Bla Bla Bla Pendidikan

“PENDIDIKAN itu penting. Karena berpendidikan, maka kita tahu bahwa pendidikan itu tidak penting.”

(potongan dialog dalam “Alangkah Lucunya Negeri Ini”)

Jika saya mempunyai tongkat sulap, saya akan mengucapkan “Abrakadabra!” untuk membuat semua orang di dunia ini menjadi pintar. Tapi sayang, pendidikan bukanlah hal yang hasilnya dicapai sekejap. “Simsalabim” penyihir atau “doa sapujagat” yang dipanjatkan Kyai Langitan pun tak dapat membuat kita pintar secepat pesan singkat via ponsel. Pendidikan adalah sebuah proses yang tak sebentar. Bisa dibilang sangat lama. Sepertinya, pesan moral “tuntutlah ilmu dari rahim ibu hingga liang lahat” merupakan pendorong kita yang “kelelahan” belajar.

Proses pendidikan yang panjang mengharuskan penyediaan sebagian besar waktu di setiap hari dalam usia hidup kita. Aksioma ini, harus diludahi oleh tak sedikit dari kita yang dihimpit beban ekonomi dalam hidupnya. Pilihan untuk “sekolah” atau “kerja” sering menjadi sikap yang realistis. Karena, harapan hidup untuk menjadi orang berada, seperti masa depan yang kosong saat diletakan di rel (proses) pendidikan.

Proses kehidupan

Sebagai makhluk yang sempurna, kesempurnaan manusia bukan diwujudkan dengan sifat/sikap merasa lebih. Makhluk berakal ini dapat menjadi sempurna, justru karena diposisikannya pada entitas yang “kurang”. Manusia sempurna, karena dirinya merasa “tak sempurna”, membutuhkan banyak hal untuk didapat dan dipelajari. Hidupnya dijalani dengan tindak mengisi ketiadaan dengan belajar.

Bila diartikan dengan kalimat yang lebih akrobatik, pendidikan adalah proses kesadaran (dan menyadari) manusia dalam kehidupannya untuk menjadi dirinya sempurna dari ketaksempurnaan. Sehingga, tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Proses yang bernama pendidikan ini, merupakan perjalanan manusia menuju “manusia”.

Dasar nilai bahwa pendidikan adalah proses, bagi saya bisa menjawab kebingungan masyarakat terhadap pendidikan yang dijalani. Adalah salah, jika kita sekolah untuk menjadi “pintar”. Tak benar, jika kita sekolah untuk mendapat nilai (angka), kelulusan, raport, ranking, ijazah, indeks prestasi (IP), cumlaude, gelar atau status hasil lainnya. Sehingga, bukan hal yang aneh jika banyak sarjana yang menganggur. Pengangguran terdidik semakin meningkat karena sebagian masyarakat menganggap pendidikan bertujuan untuk mendapat gelar, dan gelar itu digunakan untuk mendapatkan pekerjaan.

Pendidikan adalah proses juga bisa mengoreksi bagi masyarakat yang memandang bahwa pendidikan didapat harus dan hanya dengan masuk sekolah formal. Ada penilaian di masyarakat kita bahwa, cuma mereka yang bergelar sekolah formal yang dianggap sebagai orang berpendidikan. Padahal pendidikan jauh lebih kaya berada di luar gedung sekolah. Pendidikan adalah (proses) kehidupan itu sendiri. Menjalankannya selalu menyertai refleksi terhadap kehidupan manusia. Cukup banyak tokoh dunia dalam “100 Tokoh Paling Berpengaruh” (Michael H. Hart), tak tumbuh dari sekolah formal. Tak sedikit pendidikan diterapkan di negeri ini tak relevan dengan yang terjadi dan dibutuhkan di dalam kehidupan. Itulah mengapa sang juara kelas belum tentu baik dalam menjalani kehidupan bermasyarakat pasca sekolah.

Kesalahan juga terjadi pada masyarakat yang berpandangan bahwa pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan. Bagi mereka, pendidikan dijalankan karena dia bisa menjadikan manusia kaya harta. Ini watak pendidikan ala pedagang. Pendidikan dinilai sebagai modal investasi yang terus dikeluarkan, di mana nantinya, setelah lulus ia menghitung-hitung apakah gaji dari pekerjaanya sudah balik modal (break event point) atau belum.

Yang membebaskan

Selain karena kesadaran akan “ketidak sempurnaan”-nya, manusia dinobatkan sebagai makhluk sempurna karena dia diberikan “kebebasan” oleh Penciptanya. Ia bukanlah malaikat yang ditugaskan hanya untuk patuh beribadah. Bukan pula ia sebagai setan yang kerjanya membangkang dan menggoda. Homo sapiens tak sama dengan binatang yang hanya tahu makan, buang air, beranak dan mem(/di)buru. Ia pun tak sama dengan abiotik yang eksistensinya patuh pada kausalitas alam. Manusia punya pilihan bebas untuk menentukan apa dan bagaimana dirinya eksis.

Saya meyakini, bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang membebaskan. Artinya, dasar menjalankannya adalah kesadaran, bukan paksaan. Kita memberikan dan memilih rekomendasi hal. “Pecut” untuk menggerakan kita yang terlibat didalamnya adalah saran dan kritik, bukan angka penilaian (yang otoriter) dan hukuman. Pendekatannya dengan senyum dan dialog, bukan “jutek” dan keputusan sepihak.

