Andakah Pemuda Pelopor 2010?

Kemenpora akan menggelar kembali pemilihan Pemuda Pelopor tahun 2010. Diharapkan pemilihan kali  ini lebih selektif dan transparan dari sebelumnya, sehingga didapatkan Pemuda Pelopor yang betul-betul sesuai keinginan bersama, kata  Deputi II Bidang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda, M. Budi Setiawan, Jumat (5/3) sore, di kantor Kemenpora, Jakarta, saat memimpin rapat persiapan pemilihan Pemuda Pelopor.

“Kalau perlu kita akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, agar betul-betul didapatkan hasil yang baik. Menurut Budi Setiawan, tujuan program Pemuda Pelopor ini untuk  mengapreasi keberadaan pemuda Indonesia yang memiliki peran strategis sebagai pelopor dalam bidang pembangunan sosial kemasyarakatan, dan memiliki potensi memberikan motivasi dan inspirasi kepada masyarakat. ”Untuk itu pemerintah terus mendorong untuk mewujudkan pemuda yang memiliki kemampuan menjadi pelopor,” kata Budi Setiawan.

Sementara itu, peraih Pemuda Pelopor tahun 1991 Huala Siregar mendefinisikan pemuda pelopor sebenarnya manusia merdeka, berkarya tanpa pamrih. Karya atau tindakan yang mereka lakukan itu datangnya dari Yang Maha Kuasa. “Mereka melakukan semua itu tanpa berharap sesuatu. Jadi mari kita betul-betul menyeleksi sehingga kita menemukan pemuda merdeka dan berkarya tanpa pamrih,” ujarnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menpora Lalu Wildan mengusulkan , agar penilaian Pemuda Pelopor tidak hanya dibatasi pada 4 bidang saja masing-masing kewirausahaan, pendidikan, teknologi tepat guna serta seni budaya dan pariwisata), karena saat ini ada perubahan-perubahan permasalahan di masyarakat dibanding tahun-tahun sbelumnya. ”Misalnya saya mengusulkan ada pelopor bidang perubahan iklim, pertanian, informasi teknologi atau pemuda relawan bencana,” katanya. (win/rif)

Beasiswa Pertukaran Pemuda Antar Negara

Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara 2010 sudah dibuka!

Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2010, Ship For South East Asian Youth Program (SSEAYP), Indonesia-Canada Youth Exchange Program (ICYEP), Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP), Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP).

Indonesia-Canada Youth Exchange Program (ICYEP) adalah program pertukaran terfokus pada kerangka pembangunan masyarakat. Sekitar 6 bulan periode berlalu dalam dua tahap, 3 bulan di Indonesia dan 3 bulan di Kanada.

Ship For South East Asian Youth Program (SSEAYP) Program ini abadi sekitar 2 bulan naik kapal Jepang dan sekitar NipponMaru pra-terpilih Negara-negara ASEAN dan Jepang. Perluasan tujuan dari program ini adalah untuk membangun jaringan di antara pemuda Asia dan lebih jauh lagi internasional.

Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) dapat digambarkan sebagai program yang lebih komprehensif dalam profesionalisme. Meskipun, yang juga memiliki tingkat keterlibatan dalam pembangunan sosial. Ini bertahan jangka waktu hingga 4 bulan.

IMYEP adalah program khusus baru yang menyangkut hubungan antar budaya antara Indonesia-Malaysia sebagai negara tetangga. Memiliki banyak kegiatan seperti pelatihan kepemimpinan, kunjungan budaya, kunjungan kehormatan, program rumah tinggal, dan juga seni pertunjukan.

Silakan mencari info di dinas kepemudaan dan olah raga di masing-masing provinsi atau mengontak alumni2 program tersebut (PCMI) untuk info lebih jelasnya!

Formulir dapat diunduh di

http://pcmijawabarat.wordpress.com/formulir-2010/

Semoga sukses menjadi duta bangsa!

Sikap Media Akan Dulmatin CS

megapolitan.kompas.com

Kematian Dulmatin (9/3) menjadikan media massa berlomba-lomba menyiarkan berita ‘teroris’. TVOne dan MetroTVbersaing menyajikan liputan langsung beberapa hari dari Pamulang. Bahkan TVOne telah mendahuluinya dengan siaran langsung operasi polisi di pegunungan Aceh, sebelum terjadinya ‘operasi pembunuhan‘ Densus 88 di Gg Asem dan Gg Madrasah di Pamulang.

Kedua TV ini juga menghadirkan pengamat-pengamat teroris, jaringan Noordin atau jaringan al Qaida. Ada siaran langsung dari TVOne pada 10 Maret yang ‘cukup nakal’ ketika seorang reporternya (perempuan) menyiarkan langsung dari tempat kejadian dengan mewawancarai seorang laki-laki tua di Pamulang, tempat kejadian. Saksi yang melihat kejadian penembakan itu menyatakan melihat langsung bagaimana seorang polisi membekuk korban yang akhirnya terjatuh, kemudian didor tiga kali disitu. Ia mengucapkan kesaksian itu, sambil mempraktikkan penembakannya dengan memegang reporter itu!

Beberapa pengamat menyesalkan operasi tembak langsung di tempat yang dilakukan Densus 88. Karena belum jelas di pengadilan kesalahan-kesalahan mereka. Entah mendapat tekanan siapa, Densus 88 akhir-akhir ini menjadi garang dan cenderung menafikan pengadilan untuk menghukum para ‘teroris’. Beberapa pengamat lainnya membuat stigmatisasi dengan mengaitkan Dulmatin dan kawan-kawannya dengan pengalaman mereka di Afghanistan, Moro, dan Ambon. Seolah-olah adalah perbuatan kriminal yang tak terampunkan bagi mereka yang merelakan dirinya berjihad di ketiga tempat itu. Apa yang dikatakan pengamat, memang tergantung pada ideologi dan keilmuan yang dimiliki mereka.

Menarik apabila kita membandingkan sekilas (untuk detilnya Anda bisa baca sendiri) apa yang diberitakan Kompas dan Republika hari Rabu (10/3/2010) tentang peristiwa yang menyangkut Dulmatin ini. Dari sini, kita akan melihat bagaimana ideologi sebuah media berjalan dalam meliput atau menyikapi sebuah peristiwa. Seperti kita ketahui, berita adalah laporan suatu peristiwa. Dan lebih jelas lagi, sikap sebuah media semakin terang dengan melihat tajuknya.

Tentang Dulmatin atau teror ini, Kompas di halaman depan membuat tiga artikel di halaman satu (halaman paling bergengsi). Artikel pertama berjudul “Aliansi Susun Taktik Baru (judul besar), Dulmatin Persiapkan Semua Proyek Pelatihan (judul kecil)”.  Artikel kedua berjudul “Ada Harapan Hubungan RI dengan Australia Cerah”, dan artikel ketiga bertitel “Teroris Memanfaatkan Kelompok di Aceh”.

Di artikel-artikelnya Kompas terlihat  pro dengan tindakan Polri/Densus 88 dalam menangani kasus Dulmatin.  Kompas mengutip panjang lebar keterangan dari Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Ansyaad Mbai. Dengan Ansyaad Mbai Kompas juga menurunkan artikel wawancara khusus.

Ada satu hal yang menarik ketika Kompas mau mengutip ucapan yang ‘sedikit berseberangan’ dengan keterangan Polri. Meski hanya satu alinea.

Kompas menulis: “Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail, justru menilai, operasi pemberantasan terorisme saat ini masih jauh dari komprehensif.  Pemerintah hanya menerapkan cara legal formal melalui operasi kepolisian.  Fenomena kembalinya aksi mantan napi teroris adalah cermin kegagalan upaya deradikalisasi.”

Selain menurunkan artikel berita, Kompas juga menurunkan dua artikel opini tentang Dulmatin. Artikel pertama berjudul “Aceh Bukan Rumah Teroris” (Hamid Awaluddin) dan artikel kedua berjudul “Ancaman Terorisme Baru” (Arianto Sangaji).

