Kepemimpinan Anies Baswedan: Pemimpin Pembela Kebenaran

Anies Baswedan

Sewaktu Dr. Anies Rasyid Baswedan, MS., diangkat menjadi Rektor Universitas Paramadina Mulya menggantikan tokoh besar Nurcholis Madjid. Saya tertegun. Kembali cerita dari sahabat saya tentang Anies Baswedan memenuhi memori ini. Cerita ini pula yang membuat saya optimis suatu ketika orang-orang jujur akan memimpin bangsa ini. Menyelamatkan kita dari keterpurukan.

xxxx

Dari kesaksian seorang sahabat. Sebut saja sahabat kita itu: Faraz Ramadhan. Berikut adalah cerita Faraz jujur kepada saya tentang Anies Rasyid Baswedan.

Tahun 1994 kalau tidak salah, mahasiswa Yogya demo di bunderan. Menentang pembredelan Detik, Tempo dan satu lagi saya lupa namanya. Mahasiswa menolak kesewenangan pembredelan itu. Mereka demo menentang!

Saat itu 1994, Wak Dhe (Uwak Gede) dari pada Haji dari pada Muhammad dari pada Soeharto sedang represif- represif nya. Setiap demo langsung dihadapi oleh laras senapan militer.

Siang terik. Jam menunjukkan pukul 13.30. Mahasiswa yang sudah capek berdemo sejak pagi, bersiap ingin membubarkan diri.

Tiba-tiba komandan militer kasih perintah melalui pengeras suara kepada mahasiswa:

“Dalam 30 menit lagi anda harus bubar!”

“Jika tidak, maka kami yang akan membubarkan dengan paksa!!!”

Mendapat perintah represif tersebut, justru membangkitkan semangat perlawanan mahasiswa. Bukannya bubar, massa mahasiswa bersatu merapatkan barisan. Mereka bertekad tidak mau bubar. Siap melawan.

Papan batu hijau muda bertuliskan “Selamat Datang di Kampus Universitas Gadjah Mada”, terletak tepat ditengah Bunderan dijadikan D’ Alamo, benteng perlawanan massa mahasiswa. Sementara batalyon pasukan militer berjejer rapi, profesional jali, di depan RS Panti Rapih. Hanya berjarak 100 meter persis di depan D’ Alamo -nya mahasiswa.

Pukul 13.45. Suasana semakin heroik. Keberanian menggelora di dada. Idialisme tinggi membubung menembus lapisan awan tertinggi. Seakan seluruh mahasiswa siap menyerahkan selembar nyawa di badan.

Tapi benarkah demikian? Pukul 13.55, berarti 5 menit sebelum deadline, Faraz dengan cemas melihat kebelakang. Kaget dia tidak percaya dengan penglihatannya!

Bambang Nursanto Suryolaksono (bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis FE UGM), atau aktivis gadis Amoy Rekena (juga bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis Fisipol UGM), dan lain-lainnya sedang lari sipat tukang menyelamatkan diri. Seluruh pimpinan aktivis dari berbagai kelompok lari. Wuss…, wuss…, wuss…, kabur nyaris tak terdengar. Mereka tidak memperdulikan nasib mahasiswa lain yang berhadapan langsung dengan laras senapan.

Faraz cemas. Dia sadar hanya dia dan Anies Baswedan lah yang berada di garis terdepan. Memang mereka bersama ribuan massa mahasiswa. Tapi mereka itu massa mengambang. Bukan tokoh aktivis. Sementara para tokoh aktivis lain sudah lari menyelamatkan diri.

Faraz menoleh, bertanya pada Anies seniornya: “Anies, semua pimpinan aktivis dari kelompok lain kabur. Cuma kita yang berada digaris depan. Kenapa kita tidak ikut lari?” —tanya Faraz dengan suara bergetar menahan takut tak terkira.

(Iyalah Faraz cemas. Saat itu bukan jaman pasca reformasi Bung! Laras senjata di depan mata. Acaman hidup mati riil hanya berjarak beberapa jengkal)

Anies senyum tenang menoleh dengan kalem:

“Raz, kita ini pemimpin”.

“Kita tidak boleh lari meninggalkan mereka (massa mengambang —red)”.

“Mereka berdemo dengan keberanian di dada karena mereka percaya pada kita”.

“Haruskah kita meninggalkan mereka ketika ancaman hidup mati di depan mata?”

Faraz diam sambil lirih menjawab: “Bener Nis, tapi aku takut sekali”.

“Justru pada saat seperti inilah kita harus percaya bahwa Allah SWT pasti melindungi kita”.

“Yang membedakan kita dengan mereka (para pemimpin mahasiswa yang lari —red) cuma satu, yaitu: Iman!” —jawab Anies dengan tegas.

Berbagai cita rasa bercampur aduk antara takut, cemas, malu di dada Faraz.

Sadar bahwa Faraz sangat tertekan, Anies kembali senyum bicara:

“Raz, kalau kamu mau lari, larilah sekarang”.

“Mumpung belum terlambat”.

“Aku sangat memahami keputusanmu untuk lari”.

“Tapi aku tetap akan bertahan di sini”.

“Dan aku akan berterima kasih jika kamu juga tetap disini bertahan bersamaku”.

