Unpad Gelar Festival Film Dan Video Klip

Unpad Gelar Festival Film Dan Video Klip

HMINEWS- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Cinematography Club Fikom Unpad mengadakan festival film dan video klip bertaraf lokal dengan tajuk Festival Padjadjaran (Festpa) 2011.“Kita yang pertama mengadakan festival bertaraf lokal di Bandung. Festival-festival yang selama ini diadakan di Bandung bertaraf nasional seperti Festival Film Bandung (FFB) atau Liga Film Mahasiswa ITB. Padahal teman-teman di Bandung memiliki banyak karya, dan itu belum bisa tersalurkan,” ungkap Direktur Festival Festpa 2011, Aji Hendratmojo, ditemui pada saat hari pertama penyelenggaraan Festpa 2011 di Bale Rumawat Padjadjaran, Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (27/01).

Festpa 2011 sendiri akan berlangsung selama tiga hari pada 27-30 Januari 2011 dan bisa mulai dikunjungi dari jam 10.00 – 21.00 Wib setiap harinya. Kegiatan ini akan diisi dengan berbagai acara diantaranya pemutaran film dari Program Kompetisi Film & Video Klip, diskusi film, pemutaran film spesial “Prison and Paradise” dan “Jakarta Magrib” serta malam penganugerahan untuk para pemenang Festpa 2011.

Aji mengatakan bahwa rangkaian kegiatan diawali dengan screening sejumlah film dan video klip dari para peserta lokal Bandung. Akan ada 35 buah film dan 22 video klip yang akan diseleksi terlebih dahulu. Menurutnya tidak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kompetisi film ini, hanya film atau video klip yang dibuat harus merupakan buatan orang Bandung atau yang berdomisili di Bandung.

“Untuk tema, kita bebaskan. Tidak ada batasan tertentu, yang penting diproduksi oleh orang Bandung atau yang berdomisili di Bandung saja. Film dan video klip yang ditayangkan sekarang ini adalah yang telah diseleksi, dan berjumlah 12 buah. Untuk pemenang kita hanya akan memilih tiga terbaik dari masing-masing kategori,” tambahnya.

Aji berharap acara yang pertama kali diadakan ini bisa meriah dan bisa memberikan kegembiraan kepada semua orang yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Menurutnya akan menjadi sebuah penghargaan kepada filmmaker Bandung ketika film buatannya bisa ditonton oleh banyak orang, apalagi bisa sampai menang dan mendapatkan penghargaan.

“Semoga acara ini bisa berjalan meriah dan membuat semua orang bergembira. Award yang akan diberikan itu menjadi bentuk apresiasi kepada film maker selain sambutan dan antusias penonoton yang mereka harapkan,” tuturnya.

Beberapa judul film yang mungkin menarik untuk ditonton diantaranya, Paranoia, Jantan, Battle-War In Heart, Benting, Loloni, Grace dan masih banyak lagi. Untuk video klip ada Slow Mo Smile dari Bottlesmoker, Hari Untukmu dari Rocket Rockers, Hanya Bayangan-nya Soul I.D dan banyak lagi

UNDP : Minat Baca Orang Indonesia Rendah!

UNDP : Minat Baca Orang Indonesia Rendah!

HMINEWS- Survei  UNDP (United Nation Development Program) menyebutkan  Indonesia merupakan negara yang rendah minat bacanya. Laporan UNDP itu menyimpulkan rata-rata orang Indonesia hanya membaca satu judul buku atau bahkan tidak membaca sama dalam sekali satu tahun.

“Keadaan kita beda jauh dengan masyarakat Belanda yang membaca 30 judul buku dalam satu tahun. Untuk kawasan Asia, Indonesia kalah dari Thailand yang membaca 5 judul dalam satu tahun,” kata Sani B. Herwaman, psikolog anak dan direktur Lembaga Psikologi Daya Insani dalam peluncuran buku “Juven Sahabat Sejati,” di F Cone, FX Mall, Jakarta, Kamis (27/1/2011).

Sani mengatakan minat baca harus ditumbuhkan sejak anak-anak lahir. “Penelitian mengungkapkan anak yang sejak lahir diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita akan mempunyai kemampuan verbal lebih tinggi dibandingkan yang didiamkan saja,” kata Sani.

Menurut Sani orang tua masa kini lebih cenderung mengajak anak-anak mereka ke mall daripada membaca buku. “Anak-anak itu juga lebih tertarik untuk bermain game atau menonton televisi daripada membaca buku. Hasilnya anak-anak tidak suka membaca buku,” katanya.

Sani mengatakan bahwa untuk merangsang minat baca anak-anak usia sekolah, orang tua harus mengurangi faktor penghambat seperti game dan televisi. “Saat bermain game anak-anak cenderung tidak memperhatikan keadaan sekeliling dan membuat mereka menjadi individualis,” katanya.

Lebih lanjut dia  mengungkapkan buku merupakan media yang sangat baik untuk melakukan transfer nilai kepada anak serta men-stimuli kreativitas, kemampuan berpikir empirik dan kemampuan linguistik anak. “Hal itu menjawab kebutuhan akan pendidikan budi pekerti selain kebutuhan akademis,” katanya.

“Membaca bermanfaat untuk meningkatkan mental alertness, daya tangkap, kreativitas dan logika berpikir dan meningkatkan wawasan pengetahuan.  Membaca juga menanamkan nilai positif seperti rasa empati, solidaritas, toleransi dan tolong menolong,” katanya.

Menurut Sani, membaca juga bermanfaat membentuk karakter positif dan membangun hubungan emosional hangat dengan orang tua. “Hubungan itu akan terbentuk bila orang tua mengajak anak-anak mereka berdiskusi mengenai suatu topik yang dibaca,” katanya.

Dia juga menyarankan orang tua  agar mengajak anak-anak ke toko buku dan membiarkan mereka memilih buku sendiri.

Melihat ke Arah Tuhan

Melihat ke Arah Tuhan

oleh Taufiq Alimi

Seteguk kopi menghangatkan mulut, kemudian kerongkongan dan membuat mataku lebih terjaga. Perlahan aku lipat sajadah tempat aku melakukan sholat subuh yang kesiangan dan memandang keluar lewat jendela. New York awal musim semi masih tampak kelabu. Beton tinggi menyuram berlomba menjangkau langit kelabu yang menabur gerimis. Angin mengantarkan hawa dingin yang mengiris tulang. Beku, muram menggelisahkan.

