Jusuf Kalla Kecam Anarkisme Mahasiswa di Makassar

Makassar, HMINEWS.com – Maraknya tindakan anarkisme yang dilakukan oleh mahasiswa khususnya di daerah Makassar mengundang komentar dari mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Dalam suatu kesempatan di Makassar, Sabtu (31/7) JK mengatakan bahwa mahasiswa masih bertindak seperti  masyarakat primitif. “Saya katakan primitif, karena mahasiswa tersebut lebih banyak menggunakan batu dan api daripada nalar masing-masing,” tuturnya.

Bahkan, sambung Kalla, banyak aksi kekerasan yang justru dilakukan oleh mahasiswa dari kampus-kampus besar seperti Universitas Hasanuddin, UNM, dan Universitas Muhammadiyah Makassar. “Sangat menyedihkan ketika melihat mahasiswa membakar kampus yang merupakan sarana pendidikan, dan lempar-lemparan batu, apalagi mahasiswa yang saling berkelahi hanya karena ingin mempertahankan eksistensi,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua HMI Cabang Makassar, Rahmayandi, mengatakan bahwa hal itu terlalu mengeneralisasi. “saya kurang sepakat dengan hal itu, karena terlalu mengeneralkan masalah yang sebenarnya” ungkapnya ketika dihubungi oleh hminews.com

Rahmayandi melanjutkan, bahwa aksi-aksi mahasiswa yang memperlihatkan hal tersebut pasti ada sebabnya. “ pertama anarkisme itu didorong oleh birokrasi kampus, selain itu, jika tidak seperti itu maka aksi yang dilakukan oleh mahasiswa tidak akan ditanggapi oleh pihak-pihak yang berwenang” tuturnya melanjutkan.

Sementara itu, JK menambahkan peran rektor sangat penting untuk bisa segera mengatasi persoalan tersebut. “Rektor harus tegas. Kalau ada mahasiswa yang bertindak anarkis, hanya ada dua pilihan, yaitu tetap kuliah dengan syarat tidak lagi melakukan aksi anarkis atau drop out (keluar),” tandas Kalla. [] Adi

Pembelaan Nurul Izzah pada Sang Ayah

HMINEWS- Jika ditanya, siapa sosok politisi muda Muslimah yang patut dicontoh? Jawabannya adalah Nurul Izzah, putri kesayangan pejuang demokrasi dan tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.

Terlahir dari pasangan mantan pejabat tinggi Kerajaan Malaysia tidak membuatnya tergoda untuk menjadi bintang entertainmen sebagaimana kebanyakan anak pejabat di Indonesia. Nurul Izzah lebih suka mengisi masa mudanya dengan menuntut ilmu sampai ke negeri seberang.

Nurul Izzah menempuh pendidikan S1-nya di teknik elektro Universiti Teknologi Petronas di Perak dan kemudian pindah ke Universiti Tenaga Nasional di Bangi, Malaysia. Jadi Nuruh justru adalah sarjana elektro, bukan sarjana politik.  Baru ketika melanjutkan pendidikan masternya di AS, tepatnya di John Hopkin University, ia mengambil jurusan studi internasional, khususnya politik Asia Tenggara.

Nurul-lah yang menjadi pembela utama ayahandanya, Anwar Ibrahim, ketika beliau sedang menghadapi kezaliman oleh rezim penguasa Malaysia. Ayahnya dituduh melakukan sodomi terhadap mantan asistennya Mohd Saiful Bukhari Azlan.

Sampai saat ini proses persidangan terhadap Anwar masih berlangsung sejak Februari 2010 lalu. Rencananya mulai Agustus nanti sidang akan digelar lagi. Sidang sempat tersendat sekitar enam bulan disebabkan oleh ketua tim pengacaranya sedang sakit.

Nurul Izzah yang merupakan anggota parlemen dengan setia selalu menghadiri persidangan ayahnya, bersama ibu dan adik-adiknya. Bagi Nurul, tuduhan sodomi yang dilontarkan kepada ayahandanya adalah konspirasi politik. “Melihat pada fakta-fakta kasus dan laporan medis, saya tak melihat bukti apapun untuk mendukung tuduhan itu. Ini pukulan intervensi politik,” kata wanita berumur 28 tahun itu kepada media asing the Straits Times beberapa waktu lalu.[ ] lara

12 Orang Lolos Seleksi Tahap II KPK

HMINEWS- Akhirnya dari 145 yang  lulus seleksi tahap pertama, Panitia Seleksi Calon Pengganti Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) menentukan 12 nama bakal calon lolos seleksi tahap dua.

