Menangisi Anjing

Cerpen : Bode Riswandi

alamak, maut yang baik tidak melihat kemewahan.
tapi mereka juga anjing yang baik
yang mewariskan kemewahan***

Di kota, rumah yang tak ada anjingnya, barang tentu itu rumah milik seseorang yang kere. Siapa yang anjingnya lebih besar, gengsinya paling tinggi. Maka di kota orang-orang sibuk berlomba mencari anjing yang gede-gede.
Ada yang pulang balik tanah air membawa anjing-anjing impor. Ada pula yang mengawinkanya, antara anjing lokal dengan yang impor. Yang jelas anjing dengan postur  gede dan tinggi yang mereka cari. Jinak atau galak bukan lagi ukuran.
Bilamana malam tiba, kota pecah dengan gonggongan. Suara ini jadi lebih akrab ketimbang klakson dan generator pabrik. Anjing yang gonggongannya paling lama, dialah tipe anjing dengan kualitas paling super. Orang-orang kota berebut mencari anjing super. Saling sikut nyari obat yang membuat napas  anjing jadi panjang.
Seperti biasa, mereka pulang balik tanah air demi mendapatkan obat itu. Konon katanya, hanya di Amerika obat paling bagus itu dipasarkan. Pernah satu ketika satu pesawat penuh oleh penumpang yang hanya akan membeli obat itu. Betul, hanya karena  prestise  dan gengsi, mereka mau melakukan semuanya.
Kini di kota harga diri diukur dengan anjing yang posturnya paling tinggi dan gede, serta gongongannya yang panjang. Yang tak punya anjing berarti keluarga kere. Keluarga yang bernasib malang. Kalau dalam bahasa budayanya, keluarga yang demikian  harus tahu diri segera memiliki anjing, atau menyingkir dari peradaban anjing.
Dan memang kota akan semakin terasa kejam bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu mengimbangi trend. Terutama trend tetangga….
***
“Anjing bedebah! Tiap pagi dasiku hilang satu. Belum kapok rupanya dia kutimpuk sepatu. Lain kali pasti akan aku cingcang. Sampai piek.” amuk Tuan Baron dalam kamarnya.

“Aku kan  sudah bilang Pah, anjing itu memang tukang bikin masalah di rumah ini. Mana hidungnya rubak. Si buntut pendek itu harus secepatnya kita buang, atau pateni sekalian. Kali ini pasti dasi yang dari Inggris kan? Setelah kemarin yang dari Argentina robek pula digigitnya. Oh…Tuhan bencana apa lagi rupanya?” keluh Nyonya Baron dengan raut kesal.
“Ya…tapi tidak segampang itu. Mamih tau sendiri kalau si buntut pendek itu sangat sensitif”
“Apa uang kita tidak cukup untuk menyewa tukang? Atau beli senapan biar kita  tembak dia dari jauh?”
“Tentu papa pikirkan itu”
Anjing tetangga makin hari bertambah keras lengkingannya. Waktu kantor jadi habis di rumah. Mereka akan sangat puas mendengar anjingnya menyalak. Lalu keraslah mereka terbahak dengan dipaksakan, agar tetangga mereka dengar. Masing-masing tak mau kalah. Tertawa mereka semakin serupa saja dengan anjing-anjingnya.
“Anjing yang sumbang!” teriak salah seorang di atas loteng.
“Tidak, anjingmu yang busung” balas seseorang yang entah dari rumah yang mana. Terus saja, berulang-ulang makian semacam ini. Di kota ini
Tambah mengerikan saja. Halaman hijau rumah mereka kini ludes. Buat apalagi kalau bukan untuk rumah anjing. Jika seseorang membangun rumah bagi anjingnya mewah, yang lain akan lebih mewah. Juga Tuan Baron, meski ia sering dipusingkan dengan anjing yang sering menggigit dasi impor, tetap gengsi nomor wahid baginya.
Dibangunlah rumah buat anjingnya yang nakal itu lebih mewah dari yang lain. Jika tetangga membangun lebih tinggi, yang lain, apalagi Tuan Baron terus membangunnya lebih tinggi dari pada yang lain.
Alamak, bertahun-tahun sudah saling pamer kekuatan berlangsung. Yang tidak punya anjing, atau “orang kere” masyarakat kota itu bilang, entah jadi apa mereka.
“Pap lihat, rumah anjing itu jadi lebih mewah dari rumah kita” agak kesal Nyoya  Baron rupanya.

