Yang Perlu Dipertimbangkan saat Meliput Kekerasan Agama

Meliput Kekerasan Agama

Samiaji Bintang
HMINEWS, Indonesia – “Sejauh mana liputan media tentang terorisme memberi andil membesarkan para teroris?” tanya seorang anggota milis “Jurnalisme” yang diikuti sejumlah praktisi media, jurnalis, aktivis LSM dan mahasiswa yang tertarik dengan media dan jurnalisme. Pertanyaan itu juga menghantui benak saya yang juga tergabung dalam milis tersebut.

Di era digital ini, di tengah persaingan di antara media, para jurnalis selalu tampak berlomba dengan waktu. Ada anggapan bahwa saluran berita terbaik adalah yang paling cepat menayangkan laporan berita, meskipun dengan risiko mengorbankan akurasi dan kedalaman.

Inilah yang sering terjadi dalam pemberitaan media tentang kekerasan dan aksi teror atas nama agama. Verifikasi fakta, yang menjadi prinsip utama kerja jurnalistik, dikalahkan oleh tuntutan untuk menayangkan berita sesegera mungkin, sering kali dengan mengandalkan informasi dari satu atau dua sumber saja, seperti aparat kepolisian atau pemerintah.

Aksi teror yang mengatasnamakan agama dan intoleransi antar pemeluk agama untuk kesekian kalinya menjadi tema berita utama media-media di Indonesia. Berita-berita utama belum lama ini dijejali oleh pemberitaan serangkaian perampokan bersenjata di Sumatra Utara yang diduga terkait sebuah jaringan teroris, sebuah serangan atas masjid Ahmadiyah di Bogor, dan penganiayaan dua pemimpin gereja di Bekasi.

Terkait peristiwa-peristiwa ini dan lainnya, media menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat. Namun, alih-alih membantu mencegah konflik meningkat, media tampak terjebak dalam sensasionalisme.

Tengok saja penggunaan label dan judul berita di media massa: kata-kata seperti “kaum radikal”, “garis keras”, “fundamentalis” dan bahkan “teroris” sering oleh media dikaitkan dengan Islam dan Muslim. Pemilihan dan penggunaan istilah-istilah ini sering kali sangat bias, dan menebar citra negatif tentang semua umat Islam, termasuk juga mereka yang mengecam kekerasan atas nama agama.

Tanggung jawab media tidaklah sekadar menyampaikan dan menyuguhkan informasi yang akurat. Media juga harus sadar akan kemungkinan adanya dampak negatif dari pewartaan yang intensif tentang isu-isu agama.

Untuk mengubah tren ini, saya menyarankan media sebaiknya mengacu pada tindakan kriminal yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok pelaku. Misalnya, daripada menggunakan istilah-istilah di atas, media seharusnya menggunakan kata “pembom” untuk seseorang yang bersalah membuat dan/atau meledakkan bom, “perampok bersenjata” untuk menyebut seseorang yang melakukan perampokan dengan senjata, dan “perusak rumah ibadah” untuk menyebut seseorang yang merusak tempat ibadah. Dengan menyebut para pelaku sebagai “kawanan penjahat” dan bukannya “kaum radikal” atau “kelompok garis geras”, akan mencegah orang-orang itu membajak agama untuk membela tindakan mereka yang kejam dan tidak dibenarkan oleh agama.

Pada 2006, International Center for Journalists (ICFJ) menerbitkan sebuah buku berjudul, Fighting Words: How Arab and American Journalists Can Break Through to Better Coverage. Meski judulnya demikian, buku ini juga memberikan rekomendasi membangun yang penting bagi para jurnalis di belahan dunia mana saja. Tiga rekomendasi penting yang saya ingat terkait isu agama:

Pertama, para wartawan dan awak media perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang budaya dan agama. Saya menyarankan awak media menghadiri atau mengikuti forum-forum lintas budaya seperti konferensi-konferensi yang diadakan oleh ICFJ dan Aliansi Peradaban PBB (UN Alliance of Civilizations).

Kedua, para jurnalis yang meliput isu-isu agama perlu menghindari stereotipe dan sensasionalisme. Lebih khusus lagi, mereka perlu menyertakan hal-hal detail dan kontekstual yang memadai dalam berita, dan juga memverifikasi fakta dan memberikan laporan yang adil dan berimbang.

Ketiga, ruang berita perlu merumuskan kosa kata-kosa kata yang bisa disalahartikan, membuat kebijakan tentang penggunaan kata-kata tersebut dan membuat panduan pemuatan gambar, yang harus selalu ditinjau ulang setiap saat.

Keragaman menjadi masalah bila media mengabaikan tanggung jawab sosialnya untuk mewartakan benturan yang timbul akibat keragaman ini secara profesional. Namun, keragaman agama juga bisa memperkaya peradaban manusia sekaligus menjadi sumber pemberitaan media yang tak pernah kering.

###

* Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature Service (www.acehfeature.org), yang meliput situasi Aceh pasca tsunami dan pasca konflik. Ia ikut serta dalam pelatihan tentang peliputan lintas budaya yang diselenggarakan oleh Aliansi Peradaban PBB, International Center for Journalists dan Search for Common Ground di Jakarta pada Februari 2010. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).