Herdi Sahrasad: Kepemimpinan Pak Beye Lemah, Demokrat Payah!

Aktivis prodemokrasi dan Peneliti Senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Herdi Sahrasad

HMINEWS.COM- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jangan mau lagi disandera koalisi parpol, sebab justru membuatnya kehilangan kepercayaan rakyat. Ingat bahwa rakyat yang memilih SBY jadi presiden, bukan parpol. SBY harus memperkuat  kepemimpinannya empat tahun ke depan agar tidak dianggap sekedar pepesan kosong.

Aktivis prodemokrasi dan Peneliti Senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Herdi Sahrasad, menegaskan hal itu, Minggu malam (24/10).

‘’ Karena kepemimpinannya lemah, juga Demokrat sendiri payah, SBY mudah dicekik koalisi parpol dan kurang leluasa bergerak dalam pemerintahan. SBY masih tersandera politik akomodasi yang salah satunya bersumber pada kurang solidnya koalisi, seperti yang dikatakan anggota Dewan Pembina PD, Ahmad Mubarok. Namun ada beban pada SBY yakni kasus Century, mafia pajak, rekening gendut Polri, dan aneka skandal lain yang membuat publik ragu pada komitmen SBY basmi korupsi,Beban itu harus dituntaskan, ’’ kata Herdi, pengamat ekonomi-politik.

Tentu saja.  kita tak bisa hanya menyalahkan koalisi, sebab pada dasarnya SBY sendiri masih lemah dan kepemimpinannya gamang serta mudah goyah.

Dalam diskusi Lembaga Penegakan Hukum dan Stratregi Nasional, Enam Tahun Pemerintahan SBY dan Wajah Hukum Negeriku, yang digelar di Restoran Bumbu Desa, Jakarta, Minggu (24/10/2010), Mubarok menerangkan bahwa, politik akomodasi itu pemicunya adalah banyaknya kekurangan dalam sistem presidensiil di Indonesia. Menurutnya terdapat sistem yang tumpang tindih dan malah tidak tepat saaran.

“Persepsi tersandera oleh politik akomodasi karena sekarang sistem presidensilnya setengah hati,” tandasnya.

Mubarok mengakui bahwa start kabinet yang dipimpin oleh SBY-Boediono sekarang kalah greget dibanding periode sebelumnya ketika SBY berduet dengan Jusuf Kalla. Menurutnya hal itu terjadi karena peristiwa yang kebetulan terjadi dan menyita agenda.

“Kabinet SBY-JK agak lancar karena saat masuk gigi satu dan dua aman. Sekarang ini baru mau start sudah muncul kasus Century yang membuat berita pemerintah menghilang selama berbulan-bulan,’’ kata Mubarok.

SBY, kata Herdi Sahrasad, harus menyerap kekuatan intelektual dan profesional dari civil society melalui reshuffle agar pemerintahannya tidak memble. ‘’Para menteri dari parpol nampaknya harus dipangkas SBY untuk merekrut kekuatan baru guna menyegarkan kabinetnya yang letoy, lelet dan lamban,’’ kata mantan visiting fellow di Monash University dan Indiana University, AS itu. []rima/ach/dni