Eep S Fatah: Cerita Kaca Buram Istana

Oleh; Eep S Fatah

Cerita berseri ini adalah pertanggungjawaban saya atas pujian dan kritik-kritik saya terhadap SBY selama ini, sekaligus untuk melengkapi Cerita Kaca Buram Istana.

Semester ke-2 1994. Saya lupa bulannya. Staf di Jurusan Politik UI memberi tahu “ Ada telpon dari Kolonel Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)” . Saya tidak tahu siapa SBY. Ia sendiri tidak meninggalkan identitas apapun, kecuali pangkatnya. Saya sempat berfikir: ‘Ada urusan apa tentara mencari saya? ‘

Eep S Fatah

Kami akhirnya bicara via telpon. Tahulah saya: Kolonel SBY adalah Assisten Operasi Kasdam Jaya, lulusan Akabri 1973. Mengajak bertemu.  Ternyata SBY baru baca buku (pertama) saya, Masalah dan Prospek Demokrasi di Indonesia, dan mengajak mendiskusikan bab-bab tentang politik tentara. Pertemuan pertama saya dengan SBY terjadi pad a satu malam di akhir tahun 1994, di rumah dinasnya di Cibubur. Saya datang dijemput supir SBY bernama Bambang .

SBY bersama empat orang perwira menengah AD seangkatan (73), termasuk Kolonel (waktu itu) Syamsul Maarif (yg kocak). Mereka juga ikut berdiskusi. Selain diskusi buku saya, kami juga diskusi soal The Future of Capitalism (judul sampul Newsweek waktu itu, dan judul buku Lester Thurow).  Pertemuan ini meninggalkan 3 kesan: (1) fisik – dibanding 4 teman seangkatannya, SBY paling menonjol: tinggi, (masih) ramping, gesture terjaga. (2) Kemampuan komunikasi , SBY terlihat santun, cenderung kendalikan diskusi, tutur katanya terjaga dengan nada yang cenderung datar. Tuturnya baik. (3) Saya yang tidak pernah punya interaksi dengan tentara lumayan terkejut mendapati SBY punya minat diskusi tinggi soal ‘topik-topik yang tidak biasa buat tentara’ .

Terus terang saya terkesan, tapi sambil pasang kuda-kuda karena sudah baca bagian akhir buku Morris Janowitz, The Professional Soldier (1962).  Janowitz menulis tentang Military Intelectual (perwira tentara di masa depan yang melengkapi diri dengan kecakapan intelktual, semata untuk pencanggihan diri. Pertemuan pertama itu diakhiri dengan ajakan SBY untuk segera bertemu lagi, melanjutkan diskusi tentang banyak soal yang menarik. Saya menyetujuinya.

Pertemuan ke-2 terjadi tak lama kemudian , beberapa ajakan makan siang di suatu weekend di rumah dinasnya. Bu Ani menata meja dan makanan serta melayani dengan ramah.  Di pertemuan ke-2 ini pula saya berkenalan untuk pertama kali dengan Agus Harimurti dan Edi Baskoro (Ibas) yg tentu saja masih ‘kecil’. Saya diajak SBY masuk ke perpustakaan pribadinya, di sebelah kanan ruang makan. Ada sekitar 1500-an judul buku di ruang sempit agak memanjang itu.

Koleksi buku SBY lumayan beragam. Yang terekam dalam ingatan saya: kemiliteran, politik, sejarah, agama, sosiologi, ekonomi dan bisnis, serta filsafat. Kesan saya dari dua pertemuan itu, yaitu, SBY meman membaca buku, bukan sekedar mengoleksinya. Minat bacanya berspektrum luas. Ia juga senang mendiskusikan yang sudah dibacanya.

Di atas meja kerja SBY terbuka-telungkup (mungkin sedang dibaca) buku Ernest Gellner, Menolak Posmodernisme (terj. Postmodernism, Reason and Religion) . Dalam pertemuan ke-2 ini saya juga seperti mendapat durian runtuh. SBY memperlihatkan tulisan tangannya di bagian dalam cover ( belakang diary Kodam Jaya)nya.

Seingat saya, judulnya: Catatan untuk Kepemimpinan Nasional Saat Ini. Terdiri dari 5 catatan yang ditulis dengan bahasa terjaga.  Di perjalanan pulang, saya segera catat kelima butir itu mumpung masih segar dalam ingatan. Mencatat seperti ini jadi kebiasaan saya sejak lama, hingga sekarang. Tapi, saya tak punya waktu untuk bongkar-bongkar timbunan catatan-catatan itu sekarang. Kurang lebih, kelima hal tersebut adalah:

1. Berhasil memimpin dalam rentang waktu panjang tanpa mengagendakan regenerasi secara layak.2. Berhasil menjadi pemimpin yang kuat namun kurang senang mendengar kritik.

3. Tegas mengendalikan pemerintahan namun cenderung membiarkan pelanggaran dilakukan oleh orang-orang terdekatnya.

4. Berhasil membangun dengan tumpuan stabilitas politik tapi kurang memberi ruang bagi dinamika politik.

5. Sangat kuat berhadapan dengan oposisi tapi sangat lemah menghadapi keluarganya.

Dalam pertemuan pertama saya dibuat terkesan oleh minat kuat SBY terhadap diskusi. Yang mengesankan dari pertemuan kedua adalah keluasan spektrum bacaannya dan kelima catatan itu! Catatan SBY ini mengejutkan. Karena tak punya pergaulan dengan tentara, saya tak pernah bayangkan ada perwira AD mengkritik Presiden . Jangan lupa! Itu 1994, ketika kekuasaan Soeharto sedang ‘lucu-lucunya’-nya dan tak ada seorangpun pengamat secara meyakinkan meramalkan kejatuhannya.

Selanjutnya, saya akan bercerita tentang SBY di Awal Reformasi, Pilpres 2004, SBY sebagai Presiden, Kekuatan-kekuatan SBY, Klemahan-kelemahan SBY, dan Saran-saran Saya untuk SBY