Pendidikan Alternatif Kewirausahaan Guna Menekan Angka Pengangguran

http://www.ui.ac.id/images/manajemen/sunardji.jpg
Sunardji, SE, MM,

HMINews – Wakil Rektor (Warek III) Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Kerjasama Industri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) menyatakan, kewirausahaan perlu dijadikan pendidikan alternatif dalam menciptakan wirausahawan muda guna menekan angka pengangguran di Indonesia.

Pendidikan kewirausahaan memberikan makna, bahwa seorang sarjana tidak perlu tergantung dengan bekerja di perusahaan. “Pendidikan kewirausahaan akan menanamkan makna kepada para sarjana, calon-calon wirausahawan, bahwa kita jangan bergantung pada pekerjaan sebagai pegawai,” kata Sunarji saat menghadiri kuliah umum tentang peningkatan kapasitas kewirausahaan di perguruan tinggi, Jumat (25/3/2011), di Universitas Indonesia, Depok.

Pada tingkat perguruan tinggi, lanjut dia, kurikulum tentang pendidikan kewirausahaan sebenarnya sudah ada. Pendidikan ini salah satunya diberikan melalui mata kuliah kewirausahaan.

“Kurikulumnya ada pada mata kuliah kewirausahaan dan itu sudah cukup mendukung,” kata Sunarji.

Dia mengungkapkan, ada beberapa kendala dalam menyampaikan pendidikan kewirausahaan ini, yaitu perlu adanya suatu hubungan yang baik antara para praktisi wirausaha dengan para calon wirausaha. Untuk itu, institusi pendidikan harus bisa mendatangkan dosen tamu yang berasal dari praktisi berpengalaman di dunia kewirausahaan.

Hal itu akan sangat membantu perguruan tinggi menerapkan ilmu kewirausahaan. Karena, kata Sunarji, selain untuk pendalaman teori, kehadiran para praktisi juga sebagai mediator berbagi pengalaman praktik berwirausaha.

“Kita perlu mendatangkan praktisi-praktisi yang sukses agar mahasiswa termotivasi dan terjadi proses pertukaran pengalaman,” katanya. [] Kmps/Edo

Best Diplomacy Award di Harvard World MUN 2011 Diraih Mahasiswi UI

http://www.worldmunfusl.org/uploads/5/7/7/5/5775910/7140516.gif?424
MUN plenary session

Kedua mahasiswi jurusan Hubungan Internasional tersebut yaitu, Dyah Ayunico Ramadhani dan Indah Gilang. Penghargaan tersebut diberikan kepada delegasi World MUN yang selama konferensi merepresentasikan semangat diplomasi dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dyah Ayunico Ramadhani, memiliki minat yang sangat besar terhadap diplomasi dan kompleksitas yang ada dalam PBB. Mewakili Kesultanan Oman dalam the Organizations of the Islamic Conference (Organisasi Konferensi Islam) [OIC], Dyah menghadapi tantangan untuk menjawab permasalah terkini yakni isu sensor internet di negara-negara Islam dan dampaknya terhadap perkembangan dunia Islam.

“Saya sangat kagum pada bagaimana delegasi dari berbagai wilayah dunia dan latar belakang agama yang berbeda seluruhnya bersatu untuk mewujudkan semangat Islam dalam menanggapi topik tersebut dalam OIC,” jelasnya dalam rilis yang diterima redaksi, Jumat (25/3/2011).

Sementara itu Indah Gilang yang mewakili negara Oman dalam World Trade Organization (WTO/ Organisasi Perdagangan Dunia) mengatakan, tidaklah mudah untuk memenangkan penghargaan ini karena dirinya harus berdiplomasi dan bersaing dengan lebih dari 130 mahasiswa di dunia dalam membahas isu hambatan perdagangan komoditas pertanian.

“Saya berlaku sebagai diplomat negara Oman. Sebagai negara kecil di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya masih bekerja di bidang pertanian dan memiliki cukup cadangan minyak dunia, Oman harus berani menentang dominasi negara besar yang menginginkan proteksionisme perdagangan,” kata Indah.