“Tetapi tetangga kita juga demikian, Mam. Lubis yang pengacara, atau Simudjoyo yang profesor itu, tak boleh lebih baik dari Papa” ungkapnya “Pokoknya demi harga diri kita, anjing mereka tidak boleh lebih kaya dari anjing kita” lanjut Tuan Baron sambil menatap rumah-rumah tetangga di balik jendela loteng. Bangunan-bangunan makin tinggi saja. Ia akan serupa gedung pencakar langit. Padahal anjing. Hanya seekor anjing.
Orang yang kebetulan melintas dengan mobilnya ke kota itu, jelas akan membaca sebuah papan jalan dari plat kaleng warna hijau dengan nama Jalan Pahlawan. Namun kini mereka sudah paham benar, bahwa nama jalan pahlawan itu sudah kalah pamor dengan anjing.
Setiap mereka lewat, kapanpun waktunya, selalu saja salak anjing yang panjang menyambut mereka. “Ini Jalan Anjing sepertinya, bukan lagi Jalan Pahlawan yang kita kenal itu,  sayang!” cakap pasangan muda di mobil sedan merah tua sambil dibalas senyum pasangannya yang memiliki tahi lalat tepat di bawah matanya.
“Tapi apakah kerja mereka hanya memanjakan anjingnya? Lihatlah, rumah-rumah anjing itu, dari rumah anjing Baron, rumah anjing Simudjoyo, rumah anjing Lubis, dan rumah anjing lainnya, sudah seperti hotel yang sering kita kunjungi saja. Mewah. Kerlap-kerlip setiap sisinya?”
“Namanya juga hobi, manisku. Apa pun pasti dilakoni. Hotel bintang lima itu juga kan, bagian dari hobi kita?”  sedikit memancing.
“Nakal!” sambil nyubit paha kanan lelakinya. Sekonyong gas keinjak. Dan hilang di balik temaram perempatan pertama.
Tak pernah sepi. Bising melulu. Tak ada yang marah dengan kebisingan ini. Sebab mereka akhir-akhir ini memang maniak kebisingan. Jika tidak bising, sengaja anjing mereka pukul dengan apa saja. Pecut. Kayu. Martil boleh jadi. Yang penting menggonggong sekeras mungkin. Bila perlu, moncong senapan mereka perlihatkan kepada anjing-anjingnya. Bukan manusia saja, anjing pun tahu, di lobang itu maut dengan cepat menyergap. “Jadi menggonggong saja sebanyak mungkin” begitu dari lubuk sanubari paling dalam, si anjing berbicara.
***
Orang-orang mewah itu genting sekarang. Terlebih Tuan Baron. Satu persatu anjing tetangga mati tak beralasan. Ada yang berbusa mulutnya. Kejang-kejang. Mata biru. Juga yang biru-biru sekujur tubuhnya, luka karena gebukan. Persis nasibnya seperti TKI yang malang di negeri sebrang.  Padahal rumah anjing sudah sangat mirip hotel bintang lima. Fentilasi sesuai standar kesehatan dunia. Juru-juru lengkap dengan perlengkapan detektor. Apa lagi yang kurang coba? Maut rupanya tak mengenal kemewahan itu.
Orang-orang mewah itu paniknya bukan main. Tak kentara. Mereka takut anjingnya senasib dengan anjing tetangga itu. Benar saja, maut tak menyisakan satu anjing pun yang masih menyalak di sepanjang Jalan anjing ini (maaf! Jalan Pahlawan maksud saya). Tuan Baron juga yang lain stres tak tertolong. Orang-orang mewah itu menangisi anjingya. Bukan masalah lolongan saja mereka bersaing. Rasa sedih pun jadi komoditi. Padahal sebelumnya, gengsi mereka melakukan ini. Tapi ini anjing. Perihal anjing kebanggaannya. Jadi wajib bersaing. Termasuk urusan cengeng satu ini.
Tangis mereka saling bersaing lebih keras dengan tetangga yang sama-sama dirundung duka, seperti riwayat anjingnya sewaktu hidup. Tangisan paling nyaring dan lama dialah sebetulnya yang sudah mendarah daging dengan harga diri dan kemewahan yang dibangunnya. Bagian daripada anjingismehollic katanya.
Sulit rasanya untuk berbahasa manusia, bagi Tuan Baron dan para tetangganya itu.  Apa lacur, kini istri Tuan baron tak lagi mengeluhkan tentang dasi amerika atau argentina yang robek itu. selain mengonggong. Begitu juga sang suami. Mereka saling menggonggong. Tetangga menggonggong.
Dengan gaya bicara yang baru, orang-orang mewah itu saling tidak paham apa yang diinginkan pasangannya itu. mereka bekerja sendiri-sendiri.
Arwah-arwah anjing yang meninggal dunia sepekan lalu, mewarisi rumah megahnya kepada mereka. Rumah mirip hotel bintang lima. Cukup sadar mereka menghuninya. Bertahan kerasan pula. Namun bahasa manusia tidak kerasan dalam diri mereka. Bagi mereka sekarang, bahasa manusia itu lir ibarat bahasa yang berkembang di zaman batu.