Dalamn tajuknya,  Kompas sehari setelah peristiwa penggrebekan di Pamulang  menurunkan judul ‘Setelah Tewasnya Dulmatin’. Kita cuplikkan :

“Kepastian tewasnya Dulmatin, satu dari tersangka teroris di Pamulang, setelah Noordin M Top dan Azahari, melengkapi keberhasilan polisi. Polisi perlu kita apresiasi. Mengutip Kepala Polri, masih ada satu target.  Namanya dirahasiakan, tetapi diduga Umar Patek –ahli perakit bom berdaya ledak tinggi. Dulmatin dan Umar Patek masuk dalam daftar pencarian orang. Upaya Polri, bahkan sampai tiga personel Densus 88 tewas dalam penyergapan di Aceh, tidaklah sia-sia.  Perlu disyukuri.  Keberhasilan ini bukanlah titik akhir. Terorisme masih hidup, tidak hanya di Indonesia, juga di berbagai belahan dunia lain. Sebagai gerakan, terorisme bermakna strategis dalam bentuk peledakan bom dan simbolis dalam bentuk penanda keberadaan.  Terorisme merupakan bentuk nihilisme dengan ciri matinya kebebasan, dominasi kekerasan dan pemikiran yang diperbudak….”

Di alinera terakhir tajuk Kompas tertulis :

“Apa tindak lanjut konkret? Upaya kuratif perlu dibarengi sikap terus ngeh yang diwujudkan memoderasi pemahaman keagamaan secara progresif dan proaktif! Membangun sikap keberagamaan sebagai sesama peziarah, terbuka dan bersemangat plural, jati diri Indonesia.”

Koran Republika

Republika di halaman depan juga membuat tiga artikel. Artikel pertama berjudul “DNA Dulmatin Cocok(judul besar), The 10 Million Dollar Man (judul kecil).”  Artikel kedua berjudul “Presiden SBY: Hilangkan Saling Curiga.” dan artikel ketiga berjudul “Yang Pulang untuk Berpulang.” Republika tidak menurunkan artikel opini tentang Dulmatin.

Berlainan dengan arah Kompas, Republika cenderung kritis dengan tindakan Polri/Densus 88 dalam menangani kasus Dulmatin. Republika menyindir pengumuman terbunuhnya Dulmatin pertama kali ke publik dilakukan Presiden SBY di depan Parlemen Australia. Republika menulis lead beritanya:“Ratusan orang di gedung parlemen Australia menyambut pengumuman itu dengan tepuk tangan” dan memberikan judul gambar Presiden SBY sedang berpidato dengan tulisan: “Makin Mesra”.

Empati Republika kepada Dulmatin (meski Republika tidak setuju dengan aksi teror), makin terlihat di artikelnya yang ditulis oleh wartawannya Darmawan Sepriyosa: “Yang Pulang untuk Berpulang.” Di artikel itu Darmawan menceritakan riwayat hidup Dulmatin, kehebatannya, dan kebohongan pemerintah Filipina yang berulang-ulang mengumumkan kematian Dulmatin.

Di akhir tulisannya, Darmawan menulis: “Sudah lama wanita itu mengaku menyerahkan nasib sang anak kepada Tuhan. Ia bahkan berujar, jika Dulmatin meninggal, tak usah repot membawa jenazahnya pulang ke rumah. “Mati dimana saja tidak masalah karena semua di tangan Allah,” kata dia, wanita tegar itu. “Bila ajal tiba, tak soal tempat berkubur…”

Di tajuknya yang berjudul Sampai Kapan Terorisme? Republika mengritik sikap pemerintah dalam menangani terorisme. Republika menulis:

“Cara Indonesia membasmi terorisme benar-benar mengikuti cara Amerika Serikat. Awalnya penegakan hukum, yaitu tangkap, interogasi dan adili. Kini hanya ada satu cara: tembak di tempat…”

“Selama ini pemerintah menyebut bahwa jaringan terorisme berakar pada pejuang Indonesia di Afghanistan serta mujahidin Muslim di Ambon dan Poso. Mereka awalnya adalah orang-orang yang memiliki semangat membela sesama umat Islam yang dibiarkan dunia internasional terus dijajah Uni Soviet.  Mereka juga awalnya orang-orang yang bersemangat membela umat Islam di Poso dan Ambon yang dibiarkan oleh polisi dan tentara dibantai pihak lain.  Namun setelah wilayah konflik tersebut damai, mereka tak mampu beradaptasi dengan situasi normal. Sebagai masyarakat sipil, tentu mereka tak memiliki sistem dan prosedur adaptasi. Hal itu berbeda dengan pasukan militer. Selesai bertugas di medan perang, mereka harus mengikuti terapi dan proses adaptasi terlebih dulu sebelum kembali ke keluarganya…”

(Nuim/Hidayatullah)

Buku Lintasan Sejarah Iran Diluncurkan


sufferthegringo

UIN Jakarta bekerja sama dengan Bagian Kebudayaan Kedutaan Republik Islam Iran meluncurkan buku Lintasan Sejarah Iran dari Dinasti Achaemania ke Republik Revolusi Islam. Buku karya Muhammad Hasyim Assegaf  tersebut diluncurkan di tengah berlangsungnya Indonesian and Iranian Arts Festival 2010 yang digelar di Auditorium Utama, Kamis (11/3).

Hasyim menyatakan, sebenarnya buku tersebut ditulis pada tahun 1978, namun baru diterbitkan pada 2009 lalu. Di antara buku-buku mengenai sejarah Iran, buku karya Hasyim merupakan salah satu buku yang menjelaskan sejarah negeri para Mullah itu secara komprehensif. Buku  ini terdiri dari tiga bagian yaitu Iran pra-Islam, masa kedatangan Islam, hingga abad ke-18.

“Selain itu, saya juga mencantumkan dinasti-dinasti yang berkembang di Iran dan tokoh–tokoh yang berperan besar dalam sejarah Iran. Saya ingin memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa Iran merupakan negara yang patut dijadikan contoh dalam segala bidang,” kata Hasyim.

Hasyim melanjutkan, Iran merupakan negara Islam yang dikenal memiliki peradaban terlama dan hingga saat ini menjadi negara dengan teknologi paling canggih. (MN/Rif)

Laskar Pelangi Disambut Hangat Mahasiswa Universitas Masaryk

George Perez mahasiswa Business Adminsitration dari Madrid, Spanyol, mengaku sempat menitikan airmata. Sementara Ashlee dari Tennessee, AS, terkejut dengan kualitas film Indonesia. 

Setelah menjadi film tamu di Zlin Internasional Film Festival 2009 dan diputar sebagai film pembuka di Festival Film Indonesia ke-3 di Praha 2009, film ‘Laskar Pelangi’ kembali disambut hangat oleh publik di Ceko. 

Kali ini dengan penonton para mahasiswa dari berbagai negara di Gedung Fakultas Ekonomi, Unibersitas Masaryk, Brno, 11/3/2010. 

Ditonton oleh sekitar 200 mahasiswa dari berbagai negara di kota terbesar kedua di Ceko, film fenomenal dengan dukungan pemeran anak-anak Belitung tersebut mendapat banyak komentar positif. 

Selain mahasiswa Ceko, banyak mahasiswa dari berbagai negara yang khusus datang untuk menonton Laskar Pelangi. George Perez mahasiswa Business Adminsitration dari Madrid, Spanyol, mengaku sempat menitikan airmata melihat film tersebut. Saking terkesannya, George berkeinginan mengunjungi Belitung. 

Tomasz Wiezbicki, mahasiswa Fakultas Pertanian Mendel University, juga mengakui bahwa film tersebut ada kemiripan dengan kehidupannya di masa kecil ketika masih tinggal di Polandia. 

Sedangkan mahasiswi dari Cina yang mengaku bernama Ping mengatakan sangat tersentuh oleh film tersebut. “Cerita dalam film itu mirip juga dengan yang terjadi di Cina, di mana masih banyak orang harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan,” ujar Ping. 

Komentar lain datang dari Ashlee, mahasiswi asal Tennessee USA, yang terkejut dengan kualitas film Indonesia. “Laskar Pelangi adalah film Indonesia yang pertama saya lihat,” kata Ashlee. 

Menurut Ashlee, film tersebut sangat edukatif dan menyentuh. Selain itu Ashlee juga mengaku senang, karena bisa melihat salah satu tempat di negeri yang belum dia kenal. 

Sementara itu Presiden International Student Club Masaryk University, Ondrej Siroky, merasa bangga bisa menghadirkan film Indonesia di universitas tersebut. Ondrej mengharapkan dapat meneruskan kerjasama dengan membuat kontak bersama student clubs dari universitas di Indonesia. 

“Pemutaran film ini merupakan salah satu cara KBRI Praha untuk memperkenalkan Indonesia kepada berbagai kalangan di Ceko,” terang Konselor Pensosbud Azis Nurwahyudi kepada detikcom. 

