Gus Dur Dekat dengan HMI-MPO

Menurut para ulama, salah satu indikator dikuranginya nur (cahaya) suatu bangsa adalah dengan meninggalnya tokoh ulama yang sangat berpengaruh dan disegani oleh warganya. Karena, meninggalnya sosok ulama besar berarti sama dengan tercerabutnya sumber ilmu yang menerangi masyarakat. Setelah beberapa tahun yang lalu kita ditinggalkan oleh sosok ulama besar, Nurcholihs Madjid (Cak Nur), dipenghujung tahun 2009 ini kita juga ditinggalkan oleh seorang Ulama Guru Bangsa, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tentu saja, sembari kita memanjatkan doa agar arwahnya mendapatkan tempat yang mulia di sisiNya, kita juga berharap semoga dengan meninggalnya beliau tidak akan mengurangi nur bangsa ini.

Gus Dur adalah salah satu  aset terbesar bangsa ini yang dengan pemikiran dan kiprahnya mampu mengantarkan bangsa Indonesia sebagai salah satu kampium negara demokrasi terbesar di dunia. Selain pernah memimpin organisasi Islam dengan anggota terbesar di Indonesia (bahkan di dunia), Gus Dur juga pernah menjadi Presiden Indonesia, meski hanya dalam waktu yang relatif singkat. Selama menjadi presiden, Gus Dur banyak melakukan gebrakan-gebrakan menumental seperti membubarkan Departemen Penerangan, pemisahan Polri dari TNI, dan yang paling fenomenal adalah desakralisasi istana yang dulunya sangat angkuh pada masa Suharto menjadi sangat merakyat pada zaman Gus Dur. Seingatku, tidak ada suasana istana yang begitu merakyatnya selain pada masa Gus Dur.

Sayangnya, Gus Dur tidak lama menjadi presiden. Ia harus turun oleh tuduhan Bulog Gate yang nominalnya hanya 35 milyar dan itupun belum terbukti (bandingkan dengan kasus Century Gate yang mencapa 6,7 trilyun). Namun Gus Dur adalah Gus Dur yang tetap melenggang meskipun dihina dan dikhianati. Setelah turun dari jabatan presiden, dia masih tetap aktif dalam banyak organisasi mulai dari level nasional maupun internasional. Beliau yang pernah menjabat sebagai pimpinan The World Conference on Religion dan Peace (WCRP) yang berpusat di New York (1994-1998), pasca turun dari kursi presiden didapuk menjadi ketua Association of Moslem Community Leaders (AMCL), New York (2002) dan juga Presiden kehormatan The International Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR) yang ada di London, Inggris.

Persemaian Intelektual Gus Dur

Ketika dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia berada dalam masa-masa akhir penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Itulah masa “perjuangan terorganisir” melawan penjajahan kolonial Belanda. Oleh karena itu sebagian besar pendiri bangsa mengorganisir untuk menyatukan kekuatan mereka dan membentuk negara yang independen. Ayahnya, Wahid Hasyim, adalah anggota Komite Nasional yang bertugas menerjemahkan konstitusi untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, ayahnya menjadi Menteri Agama. Selanjutnya, kakeknya, Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama terkemuka yang mendirikan organisasi agama terbesar di Indonesia dengan nama NU. Dia adalah seorang ulama yang kharismatik yang menyerukakan perlawanan total terhadap pemerintah kolonial Belanda. Oleh karenanya, sebagai seorang anak yang dari keluarga bangsawan, pada waktu itu Gus Dur lebih beruntung daripada anak-anak lain.

Akan tetapi, pada saat Gus Dur berusia 14 tahun ayahnya meninggal dunia karena mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Sepeninggal ayahnya, dia dibesarkan oleh ibunya. Dia dikirim ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan menengah. Setelah lulus, dia pergi ke pesantren di Magelang, Jawa Tengah. Kemudian, setelah dua tahun di Magelang, pada tahun 1959 dia kembali ke Jombang untuk menjadi pengajar di pesantren Tambak Beras. Selain  menjadi guru dia juga aktif menulis artikel dan dipublikasikan di beberapa surat kabar dan majalah.

Pada tahun 1963, pemerintah memberinya beasiswa ke Mesir untuk studi tentang hukum Islam di sebuah universitas Islam terkemuka, Al Azhar. Ketika belajar di Al Azhar, dia banyak terlibat dalam kegiatan mahasiswa dan menonton film-film Eropa dan Amerika. Daripada kehadirannya di kelas, dia lebih memilih menonton film untuk lebih mengenal budaya barat. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonon film karena dia merasa tidak puas dengan sistem pendidikan di sana. “Disana ulama kuno, hanya memperbolehkan saya mempelajari Islam surau tradisional dengan cara lama, dengan menghafalkannya saja,” katanya sesuai yang dikutip oleh the Wall Street Journal tanggal 7 April, 2007.

Tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada di Mesir, beliau pindah ke Baghdad (Iraq) dan diterima di Universitas Baghdad (1966). Selama tinggal di kota ini, beliau kembali melanjutkan hobinya menonton film dan menulis di beberapa media di Indonesia. Selesai studi di Iraq, Gus Dur melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa seperti belanda, Jerman dan Perancis. Lalu akhirnya, pada tahun 1971, Gus Dur kembali ke Indonesia sebagai pengajar di pondok pesantren Jombang sampai 1980, saat dia mulai aktif di NU.

Kedalaman pengalaman spiritual menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk keluar dari koridor dunia intelektual. Sementara sebagian koleganya di NU menghindari dunia politik praktis karena takut tercebur dalam dunia kotor, Gus Dur justru menceburkan dirinya dalam belantara politik. Dia mengambil resiko dengan mengorbankan status “kebangsawanannya” di NU dan meletakkan kedudukan sosialnya untuk bermain politik. Dia membuat politik sebagai bagian dari pelaksanaan misi intelektual serta sebagai media untuk mendidik dan memberdayakan rakyat.