Begitu lah Anies menutup pembicaraan. Selanjutnya seluruh fokus dan konsentrasinya diarahkan untuk menghadapi lawannya, — se-Batalyon pasukan tempur yang siap membantai!

Keberanian dan ketulusan Anies menginspirasi si Faraz. Dengan sisa-sisa keberanian terakhir disertai doa-doa terakhirnya, Faraz tegak membatu di samping Anies. Dia memutuskan untuk bertahan apapun yang terjadi, um jeden Preis!

Tepat pukul 14.00, dalam satu komando; “Bantai!”, maka gerak pasukan topan badai menyerbu. Bukannya lari, Anies malah maju kedepan beberapa langkah. Berteriak dia mengusir:

“Hey, ini kampus mahasiswa! Keluar kalian semua! Kalian tidak pantas masuk kampus ini!!!”

Tapi apalah arti teriakan Anies itu dalam telinga “pasukan robot pembunuh profesional”. Detik berikutnya, Anies, Faraz, dan seluruh mahasiswa terjungkal di garis depan. Sahabat-sahabat Anies, yang berada di “Gelanggang Mahasiswa” segera maju menuju Bunderan untuk memperkuat barisan dan mencoba “menyelamatkan” Anies. Sayang keberanian dan ketulusan itu justru dibayar mahal dengan percikan darah.

Hari itu, Anies Rasyid Basewedan terjungkal kena popor senapan. Tapi hari itu juga membuktikan bahwa keteguhan Anies untuk mempertahankan kebenaran tidak pernah terjungkal meskipun berhadapan dengan laras senapan dan nyawanya adalah taruhannya.

Penulis: Ferizal Ramli, alumnus HMI Ekonomi UGM, saat ini sedang menempuh pendidikan lanjut di Jerman

Serangan di Norwegia dan Mahalnya Harga Ketakutan

Oleh: Natana J. DeLong-Bas*

Boston, Massachusetts – Ada kejadian-kejadian tertentu yang begitu menyakitkan dan tidak bisa dimengerti sampai-sampai membuat kita terhenyak dan ingin tahu di dunia macam apakah kita sekarang berada. Pembunuhan massal mengerikan terhadap para remaja dan pemuda di suatu perkemahan musim panas di Norwegia harus membuat kita berpikir sejenak untuk merenungkan bagaimana kejadian seperti itu bisa terjadi.

Hanya menyalahkan seseorang sebagai sebuah kasus menyimpang tidaklah membantu kita sampai pada inti dari masalah sebenarnya. Tidak pula hal itu membantu kita melindungi anak-anak yang terperangkap di tengah-tengah bahaya akibat perseteruan yang terjadi.

Pemberitaan awal di media tentang serangan ganda Anders Behring Breivik ke gedung pemerintahan di tengah kota Oslo dan perkemahan musim panas Partai Buruh itu buru-buru mengaitkan serangan itu dengan “terorisme atas nama Islam”. Ini mengingatkan kita pada pemberitaan awal tentang ledakan bom di kota Oklahoma pada 1995 yang dilakukan oleh Timothy McVeigh, ketika para “pakar” langsung mengklaim serangan itu tampak seperti terorisme a la “Timur Tengah” atau “Islam”.

Ketika McVeigh terungkap selaku pelaku peledakan bom, media Amerika tidak mengaitkan agamanya (Kristen) dengan serangan itu seperti halnya “Islam” yang tadinya disangkutpautkan. Alih-alih, kekesalannya terhadap jawatan militernya dan kekecewaan politiknya disoroti sebagai akar pemicu kekerasannya. Karena Kristen tetap menjadi agama mayoritas di Amerika Serikat dan Eropa Barat, kebanyakan orang Amerika dan Eropa bisa mengerti model Kristennya McVeigh – tafsiran ekstrem dan politis yang tidak terkait dengan Kristen arus utama di Barat.

Hal yang sama tidak diterapkan pada Islam, yang tetap menjadi agama paling tidak dimengerti di Amerika Serikat dan Eropa Barat dewasa ini. Mayoritas orang Amerika, misalnya, tidak cukup tahu tentang Islam sehingga tidak bisa menyadari bagaimana sebuah tafsiran ekstrem berbeda dari praktik arus utama dalam Islam.

Malah, yang menyedihkan, kita berulang kali menyaksikan kejadian di mana orang menyamakan Islam dengan terorisme. Mereka mengungkapkan kemarahan atas “terorisme Islam” dan ketakutan akan diambil alihnya pemerintahan oleh kaum Muslim. Cerita-cerita tentang “identitas Muslim yang dirahasiakan” dari Presiden Obama terus saja beredar, begitu pula cerita-cerita tentang syariat Islam yang tengah dipaksakan ke dalam sistem hukum Amerika – kendati tidak ada bukti konkrit yang mendukung klaim-klaim ini.

Penyamaan yang terlalu menyederhanakan semacam itu sering menimbulkan perasaan terancam yang berlebihan. Hal itu pun bisa berujung pada kekerasan.

Misalnya, beberapa warga kota Oklahoma yang “peduli” menanggapi berbagai dugaan tentang para pelaku pemboman pada 1995 dengan mengganggu orang-orang Muslim setempat dan menebar suasana ketakutan, intimidasi dan kebencian.