Dijelaskan bahwa pemutaran film Laskar Pelangi ini terselenggara berkat kerjasama dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Masaryk, Brno dan International Student Club Masaryk University, Brno. 

Untuk lebih mengenalkan keanekaragaman budaya Indonesia, kali ini pemutaran film dibarengi dengan penampilan Tari Cendrawasih dari Bali dan Tari Kayau dari Kalimantan. 

Sedangkan untuk menambah wacana para mahasiswa tentang Indonesia, KBRI Praha juga menjelaskan mengenai Indonesia secara singkat, membagikan buku tentang Papua, dan brosur informasi lainnya. Selain itu kepada para pemenang door prize juga diberikan CD Film Laskar Pelangi serta suvenir khas Indonesia. 

Pada akhir acara para mahasiwa dapat menikmati ragam makanan Indonesia seperti lemper, dadar gulung, gula kacang, dan dodol garut yang telah disediakan.

(es/es) detik.com

Benturan HMI VS POLISI Sebuah Settingan?

vivanews.com

JAKARTA – Ketua Umum PB HMI M Chozin Amirullah menduga berlarut-laurutnya penyelesaian insiden bentrokan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Insalam (HMI) dengan polisi dan meluas ke sejumlah daerah karena ada setingan dari pihak tertentu. “Saya menduga ini seperti ada setingan untuk pengalihan isu Century atau terorisme. Yang dikhawatirkan ini sengaja dibenturkan antara HMI dengan polisi,” ungkapnya saat berbincang dengan okezone, Sabtu (6/3/2010).

Dugaan ini bukan tanpa dasar. Chozin sedikit beranalisa dengan penindakan kasus terorisme yang begitu cepar dan sistematis. “Ini aneh, karena aparat kita sangat canggih dalam mengejar pelaku terorisme. tapi kenapa dalam aksi bentrok di Makassar belum bisa diredam?” ujarnya.

Menurut dia, kejadian ini seakan-akan diarahkan agar mahasiwa berhadap-hadapan dengan aparat, kemudian warga. “Saya mendapat informasi ada yang melihat tukang beca disuruh lempar batu sama polisi,” jelas Chozin.

Terkait masalah ini, dia menambahkan, pihaknya terus aksi simpatik secara damai dan menggalang dukungan dari sesama organisasi pergerakan, bukan hanya dari HMI.

Rektor Universitas Negeri Makassar Professor Arismunandar mengungkapkan ada pola yang sama dengan kejadian sehari sebelumnya di UIN Alauddin Makassar dengan kehadiran warga di lokasi selama bentrokan terjadi.

“Warga selalu berdiri di depan polisi. Polisi tak berupaya untuk melerai. Malah ikut menonton dari belakang. Padahal polisilah yang seharusnya memisahkan mahasiswa dan warga yang bentrok itu, bukan malah membiarkannya, ” terang Rektor.

Sementara itu Mabes Polri menyatakan telah menindak empat anggota kepolisian dalam kasus penganiayaan dan perusakan kantor kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jalan Botolempangan, Makassar, kemarin.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang mengatakan, Polri telah empat personel kepolisianyangmelak ukanperusakan dan penganiayaan di Polwiltabes Makassar telah dikenai sangsi.

Sumber ( http://news. okezone.com/ read/2010/ 03/06/338/ 309729/bentrok- polisi-hmi- setingan )

Lelaki Yang Menunggui Pintu

Cerpen : Dian Hartati

Setiap kali melewati jalan itu, selalu aku lihat lelaki tua dengan rambut yang memutih seluruhnya. Rumahnya persis di kanan jalan dengan kondisi yang memprihatinkan. Dinding yang berdiri itu hanya berupa bilik-bilik bambu yang tidak lagi kokoh berdiri. Miring. Di sebelahnya terdapat kandang kambing. Setiap orang selalu disuguhi pemandangan yang sama setiap pagi. Sekitar pukul tujuh dia duduk tepat di pintu rumah -menghalangi pintu- dengan kedua kakinya yang menjulur ke luar dari pintu rumah. Kaki yang berbalut kulit itu hanya mengenakan pakainan berwarna hijau loreng. Ditunggunya sinar matahari dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depannya.

Aku selalu memperhatikan lelaki tua itu setiap pagi. Raut wajahnya yang serius seperti menepis semua pertanyaan yang hinggap tiap kali melihatya. Seperti hari ini, begitu saja terlintas dalam pikiranku mengapa dia selalu tepat waktu mengawasi pagi dengan senyumnya. Tak pernahkah dia bosan dengan hal yang itu-itu saja. Tapi begitulah, ketika aku lihat wajahnya, pertanyaanku mendadak hilang.

Tak aku pedulikan lagi lelaki tua itu, apalagi anakku yang mulai merengek minta dibelikan kesukaannya, serabi hangat. Ya, setiap pagi aku harus mengantarkan anakku pergi sekolah. Anakku ini selalu saja minta dibelikan serabi yang dijual tidak jauh dari rumah lelaki tua yang selalu memperhatikan aku dan anakku, aku tahu itu. Tapi itu tidak aneh untukku karena setiap orang selalu saja diperhatikan oleh orang tua itu.

***

Pagi ini cuaca begitu mendung, matahari kelam menunjukkan kehadiran. Aku bergegas membeli serabi hangat karena anakku menunggu di rumah, Lika sudah tiga hari sakit. Tidak seperti biasanya banyak yang antre membeli serabi dan tentu saja aku harus menunggu. Kira-kira setengah jam aku menunggu, dan ketika hendak pulang gerimis turun. Aku yang sedang diburu waktu tidak mempedulikan cuaca, anakku menunggu di rumah. Aku terobos gerimis yang semakin deras, dari jauh aku lihat lelaki tua itu memandang ke arahku yang sedang tergesa. Gerimis berganti hujan dan aku segera berlari mencari tempat berteduh. Melihatku yang kebingungan lelaki tua memanggilku.

“Di sini saja Nak, hujannya semakin besar!” teriak lelaki tua itu tanpa bangkit dari duduknya.

“Terima kasih, Pak,” aku menuju teras rumah yang tak seberapa luas dan langsung duduk disebelah bapak tua itu.

“Maaf Pak menggangu, saya tak mengira hujan turun sepagi ini.”

“Ya, bapak juga tak menyangka hujan turun. Lihat singkong-singkong yang baru bapak jemur, basah semua,” tangan yang tua keriput itu menunjuk tumpukan karung beras yang dijadikan alas untuk menjemur.

“Anaknya tidak ikut, sedang libur sekolah ya?” aku tak salah kira, ternyata bapak tua ini memperhatikan aku dan anakku.

“Tidak libur sekolah, anak saya sakit.”

“Pantas bapak tidak melihatnya beberapa hari ini.”

“Ya, sudah tiga hari Lika demam.”

“Namanya Lika? Mengingatkan bapak pada luka…, sudahlah jangan hiraukan,” bapak tua itu tertunduk sebentar.

“Mungkin nama Lika aneh bagi Bapak, tapi ada kenangan di balik nama itu,” aku tertunduk juga, tak mau roman mukaku yang berubah terlihat bapak tua itu.

“Ya, sepertinya ada luka di balik nama itu?”

“Bukan luka sebenarnya hanya kenangan pahit ibunya.”

“Iya, bapak juga tidak pernah melihat ibunya, ke mana Ibu Lika?”

“Ibunya hanya tinggal kenangan, dia pergi ketika melahirkan Lika….”

“Maaf, bapak tak bermaksud…”

“Tak apa,” aku memotong pembicaraan bapak tua itu.

Hujan telah berhenti sejak tadi, hanya tersisa derai gerimis yang kecil.

“Permisi Pak, saya pulang dulu dan ini untuk bapak kebetulan saya membeli agak banyak hari ini,” aku memberikan beberapa kue serabi dan meletakkan dengan bungkusan koran yang tertutup rapi.

“Terima kasih, Nak.”

“Permisi, Pak.”

“Ya, hati-hati salam buat Lika….”

Aku bergegas meninggalkan rumah yang selama ini aku perhatikan dengan pemiliknya yang aneh. Tak kusangka ternyata pemiliknya ramah dan sepertinya memiliki kenangan yang sama denganku di masa lampau. Ya, kenangan yang menyakitkan hingga aku harus memberi nama Lika pada anakku satu-satunya.

***

Aku ceritakan pada Lika tentang seorang bapak tua yang selalu menunggui pintu setiap pagi. Bapak yang tinggal sendirian tanpa ada yang menemani dan selalu duduk dengan kaki yang berbalut keriput dan menjulur ke luar pintu.