Dari jendela kamarku di lantai lima belas hotel Roosevelt, terlihat bergerombol-gerombol orang berjalan memasuki lorong gelap menuju Grand Central Station. Kelompok manusia lain bergegas-gegas keluar berjalan menatap jalan. Senyap, sunyi walaupun jalanan hiruk pikuk.

Seteguk kopi, menghangatkan kerongkongan melapangkan dada. Tanganku menggegam erat mug dan merasakan hangat. Mataku beralih ke tilam. Rieko Mishima tergeletak nyenyak, bernafas berirama. Wajahnya terlihat damai, tengadah ke arah mukaku tadi malam berada. Badannya miring meringkuk, tangannya memeluk selimut kusut. Aku bahagia melihatnya. Aku bahagia melihatnya bahagia bersamaku.

Ini adalah pertemuan kami ketiga sejak kami bertemu setahun lalu di Bali, bukan di tempat wisata tetapi di tempat seminar eko-wisata.Rieko, ia adalah seorang gadis Jepang, berprofesi sebagai biolog yang memiliki perhatian besar pada konservasi kura-kura. Sedang aku environmental economist, yang mencari hidup dari seminar dan pelatihan di berbagai negara.

Kami bersama selama dua minggu dan lalu jatuh cinta. Aku bahagia sejak aku pertama mengobrol panjang dengannya di Kafe La Luciola di Kuta. Di bilang, “Rasanya aku pernah menjumpaimu di kehidupan yang lalu” Dengan iseng aku menjawab, “Yah… dalam inkarnasi sebelumnya kita memang suami isteri yang tewas karena dibom Amerika.

Karena itu kita sekarang sama-sama anti perang, anti pengrusakan, dan devoting our life for life of others” Dia tertawa kecil, dan mukanya merah. “We are soulmate!” Dan sejak itu kita benar-benar soulmate. Walaupun belum menikah kami sudah menjadi pasangan jiwa atau sigaraning nyawa, alias garwa.

Pertemuan kedua kami terjadi ketika dia—sepulangnya dari menengok objek wisata kura-kura bertelur di Turtoguero, Kosta Rika—menjemputku di Sao Paulo Brasil, kemudian kami bersama ke Rio de Janeiro, Frankfurt dan kemudian berpisah di Singapura. Cinta kami bangun di Pantai Copa Cobana, bangku pesawat kelas ekonomi Lufthansa, Sentosa Island di Singapura dan sebuah hotel di kawasan jalan Orchard masih di Singapura.

Mata dan tubuh kami menyampaikan rasa kasih sayang, selain ungkapan I love you yang sering terucap. Tubuh kami berdekatan hanya selama sepuluh hari. Walaupun demikian aku mencintainya, dan bahagia. Aku merasa selalu dekat dengannya sepanjang masa.

Sekarang, kami benar-benar dekat selama dua minggu. Aku baru saja dari Vancouver dan dia memang akhirnya memilih untuk menetap di New Hampshire untuk mengambil gelar doktornya. Kami sama-sama bersepakat untuk bertemu di New York karena di Broadway ada opera yang ingin kami tonton.

Seteguk kopi, mengirim hangat mengusir gelisah yang mulai datang. Gelisah yang datang karena aku tidak tahu masa depan kami. Resah karena latar belakang rupanya menyulitkan kami untuk terus bersama. Tak tenteram karena ayahku di Pati, tak pernah menyetujui anaknya menikah dengan orang yang beda agama. Aku juga gelisah karena siang nanti kami harus kembali berpisah. Aku gelisah, walaupun aku bahagia mencintainya. Kenapa aku harus mengalami ini semua?? Aku melemparkan pertanyaan itu lewat mataku ke arah di mana kusangka Tuhan berada.

***
Mobil sewaan yang aku pakai mulai menyentuh kerikil pelataran pesantren ayahku. Beberapa santri yang baru selesai turun dari masjid mengangguk segan tanpa berani menatap ke arahku. Mendekati garasi, santri putri terlihat malu-malu melirikku sambil memegang ujung kerudung dan mempererat pegangannya pada gulungan mukenanya.

“Assalamu alaikum Gus Rahman…. Baru datang??” sapa Kang Dul Rozi santri yang sering diminta menyopiri ayahku. Dia sedang mengelap mobil Isuzu Panther ayahku.
“Alaikum salam Kang. Iya baru saja sampai. Ayah ada kan??”
“Iya Gus, mungkin masih di masjid….”

Aku masuk, mencium tangan ibuku yang kemudian menciumi pipiku. Ibuku mulai suka memelukku dan menciumi pipiku ketika aku untuk pertama kalinya pulang dari belajar selama 5 tahun di Amerika Serikat. Adikku yang sudah beranak dua membuatkan aku teh hangat, dan sepiring pisang goreng. Ibuku selalu menyediakan pisang goreng untuk berjaga-jaga kalau aku pulang dan untuk mengobati rindunya ketika aku tidak ada. Jadi tiap hari di rumah selalu tersedia pisang goreng. Ayahku masuk, aku mencium tangannya ketika bersalaman, tapi aku tidak memeluk atau dipeluknya. Juga tidak cium-ciuman. Bau ayahku masih sama, wangi minyak dari Mekkah kiriman santrinya yang jadi sopir bus di Jeddah.