Adapun ke-12 nama peserta yang lolos seleksi tahap kedua ini adalah, 1.  Ade Saptomo; 2. Aji Sularso, Dr. Ir. MME (mantan pegawai BPK); 3. Bambang Widjojanto (advokat); 4. Chairul Rasyid (Irjen Pol Purn); 5. Fachmi, Dr. SH (Jaksa aktif di Kejagung); 6. Firman Zai; 7. Fredrich Yunadi JD; 8. I Wayan Sudirta; 9. Jimly Asshiddiqie; 10.  Juninon Jahja; 11.  Meli Darsa; 12.  Muhammad Busjro Muqoddas (Ketua Komisi Yudisial).

Peserta yang lolos di tahap kedua ini akan mengikuti tahapan seleksi berikutnya yakni profile assessment yang akan digelar pada Rabu pekan depan,” ungkap Ketua Pansel, Patrialis Akbar, di Ruang Soepomo Gedung Kemenkum HAM, Jakarta, Hari ini Sabtu (31/7).

“Alhamdulillah, dari daftarnya bagus…. ada nama Mas Bambang (Bambang Widjojanto-red)” kata Ridaya Laode Ngkowe tokoh LSM yang juga mantan ketua senat UGM masa reformasi.

Memang dari daftar 12 nama yang tersebut terlihat nama-nama orang yang punya kredibilitas dalam pemberantasan hukum di Indonesia. Selain Bambang, nama lain diantaranya adalah Muhammad Busjro Muqoddas (Ketua Komisi Yudisial). Lulusan fakultas hukum UII Yogyakarta tersebut juga dikenal pendiam tetapi cukup dikenal oleh para pendekar hukum di Indonesia.

“Semoga siapapun yang terpilih menjadi ketua KPK nantinya bukan mantan bandit, bukan oportunis, dan bukan pula pesanan dari Istana”, ujar Ayib Rudi dari Bright Institute Jakarta.

Aksi Pong Coret DPR Mewakili Nurani Umat

HMINEWS-  Pong Harjatmo, artis gaek yang ngetrend tahun 80-an melakukan tindakan sensasional di gedung DPRRI (Jumat, 30/7/ 2010). Ia memanjat atap gedung keong DPRRI yang lebih mirip kutang terbalik tersebut dan menuliskan huruf besar ‘Jujur, Adil, Tegas.’

Tentu saja tulisan tersebut kemudian membuat Pong berurusan dengan petugas keamanan gedung DPR,  ia langsung digelandang ke kantor pos Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR.

“Pemerintah dan anggota DPR tidak pernah tuntas melaksanakan tugasnya. Kasus Bank Century  tidak selesai. Sekarang ditambah lagi banyak anggota dewan yang bolos,” kata Pong menumpahkan keluhannya sehingga ia melakukan aksi tersebut.

Sejumlah anggota DPR bereaksi dan mengecam aksi Pong yang dinilai merusak. “Motifnya itu cari perhatian saja,” kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. “DPR ini rumah rakyat. Semua bebas menyampaikan aspirasi tapi jangan seenaknya”.

“Ini bukan merusak. Itu dicat lagi dengan cat warna yang sama juga sudah beres,” ujar Pong. Ia menegaskan, dirinya sama sekali tidak mencari popularitas. Saya sudah capek cari popularitas. Jam terbang saya bukan kemarin-kemarin saja,” kata Pong sebelum digelandang ke pos pengamanan DPR oleh Petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR.

Dipihak lain ketua umum HMI, M Chozin Amirullah mendukung aksi yang dilakukan oleh Pong. “Terlepas dari itu sensasional atu tidak, yang jelas apa yang dilakukan oleh Pong mewakili suara hati nurani umat. Umat sekarang sudah jengah dengan kebebalan para elit, kasus-kasus korupsi seakan hanya jadi komoditas politik saja tanpa ada kejelasan penyelesaiannya”, kata Chozin.

Chozin yang pada hari Jumat tersebut juga sedang berada di DPRRI meminta kepada elit – baik pemerintah maupun legislatif- untuk merefleksi tindakan Pong tersebut pada diri mereka masing-masing. “Kebetulan saya pada saat itu juga sedang mendatangi fraksi GERINDRA untuk menanyakan komitmen mereka atas kasus Century”, jadi apa yang saya lakukan adalah satu idealisme dengan Pong”, jelas Chozin. [] lk

Menelusuri Perubahan Identitas Kota

Judul buku: Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial

Penulis: Prima Nurrahmi Mulyasari dkk

Penerbit: Ombak, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, 2010

Tebal: x + 541 halaman

Harga   : Rp 65.000,-

Peresensi  : Supriyadi*)

Waktu demi waktu terus bergulir. Dengan bergulirnya waktu, perubahan demi perubahan pun terus terjadi dan tidak dapat dihindarkan. Adakalanya perubahan itu menuju kepada hal yang lebih baik sehingga menjadikan kemajuan. Namun adakalanya juga perubahan itu membawa kepada kemunduran. Begitu juga dengan kota-kota di Jawa yang dalam perkembangannya telah membawa perubahan. Perubahan tersebut telah membuat pergeseran pada identitasnya.

