HMI-MPO Minta Chandra dan Bibit Dibebaskan

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) meminta dua orang mantan pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto yang ditahan polisi dibebaskan.

HMI MPO M menyebut dua orang mantan pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto itu para pendekar berwatak baik yang sekarang sedang berjuang menegakkan keadilan di bumi pertiwi ini. Semantara para aktor di Kepolisian adalah mewakili para pendekar berwatak jahat, yang arogan dan mencoba memperkosa hukum di negeri ini dengan atas nama penegak hukum.

“Penahanan Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto oleh pihak kepolisian dengan alasan yang dibuat-buat adalah bukti betapa para pendekar berwatak jahat masih dengan leluasa menggunakan institusi-institusi negara untuk melakukan persekongkolan-persekongkolan jahatnya,” kata Ketua Umum

PB HMI MPO  M. Chozin Amirullah.

Dalam Siaran Persnya, HMI MPO menyatakan tidak percaya kepada POLRI sebagai lembaga penegak hukum.   Mereka menilai  Polri telah menjadi lembaga para bandit yang bersekongkol untuk mengangkangi hukum di Indonesia.

“Usut para pelaku persekongkolan jahat tersebut, copot dari jabatannya, dan jembloskan mereka ke penjara, karena mereka adalah para pendekar berwatak jahat yang akan merusak negara,” tegas Chozin.

HMI MPO meminta agar segala bentuk kriminalisasi terhadap KPK oleh Polri dihentikan. “Sebagai lembaga yang merupakan anak reformasi, KPK adalah tumpuan bagi masyarakat untuk pemberantasan korupsi di Indonesia,” kata Chozin. (Muhammad AS)

Nasionalisme Pemuda Rendah, Masa Depan Bangsa Terancam

Masa depan bangsa Indonesia terancam suram akibat rendahnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda. Kian tahun, momentum peringatan Sumpah Pemuda yang menjadi awal lahirnya nasionalisme dikalangan pemuda semakin diabaikan. Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan. “Pemuda  seharusnya menjadi pelopor dalam membangun semangat perjuangan, tetapi justru kenyataannya kini justru jatuh ke jurang materialisme yang tak terkontrol,” kata Ketua Umum PMII, Muhammad Bukrata kepada Hminews, Kamis(29/10)

Menurut Bukrata sumpah pemuda yang telah diperjuangkan oleh berbagai elemen pemuda pada Kongres Pemuda II di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Jakarta Pusat pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu perlahan-lahan mulai punah.” Saat ini anak muda sudah tidak peduli lagi dengan  nilai sumpah pemuda”,Ujarnya
Bukrata  juga sangat menyayangkan  banyaknya pemuda Indonesia yang perlahan-lahan mulai meninggalkan kebudayaan Indonesia.

“Sangat sedikit kalangan pemuda yang menaruh perhatian pada masalah bangsa, karena mereka lebih tertarik pada kehidupan hedonis”, cetusnya

” Kita bisa melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda bangsa ini,bahkan dengan mudah kita membiarkan kebudayaan bangsa kita diambil oleh bangsa lain, kalangan pemuda semestinya sadar, masa depan negara ini tergantung pada kita, apa jadinya negara ini jika kita tak peduli, tambahnya lagi dengan nada kecewa,”

Bukrata mengajak berbagai  kalangan pemuda untuk lebih memaknai sumpah pemuda dengan  membangkitkan kembali nasionalisme sekaligus jiwa kepeloporan pemuda yang disertai dengan nilai-nilai agama. Menurutnya bangsa kita sangat membutuhkan generasi muda yang cerdas dan setia kepada bangsa dan negara. Selain itu, dia juga berpesan  kepada seluruh aktivis pemuda dan mahasiswa  agar benar-benar menjalankan komitmennya untuk menjaadi generasi penerus bangsa yang akan mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Sementara itu, Ahmad Husni, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI DIPO), menyatakan saat ini telah terjadi pergeseran nasionalisme. menurutnya  pemuda Indonesia kurang memahami wawasan kebangsaan. Itu semua terjadi karena pemerintah tidak memberikan ruang gerak yang cukup kepada para pemuda.

