Ramadhan Momentum Menjalin Persahabatan yang Tulus dengan Allah

Oleh: Masagus Fauzan Yayan, SQ

Dengan indah, Rasulullah Saw. menuntun kita cara menjalin persahabatan yang tulus dengan Allah lewat doa yang diajarkan kepada Ali bin Abu Thalib:

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-beban penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu …

Kalaupun aku, Wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku, dan Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kudapat sabar menanggung perpisahan dengan-Mu … kalaupun aku dapat bersabar menanggung panas-neraka-Mu, bagaimana kudapat bersabar dari melihat kemuliaan-Mu .…”

Sebuah munajat yang begitu indah dan intim dari seorang sahabat (manusia) kepada Sahabatnya Yang Agung. Jadi, meskipun posisi manusia dengan Allah tidak setara, hal itu tidak menghalangi keduanya untuk menjalin persahabatan yang erat. Bukankah persahabatan juga dapat dijalin erat antara karyawan dan direkturnya atau antara majikan dan bawahannya?

Berlandaskan persahabatan dan cinta, ibadah kita pun tak lagi seperti budak yang ketakutan atau bak pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan. Ali bin Abi Thalib pernah menuturkan tiga tipe orang menyembah Tuhan: Pertama, orang beribadah karena mengharapkan balasan. Ibadahnya merupakan investasi masa depan. Orientasinya untung rugi. Semakin banyak ia menjalankan ritual-ritual keagamaan semakin banyak pula imbalan dari Tuhan yang akan diterimanya. Imam Ali menyebutnya ibadah para pedagang, pebisnis.

Kedua, orang menyembah Tuhan karena takut pada siksa-Nya. Ibadah mereka sama seperti pengabdian seorang budak kepada tuannya. Ia melakukan segala tugas yang dibebankan, karena khawatir mendapat murka sang majikan bila ia melanggarnya. Ia membayangkan Tuhan, ibarat Sang pemurka yang siap menghukum hamba-Nya yang mengabaikan perintah-Nya. Orang seperti ini biasanya menjalankan ibadah hanya untuk mengugurkan kewajiban.

Ketiga, orang beribadah karena ia sadar memang seharusnya beribadah. Imam Ali menyebutnya ibadah orang merdeka. Ibadah yang dihiasi cinta dan ketulusan. Dari mana cinta yang tulus itu datang? Dari rasa syukur. Dari rasa terima kasih yang mendalam. Ibadah betul-betul menjadi bentuk syukur seorang hamba kepada Sang Pemberi kehidupan. Siti Aisyah bercerita bagaimana Nabi Saw. bangun di tengah malam. Ia terus-menerus beribadat, sambil tak henti-hentinya menangis. Sampai-sampai para sahabat bertanya mengapa Nabi harus beribadah seperti itu? Bukankah Allah telah mengampuni seluruh dosanya, yang dahulu maupun yang kemudian? Nabi berkata, “Bukankah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Profil manusia agung yang dalam hidupnya menjalani persahabatan yang tulus dengan Allah ialah Nabi Ibrahim a.s. beliau dipanggil dengan sapaan mesra: sahabat Allah. Mengapa? Karena relung-relung kalbunya diliputi cinta kepada Allah. Karena beliau meneladani sifat-sifat Allah sehingga Allah pun mencintainya dan menjadikannya sebagai khalil—sahabat dan kekasih-Nya.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Allah mengambil Ibrahim menjadi (sahabat) kesayangan-Nya.” (QS An-Nisâ’ [4]: 125)

Imam Nawawi al-Bantani menceritakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. pernah ditanya, “Wahai Ibrahim, mengapa Allah menjadikanmu orang kesayangan-Nya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Karena tiga perkara: pertama, aku selalu mengutamakan perintah Allah di atas perintah selain-Nya; kedua, aku tidak pernah mengkhawatirkan suatu perkara (rezeki) yang telah ditanggung oleh Allah; dan ketiga, aku tidak senang makan, baik sore hari maupun pagi hari, kecuali bersama tamu.” (Bahkan, dalam suatu riwayat, Nabi Ibrahim a.s. pernah berjalan sejauh satu atau dua mil untuk mencari orang yang mau diajak menemaninya makan).

Namun sebaliknya ketika manusia enggan bersahabat dengan Allah maka berarti mereka telah menyiksa diri sendiri dan akan mengalami perasaan hampa tanpa Kawan Sejati.Allah menegaskan dalam surah Al-Anbiyâ’ [21]: 43,

“Atau Adakah mereka mempunyai Tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) kami.  Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka ditemani oleh kami?”

Kata yushabûn terambil dari kata shahiba, menurut sebagian ulama, berarti menemani.  Teman biasanya membela dan melindungi temannya. Dari sini kata tersebut diartikan melindungi atau bahwa rahmat dan perlindungan Allah tidak menyertai dan menemani mereka.

Haidar Bagir (Buku Saku Tasawuf, 2005), mengutip ramalan seorang psikolog terkemuka abad ke-20, William James.  Dalam bukunya yang terkenal, Varieties of Religious Experience yang terbit pada tahun-tahun pertama abad ke-20, dia menyatakan bahwa sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan menemukan kepuasan kecuali jika ia bersahabat dengan “Kawan Yang Agung” (The Great Socius).

Menurut W.  James, selama manusia belum berkawan dengan “Kawan Yang Agung” itu, maka selama itu pula ia akan merasakan kegelisahan, kekosongan, kecemasan, dan kesepian dalam hidup.  Kawan Yang Agung yang dimaksudkan oleh W.  James itu adalah Tuhan.

Sekalipun temannya banyak dan pergaulannya luas, namun ia tetap merasa sepi (hampa).  Ia kesepian dalam keramaian.  Keterputusan dengan Tuhan menjadi penyebab timbulnya perasaan terasing, gelisah, dan sebagainya.  Tuhan adalah sumber dari segala yang ada, sebagai alfa dan omega, asal dan kepada-Nya semua kembali.  Karena itu, menurut Mulyadhi Kartanegara (Menyelami Lubuk Tasawuf, 2006), hanya dengan melakukan kontak terus-menerus dengan Sumber dan terus berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, maka manusia boleh berharap mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup.  Kalau tidak, berharap saja pun merupakan kemustahilan.  Tuhanlah tempat kembali kita, Dialah tempat asal dan kampung halaman (tempat kita kembali) kita yang sejati.  Bukankah Al-Quran sendiri berkata, “Milik Tuhanlah kita ini, dan kepada-Nya kita semua akan kembali,”  (QS Al-Baqarah [2]: 156)?

Sebenarnya, sejak pertama kali dicipta hingga nyawa akan dicabut kembali, kita diajak untuk selalu berusaha mendekatkan diri dan bersahabat dengan Allah Yang Mahaagung.

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]: 27–30).

*Ketua Umum HMI Badko Inbagbar/2002-2004/ Koordinator Rumah Tahfidz Sumatera Selatan/Penulis Buku Kiat Jitu Bersahabat dengan Al-Qur’a