Buku yang berjudul “Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial” merupakan kumpulan artikel-artikel yang dalam pembahasannya memaparkan kota-kota di pulau Jawa berikut identitas, gaya hidup, hingga permasalahan sosial perkotaan. Secara keseluruhan, perubahan demi perubahan telah banyak membuat kota-kota di Jawa tersebut menampakkan wajah yang berbeda dari zaman dahulu hingga sekarang.

Kota-kota di Jawa, pada perkembangan sejarahnya memiliki berbagai karakter dan sifatnya yang khas. Solo dan Yogyakarta yang dulunya adalah sebuah kerajaaan besar (Kerajaan Mataram Islam), Banyumas yang pernah menjadi kota terbelakang, Surabaya sebagai kota obyek urbanisasi suku Madura, dan lain sebagainya memiliki perkembangan sejarah yang beragam karena pelaku budaya yang membentuk sejarah pun beragam pula.

Tradisionalitas klasik yang menjadi identitas kota pada masa lampau, kini mengalami pergeseran yang mana hal itu menuju ke arah modernitas. Gaya hidup orang-orang kota pun telah terkontaminasi dengan gaya hidup para pendatang sehingga membawa permasalahan sosial yang baru pula. Ihwal dari penjajahan oleh Belanda dan Jepang yang kemudian merdeka hingga sekarang, kota-kota di Jawa telah menuju ke arah modernitas. Barangkali hal itu dipengaruhi faktor dari luar seperti pendatang baik dari luar negeri ataupun dalam negeri (migrasi). Urbanisasi dan perilaku migrasi lainya juga setidaknya membawa pengaruh yang besar selain dinamika politik dan ekonomi daerah perkotaan.

Identitas Kota

Setiap kota pasti memiliki identitas yang mana hal itu menjadi ciri khasnya. Begitu pula dengan kota-kota di Jawa yang lekat dengan identitasnya yang menyimbolkan bahwa identitas tersebut adalah kepribadian kota tersebut. Bukan hanya sekadar identitas, akan tetapi lebih pada nilai-nilai luhur dan arif yang terkandung dalam identitas kota tersebut.

Karakter dan ciri khas kota-kota di Jawa sebagian telah hilang atau luntur. Tidak hanya itu saja, bahkan identitas kota-kota di Jawa telah lenyap pada memori penduduknya sendiri. Kota Solo dan Banyumas (misalnya), menjadi potret hilang dan lunturnya identitas kota yang mana pada tempo dulu sangat lekat dengan identitasnya.

Lunturnya identitas kota Solo lebih disebabkan oleh sikap dan cara pandang penduduknya yang terlalu longgar terhadap modernitas dan pengembangan fisik kota. Sementara di Banyumas, kemunduran disebabkan karena letak geografis yang tidak menguntungkan sehingga sulit terjangkau transportasi. Pada awal abad ke-20, Banyumas tidak seperti kota-kota di Jawa lainnya yang mengalami kemajuan. Kota ini justru mengalami suatu periode kemunduran karena tidak mampu mempertahankan posisinya.

Sungguh kedua kota tersebut sangat berbeda dengan kota Yogyakarta. Jika di berbagai kota di Jawa, arus modernitas menjadi penyebab utama lunturnya identitas kota, Yogyakarta justru sebaliknya. Kota Yogyakarta justru sedang mengalami pengayaan identitas. Hal ini karena akulturasi dan assimilasi dari kebudayaan yang dibawa oleh komunitas Tionghoa yang menetap di kota Yogyakarta. Salah satu akulturasi dan asimilasi tersebut tercermin pada perayaan Imlek dari masyarakat Tionghoa-Muslim di Yogyakarta. Hal yang unik dari masyarakat Tionghoa-Muslim tersebut, adalah perayaan Imlek yang tidak dirayakan di klenteng, akan tetapi justu di masjid. Nasi tumpeng yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa (khususnya Yogyakarta), berdampingan dengan kue keranjang yang menjadi simbol masyarakat Tionghoa.

Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial

Lagi-lagi modernitas telah mengubah semuanya. Masyarakat kota yang dulunya memegang tradisi klasik yang dimiliki, pada era kini berubah karena arus modernisasi yang sangat kuat. Akhirnya, gaya hidup pun menjadi berubah. Berbagai produk dan barang yang menjadi konsumen masyarakat kota telah menjadi simbol modernitas. Hal itu berakibat pada gaya hidup masyarakat kota yang mana mengkonsumsi berbagai produk dan benda atau barang yang memiliki simbol modern. Arus modernisasi yang kuat telah melanda kota-kota di Jawa sehingga mau tidak mau, masyarakat tersebut bergaya hidup ala modern.