“Ayah mengapa kakek itu selalu begitu?” aku tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin kakek itu sedang menunggu cucunya.”

“Tapi kata Ayah, kakek itu tinggal sendirian?”

“Oh iya-ya, ayah lupa…”

“Jadi untuk apa, Yah?” aku mencari jawaban yang tepat.

“Ayah ingat, kakek itu selalu menunggui matahari.”

“Matahari? Ada apa dengan matahari?”

“Kakek itu menunggu sinar matahari. Lika sudah diajarkan belum di sekolah?”

“Belum…,” Lika menggeleng perlahan sambil mengingat-ingat pelajarannya.

“Cahaya matahari pagi hari baik sekali untuk kesehatan kulit, jadi kakek itu menunggu sinar matahari untuk mengobati keriputnya,” aku terpaksa sedikit berbohong.

“O… begitu ya?” aku lihat masih ada pertanyaan yang menggantung dalam pikiran anakku.

“Sekarang, Lika minum obatnya ya…, terus bobo biar cepet sembuh….”

***

Tidak seperti biasanya pintu rumah yang selalu terbuka itu tertutup. Aku tak berani mengetuk, apalagi mengintip ke dalamnya. Aku lewati rumah yang semakin miring itu dan sebentar memperhatikan.

“Masuk, Nak!” aku mencari suara bapak tua itu,

“Di sini, masuklah lewat samping!” aku memasuki teras yang tidak luas itu dan menemukan bapak tua yang sedang sibuk menjemur bilah-bilah bambu.

“Ini untuk apa?” tanyaku ketika melihat bapak tua yang sedang sibuk menyusun rapi beberapa bilah bambu yang sudah dihaluskan.

“Membuat kipas. Lumayan hasilnya dijual ke pasar. Mana Lika, tidak dibawa?”

“Ah, Bapak ini, oh ya tumben pintunya tertutup?”

“Hari ini, bapak tidak sedang menunggu siapa-siapa….”

“Memangnya Bapak suka menunggu siapa?” pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan akhirnya terlontar juga.

“Siapa lagi kalau bukan menunggu matahari.”

“Matahari? Tapi sedari pagi matahari begitu cerah.”

“Bukan matahari itu…” bapak itu langsung saja memotong kalimatku.

“Matahari yang selalu ada di sini,” tangannya menempel lekat di dada.

“Siapa?” aku semakin penasaran.

“Luka…”

“Luka?” aku semakin tak mengerti.

“Semalam dia datang menghampiri tempat tidurku dan membelai aku lama sekali. Aku pura-pura tertidur tapi dia tahu aku tidak tidur ‘bangunlah dan duduk dengan tenang’ aku mengikuti apa yang dikehendakinya. Aku melihat wajahnya yang tetap muda tanpa keriput dan cela. Aku melihat binar cerah yang menggambarkan hatinya yang putih bersih. ‘Tutup matamu’. Lagi-lagi aku memenuhi apa yang dikatakannya dan tetap terdiam tanpa berbuat apa-apa. Setelah menutup mata apa yang kurasakan adalah rasa itu… rasa yang pernah aku reguk puluhan tahun silam. Tiba-tiba saja  kancing-kancing bajuku terbuka dengan gaib, terbuka satu persatu tanpa perlawanan aku merasakan belaian hangat yang selama ini tak pernah aku rasakan. Wajah tanpa cela itu membius tubuhku, mengeraskan otot-otot tubuhku. Sampai tepat tengah malam, aku berpagutan dengan hawa tak berhawa dengan rasa tak berasa, dan akhirnya dia pergi setelah aku terkapar kelelahan, tak berdaya. Dia matahariku yang pergi untuk selama-lamanya, setelah aku menunggu begitu lama. Kepastian yang akhirnya datang pada malam-malam yang aku tunggu sekian lama.”

“Luka? Lalu apa hubungannya dengan luka?”

“Sudahlah jangan dipikirkan, aku hanya menceritakan bahwa ada sisi lain dari diriku. Selain diam, dan selalu duduk menghalangi pintu setiap pagi, mungkin besok tak akan kau temui aku dengan keadaan yang selalu memperhatikan orang-orang seperti kamu dan anakmu. Kembalilah ke sekolah, Lika sudah menunggumu dari tadi.”

“Kalau begitu saya permisi dulu Pak, terima kasih.”

***

Aku tak menyangkal bahwa cerita bapak tua itu begitu membekas dalam ingatanku, apalagi pada malam-malam pertama setelah gerhana bulan terjadi saat bapak tua itu bercumbu entah dengan siapa. Gerhana bulan yang tidak diberitakan sebelumnya muncul di daerah rumahku. Aku tahu malam itu terjadi gerhana bulan dari masjid yang mengumumkan dan mengumandangkan takbir-takbir kebesaran Tuhan. Gerhana bulan yang telah membangunkan aku. Ya, karena Lika menangis ketakutan dan tiba-tiba saja demamnya turun.

Gerhana bulan yang lama tak pernah datang tiba-tiba mengganggu tidur bapak tua itu dan menurunkan demam anakku.  Gerhana bulan yang sering dimitoskan datangnya batara kala, yang kemunculannya ditakuti hingga orang-orang desa sering melakukan ruwat demi membersihkan diri dari dosa-dosa yang menempel pada titik-titik kulit.

“Ayah ada apa sih, kok, di rumah itu banyak orang?” Lika menunjuk rumah miring ketika aku mengantarnya ke sekolah.

“Ayah tidak tahu, cepat jalannya nanti kamu terlambat lagi.”

Aku menarik Lika mempercepat langkah, kami lewati rumah bapak tua yang ramai dan tidak seperti biasanya. Sebenarnya aku ingin menepi dulu tapi aku tidak mau Lika terlambat sekolahnya gara-gara aku.

Setelah mengantar Lika ke sekolah, aku berbalik dan menuju rumah bapak tua yang kemarin sempat bercerita tentang hal yang tak kumengerti. Ada rasa penasaran yang begitu kuat hingga aku harus kembali ke sana.

Dari jarak sepuluh meter aku lihat keranda yang sedang dipersiapkan, aku mempercepat langkahku.

“Siapa yang meninggal, Pak?” aku bertanya pada seseorang yang sedang menghaluskan papan nisan.

“Pak Resi, Bapak kenal?”

“Bapak yang rambutnya putih semua?” aku balik bertanya, karena selama ini aku tidak pernah tahu siapa nama bapak tua yang berada di rumah ini.

“Betul, Bapak kenal?”

“Tidak, aku hanya sering saja melihat bapak tua itu selalu duduk menghalangi pintu di setiap paginya,” aku berbohong.

“Pak Resi memang selalu duduk di pintu, dia sebenarnya menunggu seseorang, tapi bapak tidak tahu siapa yang ditunggu oleh Pak Resi.”

Aku tidak langsung pergi dari tempat itu. Aku duduk sebentar mengusir cerita yang muncul di benakku. Beberapa pemuda datang melayat. Tak lama mereka keluar dan duduk di sampingku. Aku hanya tersenyum melihat mereka memandangku.

“Ya, begitulah akhirnya orang yang suka bermain ilmu.”

“Begitu bagaimana?”

“Kamu tidak melihat memar di sekitar matanya?”

“Tidak, memangnya kenapa?”

“Memar yang ada disekitar mata kirinya itu akibat dia selalu sering bermain dengan ilmu…, ilmu hitam. Kamu tahukan kebiasaannya melihat matahari pagi di pintu. Itu salah satu syarat agar ilmu-ilmu yang dia pelajari kuat seperti matahari pagi.”

“Kamu jangan asal bicara ya, nanti arwahnya mengganggumu?”

“Ya, mudah-mudahan saja Pak Resi pergi dengan tenang.”

***

Setelah kematian Pak Resi, aku mencari jalan lain untuk mengantar Lika. Aku tidak mau lagi bertemu dengan wajahnya yang selalu menunggu sesuatu di teras rumahnya. Beberapa orang yang aku kenal bercerita Resi adalah seorang pandai besi yang harus pergi dari kampungnya demi mengejar cintanya. Tapi setelah mendapatkan cinta, mata hatinya pergi dan sampai saat ini belum kembali. Begitu cerita yang aku dengar. Tapi entahlah aku selalu saja teringat akan ceritanya tentang malam gerhana bulan.

“Besok, semua mamanya teman-teman Lika mau datang ke sekolah…. Lika harus membawa mama, Yah….”

“Tenang saja, besok ayah saja yang datang. Kamu tidur saja sekarang mungkin bertemu mama nanti.”