Setelah teh di gelas tinggal seperempat gelas ayah tiba-tiba bertanya,
“Kapan kamu menikah??”
Pertanyaan yang tidak ingin aku dengar.
“Entahlah ayah…. calonnyapun aku belum ada”
“Kamu masih pacaran sama gadis jepang itu??”
Aku tidak pernah berani berbohong kepada ayahku, karena aku percaya bahwa dia selalu tahu bila aku melakukannya.
“Kami masih sering….. berkomunikasi”
Aku sengaja mengganti kata berhubungan dengan berkomunikasi, takut ayahku menangkap sesuatu yang aku ingin dia tidak tahu. Sebatas itulah kemampuanku menghindari kejaran pertanyaannya.
“Hmm…. sebenarnya kamu itu ingin enggak sih, hidup di suatu tempat, punya keluarga, dan tinggal tidak jauh dari orang tuamu yang mulai tua ini??? Kamu tidak ingin hidup yang bener??”
Pikirkku hidupku tidak ada salahnya sama sekali, semuanya benar-benar saja. Tapi dia melanjutkan….
“Apa iya kamu tidak capai mondar-mandir dari ujung dunia satu ke ujung dunia lain. Kamu siang malam mencari uang, tapi kekayaanmu cuma ada di dalam kopor dan dompetmu itu. Itu tidak barokah. Kamu juga tidak pernah ingat lagi membayar zakat. Kamu keliling dunia tapi tidak pernah menginjak masjidil haram…. Kamu mengajar orang, tapi kamu tidak memiliki anak untuk kau didik sendiri. Kamu mengajak orang berbuat baik pada bumi, tapi kamu sendiri tidak punya keturunan untuk melangsungkan kehidupan di bumi ini. Kamu mengajak orang untuk menciptakan damai, tapi hatimu sendiri tidak pernah damai”.
Aku hampir memprotes kalimat terakhir ayahku itu, tapi ia keburu menyusul kalimatnya dengan kalimat yang lain…
“Sebenarnya apa sih yang kamu cari dari perempuan. Kamu dari kecil diajari perintah Nabi dalam mencari perempuan. Nikahilah wanitu itu terutama karena agama dan akhlaknya, bukan yang lain. Tapi kamu ini aneh. Sejak dulu kamu pacaran sama orang yang lain agama. Waktu kuliah di Yogya kamu pacaran sama anak tentara yang Katolik…” Itu berarti Alexandra tetangga kost-ku yang waktu itu sekolah di SMA Stella Duce.
“ketika di Amerika pacaran sama wanita Yahudi, kayak kamu tidak tahu apa kata Allah tentang orang Yahudi saja….” Asha Goldstein yang kamarnya dulu bersebelahan denganku sama sekali tidak menggambarkan citra buruk tentang orang Yahudi yang aku dengar sejak kecil. Asha sangat baik hati.
“Ayah pikir setelah kamu tidak menetap di suatu tempat kamu akan ketemu dengan seseorang yang seagama. Eee….. engga tahunya kecantolnya sama orang Jepang yang menyembah matahari” Rieko jelas tidak pernah menyembah matahari. Dia beragama Budha, dan baginya agama tidak terlalu berarti. Dia melihat agama sebagai sebuah tradisi dan sumber ajaran moral yang mengajarkan hal-hal yang kurang lebih sama dengan apa yang diajarkan oleh Islam yang aku pelajari selama ini.

“Kalau mereka mau bersyahadat dan menjadi muslimah tentu saja Ayah tidak keberatan, tapi katamu mereka kan tidak mau”. Sebenarnya dengan Alexandra, Asha dan Rieko aku tidak pernah meminta mereka untuk menjadi muslim. Karena aku merasa mengapa mereka harus pindah agama untuk bisa menikah denganku??? Aku kok merasa seperti sedang bersekongkol menipu Tuhan kalau mereka pindah agama agar kami bisa menikah. Ayah tampaknya salah menangkap kata bersayap yang aku selalu aku gunakan, “Alexandra, (atau Asha atau Rieko) tidak mungkin berpindah agama karena sebuah pernikahan Yah…”

“Kalau memang kamu tidak ingin menikah dengan perempuan Indonesia, walapun Ayah kurang senang tapi bisa merestui, asal mereka Islam. Kenapa kamu tidak cari perempuan cantik dan pinter dari Pakistan, Iran, atau bule juga tidak apa, asal Islam. Ayah dengar banyak perempuan Perancis yang juga Islam…. kenapa kamu selalu mencari perempuan bukan muslim untuk kamu cintai???”

Aku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan Ayah yang ini. Aku juga tidak pernah tahu kenapa yang aku cintai kebetulan tidak beragama Islam. Apakah cinta harus dipisahkan oleh agama. Apa iya sih agama menjadi penghalang bagi sebuah cinta??? Aku diam, melihat ke sudut di mana aku kira Tuhan berada dan bertanya “Ataukah aku telah mengambil cinta yang salah?”

Dicari Presiden Tanpa Gaji !

Oleh M Fadjroel Rachman

Kemenangan moral tertinggi seorang pemimpin adalah pengabdian tanpa pamrih. Pemimpin inspiratif dan dihormati, juga tanpa pamrih, oleh publik karena tebalnya kesetiaan kepada nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan.

Pengabdian dengan pamrih material, apalagi hanya untuk menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri, menjadikan pengabdian tersebut tak bernilai apa-apa, sebuah kekuasaan tanpa keluruhan. Nah, apa yang bisa dikatakan kepada seorang presiden yang mengeluh kepada publik bahwa gajinya tidak naik-naik selama tujuh tahun di tengah lautan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang diderita rakyatnya? Di tengah jutaan rakyat yang bahkan tidak tahu apa yang harus dimakan hari ini, apalagi jika ditanya bagaimana pendidikan, kesehatan, perumahan, ataupun pekerjaannya.

Pamrih material? Perlukah diungkapkan seorang presiden, seorang pemimpin tertinggi, pengabdi tertinggi publik. Bukankah jika tahu jabatan presiden bukan jabatan yang bisa membuat seseorang kaya raya, lebih baik tidak dipilih sejak awal. Gaji presiden memang tak besar jika dibandingkan gaji Gubernur BI yang Rp 265 juta per bulan. Namun, presiden bukan saja mendapatkan gaji, melainkan juga dana taktis serta memiliki kekayaan pribadi yang dilaporkan cukup signifikan. Gaji presiden yang diungkapkan Kementerian Keuangan (2005) total Rp 62.740.000, terdiri atas gaji pokok Rp 30.240.000 dan tunjangan jabatan Rp 32.500.000. Namun, perlu dicatat, dana operasional atau taktis untuk presiden Rp 2 miliar per bulan.

Selain itu, kekayaan pribadi Presiden Yudhoyono juga sangat signifikan dan meningkat sangat signifikan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi periode 14 Mei 2009-23 November 2009, terdapat kenaikan Rp 5 miliar dari Rp 6.848.049.611 dan 246.389 dollar AS ke Rp 7.616.270.204 dan 269.730 dollar AS atau total dalam rupiah senilai Rp 10.178.705.204.