Salah satu barometer gaya hidup yang modernis ditandai dengan pakaian. Gaya berpakaian menjadi ukuran untuk melihat karakteristik kehidupan di perkotaan. Berpakaian bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, dan gigitan serangga, akan tetapi juga terkait dengan adat-istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status, dan juga identitas (hlm. 8).

Meski demikian, modernisasi tidak selamanya membawa keburukan meskipun telah menghilangkan sebagian identitas perkotaan dan merubah gaya hidup masyarakat kota. Adakalanya modernitas itu membawa nilai positif yang bisa dimanfaatkan dengan baik.

Sementara itu, kehidupan perkotaan yang individual, mengedepankan kompetisi, sering kali melahirkan permasalahan sosial seperti kriminalitas, prostitusi, aborsi, kemiskinan, urbanisasi, pengangguran, dan permasalahan sosial lain. Masalah-masalah sosial yang muncul di perkotaan ini menuntut pemerintah kota untuk berbuat sesuatu agar kehidupan perkotaan menjadi lebih aman dan nyaman (hlm. 9).

Dari berbagai kota di Jawa tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah kota telah berjalan dari tradisionalitas yang menjadi identitasnya menuju modernitas yang menjadi identitas barunya. Sering kali, budaya Barat-lah yang menjadi kiblat dari perilaku yang dianggap modern karena budaya Barat kini telah menghegemoni dunia, termasuk pula budaya tersebut menyelinap pada kota-kota di Jawa.

Dengan membaca buku yang berjudul “Kota-Kota Di Jawa; Identitas, Gaya Hidup, dan Permasalahan Sosial”, para pembaca diajak untuk menelusuri sejarah kota-kota di Jawa pada masa dahulu ketika tradisionalitas masih menjadi corak perkotaan sehingga dapat dibandingkan dengan masa sekarang. Perkotaan hingga masa sekarang telah mengalami perkembangan dalam sejarahnya, yang mana itu merupakan suatu keniscayaan. Namun demikian, tradisionalitas yang mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi, seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai kekayaan masa lalu yang bersejarah untuk masa kini meskipun modernisasi begitu marak.

*) Peresensi adalah Pengamat Sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/07/15/01401318/Menelusuri.Perubahan.Identitas.Kota

Melukis Turki yang Lebih Terbuka

Oleh: Mark Van Yetter

Kalau melihat bentuk karakter dunia seni sekarang, ada sebuah aspek yang jelas menonjol. Kiblat seni modern, yang masih berpusat di Eropa Barat Laut dan Amerika Serikat, tengah mengalami pergeseran poros. Negara-negara yang lama tak ikut serta, seperti Turki, ingin memantapkan diri sebagai pemain dalam industri seni.

Beberapa pusat seni, museum dan galeri yang cukup memadai telah dibuka di Turki sepanjang dasawarsa terakhir – dan tren ini terus berkembang. Lembaga-lembaga ini telah berbuat banyak untuk memperkenalkan tradisi seni modern Turki, yang berpusat di Istanbul.

Yang cukup penting di antaranya adalah kompleks seni dan budaya yang dinamai SantralIstanbul, yang baru-baru ini menampilkan sebuah retrospeksi karya-karya seniman Turki berusia 76 tahun, Yüksel Arslan, yang dikuratori dengan sangat baik. Arslan, yang mengasingkan diri di Paris untuk menghindari sensor atas tema-tema sosialis dan satiris karya-karyanya, yang berfokus pada kelas pekerja, kembali ke Turki pada 2009 untuk sebuah pameran selama tujuh bulan.

Pada Mei 2010, ruangan galeri baru, Rampa, menggelar pameran akbar karya-karya Cengiz Çekil, seniman yang dianggap berjasa memapankan seni konseptual di Turki, yang karyanya merefleksikan ketegangan politik dan sosial sebelum kudeta militer tahun 1980. Galeri lain yang patut dicatat adalah BAS, yang baru-baru ini memamerkan majalah-majalah dan karya-karya KORİDOR, sekelompok seniman yang berkarya antara tahun 1988 dan 1995. Baru sekarang ini banyak karya dari seniman-seniman tersebut muncul di galeri-galeri arus utama di Turki.

Namun, gerakan ini masih tergolong kecil. Baru belakangan saja forum-forum untuk pengembangan dan penyebaran seni ini mulai muncul ketika publik Turki mulai menerima gerakan-gerakan kesenian.

Melihat pencapaian-pencapaian terbesar dalam seni modern di Barat, jelas bahwa para seniman yang secara radikal mengancam nilai-nilai sosial dan budaya yang mapan adalah mereka yang membuat kontribusi paling penting.

