R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)

Judul buku    : R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)

Penulis            : Solichin Salam

Penerbit         : Gunung Muria, Jakarta, 1979.

—–

Oleh: Soeroto

Ada dua buku baru mengenai Kartini. Ditulis oleh Solichin Salam. Dengan maksud untuk memperingati 100 tahun lahirnya Kartini.

Saya baca dengan banyak harapan. Memang segala apa yang mengenai  Kartini menarik bagi saya. Maklum, saya anak kelahiran Japara. Dan Ibu saya (alm.) mengenal Kartini baik sekali. Tatkala saya masih kecil, ibuku sering cerita tentang Kartini. Cerita-ceritanya itu ada yang diulang-ulang berkali-kali, sehingga mengendap dalam ingatan saya, sampai sekarang.

Saya baca buku Solichin dengan banyak harapan. Mungkin ada hal-hal yang baru, yang mengungkap segi baru dalam kehidupan Kartini. Atau dalam perjuangannya. Sayang, saya tidak menemukannya, setidak-tidaknya tidak banyak.

Ada bagian-bagian yang lucu atau menggelikan. Umpamanya bab:  ”Dunia seabad yang lalu.” Di situ disajikan nama orang-orang yang dilahirkan dalam abad yang lalu, dan kita oleh Solichin diberondong dengan nama yang hebat-hebat, yang sedikit banyak membuat kita menjadi “groggy”. Albert Einstein dijajarkan dengan Stalin; Sarojini Naidu bersama-sama dengan Von Papen(!) dan  Ch’en Tu-hsiu. Dengan pejelasan bahwa yang terakhir adalah guru Mao Tsetung.

Sementara itu, dalam membaca buku Solichin Salam selanjutnya, saya rasa ada sesuatu yang aneh. Saya pikir-pikir apa, ya? Rasanya, seperti saya sudah pernah baca di tempat lain.

Ya, benar juga, kalimat-kalimat dalam buku Solichin Salam itu terdapat juga dalam buku Sitisoemandari Soeroto, Kartini. Sebuaf Biografi (Pen. Gunung Agung, Jakarta, 1977).

Ini sungguh keterlaluan! Yang jelas ialah: halaman 29 (kira-kira  tiga perempat); halaman 30 seluruhnya, dari garis paling atas sampai garis paling bawah; begitu pula halaman 31 dan 32 seluruhnya diambil dari buku Sitisoemandari. Halaman 16 sebagian; halaman 21 sebagian; halaman 33 sebagian. Halaman 68, bab “Butiran Mutiara Kata” seluruhnya dijiplak dari buku Kartini. Sebuah Biografi. Halaman 69 sebagian.

Wetenschappelijke Bladen

Itu yang dapat saya temukan. Mungkin masih banyak lagi, sebab tidak selalu mudah untuk menemukannya. Sebab kadang-kadang ia juga “pintar”. Umpamanya di halaman 21. Di buku Kartini. Sebuah Biografi ditulis:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini ialah antara lain Maatschappelijk Werk in Indie dan Henri Borel. Tetapi ia juga tertarik kepada buku Fielding mengenai agama Budha, dan bukunya Felix Ort. Syair-syair De Genestet yang sering dikutipnya sudah kami sebut di atas. Tetapi bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap tanah Jawa, dikecamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan vosmaer (halaman 145).

Solichin menulis dalam bukunya:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini di antaranya ialah Maatschappelijk Werk in Indie dari (!!) Henri Borel. Selain itu ia tertarik juga kepada bukunya Fielding mengenai, Agama Budha, demikian juga buku karya Felix Ort, Apabila syair-syair De Genestet sering dikutipnya, maka sebaliknya bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap Tanah Jawa, dikecamnya. Selain itu Kartini sering menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan Vosmaer,” (halaman 21).

Ada juga yang lucu. Dalam buku Kartini. Sebuah Biografi di halaman 154 ditulis; mengenai pembacaan Kartini:

“Belum lagi kita sebut majalah-majalah seperti Belang en Recht,  Wetenschappelijke Werken, De Gids, dan suratkabar-suratkabar yang selalu juga diikuti dengan banyak perhatian.”

Dalam buku Solichin, halaman 21:

“Selain yang sudah tersebut di atas, belum lagi kita sebut berbagai majalah seperti Belang in Recht, Wetenschappelijke Werken, De Gids dan surat-surat kabar yang senantiasa diikutinya dengan penuh perhatian.”

Apa yang lucu di sini? “Wetenschappelijke Werken” dalam Kartini. Sebuah Biografi itu salah. Harusnya: “Wetenschappelijke Bladen”. Solichin tidak tahu itu, dan kutip saja: ”Wetenschappelijke Weken”!

Saya terpaksa menyatakan bahwa Saudara Solichin Salam telah melakukan plagiat atau pembajakan besar-besaran atas buku Sitisoemandari: Kartini. Sebuah Biografi.

Sumber: TEMPO, No T11091850, Edisi 11/09, 12  May  1979, hlm 16 dengan judul resensi “KARTINI, SEBUAH PLAGIAT”

Perang Bintang di Kepolisian

Mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Pol) Susno Duadji, menuding keterlibatan tiga jenderal di balik praktik makelar kasus dalam penanganan kasus money laundering dan korupsi dana wajib pajak di Polri. Keterlibatan jenderal-jenderal tersebut dikisahkan Susno terjadi saat Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri mengusut dugaan kasus pencucian uang yang dilakukan seorang inspektur jenderal pajak bernama Gayus T Tambunan.

“Waktu saya mau turun dari Kabareskrim, kasus kecil (pencucian uang) itu sudah selesai, tinggal dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Tangerang. Yang besar (pajak) masih disidik. Saya masih sempat tanyakan kepada anak buah saya sebelum turun (dari Kabareskrim) bagaimana kelajutan penanganan kasus-kasus,” ujar Susno.

