Dominasi Hukum dan Kisah Tersingkirnya Manusia

Untuk memulai tulisan ini, meminjam kata-kata Jaques Derrida “Dorongan untuk membunuh tak akan pernah bisa dihapus, karena ia merupakan bagian dari insting manusia. Manusia punya kemampuan untuk buas, dan menciptakan penderitaan bagi yang lain bisa menjadi sumber kesenangan tersendiri”. Demikianlah yang dikatakannya dalam suatu sesi wancara dengan Kristine Mc kenna yang dimuat di LA Weekly pada tanggal 9 April 2003, kira-kira setahun sebelum dia meninggal. Meskipun Derrida menyadari, bahwa dorongan ini tidak bisa dihilangkan, namun dia tidak membenarkan fakta tersebut dijadikan sebagai alasan untuk membunuh. “Dan inilah salah satu fungsi penting dari berfikir dan berfilsafat, yaitu menangani dorongan besar ini” Ujarnya kemudian.

Sejarah peradaban manusia, adalah cerita terus-menerus tentang usaha meminilisir, atau yang lebih naïf, mencoba merampas insting ini dari kepemilikan sah manusia. Insting dasar ini selalu diasosiasikan dengan kebinatangan, sebuah startegi kebudayaan yang bersifat pelan namun membunuh. Selain itu dilahirkan pulalah hukum sebagai alat yang dianggap face-to-face dengan insting dasar ini. Hukum dianggap yang baik, dan di sisi lain, segala yang berada diluar kehendak hukum merupakan sesuatu yang buruk. Dalam tataran tertentu, strategi ini berhasil. Meskipun insting dasar manusia ini tidaklah sepenuhnya hilang, namun dia mencoba mengambil area yang lain, yang tersembunyi dalam diri manusia. Area gelap yang tidak disadari manusia.

Karena sebenarnya dia masih hidup dalam diri manusia, maka sifat-sifat dasar ini secara alamiah bermutasi dalam bentuknya yang baru dan dalam ranah yang berbeda pula. Kebuasan dan agresi berevolusi menjadi seuatu yang lebih indah dan sublime. Ketika kita menulis, berbicara, atau mengerjakan apapaun, di sana terdapat unsur agresi, tetapi kita telah mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Manusia mengubah kebuasannya dalam bentuk yang lebih menarik ketimbang membunuh.

Sebenarnya seluruh bentuk kegiatan manusia adalah percobaan individu menegaskan posisinya dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan itu adalah ekspansi dan salah satu cara untuk menyalurkan kebuasan. Cara-cara seperti itu tidak bertentangan dengan norma dan sejalan dengan hukum yang melandasi interaksi sosial kita. Fenomena seperti ini adalah cara kebuasan kita menyusup ke dalam hukum yang mencoba membunuhnya. Sebuah metodologi survaivel yang aneh namun nyata, bahwa subjek yang memusuhi ditunggangi dan hukum tidak  berbuat apa-apa. Terlihat di sini hukum justru melindungi fenomena tunggang menunggang ini.

Bisa memunculkan penafsiran baru atau keraguan baru, bahwa hukum bukannya menghapus yang tak sejalan, namun justru menciptakan semacam pra kondisi bagi sesuatu yang bertolak-belakang untuk bermutasi menjadi sesuatu yang tak bisa dikenali oleh panca indera hukum. Musuh masih tetap dengan esensi yang sama, tapi berubah secara penampakan. Inilah kelemahan hukum sebagai suatu alat kemanusian, dia tidak bisa mengenali sesuatu yang secara esensial sama namun berubah bentuk. Hukum dianugerahi kemampuan hanya untuk melakukan identifikasi pada bentuk semata. Dan dampak yang paling menakutkan dari kelemahan ini adalah, kemungkinannnya untuk memberantas sesuatu yang secara spirit baik namun dikandung dalam rupa yang buruk.

Keadilan, Kebebasan dan Dominasi Hukum

Hukum sebagai institusi sosial dimaksudkan untuk mendistribusikan keadilan pada setiap individu. Hukum sebagai peraturan menciptakan kepastian, mengatur masyarakat dengan kerangka hidup, untuk mengintegrasikan perilaku-perilaku individu yang masuk dalam kategori kelompok masyarakat. Hukum pada hakikatnya adalah alat atau perlengkapan masyarakat untuk menjamin kebutuhan-kebutuhan individu. Yang salah satunya adalah kebebasan berekspresi.

Dilandasi dengan itikad baik di atas, sering timbul apa yang kita sebut pemujaan berlebihan terhadap hukum. Hukum diagungkan seakan-akan dia adalah perwujudan dari kemanusian kita sendiri, tanpa disadari bahwa hukum dan manusia adalah dua hal yang berbeda.

Hukum adalah kebutuhan manusia, bukan kenyataan hidup manusia. Manusia harus mampu menempatkan hukum sebagai objek yang dikontrol, karena  jika diposisikan sebaliknya, yaitu hukum sebagai subjek, maka hukum akan menjelma sebagai hegemoni baru bagi manusia. Untuk itulah perlu kiranya kita mengkaji kembali, apakah hukum sudah mengambil porsi yang tepat dalam kehidupan kita.

Kecenderungan yang menghawatirkan adalah, kenyataan di mana kita melihat bagaimana hukum diproduksi secara terus menerus. Semua itu memang dimaksudkan untuk kepentingan manusia, namun jarang kita sadari, bahwa sebaik-baiknya hukum adalah seminim-minimnya hukum. Ini untuk melindungi kebebasan kita sebagai manusia, karena hukum yang terlalu dominan akan bermutasi menjadi suatu kekuatan baru yang membelenggu. Atau yang biasa kita sebut, penindasan hukum terhadap manusia.

Usaha untuk mempenetrasikan hukum dalam semua lini kehidupan, menjadikan ruang gerak kita jadi terbatas. Hal ini bisa menjadi penghambat bagi perkembangan kebudayaan, ekonomi dan lain-lainnya. Sebagaimana kita ketahui, manusia yang kreatif adalah manusia yang bebas, dan pertumbuhan dan perubahan selalu butuh keleluasaan dalam bergerak. Sebaliknya, sesuatu yang terbelenggu selalu bermentalitas budak, selalu ingin hidup dalam aturan dan tidak punya inisiatif.

Kebebasan juga memerlukan keberanian. Karena dalam kebebasan kita dituntut untuk memilih dan memutuskan, di mana kitalah yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita ambil. Dalam pengertian  berbeda, hukum yang minim menjebloskan manusia pada situasi di mana mereka berhadapan dengan begitu banyak pilihan. Dan manusia dituntut untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya. Dan dengan demikian, manusia digiring menjadi dewasa.

