HTI Gelar Pesantren Ramadhan Mahasiswa

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengisi indahnya bulan suci Ramadhan dengan menyelenggarakan Pesantren Ramadhan Mahasiswa. Acara yang akan digelar pada hari Sabtu-Ahad,6-7 September 2009 ini menggangkat tema “Kupas Tuntas Konsepsi Syariah & Khilafah di Kalangan Generasi Musa Islam”.

Menurut Ahmad Irham, panitia pelaksana, acara ini bertujuan untuk mengembalikan kembali konsep pemikiran syariah dan khilafah dikalangan generasi muda yang belakangan ini mulai terkikis zaman.

“Melalui acara ini kami mencoba menanamkan kembali konsep khilafah Islam yang sesuai dengan syariah”, kata Irham kepada HMINEWS, Senin, (31/8).

Pihak panitia, menurut irham akan berupaya keras untuk mensukseskan acara ini dengan menghadirkan ratusan peserta di 3 Pesantren yang tersebar diwilayah Jakarta secara serentak. Ketiga pesantren yang dijadikan sebagai tempat pelaksanaan acara ini diantaranya, Pondok Pesantren Attaibin Depok (Pesantron Anton Medan), Pondok Pesantren At-Taqwa Bekasi (Pesantren Terbesar di Bekasi) dan Pondok Pesantren Taqwa Nandzar Sawah Baru Ciputat, Jakarta.

Irham juga mengatakan, pihak panitia telah menyiapkan beberapa materi terkait dengan upaya membangun wawawasan Islam generasi muda. Diantanya Bincang Bareng Daris (Da’i Mantan Artis), Perjalanan Spritual Seorang Mualaf, Nonton Bareng Film Dunia Islam, Muhasabah Ramadhan, Training Motivasi, Kupas Tuntas Ideologi Islam, Kupas Tuntas Sistem Ekonomi Islam, Kupas Tuntas Politik dan Pemerintahan (Khilafah Rasyidah), hingga Metode Perubahan Masyarakat dan Peran Mahasiswa.

Beribadah Bukan Karena Ramadhan

“…Setiap Ramadhan tiba, luar biasa dan sangat semarak masyarakat Indonesia menyambutnya, dengan berbagai aktifitas spritual seakan-akan puasa menjadi alat instan menuju surga, tapi setelah Ramadhan anda tahu semua itu, hati-hati jangan kita berhalakan Ramadhan itu …”

Begitulah salah satu komentar salah seorang anggota facebook beberapa hari yang lalu, saat puasa Ramadhan baru saja dimulai. Komentar ini mungkin bisa jadi kritiknya terhadap perilaku beribadah masyarakat muslim yang seakan-akan menjadikan bulan Ramadhan sebagai jalan pintas untuk mendapat pahala yang berlipat dan seakan-akan bulan-bulan lain tidak mempunyai arti apa-apa.

Menarik untuk dicermati, fenomena masyarakat muslim yang mungkin tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Negara-negara lain yang seakan-akan berlomba untuk melakukan ritual ibadah sebanyak mungkin di bulan Ramadhan. Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah dibulan lainnya, frekwensi ibadah seorang muslim dibulan ramadhan grafiknya semakin naik.

Namun, ada banyak pertanyaan yang patut untuk diajukan. Beberapa diantaranya adalah, mengapa ini hanya terjadi dibulan Ramadhan? Apakah bulan-bulan lain tidak mempunyai keistimewaan sehingga kita melakukan ritual ibadah tidak sebanyak yang kita lakukan pada bulan Ramadhan? Dan apakah ada signifikansi amalan seseorang pada bulan Ramadhan terhadap perilaku kehidupannya pasca ramadhan?

Penulis tidak hendak menggugat ajaran-ajaran agama yang ada dalam Firman-firman Tuhan atau Hadits-hadits Nabi, namun pada perilaku kita yang kadang-kadang lebih mencari jalan yang lebih fragmatis, meskipun itu adalah urusan kita dengan Tuhan.