“Saya juga masih perintahkan mereka agar kasus (pajak) itu diungkap korupsinya hingga tuntas. Bayangkan saja pegawai kecil saja dapat begitu besarnya, apalagi yang jabatannya lebih besar. Dia bisa begitu kan karena pasti dapat izin dari atasannya. Kan selalu harus melapor dan minta tanda tangan pimpinannya,” kata Susno.

Saat lengser dari jabatan Kabareskrim, Susno yang mengaku masih mempunyai jaringan ke dalam Bareskrim suatu saat akan menanyakan kelanjutan penanganan kasus itu. “Waktu saya tanya (kepada anggota Bareskrim), yang kecil katanya sudah dinyatakan P-21 (lengkap) oleh kejaksaan. Tapi yang besar katanya uangnya sudah dicairin. Saya tanya kenapa dicairin atau dibuka (uang senilai Rp 25 milliar yang dibekukan itu)? Katanya karena uang itu diakui sebagai milik Andi Kosasih,” ucap Susno.

Andi Kosasih kemudian diketahui Susno sebagai pengusaha. Dia, menurut pengakuan mantan anak buah Susno disertai penelusuran mantan Kapolda Jawa Barat, memiliki kedekatan dengan orang nomor dua di tubuh Polri.

“Dia dibekingi orang kuat. Orang nomor dua (di Polri). Karena kalau bekingnya kompol atau kombes, dia enggak bakal berani main-main dengan direktur. Kalau bekingnya direktur, dia enggak bakal berani main-main sama Kabareskrim. Karena bekingnya orang nomor dua di Polri, makanya Kabareskrim juga enggak berani,” ujar Susno.

Menurut Susno, uang senilai Rp 25 milliar itu akhirnya dinyatakan sebagai milik Andi Kosasih yang dititipkannya di rekening Gayus T Tambunan untuk dana pembelian sebidang tanah.

“Masa mau beli tanah pakai menitipkan uang segala. Ke rekening orang lagi. Menitipkannya sejak satu tahun yang lalu lagi. Logikanya, kalau mau beli tanah, ya titip saja dicarikan tanah. Kalau sudah dapat (tanahnya) baru dikasih uangnya atau dibayarkannya sendiri ke yang punya tanah,” terang Susno meragukan dana itu milik Andi Kosasih.

Selain menuding nama orang nomor dua di tubuh Polri (yang diduga wakapolri kala itu, Komjen Makbul Padmanegara), Susno juga mengungkap keterlibatan nama beberapa mantan jajarannya di Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim yang “bermain” dalam kasus itu. Mereka adalah Kompol A, Kombes E, AKBP M, Brigjen EI, dan Brigjen RE.

Keterlibatan mereka menurutnya adalah turut menikmati uang senilai Rp 25 milliar yang diduga merupakan hasil kejahatan korupsi dana wajib pajak.

“Uang (Rp 25 milliar) itu ternyata dicincai, dibagi-bagi oleh mereka. Makanya uang itu dibuat sebagai milik Andi Kosasih. Saya enggak bisa bilang mereka masing-masing dapat berapa, dan siapa-siapa saja yang menerima. Nanti saya dibilang nuduh lagi. Biarkan saja itu jadi tugas tim pemburu malaikat, eh mafia hukum. Percuma mereka digaji untuk itu (memberantas mafia hukum),” tandasnya.

Membantah
Edmon Ilyas maupun Raja Erisman tegas-tegas membantah tudingan Susno yang menyebut mereka sebagai markus. Edmon mengaku bersikap profesional dan menyerahkan persoalan tersebut kepada Mabes Polri.

“Mestinya Pak Susno menyampaikan fakta atas apa yang dia katakan,” kata Edmon. Menurut Edmon, saat menjabat Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim sebagai bawahan Susno, dia bersikap profesional dan melakukan apa yang diperintahkan atasannya.

Demikian juga Raja Erisman. Dia justru menuding balik Susno. Erisman menyebut apa yang dikemukakan seniornya itu sebagai maling teriak maling. “Itu namanya maling teriak maling,” ujarnya. Ia menambahkan markus itu justru ada di kantor Susno.

Sementara itu, Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengatakan polri akan menindaklanjuti pernyataan Susno itu. “Atas pernyaaan itu harus kita tindaklanjuti apakah benar atau tidak,” kata Ito Sumardi di Jakarta, Rabu (17/3).

Kepala Bareskrim Komjen Ito mengatakan pernyataan Susno itu akan dijadikan informasi bermanfaat buat Polri. Polri juga tidak mau dikatakan hanya diam dengan adanya tudingan itu.

“Kalau memang ada, tentunya kita akan lakukan tindakan hukum secara nyata, siapapun juga, baik pihak luar maupun pihak dalam, sekarang sedang dalam proses penyelidikan. Baik oleh internal Polri maupun dari Bareskrim sendiri,” jelasnya.

Ito menambahkan, untuk mengusut kasus ini, kini Polri telah menurunkan tim dari Propam. “Makanya sekarang dari internal, dari Divisi Propam dipimpin Pak Wakapolri dan Irwasum kita sedang mencoba, apakah informasi yang disampaikan itu benar atau tidak,” kata dia.

Bukan Pahlwan atau Reformis, Tapi Sakit Hati

Menanggapi perseteruan para jenderal Polri itu, pengamat militer Hermawan Sulistyo menyatakan tuduhan Susno dinilai bukan pahlawan atau reformis yang membongkar borok Polri. “Hanya karena sakit hati saja. Bukan soal reformis atau apa,” ujarnya dalam diskusi di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (20/3/2010).

Hermawan menilai, pernyataan Susno hanya dilatarbelakangi rasa sakit hati saja karena masalah karir yang mentok di Korps Bhayangkara itu. Menurut Hermawan, Susno tidak perlu mengumbar hal tersebut pada publik. Cukup diselesaikan internal.

“Datangi yang bersangkutan, gebrak mejanya. Kalau perlu tembak mejanya. Tapi keluar dari ruangan itu harus ada satu keputusan,” tegas dia.

