Menanti Jabang Bayi Revolusi Mesir

MENANTI JABANG BAYI REVOLUSI (MESIR)

Jerit sakit tak terperi menahan laju kontraksi massa memicu pecahnya ketuban demonstrasi sebagai pembuka jalan bagi lahirnya bayi-bayi revolusi. Pergolakan Mesir yang saat ini telah memasuki usia hamil tua membawa ingatan kita pada peristiwa serupa yang terjadi di tanah air 13 tahun silam. Kala itu gerakan mahasiswa bersama rakyat tumpah ruah ke jalan menuntut Presiden Suharto turun setelah berkuasa selama 32 tahun. Kini situasi yang mirip sedang dialami rakyat Mesir kepada Presiden Husni Mubarak beserta keluarga dan kroninya.

Tak ada yang tahu kapan tanggal pasti lahirnya revolusi. Bahkan dokter kandungan pun hanya bisa mereka-reka dan mengenali tanda-tanda. Dalam qiyas ini, pastinya Mubarak yang kaya-raya dan totaliter itu pun akan sekuat tenaga melawan pemberontakan rakyatnya. Sehingga hari H dan jam J kudeta pun bisa molor tak sesuai rencana. Jakarta sendiri telah mengalami anarchy sejak tanggal 13, 14 dan 15 Mei, akan tetapi reformasi baru lahir kemudian tanggal 21 Mei 1998 tepat setelah Suharto berhenti jadi Presiden dan menunjuk BJ Habibie sebagai pengganti.

Penulis awam akan konstalasi Kairo dan anatomi politik Mesir paling mutakhir. Namun demikian pengalaman gerakan reformasi 98 dapat digunakan sebagai kacamata pembanding dalam memantau perkembangan terkini di negeri Firaun itu.

Ketika reformasi bergulir di Indonesia, setidaknya 3 kelompok kepentingan sudah siap menangkap bola kepemimpinan republik dari tangan Suharto. Mereka ialah kelompok radikal, reformis dan status quo yang sebelumnya bersatu untuk menggulingkan Suharto, namun kemudian bertengkar ketika menyikapi Wapres Habibie sebagai pengganti yang berhak menerima warisan.

Sebagian menilai pemindahan kekuasaan dari Suharto ke Habibie adalah konstitusional dan bisa diterima. Sikap ini sangat berbeda dengan kelompok radikal yang menolak Habibie mentah-mentah karena dianggap mewakili kekuatan lama yang pro status quo. Karena itu lah aksi demo yang digalang kemudian untuk menuntut turunnya Habibie relatif lebih sedikit dibanding ketika massa memberontak menuntut mundurnya Suharto. Hal ini tidak terlepas dari polarisasi yang terjadi di dalam tubuh gerakan. Mahasiswa telah terbelah dalam 2 poros utama yakni kelompok reformasi konstitusional melawan kelompok reformasi total.

Gerakan mahasiswa yang telah berhasil menggedor gerbang reformasi, sebagian besar mempercayakan kunci perubahan untuk diserahkan kepada kelompok reformis yang relatif memiliki struktur di tingkat basis. Inilah yang membuat 4 tokoh kelompok Ciganjur kemudian mendapat rekening kepercayaan yang sangat tebal dari masyarakat ketika itu. Selain kelompok islam seperti ICMI dan HMI, tokoh-tokoh senior di balik gerakan mahasiswa sekaliber Don Hariman cs pun diberi ruang signifikan dalam mengatur-atur pemerintah Habibie yang sebelumnya memang telah berganti warna karena ekstrimnya perubahan cuaca. Tinggallah kelompok radikal yang tetap di jalan menyerukan reformasi total sambil menolak kabinet baru.

Meski relatif diterima dan mampu bertahan, namun hanya 512 hari usia kabinet reformasi. Kemudian digelarlah pemilu multi partai yang sebelumnya diharamkan di era orde baru. Sementara kelompok radikal terus-menerus menolak pemerintahan baru dan juga menolak pemilu, alih-alih momen ini justru dimanfaatkan kelompok reformis maupun kekuatan lama untuk melakukan konsolidasi guna meraih tiket kekuasaan di parlemen baru. Maka jadilah Indonesia baru yang dipenuhi cerita kompromi dan anomali dengan menampilkan lakon peran mulai dari reformis gadungan hingga pro status quo yang berganti baju. Perubahan tinggal angin yang cepat datang dan cepat pula menghilang. Mungkin akan lain ceritanya jika pemerintahan transisi dipimpin oleh kekuatan lain di luar mereka-mereka itu.

Sampai saat ini tidak ada yang didapat oleh rakyat kecuali kebebasan berpendapat dan kebebasan berpolitik di Indonesia yang semakin akrobatik dan buka-bukaan. Sementara pendapatan masih jauh dari sejahtera dan korupsi masih merajalela di mana-mana. Apakah skenario ini yang juga akan dialami rakyat Mesir?

Nampaknya usia Presiden Mubarak hanya tinggal hitungan hari hingga ia betul-betul terjengkang dari singgasana kekuasaannya setelah lebih dari tiga dekade memerintah. Dalam konteks ini upaya mempertahankan kekuasaan hanya untuk mengulur-ulur waktu demi mencari boneka pengganti yang pas. Mengingat Mesir merupakan sekutu Amerika Serikat dan Israel yang cukup strategis dalam mengendalikan konstalasi di Timur Tengah. Lantas, kepada siapakah duren jatuh ini akan diberikan? Lagi-lagi, drama ironi pembajakan gerakan rakyat oleh kelompok yang sebetulnya anti-reformasi akan terjadi di suatu negeri!

Budi Gunawan S., S.Th.I.
Sekum Badko HMI Jateng-DIY 2006/2008