Menurut berita-berita awal, Breivik, yang takut akan kolonisasi Muslim terhadap Eropa Barat dan berkembangnya multikulturalisme – dan kabarnya mengutip beberapa tokoh yang mendukung pandangan-dunia yang eksklusif dan intoleran – memutuskan bahwa sudah tiba waktunya untuk bertindak.

Walhasil, sekurang-kurangnya 76 orang, sebagian besar anak-anak dan remaja, membayar ketakutan Breivik dengan nyawa mereka.

Pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh apa yang kita baca, lihat dan dengar, serta oleh gagasan-gagasan yang sampai pada kita. Kebanyakan orang sudah sadar bahwa tidak ada pembenaran atas kekejaman semacam itu dan bahwa tindakan para teroris tidaklah bisa diampuni. Namun, pada saat yang sama, jika kita gagal menyadari dan mengatasi faktor-faktor sosial yang menjadi akar perilaku semacam itu, siklus kemarahan, kekerasan dan kebencian akan tetap berlanjut.

Berapa banyak lagi respon kemarahan akibat dijajakannya ketakutan dan Islamofobia harus terjadi sebelum kita bisa menyadari akibatnya yang terus saja menelan nyawa? Mendakwahkan kebencian, rasisme dan kefanatikan selalu berbuntut kekerasan – tidak pernah tidak merugikan dan tidak pernah tanpa maksud. Suatu saat, seseorang pun akan bertindak.

Dan, sangat sering, anak-anak yang tidak berdosa, yang tidak tahu menahu apa masalahnya, terperangkap di tengah-tengah perseteruan yang ada.

Mudah-mudahan Tuhan mengampuni kita semua karena membuat setiap anak-anak hidup dalam suasana di mana kebencian dan ketakutan menjadi makanan sehari-hari. Orang-orang dewasa di dunia ini berutang komitmen pada anak-anak, yaitu komitmen untuk belajar mendengar dan mengerti satu sama lain sehingga kita bisa hidup dalam lingkungan di mana martabat, kemanusiaan dan agama setiap orang dihormati.

Keselamatan dan nyawa anak-anak bergantung pada hal itu.

###

*Dr. Natana J. DeLong-Bas ialah Pemimpin Redaksi The Oxford Encyclopedia of Islam and Women dan pengarang Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Ia mengajar perbandingan agama di Boston College.  Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)

EN-LMND: Hanya Koruptor Yang Ingin KPK Dibubarkan

Wacana pembubaran lembaga KPK yang muncul dari lingkaran Partai Demokrat merupakan bentuk keresahan yang tak berujung, Marzuki Ali yang merupakan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat terkesan sudah kehabisan taktik untuk mempertahankan kehormatan dan citra Partai besutan SBY tersebut, padahal kita ketahui beliau adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, disisi lain saat ini juga kita ketahui sedang terjadi proses restrukturisasi dalam tubuh KPK, kami menilai proses pergantian pimpinan KPK ini merupakan singnal yang sangat baik untuk merehabilitasi lembaga KPK yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat.

Pasalnya, para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti Chandra M Hamzah, Johan Budi SP dan Deputi Penindakan KPK Ade Raharja sudah dipastikan oleh Panitia Seleksi calon pimpinan KPK tidak bisa menjadi calon pimpinan KPK untuk masa bakti 2011-2015, kemudian kami memandang bahwa wacana pembubaran lembaga KPK tersebut merupakan suatu reaksi yang sangat kontradiktif dengan apa yang menjadi kampanye Partai berkuasa itu.

Untuk memikat hati masyarakat pada saat pemilu 2009, “TIDAK untuk KORUPSI” menjadi salah satu jargon dalam kampanye, masyarakat pasti masih sangat mengingat hal itu.

Memang benar kita tidak bisa menjadikan “nyanyian” tersangka suap Wisma Atlet Sea Games  Mantan Bendahara umum Partai Demokrat M Nazaruddin tersebut sebagai fakta hukum, jika sudah ada yang menyimpulkan itu salah atau benar berarti mereka itu tidak paham prosedur, dan sangat reaksioner. tetapi yang perlu kita garis bawahi adalah “nyanyian” Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut merupakan data awal, untuk selanjutnya diteruskan para penegak hukum melakukan proses pembuktian.

Benar atau salahnya itu kita serahkan saja kepada mereka yang berwenang.

Selanjutnya timbul pertanyaan dari kami. Apa sebenarnya yang menjadi landasan seorang Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengeluarkan wacana pembubaran lembaga pemberantas korupsi tersebut?. Ketakutan yang berlebih, sangat terlihat dari reaksi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Ali, mungkin jawaban yang formal adalah karena beliau merupakan Dewan Kehormatan Partai Demokrat, maka menjadi suatu kewajiban untuk menjaga kehormatan partainya. Tapi hal yang lain yang kami tangkap adalah,pertama; wacana ini muncul ditengah KPK sedang melakukan proses restrukturisasi pimpinan, kemudian dikejutkan kembali dengan keputusan Panitia seleksi calon Ketua KPK yang tidak meloloskan ketiga pimpinan KPK lama (Chandra M Hamzah, Johan Budi SP,dan Ade Raharja. Bisa saja dikarenakan proses pemilihan pimpinan KPK hari ini, sangat di luar dugaan Partai Demokrat, yang mungkin sudah menjadi pembahasan khusus dalam rakornas di sentul. Apakah memang akan ada upaya sistematis yang akan dilakukan oleh Partai Demokrat dalam rangka menghindari berbagai macam persoalan korupsi yang membelit kader-kadernya, dengan kekuatan Partai yang dominan, baik di eksekutif maupun legislatif kemungkinan bisa saja terjadi,  tetapi semoga saja tidak.