“Pemuda Indonesia masih cukup potensial untuk membangun bangsa ini, akan tetapi kita tidak diberikan kesempatan oleh pemerintah, saya berharap di moment peringatan sumpah pemuda ini, pemerintah mulai membuka kesempatan bagi generasi muda untuk melestarika kembali nilai nasionalismem,” uja Husni. (Rita)

Pemuda dan Kartun “Tom And Jerry”

Tepat tanggal 28 Oktober 2009, secara nasional diperingati sebagai hari sumpah pemuda. Tepat 81 Tahun yang lalu, para pemuda Indonesia berkumpul dan mendeklarasikan sumpah pemuda. Perjalan waktu yang sudah menginjak usia 81 sejak dideklarasikan pada tanggal 8 Oktober 1928 telah mengalami banyak perubahan. Semangat sumpah pemuda tidak lagi menjadi perekat antar pemuda Indonesia sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda pada tahun 1928.

Seiring perjalanan bangsa Indonesia sejak masa-masa kolonialisme sampai merdeka pada tahun 1945 hingga saat ini, peran serta pemuda cukup mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini. Pemuda mampu mengambil peran disetiap penggalan sejarah bangsa Indonesia. Di awali dari deklarasi sumpah pemuda, pemuda terus memperlihatkan peran yang signifikan dalam setiap fase yang dilewati bangsa Indonesia ini. Pada tahun 1945, saat Jepang kalah dalam perang Dunia ke -2, pemuda melakukan gerakan untuk memaksa para petinggi negeri untuk menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan para pemuda “memaksakan diri” disaat para petinggi negeri masih ragu, dengan cara “menculik” mereka dan mendesak segera di menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehingga mau tidak mau, Soekarno atas nama rakyat Indonesia pada pagi harinya membacakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang disambut dengan suka cita oleh seluruh pemuda dan rakyat Indonesia.

Penggalan sejarah lainnya, bisa kita lihat ketika gerakan mahasiswa tahun 1966, yang menuntut pemerintah Soekarno untuk memenuhi tiga tuntuntan rakyat. Sementara gerakan pemuda dan mahasiswa yang paling mempengaruhi perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini adalah gerakan mahasiswa pada Tahun 1998 yang berhasil menjatuhkan pemerintah otoriter yang dipimpin oleh Soeharto.

Penggalan-penggalan sejarah tersebut, memperlihatkan peran pemuda dan mahasiswa dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Tidak bisa dipungkiri peran yang diambil oleh pemuda merupakan peran-peran yang cukup vital sehingga mampu melakukan perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam setiap gerakan dan aktifitas yang dilakukannya.

Meskipun demikian, peran-peran faktor eksternal yang mengikuti setiap gerakan pemuda tidak bisa diabaikan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa, gerakan yang dibangun oleh pemuda, selalu diawali peristiwa yang mendukung dilakukannya gerakan untuk menuntut perubahan. Kemerdekaan Indonesia misalnya juga disebabkan kekalahan kolonial Jepang terhadap tentara sekutu dalam perang dunia II. Pun demikian dengan gerakan tahun 66, dimana pemerintah Soekarno yang cukup mengakomodir paham Komunis serta kondisi perekonomian Indonesia yang semakin memburuk. Serta, gerakan reformasi pada tahun 1998, yang di awali karena ingin mengakhiri pemerintahan otoriter Soeharto serta ditambah krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Melihat penggalan-penggalan sejarah yang ditorehkan oleh pemuda dalam mengawal perjalan bangsa ini, muncul satu pertanyaan, yaitu, mengapa pemuda dan mahasiswa mampu bersatu dalam masa-masa sulit namun disaat kondisi sudah membaik, pemuda seakan tidak mampu berbuat banyak bahkan terpecah dalam beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan masing-masing? Ketika kepentingan kelompoknya berlawanan dengan kelompok lain maka, persaingan antar kelompok pemuda tak bisa dihindari.
Beberapa tahun terakhir misalnya kita melihat pertikaian antar kelompok dan organisasi pemuda hanya karena berebut daerah kekuasaan. Tawuran pelajar dan mahasiswa yang semakin sering terjadi baik antar sekolah dan universitas maupun sesama pelajar dan mahasiswa dalam satu sekolah atau universitas.

Drama Tom And Jerry

Film kartun Tom and Jerry adalah film kartun yang sudah lama diputar media televisi Indonesia. Film ini memperlihatkan bagaimana persaingan antara si Tom (Tikus) dan Jerry (kucing). Hampir setiap pagi, penonton televisi akan melihat adegan-adegan lucu dan konyol yang terjadi antar mereka berdua.