Inilah yang menjadi alasan kenapa masyarakat dengan sistem hukum yang ketat sangat susah berkembang, karena dalam sistem seperti itu, ekonomi sepenuhnya dikontrol dan diatur. Masyarakat secara mentalitas menjadi tergantung, sehingga melahirkan manusia-manusia yang bermentalitas budak dan tidak punya inisiatif. Pada akhirnya, manusia seperti ini tidak bisa berperan sebagai lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan dalam masyarakat. Manusia-manusia yang gagal menciptakan kreasi baru karena hasrat dan nafsu mereka disumbat oleh hukum yang terlalu dominan.

Strategi Meminilisir Hukum

Awalnya, yang perlu kita benahi adalah definisi manusia itu sendiri. Apakah manusia sesuatu yang segala seginya mesti bertolak belakang dengan binatang? Atau apakah manusia benar-benar mahkluk yang berbeda dengan yang lain? Jawaban dari pertanyaan inilah yang menentukan seperti apa ekspestasi kita terhadap hukum. Jika saja kita mau mengakui, bahwa manusia adalah bagian dari rumpun binatang, yaitu binatang yang bernama manusia. Dan adapun hal yang membedakan kita dengan binatang lain, itulah yang membedakan spesies kita. Dengan kesadaran seperti itu, hukum sebagai strategi sosial tidak perlu diarahkan untuk membunuh insting kebinatangan kita. Tidak perlu diproduksi secara berlebihan.

Dengan kesadaran sebagai bagian dari rumpun binatang, maka hukum sebagai strategi sosial tidak diarahkan untuk makin menjauh dari sifat-sifat dasar binatang, yaitu kebebasan dan kelenturan sistem sosial dalam mengakomodir agresi-agresi individu, sebagai bentuk penegasan individu terhadap masyarakat. Dan seperti yang sudah dibahas di atas, adanya kebebasan individu untuk melakukan agresi, mendorongnya untuk lebih kreatif dan menemukan hal baru. Juga individu-individu yang agresif dan ambisius, adalah aktor-aktor utama dalam dinamika masyarakat yang berkembang.

Meskipun kita tahu, hukum yang ketat tidak akan membunuh kecenderungan dasar manusia untuk buas, bukan berarti kita jadi acuh terhadap percobaan dominasi hukum. Meskipun kita tahu hukum tidak mampu mengendus sesuatu yang secara esensial sama tapi telah bermutasi dalam bentuk yang berbeda, namun kita tidak bisa membiarkan hukum yang overload. Sejarah telah memperlihatkan kepada kita, di tempat-tempat tertentu yang menganut sistem hukum ketat, percobaan belenggu malah mereproduksi kecenderungan ini dalam bentuknya yang paling mengerikan, yaitu perilaku korup dan kediktatoran segenap lapisan masyarakatnya. Namun dalam sistem hukum yang longgar, yang mengakomodir, anehnya, agresi ini malah muncul dalam wujud yang positif. ( Nasrul Sani M Toaha )

Dimana Kesenian Itu?

hardin.k12.ky.us

“Mas tempat nongkrong para seniman dimana yah?” sebuah pertanyaan yang meluncur mulus dari mulut seorang anak muda yang belum genap dua puluh tahun usianya.

Seniman, sebuah kata yang sangat sering mampir di telinga kita. Sebuah nama yang biasanya dijadikan alasan seseorang untuk berekpresi, bahkan terkadang sampai melampaui batas. Celakanya hal-hal yang melampaui batas itu terpaksa kita maklumi karena ia mengaku seniman. Banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang pertanyaan yang anak muda itu ajukan. Hal ini berbanding lurus dengan banyaknya jawaban yang bisa kita diskusikan.

Seniman atau orang yg mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, berteater, dsb) tentunya orang yang mampu menciptakan seni baik modern maupun tradisional. Namun demikian tak sedikit orang yang mengganggap dirinya menjadi seniman setelah mampu keluar dari aturan atau norma-norma yang berlaku, hal ini tak jarang dipicu oleh orang–orang yang kita anggap ‘seniman’.

Seperti halnya pertanyaan diatas, seniman bagi mereka mungkin adalah orang yang merasa telah berhubungan langsung dengan hal-hal yang bersifat kesenian. Misalnya orang yang bisa main gitar, pernah ikut main teater, atau bahkan orang orang yang berpakaian/berprilaku asal-asalan.

Dalam dunia kesenian, kata seniman adalah satu kata yang berada pada level yang sangat tinggi. Seniman adalah sebuah kata yang hanya bisa disematkan bagi para maestro yang mempunyai karya-karya avangrade. Seorang bisa dikatakan seniman yaitu orang yang telah menciptakan karya baru yang fresh yang sebelumnya belum pernah lahir, atau ada hubungannya dengan karya-karya yang pernah lahir namun mengalami peningkatan yang signifikan. Misalnya sebuah karya baru yang merupakan pengembangan dari karya lama yang menghasilkan sesuatu yang spektakuler.

Ada klasifikasi seorang penggiat seni menurut keterlibatannya, yang pertama Pre Art yaitu orang orang yang baru saja berhubungan dengan dunia seni. Kemudian Seni Kid, yaitu mereka yang baru ikut dalam satu atau dua kegiatan kesenian. Selanjutnya Seni Child, yaitu orang yang sudah masuk dunia kesenian dan baru diakui bahwa dia mau terjun di dunia kesenian. Baru Seniman, orang yang telah diakui karya-karyanya dan loyalitasnya dalam hal kesenian. Namun ada lagi yang paling tinggi derajatnya Yaitu Senimang, orang orang seperti ini adalah orang-orang yang telah diakui karya karyanya dan mereka mengabdikan hidupnya hanya untuk kesenian dan pengembangan budaya, orang-orang seperti ini nyaris tidak akan kita temui di masa sekarang.

Dalam prespektif kapitalistik, produk kesenian bukan lagi bertujuan pengembangan dan keberpihakan kepada nilai-nilai seni. Kesenian telah berubah bentuk menjadi sebuah alat produksi seni demi mencapai keuntungan materi. Hal ini menimbulkan reorientasi masyarakat seni dalam berkreasi. Berkarya bukan lagi sebuah ekspresi tetapi berkarya didasari untuk mengejar label pribadi, yang bertujuan menjadikan sebuah karya seni akan akan dapat diperhitungkan jika kreator seni telah mempunyai gelar-gelar seperti diatas. Tanpa peduli dengan hak hidup karya itu sendiri. Kasus seperti ini membuat nilai sebuah karya seni mengalami penurunan drastis. Hak dari sebuah karya seni adalah mempunyai kehidupan sendiri tanpa adanya keterkaitan dengan sang kreator. Seperti halnya manusia dengnan Tuhan. Misalnya, sebuah lukisan tetaplah sebuah lukisan yang menggambarkan tentang kehidupan dari dunia lukis itu. Lukisan yang di buat oleh Van gooh akan sama nilainya dengan lukisan yang diciptakan Nasrul Sani (mungkin hanya saya dan beberapa teman yang kenal) ketika dalam proses penciptaannya sama-sama memberikan jiwa dan kehidupan pada karyanya. Jiwa pada sebuah karya akan sangat terasa walau oleh orang yang tak berkecimpung dalam dunia seni. Seharusnya sudah tidak ada kalimat ‘inilah karyaku’ tetapi seharusnya ‘inilah karya itu’.