Mungkin. Ini masih kemungkinan lho! prediksi saya sebagai orang kere yang tak sempat punya anjing, jika saya kembali menempati rumah di jalan pahlawan itu sekarang,  dalam situasi yang aneh ini, saya masih tak akan memiliki jatah untuk hidup di sana. Sebab keluarga-keluarga yang tidak mampu mengimbangi trend,  terutama trend tetangga seperti Tuan Baron, Lubis, Simudjoyo yang menemukan cara komunikasi yang baru, aduh jangan harap bisa diterima deh. Ya, terpaksa aku meski rela tetap menjadi orang kere di musim ini.
Jalan mendadak sepi. Hanya mobil sedan merah tua yang melaju santai melewati rumah-rumah anjing itu “Sayang, kita kembali ke hotel. Aku sudah sampai di Jalan Anjing. Kamu ndak boleh lama-lama, ya!” ucap lelaki dalam telepon di mobil itu, sebelum akhirnya menghilang di balik temaram di perempatan pertama.

Tasikmalaya, 22 Juli 2009

Bode Riswandi, lahir di Tasikmalaya 6 November 1983. Alumnus FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia (Unsil) bergiat di KOMUNITAS AZAN, Sanggar Sastra Tasik (SST), Teater 28. Menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Beberapa karyanya dimuat di Pikiran Rakyat,  Majalah Syir’ah, S.K. Priangan, Tabloid MQ, Puitika, Lampung Post, Koran Minggu, Majalah Sastra AKSARA, Jurnal Bogor, Tribun Pontianak. Juga terkumpul dalam antologi Biograpi Pengusung Waktu (RMP, 2001), POLIGAMI (SST, 2003), Kontemplasi Tiga Wajah (Pualam, 2003), Dian Sastro For President #2 ( Akademi Kebudayaan Yogyakarta 2003), JURNAL PUISI (Yayasan Puisi, Jakarta 2003), End of Triliogy (Insist Press, Yogyakarta 2005),Temu Penyair Jabar-Bali (2005), Lanskap Kota Tua (WIB, 2008), Tsunami, Bumi Nangroe Aceh (Nuansa, 2008), RUMAH LEBAH Ruang Puisi (Yogyakarta, 2009). PEDAS LADA PASIR KUARSA antologi Temu Sastrawan Indonesia II (2009). MENDAKI KANTUNG MATAMU (Ultimus, 2010).
dan Antologi Pemenang Sayembara Cerpen Nasional “Sang Kecoak” (Insist Press, 2006).
Tahun 2005 mejadi Duta Kesenian dalam Misi Kebudayaan ke Malaysia .

alamat
JL. CILEMBANG No. 57 RT. 002/015
DESA/KEL. CILEMBANG KEC. CIHIDEUNG
KOTA TASIKMALAYA-JAWA BARAT
081 323 195 766

Puisi Bernard Batubara

Memo: Pertanyaan dari Selembar yang Tertahan di Pohon Ketapang kepada Selembar Lain yang Telah Jatuh dan Tersapu Orang

sempatkah aku menjadi kering
dan jatuh di halaman itu

sebelum kau terbakar api
dan tumbuh kembali

sebagai daun
di tangkai yang lain?

Sebuah Band dan Sejumlah Personil yang Tidak Tepat

1. Penjaga Kasir

aku melihat angka-angka, tapi hanya ada dua macam angka
angka berwarna putih dan angka berwarna hitam di antaranya

mana yang harus kutekan untuk menjumlahkan harga
sebotol nyawa, dua butir obat tidur, dan sebungkus roti

belanjaan milik Tuan Pencabut Nyawa ini?

tapi angka berwarna putih ini jumlahnya banyak sekali
begitu pula dengan angka berwarna hitam, bisakah

aku menekannya bersamaan saja, sebab tiba-tiba
mesin kasir ini mengeluarkan suara yang begitu merdu

di telinga, dan tiba-tiba Tuan Pencabut Nyawa itu
mengembalikan semua belanjaannya dan pergi

berlalu, sambil menggumam
seperti menyanyikan sebuah lagu

2. Penenun Kain

sepertinya aku tak bisa membuat kain dari benang-benang
keras dan kasar seperti ini, lagipula kalaupun aku bisa

siapa yang mau dan mampu menjahitnya menjadi baju?
siapa pula yang mau membeli dan mengenakannya?

ah, aku hanya penenun, tak perlu memusingkan hal itu

baiknya kujalin saja enam helai benang
yang suka berbunyi sendiri ini

siapa tahu ada peri baik hati yang datang
dan sudi mengenakannya dengan senang hati