jadiHanya yang banyak terlibat persolan korupsi saja yang menginginkan KPK dibubarkan”, kami yakin semangat berdirinya KPK adalah  semangat memberantas korupsi. Walaupun muncul sedikit rasa kecewa, setelah melihat fenomena yang akhir-akhir ini mendera Chandra M Hamzah, terlepas berita yang beredar itu benar atau tidak, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto adalah pimpinan KPK yang dahulu mati-matian kami mahasiswa dan element rakyat lainnya perrjuangkan agar bebas dari proses kriminalisasi saat drama cicak vs buaya.

Dengan terpilihnya struktur baru KPK kelak, harapan kami para mahasiswa adalah KPK harus tetap menjadi tombak utama pemberantasan korupsi di negeri ini, tanpa tebang pilih. KPK harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah yang sempat tertunda, seperti persoalan korupsi yang banyak menguras uang rakyat antara lain, skandal Bank Century, Korupsi IT KPU, & Nazaruddin Gate yang terindikasi melibatkan banyak Pimpinan Partai Demokrat, serta berbagai macam persoalan korupsi yang lain nya. Memang KPK sedang Menghadapi tantangan yang berat, tetapi inilah saat nya untuk menunjukan bahwa KPK adalah lembaga Tinggi Negara yang Independen tidak terpengaruh dengan kekuatan politik manapun.

Lamen Hendra Saputra, Ketua  Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi

Jiwa Mata Duitan SBY-Anas Urbaningrum

Peserta Rakornas Partai Demokrat pekan lalu bertepuk tangan saat ketua umumnya, Anas Urbaningrum, membandingkan dirinya dengan SBY. Tepatnya ketika Anas mengungkapkan bahwa dirinya harus belajar dari SBY dalam menghadapi ujian berupa tuduhan dan fitnah.

Berbagai tudingan yang kini mengarah kepada dirinya, menurut Anas, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tuduhan dan fitnah yang dialami SBY.

Sekelebat kata-kata anak Blitar itu pujian terhadap ketua dewan pembinanya yang juga Presiden. Namun, dalam antawacana alias komunikasi Jawa, pujian model begitu bisa pula lama-lama kita renungkan sebagai tamparan. Inilah yang disebut pasemon dalam antawacana.

Selain pujian, yang kemudian saya tangkap dari pasemon Anas ke SBY: apabila engkau mendongkelku, maka aku pun sudah siap mendongkelmu. Ingat, tuduhan dan fitnah kepadamu justru lebih besar.

”Pasemon” Anas

Saya awam politik. Saya hanya orang yang kerap mengandaikan gaya bertutur Anas adalah gaya Salya dan Kresna dalam pewayangan. Salya, Raja Mandaraka, lebih ”lirih-lirih menekan” ke – timbang Kresna, Raja Dwarawati. Keduanya sama-sama santun, bahkan ketika marah. Namun, sama juga dalam kesantunan keduanya sering timbul pasemon.

Di tangan dalang mumpuni seperti almarhum Ki Narto Sabdo, Prabu Salya, sang mertua para raja seperti Baladewa dan Duryudana, lebih kuat daya pasemon- nya daripada Kresna. Anas lebih mendekati gaya Salya dalam pidato tersebut.

Tentu tafsir saya atas pasemon Anas bisa keliru. Apa daya, saya tak punya terjemahan lain atas pasemon itu. Mungkin ini karena terdorong kesan bahwa hubungan Anas Urbaningrum-Susilo Bambang Yudhoyono tegang.

Bacalah pertandanya sehabis SBY memukul gong pembukaan rakornas. Anas bersalaman dengan SBY seraya agak kaku menyorongkan pipi kanannya ke SBY. Wajah SBY tak bergerak selama beberapa jurus sebelum akhirnya ia tersentak mencium pipi Anas.

”Pasemon” SBY

Sebelum ritus pukul gong, pidato SBY menekankan pentingnya para kader tahu diri. Yang merasa kotor silakan mengembalikan kartu anggota sehingga partai tak perlu lebih dahulu memecatnya. Sebenarnya ini juga termasuk gaya bahasa pasemon yang kerap dilansir Salya dan Kresna. Merujuk pada pidato SBY itu, media online termasuk Twitter menilai Anas sudah kebal karena tak merasa tersentil oleh SBY.

Media lupa, atau mungkin tak menganggap penting, bahwa sebelum SBY berpidato dalam pasemon, Anas yang berpidato lebih dahulu telah memagari SBY dengan pasemon yang fondasinya lebih mendasar.

”Pasemon” kami

Dalam berbalas pasemon Anas-SBY, yang belum menguat tampil justru pasemon dari kami, para rakyat. Sudah muncul, misalnya, komentar yang bersetuju dengan penguasa agar mengedepankan asas praduga tak bersalah baik kepada Anas maupun SBY.