Dalam perkembangan dunia seni yang memprihatinkan itu, sebagian besar para ‘seniman’ sudah tidak lagi berpihak pada dunia seni yang mereka ciptakan. Kesenian hanya dijadikan keledai tunggangan untuk mencapai tujuan pribadi sang kreator, jangankan untuk keseniannya bahkan untuk para penikmat senipun mereka tak peduli, yang penting sang kreator bisa eksis.

Dengan demikian kesalahan tafsir tentang seniman dan kesenian, dikarenakan tidak adanya batasan antara dunia riil kreator dengan dunia riil sebuah karya. Maka jika ada lagi pertanyaan “ dimana tempat nongkrong para seniman?” jawabnya “ di langit ke tujuh”. (Ayat Muhammad)

Indonesia : Doa Untuk Demokrat dan Partai-partai Oposisi

hubpages.com

Sukses partai-partai lain menggebuk demokrat adalah bukti bertapa anehnya politik. Bertapa tidak, partai-partai lain tidak pernah mencatat kemenangan sejak pemilu legeslatif 2004. Di Jakarta, Medan, Surabaya, Denpasar, dan Makassar, mereka menebar kagum, menelusuri dana Century tanpa rasa takut secuilpun. Wakil partai di pansus seperti Achilles, prajurit Yunani yang gagah berani itu. Mereka datang untuk membalas dendam.

Demokrat, SBY dan Harapan Kita

Kita tahu, sebelumnya SBY dan Demokrat tidak pernah seterpuruk sekarang ini, hingga memaksa seorang destroyer seperti Ahmad Mubarak bermain sebagai bek persis di depan gawang. Partai-partai lain merebut simpati justru setelah kemenangan telak SBY dan demokrat pada Pileg dan Pilpres 2009, saat mereka dalam kondisi terlemah.

Di Demokrat ada seorang yang terkesan sangat santun, suatu waktu dia tersenyum, bahkan dalam masa-masa sulit. Dia muncul dan hilang untuk melindungi keputusan-keputusan presiden. Dia sangat cerdas, tidak ada yang menyangsikan, dan di sisi lain, dia juga tidak pernah memperlihatkan wajah yang buruk. Logika-logikanya selalu mengesankan, menyulap yang irasional jadi kelihatan mungkin. Kali ini, dia datang dengan sendirinya untuk menceritakan kegalaunnya, tentang sang presiden yang di hina dengan kerbau. Kali ini senyumnya yang dulu ramah sekarang bercampur emosi, dan logika-logikanya terkesan mengada-ada. Tak diragukan lagi, Andi Alfian Mallarangeng menghadapi sesuatu yang besar.

SBY seperti seorang politisi dari dunia lain. Dia tinggal di Cikeas, sangat sabar, menunggu para politisi muncul dan menyaksikan mereka pergi setiap hari. Lalu satu momentum tiba , Taufik Kiemas buat blunder, dan SBY mencetak gol dari posisi yang tidak diduga-duga. Satu peristiwa yang aneh, seperti melawan takdir. SBY bicara banyak tentang politik dan demokrasi dengan pendekatan berbeda, ucapannya tidak pernah marah dan mengandung kesantunan.

Namun satu hubungan yang aneh, antara SBY dan democrat, yang menjauhkannya dari ucapan-ucapannya. SBY selalu di depan dan demokrat seolah tertinggal jauh di belakang. Hal ini bisa menjadi pemantik untuk mempertanyakan SBY, juga demokrat. Sampai saat ini, kita belum menyaksikan, hubungan SBY dan Demokrat yang didambakan. SBY seperti pemilik, dan demokrat kelihatan terkukung. Mungkin karena sejarah, atau karena personalitas SBY yang terlampau kharismatik.

Tapi masalah yang serius adalah, kader-kader demokrat sebagaimana PDIP belum memiliki posisi yang tepat. Ini tentu sulit, kader demokrat harus memiliki kebebasan, harus bermain dengan gayanya sendiri, mereka membutuhkan ruang gerak. Namun tentunya mereka bukan pelukis, yang terbebas dari tuntutan dalam menciptakan karyanya.

Indonesia masih menunggu penampilan terbaik SBY dan Demokrat, hubungan sederajat dan juga demokratis. Kami semua ingin melihat mereka bangkit di 2010 sebelum sebelum beraksi pada Pileg dan Pilpres 2014. Tuntutan ini semakin besar bersamaan dengan terpuruknya citra kader demokrat dalam perang melelahkan menghadapi century.

Meskipun kadang terlihat ragu, sulit untuk membujuk SBY, karena dia seorang yang memiliki keyakinan. Saya selalu berpikir dia akan menjadi satu keuntungan tersendiri bagi demokrasi Indonesia. Saya tidak yakin betul apakah dia bisa berubah ataukah dia memang perlu berubah. Tapi mungkin dia bisa membawa sesuatu yang tidak kita kenal dalam demokrasi, yaitu kesantunan dalam berucap dan keramahannya. Sebenarnya, lebih tepat harus kita sebut teori baru, karena seperti kita ketahui, kesantunan dan demokrasi adalah dua sisi yang berbeda. Dalam kadar beragam, kesantunan selalu menyimpan sesuatu yang diam, sementara demokrasi selalu menuntut keterbukaan.

Century dan Lahirnya Tim Antagonis

Doa dan harapan yang dipanjatkan menjelang akhir 2009, langsung tenggelam pada ronde pertama pemerintahan SBY-Boediono. Protes, nyanyian, makian dan seterusnya dilantunkan untuk menandai kembalinya era kegelapan. Sebagian besar keraguan justru muncul dari hal-hal yang baru saja dielu-elukan.

Kondisi demokrasi terlihat suram, tak menyiratkan harapan. Tak berlebihan jika kita menyebut, Indonesia ibarat tempat yang tak pernah ramah bagi demokrasi. Dalam penurunan kualitas, demokrasi hampir kehilangan oposisi. Di jalan, orang-orang terus mengeluh, bahkan ada yang membakar ban. Asapnya hitam, tanda Indonesia sedang macet.

