Selamat Datang Liburan

Selamat Datang Liburan
HIMNEWS.COM – Lelah bercampur keceriaan, telah mengiringi perjalanan mahasiswa sehabis ujian akhir semester (UAS). Hal demikian sering kita kenal dengan libur panjang menjelang pergantian semester.
Setelah menjalani kesibukan dengan berbagai aktifitas perkuliahan maupun aktifitas-aktifitas yang lain, kini saatnya mahasiswa menemui ruang kebebasan rutin di dalam melewati liburan itu. Akan tetapi, tidakkah kita pernah memikirkan bahwa ternyata, bila kita hitung-hitung secara matematis, aktifitas perkuliahan kita lebih minim dibandingkan dengan liburnya. Terus mau apa kalau demikian?
Perlu diketahui bahwa, antara porsi libur dengan hari aktif perkuliahan terlalu banyak selisihnya. Kalau boleh dikatakan, lebih banyak liburnya dari pada masuk perkuliahannya. Asik dong….! Kalender akademik yang mengatur itu kadang-kadang juga tidak sesuai dengan kenyataan. Terus buat apa pake’ cetak kalender akademika…? Ah, itu bukan urusan kita.
Realitas demikian perlu kita cermati ulang, mahasiswa pribumi yang masih perlu berulang-ulang untuk sekedar memahami satu materi perkuliahan harus dipaksa untuk mempersingkat pemahamannya layaknya mahasiswa internasional yang cukup kuliah lewat metode instant virtual yaitu e-mail saja.
Lebih lanjut, libur panjang yang masih perlu ditinjau ulang tersebut, ternyata tidak hanya merugikan waktu mahasiswa saja, melainkan dosen sebagai pengampu juga memaksakan diri untuk kejar tayang dalam menuntaskan episode materi perkuliahan. Nah, dengan begitu kita bisa menilai bahwa libur panjang sudah banyak menyita waktu bagi mahasiswa maupun dosen. Bukankah begitu?
Yang tidak kalah menarik lagi, mahsiswa harus bingung sendiri mengatasi realitas demikian, karena harus mencari aktifitas pengganti untuk menunjang kreatifitas nalar-pikir di waktu libur sedang berlangsung.
Fenomena ini sudah menjadi tradisi bertahun-tahun di kampus kita. Padahal bila kita mau sekedar menilik liburan yang ada dikalangan universitas-universitas tetangga yang ada di nusantara ini, libur akhir semester tidak separah dan sepanjang di kampus kita, bukankah hal ini malah menjadikan perkuliahan hanya sebatas rutinitas formalistik semata, tanpa adanya efektifitas waktu yang ada. Kuliah (sekolah bagi mahasiswa) hanya sebagai kedok strata sosial yang membingungkan jika seperti itu relalitasnya.
Dalam dunia pendidikan, liburan itu hanya sebatas refresh’s (istirahat otak). Melihat fenomena liburan panjang seperti ini, orang tua di rumah ternyata juga kena (kecipratan: jawa) getah-nya. Bagaimana tidak, melihat anaknya yang semestinya liburan dimanfaatkan untuk beresantai dan membantu problematika di rumah seadanya, ternyata malah semakin menjadi panjang urusannya.
Dengan 2 bulan libur mahasiswa tidak jarang meminta hal yang aneh-aneh kepada orang tua untuk bisa mengisi waktu luangnya, mulai dari minta uang buat kursus, pariwisata, dan belum lagi tetek-bengek lainnya. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah terlebih-lebih yang paling konyol saat dihadapkan pada waktu liburan. Bagaimana tidak, lagi enak-enaknya menikmati waktu liburan dirumah, masih saja ada hal-hal yang harus diselesaikan dikampus mulai dari ngambil “nomor undian” buat pemograman, menyelesaikan tugas susulan dan masih banyak lagi kegiatan yang harus ditempuh oleh para mahasiswa Tarbiyah.
Tidakkah hal ini malah membuat semuanya jadi serba sulit dan ruwet, dan tidakkah tradisi seperti ini seharusnya ada semacam (pembaharuan tradisi) untuk lebih mempermudah dan menyederhanakan waktu buat kita (baca : Mahasiswa Tarbiyah). Apakah hal seperti ini akan selalu terjadi dan terulang, bukankah para petinggi kita juga punya hati nurani untuk sekedar memberikan kemudahan dan jalan yang terbaik bagi kita. Karena mahasiswa akan patuh dan berkembang system nalarnya manakala kebijakan yang turun untuk mahaswiswa memang rasional. Atau jangan-jangan mahasiswa hari ini (kita) memang terlalu hanyut dalam hegemoni halus system yang berjalan, sehingga kita buta akan hal-hal kecil yang semestinya bisa kita lakukan.
Mulai membuat serta menyiapkan gagasan alternative untuk kemudian digodok dalam rapat-rapat kelembagaan akademika. Mungkinkah? Untuk itu, jangan mudah senang dengan libur panjang yang membawa sekian rangkaian problem, akademis, ekonomi, dan watak kepribadian yang malasssss. Wallahu a’lam…
M. Faid Walhakim *

* Penulis adalah aktivis Yayasan Kualita Lima Surabaya