Gerakan Pemuda dan Mahasiswa dalam Transisi

Sekarang ini gerakan mahasiswa banyak dikritisi oleh karena penurunan kualitasnya yang dianggap cukup signifikan bila disbanding dengan gerakan-gerakan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya polarisasi peta-peta gerakan dalam internal Mahasiswa itu sendiri. Polarisasi ini terjadi karena para mahasiswa  lebih mengedepankan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan sosial secara universal. Dalam jangka panjang, hal ini akan mengakibatkan perjuangan gerakan mahasiswa keluar jalur, karena tidak lagi konsisten dalam perjuangan.

Itulah hasil kesimpulan dari diskusi yang diselenggarakan GMPI (Gerakan Mahasiswa Pelajar Indonesia) pada hari Rabu (9/9/09) di sebuah café di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta.

Diskusi yang mengusung tema “Arah posisi Gerakan Mahasiswa terhadap pemerintahan SBY-Boediono” menghadirkan lima pembicara mewakili organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Salah satu pembicara utama adalah Ketua Umum PB HMI-MPO, M. Chozin Amirullah yang menyampaikan mengenai perlunya sikap independensi gerakan mahasiswa ditengah kuatnya pusaran tarik-menarik dengan Negara (kekuasaan). Adapun pembicara lain adalah Danial Nafis  dari GMPI, Rully dari GMNI dan dari PMII. Turut berbicara juga Rahman Toha, mantan Ketua Umum KAMMI.

Disampaikan bahwa pemerintahan sekarang pada hakikatnya tidaklah jauh beda dengan rezim orde baru yang cenderung otoriter; bahkan bisa dikatakan pemerintahan orde baru jilid dua yang menggunakan kekerasan secara halus hingga kita tidak sadar dibuatnnya. Kita dinina-bobokan dengan serangan kapitalisme dan neoliberalisme: di luarnya berbau wangi didalamnya penuh dengan bakteri,  dimana orentasinya lebih kejam dari penjajahan fisik jaman belanda dan portugis dulu.

Ketika kita membandingkan antara gerakan mahasiswa angkatan 66, dan zaman Roformasi dengan kondisi sekarang ini sungguh sangat jauh harapan kita. Sekarang, justru gerakan kita sebagai Mahasiswa sangat menurun drastis padahal kalau dipikir mustinya mahasiswa mampu bekerja lebih dua kali lipat dibanding dengan masa lalu. Marilah kita kembali melirik sejarah gerakan  mahasiswa dari angkatan 66 telah berhasil menghabisi unsur-unsur orde lama, berhasil membubarkan PKI dan antek-anteknya, berhasil menghabisi Soekarno yang berkuasa selam 22 tahun. Watak gerakan mahasiswa yang ”Revolusioner” pada angkatan 98 telah sukses menunaikan tugasnya menjungkirkan Soeharto dari kursi kekuasaannya yang telah didudukinya selama 32 tahun adalah sebuah prestasi yang sangat spektakuler.

Zaman ini, kita sebagai gerakan mahasiswa musti menyusun strategi gerakan baru dalam mengontrol pemerintahan SBY-Boediono (2009-2014). Caranya, kita musti mengkonsolidasikan gerakan agar orientasi gerakan kita semakin terara dan tersistematis. Selanjutnya dalah proses penyadaran masyarkat dengan learning society (pembelajaran masyarakat) dari segala bidang agar sadar dan tidak dibodohi terus menerus.

Tetapi yang harus kita garis bawahi adalah agar gerakan kita masih dalam koridor ilmiah, bukan gerakan proyek yang di luar berwajah aktivis namun di dalamnya berisi coorporasi. Gerakan mahasiswa harus mampu menyentuh kepada level politik masyarakat bawah  dengan komitment moral yang kuat. (Herman)