“Tidak mau! Lika tidak mau bertemu mama. Mama jahat, pergi tapi enggak bawa Lika.…”

Lika tahu mamanya pergi dengan seseorang. Seseorang yang pernah dekat dengan Lika. Seseorang yang berani menyakiti Lika bahkan aku sahabat sejatinya. Kini aku harus selalu berdiam diri di balik pintu demi kedatangan seorang yang telah membuat luka. Luka yang dalam di hatiku. Luka yang membuat Lika selalu menangis saat demam menyergap tubuh kecilnya. Demam karena Lika rindu dan Lika terluka oleh seorang ibu yang pergi dari kehidupan yang dulu indah, bahkan mungkin terindah bagi kami berdua.

Biodata:

Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Menyukai jalan-jalan dan menenggelamkan diri pada perjalanan kata-kata. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap berproses menulis.

Karyanya dimuat di berbagai media, di antaranya: Radar Bandung, Literat, Suara Indonesia, Priangan, BÉN! (media luar biasa), majalah ESQ Nebula, Pikiran Rakyat, Suara Karya Minggu, majalah sastra dan budaya Aksara, Bandung Post, Ganesha, Dinamika&Kriminal, Qalam Rata, Pakuan Raya, Solo Pos, Minggu Pagi, majalah sastra Horison, Bali Post, Lampung Post, Bangka Pos, Bhinneka Karya Winaya, Radar Banten, Padang Ekspres, Radar Sulbar, Jambi Ekspres, Surabaya Post, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Suara Merdeka, Singgalang, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Harian Surya, jurnal zine Raja Kadal, tabloid Cempaka, buletin Daun, majalah GONG, Jawa Pos, Jurnal Nasional, buletin sastra Pawon, www.tandabaca.com (sekarang www.titikoma.com), buletin Histeria, majalah budaya SAGANG, Jurnal DerAS, Riau Mandiri, www.mediabersama.com, Harian Aceh, Pos Kupang, Tribun Jabar, Jurnal Kreativa, www.sastra-indonesia.com, Majalah Kidung, www.kompas.com, Pontianak Post, Koran Merapi, Borneo News, Harian Analisa, Radar Tegal, Harian Global, Buletin Littera, majalah d’sari, Sinar Harapan, Jurnal Bogor, Harian Sumut Post, dan lainnya.

Cerpennya terhimpun dalam antologi Mimpi Jelang Pemilu (Taman Budaya Jawa Tengah, 2009), Loktong (CWI-Menpora, 2006), dan La Runduma (CWI-Menpora, 2005).

Kelahiran

Oleh : Cikie

Lazuardi melewati pintu dan berdiri tepat di sisi kananku dengan senyum yang mengembang dari  bibirnya yang mungil. Aku hanya membalas senyumnya sekilas lalu meredam lelahku dengan helaan nafas panjang.
Lazuardi kemudian duduk di sebuah kursi dan tangannya meraih tanganku
“Maafkan aku, Mis. Bagaimana persalinan tadi?” Lazuardi mengelus dan mencium punggung tanganku.
“Apa anak kita baik-baik saja?” Tanyanya lagi dengan datar.
“Dia di Inkubator,” jawabku ringan.
“Lalu?”
“Ya tunggu saja apa kata Dokter. Apa kau mau anak kita celaka? Seperti dua anakku yang lalu?”
Dalam keheningan ruangan itu, Lazuardi menatapku heran. Rasanya ia menjadi orang lain. Ia tak mengerti apapun. Ingin rasanya aku menjerit sekuat tenaga dan menanggalkan tugasku sebagai penyemai benih darinya, lalu ku berikan tanggung jawab itu kepada lelaki bernama Lazuardi.
“Apa kau sudah makan?” lagi-lagi ia menyapa tanpa dosa.
“Tolong kau tanyakan pada Dokter itu, bagaimana kondisi anakku.”
“Kau marah, Mis? Mengertilah. Aku kerja demi kau dan anak kita.”
“Kerja? Berminggu minggu di luar kota? Dan ini anak ketiga setelah dua sebelumnya kau menelantarkan mereka.”
“Miska!! Itu bukan salahku, aku hanya bekerja!”
“Lalu seenaknya pulang dan mendatangiku seperti lahan yang selalu siap kau pakai kapan saja. Aku tak mengerti apa maumu, Lazuardi. Berhari-hari dan berulang kali kau lakukan itu, kujalani hidup ini tanpa suami! Aku hamil tanpa ada yang peduli.”
“Aku ada menghubungimu,bukan?”
“Aku tak butuh bayangmu.”
“Kau banyak menuntut, Mis.”
“Aku…” aku mengerang kecil, menahan sakit di ujung perutku. Saat itu Dokterpun masuk dan melihatku.
“Ada apa ini?” Ia memperhatikan Lazuardi. “Anda suaminya?”
“Ya, Dok. Istri saya kenapa?”
“Sebaiknya jangan dibawa bicara dulu, dia masih lemah.”
“Tapi saya boleh disini kan, Dok?”
“Tentu. Jaga agar istri anda tidak bergerak banyak.”
“Terima kasih, Dok,” Lazuardi mendekatiku lagi saat Dokter itu keluar
Lazuardi menatapku dengan mata teduhnya, kadang aku merindukan ia yang dahulu, Lazuardi membelai kepalaku berulang kali. Kaukah itu Lazuardi ? Batinku sembari tersenyum paksa.
***
“Mak, Lazuardi belum pulang juga ya, Mak?” tanyaku pada mertua perempuanku yang dari tadi sibuk merenda . Mak menggeleng.
“Lupakanlah ia, kalian tak akan pernah damai. Kau harus sadar diri, ia bukan manusia sembarangan.”
“Sudah enam bulan ini Lazuardi menghilang, apa ia tak kasihan pada anak ini? Mak tak kasihan padaku? ” aku mulai menangis lagi.
“Dia anak langit, setiap kelahiran merubah sikapnya, ia tak berhak diikat apapun,”
“Tapi Mak…dia juga anak Mak kan? Apa Mak tak sedih?”
“Diamlah…Jangan bicara.”
Ya aku hanya bisa diam dan menangis, aku tak berhak tahu dan mempertanyakan apapun, Mak pun tak peduli. Entah dimana pikiran sehat mereka. Aku sungguh tak mengerti. Ku gendong anak lelakiku yang masih mungil. Mau ku apakan anak ini? Dimana ayahnya? Ya Tuhan, inikah takdirku? Kembali aku ke kamar meratapi nasibku yang menggores hatiku lebih dalam.
***
Aku menatap senja dari sungai mati, yang bertahun-tahun lalu telah di lupakan masyarakat. Maka ketika Surya benar-benar menghilang, aku akan pulang dengan tenang dan kakiku yang tenggelam separuh betis telah berubah warna menjadi coklat akibat lumpur sungai.
Di rumah, aku tahu anakku akan menunggu di tepi pintu menunggu ibunya pulang. Tapi ia tak sekedar menunggu karena sebagian dari dirinya juga hilang.
“Bu…ibu bertemu ayah?” sapanya lembut, ia anak lelakiku yang kini berumur lima tahun. Ia menyapaku sambil matanya terus menerawang ke langit. Aku tak menjawab seraya membasuh kedua kakiku dan menghidupkan lampu. Kemudian ku gendong anakku agar masuk dan tidur di kamar.
“Nenekmu mana?”
“Dia sudah tidur, bu. Nenek tadi bertemu ayah,” anakku masih saja meracau
“Ayah?” tanyaku pula
“Ya, ayahku, bu. Nenek bilang ayah datang dan akan menjemput nenek.”
“Jangan bicara begitu, tidurlah. Malam ini kita akan mimpi indah.”
“Bu..bu…” anakku menarik lenganku
“Apa ibu mencintai ayah? Kenapa ayah meninggalkan kita, Bu. Kenapa Ibu selalu menangis??”
“Kau tak mengerti, dan jangan tanyakan itu berulang kali.”
“Bu, ayah bilang ia tak menginginkanku dan ia berada di langit. Hanya nenek yang akan dibawanya. Mereka ke langit, bu.”
“Diamlah !!!”
“Bu..bu… di langit ada darah. Ayah membenci kelahiranku!!” anakku seperti ngigau. “Dan ia membenci ibu!” anakku mulai menangis. Aku memeluknya erat
“Tak ada yang membencimu. Ibu sayang padamu,” anakku menggigil ketakutan
Aku tahu hati ini telah jadi beku, hanya kehampaan yang kujalani dalam waktu-waktu yang kutempuh.
“Ayahmu tak mati, ia yang mematikan kita.”
Anakku melongok ke wajahku, ia mendesis. Lalu menarik tanganku ke suatu tempat. Kamar nenek, ibu mertuaku. Aku menurut saja. Tapi setiba di sana langit-langitnya penuh cahaya merah yang meleleh tajam. Aku terkulai lemah melihat itu semua, anakku berteriak-teriak ketakutan.
Kini bayang-bayang Lazuardi tak hanya ada di semesta ini tapi juga di hatiku dan anakku. Bayangan yang akan terus mengusik dan mencekam mimpi-mimpi kami. Bibir mungilnya jadi duri dari sebagian yang hilang dalam diri.
Ku gendong anak lelakiku keluar, berusaha mencari pertolongan. Tapi anakku tetap saja meracau menatap ke langit yang kian menjadi beku. Oh Lazuardi ku.***

Cikie wahab kelahian Pekanbaru. 28 desember 1986. bergabung dalam sekolah menulis paragraf. Bermukim di pekanbaru.