Ketika awal pertama kali dicalonkan sebagai pimpinan NU oleh pamannya, sebenarnya gus Dur pernah menolak sampai tiga kali. Akan tetapi akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali mengambil peran dalam organisasi. Maka awal tahun 1980-an, Gus Dur memulai kiprahnya di NU sebagai Dewan Penasehat Keagamaan. Ketika dia melangkah menjadi Ketua Umum PBNU menggantikan Idham Chalid, Gus Dur membawa NU kembali ke Khittah 1926 yang melarang organisasi terlibat dalam partai politik atau menjadi partai politik.

Awalnya, Pemerintah Orde Baru merasa senang dengan kembalinya NU ke Khittoh 1926 dengan menarik diri dari PPP, karena hal ini menguntungkan Golkar. Pada awal kiprahnya pemimpin NU, Gus Dur memilih mengambil jalan kooperatif dengan rezim demi menghindari konfrontasi langsung dengan negara; sebab ia tahu, waktu itu  masyarakat NU sangat lemah dan bahkan menjadi “spesies terancam” oleh Orde Baru. Sebagaimana kita ketahui, saat-saat awal tahun 80-an inilah rezim Orde Baru sangat represif terutama terhadap kelompok-kelompok Islam.

HMI-MPO dan Gus Dur

Barangkali banyak orang yang tidak menyangka bahwa sesungguhnya Gus Dur punya kedekatan kepada HMI-MPO. Meski secara idiologis, ada beberapa perbedaan yang cukup jauh antara Gus Dur dengan HMI-MPO, akan tetapi lebih banyak kesamaan ide dan sikap politik antara keduanya. Yang saya tahu ada perbedaan cukup tegas antara HMI-MPO dengan Gus Dur dalam soal Asas Tunggal dan soal Israel. Tahun 80-an, saat asas tunggal diterapkan, Gus Dur bersikap mendukung, sementara HMI-MPO secara tegas menentangnya. Demikian pula dalam menyikapi Israel, Gus Dur lebih memilih membangun komunikasi dengan mereka, sedangkan HMI-MPO tidak mengakui keberadaan Israel. Namun demikian, dalam hal sejarah dan pemikiran-pemikiran politik banyak sekali kesamaan antara HMI-MPO dan Gus Dur. Di mana letak kesamaannya?

Sejarah politik Gus Dur dan HMI-MPO adalah sama-sama sejarah perlawanan terhadap rezim kekuatan Orde Baru. Keduanya pernah sama-sama dimarjinalkan oleh rezim dan memilih bergerak diluar struktur negara. Jika Gus Dur banyak bergerak melalui pemberdayaan masyarakt sipil, maka HMI-MPO melakukan perlawanan dengan negara melalui masyarakat mahasiswanya. Penolakan HMI-MPO terhadap asas tunggal pancasilan bukanlah penolakan terhadap pancasila itu sendiri. Penolakan HMI-MPO terhadap penerapan Asas tunggal pancasila justru merupakan sikap HMI-MPO memperjuangkan nilai-nilai Pancasila. Salah satu nilai paling esensi dari Pancasila adalah penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan idiologi, akan tetapi Suharto dengan asas tunggalnya justru mengangkangi Pancasila karena menafikan perbedaan. Maka sikap HMI-MPO yang mengambil jalur perbedaan dengan tetap teguh mempertahankan Islam sebagai asas organisasi pada hakikatnya adalah pembelaan terhadap pancasila itu sendiri. Dalam hal ini, maka bisa dikatakan bahwa ada kesamaan pandangan antara HMI-MPO dengan Gus Dur.

Kesinergian perjuangan HMI-MPO dengan Gus Dur ini semakin kentara pada awal tahun 90-an, ketika tekanan terdahdap HMI-MPO untuk rekonsiliasi dengan HMI-Dipo semakin kuat datang dari alumni. Saat itu, kader-kader HMI-MPO banyak yang menjaga jarak dengan tokoh-tokoh alumni HMI. Sebagai kompensasinya, selain kader-kader HMI-MPO menjadi lebih dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan pewaris Masyumi seperti DDII dan tokoh-tokoh di luar HMI lainnya. Tidak sedikit tokoh-tokoh HMI-MPO yang kemudian memiliki kedekatan dengan Gus Dur. Sebagaimana diungkapkan oleh Lukman Hakim Hassan (Ketua Umum PB HMI-MPO 1995-1997), awal tahun 1990-an rata-rata kader HMI Cabang Yogyakarta justru mengidolakan Gus Dur sebagai panutan.

Pada saat reformasi 1998, pasca kejatuhan Suharto, ketika kebanyakan organisasi kepemudaan Islam mendukung naiknya BJ Habibie sebagai Presiden, HMI-MPO justru mengusulkan kepemimpinan presidium di mana salah satu nama yang diajukan adalah Gus Dur. Tahun-tahun itu jelas sekali, HMI-MPO mengalami kedekatan sikap politik dengan Gus Dur.

Selanjutnya, tahun 1999, saat pemilihan presiden, HMI-MPO secara mendukung Gus Dur sebagai presiden. Dan ketika kemudian Gus Dur diturunkan pada tahun 2001, selain Nahdliyyin, HMI-MPO adalah satu-satunya organisasi Islam yang sepenuh hati membela Gus Dur. Pernyataan-pernyataan politik Ketua Umum PB HMI-MPO, Yusuf Hidayat, waktu itu jelas sekali mendukung Gus Dur.

Tahun-tahun selanjutnya, satelah Gus Dur lengser, kedekatan Gus Dur dan HMI-MPO semakin nyata dalam bentuk sikap-sikap politik yang saling koinsiden. Sebagai contoh sikap penolakan terhadap pemilu 2004 yang menaikkan SBY untuk pertama kalinya. HMI-MPO adalah bagian dari sedikit elemen yang menolak Pemilu 2004 dan Gus Dur adalah tokoh simbol penolakan pemilu tersebut. HMI-MPO dan Gus Dur sama-sama tidak percaya pemilu 2004 dan sama-sama mengambil sikap Golput. Alasan penolakannnya adalah karena pada pemilu tersebut adalah karena keduanya tidak mempercayai KPU sebagai penyelenggara pemilu. Buktinya, pasca pemilu 2004, hampir semua anggota KPU tertangkap KPK karena terbukti korupsi. Alasan lain penolakan terhadap Pemilu 200 adalah karena masih banyak aktor-aktor lama, pewaris orde baru, yang ikut bermain dalam pemilu. Hal ini tidak baik, karena mereka akan menggunakan prosedur demokrasi (pemilu) untuk mengangkangi demokrasi itu sendiri. Sementara alasan ketiga adalah masih kuatnya pengaruh militer dalam bursa pemilihan calon presiden. Sebagai Pjs. Sekjend PB HMI-MPO waktu itu, saya masih ingat sekali bersama Gus Dur tampil dalam dialog Trans TV sebagai perwakilan kelompok Tolak Pemilu dan Golput.

