimpin perang Saparua tahun 1817 silam.

Temanya menarik perhatianku karena tanggal 15 Mei 2009 yang baru satu bulan berlalu, ternyata merupakan hari dimana tepat 192 tahun silam, Kapitan Pattimura memimpin rakyat Patasiwa dan Patalima melakukan perlawanan terhadap kompania. Hari dimana Pattimura harus menyerahkan lehernya untuk dijerat di tiang gantungan oleh musuhnya dan musuh negerinya.

N. Tawainella menulis bahwa kekeliruan mendasar yang perlu diluruskan adalah pengenalan publik terhadap siapa sebenarnya sosok Kapitan Pattimura itu. “Pahlawan yang terkenal dengan nama Thomas Matulessy sebenarnya bernama asli Kapitan Achmad Lussy yang dalam lanai-lanai dan kapata-kapata (dua jenis karya sastra tradisional Maluku) dilafal Mat Lussy. Lafal Mat Lussy inilah yang kemudian dipelintir oleh M. Sapija menjadi marga Matulessy.

M. Sapija menulis dalam bukunya halaman 198, “Pahlawan Pattimura tergolong keturunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Matulessy adalah anak dari Kasimilali Pattimura Matulessy, sedang yang terkahir ini adalah Putera Raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang, tetapi nama sebuah negeri yang terletak di sebuah teluk di Seram Selatan”.

Terhadap tulisan M. Sapija ini, N. Tawainella berkomentar, “Sahulau dahulu adalah sebuah Kerajaan Islam dengan Raja atau Sultannya bernama Sultan Abdurrachman yang kemudian diganti Kasimillah atau Kasimilali”. Bahkan N. Tawainella dengan keras mengatakan, “penambahah Pattimura Matulessy di belakang Kasimilali adalah suatu penipuan yang paling menakjubkan yang pernah terjadi dalam pengetahuan sejarah!”

Lanjutnya mempertegas argumentasi, “Di sana, di negeri Sahalua, M. Sapija, sebenarnya tidak menemukan adanya marga Pattimura maupun Matulessy, akan tetapi disana hanya ada marga Kasimilali, yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrchman di atas”. Kemudian menggugat, “kenapa tidak ditulis saja bahwa mereka hanya menggunakan Kasimilali, tidak menggunakan Pattimura Matulessy?”

Begitupun cerita seputar peristiwa ketika Kapitan Pattimura akhirnya digantung, M. Sapija dan N. Tawainella mempunya versi yang berbeda, terutama dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Sang Kapitan ketika tali gantungan sudah siap dikalungkan di lehernya.

Dalam bukunya halaman 199, M. Sapija menulis bahwa Pattimura berpamitan dengan berkata, “Selamat Tinggal saudara-saudara!” lalu kemudian melanjutkan, “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi sekali kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit!!” Bagi N. Tawainella, “apa yang diucapkan Pattimura versi M. Sapija memiliki warna tatabahasa Indonesia yang terlalu modern dan sangat bertolak belakang dengan pola-pola konteks budaya moyang-moyang kita di zaman itu”.

“Leluhur kita di masa itu”, terang N. Tawainella, “lebih banyak menggunakan bahasa tamzil. Ini terlihat pada kapata-kapata (petatah-petitih) mereka”. Sebagai contoh, N. Tawainella menceritakan bahwa bila seorang ayah tidak suka dengan menantu perempuannya yang kurang sopan dan ingin agar dia diceraikan, maka dia akan berujar kepada anaknya, “sebelum pintu rumah ini kau ganti, jangan harap saya datang”, dan bukannya, “ceraikan istrimu, kalau kau ingin saya datang lagi ke mari”.

Adapun yang diucapkan oleh Pattimura ketika ajal menjelang menurut N. Tawainella adalah sebuah kalimat yang mencerminkan watak asli budaya zaman hena masa waya lotto honimua. Pattimura meneriakkan kalimat-kalimat tamzil, ibarat, yang masih asli. Silahkan perhatikan:

Nunu oli

Nunu seli

Nunu karipatu

Patue karinunu

[Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar, dan setiap beringin besar akan tumbang. Tetapi beringin lain akan ganti. (Demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar, dan setiap batu besar akan terguling. Tapi batu lain akan ganti]

Bagi N. Tawainella, ucapan di atas, secara psikologis, adalah ucapan patriot yang berjiwa besar yang tidak takut kepada ancaman maut, yang mengekspresikan watak yang teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. “Ucapan di atas bukan ucapan seorang fatalis yang ragu-ragu”.

Semangat yang serupa ini pulalah yang menjadi spirit para pejuang Patasiwa dan Patalima sepeninggal Kapitan Mat Lussy. Sebuah lania-lania yang senantiasa membangkitkan semangat juang :

Yami Patasiwa

Yami Patalima

Yami yama’a Kapitan Mat Lussy

Matulu lalan hato Sapambuine

Ma parang kua Kompania

Kami Patasiwa

Kami Patalima

Kami semua dipimpin Kapitan Mat Lussy

Semua turun ke Kota Saparua

Berperang dengan Kompeni Belanda

Ketika tulisan ini selesai, aku teringat dengan permainan kata dari Achmad Lussy menjadi Mat Lussy dan terakhir Matulessy. Nampaknya menarik kalau dikaji dengan pendekatan analisa “trace” dari teori dekonstruksi Jacques Derrida, ada yang tertarik? Yang pasti, tulisan ini berhasil membuatku menyumpah-nyumpahi guru sejarahku dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum karena mengajariku sejarah yang keliru. Sumpah serapahku makin menjadi seiring dengan flu yang makin menyiksa. (Oleh : Daeng Matutu, Penulis tinggal di Makasar)