Menurut peneliti senior LIPI ini, lebih tepat jika Susno mengundurkan diri, baru mengeluarkan pernyataan seperti ini. Seperti yang dulu dilakukan perwira Polri yang tidak puas seperti Bambang Widodo Umar dan Alfons Loemau.

“Ini seperti masih numpang di rumah orang tua, makan masih ditanggung, tapi teriak-teriak menjelekan orangtua,” jelasnya.

Lalu pernyataan siapa yang benar soal markus di tubuh Polri, Susno atau Raja Erisman? “Dua-duanya belum bisa dinilai benar atau salah. Perlu audit investigasi soal tudingan itu,” jelasnya.

Momentum Bersihkan Polri

Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai, Kepala Polri memegang peran sentral terkait dugaan makelar kasus di tubuh kepolisian. “Buka sejujur-jujurnya, diberi pintu, kemudian dibentuk tim,” ujar Mahfud di Yogyakarta, Sabtu (20/3/2010).

Mahfud menegaskan, kasus Susno merupakan momentum perbaikan tentang kebenaran atas ketidakbenaran yang terjadi di negeri ini. Menurut dia, kasus Susno soal makelar kasus harus dibuka dan dibuktikan secara hukum. Karena itu, kasus ini harus dilalui dengan mengedepankan hukum jika ingin kondisi penegakan hukum negeri ini berjalan baik. “… silakan buka, sebaliknya jika Pak Susno punya salah juga dibuka oleh Polri, lalu cari jalan hukum untuk menyelesaikannya,”  ucap Mahfud.

Ditambahkan, hukum akan membuktikan siapa yang benar dan salah. Tak hanya itu, hukum juga yang akan menyelesaikan jika salah satunya bersalah atau keduanya. “… saya tidak melihat kasus ini akan buntu tanpa penyelesaian,” ungkap Mahfud.

Ia meyakini sudah saatnya penegak hukum harus tegas dalam dugaan makelar kasus di tubuh kepolisian. Mahfud menyatakan, adanya dugaan makelar kasus bukanlah sesuatu yang baru alias bukan rahasia. Karena itu, Mahfud menilai, kasus ini adalah berkah terselubung bagi penegakan hukum di Indonesia. “Ini berkah terselubung. Kalau kita ikut prosedur yang normal selalu ditutupi sejak dulu, dan ini sudah puluhan tahun, bukan rahasia lagi. Sekarang jadi kejutan besar karena Pak Susno yang bilang,” ungkap mantan politisi PKB ini.[]

Busthomi Rifa’i

NU, Khitah 1926 dan Politik

Mulai 23 Maret 2010, Nahdlatul Ulama (NU) kembali menyelenggarakan muktamar yang menandai alih kepemimpinan ormas yang dalam dasawarsa terakhir sebagian besar berada di tangan KH Hasyim Muzadi.

Selain itu, muktamar tentu saja mengkaji hal-hal substantif menyangkut NU, semacam peningkatan perannya ke depan dalam kehidupan keumatan-kebangsaan sesuai Khitah 1926. Karena, bagaimanapun, sebagai ormas keagamaan yang sangat besar, NU sejak kelahirannya memiliki peran penting yang tidak hanya berada dalam dinamika keislaman, tetapi juga dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik negeri ini.

Tantangan NU ke depan, seperti juga ormas-ormas Islam lainnya, kecuali terkait dengan konsolidasi organisasi, tetapi juga dengan revitalisasi kiprahnya sesuai Khitah 1926 sebagai jam’iyyah dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial budaya untuk turut memajukan umat Islam dan bangsa

Hal ini tentu saja sesuai dengan tema dan keinginan pimpinan dan warga Nahdlliyyin sendiri untuk meninggalkan keterlibatan langsung dalam kancah politik kekuasaan. Memang, sejak keputusan ‘Kembali ke Khitah 1926’ diadopsi pada Muktamar 27, 1984, di Situbondo, NU tidak lagi terlibat langsung dalam politik atau ‘Islam politik’, tetapi lebih banyak bergerak dalam bidang yang sering disebut sebagai ‘Islam kultural’.

Namun, sejak bermulanya era reformasi dan liberalisasi seusai pengunduran diri presiden Soeharto pada Mei 1998, NU kembali terseret ke dalam politik. Ini terlihat ketika Abdurrahman Wahid sebagai ketua PB NU akhirnya membidani lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli 1998 di kediamannya di Ciganjur. Meski ada beberapa parpol lain yang berbasiskanNahdliyyin (seperti, PKU, PNU, dan SUNI), hanya PKB yang disebut sebagai ‘satu-satunya partai yang lahir dari rahim NU’.

Meski demikian, friksi dan kontestasi yang terjadi di antara parpol-parpol berbasiskan Nahdliyyin sedikit banyak menyeret para pimpinan NU dari tingkat nasional sampai ke tingkat lokal ke dalam pusaran ‘puting beliung’ politik.

Keterlibatan NU, baik secara agak tersamar maupun secara langsung, telah mencapai puncak intensitasnya ketika KH Abdurrahman Wahid yang masih menjabat sebagai ketua PB NU dipilih oleh MPR RI sebagai presiden pada 20 Oktober 1999. Gus Dur pun tidak lagi menjadi ketua PB NU sehingga digantikan KH Hasyim Muzadi yang terpilih dalam Muktamar 30 di Lirboyo pada 21-26 November 1999. Meski demikian, tetap saja NU terbawa-bawa ke dalam politik, yang puncaknya terlihat sekali pada Pilpres 2004 ketika dua tokoh pimpinan puncak NU itu maju sebagai cawapres: KH Hasyim Muzadi sebagai cawapres Megawati Soekarnoputri dan KH Sholahuddin Wahid sebagai cawapres Wiranto. Usai Pilpres 2004 sampai Pilpres 2009, NU kian menjauh dari politik kekuasaan semacam itu.