Selanjutnya, mungkin juga tidak banyak orang tahu kalau salah satu mantan orang terdekat Gus Dur yang membantunya mengolah isu-isu gender adalah kader HMI-MPO. Meski sekarang tidak lagi bekerja secara formal dengan keluarga Gus Dur, kader tersebut dulu pernah lama berkiprah dan bahkan tinggal bersamanya komplek Pesantren Ciganjur sana.

Kedekatan dan kesamaan pandangan-pandangan politik antar Gus Dur dan HMI-MPO ini tentu saja secara alamiah adalah suatu hal yang logis. Selain kesamaan sejarah pernah melawan rezim Orde Baru, kesamaan metodologi dalam mengambil sikap politik menjadikan HMI-MPO dan Gus Dur lebih sering bersikap sama. Lalu metode pengambilan sikap politik seperti apakah yang menjadikan HMI-MPO dan Gus Dur selalu sama? Keduanya menggunakan nilai-nilai independensi sebagai pijakan dalam bersikap. Selamat jalan Gus!

Oleh M. Chozin Amirullah
Alumnus Pesantren Tebuireng, Jombang,  Ketua Umum PB HMI (MPO)

Gus Dur, Sang Nomer Satu

primaironline.com

Gus Dur telah tiada. Ketika hendak menjalani operasi gigi, keadaannya memburuk. Keterangan dokter kepresidenan menyebut Gus Dur mengalami komplikasi. Komplikasi yang memang menjadi bagian dalam hidupnya. Sakit gigi yang sulit disembuhkan di usianya yang sepuh. Gus Dur, dunia menyambut kepergiannya dengan banyak diskusi dan testimoni. Serta tentu tahlilan di kalangan ummat Nahdliyin dan upacara keagamaan lain.

Apa yang bisa dipersembahkan untuknya selain catatan? Tahun ini, bangsa Indonesia kehilangan sosok-sosok raksasa di dunianya. Tiga yang memiliki karakter tak biasa adalah WS Rendra, Mbah Surip dan Gus Dur. Dari ketiga sosok itu, Gus Dur yang nomor satu di berbagai bidang: politik, pemerintahan, opini, buku, seni, budaya dan bahkan sepakbola. WS Rendra juga nomor satu di dunia puisi. Mbah Surip menjadi sosok yang juga nomor satu di bidang tarik suara dengan nuansa seni yang kental dengan ketidakbiasaan.

Saya tidak mengenal Gus Dur secara pribadi. Hanya termasuk dalam kerumunan orang yang pernah menjumpainya, baik secara sengaja, maupun tidak sengaja. Pertama kali saya bertemu muka adalah sekitar tahun 1994. Waktu itu, Fahri Hamzah – kini politisi PKS di DPR RI – mengajak saya ke rumah Gus Dur. Kami naik bis kota ke sana dari kostan di Jalan Margonda Raya, Depok. Fahri bertubuh kurus dan kusam, sebagaimana saya. Di Ciganjur itu, kami melihat Gus Dur dan kolega dekatnya bersendagurau, antara lain Mohammad Sobary. Sepulang dari sana, saya tidur di kost-an Fahri. Saya di kasur, Fahri di tikar.

Ketertarikan itulah yang membuat saya mencari buku-buku Gus Dur. Yang paling saya ingat adalah pembelaannya tentang kultur demokrasi di tingkat lokal. Terus terang, saya tidak tertarik kepada pandangan-pandangan keagamaannya. Yang justru memunculkan ketertarikan itu adalah pandangannya atas tribalisme di Indonesia, sesuatu yang kemudian juga menjadi ketertarikan saya ketika bekerja di CSIS. Pengetahuannya yang luas tentang Aceh, Papua, Bali dan lain-lainnya, barangkali turut masuk ke dalam sel-sel pikiran saya untuk juga menjadi terpengaruh.

Untuk hal-hal yang berkaitan dengan humanisme, Gus Dur jagonya. Ia adalah seorang penabrak pakem apapun di dunia politik. Jelang pemilu 1997, Gus Dur ikut menjadi “juru bicara” kehadiran Siti Hardiyanti Indra Rukmana di panggung politik. Tetapi dengan kemampuan untuk bisa diterima semua orang, Gus Dur juga menjadi sosok yang memberikan semangat kepada kehadiran Megawati Soekarnoputri, sekalipun banyak dengan sentilan-sentilan.

***

Semua orang bisa dengan mudah menelusuri jejak-jejaknya yang begitu kuat. Ia mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua. Ketika saya datang dalam Sidang Dewan Adat Papua Pertama di Sentani, Jayapura, pada 2002, Gus Dur begitu banyak disebut. Theys Hiyo Eluay waktu itu baru saja terbunuh dan saya menapaktilasi dari tempat Theys diculik, sampai tempat Theys ditemukan tewas. Saya berkenalan dengan Victor Kaisiepo, Thom Beanal, Thaha Al Hamid dan pimpinan PDP lainnya dalam acara yang bergemuruh itu. Suku-suku dari pegunungan turun di tengah penjagaan aparat keamanan yang super-ketat. Gus Dur dielu-elukan dalam kesempatan itu, sekalipun sudah disingkirkan dari panggung politik.