Dalam beberapa episode, Tom dan Jerry bisa memperlihatkan keakraban dalam hubungan pertemanan mereka. Namun, pada episode yang lain, mereka akan menjadi musuh satu dengan yang lain. Kerja sama antar mereka akan terjalin bilamana mereka satu musuh bersama (common enemy) yang mengganggu hubungan mereka dan membuat mereka tersingkir dari rumah yang mereka tempati. Akan tetapi saat kondisi kembali normal, layaknya tikus dan kucing dalam alam nyata yang tidak pernah akur, pun demikian dengan kehidupan mereka. Mereka akan kembali pada fitrah mereka yang selalu bermusuhan.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita bisa berkaca pada kartun Tom and Jerry. Menurut penulis itulah yang terjadi dengan pemuda saat ini. Ada satu persamaan antara kondisi yang dialami oleh pemuda dengan kondisi yang terjadi dalam hubungan antara Tom and Jerry. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa, Tom and Jerry akan bersatu bila ada musuh bersama yang mengganggu hubungan mereka. Pun demikianlah kondisi yang dialami oleh gerakan pemuda dan mahasiswa. Jika ada musuh bersama, para pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi akan menyatukan diri untuk melawan musuh bersamanya. Kita bisa lihat dari penggalan-penggalan sejarah yang sudah disebutkan diatas. Selalu ada objek yang menyertai gerakan yang dibangun oleh pemuda dan mahasiswa.

Saat musuh bersama tidak ada lagi, maka yang terjadi adalah pertikaian antar kelompok pemuda itu sendiri. Kita bisa saksikan fakta yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, sejak reformasi bergulir, pertikaian antar mahasiswa sering kali menjadi berita di media, baik itu media cetak maupun elektronik. Hal ini menandakan mahasiswa dan pemuda tidak lagi satu visi dalam mengawal perjalanan bangsa ini kedepan. Tidak hanya itu, problem-problem kepemudaan bahkan menjadi hal yang harus ditangani secara serius. Artinya pemuda tidak lagi menjadi pemberi solusi terhadap permasalahan yang ada, tapi saat ini menjadi sumber masalah baru yang harus di carikan solusinya.

Oleh : Sunardi Panjaitan (Mantan Ketum HMI Jaksel)

Mahasiswa Tolak Kenaikan Gaji Menteri

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) Cabang Jakarta melakukan aksi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/10). Mereka melakukan longmarch dari Mesjid Istiqlal, Jakarta ke Istana negara.

Aksi ini merupakan bentuk ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang akan menaikan gaji menteri. Koordinator aksi, Firas Tu Iman, mengatakan menaikkan gaji menteri yang baru menjabat selama satu minggu merupakan tindakan yang sangat menyakiti hati masyarakat Indonesia.

Dalam aksinya, para nahasiswa juga menolak kebijakan menteri rangkap jabatan dan kebijakan Presiden SBY yang akan mengangkat wakil menteri.

Menurut Firas rangkap jabatan menunjukkan tidak adanya profesionalisme dari kalangan menteri. “Dan itu juga menunjukkan ketidakperpihakan kepada rakyat kecil'” katanya.

Para mahasiswa menganggap pengangkatan wakil menteri hanya merupakan agenda SBY untuk melakukan politik balas budi. (Muhammad AS)

BEM Se – Unsoed adakan Aksi Damai Sumpah Pemuda

Didorong atas fakta bahwa semangat kepemudaan telah tergerus oleh budaya pop sebagai akibat berkembangnya paham kapitalisme dan neoliberalisme, Selasa malam (27/10kemarin ditengah guyuran hujan,  puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM se – Unsoed, Purwokerto mengadakan aksi damai di depan patung Jenderal Soedirman – Unsoed.

Aksi tersebut merupakan refleksi 81 tahun sumpah pemuda yang akan diperingati hari ini (28/10). Dalam orasinya para mahasiswa mencoba menyadarkan kembali akan peran penting yang seharusnya dimainkan oleh para pemuda, bukan hanya dulu ketika zaman penjajahan namun juga hingga saat ini.

“Peran vital pemuda harus selalu ditunjukkan dalam mengawal jalannya kehidupan bernegara, kita harus selalu menjadi oposisi pemerintah yang berkuasa karena kitalah kontrol yang sebenarnya” teriak Jatmono Ketua BEM FISIP Unsoed.