Kemiskinan dan ketimpangan

Apabila prestasi pemimpin diukur dari kemampuan menciptakan keadilan, kesejahteraan, dan berpihak kepada kemanusiaan, patutlah dipertimbangkan ukuran keadilan ataupun kesejahteraan berikut. Kemiskinan dan ketimpangan (sosial, kota-desa, daerah) adalah musuh utama Republik Indonesia apabila cita-cita para bapak dan ibu bangsa untuk membentuk negara kesejahteraan (welfare state), ”negara yang aktif mengelola dan mengorganisasi perekonomian, termasuk bertanggung jawab menjamin tersedianya pelayanan kesejahteraan dasar bagi warga negara” sebagai ukurannya. Kemiskinan, misalnya, kita ambil saja ukuran kemiskinan BPS (2010) pada perhitungan Maret 2010, garis kemiskinan (kota dan desa) adalah Rp 211.000 per bulan per orang, berdasarkan tingkat kebutuhan makanan dan nonmakanan, garis kemiskinan untuk desa Rp 192,354 dan kota Rp 232,938 per bulan per orang.

Nah, dengan angka standar kemiskinan (kota dan desa) Rp 211.000, ada 31,02 juta orang atau 13,33 persen (BPS, Maret 2010). Namun, jika garis kemiskinan dinaikkan menjadi pengeluaran 2 dollar AS per hari (standar Bank Dunia untuk kategori miskin; untuk kategori sangat miskin 1 dollar AS per hari), orang miskin sekitar 52 persen dari 234,2 juta populasi (2010) atau sekitar 121,7 juta orang. Apabila gaji Presiden—pemimpin para kaum miskin dan papa itu—pada 2010 dibandingkan pengeluaran per bulan 31,02 juta penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, hasilnya 297 kali pengeluaran penduduk miskin Indonesia. Ketimpangan sosial juga tak kunjung terjembatani. Lihat laporan BPS (Income Distribution by Classification World Bank BPS 2002-2006). Untuk 20 persen pendapatan tertinggi rata-rata meraih 42 persen kue nasional (42,07 persen pada 2004;44,78 persen pada 2005), sedangkan untuk 40 persen pendapatan terendah rata-rata meraih 20 persen kue nasional (20,80 persen 2004; 18,81 persen 2005).

Ketimpangan antardaerah juga hantu yang siap meledak dan merobohkan tatanan Republik. Laporan BPS 2010 memperlihatkan, dari 10 provinsi termiskin (1. Papua Barat; 2. Papua; 3. Maluku; 4. Sulawesi Barat; 5. NTT; 6. NTB; 7. Aceh; 8. Bangka Belitung; 9. Gorontalo; 10. Sumatera Selatan), tampak Papua Barat, Papua, dan Aceh adalah provinsi sangat kaya sumber daya alam, tetapi hasilnya tak kunjung menyejahterakan mereka. Ironisnya, di Papua Barat dan Papua terdapat perusahaan multinasional PT Freeport Mc Moran di tambang tembaga terbesar di dunia, juga emas. Tidak saja Papua Barat dan Papua yang dimiskinkan, tetapi kepemilikan saham pemerintah pun cuma 9,23 persen, selebihnya milik Freeport.

Menurut majalah The Economist (2010) yang membandingkan gaji pemimpin negara di dunia dengan PDB per kapita penduduknya, ternyata gaji SBY lebih dari 27 kali lipat PDB per kapita penduduk Indonesia. Jika dihitung dengan gaji Rp 62.740.000 atau per tahun Rp 752.880.000 terhadap PDB per kapita Rp 24.261.805 (BPS 2009), lebih dari 31 kali lipat.

Presiden tanpa gaji

Sebenarnya dengan melihat jumlah kekayaan SBY sekarang dan membandingkan dengan kemiskinan puluhan juta rakyat yang dipimpinnya, SBY bukan hanya pemimpin dari kaum kaya Indonesia sekelas Aburizal Bakrie, Chairul Tanjung, Arifin Panigoro, atau raja agrobisnis terbesar Asia Martua Sitorus (Thio Seng Hap), tetapi pemimpin dari kaum miskin Indonesia juga. SBY tak perlu minta kenaikan gaji lagi, bahkan sudah seharusnya melepaskan semua gaji yang didapatkannya hingga 2014 kepada masyarakat melalui kegiatan ekonomi produktif.

SBY bisa jadi presiden tanpa gaji dalam tiga tahun ke depan, nilainya sekitar Rp 2.258.640.000, tak terlalu besar jumlahnya, tetapi akan dapat mengembalikan keluhuran kepemimpinannya yang tercoreng oleh tercerabutnya legitimasi moral pemerintahan oleh tudingan para pemimpin lintas agama sebagai ”rezim kebohongan”, juga keluhan tentang gaji yang seolah menjadikan SBY duduk di kepresidenan untuk mencari keuntungan material.

Lihatlah mantan pastor Fernando Lugo yang diangkat sebagai Presiden Paraguay yang menolak menerima gaji sebagai presiden karena solidaritasnya ke rakyat miskin Paraguay yang jumlahnya hampir 35,6 persen populasi. Dengan kekayaan pribadi lebih dari Rp 10 miliar, tentu SBY bisa menginspirasikan kembali semua pejabat publik, termasuk 8.000 pejabat publik yang akan dinaikkan gajinya serta DPR yang sibuk membuat gedung baru senilai Rp 1,3 triliun, bahwa nilai tertinggi kepemimpinan adalah mengabdi tanpa pamrih kepada publik, bukan menumpuk kekayaan. Sangat ironis seorang presiden mengeluhkan gajinya di tengah lautan kemiskinan dan ketimpangan rakyatnya sendiri yang tak pernah mengeluh. Karakter yang mengabaikan penderitaan rakyat dan juga penderitaan manusia. Menurut Mahatma Gandhi, ”Mengabaikan seorang manusia berarti mengabaikan kekuasaan Yang Mahakuasa. Yang dirugikan bukan hanya makhluk itu, melainkan seluruh dunia.”. /Hast/Kompas Cetak/

Pakistan Bakal Miliki Muslim Terbesar Dunia, Kalahkan Indonesia!