3. Pemecah Batu

aku perlu palu, bukan tongkat bertubuh pendek seperti kurcaci
bagaimana aku bisa bekerja, kalau alat pemukulku tak ada

dan kenapa pula batu-batu ini bersuara
kenapa mereka seolah marah kepadaku

aku hanya memisahkan mereka dari ibu dan bapaknya
agar mereka hidup sendiri dan sanggup hidup mandiri

aku hanya membuat keluarga mereka jadi lebih ramai
agar aku tak lagi merasa sepi dan menangis seorang diri

4. Pembaca Berita

mana teks berjalan itu, mana suara
yang biasa membisik di telingaku

aku tak hapal dengan kalimat yang harus kuucapkan
aku tak bisa membuat kabar kematian jadi terdengar

tak begitu menyedihkan

aku tak mengerti irama suara yang tepat
untuk menyampaikan kata-kata ini

aku tak tahu bagaimana cara bersuara
di depan Penonton Yang Maha Esa itu!
Memo: Sepasang Daun Ketapang
kelak kita akan menguning dan tak lagi
mampu bertahan di ranting yang kian
renta ini

tapi percayalah saat jatuh dan tersapu
nanti akan ada yang menyatukan kita
kembali

dalam rimbun rumah api.

Bernard Batubara    08 Maret jam 15:13
Bernard Batubara lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 9 Juli 1989. Kuliah di Universitas Islam Indonesia. Sajak-sajaknya pernah dimuat di majalah GONG, harian Kompas, Batam Pos, Koran Tempo, Jurnal Nasional, dan Suara Merdeka. Juga termaktub dalam buku antologi puisi bersama, Pedas Lada Pasir Kuarsa (Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia II, Bangka Belitung, 2009), dan Retorika Bangsaku (LPM PROFESI, 2010). Buku kumpulan puisinya yang terbaru, “Angsa-angsa Ketapang” (Greentea, 2010). Menyimpan tulisannya di blog pribadi http://bisikanbusuk.blogspot.com

Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional

Dalam rangka memperingati 53 tahun ADIA-IAIN-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengadakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional  untuk Mahasiswa S-1 Perguruan Tinggi Agama Islam

Tema :

–          Islam dan Pendidikan

–          Islam dan Hukum

–          Islam dan Da’wah

–          Islam dan Politik

–          Islam dan Psikologi

–          Islam dan Kedokteran

–          Islam dan Teknologi

–          Islam dan Ekonomi

–          Islam dan Kebudayaan

–          Islam dan Isu-isu Kontemporer

(gender, imigran, global warming, lingkungan, hutan, dsb)

Ketentuan:

  1. Tulisan merupakan naskah asli yang belum dipublikasikan di media massa/elektronik/internet dan belum diterbitkan dalam bentuk buku.
  2. Standar pengetikan (computer): 15-20 halaman; A4 (margin: top 3, down 3, left 3right 33); spasi 1,5 font Times New Roman; Size 12
  3. Mencerminkan tulisan ilmiah; (a) Bahasa Indonesia yang baik dan benar, (b) Menggunakan referensi 9bahan bacaan) (c) Menggunakan kutipan baik dengan footnote atau endnote (d) Dilengkapi analisis yang obyektif dan kritis.
  4. Karya tulis dikirm dalam bentuk CD dan print out naskah asli, atau via email, paling lambat : Jum’at, 16 April 2010 (stempel pos)
  5. Pengiriman disertai identitas penulis (nama, Nomor induk mahasiswa, semester, jurusan, fakultas, alamat, email, telepon/hp0
  6. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya tulis ilmiah
  7. Naskah dan file yang dikirim menjadi milik panitia dan berhak membukukan/mempublikasikannya
  8. Keputusan juri bersifat mutlak.

HADIAH:

Peserta Terbaik I              Rp. 5.000.000,-

Peserta Terbaik II             Rp. 4.000.000,-

Peserta Terbaik III           Rp. 3.000.000,-

7 peserta lainnya (masing-masing) mendapat  Rp. 1.500.000,-

Sekretariat :

Lembaga Penelitian UIN Jakarta, Gd. Rektorat Lt. III Jl. Ir.H. Juanda No. 95 Ciputat Jakarta 15419 Telp. 021-7426828 Email: panlkti_lemlit@yahoo.com, lemlit_uinjkt@yahoo.co.id

Prof. Yunita; Profesor Pertama Bidang Sosial Humaniora di Indonesia

Prof. Yunita menyampaikan pidatonya

Pidato Ilmiah berjudul “Climate and Culture: Changes, Lessons and Chalenges”  dari Prof. Dra. M.A Yunita Triwardani Winarto, M.S., M.Sc., P.hD  membahana dihadapan civitas akademika UI dan beberapa undangan lainnya di gedung Balai Sidang UI Depok. Pada hari Kamis (04/03) itu,  berlangsung acara Award Ceremony and Scientific Paper Presentation yang merupakan penghargaan terhadap Yunita Winarto sebagai The First Academy Professor in Social Sciences and Humanities di Indonesia.