Wa’i humas aksi menuturkan kepada HMINEWS bahwa tujuan aksi ini adalah ingin kembali menggugah kesadaran dan semangat pemuda untuk ikut serta dalam proses pembangunan bangsa. Jangan sampai para pemuda Indonesia cuma bisa diam dan berpangku tangan saat pemuda – pemuda bangsa lainnya berlari menyongsong keberhasilan. Lewat aksi ini para mahasiswa merefleksikan diri bersama untuk bertekad memberantas budaya korupsi, mengukuhkan jati diri bangsa guna menghindari segala bentuk penjajahan, membangun kekuatan ekonomi guna kesejahteraan rakyat Indonesia, serta menjaga kedaulatan NKRI.

Para peserta aksi damai menggunakan baju batik sebagai bentuk tanda dan ungkapan cinta mereka terhadap bangsa Indonesia. Selain berorasi para mahasiswa juga membacakan puisi – puisi perlawanan dan menyalakan lilin di jalan sebagai tanda bahwa aksi tersebut adalah aksi damai. Aksi baru berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. (Citra Banch Saldy)

Peringati Sumpah Pemuda, GMNI Ajak Pemuda Berantas Kemiskinan

Sumpah Pemuda pertama kali dikumandangkan ketika  generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia bertekad kuat  untuk membentuk satu bangsa yang utuh dan bersatu dibawah naungan negara yang merdeka. Tapi, disaat bangsa ini telah merdeka,  generasi masa kini justru semakin enggan ikut serta menyelesaikan berbagai masalah mendasar yang dihadapi bangsa ini, diantaranya masalah pemberantasan kemiskinan dan peningkatan mutu pendidikan.

Demikian dikatakan oleh ketua Gerakan Nasional Mahasiswa Indonesia (GNMI), Malik Ridwan dalam Seminar Sumpah Pemuda di Jakarta, Senin (26/10). Menurut Malik, sudah saatnya generasi muda masa kini mengubah pola pikir dan orientasinya untuk terlibat langsung dalam program pemerintah  dalam usaha pemberantasan kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini.

Dalam kesempatan tersebut Malik juga mengatakan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, harus dijadikan moment penting untuk mengikrarkan kembali sumpah setia memperjuangkan kesejahteraan negara ini . Oleh karena itu, lanjut Malik generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor dalam pemberdayaan masyarakat untuk pemberantasan kemiskinan. “Suatu bangsa tidak akan menderita apabila generasi mudanya adalah generasi yang betanggungjawab, peduli dengan persoalan yang dihadapi oleh bangsanya, dan generasi muda yang kritis dan ingin membangun bangsa atau daerahnya,” tegas Malik.

” Jika kita tidak berpikiran demikian, maka kita harus malu kepada para pendahulu yang rela  berjuang demi persatuan negara ini, meski tanpa fasilitas yang memadai seperti saat ini”, tambah Malik. (Rita Z)

Mahasiswa Semarang Gelar Refleksi Sumpah Pemuda

Perasatuan Organisasi Mahasiswa Semarang (POROS), akan mengadakan Diskusi dan Refleksi malam peringatan Sumpah Pemuda ke-81. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 27 Oktober 2009 Jam 20.00 WIB di Taman depan air mancur Jalan Pahlawan. Diskusi ini adalah gabungan beberapa Organisasi Mahasiswa. Diantaranya, HMI Cabang Semarang, IMM Kota Semarang, GMNI Kota Semarang, LMND Kota Semarang, dan PMII Kota Semarang.

Sarasehan Gerakan Pemuda ini menghadirkan pembicara Lukman Wibowo, Tokoh kepemudaan dan aktivis 98, dan Slamet, aktivis LBH Semarang. Refleksi akan mengusung tema “Revitalisasi Gerakan Mahasiswa sebagai gerakan perlawanan di tengan pusaran Demokrasi Indonesia”

Agus Thohir, Koordinator POROS, mengatakan, kegiatan ini diadakan khususnya bagi kawan-kawan gerakan yang  yang masih peduli dengan nasib bangsa dan generasi muda. Pasalnya, kata Thohir, polemik negara semakin berkepanjangan dan ranah strategis sektor riil telah dikooptasi oleh kepentingan asing.