Seniman-seniman Barat seperti Joseph Beuys dari Jerman, yang dipandang sebagai salah satu seniman paling penting abad ke-20, menentang gagasan bahwa seni harus terbatas pada membuat objek. Ia mengembangkan gagasan “pahatan sosial” dan melihat masyarakat sendiri sebagai karya seni yang rumit di mana setiap orang ambil bagian dalam membuatnya. Misalnya, untuk mengangkat kesadaran lingkungan dan perubahan sosial, Beuys menanam 7.000 pohon oak di Kassel, Jerman, dengan bantuan para relawan. Sebuah batu basal mendampingi setiap pohon, dan semuanya secara bersama-sama menciptakan pahatan berjudul “7000 Oak”.

Serupa dengan itu, sekelompok seniman dan penulis Turki menggunakan seni modern untuk menentang pembunuhan Hrant Dink, pemimpin redaksi surat kabar Armenia-Turki, Agos, yang dikenal sebagai seorang pembela hak asasi manusia. Para seniman menutup diri mereka dengan koran dan berbaring di jalan di mana Dink ditembak untuk memprotes kematiannya dan kontroversi seputar liputan korannya tentang pandangan masyarakat Turki mengenai tewasnya orang-orang Armenia oleh tentara Turki-Utsmani (Ottoman) pada 1915.

Tapi untuk memahami fenomena tumbuhnya minat pada seni modern Turki, kita harus lebih dulu membahas sejarah Turki dewasa ini.

Kudeta militer terakhir di Turki adalah pada tahun 1980. Militer, yang kukuh melindungi sistem politik sekuler Turki, menerapkan cara-cara kekerasan, seperti mengancam para jurnalis dan membunuh para intelektual sayap kiri untuk mempertahankan sistem sekuler pada tahun-tahun menjelang dan menyusul kudeta tahun 1980. Tanpa ruang untuk menentang status quo, gerakan seni modern Turki terpaksa bergerak di bawah tanah dalam waktu yang lama.

Sejak berdirinya republik, masyarakat Turki tidak punya kesempatan maupun sarana untuk secara terbuka mengkritik kondisi militeristik negeri ini. Republik ini meneruskan program Turki-Utsmani di mana seni digunakan hanya sebagai alat untuk meneguhkan rasa kebangsaan. Ini tampak dari banyaknya lukisan dan patung pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk.

Namun, karena kebijakan-kebijakan baru terkait keinginan Turki masuk Uni Eropa dan meningkatnya pajanan global melalui internet, dasawarsa terakhir diwarnai dengan kemunculan masyarakat yang lebih terbuka pada dialog dan debat tentang beragam isu sosial dan politik. Masyarakat Turki kini lebih siap menghadapi masa lalunya yang brutal. Topik-topik yang sebelumnya dianggap tabu kini terbuka untuk diperdebatkan.

Di sini saya sangat berharap akan munculnya masyarakat Turki yang lebih terbuka, yang bergerak menuju masa depan yang terbuka dan lebih hidup. Dan, lantaran lingkungan yang lebih kondusif bagi dialog terbuka, kini sudah ada fondasi bagi seni modern Turki yang menarik untuk tumbuh berkembang.

###

* Mark Van Yetter adalah seorang seniman dan Direktur Marquise Dance Hall, ruang seni independen di Istanbul. Artikel ini ditulis atas kerja sama dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Priyo Siap Pertahankan Kursinya di MKGR

HMINEWS-  Ketua Umum MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong) sekat tahun 2005 Priyo Budi Santoso menyatakan kesiapannya untuk maju kembali mengisi posisi yang sama. MKGR akan menyelenggarakan musyawarah nasional (munas) VII di Surabaya pada 2-4 Agustus 2010.

Rencananya, Munas VII MKGR berlangsung di Hotel Shangri-La, Surabaya. Sebanyak 33 DPD dan sekitar 350 DPC MKGR se-Indonesia akan hadir dalam munas tersebut.

Priyo yang juga alumnus HMI-MPO Yogyakarta tersebut mengatakan telah mendapat restu dari Ketum Golkar Aburizal Bakrie atas pencalonannya kembali. Selain itu, ada misi yang belum terselesaikan selama dia menjabat posisi Ketum MKGR dalam lima tahun terakhir. “Insya Allah, saya akan maju lagi,” kata Priyo di gedung DPR, Jakarta, kemarin (30/7/10).

Di luar Priyo, sejumlah kandidat disebut-sebut juga bakal maju untuk meramaikan persaingan. Beberapa nama yang diunggulkan adalah Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dan Agus Gumiwang Kartasasmita (anggota FPG). Nama lain yang muncul dalam persaingan adalah politikus senior Golkar Zainal Bintang.