Sejauh menyangkut politik, usai kepresidenan KH Abdurrahman Wahid serta Pilpres 2004 dan Pilpres 2009, perilaku politik warga Nahdliyyin juga mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dalam kedua pilpres tadi, calon-calon yang berkaitan langsung dan berkiprah pokok dalam NU ternyata gagal. Sebaliknya, pemenangnya adalah pasangan SBY-MJK pada Pilpres 2004 dan pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009. Bisa dipastikan, sangat banyak warga Nahdliyyin memberikan suaranya kepada pasangan-pasangan yang mereka dukung dalam kedua pilpres tersebut.

Dengan demikian, kepemimpinan NU tidak lagi bisa mengarahkan para warga Nahdliyyin mengikuti kemauan politik mereka. Sebaliknya, berbagai alasan, khususnya demokratisasi dan banjir informasi, membuat warga Nahdliyyin lebih independen dan bebas dalam aktualisasi perilaku politiknya. Gejala ini tampaknya terus menguat ke depan, khususnya di musim pemilu.

Bagaimanapun, gejala seperti itu, dalam pandangan sementara kalangan, merupakan pertanda ‘merosotnya’ efektivitas kepemimpinan NU, yang pada masa silam sangat menentukan ‘hitam atau putih’ perilaku politik warga Nahdliyyin. Boleh jadi, pandangan itu benar, sejauh menyangkut politik praktis dan pemilu. Akan tetapi, apakah hal itu juga benar dalam hal-hal menyangkut keagamaan?

Dalam pandangan saya, agaknya juga terjadi penurunan efektivitas kepemimpinan keagamaan di lingkungan NU. Meningkatnya diferensiasi kepemimpinan, demokratisasi pendidikan, serta terbukanya akses kepada sumber ilmu dan informasi jelas turut memengaruhi perilaku keagamaan warga Nahdliyyin untuk lebih independen dalam sikap keagamaannya. Indikasi ini terlihat dari adanya dua arus bertolak belakang yang belakangan muncul di antara warga Nadhliyyin. Pada satu pihak, ada kecenderungan liberalisme pemikiran keagamaan di kalangan anak-anak muda NU. Pada pihak lain, ada juga kelompok dengan orientasi kuat pada konservatisme dan bahkan literalisme. Namun, arus utama di lingkungan NU tetaplah tradisi Aswaja yang menjadi salah satu raison detre NU sejak 1926.

Meski demikian, di tengah kedua kecenderungan itu, tetap perlu ada revitalisasi tradisi Aswaja sebagai aktualisasi ‘Islam washatiyyah’ di bumi Indonesia. Karena, tradisi tersebut yang memungkinkan tumbuhnya distingsi Islam yang khas di negeri ini, yang membuat Indonesia dapat menjadi sebuah showcase negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang adaptif dengan demokrasi dan modernisasi. Pada pihak lain, dengan revitalisasi kepemimpinannya, NU dapat lebih meningkatkan kiprahnya dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-alamin, yang penuh kedamaian, serta jauh dari kekerasan dan bahkan terorisme yang masih saja menggejala di negeri ini.[] Azyumardi Azra

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 18 Maret 2010

K’naan: Muslim yang Menginspirasi Dunia

Piala Dunia sebentar lagi akan dihelat. Seperti sudah menjadi tradisi, setiap pergelaran Piala Dunia pasti disertai adanya lagu tema. Untuk Piala Dunia kali ini, ‘Waving Flag’ terpilih menjadi theme song Piala Dunia 2010. Namun siapa nyana, lagu yang menginspirasi dunia itu dibawakan oleh seorang muslim?

Lagu ‘Waving Flag’ dipilih jadi lagu resmi Piala Dunia 2010 sejak November tahun lalu. Lagu ini merupakan karya K’naan, seorang rapper muslim Kanada kelahiran Somalia.

Aslinya, lagu ini terdapat di album K’naan yang bertajuk Troubadour. Untuk Piala Dunia, lagu itu kemudian diaransemen ulang sehingga terdengar lebih up beat serta mengganti sebagian liriknya.

Lagu Waving Flag bercerita tentang semangat Afrika menyambut datangnya Piala Dunia. Mereka bernyanyi, menari dan merayakan datangnya para tim juara bermain di tanah mereka.

K’naan adalah seorang rapper yang lahir di Mogadishu, Somalia, 31 tahun lalu, dengan nama Keinan Abdi Warsame. Saat perang saudara meledak di negeri miskin di Afrika timur itu, K’naan dan keluarganya mengungsi di Kanada dan ditampung oleh komunitas Somalia di sana.

Sebagai sosok yang pernah mengalami pahitnya peperangan, K’naan banyak menuliskan syair perihal semangat kemerdekaan dalam lagu-lagunya. Tak terkecuali dalam lagu ‘Waving Flag’.

Give me freedom
Give me fire
Give me reason
Take me higher
See the champions
Take the field now
You define us
Make us feel proud

In the street of exalifting
As we lose our inhabition
Celebrations is around us
Every nations all around us
Singing forever young
Singing songs underneath the sun
Let’s rejoice in the beautiful game
And together at the end of the day

We all say
When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, just like a Waving Flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back

When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, just like a Waving Flag
And then it goes back
and then it goes back
And then it goes back

Give you freedom
Give you fire
Give you reason
Take you higher
See the champions
Take the field now
You define us
Make us feel proud

Melalui syair di lagu itu, K’naan bagai mengajak Afrika untuk mengatasi persoalan yang membelenggu mereka, seperti perang, kemiskinan dan kelaparan dengan sepakbola. [] Busthomi Rifa’i

Mengapa Kita Menggugat Pelarangan Buku?

Segepok dokumen itu dibundel dalam map khusus. Isinya : surat gugatan, surat kuasa, selembar dokumen bertulis judul buku-buku terlarang, kutipan pasal perundangan, kutipan koran, artikel, dalam dokumen adapula fotokopi KTP. Inilah dokumen yang hendak dibawa Pengurus Besar HMI MPO ke Mahkamah Konstitusi  pada Kamis 18 Februari silam. Mereka mendaftarkan judicial review terhadap UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum dan UU Kejaksaan No.16 Tahun 2004. Aturan inilah yang telah membuat sejumlah buku dilarang di Indonesia. Continue reading “Mengapa Kita Menggugat Pelarangan Buku?”