Ketika menjadi Presiden RI dalam fase singkat, 1999-2001, Gus Dur melakukan tindakan-tindakan fenomenal. Status Daerah Operasi Militer di Aceh dicabut. Sekalipun begitu, di masa Gus Dur juga muncul konflik berdarah di Sambas, Poso dan Ambon. Pikiran kalangan masyarakat sipil waktu itu adalah konflik itu muncul dari pergerakan kepentingan di kalangan militer. Beragam spekulasi muncul, seiring dengan pernyataan-pernyata an kontraversial Gus Dur yang diucapkan setiap hari Jumat atau setiap pergi ke luar negeri.

Demonstrasi oleh kalangan Islam begitu sering ketika Gus Dur menjadi presiden, bahkan sampai di Istana Negara. Istana memang berubah menjadi pesantren tidak resmi, yakni dengan banyaknya kalangan yang menggunakan kain sarung di dalamnya. Gus Dur memang dikelilingi oleh kawan-kawan dekatnya yang membentuk Forum Demokrasi pada waktu Orde Baru. Mereka antara lain Marsilam Simanjuntak, Bondan Gunawan, Djohan Effendi dan Mohammad Sobari. Tentu Gus Dur juga dikelilingi oleh kelompok NU yang paling berpendidikan: Mohammad Mahfud MD, Khofifah Indar Parawansa, Muhammad Fadjroel Falaakh dan Muhammad AS Hikam.

Saya sempat ikut berkantor di Istana, ketika menjadi semacam Tim Asistensi dalam bidang ekonomi. Hanya tiga bulan. Yang menarik, selama bekerja di sana, uang honor kami disebut sudah diambil oleh seseorang yang entah siapa. Jadi, barangkali Tim Asistensi Gus Dur inilah yang menjadi pihak tanpa gaji, sekalipun bekerja. Intrik-intrik memang menjadi bagian utama dalam pemerintahan kala itu, mengingat Gus Dur sedang membersihkan otak dari kekuasaan yang sudah begitu lama mencengkram Indonesia: Istana Negara. Desakralisasi dan dekonstruksi menjadi tema yang banyak diulas oleh para ahli waktu itu.

Ketika Gus Dur jatuh, saya bergabung dengan sejumlah pihak yang mempersiapkan prosesi: Kembali ke Pergerakan Rakyat. Gus Dur dijemput oleh kawan-kawan muda dan tuanya, setelah beberapa lama menghuni Istana bahkan setelah dijatuhkan. Megawati Soekarnoputri tidak langsung bisa masuk Istana Negara, setelah dilantik menjadi Presiden oleh MPR RI. Pada saat menjelang kejatuhan itu, sudah beredar mimpi Gus Dur kehilangan sandalnya. Bahkan beredar rumor bahwa Gus Dur tirakatan di pantai laut selatan. Beberapa kali Gus Dur memang pergi ke maqam para wali, terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi. Saya pernah dengar informasi yang disampaikan kepada Rizal Sukma oleh Mahfud MD bahwa Paspampres memarahi pengikut Gus Dur di salah satu maqam. Kenapa? Pengikut Gus Dur itu memutarkan kaset yang seolah-olah wali yang menghuni maqam itu dan meminta Gus Dur tidak mundur dari jabatannya. Kebenaran cerita itu saya tidak tahu, mungkin Pak Mahfud bisa becerita dalam buku yang
belum juga dia tulis soal detik-detik kejatuhan Gus Dur.

***

Terakhir, saya berjumpa sosok Gus Dur secara dekat di Gedung PBNU tahun 2008. Waktu itu saya mengisi semacam refleksi politik di kalangan anak-anak muda NU. Gus Dur diturunkan dari mobil dinasnya oleh Paspampres yang menjaganya. Yang menarik, simbol yang tidak pernah dipakai Gus Dur selama bertahun-tahun hadir di lehernya. Semacam tasbih putih. Menurut info yang saya dapat dari kalangan yang memakainya, tasbih putih itu memiliki medan energi yang entah apa. Herannya, banyak kalangan yang memakai tasbih putih itu, baik di kalangan menteri – bahkan sampai presiden, juga kalangan pengusaha dan anggota parlemen. Saat itu juga saya berpikir: Gus Dur tidak lagi dikendalikan oleh dirinya, tetapi oleh tasbih itu. Pikiran nakal, tentunya, bukan dalam artian harfiah, sebagaimana Gus Dur banyak becanda tentang apapun.

Sekalipun saya mengaguminya – bahkan dalam banyak perdebatan saya dianggap terlalu Gus Dur-ian –, saya tidak pernah berdekatan fisik dan berdialog langsung dengannya. Kalaupun beberapa kali hadir di sekitarnya, paling saya hanya memperhatikan banyolan-banyolanny a. Beberapa kali saya diundang oleh mahasiswa-mahasiswa pro-Gus Dur, termasuk ke Madura, Banten dan Jombang. Saya senang sekali berjalan beberapa jam dengan mobil, lalu masuk ke lingkungan kampus yang kecil dengan mahasiswa sedikit, lalu berdiskusi bebas tentang apapun.

Kini, Gus Dur telah tiada. Ia nomor satu di bidangnya. Di bidang apapun. Ia pelanggar tabu. Ia pembela kebenaran, darimanapun kebenaran itu datang. Saya kira, Gus Dur adalah manusia terbesar yang pernah dilahirkan di alam Indonesia moderen. Ia bisa menggenggam tampuk kekuasaan secara sangat manusiawi. Ia menjadikan Angkatan Laut sebagai Panglima TNI, sekaligus juga mewakili visi besar Indonesia yang belum juga terbangun: dunia maritim dan kemaritiman. Kebesaran Gus Dur melebihi kekuasaan yang dia genggam. Ia menjadikan segalanya menjadi sederhana, tidak lagi menakutkan.

Konon, ketika “konflik” sipi-militer dianggap akan meledak di Indonesia, satu-satunya yang ditakuti oleh TNI hanyalah Gus Dur. Kenapa? Megawati pasti takut melihat bedil menghadap kepadanya. Amien Rais akan kelenger ditodongkan pistol. Sultan Hamengkubuwono X pasti surut selangkah. Gus Dur: jangankan pistol, meriampun pasti tidak ditakutinya. Kenapa? Ya, karena Gus Dur tidak bisa melihat.