Menjawab pertanyaan pertama, dalam beberapa ayat Al-quran, Allah memang menjanjikan banyak imbalan pada bulan Ramadhan. Disamping itu, begitu banyak hadits-hadits Nabi yang memberikan banyak perintah untuk melakukan amalan ibadah dibulan Ramadhan karena akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Ibadah-ibadah sunnah misalnya, pahalanya sama dengan ibadah wajib pada bulan-bulan yang lain. Begitupun dengan amalan wajib, yang dibalas beribu-ribu kali lipat oleh Allah. Hal ini kita bisa dengar melalui ceramah-ceramah para ulama di mesjid-mesjid atau majelis ta’lim dan juga dalam kitab-kitab fiqih.

Ganjaran yang begitu besar ini, tentu saja menjadi penarik yang cukup kuat bagi seorang muslim untuk beribadah. Dengan demikian, wajar kalau kemudian hampir semua orang Islam akan berlomba-lomba dalam melakukan ritual keagamaan.

Namun, apakah itu akan berlangsung lama? Jawabannya mungkin tidak. Ada fakta yang bisa menjadi alasan jawaban ini. Pada bulan Ramadhan, hampir disetiap mesjid kita akan melihat, pada hari-hari pertama Ramadhan, semua mesjid akan terisi penuh oleh jamaah yang hendak melakukan sholat, dan bahkan dibeberapa mesjid, tidak mampu menampung banyaknya jamaah yang sholat. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Setelah melewati beberapa hari Ramadhan, kita bisa lihat kembali jamaah mesjid semakin hari semakin berkurang dan pada akhirnya hanya tinggal beberapa orang yang masih konsisten. Artinya, kita hanya mampu konsisten pada awalnya saja, sementara pada bagian akhir kita tidak mampu mempertahankan konsistensi beribadah kita.

Setelah melewati bulan Ramadahan, frekwensi ibadah kita akan kembali seperti semula, sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kita akan melakukan ibadah seperti biasa dan mungkin hanya ala kadarnya, sekedar untuk memenuhi kewajiban kita kepada Tuhan. Begitulah seterusnya sampai kita kembali pada Ramadhan tahun depan.
Siklus ini akan berjalan setiap tahunnya, sehingga kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan kedua, bahwa ibadah kita sama sekali tidak mempunyai efek dan signifikansi terhadap perilaku kehidupan kita pasca Ramadhan. Kita akan kembali pada kehidupan semula. Jika seorang koruptor maka pasca Ramadhan dia akan kembali pada kebiasaannya, melakukan korupsi. Jika seorang teroris, maka pasca Ramadhan dia akan mengulangi aktivitasnya menebar teror pada orang lain. Dan begitupun dengan aktifitas-aktifitas lainnya akan terus terulang tanpa ada perubahan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya sangat jelas. Karena kita hanya melakukan ibadah ini hanya dibulan Ramadhan, kita beribadah hanya karena bulan ini adalah bulan Ramadhan, dan kita ingin mencari jalan pintas untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Sementara pada bulan-bulan yang lain, kita mungkin jarang beribadah atau mungkin tidak sama sekali.

Kita telah terjebak pada pemikiran bahwa, Ibadah yang baik itu hanya di bulan Ramadhan semata, sementara bulan yang lain adalah bulan-bulan biasa. Sehingga kita beribadahpun karena bulan ramadhannya. Bukan karena kesadaran bahwa ibadah itu adalah jalan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Jika tidak ada Ramadhan, maka ibadah yang kita lakukanpun ala kadarnya. Pesan yang ingin disampaikan pada komentar diatas cukup jelas, kita hendaknya jangan memberhalakan Ramadhan itu, seakan-akan Ramadhan itu adalah satu-satu jalan untuk masuk surga.