Sebenarnya ada beberapa usaha untuk keluar dari situasi ini. Sayangnya usaha itu dilakukan hanya segelintir orang saja, bukan merupakan satu kebiasaan bersama. Dalam demokrasi, benar, kepentingan akan selalu menang atas apapun. Namun kita melihat partai-partai jauh lebih mengedepankan pencapaian-pencapain jangka pendek, dibandingkan bersabar dan bekerja untuk memenangkan hati rakyat. Dan sayangnya, partai-partai raksasa pun macam golkar dan sebagian dalam diri PDIP tampaknya juga menganut keyakinan itu.

Sebelumnya banyak meragukan kekuatan Hanura dan Gerindra sebagai oposisi. Tidak banyak yang menyebut GOLKAR, PKS dan PDIP sebagai rival Demokrat. Namun demokrasi memang butuh reaksi kimia. Semua komponen mesti ada.

Sekali lagi demokrat adalah partai potensial, kandidat kuat pada pesta demokrasi 2014. Mereka senantiasa berhasil memanfaatkan bakat dan karakter yang dimiliki. Sang pemimpin bernama Susilo Bambang Yudhoyono, adalah seorang pemikir yang bisa bertindak. Dia seperti sutradara yang mengendalikan panggung politik.

Namun di politik semua bisa terjadi. Menjelang detik-detik terakhir 2009, terbuka kesempatan untuk satu demokrasi yang lebih seksi. Semua ini berkat perkembangan GOLKAR, PKS dan PDIP. Sebelumnya – sekali lagi – setelah bergabungnya partai GOLKAR dan PKS, dan PDIP yang abu-abu, kita sempat bertanya-tanya, benarkah oposisi tidak mesti terlembagakan?. Bisakah koalisi mengkritik saudaranya sendiri?.

Dan ternyata mereka menjawab “iya”. Meskipun kita tidak pernah tahu, adakah sandiwara di balik century, namun kelihatannya SBY dan Demokrat meradang. Sekarang, Kader demokrat seperti didera penyakit lupa, tentang definisi ciptaan mereka sendiri – definisi yang kadang saya pikir amat ganjil bersanding dengan demokrasi –, tentang makna koalisi dan oposisi. Sekarang, dengan apa yang telah mereka berikan, SBY dan Demokrat seperti tidak rela dikritik kawannya sendiri.

Satu hal yang menggembirankan, demokrasi memang sudah kembali, meskipun belum pada level yang memuaskan. semua ini berkat Century dan perkembangan oposisi yang kian hari kian menjanjikan. Partai-partai yang awalnya depresi setelah KO pada awal dan pertengahan 2009, perlahan mulai bangkit dan membalikkandan membalikkan prediksi semua orang. Mereka bekerja sangat baik dan mulai menuai citra positif di panggung politik. Demokrasi rasanya memang tidak bisa lepas dari politik pencitraan. Namun ingin kita sebagai masyarakat adalah, melihat citra bangun membangun dengan konstribusi nyata setiap partai. Untuk itulah kita butuh transparansi dan kerja media yang jujur, agar citra tidak menghianati fakta. ( Nasrul Sani M Toaha)