Sangat disayangnya, Tommy yang notabene adalah mantan narapidana kasus pembunuhan  hakim agung M Syafiuddin Kartasasmita menjadi salah satu kandidat ketua juga. “Aneh, mantan pembunuh koq nyalon jadi ketua organisasi massa, bagaimana caranya tuh?”, demikian komentar salah seorang kader HMI Dipo Jakarta yang tidak mau disebut namanya. [] lr/jppn

Ragukan Proses Hukum Century, Mahasiswa Datangi GERINDRA

HMINEWS.COM-  Merasa kasus Century mangkrak, belasan mahasiswa yang tergabung dalam Jaker  Petisi 50, HMI dan PMKRI mendatangi Fraksi GERINDRA di DPPRI. Mereka mempertanyakan keseriusan GERINDRA sebagai salah satu fraksi yang vokal di  DPR menuntut penyelesaian kasus Century.

Delegasi HMI yang dipimpin oleh ketua umumnya, M Chozin Amirullah meminta agar GERINDRA bisa mengajak fraksi-fraksi lain untuk memantau proses hukum kasus Century. Sebagaimana kawan-kawannya di gerakan masyarakat sipil, Chozin meragukan keseriusan KPK dalam menyelesaikan kasus pembobolan uang sebesar 6,7 trilyun dalam kasus Century, sebagaimana yang diamanahkan oleh DPR melalui hak angket.

“Jika Century ini tidak selesai, maka ini akan menjadi preseden buruk buat bangsa ini. Rakyat pada akhirnya tidak akan percaya lagi pada elit dan mereka tidak yakin dengan mesa depan bangsanya, sebab kasus-kasus korupsi dengan skala besar pada akhirnya akan diuapkan begitu saja tanpa ada penyelesaian”, demikian kata Chozin.

Hal senada disampaikan oleh koordinator Jaker Petisi 50, Gartono SH, yang mempertanyakan langkah-langkah yang ditempuh oleh Geridra jika penyelesaian hukum kasus Century mangkrak di jalan.

Menanggapi kedua tuntutan di atas, Fraksi GERIDRA yang diwakili oleh Wakil Ketuanya, Sadar Subagyo, menyampaikan bahwa dengan kasus Century, Gerindra tetap komitmen untuk menyelesaikannya. Dia berjanji jika dalam waktu satu tahun proses hukum Century gate ini tidak selesai maka Gerindra akan melakukan penggalangan suara untuk hak menyatakan pendapat.

“Kami akan catat pernyataan Bapak dan kami akan lihat nanti, apakah GERINDRA termasuk partai yang komitmen pada idealisem atau sekedar partai penggembira”, demikian sergah salah satu kader dari PMKRI yang juga hadir dalam acara tersebut. <lr>

Ratusan Buruh dan Mahasiswa Demo Batalkan Kenaikan TDL

HMINEWS.COM- Sedikitnya 100 mahasiswa dan buruh yang tergabung dalam Gerakan Aksi  Nasional melakukan aksi mimbar bebas menuntut pembatalan  kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di depan Kantor Bank Dunia (World Bank) Kamis (29/7/10) Jakarta.

“Kenaikan TDL yang disertai dengan naiknya kebutuhan pokok  sangat menyengsarakan rakyat. Oleh sebab itu kami menuntut kepada SBY-BERBUDI untuk segera membatalkan kenaikan TDL dan menurunkan harga bahan pokok,” kata Koordinator aksi, Vivi Widyawati.

Selain itu para pengunjuk rasa juga menuntut World Bank beserta antek-anteknya untuk segera hengkang dari bumi Inodnesia, karena World Bank lah maka TDL menjadi naik.

Tidak hanya Kenaikan TDL,  rakyat juga harus  menanggung beban kenaikan harga yang luar biasa tingginya, terutama kenaikan harga sembako, bahkan harga cabe dan bawang sangat tinggi luarbiasa harganya, tetapi petaninya masih saja miskin, apa lagi dalam waktu dekat ini akan memasuki bulan puasa, yang sudah pasti harga-harga terus melonjak tinggi.

Sebenarnya Rezim Antek Kapitalis SBY-BOEDIONO-PARLEMEN sekarang hanyalah melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh Rezim Antek Kapitalis  sebelumnya.

Demonstran juga mengajak masyarakat untuk melakukan boikot nasional membayar listrik sebagai bentuk protes terhadap kenaikan TDL. Kami akan membangun front persatuan nasional untuk membatalkan kenaikan TDL dan meminta SBY-BERBUDI mundur dari jabatannya dari presiden dan wapres yang dipilih oleh rakyat, jika tidak membatalkan kenaikan TDL.