Pada dasarnya, Ibadah puasa yang kita lakukan selama satu bulan memuat pesan bahwa kebajikan harus dilaksanakan secara konsisten (istiqamah). Pun demikian dengan ibadah, harus dilakukan dengan konsisten sehingga mempunyai signifikansi yang bias kita terjemahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga tanpa bulan Ramadhan pun, kita akan bisa beribadah seperti pada bulan Ramadhan. Konsistensi beribadah inilah yang akan memudahkan jalan kita menuju surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan. (Sunardi P)

Anatomi Kasus Bank Century

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belakangan uring-uringan dengan Menteri Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI), meski di bulan Ramadhan. Apa pasal? Tak lain tak bukan menyangkut bail out Bank Century sebesar Rp6,76 triliun dari yang direstui DPR sebesar Rp1,09 triliun.

Bisa difahami mengapa DPR marah, karena memang apa yang direstui dan realisasinya jauh panggang dari api. Apalagi LPS sebagai eksekutor pengucuran dana talangan tak memberi tahu kalau kebutuhan dana melonjak hingga sebesar Rp5,67 triliun. Apalagi saat LPS minta restu DPR untuk mengucurkan dana ke Bank Century sebesar Rp1,3 triliun pada Februari 2009, sesungguhnya akhir Desember 2008 sudah mengalir sebesar Rp5,67 triliun. Sehingga DPR merasa dibohongi oleh LPS, BI maupun Depkeu. Continue reading “Anatomi Kasus Bank Century”

Ulil Abshar Calonkan Diri Ketua Umum PBNU

Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla, menyatakan dirinya mencalonkan diri sebagai ketua umum Pengurus Besar NU pada Muktamar ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan, Januari tahun depan.

Mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal itu mengungkapkan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi yang digelar Redaksi Harian Duta Masyarakat, di Jakarta, Rabu (19/8).

Ulil mengaku pencalonan dirinya sebagai ketua umum PBNU mewakili kalangan muda NU. “Ya, ini kepemimpinan muda NU,” ujarnya. Ia juga mengaku siap bersaing dengan calon lainnya dan menyatakan serius atas keputusannya ini.  “Iya, saya serius maju sebagai calon ketua umum PBNU.” (Chz/NU Online)

Maaf Malaysia, Anda Tidak Diterima di UNDIP

Universitas Diponegoro, Semarang,  sudah menolak mahasiswa dari Malaysia sejak tahun 2006. Selain sebagai bentuk sikap untuk menjaga martabat bangsa, Undip Semarang ingin mengutamakan mahasiswa Indonesia agar dapat kuliah di UNIDP semarang.

Sebelumnya, mahasiswa Malaysia memang diberi kesempatan mengikuti SNMPTN di Kuala Lumpur untuk kuliah di perguruan tinggi yang membuka jalur lewat SNMPTN.  Undip kebagian kuota empat orang mahasiswa Malaysia setiap tahun.

Dari jumlah kuota itu mahasiswa Malaysia hanya mengincar fakultas kedokteran. Tetapi menurut Rektor UNDIP Susilo Wibowo ” Kualitas mereka sangat rendah sehingga lebih baik tempat mereka diberikan kepada mahasiswa Indonesia.”  Mahasiswa terbaik ternyata dikirim ke Eropa dan Amerika, sedangkan kualitas kedua ke Australia.

Susilo mengatakan telah bertemu dengan pimpinan kepala daerah di seluruh Indonesia dan menyampaikan keinginannya agar putra daerah mereka bisa dididik di UNDIP. UNDIP, kata Susilo, sadar punya tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa.

“Site di Fakultas Kedokteran setahun hanya 200, sedangkan pendaftar 14.000 lebih. Kira-kira ada yang rela nggak bila sebagian kursi diberikan untuk bangsa lain yang selama ini menginjak-injak harga diri negara ini?”