Siapkan Kamera, Potret Semangatnya !!!

Dalam rangka ikut memeriahkan Hari Pendidikan Nasional, semangat membangun Bangsa melalui pendidikan layak diapresiasikan dalam sebuah kreasi foto terbaik hasil karya anak bangsa.

Ayo Ikuti, Lomba Foto Astra 2010.

Tema : “Potret Optimisme Pendidikan di Indonesia”

Obyek Foto menggambarkan sebuah potret pendidikan di Indonesia, semangat mencerdaskan bangsa serta keingintahuan yang tinngi, kritik sosial yang membangun dan tidak hanya terbatas pada aktivitas pendidikan di bangku sekolah.

Hadiah Lomba Foto Astra 2010 :

Kategori Peserta Umum
Juara I : 1 Motor Honda Blade
Juara II : 1 Kamera Canon EOS 500D
Juara III : 1 Kamera Canon PS G11
Juara Harapan untuk 2 Orang @1 Printer Canon iX 5000
Juara Favorit untuk 5 Orang @1 Tas kamera Lowepro

Kategori Peserta Wartawan
Juara I : 1 Motor Honda Blade
Juara II : 1 Kamera Canon EOS 500D
Juara III : 1 Kamera Canon PS G11
Juara Harapan untuk 2 Orang @1 Printer Canon iX 5000
Juara Favorit untuk 5 Orang @1 Tas kamera Lowepro

Pajak ditanggung pemenang

Periode lomba : 22 Februari — 2 Mei 2010

Syarat dan Ketentuan

Umum :
1. Peserta lomba untuk kategori Umum adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di seluruh Witayah Kesatuan Republik Indonesia. Untuk kategori Wartawan adalah Wartawan Indonesia yang bekerja di media massa lokal, nasional, dan kantor berita asing atau Wartawan lepas yang bekerla untuk media cetak/online, elektronik di seluruh Indonesia.
2. Pemotretan dilakukan dengan kamera digital tanpa dibatasi jenisnya.
3. Satu peserta dapat menyerahkan maksimal 3 (tiga) foto digital yang diserahkan dalam bentuk file berformat JPEG dengan resolusi minimal 300dpi (high-resolution). Peserta Juga wallb menyertakan file aslinya dalam bentuk RAW/TIF.
4. Foto diserahkan dalam bentuk CD dengan menyertakan hasil cetakan foto masing-masing ukuran 4R.
5. Foto merupakan hasil karya selama tahun 2009 sampal dengan 2010 (1 Januari 2009 — 2 Mei 2010).
6. Seluruh konten yang ada di dalam hasil foto merupakan tanggung jawab dari fotografer, termasuk di dalamnya apabila menggunakan model/properti dan/atau model/ properti yang disertakan dalam Lomba Foto Astra ini. Panitla Lomba Foto Astra bebas dari tuntutan pemilik properti dan/atau model yang disertakan dalam Lomba Foto Astra ini.
7. Foto harus sesuai dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku di Masyarakat. Foto tidak boleh mengandung unsur SARA, pornografi, sadisme dan sarkasme.
8. Masing-musing peserta hanya berhak atas 1 (satu) pemenang. Penilaian akan didasarkan atas nilai tertinggi dari Foto-Foto yang diajukan peserta dalam hal peserta mengirim lebih dari 1 (satu) foto.
9. Foto merupakan hasil karya sendiri dan dilarang mengirim foto dengan memakai nama atau alamat orang lain yang dibuktikan dengan melampirkan surat pernyataan. Peserta yang mengirimkan foto dengan nama orang lain akan dikenakan sanksi diskualifikasi sebagai peserta lomba foto tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
10. Foto belum pernah dipublikasikan dan belum pernah menang dalam perlombaan atau kompetisl apapun. Khusus untuk kategori peserta Wartawan, Foto belum pernah dimuat di media cetak /elektronik.
11. Setiap peserta wajib menuliskan judul Foto beserta deskripsi Foto, kategori peserta, nama lengkap, fotocopy KTP/SIM/KartuPelajar/Paspor dan nomor telepon/HP yang dapat dihubungi pada selembar kertas dan ditempelkan di bagian belakang setiap cetakan foto. Khusus peseta kategorl Wartawan, harus menyertakan fotocopy ID Pers.

12. Karya Foto (cetak 4R & CD) diterima Panitia paling Lambat tanggal 2 Mei 2010 jam 16.30 WIB di :

Panitia Lomba Foto Astra 2010
Sekretariat SATU Indonesia
PT Astra International Tbk
Jalan Gaya Motor Raya No 8, Sunter II Jakarta 14330
Indonesia

13. Semua foto-foto yang masuk dalam Lomba Foto Astra 2010 ini menjadi hak milik PT Astra International Tbk dan berhak digunakan untuk kepentingan promosi dan publikasi PT Astra International Tbk dalam bentuk apapun, terhitung sejak diterimanya Foto.
14. Peserta menyatakan tunduk pada seluruh ketentuan yang berlaku dalam Lomba Foto Astra 2010 ini.
15. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak, sah, dan tidak dapat diganggu gugat.
16. Pengumuman pemenang : 20 Mei 2010 di www.satu-indonesia.com

Teknis : (1) Olah digital yang diperbolehkan hanya sebatas Contrast, Hue, Groping, Dodging, Burning, Saturation, Level, Curve, Noise Reduction / Dust Removing. (2) Tidak diperkenankan mencantumkan unsur non fotografis pada foto, misalnya tanda tangan, digital frame, dan atau gambar datam bentuk apapun. (3) Manipulasi foto seperti penggabungan (montase) tidak diperkenankan dan data exif harus tetap terjaga / tidak ada pengubahan data-data vital pada foto.

    SBY Bohongi Obama…!