Kedua gadis tersebut telah bersinar di antara perguruan tinggi kelas dunia seperti Yale University,US Military Academy di West Point, Universidad Simon Bolivar, Heidelberg University, yang juga terpilih untuk menerima penghargaan terkemuka tersebut di Harvard World MUN 2011.[] Dtk/edo

Ulil, Teror dan Ancaman Demokrasi

Setelah beberapa tokoh kunci teror tertangkap dan meninggal dunia, Indonesia kembali aman dan pemerintahan berjalan cukup efektif. Kepolisian mendapatkan apresiasi yang begitu besar dari masyarakat karena mampu membereskan kelompok yang membuat keonaran di negeri ini tanpa tanggung jawab meski mereka berdalih atas nama jihad.

Selang waktu yang cukup lama, tanpa diduga-duga teror itu kembali datang pada hari Selasa 15 Maret 2011 dengan kemasan yang lebih tertata rapi dan kali ini menyerang Kompleks Utan Kayu yang dikenal sebagai markas Jaringan Islam liberal (JIL) dan yang menjadi targetnya adalah seorang Ulil Abshar Abdalla, tokoh JIL dan sekarang menjadi aktifis politik di Partai Demokrat. Ulil sendiri selamat tapi tiga petugas dari kepolisian dan satu orang petugas keamanan di Kompleks tersebut terkena cedera saat mencoba menjinakkan bom dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Selain untuk Ulil, bom juga dikirimkan kepada Kepala BNN Komjen Gories Mere, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Japto S Soerjosoemarno dan Musisi Ahmad Dhani, bom diduga masih menyebar di sekitar kita.

Sampai detik ini belum diketahui motif kiriman bom untuk Ulil termasuk yang lainnya, khusus untuk Ulil setidaknya ada dua prediksi motif dibalik pengiriman bom ini. Pertama, Politik. Sejarah politik itu memang kejam, siapa yang mengancam dia harus segera diamankan, bukan hanya lawan tapi kawan sendiri pun bisa disingkirkan, aniaya bahkan dibunuh. Politik mengabadikan kepentingan, yang tadinya kawan bisa jadi lawan maupun sebaliknya. Dalam teori Machiavelli, dalam tindakan politik, manusia menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya (the end justifies the means). Akhir-akhir ini, Ulil sebagai politisi cukup vokal menyuarakan isu pergantian anggota kabinet (reshufle), mungkin ada orang atau elit yang tidak suka dengan langkah-langkah politik Ulil sehingga Ulil harus dilenyapkan seperti yang menimpa Tan Malaka, Munir dan lain-lain. Kedua, aktifitas Ulil sebagai Pemikir Islam Liberal. Ulil merupakan salah satu orang yang berada digarda terdepan membela kaum minoritas dan sangat vokal menyuarakan pluralisme dan kebebasan beragama.

Terlepas dari itu semua, teror dalam bentuk dan alasan apapun tidak dapat dibenarkan. Indonesia bukanlah negara teror tapi sebuah negara demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum. Oleh karenanya, polisi harus mengusut tuntas kasus ini atau kejadian yang lebih parah akan menyusul memporak-porandakan negeri ini. Teror adalah ancaman serius terhadap masa depan demokrasi.

Selama ini kasus teror yang melanda negeri ini selalu ada hubungannya dengan sekelompok orang yang mengatasnamakan jihad (kelompok radikal), kalau kasus bom buku ini juga ditengarai oleh orang yang sama, pemerintah bukan hanya harus bersikap tegas tapi juga harus memberikan rumusan baru dalam menyikapinya karena hal ini sangat mungkin akan terjadi terus menerus. Pun hukuman yang setimpal bagi para pelaku teror tidak dapat menjadi efek jera dan jaminan berhentinya melakukan aktifitas terorisme.