Sebenarnya kami ingin mengatakan, secara adil, terapkan pula asas praduga tak bersalah itu kepada mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin. Berprasangka baik pulalah kepada Nazaruddin sehingga nama-nama yang disebut Nazaruddin patut dipertimbangkan dan dilacak.

Mungkin pasemon akan lebih kuat jika yang kami ungkap adalah kebobrokan diri kami sendiri, padahal sebenarnya ingin kami kuak kebobrokan penguasa dan partai penguasa.

Kebobrokan kami—termasuk say a —adalah mata duitan. Pemilihan ketua alumni saja pakai duit. Kami pilih yang duit dan fasilitasnya lebih banyak. Apalagi untuk pemilihan ketua partai, bahkan apalagi kalau untuk pemilihan presiden. Kami hanya akan mendatangi acara dan terlibat penuh kalau ada imbalannya. Di negeri ini cuma layatan yang belum pakai door prize.

Mungkin Anas dan SBY buka- bukaan sajalah. Pasemon – nya: jiwa mata duitan kalian, jika kelak itu terbukti, belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jiwa mata duitan kami, segenap rakyat. Kami hanya belum mendapat kesempatan berkuasa. [KOMPAS]

oleh: SUJIWO TEJO

Pemberhentian Menguntungkan Boediono

Qusthan Abqary*

Cepat atau lambat, isu pemberhentian Yudhoyono dan/atau Boediono akan mengemuka, khususnya setelah badai menerpa Partai Demokrat yang merupakan kendaraan utama mereka. Seorang teman berseloroh bahwa pada tahun 2012 akan menjadi tahun yang sangat menentukan apakah Yudhoyono/Boediono akan diberhentikan atau selamat hingga Pemilu tahun 2014. Boleh jadi itu benar, boleh jadi itu halusinasi. Namun, tahun 2012 memang tahun terakhir bagi pemerintah untuk bekerja secara efektif sebab tahun 2013 akan menjadi tahun penuh manuver politik.

Oleh sebab itu, tulisan ini mengkhususkan diri untuk menimbang persoalan: mana yang lebih buruk antara memberhentikan pemerintahan yang kerapkali dianggap melanggar konstitusi dengan membiarkan pemerintahan itu selesai dalam satu atau dua periode kepemimpinan? UUD 1945 hasil amandemen keempat memang tidak mengenal pemakzulan, tetapi mengenal pemberhentian.

Dalam UUD 1945 hasil amandemen keempat pasal 7A dinyatakan bahwa “Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.”

Bila kita pahami secara ketat, maka warga negara yang sedang menjadi presiden atau wakil presiden (wapres) dapat diberhentikan apabila sedang menjabat posisi tersebut terbukti secara politis – melalui hak menyatakan pendapat di DPR – dan secara hukum – melalui proses persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) – telah melakukan salah satu dari keempat pelanggaran hukum tersebut atau satu perbuatan tercela. Ringkasnya, pelanggaran untuk memberhentikan presiden atau wapres harus terjadi ketika yang bersangkutan sedang menjabat.

Mega skandal Century, misalnya, tidak cukup untuk memaksa DPR menggunakan hak menyatakan pendapat sebab bukan hanya “matematika politik” yang kurang memungkinkan, tetapi perlu diperhatikan jabatan Yudhoyono dan Boediono pada saat dana talangan tersebut dikucurkan. Posisi Yudhoyono pada saat itu ialah presiden dan ia memang mengaku bertanggung jawab (lihat Heri Susanto dan Nur Farida Ahniar, “SBY: Bail-out Benar, Saya Yang Tanggung Jawab,” pada http://bisnis.vivanews.com/news/read/132970-sby__bail_out_benar__saya_yang_tanggung_jawab; 1 Maret 2010, terakhir diakses 24 Juni 2011). Adapun posisi Boediono ketika itu ialah Gubernur Bank Indonesia dan bukan wapres.

Dengan kata lain, apabila Yudhoyono dan Boediono terbukti melakukan korupsi dalam mega skandal Century, maka yang dapat diberhentikan hanya Yudhoyono sebagai presiden, sementara Boediono tidak dapat diberhentikan secara bersamaan dengan presiden sebab ia tidak sedang menjadi wapres pada saat terjadi mega skandal itu dan boleh jadi justru diganjar menjadi presiden menggantikan Yudhoyono (pasal 8 ayat 1 UUD 1945 hasil amandemen keempat).

Di satu sisi, Boediono sebagai warga negara dan mantan Gubernur BI tetap harus diproses secara hukum meski sedang menjabat sebagai presiden (pengganti). Apabila dalam masa jabatannya sebagai presiden ia terbukti melanggar hukum di masa lalu, yaitu ketika menjabat sebagai Gubernur BI, barulah DPR dapat kembali menggunakan hak menyatakan pendapat untuk diuji di MK. Hal itu tentu menimbulkan gempa dan tsunami politik berkepanjangan bagi bangsa Indonesia.