Gerilya Goenawan Mohamad Melawan Belenggu

silverfishbooks.com

Bagi saya, Goenawan Muhamad atau biasa kita sebut GM adalah individu yang menakjubkan. Kecuali dalam beberapa forum diskusi, memang saya tidak pernah bersentuhan langsung dengannya. Namun saya mengenal dia lewat beberapa karyanya, terutama Catatan Pinggirnya yang mengagumkan. Dalam keindahan bertutur, tulisan-tulisan GM tersebut seperti perangkap, yang secara perlahan-lahan, menjerat pembaca masuk ke dunia ciptaannya, dunia yang sarat kontemplasi. Dalam tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang lebar tentang kehidupan GM, menurut saya itu sudah final, GM dengan ide-idenya adalah bom yang siap meledak setiap saat. Dia adalah emas bagi generasinya, dan dia pantas dijadikan ikon dalam khazanah pemikiran Indonesia kontemporer. Saya lewat tulisan ini, hanya ingin menghidupkan kembali beberapa karya GM yang dipenakannya antara tahun 1978 sampai 1982, dalam kumpulan tulisannya yang berjudul Catatan Pinggir 1, yang antara lain, “Ketika Koran-koran ditutup 1978 (28 Januari 1978), Seorang Presiden dan Sebuah Sajak (11 feberuari 1978), Konflik (23 Mei 1981) dan Memang Selalu Demikian Hadi (13 Juni 1982). Keinginan saya itu dimulai dari sebuah situasi, situasi politik yang menurut saya relevan untuk membangkitkan kembali tulisan-tulisan ini dari liang lahatnya. Mimpi tentang demokrasi –  yang saya rasa pemicu lahirnya tulisan-tulisan GM – bisa jadi hantu buat kita. Lumrah jika orang ingin jadi GM, namun tidak ada dari kita yang ingin bermimpi seperti GM. Mimpi GM muda memang indah, tapi ibu yang melahirkan kerinduan tersebut, adalah situasi penuh teror. Situasi politik di mana kebebasan berpendapat tidak mempunyai ranah dalam kelamnya sejarah politik Orde Baru. Demokrasi adalah sesuatu yang ingin kita alami, raba dan jamah. Terlalu suram rasanya jika kita terjerembab dalam lumpur yang sama. Akhir tahun 70-an saat GM menulis artikel yang dia beri judul “Ketika Koran-Koran Ditutup, 1978″, sejatinya memang masa puberitas Orde Baru, era dimana rezim tersebut mengkonsolidasi kekuatannya untuk menterali-besikan kebebasan. Dengan tragis GM menggambarkan situasi zaman itu dengan pembukaan yang miris ” Di setiap masa” kata GM, ” nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak acuhan. Semua teka-teki”. Rasanya, dengan membaca paragraf pembuka tersebut, GM membawa kita menjelajah ke tempat yang paling suram, jauh dari hiruk-pikuk manusia, di mana kesunyian jadi mesin pembunuh paling efektif, yang tanpa kita sadari, lambat-laun menghancurkan kemanusian kita. Rasanya, demokrasi memang seksi, paling tidak di mata GM dan dalam kondisi keterbelengguan. GM tidak rela, dia protes. Suatu kondisi damai yang coba dibangun penguasa dia tampik. Karena GM tahu, kedamain seperti itu justru mengandung kanker. Lalu dia menulis, masih dalam artikel yang sama ” ketika republik ini didirikan, iapun tidak dimaksudkan untuk hanya berupa hutan, laut dan pulau-pulau tropis yang membisu. Tertib, tentram, aman dan makmur memang suatu cita-cita. Tapi sebuah negeri harus selalu siap dengan kenyataan-kenyataan. Bahkan kenyataan-kenyataan yang terkadang Nampak semrawut itu barangkali mengandung hikmah”. Orang boleh mendebat, apa sebenarnya maksud dari penolakan GM, atau apa sebenarnya sumber daya tolak “sesuatu” itu. Yang jelas, kata GM, ” Ia bukan semata-mata senjata. Barangkali ia adalah sesuatu kenyataan yang sederhana saja. Kenyataan itu, yang tumbuh dari keaneka-ragaman Indonesia, yang menyebabkan Pancasila lahir, menuding : tidak ada suatu kekuatan pun yang bisa memonopoli Indonesia”. Jika konflik adalah risiko bagi kebhinekaan, dan kebhinekaan adalah risiko bagi berdirinya Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Maka menurut yang tersirat dari tulisan GM muda, demokrasi adalah jawaban. Sampai batas ini, konflik bukan lagi kenyataan, bahkan tidat tepat jika disebut risiko, tapi lebih dari itu, konflik sudah bermetamorfosis jadi sesuatu yang dibutuhkan. Dia adalah bahan bakar, roda penggerak masyarakat. Dalam tulisannya, saya melihat GM menganggap konflik dalam demokrasi adalah roh, nyawa pembawa kemajuan. Seperti tulisnya ” seseorang pernah mengatakan, bahwa demokrasi pada dasarnya adalah management of conflicts. Tekanan tentu saja diletakkan pada kata “konflik”, bukan pada kata “manajemen”. Sebab sistem politik apapun selalu berniat mengelolah segala hal yang timbul dalam hidup bersama, termasuk pertikaian. Namun hanya demokrasi yang mengakui bahwa konflik adalah bagian dari kita, biarpun kita di satu lubuk, biarpun kita di satu kandang “. Gerilya GM melawan keterbelengguan, kembali ia tegaskan dalam sikapnya terhadap totaliatarianisme, bagi GM totalitarianisme tak punya pengakuan terhadap perbedaan pendapat.” Di sana individu adalah dosa asal” kata GM “berbeda merupakan bid’ah dan konflik adalah satu-satunya penunggang kuda Apokalipsa, pembawa malapetaka”. Dengan cermat GM menggambarkan ” Di lautan massa Maois, di kancah Pengawal Merah, siapa yang tak pandai mengutip kata-kata Mao dengan tepat berarti bukan kita, melainkan mereka. Psikologi  totalitarianisme berbicara, bahwa siapa saja yang tak bersama kita adalah musuh kita “. Ketakutan GM nampaknya bergetar disetiap tulisannya. Sepertinya GM tidak rela, Indonesia terperosok ke jurang yang sama dengan Cina. Pada tahun-tahun itu, berkali-kali GM mengulas tentang Cina. Mao dari sisi yang mengagumkan memang kerap tampil dalam tulisan-tulisan GM, namun jarang sekali dia berbicara sisi positif dari sistem politik diyakini Mao yang panik. Dan ulas GM “ management of conflict itu? Pada saat kita mempersepsikan konflik sebagai semacam setan, jin, pageblug. Wabah, gempa bumi, angin ribut, atau black magic yang diam-diam menikam, kita pun tak berbicara tentang manajemen. Demokrasi kadang mati karena panik”. Kekuasaan memang mengandung lupa. Dia membawa dosa asal.  Carter yang mencoba menafsirkan sebaris puisi Dylan Thomash, pernah berkata ” bagi saya, itu berarti bahwa seorang yang kuat dengan daya terobos yang kokoh terhadap sebuah bangsa…. Dapat bersifat tak sensitif (kepada perasaan orang lain). “Terpisahnya kekuasaan dari rakyat” katanya pula ” kadang tidak diketahui pemimpin yang kuat. Dan sifat tidak peka, yang memang sudah terkandung dalam tiap kekuasaan, seharusnya merupakan peringatan bagi kita. Melihat keadaan sekarang ini, ketika etika berpendapat mulai dipersoalkan, tentu mengandung gusar. Adakah ini benih bagi suatu permulaan. Adakah kita akan bernasib sama seperti GM muda yang merindukan kebebasan. Agaknya, meskipun reformasi baru seumur jagung, perjuangan mulai dikhianati, sadar tidak sadar. Kegalauan kita itu – yang juga terekam dalam puisi Taufiq Ismail yang dia tulis pada 1966, ketika apa yang di sebut Orde Lama sedang ditumbangkan ” Setiap perjuangan selalu melahirkan sejumlah penghianat dan para penjilat… Setiap perjuangan menghadapkan kita pada kaum yang bimbang…. Setiap perjuangan yang akan menang selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian, dan para jagoan kesiangan” – mulai menjakiti lagi. Agaknya, dalam setiap sejarah, hal-hal macam itu selalu akan berulang, seperti pesan Taufiq Ismail kepada kita,  “jangan kau gusar, memang demikian halnya” ” Agaknya” kata GM ” Meskipun, sebenarnya penghianatan kepada perjuangan tidak selalu begitu cepat dan begitu jelas seperti ketika pada puncak sengitnya pertempuran, seorang kawan kita lari ke pihak lawan karena dibeli. Dalam kasus semacam itu, warna-warna segera nyata dan tegas: hitam, putih, atau kuning. Tapi memang selalu demikian yang selalu terjadi – ialah penghianatan dalam proses yang lebih pelan. Yakni ketika asap peperangan telah kalis dan musuh telah kalah” Ketika kita memutar waktu dan kembali ke zaman kita, tampak ada persamaan kabur antara apa yang dilawan GM juga Taufiq Ismail, dengan apa yang kita hadapi sekarang. Aneh memang, namun itulah kenyataan. Kita harus selalu siap berperang melawan lupa – lupa yang memang terkandung di setiap kekuasaan dan di setiap masa menang. 1 juni 1945, ketika pidato pertama tentang Pancasila diucapkan, Bung Karno juga berkata tentang hal itu: ” tidak ada satu Negara boleh dikatakan hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan dikira Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira di Negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah Subhanahuwata’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan sehari-hari, kita selalu bergosok…”. Agaknya sulit mewujudkan demokrasi – butuh perjuangan, namun, jika kita konsisten dengan reformasi, perlu rasanya kita menginternalisasikan apa yang pernah diucapkan Jimmy Carter tentang demokrasi ” kapasitas manusia untuk berbuat adil menyebabkan demokrasi mungkin, kapasitas manusia untuk sewenang-wenang menyebabkan demokrasi perlu “. ( Nasrul Sani M Toaha )

Independensi BI Masih Setengah Hati

Menjadikan Bank Sentral sebagai lembaga negara yang independen secara penuh masih sangat sulit untuk diwujudkan. Bank Sentral masih belum bisa melepaskan diri dari intervensi politik pemerintah. Demikianlah kesimpulan seminar tentang ‘Membangun Peran Masyarakat Dalam Menjawab Tantangan Independensi Bank Sentral’ di Jakarta, Kamis (11/2), yang diadakan oleh RISE Indonesia bekerjasama dengan CCL.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar adalah Dian E. Rae dari Bank Indonesia, Peneliti Senior Politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, Ketua Masyarakat Profesional Madani, Ismet Hasan Putro dan Direktur LKBN Antara, Ahmad Mukhlis Yusuf.