Kaum Muslim Syiah Pakistan meneriakkan slogan-slogan anti AS dan Israel ketika memperingati 7 abad wafatnya Imam Hussein, di Karachi, Selasa (25/1/2011).

HMINEWS- Pada 2030, Pakistan menggeser Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak. Ini adalah hasil riset teranyar dari The Pew Forum on Religion and Public Life. Penelitian berjudul “Masa Depan Populasi Muslim Global” ini melihat kecenderungan pertumbuhan penduduk Pakistan yang lebih pesat dibandingkan Indonesia.

Pada 2010 Pakistan, yang 96 persen penduduknya beragama Islam, diperkirakan memiliki 178 juta warga Muslim. Sedangkan penduduk Muslim Indonesia, yang mencapai 88 persen dari seluruh penduduk Indonesia, saat ini jumlahnya hampir 205 juta orang.

Pada 2030, Pakistan diperkirakan memiliki 256 juta penduduk Muslim. Sedangkan, Indonesia sekitar 239 juta warga Muslim.

Kemudian, pada tahun sama, jumlah orang Islam di seluruh dunia mencapai 2,2 miliar dan merupakan 26,4 persem dari penduduk dunia. Angka ini naik dari 1,6 miliar jiwa pada 2010.

Penelitian ini juga memperkirakan, selama dua puluh tahun ke depan jumlah penduduk beragama Islam terus bertambah, walaupun laju pertumbuhan menurun, dari 2,2 persen pada 1990-2010 menjadi 1,5 persen.

Melambatnya laju pertumbuhan umat Islam itu, menurut laporan tersebut, disebabkan menurunnya angka kelahiran terutama karena semakin banyak perempuan Muslim yang berpendidikan, standar hidup yang meningkat, dan urbanisasi.

Pada 2030, sebagaimana warta AP dan AFP pada Kamis (27/1/2011), sekitar 60 persen umat Islam dunia diperkirakan berada di kawasan Asia-Pasifik, 20 persen di Timur Tengah, 17,6 persen di Afrika Sub-Sahara, 2,7 persen di Eropa, dan 0,5 persen di benua Amerika.[]kcm/ian

Zeze, Novel Baru tentang Sepakbola Anak!

Novel Baru tentang Sepakbola Anak

Dalam pertandingan sepak bola, kadang kita menerima kekalahan. Tapi kekalahan itu bukan akhir dari segalanya. Kita bisa belajar dari setiap kekalahan untuk menang. Kita bisa saja kalah dalam satu pertandingan, tapi kekalahan satu ini tidak akan berarti bila kita juaranya.”

Novel ini berjudul Zeze, mengisahkan tentang perjalanan seorang anak jalanan yang gemar bermain sepakbola. Tokoh utama di novel ini bernama Zeze. Seorang anak jalanan yang berusia sekitar sebelas tahun. Murid Kelas C di Olala Football School. Keinginannya bermain bola tumbuh sejak mendengar cerita yang pernah disampaikan oleh seseorang tentang Sepatu Ajaib Oding.

Oding adalah anak yang ingin sekali bisa bermain sepakbola. Oding sebenarnya ingin sekali bisa ikut bermain sepakbola bersama mereka. Pada setiap ada kesempatan, Oding mencoba untuk bermain bola. Akan tetapi, Oding tak habis pikir, mengapa dia tak pernah bisa bermain bola seperti anak-anak lainnya. Jangankan untuk menggiring bola, untuk menendang bola pun dia kesulitan.

Bola yang ditendang tidak pernah dapat terlempar jauh, apalagi menuju sasaran. Dia mencoba peneliti, barangkali dirinya memang tak berbakat jadi pemain sepakbola, atau ada sesuatu yang dia sendiri belum tahu. Suatu hari, Oding bermimpi, seorang bidadari yang cantik jelita menghadiahinya sepasang sepatu sepak bola ajaib. Sejak itu Oding menjadi mahir bermain sepak bola layaknya bintang lapangan.

Novel ini diawali suatu sore Zeze asyik bermain bola bersama teman-temannya di sebuah lapangan kecil. Muncul seorang anak laki-laki sebaya Zeze. Anak itu bernama Andre. Andre sangat mahir bermain bola. Ada pengalaman yang tak terlupakan oleh anak-anak yang bermain bola sore itu. Sewaktu Andre menggiring bola, Ikman menyerobot bola dari kaki Andre. Tapi Ikman sempat terkejut. Kakinya hanya menyentuh tempat kosong. “Wow!” seru Zeze yang tak menyangka Andre dapat melakukannya. Dia mengelakan bola dari serobotan kaki Ikman. Bola itu telah dicungkil Andre hingga terangkat ke atas. “Nah, kayak gitu, baru namanya main bola!” komentar Kiki yang keliahatannya mulai bersemangat. Kaki kanan Andre seketika bergerak melingkari bola di hadapan Awang. Awang mengira, Andre mau menendang bola dengan kaki kanannya. Awang kecele, rupanya Andre sudah berpindah melewati hadangan Awang dengan menyorongkan bola melalui kaki kirinya. Begitu juga yang dialami oleh Ipang.

Seketika Andre menahan bola itu dengan kaki kanannya, badannya berbalik membelakangi Ipang, sambil kaki kirinya menarik bola. Badan Andre berbalik lagi mengendalikan bola. “Waaah …!” seru Ipang kaget. Zeze, Ikman, dan teman-temannya termotivasi bermain sepakbola secara intensif setelah melihat permainan Andre. Keinginan meniru gaya permainan Andre yang tak kunjung persis, membuat anak-anak itu menciptakan gaya yang unik dan lucu.