Diakui Susilo, di atas kertas mahasiswa Malaysia membayar kuliah lebih banyak daripada mahasiswa lain. Namun Susilo mengatakan” Mereka juga tak mau memenuhi kewajiban membayar studi. Universitas pun terpaksa menagih ke para mahasiswa itu. Bahkan beberapa mahasiswa susah ditagih dan ada yang tak membayar.” Dia menyatakan sebagai nasionalis terpaksa tak bisa menerima mahasiswa Malaysia. “Sebab, anak-anak bangsa lebih membutuhkan pendidikan itu daripada sekadar menerima SPP lebih tinggi dari mahasiswa luar,” katanya.

Puasa Sebagai Kesalehan Sosial

Menjelang bulan suci Ramadan, kegembiraan selalu muncul, hati serasa berbunga-bunga menyambut kedatangannya. Tiba-tiba muncul bayangan dan kenangan suasana Ramadan yang lalu. Meski sudah setahun lewat, rasanya Ramadan tahun lalu baru kemarin. Jarak waktu menjadi hilang ketika bentangan waktu antara dua Ramadan disambung dengan kegembiraan dan kenangan yang begitu indah, agung, dan anggun.

Kini datang lagi Ramadan. Rekaman dan kenangan indah muncul kembali,dan semua itu ingin diulang dan dirayakan dalam suasana hati yang damai. Memasuki Ramadan bagaikan melangkah menuju oase penyejuk dahaga dan tempat istirahat setelah terkurung dalam hiruk-pikuk dan keluh kesal melihat kehidupan sosial politik yang kurang menjanjikan bagi hari esok. Memasuki Ramadan bagaikan menyelam dalam kolam perdamaian dan penyucian diri. Kita merasa antusias dan bangga menemukan kembali kefitrian dan jati diri yang senantiasa damba pada kebaikan,kebenaran, dan suasana intim dengan Tuhan Sang Pencipta.

Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu.

Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari”.

Efek Sosial Puasa

Ada tiga aspek yang bisa diamati sebagai buah dari puasa, yaitu kesehatan fisik dan mental serta kesalehan sosial. Ketiganya bisa diamati dengan pendekatan medis dan psikologis, apakah efek yang ditimbulkan puasa bagi seseorang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental.

Namun, menyangkut aspek metafisik-spiritual, hal itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena seseorang tidak punya kewenangan dan kemampuan untuk mengukur keikhlasan dan ketakwaan seseorang. Tak ada yang tahu kualitas dan kedalaman puasa seseorang kecuali Allah. Dan sungguh, ketika menjalani puasa, seseorang merasakan betul kehadiran Allah di mana pun ia berada sehingga ia senantiasa berlaku jujur, senantiasa menyebarkan vibrasi kebaikan dan kedamaian.

Efek sosial-psikologis puasa mudah sekali kita amati dan rasakan terutama selama bulan Ramadhan. Tibatiba kita menemukan aura spiritual yang begitu kental dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat. Televisi serta radio pun berlomba menyajikan acara keagamaan semenarik mungkin.

Tiba-tiba kita merasakan terjadinya perubahan amat drastis, mayoritas masyarakat Indonesia berubah menjadi santun, mampu menahan diri, jujur, dan tidak ingin menyakiti orang lain. Pendeknya, selama Ramadhan kita menemukan masyarakat yang beradab dan religius.

Hakikat puasa

Pada hakikatnya Ramadan melatih seseorang untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istikamah, menerapkan pola hidup selektif, yang diharapkan terus berlanjut secara sinambung pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, di samping sebagai ibadah habl min Allah pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, tak pelak lagi, sepanjang bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah social.