Pelacur Yang Mati Di Kali

Cerpen : Bode Riswandi

Jika yang mati itu pelacur, bukan masalah
yang jelas jangan anak tuan jendral itu…

Musim hujan sudah tiba. Orang-orang suka  malas ke luar rumah. Jika tidak minum kopi, pasti ngerumpi di ruang teve. Atau betah di ranjang membayangkan sesuatu yang selalu menimbulkan kehangatan. Jalan sudah pasti becek atau banjir semata kaki.
Hidup di kampung padat penduduk, di sela-sela gang yang ujungnya buntu, air biasa menggenang agak meninggi. Sibuklah para penghuni kontrakan rumah sepetak di Gg. H. Zarkasih itu, menutup liang-liang kecil pada pintu dan papan triplek rumah mereka, menahan air hujan yang deras turun dari ujung jalan ke rumahnya.
“Ah, bencana musiman. Tak bosan-bosannya kamu!” teriak kesal seorang perempuan yang agak serak di salah satu rumah.
“Terima saja  Kinyang, Ini sudah nasib wong cilik” jawab suaminya sambil membuang genangan air dengan gayung kaleng.
Caci maki seperti ini, biasa terjadi di sini. Wong mereka senasib semua. Jika sodara berkunjung ke sana, di saat musim hujan seperti sekarang ini, sodara akan mendengar gegap gempita makian dari setiap pintu. Berulang-ulang. Selalu berulang-ulang. Meski mereka sadar bahwa makian itu sama halnya mencaci nasibnya sendiri.
Penghuni Gg. H. Zarkasih sudah dapat ditakar berapa penghasilannya. Jika ada yang lebih, tak kurang dari lima ribu rupiah saja selisihnya. Hampir seluruh kepala keluarga di sana berprofesi sebagai kuli pasar dan bangunan. Keluar  jam tiga pagi hingga rehat sore nanti.
Ada satu rumah yang dihuni empat orang perempuan yang menggantungkan hidupnya sebagai lonte. Warga Gg. H. Zarkasih tidak sedikitpun mengusiknya. Mereka sama-sama tahu kesulitan wong cilik. Jika perlu, para kuli itu sering membawakan tamu baginya. Lumayan tambahan sedikit buat dapur kilahnya.
Hujan semakin deras. Genangan menjadi-jadi. Pasrah jadi jalan terakhir mereka sambil mengumpat satu sama lain. Di genting, air turun dari celah-celahnya. Tak ada lagi tempat berteduh. Kalau sudah demikian, satu-satunya musola yang agak permanen selalu jadi tempat pelarian terakhir mereka. Para kuli, istri-istri kuli, dan empat orang lonte sama-sama berteduh ke mushola.
Wajah-wajah kemiskinan menyesaki mushola. Ada yang menggelepar. Ada yang duduk di serambi sambil melihat air yang begitu bebas memasuki rumahnya. Ada juga yang berbincang dengan para lonte. Mungkin tentang tamu baru atau langganannya.
Magrib tiba. Dan hujan belum juga reda. Ujang Lukman, seorang kuli pasar yang diustadzkan berdiri. Lalu adzan. Sebagian bangkit dan berjamaah. Sebagian lagi ada yang tertidur pulas. Empat lonte dandan di serambi mushola. Menyemprotkan parfum pada baju dan lehernya. Satu-satunya wewangian mewah di Gg. H. Zarkasih adalah parfum lonte itu yang menyengat ke udara. Selebihnya, jika bukan aroma got, tentu goreng bawang dan sambal terasi.
“Orang sabar itu kekasih Tuhan! Dan hujan itu ujian kesabaran buat kita” jelas Ujang Lukman.
“Pak Ustadz, jika hujan terus, apa kita harus sabar terus?” tanya Mas Eko pendatang dari Majenang.
“Betul tuh kata Ujang Lukman, Mas. Hidup itu musti sabar!” sahut lonte di serambi mushola “Di luar sana, orang-orang banyak mencibir kami, Jang. Wanita Murahan-lah, biang penyakit-lah, si raja singa-¬lah, itu ujian kesabaran juga bagi kami kan, Jang? Makin banyak tamu buat kami, itu adalah buah dari kesabaran kami selama ini” lanjutnya disambut dengan decak tawa lonte lainnya. Ujang Lukman hanya tersenyum.
“Sabar kok harus di bayar mahal ya?” seperti ngigau, Kinyang menyela. Sehelai baju dengan foto senyum sungging walikota terpilih, terpampang di tubuhnya.
“Jam berapa sekarang Jang?” tanya Renata nama lain dari Dedeh. Lonte senior, usianya delapan tahun lebih tua dari Ujang Lukman.
“Mau berangkat sekarang Ceu?” Ujang Lukman menghampiri sampai pintu mushola “Hujan lebat gini?” lanjutnya.
“Ada yang  jemput kok Jang. Lumayanlah” sambil memantapkan wajahnya dengan bedak.
“Tujuh kurang tiga menit, Ceu.”
Tiba-tiba muncul seorang muda yang kurus memanggil-manggil Renata. Jeans-nya dilipat seatas mata kaki, “Nata!..Nata!”
“Pemuda itukah?” tanya Ujang Lukman.
“Jer, saya di sini!” sahut Renata “Itu yang jemput Eceu, Jang. Jery namanya. Anak buahnya si Bos Kayu ” jelas Renata.
“Pak Ustadz!” sapa Jery sedikit lugu. Ujang Lukman cukup tersenyum. Berkali-kali kalimah istigfar diucapkannya dalam hati.
“Eceu berangkat Jang. Doakan Eceu ya!”pergilah Renata dengan pemuda tanggung itu menembus deras hujan.
“Apa saya tidak salah dengar ya Pak Ustadz, Tadi Teh Nata minta doanya Pak Ustadz? Untuk apa ya?” tanya Yuli, lonte yang usianya dua belas tahun lebih muda dari Ujang Lukman.
“Kalian tak ikut berangkat?” sedikit mengalihkan pembicaraan.
“Nunggu hujan reda saja, Pak Ustadz” jawabnya.
“Ya sudah, saya Isya dulu” Ujang Lukman meninggalkan daun pintu. Adzan mulai terdengar di masing-masing pengeras masjid. Sebagian sholat berjamaah. Sebagian masih pulas. Sementara hujan belum kunjung reda pula.
Sebagian orang dalam mushola berdoa untuk kesehatan dan kenyamanan hidupnya. Di serambi mushola, tiga lonte muda berharap hujan reda seketika. Dan segera datang langganan atau tamu baru yang menjemput mereka…
***
Siang. Sisa-sisa hujan semalaman, genangannya masih terlihat di sana-sini. Seperti biasa Kinyang dan suminya nyaci maki pemerintahnya sambil membersihkan kotoran-kotoran hujan yang numpuk dan melekat di rumahnya.
“Pemerintah sakit! Makhluk gebleg!  Saban hari saya harus nyapu bekas-bekas banjir” foto senyum tengil walikota terpilih itu masih setia nempel di badan Kinyang.
“Sudah tahu sakit. Gebleg. Masih saja kamu pilih Nyang” jawab suaminya sembari membetulkan celah-celah di genting “Sudah saya bilang, centang yang nomor tujuh, kamu tidak nurut. Mentang-mentang fotonya lagi  senyum, kamu centang begitu saja, ya beginilah hasilnya” pungkasnya.
Siang ini di Gg. H. Zarkasih tidak hanya Kinyang dan suaminya yang sibuk. Yang lain juga sibuk bukan main. Dari yang menjemur pakaian dan kursi yang basah, hingga umpatan-umpatan caci maki komplit sudah. Jika siang ini sodara datang kemari, saya jamin sodara takan betah. Percayalah!
Sontak saja hingar bingar caci maki dan kesibukan penghuni Gg. H. Zarkasih hilang geming tiba-tiba. Kedatangan Mis’ad seperti seorang buron dikejar anjing pelacak polisi. Di tepi jalan sampai ujung gang, Mis’ad teriak-teriak dan tergopoh lari. Dadanya megap-megap. berhamburanlah warga Gg. Zarkasih menghampirinya.
“Renata…Re..Renata…si Renata” Dada Mis’ad naik-turun. Keringat di dahi dan hidungnya menjadi-jadi.
“Dedeh!?” serentak warga Gg. H. Zarkasih penasaran.
“Iya Renata, si Dedeh itu..su..su..sudah mati!” ucap Mis’ad. Semua terperanjat. Seolah tak percaya apa yang dikabarkan Mis’ad. Masalahnya, malam tadi ia masih nampak segar berbincang-bincang di serambi mushola. Ujang Lukman, shoknya bukan kepalang. “Maut itu, nasib atau takdir?” Desahnya seolah tak percaya.
“Mayatnya ada di bantaran kali. Ada bekas cekikan di lehernya” tutur Mis’ad.  Tiga lonte muda, memeluk tubuh kawannya masing-masing. Berderai matanya.
“Kang Mis’ad, terus siapa yang ngurus Teh Dedeh di sana?”suaranya berat, lonte muda itu tak kuasa menahan sedih.
“Polisi. Sudah ada empat polisi. Yang lain seakan tak peduli. Melihat, kemudian lewat begitu saja. Mereka tahu yang mati itu..maaf..pelacur katanya” Jawab Mis’ad.
Beringsut Ujang Lukman lari. Yang lain mengikuti. Tiga lonte muda masih memeluk satu sama lain. “Biarkan, yang mati itu pelacur!” kalimat ini menampar batin mereka. Belakangan mereka lari mengikuti yang lain meski langkahnya agak takut dan miris.
Hening bergulung-gulung di Gg. H. Zarkasih. Segala caci maki yang biasa terjadi itu, hilang gemanya seketika. Kini hujan bukan turun lagi dari langit, tapi di batin orang-orang Zarkasih. Bukan genangan-genangan hujan yang jadi masalah, tapi genangan nasib buruk bagi tiga lonte muda itu.
Apa yang dikabarkan Mis’ad benar adanya. Tak ada satupun yang peduli. Hanya ada empat orang polisi yang olah TKP. Itu biasa karena sudah tugas mereka. Tubuhnya terbujur. Baju merah masih nempel di badan. Dan garis hitam bekas cekikan di leher  membuktikan bahwa almarhumah Renata Alias Dedeh benar-benar tewas dibunuh.
“Innalillahi…” ucap Ujang Lukman. Polisi sejurus menatapnya. Orang-orang Zarkasih yang lain, berdoa dalam hatinya masing-masing. Persis tak ada orang lain di bantaran ini. Selain mereka orang-orang Zarkasih itu.
Sejurus Ujang Lukman ingat pada seorang pemuda yang menjemputnya saat hujan deras, lalu ia berpikir mungkinkah bos kayu itu yang membunuh Dedeh. Secepat kilat suara ambulan membuyarkan ingatan itu. Diboponglah tubuh almarhumah Renata oleh orang-orang Zarkasih. “Bapak-bapak, kita harus menyiapkan segalanya untuk almarhumah” ucap Ujang Lukman…
***
Sebulan setelah meninggalnya Renata, kasusnya seperti sengaja dipetieskan. Dan  hukum seolah tidak berbicara untuk seorang pelacur yang mati dibunuh. Beda dengan anak tuan Jendral yang mati sebab duel di diskotek tempo lalu. Dua hari kemudian ditangkaplah seseorang yang dicap pembunuh anaknya. Padahal banyak saksi berkata, anak tuan Jendrallah yang onar awalnya.