    Partai Demokrat bentukan SBY berbeda dengan Partai Demokrat di Amerika. Kesamaan hanya sebatas nama saja. Namun oleh SBY dan kelompoknya, mengklaim kalau mereka itu punya aliansi khusus dengan partainya Obama. Omong kosong!

    Kehadiran Obama di Gedung Putih, merupakan bentuk perlawanan rakyat Amerika kepada kubu George W. Bush, yang kental dengan perilaku korup dan ekspansioner. Watak Bush tersebut, dalam konteks politik dan ekonomi sejalan dengan arah kebijakan SBY yang pro Neolib.

    Selain itu, agenda politik Obama di panggung nasional Amerika maupun dunia internasional, lebih mengedepankan isu-isu perdamaian, kesetaraan dan keadilan sosial-ekonomi. Pendekatan Obama ini merupakan manefestasi dari aspirasi mayoritas rakyat Amerika, dan suara simpatik yang datang dari negara-negara berkembang.

    Dalam sebuah perbincangan khusus saya dengan Siti Fadillah, mantan Menkes, beberapa waktu lalu, ia mengatakan bahwa Obama tidak sepenuhnya mendukung rezim SBY. Menurutnya, Obama sangat tahu kalau SBY dan kubunya, adalah bagian dari jaringan Neolib yang loyal kepada kelompok Bush.

    Siti Fadillah memberi contoh: saat Obama terpilih menjadi Presiden, sikap Dubes Amerika di Jakarta, secara drastis berbalik mendukung kebijakannya untuk meninjau keberadaan Namru-2 di Indonesia. Pendekatan diplomatik Dubes Amerika itu, jelas memberikan pesan khusus bahwa, Gedung Putih hendak membuka diri dan menjalin kerjasama yang lebih transparan dengan Indonesia.

    Namun signal dari Dubes Amerika yang merupakan representasi political will Obama, justru dihadang oleh SBY. Yakni, SBY membalas dengan menunjuk Endang Rahayu Sedyaningsih, yang pernah berkarir di WHO, Jenewa, Swiss sebagai penganti Siti Fadillah. Dan terbukti, jebolan Harvard School of Public Health ini usai dilantik menjadi Menkes, ia langsung menyampaikan bahwa, kehadiran Namru-2 di Indonesia sangat dibutuhkan. Pernyataan Endang Rahayu tersebut membuat publik marah. (baca)

    Makna Kunjungan Obama ke Indonesia

    Bicara soal hubungan kedekatan SBY dan kelompok Bush adalah sebuah fakta. Dan kenyataan ini makin diperkuat oleh kehadiran Fox Indonesia, kelompok Boediono, dan Sri Mulyani dilingkaran kekuasaan SBY.

    Sebutlah, kalau kubu Boediono dan Sri Mulyani, sejak lama telah diketahui sebagai perpanjangan tangan dari IMF dan Word Bank. Sementara, Fox Indonesia merupakan operasional politik SBY yang diduga mendapat suplai dana besar-besaran dari donator asing.

    Kelompok-kelompok ini ditengarai memiliki hubungan spesial dengan pusat-pusat jaringan Neolib internasional. Maka tak heran, sepanjang SBY berkuasa, banyak kebijakan nasional kita yang condong pada kepentingan asing. Hal ini bukan lagi rahasia, namun fakta yang tak terbantahkan.

    Lepas dari persoalan di atas, tangal 20 Maret, Barack Obama rencananya akan berkunjung ke Jakarta. Kehadiran orang nomor satu Amerika Serikat ini, memicu pembicaraan dikalangan masyarakat luas.

    Ada anggapan yang berkembang bahwa, kunjungan Obama ditengah-tengah memanasnya situasi politik nasional saat ini, memiliki makna politis yang serius. Dan bisa dipastikan, saat Obama tiba, pertama yang ia hendak sampaikan kepada SBY dan rakyat di negeri ini adalah: Amerika tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

    Selebihnya, Obama juga telah mendapatkan banyak informasi tentang dugaan keterlibatan SBY dalam kasus Century. Di mana kasus ini telah bergulir mengancam posisi SBY dari kekuasaan. Dan tentunya, Obama memiliki kepentingan untuk melihat dari dekat situasi Indonesia secara objektif.

    Artinya, jika ada gerakan rakyat yang terus berkembang untuk mendesak SBY-Boediono mundur, maka tidak mustahil Amerika akan ikut campur untuk mendorong gerakan itu. Mengingat, Obama sangat berkepentingan untuk melanggengkan pengaruhnya di Indonesia. Yang mana sampai saat ini terhalang oleh kubu SBY yang masih dianggap menjadi bagian dari kelompok Bush (Neolib).

    Bila penafsiran atas makna kehadiran Obama adalah demikian, maka wajar saja kalau ada suara-suara yang berkembang di masyarakat: “Waspada, SBY Bohongi Obama…!”
    Suara rakyat itu adalah sebuah pesan moral untuk mengingatkan Obama, agar tidak terjebak dengan manuver SBY untuk meminta dukungan dan perlindungan dari Amerika seputar kasus Century.

    Ehm…Salut dengan sikap dan kecerdasan rakyat…! (Faisal Assegaf)

    Sumber : Kompasiana

    Leadership and Lifeskill Training From Forum Indonesia Muda

    whatwinnersdo.com

    FIM telah membuka pendaftaran Leadership and Life Skill Training untuk angkatan ke 9. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada pelatihan tahun ini FIM akan menghadirkan mahasiswa-mahasiswa aktif dan berprestasi dari perguruan tinggi-perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia. Untuk mengikuti pelatihan ini, peserta akan diseleksi melalui berkas-berkas aplikasi yang dikirim. Peserta tidak akan dipungut biaya sama sekali.

    Tema :

    Tema pelatihan FIM 9 adalah “Berbagi Inspirasi dan Kepedulian”.

    Waktu dan Tempat :

    29 April – 2 Mei 2010 di Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta.

    Fasilitas :

    Akomodasi dan makan selama pelatihan.

