Hatta: SBY Tukang Bohong

HMINEWS – Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang meminta revisi kontrak karya dengan pihak asing sangat luar biasa. Pidato yang disampaikan dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila kemarin (Rabu, 1/6) sedikit menggambarkan bahwa SBY sudah punya nyali melawan kolonialisme.

“Berarti SBY sudah punya nyali melawan, seperti yang dikatakan Habibie, VOC gaya baru. Tapi permasalahannya, dia (SBY) sering bohong,” kata aktivis 77/78, Hatta Taliwang mengutip¬† Rakyat Merdeka¬† Kamis (2/6).

Yang juga harus diperhatikan adalah, apakah pidato ini merupakan niat murni dari SBY atau hanya upaya menaikkan nilai tawar kepada asing.

“Dari kemarin saya sebar SMS, kalau kita konsekuen dengan Pancasila, sebaiknya revisi UU yang sarat kepentingan neoliberalisme, seperti UU Minerba atau UU Migas. Dan itu yang seharusnya dilakukan SBY,” lanjut Hatta.

Sebelum Revisi Kontrak Karya Asing, Amandemen Dulu UU Pro Neoliberalisme

Kalau SBY benar-benar anti neoliberalisme, harusnya SBY bertindak cepat. Jangan dulu merenegosiasi kontrak karya dengan perusahaan asing, tapi lakukan dulu amandemen UU yang berbau neoliberalisme.

“Yang jelas kalau SBY mau jadi nasionalis sejati, maka dia harus ambil tindakan secepatnya. Kalau bisa, besok, ia membentuk tim yang mengevaluasi beberapa UU neoliberalisme, misal UU Penanaman Modal Asing, UU Air, UU Perburuhan dan UU Migas,” ujar Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan kepada¬† Rakyat Merdeka Rabu malam (1/6)

Lalu apakah tindakan SBY ini dilakukan karena ia mulai ditinggalkan asing, kemudian pernyataan ini dijadikan alat untuk menaikkan nilai tawarnya?

“Bisa saja, karena memang ada indikasinya dari artikel Wall Street Journal, The Age, Sydney Morning Herald (yang menghujatnya),” ujarnya lagi.

Tapi, itu tak jadi urusan, kata Syahganda yang jadi urusan adalah bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada harus bersih dari kepentingan asing, demi menyejahterakan rakyat secara umum.[]RMOL/ian