Media Jauh Dari Harapan Masyarakat

Media Jauh Dari Harapan Masyarakat

Hari ini media massa telah keluar dari relnya, sebagai alat untuk menyuarakan kepentingan publik media telah jauh melenceng, keberpihakan terhadap publik begitu lemah. Alih-alih menyuarakan kepentingan hajat hidup orang banyak, media kini telah tampil sebagai corong para penguasa. Dan ini jelas terbukti dalam perjalan media massa dewasa ini, di saat iklim demokratisasi terbuka luas dimana harapan publik terhadap salah satu pilar negara demokrasi menumpuk, para praktisi media justru melakukan penghianatan.

Hal ini tentu bukan sebuah isapan jempol belaka, semua nyata serta bisa dibuktikan dan nampak. Kita bisa lihat bagaimana media massa dalam memunculkan sebuah pemberitaan dan mengolah sebuah isu. Hampir 70 persen isi pemberitaan media mutlak berhubungan dengan penguasa, lalu kemana porsi untuk rakyat.

Tak  hanya isi pemberitaan yang jumlahnya begitu minim, kebutuhan untuk mendapatkan sebuah informasi yang utuh serta benarpun rasanya sulit untuk dijawab. Ketimbang mengabarkan media lebih suka mengaburkan. Inilah gambaran tentang sebuah transformasi dalam dunia media. Dari sebuah lembaga kontrol serta pemenuh hak masyarakat akan informasi berubah menjadi sebuah lembaga bisnis serta alat kepentingan.

Lalu dimanakah masyarakat akan menumpukan harapannya ketika media tak lagi mampu menjalankan perannya dan masyarakat tak juga mendapatkan haknya. Kondisi demikian mengingatkan kita pada masa awal pergerakan pra Indonesia meredeka, dimana saat itu masyarakat pribumi haus akan sebuah informasi mereka juga membutuhkan sebuah media dimana ia tak hanya menjadi sebuah bahan bacaan melainkan sebagai alat pembelaan.

Hingga akhirnya Raden Mas Tirto Adi Suryo tampil bersama Medan Prijaji pada tahun 1907 sebagai media massa pertama dibentuk oleh seoarang pribumi dan satu-satunya media masa yang berani dengan lantang melakukan sebauh pembelaan terhadap masyarakat pribumi sekaligus menjadi alat propaganda dalam rangka pembentukan opini publik.

Dalam buku berjudul Jejak Langkah Pramoedya Ananta Toer menggambarkan betapa hebatnya Medan Prijaji dimasa itu, sebagai alat pembelaan hak rakyat Medan mampu menjalankan peranya begitu gemilang. Masyarakat yang pada kala itu buta akan hukum serta menjadi objek eksploitasi hukum dan kerap ketakutan perlahan tapi pasti mulai berani. Kondisi demikianpun yang akhirnya sedikit demi sedikit merong-rong kekuasan kolonial. Meskipun akhirnya dibredel sedikitnya Raden Mas Tirto Adi Suryo telah meletakan fondasi awal dalam sejarah pers di Indonesia. Setidaknya dalam dirinya ada sebuah harapan tentang gambaran akan sebuah media ?

Mengaca sejarah awal pembentukan pers di Nusantara dan melihat dengan kondisi saat ini tentu rasa prihatin itu tentunya akan muncul. Padahal bila kita telisik kondisi saat ini dengan kondisi saat itu atau era sebelum Indonesia merdeka tak jauh beda. Hanya ruang dan waktunya saja yang kemudian berbeda. Toh nyatanya masyarakat hari ini masih jadi objek eksploitasi di depan hukum dan mengalami penidasan oleh pemerintah. Kasus Prita Mulya Sari serta dipenjarakanya sang nenek tua hanya karena buah kakao adalah kenyataan yang harusnya mengores nurani.

Untuk itu hari ini sudah saatnya media massa kembali pada semangat awalnya yakni sebagai alat kontrol dan pemenuh harapan publik kalau bisa sebagai alat untuk melakukan pembelaan bagi mereka yang terdzholimi. Pertanyaannya mampukah ? Sebuah impian yang sulit tentunya jika media masa dikuasai oleh orang-orang macam Abu Rizal Bakrie serta Surya Paloh, yang terang-terang menggunakan media sebagai alat kepentingan.

Namun tak ada kata terlambat tentunya selama kita mau mencoba, dan HMI NEWS sudahkah menyuarakan kehendak publik seberapa kuat media pergerakan ini melakukan pembelaan kepada masyarakat. Sebuah pertanyaan yang layak untuk dijawab.

Oleh Ivan Faizal Affandi, Mahasiswa Universitas Islam 45 Bekasi