Dengan demikian, seperti disinggung di atas, di samping sebagai aktivitas fisik, puasa juga secara sekaligus sebagai aktivitas psikis dan sosial. Secara fisik, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kontak seksual semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara psikis, ini berarti penahanan diri dari upaya memanjakan gelora hawa nafsu yang dapat berimplikasi buruk pada dirinya. Dan, secara sosial, kata Hasan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan. Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadan bahkan sejak awal memasuki Ramadhan sudah terlihat kepekaan itu dengan berbuka bersama di Masjid-masjid, di suarau, di kantor bahkan di jalan-jalan, dan semakin lama semakin terasa rasa kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan kita pada sesama.

Sikap hidup dengan cita rasa kemanusiaan yang tinggi inilah yang disebut dalam Kitab Suci sebagai al’aqabah, jalan yang sulit (tapi mulia dan benar) yaitu perjuangan untuk membebaskan kaum mustadh’afin (orang-orang yang terbelenggu dan tertindas).

Sebab, ibadah ritual apa pun, tak terkecuali ibadah puasa, dalam pandangan Islam tidak memiliki nilai apa pun kalau tidak mempunyai dampak positif, secara internal pada dirinya dan secara eksternal pada orang lain sekaligus. Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh Umar ibn Khattab tatkala mengatakan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam.

Demikianlah, menurut Al Quran, satu hikmah puasa adalah untuk mendidik jiwa agar mencapai derajat takwa, pribadi yang mampu menahan diri dari berbagai godaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, lagi-lagi, pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa-ibarat baterai telepon seluler-daya setrumnya hanya bertahan sebulan? Bukankah mestinya puasa sebulan memiliki daya setrum penyebar kebajikan setidaknya selama setahun? Ini dikarenakan kebanyakan dari orang yang berpuasa pada realitasnya hanya pada puasa syariat, bukan puasa khakikat.

Menurut Imam Al-Gazali, puasa ada tiga tingkatan yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang super khusus. Puasa orang awam, menahan perut dan kemaluan terhadap menurunkan syahwat. Puasa orang khusus ialah menghindari pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota tubuh dari berbagai dosa. Sedangkan puasa orang super khusus ialah puasa hati dari berbagai keingian yang rendah dan pikir-pikir yang tidak berharga, menahan hati dari selain Allah secara total. Puasa orang awan baru sebatas puasa syariat, sedangkan puasa orang khusus dan puasa orang super khusus sudah masuk kategori puasa hakikat.

Pseudo-religius

Pada hemat saya, memahami agama dalam konteks syariatnya saja amatlah berbahaya karena akan menjerumuskan kita pada keberagamaan yang palsu (pseudo-religius: al-tadayyun al-zâ’if) Nasr, Seyyed Hossein (1993). Gejala “pseudo-religius” ini memiliki beberapa pola. Pertama, keberagamaan yang dibangun untuk tujuan penyucian diri dan pengampunan diri. Tujuan dari keberagamaan ini adalah kemaslahatan diri sendiri agar terbebas dari dosa dan siksa secara syariat. Kedua, keberagamaan sebagai pelarian dari krisis-krisis sosial. Jika pola keberagamaan pertama (penyucian dan pengampunan) dilakukan oleh para pelaku (subyek) dosa sosial, pola keberagamaan kedua ini menimpa para korban (obyek) dosa sosial. Ketiga, keberagamaan yang utopis dan ilusif sebagai pemenuhan harapan-harapan manusia. Pola keberagamaan ini juga muncul karena tidak mampu menyelesaikan krisis sosial yang berlarut-larut.

Puncak Puasa

Puncak dari ibadah puasa adalah pencapaian derajat taqwa oleh orang-orang beriman yang memenuhi seruan Ilahi untuk melaksanakan kewajiban mulia yang penuh cobaan di bulan Ramadhan ini (QS. Al-Baqarah [2]:183). Taqwa sendiri juga merupakan perlambang bagi tingkat kemuliaan tertinggi seorang hamba di tengah segala makhluk, inna akramakum ‘inda Llahi atqakum, sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu (QS. Al-Hujarat [49]:13)