Di antara anak-anak itu, Zeze yang lebih mahir mengendalikan dan menggiring bola sulit anak-anak lain merebut bola darinya hingga memudahkan langkahnya memporakporandakan pertahanan dan mengancam gawang lawan. Semenjak peristiwa dengan Pak Somad, anak-anak tidak pernah lagi bermain bola di tempat itu lagi. Apalagi, tak lama kemudian, lapangan itu pun kini sudah berganti dengan pagar tembok dan pondasi. Dan peluang anak-anak untuk bermain bola sudah tak mungkin lagi, karena tak ada lapangan yang cukup untuk bermain bola. Anak-anak pun mulai melupakan keinginan untuk bermain bola lagi. Tetapi tidak bagi Zeze. Keinginannya untuk bermain bola tetap ada. Dia bersama temannya, Ikman, memutuskan masuk sekolah sepakbola itu untuk menyalurkan kegemarannya bermain bola. Keunikan Zeze bermain bola membuat pelatih tim sekolah Zeze itu tertarik.

Zeze dan Ikman direkrut untuk membela tim utama yang tengah mengikut penyisihan untuk turnamen antar klub sepakbola anak-anak tingkat daerah. Setelah tim yang mereka bela mengalami kekalahan. Mereka bangkit dan belajar untuk mengatasi pertandingan berikutnya. Novel ini menarik karena menceritakan situasi kehidupan keseharian masyarakat urban.

Walaupun novel ini disampaikan melalui bahasa sehari-hari yang segar, gaul, dan imajinatif, novel ini tidak saja pantas dibaca untuk kalangan anak-anak, tetapi juga bagi semua kalangan.

________________________________________

Judul novel: Zeze

Penulis: Zulfikar

Terbit : April 2010

Penerbit: Freedom Foundation

Halaman: 198.

Jumat, Hari Kemarahan Rakyat Mesir Menuntut Mundur Presiden Mubarak!

Jumat, Hari Kemarahan Rakyat Mesir Menuntut Mundur Presiden Mubarak!

HMINEWS- Menyusul pergolakan di Tunisia, gelombang protes anti-pemerintah yang lalim merambah ke negara-negara lain, khususnya di Arab. Mesir termasuk negara yang terkena imbas pergolakan di Tunisia. Media-media massa Arab memberitakan masyarakat Mesir terjun ke jalan-jalan utama di seluruh penjuru negara ini. Para pengamat politik menyebut aksi demonstrasi massal di Mesir sebagai “Hari Kemarahan.” Demonstrasi di Mesir kali ini dapat dikatakan sebagai pergolakan yang belum pernah terjadi di negara ini. Para analis politik bahkan memastikan kebangkitan masyarakat Mesir akan berakhir pada perubahan pemerintah di negara ini.

Para demonstran dalam aksi protes mereka juga nekad merobek dan membakar gambar Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Kondisi ini tentunya mengkhawatirkan posisi Mubarak dan kroni-kroninya. INN belum lama ini mengutip keterangan International Business Times (26/1) melaporkan, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Susan Mubarak, istri Presiden Mesir, telah meninggalkan negaranya menuju London. Koran Times terbitan New Delhi juga menurunkan laporan bahwa Gamal Mubarak, telah meninggalkan Kairo menuju London. Padahal Gamal Mubarak digadang-gadang untuk menjadi pengganti ayahnya sebagai presiden mendatang Mesir. Akan tetapi pergolakan di negara ini membuat keluarga Mubarak pesimis akan kondisi terakhir.

Pasukan keamanan di Mesir dalam menghadapi para demonstran menggunakan kekerasan. Menurut laporan yang ada, korban luka dan tewas terus bertambah menyusul tindakan keras aparat keamanan. Meski demikian, massa terus terjun ke jalan-jalan utama di penjuru negara ini menuntut perubahan sistem pemerintah di Mesir.

Ibrahim Munir, salah satu pemimpin Ikhwanul Muslimin yang selalu menjadi penentang pemerintah Hosni Mubarak, menyatakan bahwa Mubarak akan senasib dengan Mantan Presiden Tunisia, Ben Ali. Dikatakannya, ” Senasib dengan Ben Ali, Mubarak ketika terguling, akan mendengar suara rakyat yang menyuarakan sikap anti-rezim.” Munir dalam wawancaranya dengan Koran Al-Hiwar mengomentari kondisi saat ini di Mesir dan mengatakan, “Kondisi anti-rezim tidak akan mereda, bahkan terus akan memanas.”

Partai Al-Wafd yang juga termasuk oposisi pemerintah menghendaki pembubaran parlemen dan penyusunan kembali undang-undang dasar Mesir. Mohammad Badi dalam konferensi pers menyatakan, “Partai ini menghendaki pembubaran parlemen, sebab legalitasnya dipertanyakan.” Ditegaskannya, kekuatan di Mesir harus berputar dan prinsip kerakyatan dan demokrasi harus menjadi perhatian pemerintah, serta undang-undang baru hak-hak berpolitik perlu dikeluarkan.”

Lebih lanjut, ketua Partai Al-Wafd menuturkan, “Kami senantiasa memprotes bahaya monopoli kekuasaan di tangan satu partai selama 30 tahun. Sementara seluruh partai politik nasional dipinggirkan dan partai penguasa telah menutup seluruh kanal legal bagi kebebasan berekspresi dan memonopoli kekuatan.”[]irib/ian

Tarik Dukungan Hak Angket Pajak, Golkar Munafik dan Pelindung Mafia Pajak!

Tarik Dukungan Hak Angket Pajak, Golkar Munafik dan Pelindung Mafia Pajak!

HMINEWS- Hak angket kasus pajak tampaknya kandas. Sejumlah fraksi yang semula bersemangat mendukung kini mundur. Menyusul sejumlah fraksi lainnya, Kamis, 27 Januari 2010 kemarin, fraksi Partai Golkar menyatakan mundur.

Sebelumnya, Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto menegaskan bahwa fraksinya mendukung Pansus dengan Hak Angket, tapi kemarin dia memastikan bahwa Golkar mendukung Pansus yang mengusut kasus pajak, bukan Pansus Angket. “Kalau untuk Pansus Pajak kami mendukung sepenuhnya, tapi untuk Hak Angket tidak,” kata Setya Novanto kepada VIVAnews.com.

Pansus Angket memang bisa berujung pada Hak Menyatakan Pendapat. Suatu hak yang dimiliki DPR yang dijamin undang-undang. Dengan hak itu mereka bisa memastikan apakah Presiden dan Wakil Presiden bersalah atau tidak dalam sebuah kasus.