Selain Rektor UI, Prof. Dr der Soz Gumilar R. Soemantri, tampak hadir pula Presiden Akademi Pengetahuan Indonesia, Prof. Sangkot Marzuki, M.D., P.hD., D.Sc., dan Direktur Royal Netherlands Institutue of Southeast Asian and Caribean Studies, KITLV-Jakarta, Dr. Roger Tol.

Rektor UI mengaku bangga dengan Yunita Winarto atas keaktifannya dalam meneliti dan mengajar di berbagai universitas.”Berbagai macam aktifitas serta kemampuannya bekerja dan bicara pada institusi yang berbeda dengan tujuan mempromosikan kegiatan yang bersifat keilmiahan dengan sangat baik. Tidak jauh berbeda dengan Rektor UI, Sangkot Marzuki dan Roger Tol yakin Yunita Winarto mampu melakukan tugasnya sebagai profesor dengan baik serta mengembangkan ilmu pengetahuan yang lintas disiplin. Roger Tol pun memberikan Kappa yakni semacam penghargaan kepada profesor yang banyak memberikan kontribusi atas pengembangan ilmu pengetahuan.

Yunita sadar akan tugas mulia yang diembannya sebagai seorang profesor pertama di Indonesia dalam bidang Sosial Humaniora yang mendapatkan penghargaan Kappa tidaklah mudah. Sebab harus bisa menerjemahkan visi dan misi program untuk memperkuat bidang akademis dan pengembangan ilmu pengetahuan sosial humaniora lintas disiplin dengan bidang ilmu lain yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Penelitian lintas disiplin ini untuk masa yang akan datang sangat diperlukan bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang semakin kompleks.

Mengenai cara pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin, Yunita menyarankan perlunya perubahan paradigma dan kebijakan serta perlunya mengatasi keterbatasan pengetahuan dan kemampuan manusia untuk memahami berbagai konsekuensi dari tindakannya pada diri sendiri dan orang lain. “Kita perlu meretas batas disiplin ilmu dan bidang kajian, merentang jejaring kerja sama dengan disipin ilmu lain dalam suatu kajian lintas disiplin bukan multidisplin”, jelasnya. Yunita yang aktif meneliti perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap masyarakat petani di Wareng wilayah Jogya dan Indramayu Jawa Barat ini berupaya mengajak para ilmuwan sosial untuk bersama-sama menyelesaikan masalah perubahan iklim yang terjadi dewasa ini serta mencoba mengembangkan kajian lintas disiplin ilmu.

Ilmu sosial dan humaniora memiliki peranan yang signifikan dalam mengubah paradigma pengelolaan sumber daya alam dari eksploitasi yang berlebihan menjadi kesadaran etis, menciptakan sumber daya alam yang berkelanjutan serta mengurangi orang akan kerentanan. Kajian sosial humaniora bukan pelengkap dari ilmu alam melainkan merupakan inti dan bagian yang menyatu dari disiplin ilmu lainnya atas perubahan iklim. (Rif/Din)

Saling Serang HMI Vs Polisi

vivanews.com

Siang ini (04/02), Mahasiswa memblokir seluruh jalur jalan di depan kampus Universitas Islam Negeri Alauddin di Jalan Sultan Alauddin Makassar. Mereka memalang jalan menggunakan mobil pengangkut sepeda motor. Jumlah mahasiswa diperkirakan mencapai 300 orang.

Sebelumnya, pagi tadi mahasiwa merusak pos polisi di pertigaan Jalan A.P. Pettarani dan Sultan Alauddin.  Kaca-kaca jendela pos polisi tersebut dipecahkan, kursi dan meja diobrak-abrik, papan petunjuk lalu-lintas dan plang  nama pos polisi hancur.  Bahkan lampu jalan dan lampu lalu-lintas juga dibuat berantakan .

Para mahasiwa berbendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Makassar itu bersiap siaga karena ada informasi polisi akan membubarkan mereka secara paksa. Mereka tampak sudah siap dengan berbagai “peralatan tempur” seperti batu, balok kayu, bambu, dan bom molotov.

Kekacauan siang ini bermula dari imbas kejadian malam sebelumnya. Dikabarkan ada pembubaran paksa aktivis HMI di sekretariat mereka di Jalan Bontolempangan. Beberapa orang pria yang diduga polisi masuk ke sekretariat  dan memukuli aktifis HMI.