Derivasi paling mencolok yang diharapkan muncul dari taqwa sebagai buah dari puasa adalah kesadaran sosial akan nasib dan penderitaan sebagian besar kelompok masyarakat yang masuk dalam kelompok fakir, miskin, dhuafa’, dan mustadh’afin. Mereka inilah kelompok yang secara sosial dan ekonomi lemah dan tidak berdaya sehingga posisi dan eksistesinya sama sekali tidak diindahkan oleh golongan masyarakat di atasnya yang memiliki lebih banyak sumber daya. Tak heran jika kelemahan ini bukan hanya bersifat duniawi berupa kekurangan pada materi, tetapi juga kekurangan ukhrawi yang membuat mereka rentan dengan kekufuran. Sabda Nabi Saw : “Kaada al-faqru an yakuuna kufran” hampir-hampir kefakiran membawa seseorang pada kekufuran.

Islam sebagaimana agama samawi lainnya turun dengan misi sosial demi menjamin terpenuhinya hak-hak kaum tertinggal, tertindas dan terpinggirkan semacam itu. Jika Nabi Musa as melawan tirani bernama Firaun untuk membebaskan Bani Israel, maka Nabi Muhammad Saw juga harus berhadapan dengan Kafir Quraisy yang begitu dominan secara ekonomi dan politik, namun enggan membantu bahkan terkesan menikmati kesusahan hidup masyarakat miskin dan kekurangan di sekitarnya, demi melanggengkan hegemoni dan kekuasaan mereka.

Di bulan Ramadhan ini sebagai generasi intelektual yang selalu bergerak melakukan fungsi-fungsi sosial-kemasyarakatan, dimana harus turut serta mengambil bagian dalam peran-peran sosial di lingkungan masing-masing, di komunitas masing-masing, peran-peran perkaderan yang selalu memberi spirit dan keilmuan pada diri dan orang-orang disekitarnya, namun peran-peran perjuangan pun harus tetap berjalan beriringan demi terbentuknya masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan berpradaban menuju masyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt.

Alhamdulillah, Ramadan sudah di ambang pintu, menyapa dan memeluk kita semua. Kita bertemu kembali dengan tamu agung yang membawa berkah ilahi. Selamat datang Ramadan. Semoga kami bisa menyiapkan hati, pikiran, dan fisik untuk menerima piala keutamaan seribu bulan yang engkau usung dari langit suci.

Oleh: M. Chozin Amirullah Ketua Umum PB HMI (MPO)

Gaya Orde Baru Jika Dakwah Diawasi

Langkah Kepolisian yang akan mengawasi aktivitas dakwah di Bulan Ramadhan menuai kecaman. Ketua PB HMI MPO, M Chozin mengatakan langkah kepolisian tersebut dinilai terlalu berlebihan. Chozin menilai ceramah agama yang dikontrol tak ubahnya seperti cara-cara yang pernah dilakukan pada jaman orde baru.

Langkah polisi untuk mengawasi aktivitas dakwah di berbagai tempat ibadah dan sejumlah lokasi lain yang dijadikan dakwah sebelumnya dikatakan oleh Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Jakarta Jumat (21/8/2009). Kepolisian berdalih tindakan ini untuk mencegah dakwah yang menjurus pada tindakan-tindakan provokatif.

Tindakan polisi ini dilakukan setelah terungkapnya para pelaku pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Kuningan Jakarta. Beberapa orang yang terlibat diketahui sebagai dai yang sering berdakwah di masyarakat, seperti Saefuddin Jaelani.

Kepolisian akan menindak tegas apabila menemui aktifitas dakwah yang bersifat provokatif selama bulan Ramadhan. (redaksi)

Selama Ramadhan, Masyarakat Diminta Cegah Kemaksiatan

Puluhan aktivis dari berbagai elemen mahasiswa Islam dari sejumlah kampus di Jakarta, kemarin melakukan aksi simpatik, menyeru kepada semua elemen masyarakat untuk menghormati datangnya bulan suci Ramadhan di bundaran Hotel Indonesia, Sabtu (22/08). Mahasiswa juga mengajak masyarakat agar memerangi segala bentuk kemaksiatan.