Jika proses itu diteruskan, maka Mahkamarh Konstitusi agar menggelar sidang untuk menguji keputusan DPR itu. Jika keputusan DPR itu dianggap  benar, maka MPR bisa menggelar sidang istimewa guna pemakzulan Presiden dan Wakil Presiden.

Jalan ke arah itu bisa terbuka lebar, setelah sebelumnya Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan para politisi yang mengatur Hak Menyatakan Pendapat. Jika sebelumnya mewajibkan hak itu harus didukung 3/4 anggota DPR, MK memutuskan bahwa hak itu bisa lolos cukup dengan dukungan 2/3 anggota DPR. Dengan jumlah itu, tanpa Demokrat hak ini bakal melenggang. Bau pemakzulan itulah yang tampaknya menyurutkan sejumlah fraksi.

Meski mundur dari Pansus dengan Hak Angket, Fraksi Golkar memastikan akan tetap mendukung Pansus Perpajakan yang tidak diterukan pada Hak Menyatakan Pendapat dan berakhir pada pemakzulan. Dengan Pansus itu, kata Setya Novanto, kasus mafia pajak bisa diselesaikan secara menyeluruh dan tuntas. Semua perusahaan raksasa yang terlibat juga bisa dipanggil.

Cukup 25 Orang

Usulan Hak Angket sesungguhnya cukup mudah. Mininal diusulkan 25 anggota DPR dari beberapa fraksi.  Senin lalu, 30 anggota DPR mengajukan usul penggunaan hak angket itu. Tujuannya menuntaskan kasus mafia pajak. Para pengusul itu berasal dari seluruh fraksi di DPR. Delapan orang dari Fraksi Demokrat.

Anggota DPR dari Fraksi Demokrat itu adalah Sutjipto, Harry Wicaksono, Didi Irawadi Syamsudin, Pieter Zulkifli, Himatul Aliyah, Achsanul Qosasih, Gde Pasik Swardika, dan Diana Anwar. Tujuh anggota Fraksi Partai Demokrat menarik dukungan, tinggal Sutjipto.

Sejumlah inisiator Hak Angket pembentukan Pansus Pajak dari Fraksi Demokrat mundur pada detik-detik terakhir. Namun, aksi itu dinilai tidak akan mengkandaskan pembentukan Pansus. Salah satu inisiator hak angket dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, saat dihubungi VIVAnews.com, Rabu malam 26 Januari 2011 mengatakan, “Syarat hak angket ini kan 25 legislator, tidak dari satu partai. Kalau sudah terkumpul 39 orang, tujuh orang hilang itu tidak terlalu mengganggu peluang.”

Fraksi Demokrat bersikap tegas kepada anggotanya yang masih belum menarik dukungan terhadap usul hak angket perpajakan. Dari delapan anggota Demokrat yang awalnya meneken usulan angket, tujuh di antaranya telah menarik dukungan.

Lalu tinggal nama Sutjipto yang masih tertera di lembar usul hak angket. “Pak Sutjipto telah minta maaf kepada fraksi. Namun fraksi tetap akan memberikan sanksi,” kata Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis 27 Januari 2011. Menurutnya, meskipun usul penggunaan hak angket adalah hak individu masing-masing anggota dewan, koordinasi dan komunikasi dengan fraksi tetap harus dilakukan.

Sutjipto akhirnya menarik dukungan. Menurut Sutjipto, fraksinya sudah memutuskan tidak mendukung usul Angket itu. “Kalau sudah putusan fraksi, saya akan ikut menarik,” katanya saat ditanya VIVAnews, Rabu 26 Januari 2011 malam.

Sutjipto mengakui, pada awalnya mendukung usul Hak Angket Perpajakan karena ingin mengusut tuntas kasus mafia pajak, khususnya yang melibatkan Gayus Tambunan. Tapi, kemudian muncul berbagai wacana seperti kemungkinan hak angket tersebut melaju ke arah hak menyatakan pendapat, lalu berlanjut pada mosi tidak percaya kepada pemerintah, sehingga bermuara kepada pemakzulan.

“Bolanya belum ke tengah saja sudah banyak yang ancang-ancang. Jadi walaupun tujuan usul angket mulia, kami khawatir ada penumpang gelap,” terang Sutjipto, Kamis 27 Januari 2011. Oleh karena itu, ia sepenuhnya memahami sikap fraksinya yang memberikan instruksi tegas kepada anggotanya untuk menolak angket. Saat ini, kata Sutjipto, Fraksi Demokrat mendukung terbentuknya panitia khusus (pansus) ‘biasa’ ketimbang pansus dengan Hak Angket.

Sesudah Fraksi Demokrat, giliran tiga anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa yang menarik dukungan. Ketiganya yakni, Bahruddin Nasory, Lukman Edy, dan Otong Abdurrahman. Bahruddin yang juga Sekretaris FKB menegaskan bahwa FKB merasa kasus-kasus mafia pajak juga dapat dituntaskan melalui panitia kerja (panja), tidak perlu sampai membentuk panitia khusus (pansus) angket.

“Kasus-kasus pajak dapat diselesaikan lewat Panja lebih dulu,” kata Bahruddin di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 27 Januari 2011. Padahal, sebelumnya Sekjen PKB, Imam Nahrawi, menegaskan bahwa angket itu sangat penting untuk membongkar mafia pajak.

FKB sudah mundur. Bagaimana mitra koalisi Demokrat lainnya? “PAN tetap memberi keleluasaan kepada anggotanya untuk menandatangani dukungan usul Hak Angket pajak,” kata Wakil Sekjen PAN Teguh Juwarno. Menurutnya, persoalan perpajakan di Indonesia harus dibenahi secara besar-besaran, tidak bisa parsial.

Bagaimana dengan PKS? Anggota Komisi III dari Fraksi PKS, Nasir Jamil menegaskan bahwa  secara pribadi akan membubuhkan tanda tangan atas usul angket. “Iya, saya berniat untuk menandatangani usul angket perpajakan,” kata Nasir saat dihubungi, Kamis 27 Januari 2011.

Menurut legislator asal Aceh itu, dirinya tinggal menunggu lembaran usul hak angket sampai ke meja kerjanya. “Saya tunggu-tunggu (lembaran usul angket), tapi belum datang juga. Ini hanya masalah momen saja, ada yang tanda tangan duluan dan ada yang belakangan,” jelasnya.