Pelaku penyerangan sekretariat HMI Makassar pukul 20.00 Wita (03/02), diduga kuat anggota Densus 88 anti teror. Indikasi itu diperkuat setelah pengurus HMI mengenali salah satu pelaku bernama Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu) Sutriman, yang diketahui anggota Densus 88. Indikasi lainnya, para pelaku sempat mengeluarkan pistol revolver dan mengarahkan ke mahasiswa.

Akibat penyerangan ini, lima pengurus HMI terluka di bagian tangan. Kelima pengurus HMI Cabang Makassar yang terluka adalah Amal Sakti, 25, Azhary Setiawan, 35, Kadin Balido, 30, Edi Sofyan, 24, dan Syahrul, 23. Luka terparah dialami Azhary Setiawan pada bagian tangan sebelah kanan. Mahasiswa Universitas 45 ini terluka setelah dihantam besi oleh pelaku penyerangan.

Selain melukai mahasiswa, para pelaku penyerangan yang menggunakan 10 unit motor saat mendatangi sekretariat HMI, juga merusak pintu kaca, inventaris sekretariat HMI, dan mengobrak-abrik ruangan tengah dan perpustakaan. Pelaku juga berupaya merampas bendera merah putih dari tangan pengurus HMI, sehingga sobek.

Menurut penuturan pengurus HMI Cabang Makassar, Azhary Setiawan, pelaku sudah mulai membuntuti mereka ketika sedang melakukan aksi demonstrasi di depan kampus Universitas 45 Jalan Urip Sumoharjo, sekira pukul 19.30 Wita. Ketika akan menggelar aksi lanjutan, para pelaku langsung berupaya membubarkan dan mengejar mahasiswa yang menggunakan mobil dikemudikan Azhary.

Ketika melintas di Jalan Gunung Bawakaraeng, para pelaku sempat memukuli beberapa mahasiswa. Setelah itu, mahasiswa memutuskan kembali ke sekretariatnya di Jalan Botolempangan dan bersiap melakukan aksi demonstrasi di depan sekretariatnya dengan memasang palang kayu dan batu.

Namun, belum sempat melakukan orasi, tiba-tiba sekretariat HMI diserang. “Mereka mengejar kami hingga ke dalam sekretariat dan memukuli beberapa mahasiswa. Ada lima yang terluka,” ujar Ketua Umum HMI Cabang Makassar, Amal Sakti.

Atas penyerangan itu, Amal Sakti meminta Kapolda Sulselbar, Inspektur Jenderal Polisi Adang Rochjana, dan Kapolwiltabes Makassar, Komisaris Besar Gatta Chaeruddin bertanggung jawab. Amal juga mendesak kapolda segera menangkap dan memecat para pelaku penyerangan itu.

“Kami memberi dead line 1 x 24 jam. Kapolda harus menindak anggotanya dan memberi sanksi pemecatan. Kalau tidak, kami akan melakukan penutupan Jalan Botolempangan dan berkoordinasi dengan teman-teman mahasiswa dari semua perguruan tinggi di kota ini untuk melakukan aksi demonstrasi,” ancam Amal.

Setelah mendapat kabar penyerangan sekretariat HMI Cabang Makassar oleh oknum polisi, Kapolda Adang Rochjana langsung mendatangi sekretariat HMI sekira pukul 21.30 Wita. Kapolda sempat berbincang dengan para pengurus HMI di ruang tengah. Hanya saja, kehadiran Kapolda tidak diterima baik para pengurus dan anggota HMI.

Mereka terus meneriaki Kapolda agar meninggalkan HMI dan menindak tegas para anggotanya. Mahasiswa yang terluka juga langsung visum di RS Bhayangkara, dan bertemu kembali dengan Kapolda dan Kapolwiltabes di ruangan kerja Kapolwiltabes, malam tadi.

Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Adang Rochjana, berjanji mengusut tuntas kasus penyerangan yang diduga polisi. Jika terbukti anggota Densus 88, Adang berjanji akan terus memproses kasusnya dan memberi sanksi pemecatan.

“Kalau terbukti anggota yang melakukan, langsung kami tangkap dan proses lebih lanjut. Tentu saja sanksi tegas berupa pemecatan kami tempuh,” janjinya. (Rif/dari berbagai sumber)

Dicari Pemimpin yang Transformatif

artesiana.wordpress.com

John Gregorius Burns pada tahun 1978 pernah menggulirkan gagasan tentang kepemimpinan yang transformatif. Kepemimpinan yang transformatif menurut Burns adalah sebuah proses dimana para pemimpin dan para pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Kesadaran para pengikut dibangkitkan dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan pada emosi seperti kecemburuan, keserakahan dan kebencian (lihat Achmad M Masykur, 2009 ).