Begitulah inti kehidupan Gus Dur. Bukan hanya dewi keadilan menjadi buta di tangan Gus Dur, bahkan kekuasaanpun menjadi buta. Gus Dur memegang kekuasaan, tanpa sekalipun menyentuhnya! Selamat jalan, Gus Dur. Selama jalan manusia terbesar Indonesia di zaman moderen ini. Anda adalah manusia yang mendahului zaman anda…

Jakarta, 31 Desember 2009.
Oleh Indra J. Piliang
The Indonesian Institute – www.indrapiliang.com

Selamat Jalan Gus…

antarajatim.com

Kita kembali kehilangan seorang negarawan besar yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa, dan berjuang untuk keadilan.

Mantan Presiden keempat itu, Abdurrahman Wahid meninggal Rabu (30/12) kemarin di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta setelah berjuang dengan penyakit selama bertahun-tahun.  Dia yang sering kita panggil Gusdur  selama bertahun-tahun menjalani hidupnya diatas kursi roda, kehilangan sebagian dari pandangannya, dan menderita masalah ginjal serius.

Abdurrahman Wahid, menjadi presiden antara 1999 dan 2001 saat  Indonesia mengalami tahun-tahun pertama dalam berdemokrasi  setelah kejatuhan Suharto pada tahun 1998.   Gusdur membantu  Indonesia melalui masa transisi dari pemerintahan otoriter ke pemerintahan yang demokratis.

Abdurrahman Wahid pernah memimpin Nahdlatul Ulama, kelompok Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jamaah sekitar 40 juta orang.  Dia adalah seorang pembela gigih Islam moderat  yang terus mendorong dialog antaragama.

”Dia adalah orang yang sangat terbuka … Semua minoritas, underdog atau mereka yang menderita selalu merasa aman dengannya. Yang sangat luar biasa,”kata Franz Magnis-Suseno, seorang imam Katolik seperti dikutip Associated Press. ”Dia adalah seorang humanis … Bagi orang-orang seperti saya, dia menjadikan islam menjadi lebih ramah, membuat kami merasa aman.”

Gusdur adalah lawan Suharto di tahun-tahun terakhir diktator itu berkuasa. Gusdur  pernah membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi politik untuk menyelidiki pembunuhan, penghilangan dan pembantaian yang pernah dilakukan pemerintahan Suharto selama 32-tahun.

Dia juga sering berbicara untuk hak-hak minoritas di dunia yang paling padat penduduknya yang sebagaian besar adalah Muslim.

Gusdur adalah pejuang  perdamaian, toleransi, pluralisme, demokrasi, dan tema-tema besar kemanusiaan lainnya.

Saat jasad mantan presiden itu dibawa melalui kerumunan orang di lobi rumah sakit RSCM, di dalam peti mati yang terbungkus hijau, rabu sore kemarin, kita sadar kita telah kehilangan orang besar.

Selamat jalan Gus…

Inilah Buku yang Kontroversial Itu : Membongkar Gurita Cikeas

galangpress.com

Inilah buku yang kontroversial itu : Membongkar Gurita Cikeas.

Dengan judul yang membuat heboh, tak heran buku ini langsung mengundang rasa penasaran masyarakat luas untuk mengetahui apa sebetulnya yang dibahas dalam buku ini. Di beberapa daerah, penjual buku sampai kewalahan dan kehabisan stok buku ini karena banyaknya permintaan.

Pesan inti dari buku Gurita Cikeas (Text Only) ini adalah bahwa yayasan-yayasan yang terkait keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pejabat negara (menteri, pimpinan BUMN) wajib diaudit. Tujuannya untuk menghindari konflik kepentingan.

“Kami Tidak Butuh Merdeka, Karena Sudah Merdeka.”

etriptips.com

Dengan dibalut jas dan sorban khas Thailand Selatan yang melingkar di leher, Dr. A. Halim Dinnah dari Prince of Songkla University, Thailand, masuk ke sekretariat PB HMI yang sangat sederhana di kawasan Manggarai, Jakata Selatan pada selasa malam (22/12). Malam itu, dia didaulat untuk berbicara tentang islam di Thailand dalam diskusi terbatas yang digelar PB HMI MPO.

Mahasiswa dari Thailand yang tengah belajar di Jakarta juga hadir dalam forum. Saya sendiri tidak tahu darimana mereka mendapat kabar diskusi ini, tiba-tiba saja mereka nongol berempat dari kegelapan lorong masuk sekretariat PB HMI yang menyelinap. Bagi yang belum pernah ke markas PB HMI rasanya susah menemukannya. Kalau tidak tersesat, pastilah ia akan pulang kembali kecuali meminta penghuni menjadi pemandu yang setia. Ini juga yang dilakukan terhadap Dr. A. Halim, kita jemput di seberang jalan besar dan dipandu menyelinap ke markas PB dibawah temparam lampu yang tertutup daun lebat.

Dr. A Halim orangnya hangat, tenang, sedikit kurus namun urat mukannya menampakan kematangan dalam hidup.  Suaranya pelan, namun mengena. Datar namun mendalam. Aksentuasinya jelas, dan pemikirannya jernih.Sepertinya dia sudah tahu banyak tentang HMI, maka tidak heran diawal paparannya langsung bertanya, ” Ini HMI Islam?” Ia banyak mengenal tokoh-tokoh Islam, khususnya dari HMI. Maklum saja puluhan tahun silam, Halim sempat berjibaku dengan aktifis gerakan Islam di Indonesia. Sebut saja nama-nama tokoh DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Di jogja ia juga berkelana dan menjalin pertemanan dengan Amien Rais, Alm. Syahirul Alim, Emha, dan Said Tuhuleley.

Mengkonsolidasikan Perjuangan
Menurut Dr. A. Halim, ada tiga strategi utama dalam mengkonsolidasikan perjuangan Islam terutama di kalangan aktifis gerakan muda Islam. Pertama  menguatkan fondasi dasar. Fondasi yang harus dibenahi adalah menguatkan tauhid dengan secara intensif menjalankan hal-hal yang disunahkan oleh Rasul, terutama sekali adalah shalat jamaah di masjid. “Apakah tempat ini (markas PB) deket masjid?,”tanya Halim agak menyelidik.