Tak ada iklim yang membebaskan jika kita tak ditempatkan pada kedudukan yang setara. Kita semua tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Guru dan siswa adalah setara. Siswa lelaki dan perempuan pun setara. Siswa kelas satu, dua dan tiga juga setara. Guru dan staf adalah setara. Pimpinan dan yang dipimpin pun setara. Yang membedakan adalah fungsi kerjanya. Penilaiannya adalah benar/salah, baik/buruk yang didialogkan; bukan keputusan sepihak dari apakah dia guru, siswa, staf, atau pimpinan. Guru bisa salah, dan siswa sangat mungkin benar.

Pendidikan yang membebaskan pun berarti sekolah tak bisa otoriter menentukan apa yang benar/salah, baik/buruk bagi siswa. Sekolah, di era kebebasan informasi ini, tak menjadi satu-satunya oase ilmu dan moral (etika). Di suatu waktu, siswa bisa lebih tahu dibandingkan guru, karena setiap apa yang disebutkan oleh guru, tak lebih lengkap dengan apa yang terhampar dari situs pencarian Google. Apa yang aktual, belum tentu diketahui lebih dulu oleh guru, karena “world-wide-web” bisa menemukan apa saja setiap detiknya.

Kita bukan di zaman nabi dimana “Kebenaran” hanya ada dalam sabdanya. Kita pun bukan berada di era pra renaisans, yang pada saat itu benar/baik ditentukan oleh para agamawan yang mengklaim sebagai penerus nabi atau perpanjangan tangan Tuhan. Kita pun bukan lagi sebagai masyarakat yang mengkultuskan tokoh; memaknai “guru” dengan kepanjangan “digugu dan ditiru”. Sekolah beserta guru-guru di dalamnya bisa salah, dan masyarakat yang berada di luar pagar sekolah, sangat memungkinkan untuk merekomendasikan kebenaran. Sehingga, sekolah (sebagai lembaga komunitas guru) berdiri setara dengan keluarga (siswa beserta orang tua) dan masyarakat.

Meyakini pendidikan

Bla bla bla pendidikan tersebut penting—setidaknya bagi saya—untuk merefleksikan fenomena belakangan, di mana program standardisasi pendidikan kian marak. Bentuknya ada akreditasi, standar nasional/internasional, sertifikasi sampai Ujian Nasional (UN). Bagi saya semua itu bertentangan dengan makna pendidikan sebagai proses yang membebaskan. Kehidupan manusia adalah hamparan keragaman. Setiap manusia, setiap keluarga, setiap masyarakat, setiap daerah, mempunyai standar tersendiri. Menetapkan standar tunggal—apalagi dijabarkan dengan angka-angka—sebagai palu godam kelulusan merupakan sikap yang menafikan keragaman manusia.

Standardisasi justru tidak meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah hilang dengan adanya standardisasi, khususnya UN. Mengartikan kecerdasan hanya pada aspek kognitif (intelektual) telah mereduksi multi aspek kecerdasan manusia. Menurut pakar pendidikan Harvard University, Dr. Howard Garnerd, kecerdasan manusia terdiri dari kecerdasan bahasa (linguisitic intelegence), kecerdasan matematis-logis (logical-mathematical intelegence), kecerdasan ritmis-musikal (musical-rythmic intelegence), kecerdasan kinestik-tubuh (bodily-kinesthetic intelegence), kecerdasan interpersonal (interpersonal intelegence), kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelegence), kecerdasan naturalis (naturalyst intelegence).

Pendidikan harusnya melibatkan keragaman dan multi-potensi manusia yang ada. Ini mendorong alternatif pendidikan. Banyaknya bentuk pendidikan akan semakin mewakili karakter dan keinginan peserta didik. Jika menuntut hasil dari pendidikan, ukuran keberhasilannya adalah bagaimana peserta didik mempunyai pemikiran yang membebaskan, menyertai keunikan dari masing-masing karakternya. Tak hanya cerdas dalam arti kognitif semisal hitungan, membaca atau yang lainnya, tapi juga cerdas untuk bersikap tidak diskriminatif, adil dan bermanfaat terhadap sesama, alam beserta isinya.

Dalam proses panjang yang tak selesai dengan abrakadabra, simsalabim, atau doa sapujagat, pendidikan harus dijalani dengan keyakinan penuh yang sungguh. Keyakinan bahwa pendidikan itu penting. Bukan seperti yang dikatakan anak-anak pencopet dalam “Alangkah Lucunya Negeri Ini” bahwa pendidikan untuk kaya, seperti koruptor. Bukan pula menurut Muluk (diperankan oleh Reza Rahadian) dan Samsul (Asrul Dahlan), bahwa dengan pendidikan kita bisa tahu pendidikan itu tak penting. Pendidikan penting karena—dengan me-nulis/ucapkan ala Ribut (Sakurta Ginting)—pendidikan adalah proses adalah yang adalah membebaskan adalah manusia adalah untuk adalah memanusiakan adalah manusia (adalah cukup!). []

USEP HASAN S.

“pendidik” dalam arti yang membebaskan