    Ketentuan Peserta :

    Untuk menjadi peserta pelatihan ini, pendaftar harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

    1. Warga negara Indonesia
    2. Mampu menghadiri pelatihan FIM dari awal sampai akhir
    3. Peduli terhadap lingkungan sekitar dan aktif melakukan perubahan melalui berbagai kegiatan dan komunitas/organisas i

    Cara Pendaftaran :

    Untuk mendaftar sebagai peserta pelatihan FIM 9, peserta harus mengirimkan berkas-berkas sebagai berikut:

    1. Formulir Pendaftaran yang sudah diisi lengkap. Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sini.
    2. Esai dengan tema “Saya dan Korupsi” atau “Sumbangsih Saya pada Lingkungan Hidup” (pilih salah satu)
    3. Surat rekomendasi dari organisasi

    Semua berkas harap dijadikan satu arsip (tipe berkas .zip) dan dikrimkan melalui email ke forumindonesiamuda@ yahoo.co. id. Batas akhir pengiriman berkas ialah tanggal 25 Maret 2010 pukul 23.59 WIB.

    Ketentuan Esai :

    1. Isi sesuai dengan tema yang telah ditentukan
    2. Susunan esai terdiri dari: pendahuluan, isi, kesimpulan dan saran
    3. Esai diketik menggunakan font Arial 11pt dan spasi 1,5
    4. Panjang esai maksimal 3 halaman A4 dengan margin tiap halaman 3 – 3 – 3 – 3
    5. Pada setiap halaman, cantumkan nama lengkap dan nama institusi di pojok kanan atas

    Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi kontak di bawah ini :

    * Ivan Ahda (0856 864 8641)
    * Riesni Fitriani (0878 8111 1888)
    * Shinta arDjahrie ( 088 124 574 25)

    Thanx

    Radikalisme Islam Menyusup ke SMU

    Beberapa hasil penelitian menemukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme Islam telah lama menyusup ke sekolah umum, yaitu SMU.

    Siswa-siswi yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideologi radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi-organisasi siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (rohis).

    Tampaknya jaringan ini telah mengakar dan menyebar di berbagai sekolah, sehingga perlu dikaji dan direspons secara serius, baik oleh pihak sekolah, pemerintah, maupun orang tua. Kita tentu senang anak-anak itu belajar agama. Tetapi yang mesti diwaspadai adalah ketika ada penyebar ideologi radikal yang kemudian memanfaatkan simbol, sentimen, dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brainwash) pada mereka yang masih pemula belajar agama untuk tujuan yang justru merusak agama dan menimbulkan konflik.

    Ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua. Pertama, para tutor penyebar ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintahan. Bahwa pemerintahan Indonesia itu pemerintahan taghut, syaitan, karena tidak menjadikan Alquran sebagai dasarnya.
    Pemerintahan manapun dan siapa pun yang tidak berpegang pada Alquran berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan dilawan. Kedua, para siswa yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera. Kalaupun mereka melakukan, itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi hatinya mengumpat.
    Mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya, dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan dari ritual beragama. Ketiga, ikatan emosional pada ustaz, senior, dan kelompoknya lebih kuat daripada ikatan keluarga dan almamaternya. Keempat, kegiatan yang mereka lakukan dalam melakukan pengajian dan kaderisasi bersifat tertutup dengan menggunakan lorong dan sudut-sudut sekolah, sehingga terkesan sedang studi kelompok.

    Lebih jauh lagi untuk pendalamannya mereka mengadakan outbond atau mereka sebut rihlah, dengan agenda utamanya renungan dan baiat. Kelima, bagi mereka yang sudah masuk anggota jamaah diharuskan membayar uang sebagai pembersihan jiwa dari dosa-dosa yang mereka lalukan. Jika merasa besar dosanya, maka semakin besar pula uang penebusannya. Keenam, ada di antara mereka yang mengenakan pakaian secara khas yang katanya sesuai ajaran Islam, serta bersikap sinis terhadap yang lain. Ketujuh, umat Islam di luar kelompoknya dianggap fasik dan kafir sebelum melakukan hijrah: bergabung dengan mereka.

    Kedelapan, mereka enggan dan menolak mendengarkan ceramah keagamaan di luar kelompoknya. Meskipun pengetahuan mereka tentang Alquran masih dangkal, namun mereka merasa memiliki keyakinan agama paling benar, sehingga meremehkan, bahkan membenci ustaz di luar kelompoknya.
    Kesembilan, di antara mereka itu ada yang kemudian keluar setelah banyak bergaul, diskusi secara kritis dengan ustaz dan intelektual di luar kelompoknya, namun ada juga yang kemudian bersikukuh dengan keyakinannya sampai masuk ke perguruan tinggi.

    Menyusup ke Kampus

    Mengingat jaringan Islam yang tergolong garis keras (hardliners) menyebar di berbagai SMU di kota-kota Indonesia, maka sangat logis kalau pada urutannya mereka juga masuk ke ranah perguruan tinggi. Bahkan, menurut beberapa sumber, alumni yang sudah duduk sebagai mahasiswa selalu aktif berkunjung ke almamaternya untuk membina adik-adiknya yang masih di SMU.
    Ketika adik-adiknya masuk ke perguruan tinggi, para seniornya inilah yang membantu beradaptasi di kampus sambil memperluas jaringan. Beberapa sumber menyebutkan, kampus adalah tempat yang strategis dan leluasa untuk menyebarkan gagasan radikalisme ini dengan alasan di kampuslah kebebasan berpendapat, berdiskusi, dan berkelompok dijamin. Kalau di tingkat SMU pihak sekolah dan guru sesungguhnya masih mudah intervensi, tidaklah demikian halnya di kampus.