Menurut  Dr. A. Halim hikmah dari shalat di masjid bukan hanya soal pahala, namun memiliki fungsi sosial memahami dinamika masyarakat. Dengan berjamaah di masjid, maka kita berjumpa dengan masyarakat, mengenal mereka dan memahami dinamika mereka. Selain menegakan shalat jamaah di masjid, perlu juga aktifis HMI merutinkan ibadah-ibadah sunah seperti shalat witir, tahajud, rawatib dll.. Sebuah kebiasaan yang sebenarnya pernah diajarkan dalam Batra, namun memang perlu direvitalisasi kembali. Sederhana, namun tidak banyak orang yang bertahan. Terlalu banyak godaan, dan terlalu berseliweran segala urusan.

Dr. A. Halim menyakini tanpa fondasi tersebut perjuangan akan hampa dan mudah ditelikung oleh lawan lewat godaan kekuasaan, kemasyhuran, dan kekayaan di tengah jalan. Lagi-lagi sebelum sampai tujuan, sudah berantakan ikrar yang telah diteriakan. Fondasi ini juga yang akan menguatkan ketika menghadapi kesusahan, kesempitan dan kegagalan. Hati akan selalu mendapat cahaya rahmat meski tengah dirundung malang.

Kedua, setelah fondasi terbangun dengan kokoh, maka membangun jaringan internal di negeri dalam. Ada dua jaringan internal yang harus dibangun, yaitu jaringan kampus melalui para intelektual muslim dan jaringan media untuk publisitas. Mengapa jaringan kampus dan bukan jaringan kampong?. Karena masyarakat terdidiklah yang bisa menghasilkan ide dan gagasan dan menggerakan perubahan. Selalu ada aktor terdidik yang menunggangi kerumunan yang dimobilisasi. Oleh karena itu penting sekali HMI memperkuat kembali basis-basisnya di kampus terutama membangun perjalinan intelektual dengan para profesor dan doktor sehingga intelektualitas HMI tidak tercerabut. Terkait dengan soal publisitas sebenarnya lebih pada upaya membangun eksistensi dan pengakuan, bukan untuk menjadi takabur dan mabuk keterkenalan.

Ketiga, setelah bangunan jaringan internal kokoh, meskipun tidak mudah, barulah membangun jaringan eksternal lebih luas terutama di kawasan nusantara.  Kawasan nusantara yang dimaksud adalah Indonesia, Malaysia, Brunai hingga Thailand. Jadi ingat epos Arus Balik dengan tokoh Wiranggaleng karya Pramudya yang berupaya membangun kesatuan nusantara sampai negeri di atas angin, atau legenda Gadjah Mada soal sumpah Palapanya yang sampai kini masih kontroversi. Ada dua jalur yang beliau tawarkan untuk membangun jaringan kawasan Asia Tenggara ini, terutama di Thailand. Pertama tentu saja lagi-lagi lewat jaringan Universitas. Jaringan yang dibangun bukan hanya jaringan formal justu informal melalui pertautan individual intelektual muda muslim di kawasan. Untuk membuka jaringan ini, Dr. Halim menawarkan PB HMI terlibat aktif dalam “Forum Komunikasi Intelektual Muda” (FORKIM) Kawasan Asia Tenggara Indonesia-Malaysia dan Thailand yang kebetulan beliau sendiri bertindak selaku penggagas. Tahun 2010 mulai Januari sampai Juli FORKIM sudah memiliki agenda kegiatan seminar, wokrshop dan training di Singapura, Malaysia dan Indonesia. Kedua khusus untuk Thailand beliau menganjurkan membangun jaringan dengan pesantren yang menurut perspektifnya masih komit dengan perjuangan dan selaras dengan aqidah umat. Ada kekhawatiran kesalahan membangun jaringan eksternal di Thailand akan berakibat fatal bagi perjuangan saudara-saudara muslim di Thailand.

Membaca Selatan Thailand Dari Dalam
“Selatan Thai tidak butuh merdeka, kita sudah merdeka di tempat kita berada”, ungkap Dr. A. Halim penuh semangat mengawali kisahnya soal kondisi politik di Thailand Selatan. Dr. A. Halim tidak pernah menggunakan istilah “Thailand Selatan”, tapi selalu “Selatan Thailand”. Istilah Thailand Selatan adalah milik Thailand yang merasa bahwa wilayah muslim Pattani bagian dari mereka, sementara secara kultural dan politik muslim Pattani tidak pernah merasa bagian dari Thailand. Mereka punya wilayah sendiri yang kebetulan secara geografis berada di “Selatan Thailand”. Jadi istilah “Thailand Selatan” bermakna politis dan simbol penaklukan, oleh karena itu mereka mengubahnya menjadi sekedar istilah geografis menjadi “Selatan Thailand”. Soal identitas memang menjadi hal yang sangat penting dalam proses perjuangan gerakan-gerakan semacam ini, seperti muslim moro di Philipina Selatan, Muslim Aceh ato Gerakan Papua.

Mereka juga tidak mau disebut sebagai “Muslim Thai” yang gencar dikampanyekan oleh pemerintah Thailand. Sebagai perlawan simbolik mereka menyebut dirinya sebagai “Pattani Melayu”. Secara etnicity mereka adalah orang melayu dan orang melayu pastilah muslim. Istilah muslim thai sebenarnya istilah yang diintroduksi pemerintah thailand untuk mengintegrasikan melayu patani kedalam identitas nasional thailand. Jawaban Dr. A. Halim cukup unik, “Melayu dan Thailand dua bangsa yang berbeda mana mungkin disatukan, Thai adalah bangsa siam dan makan babi”.

Mengapa Selatan Thailand tidak butuh merdeka? dan mengapa mereka merasa sudah merdeka? Dari dulu rakyat Selatan Thailand tidak pernah diurus oleh pemerintah dan memang mereka juga tidak membutuhkan pemerintahan. Sekolah, masjid, jalan mereka bangun sendiri. Perekonomian juga mereka ciptakan sendiri. Mereka tidak butuh polisi, karena mereka bisa jaga kampung sendiri. Yang dibutuhkan oleh Selatan Thailand sekarang adalah pendidikan agar sedikit bisa bersaing dengan orang Siam. Bukan menyokong kemerdekaan. Karena gerakan kemerdekaan adalah skenario pemerintah agar menarik perhatian dunia sehingga menjadikan kawasan Selatan Thailand dikesankan sebagai basis Islam ekstrim dan bagian dari jaringan terorisme. Dr. A. Halim termasuk orang yang tidak mau masuk dalam skenario itu.