Aksi simpatik sambut Ramadhan itu, melibatkan Forum Silahturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) se-Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadyah (IMM) UMJ, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Jakarta,dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Menurut Subhan Djamal, Koordinator lapangan aksi, bulan Ramadhan adalah bulan perubahan sehingga harus disambut dengan penuh suka cita dan bebas dari kemaksiatan, sehingga spirit perubahan dari Ramadhan itu bisa ditunjukan dalam semangat kebersamaan, semangat kolektif dan keumatan.

“Karena itu kami menyerukan agar semua umat untuk menolak segala bentuk kemaksiatan. Seluruh elemen masyarakat juga harus berpartisipasi dalam gerakan stop maksiat sekarang juga,” katanya dalam orasi.

Para aktivis mahasiswa ini juga mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut bulan suci ini dengan perasaan suka cita dan mengisinya untuk memperbanyak amal ibadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Menurut mereka, itu semua dapat terwujud dengan meningkatkan keimanan dan mencegah segala bentuk kemaksiatan yang dapat merusak ibadah kita.

Mereka juga mendesak kepada pemerintah untuk menutup tempat-tempat yang dipakai untuk ajang kemaksiatan seperti lokalisasi dan tempat-tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan. (Rita Z)

Aksi Damai HMI Cabang Jayapura, Merdeka…!!!

HMI Cabang Jayapura, dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 64 Tahun dan Milad HMI Cabang Jayapura ke 6 Tahun, melakukan Aksi Damai dengan membagikan bendera mini Merah Putih dan selebaran kepada pemakai jalan di Pertigaan Entop Jayapura (Senin, 17 Agustus 2009). Aksi tersebut dilaksanakan saat selesainya Upacara Kemerdekan RI ke 64 Tahun yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Papua.

Aksi damai, dengan tema I Love You Full Indonesian. Agenda aksi ini sangat penting bagi Kader-kader HMI, bahwa gejolak di Tanah Papua mulai meruntuhkan semangat Nasionalisme Rakyat Indonesia. Mengapa? Karena disebabkan ketidakberhasilan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam mengakomodir kepentingan rakyat dan menjalankan proses pembangunan dengan baik. Terisolasinya warga asli Papua di pedalaman-pedalaman papua, disebabkan oleh adanya keterlambatan pembangunan merupakan suatu dampak yang sangat merugikan. Sedangkan sumber daya alam begitu melimpah ruah di Tanah Papua.

Dalam selebaran yang dibagikan memuat pesan-pesan moril akan rasa kecintaan terhadap bangsa dan Negara ini, dan juga mengingatkan kalangan pejabat daerah, elit-elit politik daerah dan seluruh masyarakat bahwa keberhasilan akan suatu pembangunan itu akan terwujud, jika semua komponen yang berkompeten saling bahu-bahu dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang baik, adanya fungsi kontrol dari masyarakat dan keterbukaan pemerintah baik daerah maupun pusat dalam setiap program & kebijakan pembangunan.

