Media Semakin Kabur

Media Semakin Kabur

Di tengah perang setengah hati melawan koruptor, ternyata media pun melakukan hal serupa. Media yang seharusnya bisa memberi terang, justru mengaburkan  kebenaran. Itu terlihat bagaimana media, dengan gayanya sendiri-sendiri, mencoba menampilkan adegan-adegan yang begitu naifnya. Gali isu, tutup isu, timpal isu, gali lagi, semua dimainkan dengan apik dan dramatis.

Memang tidak semua. Namun itu terlihat jelas khususnya pada media yang, pemiliknya adalah “pemain” penting di pemerintahan. Seperti kasus Gayus H. Tambunan. Ketika surat kabar mara menyebut suara Aburizal Bakrie, tidak lama kemudian TV-One (miliknya) dengan berbagai caranya yang khas mengemasnya dengan indah tanpa menyentuh Aburizal Bakrie, juga tentu saja keluar dari substansi masalah. Sehingga apa yang terjadi dalam kasus tersebut seolah-olah berputar-putar tak jelas.

Masyarakat dibuat menjadi sedemikian rupa bodohnya tentang politik. Jika masyarakat tidak mengerti dan kemudian jenuh, maka saat itulah media berhasil menimbun isu baru yang barang tentu fantastis dan bombastis. Memang pada berbagai surat kabar telah dilakukan upaya investigasi, namun agaknya masyarakat kita belum terbiasa membaca naskah panjang, mereka lebih suka mendengar dan melihat.

Kasus-kasus besar seperti Century, adalah kasus yang masyarakat tidak menyadari bahwa dalam kasus tersebut ada mata rantai yang kokoh. Jika salah satu dari mata rantai tersebut usang dan terancam putus, maka saat itulah elit-elit politik kita memanfaatkan kuasanya untuk menyelamatkan kedudukannya.

Pemerintahan kita sudah menyerupai sebuah Dinasty saja. Mereka bergerak masing-masing dengan komando yang teratur. Inilah yang akhirnya segala kasus menjadi kabur, sementara masyarakat sendiri sudah bosan dengan politik carut-marut tersebut. Masyarakat kita dipaksa untuk menyaksikan secara langsung pertarungan “jago” negara. Harus diakui bahwa pemerintah SBY, sesak penuh oleh aktor-aktor yang piawai berperan.

Lalu bagaimana kita menilainya? Tak perlu bersusah payah kita menimbun segala informasi, karena sejatinya media pun sudah dimanipulasi oleh jago-jago pemerintah. Mahasiswa sudah saatnya bergerak tanpa harus terpengaruh media, namun mahasiswalah yang harus mempengaruhi media. Tidak ada kata lain yang tepat disandang oleh rezim SBY selain “Kebohongan”.

Sudah saatnya mahasiswa mampu berkaca lebih jernih. Selamat bergerak, kekuatan hanya ada di jalanan!.[] Respati Wasesa