Dari definisi tentang kepemimpinan transformatif yang coba dibangun oleh Burns kita bisa melihat bahwa ada prasyarat yang sangat mendasar sebelum pemimpin yang transformatif itu lahir, yaitu tidak berdasarkan pada kecemburuan, keserakahan dan kebencian. Akan tetapi menurut penulis, masih ada yang kurang dari prasyarat yang diberikan oleh Burns, yaitu kejujuran. Karena menurut hemat penulis, kejujuran-lah yang akan mengantarkan seorang manusia menjadi seorang pemimpin yang transformatif. Karena akan sangat sulit orang yang tidak jujur kemudian diberi amanah untuk menjadi pemimpin, kecuali, orang tersebut berpura-pura menjadi orang yang jujur.

Terkait dengan kepemimpinan transformatif, Achmad M Masykur pernah melakukan penelitian dengan objek penelitiannya adalah Khalifah Umar ibn Al Khatab. Alasan memilih Umar ibn Al Khatab sebagai objek penelitian adalah karena keberhasilan Umar dalam mengembangkan daerah kekuasaan umat islam. Washington Irving mengatakan bahwa keseluruhan sejarah Umar menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang memiliki tenaga dan pikiran besar, integritas yang tidak dapat dibengkokkan dan keadilan yang teguh ( lihat Achmad M Masykur, 2009 ). Selain dari yang penulis tulis di atas, kita juga perlu melihat sosok Umar ibn Al Khatab sebagai seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga dikenal sebagai sahabat yang sangat jujur.

Islam sendiri memprasyaratkan seorang pemimpin dengan empat sifat yang harus dimiliki, yaitu : sidiq ( jujur ), tabligh ( penyampai ), amanah ( bertanggung jawab ) dan fathonah ( cerdas) ( lihat Tekad Wahyono, 2009 ). Dari sini kita bisa melihat bahwa islam pun menjadikan kejujuran sebagai sifat yang pertama kali harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Sehingga ketika syarat yang pertama (sidiq atau jujur) tidak terpenuhi, maka apa yang disampaikan oleh seorang pemimpin tersebut patut dipertanyakan, karena pemimpin tersebut berpotensi menjadi pemimpin yang tidak amanah, meskipun pemimpin tersebut adalah seorang yang cerdas, lulusan universitas terkemuka di luar negeri misalnya.

Prof.Dr. Yunahar Ilyas pernah mengatakan lebih baik seorang calon pemimpin itu bodoh, tapi dia jujur dan amanah, daripada dia pintar tapi tidak jujur dan tidak amanah. Hal ini dikarenakan jujur dan amanah adalah sifat yang terkait dengan akhlak seorang manusia, dan tidak mudah mencari orang yang jujur dan amanah, apalagi mendidik menjadi orang yang jujur dan amanah. Berbeda dengan mencari atau mendidik seseorang agar menjadi pintar atau cerdas, menurut beliau hal itu tidak terlalu sulit. Menurut penulis tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengumpulkan 10 orang ahli ekonomi yang lulusan Harvard University, tapi ada kemungkinan kita akan sulit mencari 10 orang yang jujur dan amanah yang juga lulusan Harvard University.

HMI dan Wacana Kepemimpinan Transformatif

Menarik membaca tulisan Ketua Umum PB HMI tentang kepemimpinan transformatif HMI yang dipublikasikan di pbhmi.net. Dalam tulisan tersebut, Ketua Umum PB HMI menganalogikan HMI sebagai suatu masyarakat, kemudian beliau coba membagi HMI kedalam dua bagian, yaitu : masyarakat HMI dan pemimpin HMI. Masyarakat sipil” HMI adalah entitas yang terdiri dari para anggota HMI, pegiat media di HMI, dan dalam beberapa hal juga pengurus HMI ditingkat cabang dan komisariat (mengingat dalam tradisi HMI, justru pengurus cabang dan komisariatlah yang terkena kebijakan PB HMI. Sementara itu, elemen kedua dalam masyarakat HMI adalah pengurus HMI, dalam konteks ini saya fokuskan pada pengurus PB HMI, yang dalam analogi Gramscian mewakili “state”-nya HMI ( Chozin Amrullah, 2010).

Dalam paragraph yang berbeda, Ketua Umum PB HMI juga menuliskan tentang HMI sebagai miniature dari Civil Society. Dalam tulisan tersebut dikatakan “Dalam asumsi saya, berhubung semua anggota HMI adalah manusia terdidik (baca: mahasiswa) maka “civil society” HMI sebenarnya sudah sangat berdaya. Cuma persoalannya adalah sebagian besar masyarakat HMI masih apatis dengan PB HMI. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa elemen masyarakat sipil HMI lainnya untuk selalu aktif menggelitiki para anggota HMI untuk selalu peduli pada HMI. Dalam hal ini, barangkali hminews adalah contoh institusi internal HMI yang selalu aktif memberikan ‘gelitikannya’ pada anggota HMI agar selalu peduli pada HMI. Kepedulian ini penting bagi HMI untuk menjaga dinamika HMI dan juga menstimulasi pengurus HMI agar tetap aktif dan kreatif baik dalam kegiatan maupun wacana” (Chozin Amrullah, 2010 ).