Selatan Thailand menjadi perhatian dan perebutan kepentingan pemerintah karena di kawasan ini menurut keterangan Dr. A. Halim menyimpan potensi minyak yang sangat besar lebih besar dari yang ada di Indonesia, Malaysia dan Brunei karena belum tergali dan tereksplorasi. Maka dari itu Pemerintah dengan bantuan kekuatan “asing zionis” berusaha sedapat mungkin menciptakan kawasan Selatan Thailand dalam ketidakstabilan. Mereka tidak senang orang Pattani hidup tenang dalam kecukupan, tinggi secara pendidikan, dan punya kedekatan dengan Saudara muslim lainnya di kawasan Asia Tenggara. Maka diciptakanlah teror, sehingga kabar yang keluar Selatan Thailand basis pembrontakan Muslim yang berupaya melakukan gerakan separatisme.

Dalam membangun pendidikan di Selatan Thailand, Dr. Halim telah berupaya memfasilitas pengiriman mahasiswa-mahasiswa Thailand untuk belajar di Indonesia dan Malaysia. Setiap tahunnya ada ratusan mahasiswa Thailand yang dikirim ke Indonesia tersebar di Sumatera dan Jawa.

Imam Subhan
Ketua Komisi Hubungan Internasional PB HMI MPO, Jakarta

Pemeritah Didesak Segera Revisi Kebijakan UN

Pemerintah didesak segera melakukan revisi kebijakan Ujian Nasional sesuai dengan hasil keputusan MA soal ujian nasional. Hasil keputusan MA nomor 2596 K/PDT/2008 menyatakan bahwa Ujian Nasional tidak bisa dilaksanakan sebelum pemerintah dalam hal ini Depatemen Pendidikan Nasional untuk segera merevisi kebijakan Ujian Nasional.

Desakan ersebut disampaikan PB HMI  MPO dalam pertemuan TekUN (Tim Advokasi Ujian Nasional) di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta pada Minggu, (20/12)  silam. Pertemuan dihadiri oleh berbagai elemen Gerkan Nasional dan NGO.

Sejak tahun 2006 PB HMI MPO telah menolak pelaksanaan UN untuk dijadikan indikator kelulusan dan bersama gerakan lain melakukan gugatan ke Mahkama Agung (MA) RI. Pada 2009 gugatan tersebut dimenangkan pihak penggugat.

Syarifuddin, staf komisi pendidikan PB HMI MPO menyerukan segera mengambil langkah strategis mendorong pemerintah untuk segera melakukan perubahan kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional.

Dalam pertemuan tersebut, Komisi Pendidikan PB HMI MPO mengajukan jalan tengah terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. “Ujian Nasional bisa dilaksanakan asalkan tidak menjadi standar kelulusan siswa,” ujar Syarifuddin. PB HMI MPO tidak menolak di laksanakan ujian nasional akan tetapi mereka mengatakan harus ada indikator yang jelas terhadap pelaksanaan Ujian Nasional sebagai standar kemampuan siswa.

Menurut Syarif panggilan akrab mahasiswa S2 UNJ ini, Ujian Nasional tidak harus menafikan semua proses pendidikan yang telah di dilakukan sebelumnya. Ujian Nasional, lanjut Syarif juga tidak melanggar rasa keadilan dan menyiksa generasi bangsa yang harus merdeka dari segala penindasan yang sistimatis.

“Ujian nasional harus mengedepankan hak-hak anak dan sisi keadilan yang komprehensif. Jadi kalau kemudian pemerintah terus melaksanakan proses Ujian Nasional, maka pemerintah telah melanggar HAM berat, dan itu harus kita lawan,” kata Syarif.

Sementara itu Suparman, ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengatakan bahwa dalam proses pendidikan guru dan sisiwa adalah salah satu komponen utama dalam menentukan mutu pendidikan. Guru harus diberikan peningkatan profesionalisme dalam pembelajaran sementara siswa harus diberikan peningkatan kompetensi dan kualitas tamatan dalam satuan pendidikan.  Suparman menyatakan hal inilah yang seharusnya menjadi indikator dalam peningkatan mutu pendidikan, bukan pada indikator kelulusan UN. (Arhie)

Rakyat dan Mahasiswa Harapan Utama Pemberantasan Korupsi

poskota.co.id

Lebih dari sepuluh ribu orang, mahasiswa bersama rakyat tumpah ke jalan-jalan Jakarta memperingati hari anti korupsi sedunia, 9 Desember, kemarin. Mereka menyerukan  Indonesia yang bebas dari korupsi.

Di depan monument nasional, Jakarta, dekat istana kepresidenan, mahasiswa, tokoh agama, rakyat, buruh mendeklarasikan piagam Indonesia bebas korupsi.

Di daerah, mahasiswa bersama elemen masyarakat juga memperingati hari anti korupsi ini dengan aksi di jalan-jalan protocol. Tuntutuan mereka sama : bebaskan Indonesia dari korupsi.

Inilah gerakan 9/12, gerakan dari mahasiwa bersama elemen masyarakat sipil bukan untuk melakukan kudeta, tapi memperingatkan pemerintah agar berjalan dir el yang benar, pemerintah yang bebas dari korupsi.

Ketika Rakyat sudah lelah mendengar slogan dan retorika politik, ketika rasa keadilan tercabik-cabik, saat itulah hatinurani tergerak.

“Banyak diantara kita yang bersuara keras anti korupsi, namun perilaku, kebijakan dan tindakannya justru memberi angin pada koruptor – “Seolah anti korupsi, padahal ia adalah komprador koruptor.” Kata Ketua Umum HMI MPO, M Chozin.