“Pelacur memang beda dengan anak Jendral, Pak Ustadz. Yang sabar saja ya!” tutur tukang kios setelah menyelesaikan perbincangannya dengan Ujang Lukman.
***
Tasikmalaya,  November 2009

Bode Riswandi, lahir di Tasikmalaya 6 November 1983. Alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia (Unsil) bergiat di KOMUNITAS AZAN, Sanggar Sastra Tasik (SST), Teater 28. Menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Beberapa karyanya dimuat di Pikiran Rakyat,  Majalah Syir’ah, S.K. Priangan, Tabloid MQ, Puitika, Lampung Post, Koran Minggu, Majalah Sastra AKSARA, Jurnal Bogor, Tribun Pontianak. Juga terkumpul dalam antologi Biograpi Pengusung Waktu (RMP, 2001), POLIGAMI (SST, 2003), Kontemplasi Tiga Wajah (Pualam, 2003), Dian Sastro For President #2 ( Akademi Kebudayaan Yogyakarta 2003), JURNAL PUISI (Yayasan Puisi, Jakarta 2003), End of Triliogy (Insist Press, Yogyakarta 2005),Temu Penyair Jabar-Bali (2005), Lanskap Kota Tua (WIB, 2008), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh (Nuansa, 2008), RUMAH LEBAH Ruang Puisi (Yogyakarta, 2009). PEDAS LADA PASIR KUARSA antologi Temu Sastrawan Indonesia II (2009). MENDAKI KANTUNG MATAMU (Ultimus, 2010).
dan Antologi Pemenang Sayembara Cerpen Nasional “Sang Kecoak” (Insist Press, 2006).
Tahun 2005 mejadi Duta Kesenian dalam Misi Kebudayaan ke Malaysia .

alamat

JL. CILEMBANG No. 57 RT. 002/015
DESA/KEL. CILEMBANG KEC. CIHIDEUNG
KOTA TASIKMALAYA-JAWA BARAT
081 323 195 766

Lelaki Jelaga

Cerpen : D Kemalawati

“ Apa yang kau cari Dahaga,” ucapnya dalam lepuh duka lara.
“ Sesuatu yang tak mungkin kuceritakan padamu, Telaga.”
Tak ada tatapan mata yang bisa diterka. Gesekan sol sepatu tua dengan pasir bercampur kerikil menandakan tubuh lunglai itu sudah menjauh. Dahaga mengharungi padang riuh penuh badai. Memanggul bungkusan perih di pundaknya.
“ Beri kesempatan bagiku untuk mengetahuinya, setidaknya untuk kali ini saja.” Telaga memburu menanggalkan rona merah jambu di pipinya.
“ Sudah tak ada waktu, aku harus pergi. “ Dahaga kukuh. Tak menahan langkah apalagi berbalik arah.
“ Tapi Dahaga, sekian lama kau nyata dalam diriku, tenang dalam panjang waktu. Benar kau sering mengeluh tak berdaya, tapi bagiku dirimu perkasa .”
“Jangan halangi aku Telaga. Aku telah menjadi parasit dalam nafasmu. Lihat betapa pasi wajahmu, melebihi warna bulan menjelang pagi.”
“Aku tak perduli, selama hangat dadamu masih kurasa, kau tak perlu pergi, Dahaga.” Tak ada lagi jawaban. Suara gesekan daun bambu dihembus angin tak lagi menjadi simfoni indah bagi Telaga. Langkah berat menjauh semakin samar terdengar. Pada akhirnya Telaga hanya melihat kegelapan dan kegelapan. Dahaga hilang ditelan pekat malam.