Dari sini penulis coba melakukan interpretasi terhadap tulisan beliau, tentu dengan segala keterbatasan penulis dalam memahami tulisan tersebut. Damal tulisan ini penulis mencoba mengambil dua kesimpulan. Pertama, untuk melahirkan kepemimpinan transformatif, maka dipandang perlu adanya Civil Society yang baik. Kedua, masyarakat HMI (anggota HMI, pegiat media HMI, dan pengurus HMI di tingkat Cabang dan Komisariat) dianggap belum mampu melakukan perannya seabagi pilar Civil Society dengan baik. Dalam hal ini beliau mengatakan “Cuma persoalannya adalah sebagian besar masyarakat HMI masih apatis dengan PB HMI” yang dalam tulisan ini dikatakan sebagai “state“-nya HMI.

Di sini, penulis sebagai interpreter dari tulisan Ketua Umum PB HMI mencoba memberikan masukan terhadap tulisan tersebut. Pertama. Perlu kiranya dituliskan syarat menjadi seorang pemimpin transformative, tentu dalam kacamata islam. Yaitu seorang pemimpin harus memiliki sifat sidiq ( jujur ), tabligh ( penyampai ), amanah ( bertanggung jawab ) dan fathonah ( cerdas). Kedua. Masyarakat HMI (anggota HMI, pegiat media HMI, dan pengurus HMI di tingkat Cabang dan Komisariat) sebenarnya sudah melakukan fungsinya sebagai salah satu pilar Civil Society dengan menjalankan fungsi kontrol terhadap “state“-nya HMI ( PB HMI. Hal ini bisa dibuktikan tuntutan dari beberapa cabang agar Ketua Umum PB HMI membuktikan bahwa dirinya masih menjadi anggota HMI ketika terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI. Selain itu, mereka juga meminta kepada “state“-nya HMI agar dalam menjalankan roda organisasi tetap berpagang teguh pada Konstitusi HMI. Yang justeru disayangkan adalah ketidak pedulian “state“-nya HMI terhadap kritik dan masukan dari cabang-cabang yang ada  . Ketiga. Penulis tidak melihat HMINEWS menjalankan fungsi kontrol terhadap “state“-nya HMI, penulis justeru melihat HMINEWS sebagai media yang pro terhadap “state“-nya HMI.

HMI mengajarkan kepada kita agar menjadi pemimpin yang sidiq ( jujur ), tabligh ( penyampai ), amanah ( bertanggung jawab ) dan fathonah ( cerdas) agar kader HMI mampu menjadi pemimpin yang transformative. Wallahu a’lam bi shawa. YAKIN USAHA SAMPAI !!! ( Danang Tri Hartanto )

Dua Kubu HMI Menolak Rumor Berita Kematian Seorang Kader HMI

detik.com

Jakarta- Beredarnya isu mengenai tewasnya kader HMI ditolek oleh kedua organisasi HMI. Sebelumnya marak beredar dikalangan para aktivis gerakan, bahwa seorang kader HMI dari kampus UI tewas saat melaksanakan aksi unjuk rasa menuntut penyelesaian kasus Bank Century di depan Gedung DPR/MPR (rabu, 3/3).

“Tidak ada yang meninggal. Hanya ada yang terluka dan kini dirawat di RSAL Mintohardjo. Disamping itu satu orang lagi tertangkap dan kini diamankan di Bareskrim Mabes Polri, namanya Sutan Daulay,” ujar Arip Mustopha Ketum PB HMI-DIPO kepada hminews, Rabu malam.

Hal senada juga disampaikan Ketua PB HMI MPO, Chozin Amirullah. “Tidak ada korban meninggal dari pihak kami (HMI-MPO)”. Selain itu, Chozin menambahkan, ada empat kadernya terkena peluru karet yaitu Arry Kusumawijaya (di bagian hidung), Sudirman (di pipi kiri), Budi S (di tangan kiri), dan Fandi AS (di tangan kiri). “Mereka terkena peluru karet dan saat ini sedang menjalani perawatan di RS”.

“Dan satu orang kader lainnya yang juga ikut dibawa polisi bersama 4 orang aktivis gerakan lainnya”, tambahnya. “Kami membutuhkan dukungan dari kawan-kawan media untuk memantau perkembangan yang terjadi pada kawan-kawan aktivis yang masih ditahan”,  Himbaunya. (Redaksi/berbagai sumber)