Ikhtiar memberantas korupsi tidak cukup hanya diserahkan pada aparat penegak hukum. Alih-alih memberantas korupsi, para penegak hukum justru mengangkangi hukum dengan menjadi pelaku utama korupsi. Mereka memperdagangkan hukum dan melakukan bersekongkolan jahat dengan para bandit dalam mencuri harta rakyat.

Oleh karena, kekuatan rakyat dan mahasiswa kini menjadi harapan utama dalam pemberantasan korupsi. Bersama dengan institusi anti korupsi yang belum terkontaminasi (KPK), kekuatan masyarakat sipil harus bersatu membebaskan negeri ini dari jerat para koruptor.

HMI MPO Ambil Bagian dalam Hari Anti Korupsi Sedunia

HMI-MPO dan ratusan demonstrans dari berbagai elemen dan aktivis mahasiswa di Jakarta turut meramaikan Hari Anti korupsi sedunia dengan melakukan aksi unjuk rasa. Dalam aksi tersebut, mereka serentak  menyerukan  pemberantasan korupsi di Indonesia melalui penegakan hukum.

Ketua Umum PB HMI-MPO, Chozin Amirullah mengatakan permasalahan korupsi di Indonesia saat ini sudah berada dalam kondisi yang sangat genting. Menurutnya, bukti nyata yang muncul di lapangan menunjukkan bahwa kasus korupsi di negara ini telah melekat dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

HMI-MPO menuntut pemerintah segera mengambil langkah tegas dalam menyelesaian berbagai permasalahan korupsi di Indonesia dengan segera melakukan pembersihan terhadap Lembaga-Lembaga Negara dan mengusut tuntas kasus Ban Century, Anggodo dan Anggoro secepatnya demi tegaknya hukum di Indonesia. Selain itu, mereka juga menuntut SBY untuk menonaktifkan Boediono dan Sri Mulyani yang dinilai menjadi dalang koruptor di Indonesia. “Indonesia saat ini berada dalam posisi darurat korupsi”, kata Chozin kepada HMINEWS, Rabu, (9/12).

Chozin berharap agar pemerintah lebih serius dalam menyelesaikan berbagai permasalahan korupsi di belahan bumi Indonesia. Upaya pemberantasan korupsi, kata Chozin tidak dapat dilakukan dengan slogan saja. Akan tetapi, lanjutnya penuntasan itu hanya dapat dilakukan dengan perilaku, kebijakan dan tindakan tegas. (Rita Z)

Andi Farley (Belum) Layak Menjadi Pahlawan

Berita meninggalnya Andi Farley Mattalata, seorang orator dalam aksi memperingati hari anti korupsi sedunia di bundaran HI disikapi dengan mengheningkan cipta.

Sekitar 50 massa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengheningkan cipta untuk menghormati almarhum Andi Farley. Dalam orasinya koordinator aksi GMNI mengatakan bahwa Andi Farley layak dinobatkan menjadi pahlawan anti korupsi karena gugur ketika sedang memperjuangkan Indonesia bebas dari korupsi.

Mereka mengheningkan cipta sekali lagi untuk kasus Bank Century yang belum bisa diusut tuntas. Setelah itu mereka membakar boneka tikus warna hitam sambil meneriakkan yel “bakar, bakar bakar koruptor… bakar koruptor sekang juga!”

Massa GMNI dan Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI) yang terlambat datang ke monas segera menggelar aksi untuk mengheningkan cipta ini.

Wakil Sekjen LS-ADI Muhammad Arif mengatakan bahwa Andi Farley layak mendapat gelar pahlawan yang akan dikenang sebagai pejuang anti korupsi.

“Pastinya dia bakal diangkat namanya sebagai salah satu pejuang anti korupsi. Namanya akan selalu dikenang layaknya seoang pejuang yang gugur di medan perang. Matinya mati syahid, seharusnya dia bisa lebih populer dari Bibit dan Chandra” Ujar Arif, yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah ini.

Sementara itu, Ray Rangkuti, salah satu penggerak aksi yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih (GIB), menyangkal bahwa Andi Farley telah layak menjadi pahlawan.

“Gelar pahlawan perlu proses panjang, biarlah publik yang menilainya.” Ujar Ray saat dihubungi INILAH.COM (9/12)

Namun Ray sendiri ikut menyatakan rasa duka cita yang sedalamnya. Ray menyebutkan bahwa Andi Farley layak diapresiasi karena telah meninggal di saat aksi peringatan hari anti korupsi sedunia. “mudah-mudahan ini menjadi amal di mata Tuhan yang dicatat sebagai kebaikan.” Pungkas Ray. (Irvan Ali Fauzi/Inilah.com)

Pendemo ‘Century’ Menyusup ke Gedung DPR

Sekitar 30 pengunjuk rasa berhasil menyusup masuk ke Gedung DPR. Mereka menggelar aksi di lobi kantor pimpinan dewan di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta.

Pengunjuk rasa yang terdiri dari sejumlah elemen masyarakat itu menuntut keseriusan dewan menyelesaian pengusutan skandal Bank Century melalui penggunaan angket. “Tolak penumpang gelap dalam pansus Century,” kata salah satu pengunjuk rasa, Masinton Pasaribu, Jumat, 4 Desember 2009.

Sambil membentangkan spanduk bertuliskan ‘Tolak Penumpang Gelap’, para pengunjuk rasa juga menolak pencalonan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham, sebagai ketua panitia khusus angket Bank Century.

Entah bagaimana para pengunjuk rasa berhasil masuk dan menggelar aksi di lobi Gedung Nusantara III. Mereka diduga masuk ke gedung dewan satu per satu untuk mengelabui petugas keamanan dalam. Meski demikian, aksi berlangsung tertib. Petugas keamanan juga tak berupaya membubarkan aksi.

Tampak dalam aksi sejumlah aktivis muda dari Jaringan Kemandirian Nasional, Lingkar Madani (Lima), dan HMI MPO.

Sebanyak 30 nama anggota panitia khusus angket Bank Century telah disahkan dalam rapat paripurna dewan hari ini. Selanjutnya, mereka akan menggelar rapat perdana untuk menentukan ketua pansus. (VIVAnews)