Para aktivis mahasiswa dan buruh serta masyarakat miskin kota yang terdiri dari Aliansi Buruh menggugat (SBTPI,PPBI, GASBURI,SPTBG,FPBJ,SBIJ,SPOI,SPKAJ,SBSI 92,FSPM), SP Koja, SP Terminal Peti Kemas, SP PLN, SMI, PEMBEBASAN, LMND, IMM, PMKRI, HIKMAH BUDHI, HMI MPO, FPPI, KPOP, BANG JAYA, FPJ, RepDem, Perempuan Mahardhika, PPRM, PPI, KPRM-PRD, PRP, PRD, KAU, GARDA PAPUA, AMP, PN PII, SeBUMI, DKR berencana akan melakukan aksi massa yang lebih besar di depan Istana Negara pada 7 Agustus 2010 menuntut SBY-BERBUDI membatalkan kenaikan TDL serta kenaikan harga. []ham

Ketidaksetaraan dalam Sistem Pendidikan

HMINEWS.COM- Diskursus seputar pendidikan seringkali berkutat seputar persoalan anggaran pendidikan; pendidikan yang membebaskan a la Paolo Freire; pendidikan yang berbasis pada multikulturalisme; mode pendidikan yang berdasar pada Pancasila; serta pelbagai variasi klasik lainnya. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa humaniora, sains, dan agama diberikan akses terhadap sistem pendidikan, sementara filosofi, astrologi, magi, dan yang lainnya tidak diberikan akses yang sedemikian rupa?

Filosofi

Tidak jarang kita menemukan pendapat yang mengatakan bahwa filosofi terlalu cepat sekaligus terlalu lambat untuk masuk ke Indonesia. Terlalu cepat karena masyarakat dianggap belum siap untuk menerima pelbagai konsekuensi yang dapat dihasilkannya. Serta terlalu lambat karena warga negara lain telah jauh tinggal landas dengan sains, teknologi, serta tradisi filosofi yang cukup kokoh.

Namun, pendapat tersebut justru hanya memperkuat keinginan untuk tidak secepat mungkin membangun tradisi filosofi yang unik dan khas Indonesia. Tidak ada satu negara yang tergabung di dalam G8 misalnya, yang tidak memiliki tradisi filosofi yang kokoh. Konstruksi tradisi filosofi yang mapan sedikit-banyak membantu eksistensi negara-bangsa masing-masing. Dengan kata lain, jika proyek negara-bangsa yang berjudul Indonesia ingin tetap eksis dan bertahan hingga ratusan tahun ke depan, maka sebaiknya secepat mungkin diupayakan usaha pembangunan tradisi filosofi yang unik dan khas tersebut. Hancurnya kepercayaan publik terhadap Pancasila sebagai dasar negara serta filosofi bangsa pada masa Orde Baru hingga kini merupakan sinyalemen buruk yang harus segera diantisipasi secepat mungkin.

Pembangunan tradisi filosofi yang unik dan khas tersebut harus diiringi dengan mengintegrasikan filosofi ke dalam sistem pendidikan. Filosofi atau sekurangnya sejarah filosofi tidak hanya diberikan di bangku kuliah (itu pun dengan asumsi seorang mahasiswa mengambil mata kuliah tertentu yang berkaitan dengan studi) akan tetapi hingga ke bangku sekolah dasar. Tentunya filosofi dan sejarah filosofi yang dimaksud di sini hanya terbatas pada gagasan, ide, atau tokoh Indonesia.

Sangat menyedihkan ketika seorang mahasiswa tingkat awal mencaci-maki Pancasila hanya karena penyelewengan pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi; serta lebih disebabkan ketidaktahuannya mengenai model filosofi Pancasila yang dikembangkan sekurangnya oleh Notonegoro atau Driyarkara. Di satu sisi, sangat disayangkan bahwa keluasan lahan garapan filosofi Pancasila tidak banyak disentuh karena ketidakmampuan untuk membedakan antara Pancasila’s philosophy dengan philosophy of Pancasila. Keduanya dapat menjadi wahana pergulatan wacana yang potensial seputar Pancasila. Di sisi lain, sangat menyedihkan ketika kita baru tertarik untuk menggali Pancasila ketika dan barangkali hanya ketika “Indonesianis” telah menggarapnya.

Optimisme warga negara terhadap proyek negara-bangsa dapat dipupuk melalui filosofi yang diajarkan sejak dari bangku sekolah dasar. Namun, mengapa hingga saat ini filosofi belum juga diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan hingga ke sekolah dasar? Apakah para elit negeri ini khawatir bila warga negara lainnya menjadi semakin kritis hanya dengan mengintegrasikan filosofi ke dalam sistem pendidikan hingga ke sekolah dasar? Atau khawatir bahwa warga negara lainnya akan menjadi atheis dan gila hanya dengan mengenal filosofi sejak bangku sekolah dasar meski dengan materi yang proporsional?

