Di Balik Optimisme atau Pesimisme: Pembicaraan Damai Israel-Palestina

Di Balik Optimisme atau Pesimisme: Pembicaraan Damai Israel-Palestina

Hussein Ibish
HMINES.COM, Washington DC– Meskipun upaya memperbarui perundingan Israel-Palestina – pembicaraan langsung pertama dalam hampir sepuluh tahun yang diperantarai Amerika Serikat – umumnya disambut dengan pesimisme oleh banyak pengamat, kenyataan bahwa perundingan itu dilanjutkan kembali sebenarnya merupakan sebuah prestasi sendiri bagi Presiden AS Barack Obama dan pemerintahannya. Diperlukan hampir satu tahun diplomasi intensif untuk membuat perundingan langsung ini berjalan.

Baik Israel maupun Palestina mengaku puas dengan babak pertama pembicaraan di Washington, dan suasana hati delegasi Palestina khususnya tampak membaik seusai perundingan babak pertama ini. Menjelang babak kedua yang diadakan di Mesir, para pejabat AS termasuk Obama, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell, semuanya melontarkan komentar yang optimis.

Sebelum pembicaraan dimulai, perhatian baik di Timur Tengah maupun di Barat umumnya terarah pada kendala-kendala yang sudah tampak akan menghambat pencapaian kesepakatan: lemahnya kepemimpinan politik di kedua pihak, kuatnya pihak oposisi masing-masing, tidak adanya kesalingpercayaan di antara pihak-pihak tersebut, belum terselesaikannya masalah perluasan permukiman dan, yang paling penting, perbedaan yang sulit dijembatani menyangkut masalah-masalah status akhir, termasuk masalah perbatasan, hak pengungsi untuk kembali, Yerusalem dan keamanan. Masalah Yerusalem khususnya tetap tampak menemui jalan buntu. Beberapa anggota kabinet Israel menegaskan bahwa penguasaan atas Yerusalem tidaklah perlu dirundingkan, sementara Palestina tidak akan mau membahas kesepakatan yang tidak memberi mereka ibukota di Yerusalem Timur.

Semua masalah ini akan sangat sulit diselesaikan, tapi tentulah terlalu dini – dan kontraproduktif – untuk menganggap perundingan ini tidak berarti atau ditakdirkan gagal hanya karena sulitnya mencapai sebuah kesepakatan.

Dalam banyak kasus, pesimisme adalah akibat dari berfokus hanya pada rintangan, dan bukan pada rangsangan bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan. Dalam kasus-kasus lain, pesimisme itu sebenarnya lebih mencerminkan penentangan terhadap suatu kesepakatan yang dinegosiasikan berdasarkan kompromi yang serius. Ini termasuk kompromi jangka pendek oleh Israel atas masalah-masalah seperti penguasaan wilayah oleh Otoritas Palestina di Tepi Barat dan meningkatnya tindakan keamanan yang dilakukan oleh orang Palestina, dan kompromi jangka panjang yang dibutuhkan dari Israel soal Yerusalem, dan dari orang Palestina soal hak kembali bagi para pengungsi.

Sama halnya, optimisme yang berlebihan juga muncul dari sebagian kalangan begitu pembicaraan berlanjut, meski belum ada capaian konkrit sejauh ini. Tontonan politik paling menarik yang dirancang oleh Gedung Putih adalah dilemahkannya suara tak setuju beberapa tokoh yang skeptis, termasuk negosiator veteran Aaron David Miller, sehingga mereka menilai proses perdamaian mungkin saja bisa berjalan. Kegigihan pemerintah AS dalam masalah ini, ditambah dengan kehadiran para pemimpin Israel dan Palestina yang bersikeras bahwa mungkin saja akan ada sebuah kesepakatan, setidaknya untuk sementara berhasil mengubah pandangan sebagian orang yang sinis.

Di Balik Optimisme atau Pesimisme: Pembicaraan Damai Israel-Palestina

Selain itu, ada bukti tentang efektifnya pengaruh Amerika terhadap pihak-pihak yang terlibat, kalau tidak terhadap antusiasme mereka untuk berunding dengan yang lain: Israel tidak mau pembunuhan empat warga dekat Hebron oleh Hamas saat pembicaraan berlangsung membuat mereka menarik diri, dan Palestina tidak mau serangan armada bantuan pada bulan Mei atau kontroversi tentang pemukiman yang tengah terjadi mencegah mereka untuk tidak hadir.

Bahwa pembicaraan tengah berlanjut dalam situasi sulit seperti itu adalah bukti kemauan para negosiator, pengaruh Amerika Serikat dan keengganan Israel dan Palestina untuk disalahkan setiap ada kegagalan. Baik kalangan yang optimis maupun yang pesimis tidak akan merasa ada sesuatu yang telah terjadi dalam perundingan sejauh ini yang benar-benar melemahkan asumsi mereka. Tapi orang-orang yang pesimis harus ingat bahwa jika perundingan berhasil dan mengantar pada sebuah kesepakatan damai, mereka tentu akan belajar menerima.

* Hussein Ibish adalah peneliti senior American Task Force on Palestine. Ia menulis blog www.ibishblog.com. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.