Di sisi lain, sepanjang sejarah republik, tidak ada Presiden/Wakil Presiden RI yang masuk penjara karena terbukti melakukan korupsi sehingga hampir tidak mungkin vonis hukum terhadap Boediono dijatuhkan pada saat ia sedang menjabat. Tepat di sinilah silang pendapat semakin menguat di antara sebagian besar politikus DPR dalam membaca prospek pemberhentian. Selain itu, pemberhentian tak hanya menguntungkan pribadi Boediono tapi juga mempersulit pemerintah dalam melakukan kemitraan dengan DPR karena presiden tidak berasal dari salah satu partai politik di DPR.

Selain itu, rumusan pasal 7A juga menyisakan ketidakjelasan mengenai batas perbuatan tercela. Bahkan, MK memberikan penjelasan mengambang terhadap kategori perbuatan tercela untuk memberhentikan presiden atau wapres. Menurut Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 21 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara dalam Memutus Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai Dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, pada pasal 1 ayat 11 disebutkan bahwa “perbuatan tercela adalah perbuatan yang dapat merendahkan martabat Presiden dan/atau Wakil Presiden.”

Martabat dalam Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai “tingkat harkat kemanusiaan, harga diri” (lihat http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php; terakhir diakses 24 Juni 2011). Adakah proses peradilan bagi martabat seseorang? Rasanya tidak ada. Bahkan, mekanisme pra-peradilan pun juga tidak memadai bagi hal tersebut.

Bila diambil salah satu tindak tercela, misalnya perselingkuhan yang merupakan bagian dari delik aduan, maka pihak Kepolisian yang berwenang memproses setelah muncul aduan dari masyarakat. Apakah proses pembuktian perbuatan tercela oleh DPR (tahap III persidangan di MK), dalam hal perselingkuhan misalnya, membutuhkan hasil dari proses penyidikan yang rentan terhadap intervensi politik penguasa seperti yang terjadi pada kasus Zainal Ma’arif yang melaporkan video SBY sudah menikah sebelum masuk AKABRI ke Kepolisian?

Ketidakjelasan pun semakin bertambah ketika presiden maupun wakil presiden diberhentikan secara bersamaan seperti yang diatur dalam pasal 8 ayat 3. Dalam ayat tersebut dinyatakan “…Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya, sampai akhir masa jabatannya.”

Belajar dari Pilpres 2009, maka hanya Demokrat (beserta PKS, PAN, PPP, PKB), PDI Perjuangan, dan Gerindra yang berhak mengusulkan dua pasangan berikutnya sebab dalam Pemilu sebelumnya calon mereka meraih suara pertama dan kedua. Bila demikian, maka posisi Golkar dan Hanura di DPR beserta DPD sangat menentukan dalam pemilihan presiden dan wapres berikutnya.

Ke luar dari berbagai situasi dan kondisi di atas, apapun skenario pemberhentian presiden dan/atau wapres, tetap saja menguras suasana kebatinan rakyat sementara para elit politik – khususnya master mind mega skandal Century – tetap menari dan diuntungkan. Akhirnya, pemberhentian presiden dan/atau wapres lebih buruk ketimbang membiarkan pemerintah saat ini selesai hingga 2014, sebab isu pemberhentian melalui Century hanya akan menguntungkan Boediono.

______________________________________

*) Peneliti di Yayasan Indonesia Baru. Ia dapat ditemui di http://blog.abqary.net

Anas Berulah, KAHMI Angkat Bicara!

HMINEWS – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogyakarta mengaku tengah menyusun rekomendasi otokritik terhadap Anas Urbaningrum selaku pimpinan kolektif organisasi KAHMI. Anas diminta tidak menutup-nutupi kasusnya sebagaimana halnya sorang politikus. “Kembalilah ke moralitas HMI, seperti Profesor Julianur,” ujar Ketua Umum KAHMI Yogyakarta, Zulkifli Hakim, saat dihubungi Tempo, Minggu kemarin, 24 Juli 2011.

Zulkifli juga meminta Anas tidak gemar bersilat lidah sebagai politikus. “Apakah Nazaruddin benar atau salah, ini juga masih abu-abu. Anas harus jujur,” ujarnya. “Jangan menutup-nutupi kekurangannya, Anas harus kembali pada Anas saat menjadi HMI, bukan politikus yang suka bersilat lidah.”

Zulkifli menegaskan KAHMI Yogya tidak menempatkan seseorang kader KAHMI lebih tinggi kedudukannya saat menjabat jabatan politik semisal sebagai ketua umum atau pimpinan DPR seperti Priyo Budi Santoso.

“Bagi kami siapa pun yang datang ke kami dan diskusi bersama di Yogyakarta, ditempatkan sama halnya dengan kader yang yang juga berprofesi sebagai guru inpres,” ujarnya. “Anas jangan membuat kalkulasi politik. Kembalilah ke moralitas.”

Ia menegaskan otokrirtik yang akan disusun hanya dilakukan oleh Yogyakarta, belum bersifat secara nasional, karena kader KAHMI di Yogyakarta selalu berlandasan moralitas. “Ini hanya inisiatif kami. Kami inginkan Anas yang seperti waktu jadi aktivis.” katanya. “Kalau nanti otokritik digunakan di internal Partai Demokrat, kami tidak peduli dan kami tidak ada hubungannya dengan politik.[]tempo

Ormas Islam Indonesia Kutuk Keras Pembantaian Massal di Norwegia

HMINEWS – Sebanyak 12 organisasi massa (ormas) Islam nasional mengutuk aksi pembantaian massal yang terjadi di Norwegia. Kekerasan atas nama apa pun tidak dibenarkan.

