Peran Pemuda Terjebak Pragmatisme Sesaat

hu-pakuan.com

Peran pemuda di era reformasi harus optimal di semua bidang kehidupan masyarakat karena wadah tempat mereka berhimpun baik di Ormas maupun partai politik di era Orde Baru selalu mendengungkan visi dan misi mengembangkan demokrasi, namun ketika Orde Baru tumbang kalangan pemuda justru terjebak dalam pragmatisme politik sesaat.

Demikian pemikiran yang mencuat dalam diskusi “Menakar Nasionaliema Pemuda” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta , Senin (27/07).

Diskusi ini menghadirkan mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Asisten Deputi Pendidikan Menpora Erlangga Masdiana, dan Direktur Program The Indonesia Instittute Dr Cecep Effendy.

Akbar Tandjung menjelaskan, peran pemuda di era reformasi diharapkan mampu mengembangkan semua bidang, baik politik, ekonomi, hukum, budaya dan mendorong demokratisasi. Partai politik dan Ormas kepemudaan harus menunjukkan kepeloporan yang kuat di berbagai bidang.

Namun menurutnya peran pemuda di era reformasi justru terjebak pada pragmatisme kepentingan politik. Saat ini orientasi memperebutkan jabatan-jabatan politik di kalangan pemuda begitu kuat, dibanding kepeloporan di bidang ekonomi, hukum dan budaya. Begitu juga penanaman nilai-nilai demokrasi dan akuntabilitas publik belum tampak dilakukan pemuda.

Kalangan pemuda masih berwacana mengenai wacana-wacana praktis dan kepentingan pragmatis sesaat. Orientasinya belum diarahkan untuk kepentingan jangka panjang.

“Dari sisi perpektif politik, mereka belum mampu perjuangkan idealisme seperti yang didengungkan sebelum reformasi,” katanya.

Akbar mengatakan, ketika reformasi yang seharusnya membawa perubahan, pemuda justru terkejut menghadapi perkembangan yang ada. Ini membuktikan bahwa wacana-wacana yang dikembangkan di bangsa ini belum diarahkan untuk kepentingan jangka panjang.

Erlangga Masdiana memperkuat pernyataan Akbar Tandjung, dia mencoba mengupas akar persoalan dari rendahnya kepeloporan pemuda di era reformasi. Menurut Erlangga kalangan pemuda sudah berada di simpang jalan dan terkesan gamang dalam menghadapi perubahan di era globalisasi ini.

Di sisi lain, Erlangga mengatakan partai politik dan Ormas yang selama era Orde Baru mendengungkan demokratisasi kini kian menempatkan pemuda sebagai aset politik semata.

“Untuk bidang politik, pemuda memang sudah tampak berperan. Tetapi bagaimana dengan bidang lain,” kata Erlangga

“Slogan demokratisasi dan perubahan yang didengungkan di era Orde Baru tidak diimbangi dengan kesiapan menghadapi perubahan. Mereka pun terjebak kepentingan pragmatisme”, tambah Erlangga.

Untuk menumbuhkan nasionalisme baru dikalangan pemuda masa kini, Erlangga menyarankan agar ditumbuhkan lagi semangat kebangsaan dengan mengingat kembali rentetan peristiwa sejarah perjuangan bangsa di masa lalu.

Dengan nasionalisme baru, kata Erlangga, pemuda diharapkan bisa berperan untuk memajukan bangsa dimasa yang akan datang.

“Bangsa ini membutuhkan pemuda-pemuda yang berkomitmen untuk memajukan bangsa,” katanya. (Rita Z)