Dari tahun ke tahun Negara ini, selalu melaksanakan upacara kemerdekaan. Namun hal itu hanya bagaikan sebuah ritual ibadah kenegaraan. Tapi, kesadaran kemerdekaan hanya sebuah khayalan masyarakat jelata. Ketika ada kesadaran bangsa ini akan lebih baik. Tegas, Mantan PJ. Ketua Umum HMI Cabang Jayapura Periode 2008-2009 dalam orasinya. Dalam orasinya juga, Anhar, menegaskan bahwa Tanah Papua saat sekarang menjadi sorotan dunia internasional dalam memainkan peran bergaya kapitalis dan sosialis demi kepentingan akan sumber daya alam dan merupakan suatu wilayah strategis dalam membangun armada militer Negara-negara Imperialis. Maka, masyarakat diingatkan (khususnya warga asli papua) agar jangan terprovokasi dengan isu-isu yang dimainkan selama ini. Dan Ingat bahwa Tanah Papua, adalah tanah bersejarah yang damai dengan kasih dan cinta. Dan juga masyarakat Adat telah mengetahui bahwa Tanah Papua memiliki hubungan histories dengan Kesultanan Tidore sebagai wilayah pemerintah pertama di Soa-sio (Sekarang Kota Tidore Kepulauan), dimana Sultan Tidore sebagai Pemimpin yang bijak & arif telah mengkondisikan Tanah ini sebagai tanah yang penuh akan kecintaan dan kedamaian. Pendapat lain, Syamsul Ali Jetro (Kabid Peng. Wil. I HMI Badko Cendrawasih) mengatakan, dengan momentum ini kepada Pemerintah Daerah agar lebih serius dalam mengembangkan Pendidikan di Tanah Papua khususnya dan juga Pemerintah Pusat, jangan hanya menjadikan slogan untuk kepentingan semata. Sangat disayangkan ketika, setiap iklan pendidikan yang di buat departemen pendidikan nasional begitu menghabiskan anggaran, namun realita dilapangan berlaku lain.

Dan juga Ketua Umum HMI Cabang Jayapura (Khairul Anam) menegaskan, bahwa aksi ini merupakan bentuk keterpanggilan mahasiswa sebagai generasi muda akan rasa kecintaannya kepada Ibu Pertiwi Tanah Air Ku Indonesia. (AR7)

Masa Transisi tak Seharusnya Mengurangi Keseriusan DPR Bahas RAPBN 2010

Masa transisi dan hampir selesainya masa jabatan DPR RI tidak seharusnya mengurangi keseriusan Panitia Anggaran DPR RI dalam membahas RAPBN 2010. Panitia anggaran DPR harus serius mambahas RAPBN 2010 agar kepentingan untuk mensejahterakan rakyat  tidak tergadaikan.  APBN merupakan instrumen kebijakan fiskal yang sangat penting, yang memiliki fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Besaran pendapatan, belanja, dan defisit anggaran secara langsung akan mempengaruhi kinerja perekonomian dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, baik pada tahun berjalan APBN bersangakutan ataupun pada tahun-tahun yang akan datang.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Komisi Ekonomi PB HMI (MPO) dalam rilisnya menanggapi pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 2010, bahwa penyusunan RAPBN 2010 di hadapan anggota DPR, 3 Agustus silam.

Dalam pidatonya,  Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 2010, menyatakan bahwa penyusunan RAPBN 2010 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, RAPBN 2010 merupakan RAPBN transisi yang disusun oleh pemerintahan yang sedang mengemban amanah saat ini, untuk dilaksanakan oleh pemerintahan yang baru hasil Pemilu tahun 2009. Oleh karena alasan masa transisi itulah, atas kesepakatan bersama antara Pemerintah dan DPR RI, penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN 2010 diajukan menjadi tanggal 3 Agustus, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu tanggal 16 Agustus.

Menurut Ayib, dalam membahas RAPBN 2010, Panitia Anggaran DPR RI harus berhati-hati dalam menetapkan asumsi makro ekonomi. Asumsi makro ekonomi merupakan acuan yang dijadikan dasar penentuan pendapatan, belanja, dan defisit dalam APBN. Ketidaktepatan dalam menentukan sebagian atau keseluruhan asumsi makro ekonomi akan berdampak pada realiasi pendapatan, belanja, dan defisit APBN. Panitia Anggaran DPR RI perlu berhati-hati dan cermat dalam membaca kondisi ekonomi pada tahun 2010, sehingga asumsi makro ekonomi yang dihasilkan nantinya adalah asumsi makro ekonomi yang realistis, tidak hanya berdasar pada keinginan atau harapan semata.