Mroyek Bin Proyek

Terorisme Juga Katanya Proyek

HMINEWS.COM- Negara ini itu negara proyek. Administrasinya administrasi proyek. Nasionalismenya nasionalisme proyek. Kebijakannya kebijakan proyek. Isu-isunya juga isu-isu proyek. Hukumnya hukum proyek. Pokoke semuanya proyek, proyek, dan proyek bin proyek.

Kalau ada isu “ganyang Malaysia”, percaya deh, paling juga itu akal-akalane tentara-tentara yang kecapekan nganggur nggak ada kerjaan nggak ada duit anggaran senjata yang bisa ditempil. Kalau ada isu “Indonesia itu negara maritim”, paling itu juga proyeknya tentara laut yang ngiri sama tentara darat yang kebagian banyak proyek di Aceh plus Papua. Pendidikan 20% apalagi, proyek banget itu (siapa coba yang paling banyak menikmati yang 20% itu?). Mentri aja jumlahnya naudzubillah banyaknya, sampai 20 lebih, apa nggak keliatan banget tuh tendensi proyek-isme-nya? Dari agama sampai urusan celana dalam, semua isinya proyek?

Lalu bagaimana? Mau melawan itu semua? Bah, jangan salah, Che Guevara aja di negara ini bisa diproyekin, apalagi cuma perlawanan-perlawanan berbasis komunitas dan isu spesifik. Dari HAM sampai anti korupsi, semuanya proyeksi dari dari proyek-isme LSM-LSM khas Indonesia. Coba saja LSM-LSM itu programnya nggak lolos seleksi funding kayak HIVOS, Ford, atau Sampoerna, mana mau mereka capek-capek ngurus korupsi apalagi HAM. Jangan-jangan identitas yang sekarang sampeyan pakai dan sampeyan ugemi itu juga hasil dari proyek-proyek sejarah masa lalu?

Pilihannya hanya dua sodara-sodara, diproyekin atau mroyekin. Saya pilih dua-duanya.

[]GM Nur Lintang Muhammad