Menurut Dian E. Rae, Bank Indonesia tidak seperti Mahmakah Agung atau Mahkamah Konstitusi yang langsung di atur oleh UUD 1945. “Dalam konstitusi kita disebutkan bahwa, Bank Indonesia di atur oleh Undang-undang, sementara undang-undang adalah produk politik DPR”. Demikian komentarnya ketika menanggapi pertanyaan salah satu peserta seminar.

Hal senada juga disampaikan oleh peneliti senior LIPI, Ikrar Nusa Bhakti. Menurutnya mengatakan bahwa undang-undang yang mengatur pengangkatan dewan gubernur BI membuka pintu untuk intervensi politik. Pengangkatan dewan gubernur BI oleh DPR telah menghilangkan independensi BI.

“Bukan mustahil Presiden dan DPR bisa melakukan intervensi terhadap BI. Apalagi sekarang intervensinya sangat kasat mata. Pemilihan gubernur, dewan gubernur, dan deputi senior BI adalah pengaruh kepentingan politik,” kata Ikrar.

Sementara itu, Ketua masyarakat Profesional Madani, Ismet Hasan Putro, menilai kasus Bank Century dapat mengikis kepercayaan publik kepada Bank Indonesia. Oleh karena itu menurutnya, pemerintah harus serius dalam membongkar kasus Bank Century. (Sunardi)

The White Castle

Buku ini berkisah tentang kehidupan seorang asal Venesia yang konon menjalani kehidupan sebagai seorang budak di Istanbul, Turki, pada sekitar abad ke-17. Karena pengetahuannya yang luas, tuannya yang segala-galanya sangat mirip dengannya berusaha dengan segala cara menggali semua pengetahuan dan sekaligus menguras semua pengalaman hidup si budak. Continue reading “The White Castle”

Mantra Itu Berbunyi, “Man Jadda Wajada”

Satu lagi karya fiksi bernuansa pendidikan mencoba menyusul kesuksesan Laskar Pelangi dan tetraloginya. Bila tantangan pendidikan yang dihadapi oleh anak-anak Laskar Pelangi adalah keterbatasan kehidupan dan kemiskinan, maka Negeri 5 Menara menggambarkan suatu tantangan lain yang tidak kalah berat yang dialami oleh anak-anak muda dalam suatu proses meraih mimpi. Tantangan itu berada dalam suatu tradisi dan kehidupan yang bernama pesantren.

Istilah pesantren memang bukan hal yang aneh dan sudah populer di telinga masyarakat Indonesia. Ia adalah sebuah tradisi yang mengawali proses perjalanan pendidikan di Indonesia. Jauh sebelum adanya sistem pendidikan modern seperti sekarang, pesantren telah memainkan perannya dalan transformasi keilmuan seiring dengan transformasi ajaran Islam di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti semua kehidupan dan tradisi dalam pesantren dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas.

Tentu kita masih ingat dengan fenomena kontroversi film Perempuan Berkalung Surban yang mengguncang dunia pesantren. Dalam film tersebut diungkap salah satu sudut fakta pesantren yang dianggap oleh sebagian kelompok sebagai tradisi pesantren, seperti poligami, diskriminasi terhadap perempuan, kuno, ketinggalan zaman, tradisional, dan kesan-kesan negatif lainnya. Tentu saja tidak semua gambaran itu bisa dibenarkan. Karena bagaimanapun, peran dunia pesantren dalam pembentukan generasi-generasi unggul di negeri ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu fakta penting pesantren dalam pembentukan karakter generasi muda, begitu apik disajikan oleh novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Dalam karyanya, Fuadi banyak mengungkap fakta penting yang selama ini menurut sebagian orang masih teka-teki. Ia misalnya mengungkap tradisi sebagian pesantren yang mewajibkan setiap santrinya untuk bisa menguasai bahasa Inggris dalam waktu tiga bulan. Pesantren juga menerapkan tradisi disiplin tinggi yang tidak kalah dengan tradisi disiplin militer. Melalui karya ini pula, Fuadi mencoba menghilangkan kesan pesantren yang kuno dan ketinggalan zaman. Dan dari karya ini juga terungkap, bahwa kelompok santri yang terkesan kolot dengan simbol sarungan ternyata tidak serta merta ketinggalan zaman.

Kisah dalam novel ini berisi tentang semangat tinggi, motivasi kuat, dan optimisme yang keras enam anak muda dalam memperjuangkan cita-cita mereka. Dengan kekuatan pandangan hidup, kekuatan ikhlas, dan perasaan prasangka baik kepada Tuhan, keenam anak muda ini berusaha mencapai prestasi serta mimpi tinggi. Kisah ini semakin lengkap dengan kisah kasih dari hubungan persahabatan yang kokoh, kasih sayang antara anak dan ibu, dan juga kasih hangat murid dan guru.

Sekali lagi kekuatan mimpi itu terbukti, siapapun mereka yang bermimpi. Anak-anak muda dari berbagai pelosok negeri, bahkan dari pelosok terpecil sekalipun mampu meraih mimpi-mimpi mereka dengan kerja keras dan semangat juang yang luar biasa. Mantera mereka yang sangat terkenal, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, senantiasa memotivasi mereka, dan juga pasitnya para pemimpi-pemimpi lain dalam peraihan mimpi-mimpinya.

Kisah ini menjadi menarik karena seperti halnya Laskar Pelangi, kisah yang diceritakan berdasarkan kisah nyata. Dari dasar ini, pembaca seolah-olah diajak ke suatu daerah di pelosok desa di Jawa Timur dengan ragam kehidupan nyata di dalamnya dengan elaborasi-elaborasi apiki layaknya karya fiksi lainnya. Kisah yang tertulis juga terkesan mengalir, tidak menggurui, dan ringan, namun tetap mampu menyampaikan pesan-pesan utamanya, yaitu suatu realita dunia pesantren yang indah dan menantang. Dan akhirnya kehidupan yang penuh teka-teki itupun terungkap. (Zuhriyyah)

Pesan Demokrasi Untuk Presiden

Satu generasi sedang tertidur, pulas mendengkur.  Generasi tercecer, yang menunggu ditemukan. Agak sentimental memang, refleksi ketidakpuasan meluap-luap, serta unsur perlawanannya  ketat. Situasi yang buat para penggunanya, mungkin sangat pekat, dari jendela manapun mereka memandang.