“Ini membuktikan bahwa neoliberalisme telah merasuk hingga relung kehidupan setiap warga negara Indonesia,” kata Thohir. (Hanafi)

neoliberalisme telah merasuk hingga relung kehidupan setiap warga negara Indonesia

HMI Cabang Lebak Datangi Gedung Wakil Rakyat

Himpunan Mahasiswa Islam (MPO) Cabang Lebak mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Lebak, Senin (26/10). Mereka melakukan audiensi dengan pimpinan dan anggota DPRD Lebak perihal rencana pembangunan tempat pengolahan sampah terpadu di Desa Bojong Menteng, Kecamatan Tunjungteja Serang-Banten, yang lokasinya berbatasan langsung dengan tiga desa di Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak.

Selain tujuh orang pengurus cabang, dua orang perwakilan masyarakat dari tiga desa juga ikut beraudiensi dengan pimpinan dan anggota dewan kabupaten Lebak. Menurut Ketua Umum HMI Lebak Deni Sopandi, pembangunan tempat pengolahan sampah yang direncanakan oleh pemerintah daerah Serang tidak hanya menampung sampah di Kabupaten Serang saja, tapi rencananya juga akan menampung sampah dari Ibu Kota Jakarta.

“Lokasi TPSA yang masuk daerah administratif kabupaten Serang, bukan berarti tidak akan menimbulkan persoalan bagi kabupaten Lebak yang lokasinya berbatasan langsung dengan TPSA tersebut. Justru menurut kami ini persoalan serius, karena 3 desa yang berbatasan langsung dengan lokasi pembangunan TPSA akan mengalami kerugian. Karena bau sampah yang ditimbulkan dari TPSA akan merugikan mereka”, ujar Deni Sopandi.

Sementara itu Ketua DPRD Lebak Ade Sumardi, menyatakan akan serius menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang disampaikan HMI. Yang pasti dalam jangka waktu tiga hari kedepan dewan akan langsung turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi obyektif rencana pembangunan TPSA tersebut.

“Jika memang akan merugikan masyarakat sekitar kami dengan tegas akan melakukan perlawanan dan melakukan berbagai upaya hukum untuk menolak pembangunan TPSA di lokasi tersebut”, ujar Ade.

Menurut salah satu mantan pengurus Cabang HMI Lebak Yaya Hudaya Firdaus, pihaknya bersama-sama dengan HMI Serang dan masyarakat kecamatan Tunjungteja sebenarnya telah beberapa kali turun aksi di Serang untuk mengadukan persoalan ini. Namun sampai hari ini tidak ada solusi cerdas yang dapat membatalkan rencana pembangunan TPSA tersebut.

Bahkan berbagai elemen kritis di Serang juga sudah melakukan kajian mendalam tentang rencana Pemda Serang tersebut. Dalam persfektif mereka, pembangunan TPSA di desa Bojongmenteng, tidak layak dan akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (Mastur Huda)

Pelantikan SBY – BOEDIONO di Yogyakarta Diwarnai Aksi Mahasiswa

Berbagai elemen mahasiswa ramai-ramai turun ke jalan saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) karena (20/10) dilantik menjadi Presiden untuk kedua kalinya.

Mahasiswa dari berbagai organisasi kampus di Yogyakarta ini membawa tuntutan yang berbeda-beda namun bertema dengan isu yang hampir sama. Mereka antara lain (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM), Forum Mahasiswa Nasional (FMN), dan Himpunan Mahasiswa Islam (MPO). Mereka menganggap pemerintahan SBY jilid dua penuh dengan rekayasa, tidak akan ada perubahan dan rakyat akan tetap miskin.

Mahasiswa yang tergabung dalam IMM menyatakan bahwa pelantikan Presiden SBY ini tidak memperlihatkan sebuah kemerdekaan satu bangsa. Namun justru menunjukkan dimulainya babak baru “permainan politik” dengan menutupi kebobrokan pemerintahan dengan isu-isu yang tidak bermutu.

“Negara ini berlimpah banyak emas dan bahan tambang lainya juga terdapat dibumi kita. Semua itu adalah milik rakyat Indonesia. Tapi mengapa masih banyak rakyat miskin bertebaran di negri ini,” teriak salah satu kordinator IMM). “Mengapa harus membuat UU yang justru membolehkan asing mengacak acak kekayaan alam kita.” ujarnya menambahkan.