Berapa jumlah inisiator yang sudah teken dukung Hak Angket? Menurut inisiator dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo, saat ini sudah ada 28 anggota DPR meneken usulan Angket perpajakan ini. Bambang yakin, dukungan masih akan terus bertambah. Jika pernyataan Bambang benar, syarat minimal pengusulan oleh 25 anggota Dewan, telah terlampaui. “Tidak ada yang bisa menyurutkan kami membongkar jaringan mafia pajak. Dukungan terus bertambah, dan akan cukup memenuhi ketentuan untuk dibawa ke sidang paripurna,” kata Bambang, Kamis 27 Januari 2011.

Tetapi, pernyataan Bambang ini berbeda dengan sikap Fraksi Golkar yang disampaikan Setya Novanto. Golkar mendukung Pansus Pajak, tapi tanpa ada Hak Angket. “Kalau untuk Hak Angket memang kami tidak menyarankan. Kalau untuk pansus kasus pajak kami dukung sepenuhnya,” kata Setya Novanto.

Kini DPR terbelah tiga. Demokrat dan sejumlah fraksi koalisi menilai kasus mafia pajak cukup diselesaikan lewat mekanisme Panja saja, Golkar memilih jalan lewat Pansus dan PDI Perjuangan, PKS dan beberapa fraksi memilih jalur Pansus dengan Hak Angket.[]viva

Lebih Dekat dengan SBY Bau Korupsi

Lebih Dekat dengan SBY Bau Korupsi

HMINEWS- Indonesian Corruption Watch (ICW) mencium penerbitan serial buku SBY beraroma korupsi. Ada dua titik rawan di tingkat Dinas Pendidikan setempat dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).

Hal tersebut dikemukakan Kordinator Monitoring Kebijakan Publik ICW Ade Irawan pada jumpa pers bersama Koalisi Pendidikan dan Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGK) di kantor ICW, Jakarta, Kamis (27/1/2011).

Menurut Ade Irawan dalam teknis penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan pihak Kemendiknas dan dinas pendidikan merupakan dua pihak yang paling bertanggungjawab dalam pengadaan dan distribusi buku.Pasalnya, Kemendiknas yang menentukan dan kriteria merekomendasian buku serta dinas pendidikan yang membuat tim untuk melakukan pengadaan.

“Berdasarkan hasil riset ICW dalam proses pengadaan barang pada program DAK pendidikan mekanisme seperti itu sangat mudah untuk dimanipulasi. Spesifikasi buku bisa disesuaikan dengan penerbit rekanan atau panitia pengadaan yang dapat dilakukan secara kongkalingkong dengan penerbit untuk memperoleh fee,” papar Ade Irawan didampingi Retno Listyarti dari FMGJ, Bambang Wisudo dan Lody Paat dari Koalisi Pendidikan.

Mereka juga mendesak buku SBY ditarik dari peredaran mengingat telah terjadi politisasi pendidikan dan upaya pencitraan. “Telah terjadi propaganda dan kultus individu yang menyerupai era orde baru,” kata Retno Lityarti.

Dahulu, kata Retno, pemimpin orde baru mantan Presiden Soeharto melakukan hal sama menerbitkan buku berseri pencitraan.Ia mengingatkan DAK 2010 melaluii buku SBY ini melakukan pemborosan uang negara yang tidak mendidik karena ironis dengan masih banyaknya sekolah yang rusak, buku teks mahal serta rakyat yang miskin. “Jadi buku SBY ini tidak masuk kategori pengayaan apalagi bernilai tinggi,” tandasnya.

Retno juga menyerukan organisasi guru, dan pihak sekolah mengkritisi keadaan ini tidak membiarkan pemerintah melakukan pembodohan dan pencitraan politik semaunya.

Lody Paat dan Bambang Wisudo menilai kebijakan kemendiknas dan dinas pendidikan menerbitkan buku SBY yang bernuansa politis menjadikan sekolah sebagai objek belaka. “Ini merupakan kesemrawutan program Kemendiknas yang tidak tahu arah dan menjadikan sekolah sebagai objek pembodohan,” pungkas Lody.[]MI

Demokrat Lindungi Mafia Pajak

Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR

Oleh : Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR

Mundurnya Demokrat dari pengusul pansus Hak Angket yg mereka buat sendiri, tidak akan menyurutkan langkah Partai Golkar untuk membongkar jaringan mafia pajak dan praktik kolutif di direktorat jenderal pajak dan kementerian keuangan. Golkar tetap jalan terus. Penggalangan tanda tangan dari anggota DPR terus meningkat dan cukup memenuhi ketentuan untuk dibawa ke Bamus dan Paripurna.

Sekarang persoalan menjadi jelas, siapa sesungguhnya yang berupaya melindungi mafia pajak. Sebab, siapapun tahu kalau pansus hak angket mafia pajak DPR jalan, pasti praktik-praktik kotor disektor penerimaan negara dan mafia yang selama ini menjadi masalah akan terungkap dan terbongkar.

Saya menduga, justru sekarang mereka baru menyadari bahwa mafia pajak sesungguhnya ada disekitar mereka. Karena yang namanya mafia dimanapun diseluruh dunia pasti lengket dengan kekuasaan atau pengusaha plus penegak hukum.

Ada indikasi dengan pencabutan itu Demokrat secara sadar dan sengaja tengah berupaya mengaburkan usaha DPR untuk membongkar mafia pajak yang sesungguhnya selama ini merugikan penerimaan keuangan negaran ratusan triliun.

Demokrat sekarang berkilah, dia dikerjai katanya. Bagaimana bisa? Dikerjai siapa? Wong, seluruh konsep dan inisiatornya mereka. Itu hanya alasan akal-akalan saja. Yang benar sesungguhnya Demokrat tidak serius alias gertak sambal. Begitu fraksi yang lain setuju, dia kebingungan sendiri.

Mereka lalu beralasan takut dibelokan utk membukarkan satgas PMH. Lho, apa hubungannya? Kita bicara mafia pajak. Bukan mafia hukum. Apalagi satgas PMH.  Kita tidak perlu pintar untuk dapat menilai balik badannya Demokrat dapat dibaca sebagai upaya menghambat usaha DPR membongkar ‘gembong’ dari mafia pajak.