Astrologi

Tidak banyak yang menyadari bahwa astrologi tidak hanya persoalan ramalan jodoh, rejeki, dan kesehatan; serta lebih banyak lagi yang tidak mengetahui bahwa penolakan sebagian besar masyarakat Barat terhadap astrologi, seperti yang disebut oleh Paul Feyerabend, lebih dikarenakan stigma “musyrik” yang diberikan oleh Gereja. Pun demikian dengan Islam. Padahal, banyak orang yang menyadari serta mengakui bahwa pasang-surut air laut disebabkan oleh bulan, dan hal tersebut dilegitimasi oleh fisika. Dengan kata lain, hanya sedikit dari astrologi yang diambil kemudian diterima sebagai salah satu bentuk kebenaran, sementara sebagian besar yang lain ditolak mentah-mentah.

Sejarah perkembangan sains menunjukkan bahwa astrologi memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap sains itu sendiri dan pada akhirnya memengaruhi peradaban kemanusiaan. Astronomi belum tentu berkembang sedemikian rupa jika astrologi tidak pernah eksis di dalam lanskap pengetahuan manusia. Dengan kata lain, tidak sedikit orang yang memperlakukan astrologi layaknya pepatah habis manis sepah dibuang.

Menihilkan astrologi dari peta pengetahuan manusia tidak kurang dari upaya mengamputasi sejarah perkembangan sains. Dan kita tahu bahwa tidak sedikit harga yang harus dibayar ketika terjadi amnesia terhadap sejarah (sains). Sains akan menjadi semakin fasistik, yaitu menganggap bahwa hanya dirinya yang menjadi lebih unggul daripada bentuk pengetahuan lainnya. Sedikit-banyak hal tersebut mirip dengan penyakit yang bernama saintisme.

Bila astrologi masih eksis di dalam kebudayaan, maka tidak ada alasan yang cukup meyakinkan untuk menolak astrologi masuk ke dalam komoditas isu pendidikan multikultural. Isu multikulturalisme menjadi kering jika hanya mencermati persolan etnisitas yang terberi. Di satu sisi, pengerucutan isu multikulturalisme hanya pada persoalan etnisitas sama saja dengan mengerdilkan keluasan dan kedalaman entitas kebudayaan. Di sisi lain, kecurigaan bahwa pengerucutan isu tersebut hanya untuk semakin melanggengkan fasisme sains dan/atau saintisme patut untuk selalu dipelihara sebagai wujud antisipasi setiap orang.

Magi

Tidak jarang kita menemukan fakta bahwa korban pencurian, atau tindak kejahatan lainnya, menggunakan jasa dukun untuk menelusuri siapa pelaku pencurian atau tindak kejahatan lainnya. Kepolisian barangkali juga ‘dapat’ menggunakan jasa tersebut untuk membantu tugas penyelidikan, penyidikan, serta penangkapan. Apabila visualisasi yang diberikan oleh dukun dapat dikawinkan dengan alat dokumentasi kekinian, maka tidak tertutup kemungkinan hal tersebut dapat dipertimbangkan oleh para ahli hukum untuk masuk ke dalam salah satu barang bukti dan/atau mode pembuktian di pengadilan.

Pasangan calon bupati, walikota, gubernur, anggota dewan, hingga presiden sekali pun memiliki “penasihat spiritual” guna menopang upaya kampanye serta penyelenggaraan pemerintahan ketika telah terpilih. Konon, tidak ada satu kedutaan Amerika Serikat yang tersebar di seluruh negara yang tidak memiliki paranormal atau sebutan lainnya yang sejenis.

Hal tersebut menunjukkan bahwa entitas magi memang menjadi bagian yang inheren dengan realitas sosial, politik, dan kebudayaan. Akan tetapi, mengapa hingga saat ini belum terjadi integrasi yang massif ke dalam sistem pendidikan? Dengan atau tanpa integrasi ke dalam sistem pendidikan, magi serta pelbagai bentuk pengetahuan lainnya akan terus eksis di dalam arus sungai sejarah. Membiarkannya berkembang di luar sistem pendidikan tidak lebih aman ketimbang mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan yang masih dapat diatur oleh negara.

Ketiadaan kesetaraan akses di antara pelbagai bentuk pengetahuan sepertinya hanya lebih disebabkan ketidakbiasaan, dan pendapat yang berdasar pada ketidakbiasaan bukan bagian dari argumen yang meyakinkan. Apakah negara khawatir bahwa warga negara tidak akan dapat dikontrol karena memiliki kemampuan magi? Afirmasi terhadap pertanyaan yang terakhir ini akan terdengar konyol di telinga saya, layaknya pendapat saya akan terdengar konyol di telinga Anda.

Qusthan Abqary

Direktur Lembaga Seni & Budaya HMI

Email : qusthan@pbhmi.net

Sumber: http://blog.abqary.net/2008/10/17/ketidaksetaraan-dalam-sistem-pendidikan/