Saling Serang HMI Vs Polisi

vivanews.com

Siang ini (04/02), Mahasiswa memblokir seluruh jalur jalan di depan kampus Universitas Islam Negeri Alauddin di Jalan Sultan Alauddin Makassar. Mereka memalang jalan menggunakan mobil pengangkut sepeda motor. Jumlah mahasiswa diperkirakan mencapai 300 orang.

Sebelumnya, pagi tadi mahasiwa merusak pos polisi di pertigaan Jalan A.P. Pettarani dan Sultan Alauddin.  Kaca-kaca jendela pos polisi tersebut dipecahkan, kursi dan meja diobrak-abrik, papan petunjuk lalu-lintas dan plang  nama pos polisi hancur.  Bahkan lampu jalan dan lampu lalu-lintas juga dibuat berantakan .

Para mahasiwa berbendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Makassar itu bersiap siaga karena ada informasi polisi akan membubarkan mereka secara paksa. Mereka tampak sudah siap dengan berbagai “peralatan tempur” seperti batu, balok kayu, bambu, dan bom molotov.

Kekacauan siang ini bermula dari imbas kejadian malam sebelumnya. Dikabarkan ada pembubaran paksa aktivis HMI di sekretariat mereka di Jalan Bontolempangan. Beberapa orang pria yang diduga polisi masuk ke sekretariat  dan memukuli aktifis HMI.

Pelaku penyerangan sekretariat HMI Makassar pukul 20.00 Wita (03/02), diduga kuat anggota Densus 88 anti teror. Indikasi itu diperkuat setelah pengurus HMI mengenali salah satu pelaku bernama Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Sutriman, yang diketahui anggota Densus 88. Indikasi lainnya, para pelaku sempat mengeluarkan pistol revolver dan mengarahkan ke mahasiswa.

Akibat penyerangan ini, lima pengurus HMI terluka di bagian tangan. Kelima pengurus HMI Cabang Makassar yang terluka adalah Amal Sakti, 25, Azhary Setiawan, 35, Kadin Balido, 30, Edi Sofyan, 24, dan Syahrul, 23. Luka terparah dialami Azhary Setiawan pada bagian tangan sebelah kanan. Mahasiswa Universitas 45 ini terluka setelah dihantam besi oleh pelaku penyerangan.

Selain melukai mahasiswa, para pelaku penyerangan yang menggunakan 10 unit motor saat mendatangi sekretariat HMI, juga merusak pintu kaca, inventaris sekretariat HMI, dan mengobrak-abrik ruangan tengah dan perpustakaan. Pelaku juga berupaya merampas bendera merah putih dari tangan pengurus HMI, sehingga sobek.

Menurut penuturan pengurus HMI Cabang Makassar, Azhary Setiawan, pelaku sudah mulai membuntuti mereka ketika sedang melakukan aksi demonstrasi di depan kampus Universitas 45 Jalan Urip Sumoharjo, sekira pukul 19.30 Wita. Ketika akan menggelar aksi lanjutan, para pelaku langsung berupaya membubarkan dan mengejar mahasiswa yang menggunakan mobil dikemudikan Azhary.

Ketika melintas di Jalan Gunung Bawakaraeng, para pelaku sempat memukuli beberapa mahasiswa. Setelah itu, mahasiswa memutuskan kembali ke sekretariatnya di Jalan Botolempangan dan bersiap melakukan aksi demonstrasi di depan sekretariatnya dengan memasang palang kayu dan batu.

Namun, belum sempat melakukan orasi, tiba-tiba sekretariat HMI diserang. “Mereka mengejar kami hingga ke dalam sekretariat dan memukuli beberapa mahasiswa. Ada lima yang terluka,” ujar Ketua Umum HMI Cabang Makassar, Amal Sakti.

Atas penyerangan itu, Amal Sakti meminta Kapolda Sulselbar, Inspektur Jenderal Polisi Adang Rochjana, dan Kapolwiltabes Makassar, Komisaris Besar Gatta Chaeruddin bertanggung jawab. Amal juga mendesak kapolda segera menangkap dan memecat para pelaku penyerangan itu.

“Kami memberi dead line 1 x 24 jam. Kapolda harus menindak anggotanya dan memberi sanksi pemecatan. Kalau tidak, kami akan melakukan penutupan Jalan Botolempangan dan berkoordinasi dengan teman-teman mahasiswa dari semua perguruan tinggi di kota ini untuk melakukan aksi demonstrasi,” ancam Amal.

Setelah mendapat kabar penyerangan sekretariat HMI Cabang Makassar oleh oknum polisi, Kapolda Adang Rochjana langsung mendatangi sekretariat HMI sekira pukul 21.30 Wita. Kapolda sempat berbincang dengan para pengurus HMI di ruang tengah. Hanya saja, kehadiran Kapolda tidak diterima baik para pengurus dan anggota HMI.

Mereka terus meneriaki Kapolda agar meninggalkan HMI dan menindak tegas para anggotanya. Mahasiswa yang terluka juga langsung visum di RS Bhayangkara, dan bertemu kembali dengan Kapolda dan Kapolwiltabes di ruangan kerja Kapolwiltabes, malam tadi.

Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Adang Rochjana, berjanji mengusut tuntas kasus penyerangan yang diduga polisi. Jika terbukti anggota Densus 88, Adang berjanji akan terus memproses kasusnya dan memberi sanksi pemecatan.

“Kalau terbukti anggota yang melakukan, langsung kami tangkap dan proses lebih lanjut. Tentu saja sanksi tegas berupa pemecatan kami tempuh,” janjinya. (Rif/dari berbagai sumber)