“Intoleransi muncul di dunia, termasuk di Norwegia. Kami mengutuk sekeras-kerasnya tindakan kekerasan yang bertentangan dengan ajaran Islam itu,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj mewakili 12 Ormas Islam.

Hal ini disampaikannya dalam keterangan pers seusai diterima Presiden SBY. Pertemuan berlangsung di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (25/7/2011).

“Mungkin orang-orang di dunia saat ini sedang sakit,” imbuh Said mengecam kekerasan yang memakan sebanyak 93 korban jiwa di Oslo dan Pulau Utoeya, Norwegia.

Said juga mengutuk kekerasan yang marak terjadi mengatasnamakan agama yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. “Kami prihatin atas munculnya fenomena kekerasan yang mengatasnamakan agama, terutama agama Islam,” imbuhnya.

Seorang pria Norwegia bernama Anders Behring Breivik telah ditahan terkait dua serangan teror yang terjadi di dua tempat berbeda dalam selisih waktu sekitar dua jam tersebut. Pria berumur 32 tahun itu tengah diinterogasi polisi.

Dia masih diyakini bekerja seorang diri dalam aksi pembantaian tersebut. Pria berambut priang itu disebut-sebut terkait ekstremis sayap kanan dari kalangan Kristen fundamentalis.

Jumlah korban tewas dalam dua serangan teror yang mengguncang Norwegia tersebut mencapai 93 orang tewas. Sementara lima orang dikabarkan hilang.[]dtk

Mimbar untuk Para Penulis Muslim

Muslim Inggris haus akan peluang untuk menulis dan dipublikasikan. Tapi apakah Muslim butuh diajari untuk melakukan itu? Adakah sesuatu yang membuat para penulis Muslim berhenti menyuarakan pendapat dan berbagi pengalaman mereka? Menurut James Caan, seorang pengusaha penerbitan yang terkenal karena penampilannya di acara televisi Inggris Dragon’s Den, Muslim perlu didengar “untuk alasan yang tepat.” Ketika sebagian besar liputan media tentang Muslim Inggris terpusat kepada berita-berita terkait terorisme, bisa jadi cukup sulit untuk mengembangkan bakat di tengah berbagai tantangan lain yang dihadapi setiap penulis untuk bisa dilihat, dan khususnya untuk mengubah narasi publik pada umumnya.

“Ini adalah sebuah tantangan yang dihadapi para penulis dari etnis minoritas sepanjang sejarah, dan yang tengah dikikis. Kami ingin melakukan yang sama dengan para penulis Muslim,” kata Irfan Akram, Direktur Muslim Writers Awards (MWA). “Muslim ingin mengekspresikan diri dan kreativitas mereka. Dan mereka punya bakat alami untuk melakukan itu.”

MWA tengah mencoba membantu – dengan menembus kebisingan dan menemukan bakat alami. Kini dalam tahun kelimanya, MWA secara luas diakui oleh para penulis dan pekerja dunia penerbitan sebagai ajang paling dikenal, menarik dan kredibel bagi para penulis Muslim dari segala usia. Akram menyatakan bahwa cukuplah penting untuk memastikan bahwa Muslim bisa mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri dalam bahasa mereka sendiri dan merasa menjadi bagian dari ruang publik.

Menurut Akram, tujuan MWA “adalah menumbuhkan bakat itu, membuatnya menjadi perhatian dunia luas dan kemudian merayakannya. Kami ingin memberi para penulis Muslim kepercayaan diri dengan kemampuan mereka, dan menawarkan sebuah panggung untuk mengomunikasikan pengalaman dan kreativitas mereka melalui kekuatan pena.” Visi ini dijelmakan dalam semboyan penuh arti mereka: “Berbagi cerita, berkumpul bersama. Inilah saatnya, Menulis Sekarang!”

Setiap tahun program MWA berkembang, dan peserta yang masuk tahun ini – sampai 31 Juli nanti – akan dikelompokkan dalam delapan kategori: novel (yang belum ataupun sudah terpublikasi), cerpen, puisi, cerita anak, naskah drama, blog dan tulisan jurnalistik. Karya peraih anugerah ini akan disertakan dalam sebuah antologi dan kutipan dari peserta unggulan akan ditampilkan di situs MWA. Para pemenang juga akan ditempatkan dalam program-program penulisan dan dimitrakan dengan para editor dan penulis yang lebih berpengalaman yang akan memberi mereka pelatihan selama setahun.

Tahun lalu sebuah program baru diperkenalkan: Young Muslim Writers Awards. Tujuannya adalah untuk secara khusus mengangkat para penulis di bawah 16 tahun. Program ini terlihat efektif: pemenang tahun lalu dari kelompok usia 14 hingga 16, Mina Bint Muhammad, baru saja menerbitkan novel pertamanya, See Red, (Urbantopia Books, 2011) tentang seorang gadis Muslimah yang dikeluarkan dari sekolah diniyahnya dan berjuang untuk menyesuaikan diri dengan para gadis di sekolah barunya di Newham.