Rumusan yang dimaksud adalah mengubah paradigma. Tindakan terorisme masih terjadi dikarenakan belum seragamnya pemahaman kita terhadap falsafah negara. Para pendiri republik ini sudah bersepakat bahwa falsafah negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila adalah ikhtiar dan jerih payah sejarah, dia merupakan nilai-nilai yang dapat mengakomodasi semua kepentingan bangsa Indonesia yang sangat beragam baik secara agama maupun budaya. Bangsa ini sudah terlalu lama disibukkan dengan konflik ideologi sehingga tenaga dan pikiran kita terkuras untuk memikirkan itu, ideologi bukannya tidak penting tapi apakah kita akan terus disibukkan dengan persoalan yang sesungguhnya mesti sudah selesai.

Menurut Dawam Rahardjo, gagasan persatuan sangat kuat dalam Pancasila, karena menyadari realitas mengenai pluralitas masyarakat Indonesia. Pancasila yang merupakan sintesa berbagai gagasan besar universal (great ideas) pada dasarnya adalah sebuah faham pluralisme politik dan budaya. Hal ini tergambar dari kata-kata “Bhinneka Tunggal Ika”, beraneka ragam tetapi merupakan satu kesatuan, yaitu Indonesia.

Tidak seragamnya pemahaman kita terhadap falsafah negara menyebabkan bangsa ini terperosok pada jurang kegelapan, kita seolah-olah tidak optimis dan siap menerima bahwa kita berbeda dalam banyak hal namun kita bisa bersatu padu menyelamatkan dan memajukan republik. Pemahaman kita yang dangkal menyebabkan kita berlaku semena-mena, menabrak konstitusi bahkan merugikan orang yang tidak bersalah.

Mengutip Goenawan Mohamad, kita membutuhkan Pancasila karena kita seakan-akan telah kehilangan bahasa untuk menangkis 100 tahun kekerasan yang tersirat dalam sikap sewenang-wenang yang juga pongah. Sikap mereka yang merasa mewakili suara Tuhan dan suara Islam, meskipun tak jelas dari mana dan bagaimana ‘mandat’ itu datang ke tangan mereka, sikap mereka yang terbakar oleh ‘egoisme-agama’ dan menafikan cita-cita Indonesia yang penting, agar tiap bangsa Indonesia ‘bertuhan Tuhannya sendiri’ hingga agama tak dipaksakan, dan para penganut tak bersembunyi dalam kemunafikan.

Kalau pemerintah tidak bisa bersikap tegas dan mengubah paradigma tersebut, bisa jadi pengeboman di negeri akan menjadi sesuatu yang lumrah seperti halnya fenomena gempa di negeri sakura.

oleh : Ali Rasyid
Kepala Biro Politik Bandung Intellectual Circle (BIC)

Antara Pengemis dan Mbok-mbok Pedagang

Pernahkah kalian mendengan nasihat seperti ini: “Memberi pengemis itu harus ikhlas, tidak usah dipikirkan apakah ia orang yang mampu atau tidak apakah itu cuma karena ia malas ataukah benar–benar tidak mampu, itu urusan dia pada Yang di Atas.” Coba bayangkan kalau setiap orang berpikir seperti ini, maka semua pengemis pengamen akan bersorak gembira, tapi pernahkah dia berpikir bahwa cara berpikirnya akan menambah panjang daftar orang yang berbondong menjadi pengemis. Karena pekerjaan ini gampang, tidak berisiko dan tidak membutuhkan modal apapun. Berapa banyak calon generasi penerus kita yang tiap pagi hingga sore diajak oleh orang tuanya untuk mengemis di setiap lampu merah, diajak mengamen dalam gendongan sang ibu yang ntah itu adalah ibu kandungnya, atau sang anak sekedar disewakan, dieksploitasi untuk kepentingan orang–orang tertentu.

Atau ingatkah kalian kisah seorang bapak yang tega memotong kaki anaknya agar si anak dapat membantunya mengemis iba dari orang lain karena cacatnya kaki si anak. Betapa kejam sang bapak, bagaimana nasib sang anak setelah itu, apakah sepasang kaki pemberian yang sempurna dari Sang Maha Sempurna dapat tergantikan oleh recehan uang yang di dapat dari hasil meminta–minta? Bukankah memberi itu lebih baik dari menerima, dan tangan diatas lebih baik dari tangan yang dibawah? Namun mental sang anak telah dicetak untuk meminta bukan memberi. Haruskah kita membiarkan orang yang meminta terus menjadi peminta–minta dengan memberinya uang padahal dia mampu untuk bekerja? Berapa banyak lagi orang–orang yang akan tergiur dengan profesi ini.