Dahaga benar-benar pergi. Sehari, dua hari, seminggu, berminggu-minggu Telaga mengharap ketukan pintu dan ketika membukanya, dia telah siap merebahkan sintal tubuhnya dalam pelukan Dahaga. Hingga suatu ketika pintu rumah Telaga benar-benar diketuk dari luar. Mereka mencari Dahaga.
“ Tak ada Dahaga… tak ada dahaga… aku menunggunya sekian lama…Dahaga tak pernah kembali”
Telaga meraung, menjerit, melolong, histeris.
“ Yang kamu tunggu sekarang sudah datang, kami lebih dahaga darinya. Kau adalah Telaga yang indah… kami haus… ha ha ha… haus sekali…ha ha ha…”
“ Jangan, jangan mendekat… Dahagaku, tolong.. “
“ Berteriaklah Telaga… teriaaakkk…ayooo… tak ada yang akan menolongmu. Kenapa tak kau ingatkan Dahagamu untuk tak mengganggu kami, tak menyerang markas kami..” Bentak seseorang sambil mencengkram kuat lengannya. Dia mungkin ketua gerombolan. Entah, Telaga tak mau tahu siapa dia. Dengan memakai sebu, lelaki kasar itu sudah jelas tak ingin dikenali.
“Dahagaku tak mungkin memanggul senjata, apa lagi menyerang kalian.” Ketus Telaga. Tak ada ketakutan terpancar di wajahnya meski seluruh anggota gerombolan itu sudah mengelilinginya. Bersiap-siap menerkam tubuhnya. Seperti Mak, ia juga akan mempertahankan diri sampai tetes darah terakhir.
“ Tidak mungkin katamu? Dia panglima… panglima sagoe yang sangat berpengaruh di kawasan ini, apa kamu tak tahu apa yang dilakukan selama ini… “
Apa yang dilakukan Dahaga selama ini. Dahaga rela meninggalkan Telaga dan calon bayinya untuk melakukan penyerangan. Benarkah?
Tak ada yang lebih benar kecuali apa yang sedang dirasakan Telaga.
Ya, orang-orang sedang kehausan itu mereguk air telaga dengan rakus. Telaga kering sekering keringnya. Lalu orang-orang yang telah kekenyangan itu memuntahkan peluru ke tubuh Telaga.
Telaga berselimut merah darah seperti kapas melayang menuju rawa-rawa setelah di ayun-ayun dari reo yang meraung-raung dini hari. Di tengah rawa yang luas itu, Telaga tak sendiri. Dia dapat merasakan langkah-langkah mendekat. Tapi sesaat kemudian terdengar suara mendehem yang agak keras. Langkah yang telah mendekat seketika berhenti.
“ Jangan mendekat… aku kenal siapa dia. Ya, dia Telaga, masih sangat muda. Dan yang lebih penting adalah anak dalam kandungannya masih bernafas. Aku butuh anak itu.”
Telaga mendengar beberapa langkah kaki menjauh. Lalu seseorang bertubuh besar dan kekar dengan kulit seperti jelaga mendekatinya. Lelaki itu seperti memiliki taring tanpa wajah yang jelas. Dengan sekali sentak tubuh Telaga terjungkal. Tak ada rasa sakit yang dirasakan kecuali jeritan dalam rahimnya yang membuatnya tersadar. Ia akan jadi ibu.
Seperti apa yang dilakukan ibunya dahulu, Telaga juga ingin melindungi anaknya. Tapi dia sudah menjadi angin. Tak teraba.
“ Telaga, aku akan membantumu mengeluarkan bayi ini dari rahimmu. Aku bisa melakukannya.”
“Tapi siapa kamu, aku tak melihat kau seperti mantri apalagi dokter…”
“Memang aku bukan mantri apalagi dokter. Tapi untuk persoalan kecil yang kamu hadapi ini, Serahkan padaku saja, semuanya pasti beres”
Seperti ketika Dahaga pergi, tak ada pilihan lain bagi Telaga. Dia membiarkan lelaki jelaga menolongnya. Telaga memejamkan matanya dan seketika saja ia sudah memiliki sayap. Dengan ringan meninggalkan rawa-rawa itu, menerbangkan semua perih, dan seperti awan yang tak teraba ia sirna.
Sesaat ia sadarkan diri lelaki jelaga dan bayinya itu sudah tak ada.

*****

“ Aku mencarinya, mencari anakku yang dilarikan lelaki jelaga.”Telaga memulai lagi ceritanya. Ketika itu matahari terang benderang. Ia berbicara tanpa melihat Feby. Di ruang 5 yang lengang itu mereka hanya berdua. Melalui jendela kaca yang terbuka, angin kerontang mengelus-elus rambut Telaga. Seperti pertemuan sebelumnya, Telaga juga tak mengenakan kerudung. Dia biarkan rambut hitam panjangnya terurai leluasa.
“Lelaki Jelaga itu mulanya menghindar ketika kutanyakan tentang bayiku, berbagai alasan dia kemukakan sambil merayu diriku agar mau mengabdi padanya. Para penghuni tempat ini semua takut dan akibat ketakutannya pada lelaki jelaga itu mereka seakan patuh pada apa saja yang diperintahnya. Tidak hal nya denganku Feby, aku akan menceritakan semuanya padamu, kamu temanku, hanya kamu yang dapat merasakan kehadiranku, dan kamu juga yang dapat melihat wujudku.”
Feby, remaja kelas dua sekolah menengah yang baru menempati gedung sekolah baru itu memandang wajah teman barunya itu dengan perasaan haru. Dia senang bisa memberi perhatian pada Telaga. Mendengar semua ceritanya dan berusaha mengajak Telaga untuk menerima keperihan yang dialaminya dengan kepasrahan seorang mahluk ciptaanNya. Dan Feby sudah berikrar untuk selalu menemani Telaga, setiap hari bila dia sekolah, ketika teman-temannya sedang ke musalla sekolah menunaikan shalat zuhur.
Tapi tak tahu kenapa, tiba-tiba Feby merasakan mereka tak hanya berdua di ruang lengang itu. Ada suara langkah berat dan kasar mendekat. Sesosok tubuh besar berwarna jelaga sudah berdiri di hadapannya. Telaga bergegas bergerak, berdiri di antara Feby dan lelaki Jelaga itu.
“ Jangan ganggu temanku.” Suara Telaga terdengar gusar.
“Tidak hanya temanmu ini, semua teman perempuannya akan aku pengaruhi bila kamu masih tetap berteman dan menceritakan semua keadaan kita disini padanya. Aku tak mau pindah dari sini. Dengar perempuan bodoh… bangunan sekolah
ini memang telah mengganggu kehidupan kita dan selama ini aku diam. Tapi sekarang setelah kau mulai berani menampakkan diri pada sahabat tololmu ini, maka aku akan bertindak.”
Feby melihat kegusaran lelaki jelaga dan kepanikan Telaga. Rasa sayangnya pada Telaga membuat dia lemah. Dari ujung kakinya menyusup mahluk halus menggelitik jiwanya mengajaknya menangis. Tangan dan kakinya terasa kaku dan dia tak bisa menahan semua gerak tubuhnya yang meronta-ronta. Feby marah melihat lelaki jelaga menjambak Telaga. Dia merangkul Telaga dengan sekuat tenaga dan mencoba menendang-nendang lelaki jelaga.
Penghuni rawa yang melihat bagaimana Feby menantang lelaki jelaga mulai bergerak. Satu persatu teman Feby di datanginya. Dan sekejap saja seluruh bangunan gedung megah itu terdengar suara riuh rendah, jeritan histeris dari gadis-gadis berseragam abu-abu putih terdengar dimana-mana.
Jangan coba-caba dengan kami penghuni rawa ini, seringai lelaki Jelaga di singgasananya.

Banda Aceh, 6 Maret 2010

Dimuat di Harian Aceh tgl 7 Maret 2010

D Kemalawati
Lahir di pantai Barat Meulaboh, 2 April 1965. Menulis puisi, esei, opini, cerpen dan novel. Memenangi beberapa lomba baca puisi ketika masih di bangku sekolah di Meulaboh, maupun ketika menjadi mahasiswa di FKIP Unsyiah Banda Aceh. Sering diundang membaca puisi baik di dalam dan di luar negeri. Di Dewan Kesenian Banda Aceh dipercayakan mengurusi bidang sastra.
Salah seorang pendiri Lapena, sebuah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan dan masyarakat. Menyunting beberapa buku seperti Ziarah Ombak, Lapena 2005, Selayang Pandang Sastrawan Aceh, Lapena 2006, Wanita dan Islam, Lapena 2006, Buku puisinya terbit dalam dua bahasa Indonesia-Inggris berjudul Surat Dari Negeri Tak Bertuan diterbitkan Lapena 2006. April 2007 lalu, Kemalawati kembali meluncurkan novel perdananya berjudul Seulusoh. Sarjana pendidikan Matematika ini memilih profesi guru di sekolah kejuruan, di Banda Aceh sebagai pengabdiannya. Menjelang peringatan HUT RI 2007 memperoleh Anugerah Sastra dan Satya Lencana dari PEMDA NAD. Kumpulan opini pendidikan yang telah di publikasi di Harian Serambi Indonesia sudah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Pembelaan Seorang Guru,(Lapena 2007).