MWA bermitra dengan Penguin, salah satu penerbit paling digemari di dunia, dan Puffin Books, yang fokus pada penerbitan anak-anak.

Muslim Inggris telah cukup gugup dengan dunia penerbitan. Menjadi seorang penulis dianggap oleh masyarakat pada umumnya sebagai karir yang berisiko. Ini, ditambah lagi dengan tantangan menghadapi potret negatif Muslim di media, membuat kita langsung bisa mengerti mengapa mereka sejauh ini telah enggan untuk mengangkat karya-karya mereka sendiri. MWA menghilangkan rintangan-rintangan itu dan memulai membangun sikap pengertian.

MWA juga melejitkan para penulis baru melalui lokakarya menulis kreatif, seminar dan forum diskusi yang dihadiri oleh ribuan penulis dari seantero Inggris setiap tahunnya. Yang menjadi tempat pelatihan-pelatihan ini termasuk sekolah dan perpustakaan terkecil setempat, hingga London Book Fair, pameran buku terkenal dalam kalender penerbitan global.

MWA sudah mendapat sambutan cukup baik. Gordon Brown, mantan Perdana Menteri Inggris, memuji MWA karena bertujuan “meningkatkan saling pengertian dari orang-orang Inggris” dengan mendorong talenta menulis Muslim Inggris. BookTrust, lembaga amal Inggris yang mendorong orang dari semua umur dan budaya untuk menikmati buku, memuji MWA karena “menyuguhkan potret yang positif dan kuat tentang komunitas Muslim, dan mendorong kebanggaan pada sastra dan pengarang Muslim.”

Komunikasi bisa benar-benar dimulai ketika sebuah komunitas bicara untuk dirinya sendiri, dan bangga dengan talentanya dan ekspresinya di tengah masyarakat luas.

###

* Shelina Zahra Janmohamed ialah pengarang Love in a Headscarf dan menulis sebuah blog di www.spirit21.co.uk. Untuk informasi lebih lanjut tentang Muslim Writers Awards, silakan kunjungi: muslimwritersawards.org.uk. Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Juli 2011

Jusuf Kalla: Orang Sudah Lupa pada Jargon ‘Lanjutkan’

HMINEWS – Meskipun kalah dalam pemilihan presiden 2009, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla masih bisa berkelakar. “Orang masih ingat saja pada jargon ‘lebih cepat lebih baik’, tadi saya jalan ke sini, dua orang bilang begitu sama saya, mungkin orang sudah lupa sama ‘lanjutkan’,” kata Jusuf Kalla dalam diskusi pemasaran politik di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina, Kamis, 21 Juli 2011.

Slogan ‘Lebih cepat lebih baik’ adalah jargon pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dalam pemilihan presiden lalu. Sedangkan ‘lanjutkan’ adalah slogan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

“Sayangnya branding saya munculnya setelah saya kalah, mungkin perlu dibuat teori bahwa branding akan muncul setelah seseorang kalah,” kata Kalla disambut gelak tawa peserta diskusi.

Kalla menganalisis, dia gagal menang dengan jargonnya karena sebagai Wakil Presiden tak cukup jelas apa hasil kerjanya dibanding presiden. “Sekarang setelah saya tidak ada, jadi jelas sedikit,” kata Kalla sambil tertawa terkekeh.

Menurut Kalla, sejatinya hidup masyarakat Indonesia tak susah-susah amat. Namun banyak orang tidak puas terhadap pemerintah. Penyebabnya adalah kenyataan yang tak sesuai ekspektasi. “Jangan bilang tidak, tidak, tidak, tapi tiba-tiba sekarang iya,” kata Kalla. Dia merujuk pada pesan kampanye Partai Demokrat yang menonjolkan pesan antikorupsi tapi kini dililit sengkarut dugaan korupsi para kadernya.[]tempo

Jika Anas Dipecat, Arus Bawah Siap Lawan SBY

HMINEWS – Pengamat Politik dari LIPI, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, jika Kongres Luar Biasa (KLB) digelar, dipastikan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melawan arus bawah Demokrat (DPD dan DPC).

Karena itu SBY tetap pada posisi ragu-ragu untuk memutuskan. “Berisiko pecat Anas sebab arus bawah yakni DPD dan DPD mendukung Anas. SBY tidak berani lawan arus bawah,” ujar Burhanudin di Sentul, Bogor, Sabtu (23/7).

Menurutnya, pasca pemilihan di kongres Bandung, hampir semua DPD dan DPC dikuasai atau dipimpin oleh kelompok Anas. Semua DPD dan DPC pendukung Marzuki Alie sudah diminimalisasi.

Memang, menurutnya, ada tiga pintu untuk melakukan KLB berdasarkan AD/ADRT yakni melalui keputusan Dewan Mejelis yang terdiri dari dewan pertimbangan dan dewan pimpinan pusat, mayoritas setengan dari DPD dan 2/3 DPC.

Menurutnya, KLB bisa dimungkinkan melalui dewan majelis, namun tidak mungkin melalui keputusan DPD dan DPC. ” DPD dan DPC inilah yang akan menyelamatkan Anas,” tegasnya.

SBY, menurutnya, tidak berani KLB karena mempertimbangkan dukungan DPD dan DPD ini. Karena itu, KLB sulit dilaksanakan.[]MI/ian