Seringkali kita terus memprotes dan menyalahkan pemerintah dengan keadaan ini, karena ketimpangan sosial yang begitu tinggi, karena pemerintah hanya memberi peluang pada pemodal asing, karena kekayaan negeri ini yang justru dikeruk untuk kepentingan asing, karena pajak yang disalahgunakan, karena korupsi yang merajalela, karena minimnya lapangan kerja dan berbagai masalah makro lainnya. Memang hal itu ada benarnya, namun pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita turut berpartisipasi dalam memiskinkan negeri ini dengan menjadikan SDM kita menjadi tidak kreatif, tidak produktif dan malas dengan melestarikan budaya mengemis?

Sementara di sudut lain, di jalan yang ramai dengan lalu lalang manusia, seringkali kita temui pedagang yang menjual buah, sayur, atau jajanan kecil dengan bakul yang diikat selendang, dimana ia duduk dari pagi sampai sore diatas selembar karung beras plastik yang sudah tidak layak pakai, ia berusaha menjajakan dagangannya dan berharap ada yang membeli, namun terkadang untung yang ia dapatkan tidak seberapa karena pembelinya menawar harga yang terlalu rendah sehingga ia hanya bisa menjual dengan untung yang sangat kecil atau menjual rugi (karena jika tidak dijual saat itu juga mungkin besok barangnya akan busuk, atau takut tidak ada yang akan membeli lagi).

Pernahkah anda berpikir bagaimana nasib si pedagang itu jika dagangannya tidak laku? Mungkin saja ia punya banyak mulut yang harus ia suapi, mungkin saja jika dagangannya tidak laku anaknya terancam putus sekolah, mungkin saja jika dagangannya tidak laku hari ini ia tidak akan punya modal untuk berjualan di esok hari. Kemungkinan terburuk pasti bisa terjadi karena berdagang itu selain mendatangkan untung juga bisa mendatangkan rugi, karena pekerjaan itu berisiko. Seringkali juga yang berjualan seperti ini justru si mbah–si mbah yang sudah tua namun tetap terus berjualan karena mungkin almarhum suaminya dan ia sendiri bukan PNS yang setelah tua bisa menikmati masa tuanya dengan uang pensiun.

Dan tentu saja orang–orang lebih memilih untuk memberi uang kepada pengemis, pengamen dan peminta-minta sejenisnya, dari pada memberi uang lebih pada si ibu tua yang berjualan pisang dipinggir pasar. Bahkan merasa bangga jika bisa membeli barang dengan harga yang murah, berhasil menawar barang dengan harga serendah–rendahnya dianggap sebagai prestasi. Padahal orang berdagang itu lebih mulia daripada meminta minta, bahkan nabi kita sendiri pernah berdagang. Lalu kenapa tidak kita muliakan orang yang berdagang daripada yang meminta–minta? Kenapa tidak kita coba hilangkan budaya meminta–minta dengan menolak memberi pada orang yang secara fisik mampu berbuat atau menghasilkan sesuatu.

Dan tahukah anda akan jauh lebih berarti jika anda memberi sebagian harta anda pada si pedagang tua yang tetap mempertahankan kemuliaanya dengan tidak meminta minta, karena anda telah berbagi rezeki pada orang yang mau berusaha, dan mungkin lebih baik daripada anda ikhlas memberi uang anda (dengan label sedekah) pada preman yang mengamen dipinggir jalan (yang mungkin pula uang anda tersebut digunakannya hanya sekedar untuk membeli barang haram yang bernama rokok). Dan haruskah kita senang mendengar adanya perkampungan pengemis di negeri ini? Yah andalah yang menentukan apa yang akan anda lakukan. Yah,..tulisan ini hanya sekedar sentilan untuk mengingatkan!

Oleh: Jantu Sukmaningtyas, kader Kohati