    Mahasiswa memiliki kebebasan karena jauh dari orang tua dan dosen pun tidak akan mencampuri urusan pribadi mereka. Namun karena interaksi intelektual berlangsung intensif, deradikalisasi di kampus lebih mudah dilakukan dengan menerapkan materi dan metode yang tepat. Penguatan mata kuliah Civic Education dan Pengantar Studi Islam secara komprehensif dan kritis oleh profesor ahli mestinya dapat mencairkan paham keislaman yang eksklusif dan sempit serta merasa paling benar.
    Sejauh ini kelompok-kelompok radikal mengindikasikan adanya hubungan famili dan persahabatan yang terbina di luar wilayah sekolah dan kampus. Hal yang patut diselidiki juga menyangkut dana. Para radikalis itu tidak saja bersedia mengorbankan tenaga dan pikiran, namun rela tanpa dibayar untuk memberikan ceramah keliling. Lalu kalau berbagai kegiatan itu memerlukan dana, dari mana sumbernya? Ini juga suatu teka-teki.

    Disinyalir memang ada beberapa organisasi keagamaan yang secara aspiratif dekat atau memiliki titik singgung dengan gerakan garis keras ini. Mereka bertemu dalam hal tidak setia membela NKRI dan Pancasila sebagai ideologi serta pemersatu bangsa. Mereka tidak bisa menghayati dan menghargai bahwa Islam memiliki surplus kemerdekaan dan kebebasan di negeri ini.

    Di Indonesia ini ada parpol Islam, bank syariah, UU Zakat dan Haji, dan sekian fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pengembangan agama. Kalaupun umat Islam tidak maju atau merasa kalah, lakukanlah kritik diri, tetapi jangan rumah bangsa ini dimusuhi dan dihancurkan karena penghuni terbanyak yang akan merugi juga umat Islam. Kita harap Menteri Pendidikan Nasional maupun Menteri Agama menaruh perhatian serius terhadap gerakan radikalisasi keagamaan di kalangan pelajar.(*)  (Komaruddin Hidayat)

    Reclaiming South Jakarta’s Sacred Streets

    Jamaah Nurul Musthofa

    This was a procession of Majelis Taklim Nurul Musthafa, one of many new Muslim study groups that appeared in the late 1990s. Since 1998, Habib Hasan bin Ja’far Assegaf has been proactive in visiting slums on the outskirts of Jakarta, preaching to the youth. Over the years, the Bogor-born preacher’s network has expanded and the once modest Nurul Musthafa now attracts literally thousands of devotees to its weekly gatherings.

    Most of Habib Hasan’s followers are young people who come from the lower rung of the social hierarchy. In the meetings, the young and charismatic Habib Hasan leads his congregation in reciting Sufi liturgical texts and poetry, complete with drums and fireworks. Far from being radical or anarchic, however, the Nurul Musthafa study group has been proactive in steering the youth away from the more radical elements of Islamic activism.

    The name of the study group, Nurul Musthafa (Prophetic Light), refers to the Sufi cosmological concept of the pre-existing light of the Prophet Muhammad as a direct manifestation of the divine, which was then carried on by the prophet and his descendants. An energetic speaker who combines religious learning with showmanship aided by high-tech stereo amplification, Habib Hasan has been successful in captivating his audience.

    In this study group, time-honored Sufi tradition and authority are cast anew through direct access to the youth facilitated by technology and modern organizational models. Although the means of conveying the message has changed, the form of authority itself remains the same. In this way, Habib Hasan is able to harness the support of the youth from lower economic and educational backgrounds, while excluding those with higher education.

    The reason for Habib Hasan’s failure to garner support from educated youth is his inability to present his message in a way that is palatable to the reformist religious discourses dominant among university students. The fragmentation of Islam into various ideologically conflicting groups means that traditional scholarship has ceased to be the only authoritative source of religious knowledge.

    Such is the case among the secular university-educated students who are more attracted to Salafism and favor direct access to the scriptures. With inclinations to international revivalist organizations such as the Muslim Brotherhood and Hizb al-Tahrir, these students have become increasingly hostile to local variants of Islam and pursue an agenda of Islamizing Indonesian society.

    Rather than advocating for the implementation of Islamic law or the establishment of an Islamic state, Habib Hasan is seemingly more interested in reconstituting South Jakarta — a part of the capital known for its nouveau riche inhabitants and glaring entertainment spots — into a sacred space.

    Such a process is undertaken precisely through the motorcades and processions replete with devotional chants (zikir). This mobile zikir can be seen as an interruption; an interjection into the dominant spatial configuration. Following from the oft-quoted dictum that God remembers the place where his name has been called out, the procession can be viewed as a process of remaking the secular space into an Islamic one.

    By leading his mobile rituals through South Jakarta, Habib Hasan is temporarily transforming the space into a sacred site, akin to a site of worship. In the course of the processions, his followers are able to sacralize the space through devotional gestures and visible spirituality on Saturday nights, when the middle and upper-class youth of Jakarta are on their way to the entertainment complexes.

    There is also a temporal dimension to this performance. Many people I know express apprehension toward Habib Hasan and his followers, mainly for creating traffic jams on Saturday night. This, I would argue, is where the efficacy of Habib Hasan’s movement lies. By staging the motorcades, Habib Hasan is not only sacralizing space, but he is also able to inflict a temporal caesura to the dominant time, by freezing the movements of people on the road going elsewhere.

    It is important, however, not to perceive Habib Hasan’s followers as automatons. The motorcades should not be seen as uniformly conceived and consisting of people with a shared agenda. Aryo Danusiri, an anthropologist who is currently studying Habib Hasan and his followers, opines that the motorcades can be seen as a tactic by lower-class youngsters from the outskirts of Jakarta to establish their visibility in South Jakarta — a space dominated by the more prosperous — thereby equipping them with a sense of strength and centrality. In other words, the motorcades empower these young people and bestow visibility in a space usually dictated by the wealthy.

    Finally, however one chooses to interpret Habib Hasan and Nurul Musthafa, one thing is clear. By establishing this movement, Habib Hasan has been instrumental in attracting thousands of youth to his peaceful Sufi teachings, thereby channeling them away from the more radical elements of contemporary Islamic activism.

    Writen by Ismail Fajrie Alatas
    (a doctoral student in anthropology and history at the University of Michigan, Ann Arbor.)