Sementara itu mahasiswa yang  tergabung dalam FMN mengaggap pelantikan presiden dan wakilnya ini dilakukan di tengah mandeknya penyelesain hukum kasus Bank Century yang merugikan negara sebesar 6,7 triliun. Mereka menduga pejabat pemerintahan SBY terlibat dalam kasus ini ermasuk Wakil Presiden Boediono yang dilantik.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Cabang Yogyakarta melakukan aksi turun jalan di jalan-jalan protocol Jodjakarta. Mereka melakukan logmach dari Tugu Jogja sampai kantor Pos Pusat Jl. Malioboro Yogyakarta. Sebelumnya masa HMI ini juga melakukan orasi di Kantor DPRD Yogyakarta dan disambut Wakil Ketua DPRD Yogyakarta.

Setelah mereka melakukan orasi di gedung DPRD Yogyakarta masa aksi HMI melanjutkan orasinya di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret dan membacakan peryataan sikap.

Massa dari HMI-MPO Cabang Yogyakarta menuntut agenda 100 hari pertama SBY-Boediono dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Mereka menuntut pengembalian fungsi KPK seperti yang diamanatkan oleh reformasi, memecat Susno Adji dari jabatannya sebagai Kabagreskrim POLRI.

Mereka juga menuntut Pemerintah SBY mengusut tuntas kasus Bank Century yang telah merugikan negara, menyelesaikan kasus pelanggaran HAM seperti kasus Munir dan penculikan aktivis pada zaman orde baru, serta mencabut UU BHP dan UU Penanaman Modal Asing

Ketua HMI-MPO Cabang Yogyakarta, Danag Tri Hartanto mengatakan apabila SBY-BOEDIONO tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut pada 100 hari pertama, maka  SBY-BOEDIONO dianggap “gagal” dan tidak berhak melanjutkan kepemimpinan bangsa. (Ismail)

Setoran Wajib Bagi Sang Pemimpin

Sehari setelah musibah kebakaran yang menghanguskan 113 rumah, 10 leuit (lumbung padi; red) dan merusak 40 leuit lainnya. Bupati Lebak H. Mulyadi Jayabaya, menggelar acara pernikahan anaknya dengan meriah dan mewah. Dia mungkin sudah merencanakan pesta pernikahan anaknya tersebut jauh hari, sebelum musibah  menimpa warganya, dan tentu tidak ada maksud untuk menari diatas penderitaan warganya tersebut.

Tidak ada yang berbeda memang dengan resepsi pernikahan anak para pejabat pada umumnya, Namun ditengah derita komunitas adat masyarakat Baduy hal itu menjadi sesuatu yang berbeda. Apalagi berdasarkan sumber yang dapat dipercaya pesta yang digelar oleh sang Bupati melibatkan semua pejabat eselon IV di jajaran pemerintahan daerah.

Pada H-1 pada saat kebakaran terjadi Mobil mewah ber-plat (warna) darah (rakyat) hilir mudik melaju ke arah kediaman sang Bupati. Menurut salah satu warga yang ada dijalur tersebut “Saya hitung sudah 4 kali mobil-mobil mewah tersebut berkonvoi ke Warunggunung (Kediaman Jayabaya; red).

Ditengah derita warga Baduy para pejabat justru sibuk (atau menyibukan diri) dengan persiapan pesta sang puteri Bupati, entah hayang ka aleum atau karena ketakutan mereka pada sang Bupati, karena berdasarkan isu yang beredar Bupati Jayabaya yang doyan memutasi jajarannya sebentar lagi akan melakukan mutasi besar-besaran dilingkungan pemerintah daerah Lebak.

Para Kepala Dinas/Kantor/Badan dan pejabat eselon lainnya selain sibuk hilir mudik ke Warunggunung mereka juga diwajibkan memberikan amplop sebagai kado pernikahan anaknya tersebut. Berapa nilainya tentu bukan Rp 50.000; atau Rp 100.000;. Angkanya cukup mencengangkan yaitu dikisaran angka Rp 25 Juta. Ini sesuatu yang tak lazim, andai saja ada BPK atau KPK yang mengaudit dana tersebut saya yakin akan terjadi kejadian luar biasa. Menurut sumber yang dapat dipercaya yaitu karyawannya sendiri (yang tidak mau disebutkan namanya), RSUD Adjidarmo diwajibkan menyetor dana sebesar itu. Belum dinas/badan/kantor atau pengusaha yang nilainya bervariasi.

Mastur Huda
hmi1985@yahoo.co.id