Kalimat ini tidak asal melawan. Dia merepresentasikan kecerdasan sang kreator, serta kemampuan kognitif si pendengar, untuk menangkap sesuatu yang besar juga bangunan logika yang bertingkat. Namun mereka juga orang yang gentar, was-was dengan keadaan.

Kalimat-kalimat demikian, bahkan  yang lebih rumit, sering dijumpai di jalan, di forum ilmiah, artikel-artikel, jurnal dan juga dibuku-buku semisal filsafat. Kalimat yang bikin jidat Mengkerut, tidak mudah dicernah. Isi pesannya pada dasarnya ditujukan untuk semua, namun mungkin efektif hanya untuk orang-orang tertentu, dari kalangan tertentu, dengan daya intelijensi yang meluap-luap.

Tidak inklusif , namun mereka punya tempat dan peran dalam dunia pemikiran, dalam lalu-lintas informasi. Pesan tertentu hanya bisa dikomunikasikan dengan cara tertentu. Dalam perdebatan para kritikus seni, biasa diistilahkan perdebatan antara bentuk dan isi. Bentuk yang sempurna merepresentasikan isi yang sempurna pula. Isi yang sempurna tidak mungkin diwadahi bentuk yang cacat.

Ada pula perenungan yang dalam, isi rumit, namun dibahasakan secara sederhana.  Pesan seperti ini, mendorong kita untuk berkontemplasi, menghasilkan ide-ide kita sendiri, yang kadang hasilnya adalah pengembangan, dan tak jarang pula lepas sama sekali teks awal sebagai pijakannya. Dengan demikian pesan seperti ini memerdekakan, tidak membelenggu dengan koridor-koridornya, serta menciptakan warna-warni pada kehidupan ber-ide. Pesan seperti ini, kadang mampu menyentuh masalah dasar masyarakat kita. Masyarakat yang malas berpikir.

Berbeda dengan para cendikiawan, mahasiswa atau politisi, bahasa mereka tidak terasing dari realitas kokret. Lepas dari metedelogi-metedologi canggih produk perguruan tinggi. Mereka menganalisa sesuatu yang sederhana, memakai metodologi sederhana, yang pula lahir dari kondisi pergulatan yang sederhana.

Itulah petani kita, para nelayan dan rakyat miskin kita. Pesan sederhana, di komunikasikan secara polos, hingga kita tidak mampu menggairahkan diri untuk memikirkan, apalagi meresponnya. Pesan yang mungkin lahir dari persinggungan antara si subjek dengan realitasnya. Interaksi alamiah yang memantik ide-ide alamiah, tentang sawah yang hijauh dan nelayan yang dihempas ombak.

Memang, mereka tidak mampu mengkomunikasikan ide-idenya secara sistematis, dengan logika-logika yang solid. Namun satu hal yang jelas, pesan tersebut jujur.

Ada yang polos, ada pula tak beretika. Mereka memakai kerbau, untuk melukiskan seorang pemimpin. Pesan yang mungkin memerahkan kuping si presiden, hingga sang presiden mesti turun tahta mengkritik cara sipengkritik mengkritik.

Memang, menjadi presiden tidaklah mudah, apalagi disebuah negeri yang demokratis. Banyak suara-suara, banyak pula permintaan. Selain kadang tidak realistis, banyak pula bertolak belakang satu sama lain. Tapi yang paling tidak menyenangkan tentunya, menjadi presiden di negara demokratis berarti harus berhadapan dengan diri sendiri. Harus melawan hasrat otoriter yang tumbuh semakin bergairah bersama berjalannya waktu.

Mungkin sang presiden lupa, bahwa demokrasi, untuk menyingkap yang gelap-gelap perlu kebisingan, agar semua yang diam dapat berbicara. Perlu nada-nada sumbang, agar setiap yang tersembunyi, timbul kepermukaan. Demokrasi perlu ekspresif, agar semua bisa disaksikan. Demokrasi tidak pernah sunyi.

Kritik semacam itu mengancam, kata sang presiden. Lalu kita jadi bertanya-tanya, siapa yang terancam, presiden atau lembaga kepresidenan. Atau kata sang presiden, ini berhaya bagi demokrasi. Mungkin justru disitulah letak bahayanya. Presiden yang anti kritik menyumbat pipa-pipa demokrasi.

Penyelesainnya, sang presiden rasanya perlu mengintruksikan partainya, untuk menjadi lokomotif, bukan menajdi penghalang penyingkapan misteri century, agar orang tidak terjerembab ke kekecurigaan yang makin dalam.

Namun jauh dibalik perdebatan tentang posisi etika dalam berdemokrasi, jauh dalam usaha menghakimi fakta ke dalam dikotomi buruk dan baik yang sedang marak, satu hal yang pasti. Melihat para mahasiswa, petani, poltisi, cendekiawan dan hampir semua lapisan masyarakat bersuara, meskipun dengan cara mereka masing-masing dan dengan tujuan masing-masing, kita jadi bertanya “benarkah satu generasi sedang tertidur”. Pertanyaan yang mungkin sangat sulit kita temukan jawabannya. ( Nasrul Sani M Toaha )

Berapa Usia HMI?

Waktu, selain menjadi tanda kebesaran Tuhan, tentunya menjadi patokan bagi siapa pun untuk mengingat dan melakukan refleksi. Namun, setiap patok tentunya membutuhkan akurasi. Ketidakakuratan mendorong kemunculan kesalahan dalam melakukan refleksi. Tulisan ini hanya ditujukan untuk mengungkap beberapa hal kecil terkait dengan penanggalan yang digunakan HMI.

HMI dalam setiap korespondensi formal senantiasa meletakkan penanggalan Hijriah di atas dan/atau mendahului penanggalan Masehi/Gregorian. Hal ini menunjukkan bahwa HMI relatif lebih percaya terhadap penanggalan Hijriah walaupun dalam momen tertentu, seperti milad, tetap bernegosiasi dengan dominasi penggunaan penanggalan Masehi/Gregorian di Indonesia dan dunia. Padahal, penanggalan Masehi/Gregorian tidak jarang mengalami koreksi yang salah satu di antaranya sebagai berikut.

Penanggalan Gregorian pada awalnya mendasarkan diri pada Geosentrisme yang percaya bahwa bumi menjadi pusat bagi tata surya dan matahari berevolusi terhadap bumi. Salah satu kesalahan yang cukup menonjol dari asumsi tersebut ialah kesalahan penentuan Hari Raya Paskah selama 30 tahun dalam rentang 1475-1531 M. Berikut petikannya:

Furthermore, Regiomontanus well knew that using the old Alfonsine tables would be useless. In his calendar for 1475-1531 he pointed out that in thirty of the fifty-six years between 1475-1531, the date of Easter (the most important day in the Catholic Church) was wrong in the Alfonsine tables. (Because of the sensitivity of this information it was omitted from the German edition of Regiomontanus’ calendar.) To base his ephemeris on tables he knew to be inaccurate would have been completely illogical. Regiomontanus had to use a new source.

