Syuting Perdana Film “Soul Quest” di Pulau Dewata

HMINEWS – Gaia Production memulai syuting perdana film “Soul Quest” di Pulau Dewata. Lokasi pengambilan gambar dari Pulau Menjangan, Gunung Kintamani, Kawasan Ubud hingga kota Denpasar Bali. Proses syuting  tersebut menarik perhatian masyarakat sekitar.

“Soul Quest” berkisah ihwal dinamika pencarian jati diri.  Film ini berdasarkan kisah nyata. Ia mengalami jatuh-bangun dalam menjalani hidup.  Sehingga pada akhirnya dapat berdamai dengan diri sendiri.  Namun tak berhenti sampai di situ, ia memutuskan untuk berbagi pengalaman hidup kepada sesama.

Film ini mengajak  kita untuk  melakukan perjalanan serupa. “Soul Quest” lebih merupakan biografi dokumenter. Isinya merefleksikan perjalanan saya, anda, atau siapa saja yang mau memaknai kembali Kehidupan  secara lebih berkualitas.

“Soul Quest, Journey from Death to Immortality” diadaptasi dari novel autobiografi dengan judul yang sama.  Versi bahasa Inggrisnya dicetak pula di India. Buku  ini mengisahkan pengalaman hidup dan spiritual anak manusia kelahiran 1956 di Solo, Jawa tengah bernama Krishna Gangtani. Kelak ia lebih dikenal sebagai  penulis buku produktif  dan  tokoh humanis lintas agama, Anand Krishna.

Dalam  dalam salah satu wawancara, Anand Krishna mengatakan, “Saya adalah Indonesia, saya bukan orang Indonesia, saya Indonesia!” Kalimat ini sangat menggugah hati para crew Gaia Production.  Lantas, mereka bersepakat memfilmkan kisah hidup Anand Krishna ini.

Tujuannya agar dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Ternyata Indonesia bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita, ia ada dalam diri, jiwa kita dan merupakan identitas kita sebagai manusia dan anggota komunitas  dunia.

Direncanakan, film yang berdurasi sekitar 120 menit ini juga akan kembali melanjutkan syutingnya pada Agustus-September yang berlokasi di Jakarta, India dan Jepang.

Film ini disutradarai oleh Sitha Soerjo dan dibintangi oleh Wulan Guritno dan Ayu Dyah Pasha.  Selain itu, “Soul Quest”  juga menghadirkan 2 pendatang baru, yakni Prasnant Gangtani (anak Anand Krishna) dan  Eliza.

Pada usia 5 tahun Anand Krishna sudah ‘bertatap muka’ dengan para bijak seperti Yesus dan Hanuman. Seolah Kehidupan Anand selalu berada di jalur cepat.

Pada  1965 di usianya yang ke baru 9 tahun ia mengikuti orang tuanya pindah ke India. Tepatnya ke Lucknow (wilayah India yang berbudaya Islami).  Di sana ia memulai studi spiritualnya dengan mempelajari Al Quran dari Syekh Baba, Mushid Sufi yang berprofesi sebagai penjual es balok.

Uniknya, di Lucknow pula Krishna muda belajar jatuh cinta pada seorang gadis. Walau hanya dengan melihat kehalusan telapak tangan dan mendengar kelembutan suaranya. Krishna pun belajar terus dan berpindah dari satu guru ke guru lainnya.

Namun ketika berusia 19 tahun ia ‘berkenalan’ dengan seorang guru yang sangat terkenal di India. Sai Baba  menjadi guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anand Krishna.

Selanjutnya, pada usia 26 Krishna membuka perusahaan garmennya sendiri di Indonesia. Ia menjadi pengusaha sukses sembari terus melanjutkan pencarian spiritualnya.

Hingga pada suatu ketika, semua berubah total dan ia ‘dipaksa’ untuk berhadapan dengan kematian . Kenapa? Karena  ia divonis mengidap Leukemia  stadium akhir.  Ia pun mulai menelusuri kembali setiap babak kehidupannya.  Sehingga dapat menemukan makna “Kehidupan” yang sesungguhnya.

Dalam pencariannya itu hal ajaib terjadi. Ia sembuh total dari kanker darah yang menggerogoti tubuhnya.  Sejak saat itu Anand Krishna mulai meninggalkan usahanya dan mengabdikan diri pada dunia spiritual dan jalan meditasi. Dengan mendirikan Yayasan Anand Ashram (kini berafiliasi dengan PBB) pada 14 Januari 1991 silam.

_____________________________

Pengirim: T. Nugroho Angkasa, Foto: Rileks.com