Zheng He’s ephemeris tables, on the other hand, were based on Guo Shoujing–which relied on a true understanding of the earth’s and planet’s rotation around the sun as the center of the solar system. In my submission, Zinner’s claim that Regiomontanus’ tables were based upon his personal observations also breaks down because he did not have time to make the necessary observations. Regiomontanus died in 1475. His tables continued for another fifty-six years; one can see his amendments in red in the tables, and these cover only five of the fifty-six years. ” Gavin Menzies, 1434: The Year A Magnificent Chinese Fleet Sailed to Italy and Ignited The Renaissance, (HarperCollins e-book, hal. 150).

Revolusi dari Geosentrisme menuju Heliosentrisme tidak sepenuhnya mengubah penerimaan publik terhadap penanggalan Masehi/Gregorian yang tetap menggunakan matahari sebagai tolok ukur, walau tidak sepenuhnya seperti Geosentrisme, akan tetapi berubah menjadi revolusi bumi terhadap pusat tata surya yang kemudian dijadikan tolok ukur baku bagi penanggalan Masehi/Gregorian.

Berdasarkan penanggalan Masehi/Gregorian, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dibentuk pada 5 Februari 1947 yang bertepatan dengan 14 Rabiul Awwal 1366 H dengan mengecualikan batas waktu dalam menentukan pergantian hari antara penanggalan Masehi/Gregorian dengan Hijriah. Apabila pergantian hari dalam penanggalan Masehi/Gregorian jatuh pada pukul 00.00 di manapun di berbagai wilayah di seluruh penjuru bumi; maka pergantian hari dalam penanggalan Hijriah jatuh menjelang maghrib atau menjelang matahari terbenam yang kemudian disusul oleh kemunculan cahaya bulan (qamariyah) yang tentunya berbeda di setiap penjuru bumi mengingat perbedaan penerimaan cahaya matahari. Dengan demikian, tidak begitu jelas apakah penetapan pembentukan HMI yang diklaim bertepatan dengan 14 Rabiul Awwal 1366 H berlangsung sebelum atau setelah maghrib. Apabila pembentukan HMI dilangsungkan sebelum maghrib maka lebih tepat apabila pembentukan HMI bertepatan dengan 13 Rabiul Awwal 1366 H, sementara bilamana pembentukan HMI setelah maghrib maka betul narasi dominan yang mengatakan bahwa kelahiran HMI bersamaan dengan 14 Rabiul Awwal 1366 H.

Uniknya, perayaan milad HMI lebih sering dilangsungkan menggunakan penanggalan Masehi/Gregorian yang tentunya mengandung perbedaan dari tahun ke tahun. Padahal, setiap korespondensi formal HMI, khususnya melalui surat, senantiasa mendahulukan penanggalan Hijriah ketimbang Masehi/Gregorian. Apabila dihitung menggunakan penanggalan Masehi/Gregorian, maka HMI telah berusia 63 tahun pada tahun 2010 Masehi/Gregorian; sedangkan bilamana dikalkulasi menggunakan penanggalan Hijriah, maka HMI telah berusia 65 tahun.

Dengan demikian, berapa usia HMI? Tentunya, jawaban yang lebih memadai merupakan jawaban yang konsisten dan tidak berdasar pada penanggalan yang pernah mengalami kebangkrutan historis. Apabila argumen ini diterima, maka milad HMI yang ke-65 jatuh pada 14 Rabiul Awwal 1431 H bertepatan dengan 28 Februari 2010 dan bukan pada 5 Februari 2010 yang bertepatan dengan 21 Shafar 1431 H. Tentunya, kita tidak ingin menambah dualitas HMI dan tidak ingin mengikuti “kebangkrutan tetangga.” (Qusthan – Penulis buku Melawan Fasisme Ilmu)

Bang Abeng : Alumni HMI Jualan Nasi Uduk

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, dan sepertinya hari itu akan menjadi hari yang terik karena matahari sudah sangat terik memancarkan sinarnya. Semua orang sudah memulai aktifitas kesehariannya, seorang pedagang sudah mulai menggelar dagangannya, guru sudah mulai memberikan ilmu bagi murid-muridnya dan pegawai negeri sudah mulai menyeduh kopi kemudian membaca Koran di kantornya masing-masing atau mungkin baru sampai ke kantornya.

Pun demikian dengan bang Abeng, salah satu penjual nasi uduk di Jalan Raya Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Bang Abeng, bukanlah penjual nasi uduk biasa yang sering di temui di pasar-pasar atau di perkampungan-perkampungan di daerah Jakarta. Dia mempunyai latar belakang sebagai seorang aktivis organisasi mahasiswa Islam yakni HMI.

Ya….alumni HMI yang berprofesi sebagai penjual nasi uduk. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi bang Abeng. Bang Abeng, adalah salah satu kader HMI Cabang Jakarta angkatan tahun 1985 yang pernah kuliah di Institut Habibie Jakarta dan Universitas Indonesia meski hanya sampai semester satu.

Dalam aktivitas ke-HMI-annya, Bang Abeng pernah menjadi ketua Komisariat Habibie dan pernah menjadi pengurus HMI Cabang Jakarta.  Selain itu, dalam pendidikan formal ke-HMI-an, beliau sudah melewati jenjang pendidikan Latihan Kader dua (LK II).

Menurut Bang Abeng, menjual nasi uduk adalah profesi yang tanpa resiko, tanpa stres dan tidak ada tekanan. “kalau jualan nasi uduk itu, santai, tidak capek dan tak ada tekanana. Kalau tidak laku, ya dimakan sendiri” tutur Bang Abeng.

” Saya dulu pernah jadi asistennya anggota DPR, pernah juga jadi pekerja professional, dan pernah jadi guru sekolah. Jadi saya sudah puaslah bekerja sebagai pekerja professional. Selain itu, saya ingin membuktikan bahwa menjadi kader HMI itu tidak harus berorientasi jadi politisi, karena yang terjadi dari dulu kader HMI itu hanya tertarik pada politik saja” demikian Bang Abeng menuturkan.

Itu lah cerita seorang alumni HMI yang berjualan nasi uduk. Bertemu alumni HMI yang menjadi anggota DPR merupakan hal yang lumrah, apa lagi bertemu dengan menteri, pejabat lembaga negara, pengusaha sukses, pegawai negeri, pegiat LSM, atau mungkin guru. Namun, bagaimana halnya jika seorang kader HMI bertemu dengan alumninya yang berprofesi sebagai penjual nasi uduk? (Sunardi Panjaitan)