Simpati untuk Selatan Thailand, Oleh-oleh Pertemuan Pelajar se-Asia Tenggara

Pada Hari Selasa tanggal 5 Juli hingga hari Kamis 6 Juli 2011 HMI
berkesempatan untuk mengikuti kegiatan konferensi Persekutuan Pelajar
Asia Tenggara (PEPIAT) di Kuala Lumpur, Malaysia. Organisasi Persatuan
Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) menjadi tuan rumah dalam
acara ini.

Dalam sejarah, PEPIAT merupakan organisasi hasil kerjasama ketika HMI
dipimpin Cak Nur (Nurcholis Madjid) dengan PII dan PKPIM. PEPIAT
sempat mengalami vakum ketika HMI mengalami dualisme asas tahun 80an,
hingga sekarang benih pepiat mulai tumbuh kembali dengan fokus Isu
yaitu tentang penindasan muslim di asia tenggara.

HMI, PII, dan PKPIM hadir sebagai tiga organisasi pendiri utama
PEPIAT. Selain itu juga ada  rombongan Aktivis dan imam masjid dari
Selatan Thailand. Dalam Konferensi ini secara khusus dibahas tentang
koordinasi dan mobilisasi isu Selatan Thailand.

Hari pertama Konferensi diisi dengan pengenalan tuan rumah dengan
acara kunjungan ke Kantor Pusat Angkatan Belia Muda Malaysia (ABIM) di
KL. ABIM merupakan organisasi muslim yang terkemuka disana, yang
berhasil melahirkan para pemimpin-pemimpin di Malaysia, salah satunya
adalah Anwar Ibrahim. ABIM yang didirikan tahun 70an ini sekarang
sudah mampu mendirikan beberapa sekolah umum dan kejuruan yang
tersebar di seluruh malaysia. Salah satu yang kami kunjungi yaitu
sekolah kejuruan tata boga dan sekolah umum setingkat SD-SMP bernama
Darul Hikmah yang sudah mempunyai ribuan murid.

Hari selanjutnya diisi dengan fokus workshop tentang isu Selatan
Thailand dengan wakil dari Yayasan Pendidikan dan Pembangunan Sumber
Daya Manusia di Selatan Thailand (FEHRD), Ismaeel, sebagai narasumber
utama. Beliau menjelaskan beberapa permasalahan yang terjadi di
Pattani dan sekitarnya. Sebagai  wilayah yang mayoritas penduduknya
adalah keturunan melayu muslim, penduduk di Selatan Thailand sering
dilanda konflik dan tekanan dari kerajaan Thailand. Dalam jangka waktu
10 tahun ini saja, sudah terjadi  rata-rata 3 kematian setiap hari di
seluruh wilayah selatan Thailand.

Diantara peristiwa yang paling terkenal di mata Internasional adalah
pembantaian di Masjid Takbai. Dalam pembantaian ini sedikitnya puluhan
orang tewas dan ratusan lainnya ditangkap. Slide presentasi Ismaeel
juga menampilkan beberapa foto korban yang dibunuh secara kejam
disana. Lumuran darah tergenang di lantai masjid Takbai. Betapa kejam
tentara tersebut yang membunuh mereka ketika sholat subuh. Juga gambar
menunjukkan puluhan orang yang telanjang dada terkelungkup dengan
borgol di tangannya, ditodongi dengan puluhan senjata tentara. Satu
persatu mereka dilempar dan ditumpuk paksa di Truk, sementara lainnya
disuruh merangkak menuju tempat penahanan.
Belum lagi Ismaeel menunjukkan seorang figur pengacara pembela Selatan
Thailand. Namun sayang, dalam tanggal .. maret 200. Ia sudah diketahui
hilang tanpa bekas. Sebagian saksi mengatakan ia telah meninggal
dengan disiksa sebelumnya. Namun tidak ada yang tahu pasti sampai
sekarang dimana ia berada.

Satu persatu lagi gambar-gambar memilukan ditunjukkan olehnya. Mayat
demi mayat, kuburan demi kuburan, tertampil sebagai korban keganasan
tentara Siam. Tercatat lagi tragedi besar tahun 2006 tentang
pembunuhan di masjid Krisek (konon masjid ini dibangun oleh ulama yang
berasal dari Gresik). Semua tragedi tersebut kadang tercatat, namun
ada pula yang disembunyikan. Yang diketemukan hanyalah beratus-ratus
kuburan tanpa nama hasil pembunuhan tentara.

Keadaan darurat di Selatan Thailand, ujar Ismaeel memang harus
dipertanyakan. UU darurat yang diberlakukan disana merupakan sumber
penyiksaan bagi warga, dimana mereka dapat dengan bebas ditahan selama
80 hari tanpa pengadilan. Disana mereka ditempatkan di camp
penyiksaan, yang tidak jarang berujung pada kematian.  Pendudukan
70ribu tentara dengan persenjataan lengkap juga suatu yang janggal
dimana rakyat Patani hanyalah kaum-kaum yang lemah.

Ismaeel juga menjelaskan, sedikitnya terdapat 7000 anak yatim yang
sekarang terlantar di selatan Thai. Ismaeel bersama organisasinya
sekarang sedang mengusahakan mereka mendapatkan penghidupan dan
pendidikan yang layak, meskin harus menempuhnya di negara tetangga
seperti Malaysia. Sekarang terdapat sedikitnya 5 orang yang Ismaeel
perjuangkan di sekolah darul Hikmah naungan ABIM. Para korban yang
menuntut keadilan juga tak luput dari perhatian. Ismaeel mengusahakan
asistensi hukum bagi mereka yang merasa terdzalimi disana.

Workshop ini berbuah beberapa kesepakatan tentang mobilisasi peranan
masing-masing organisasi pergerakan PEPIAT. Yang pertama adalah
kesepakatan untuk mengajukan advokasi ke kedutaan Thailand di negara
masing-masing. Isinya adalah tuntutan penarikan pasukan dari wilayah
Selatan Thai serta pencabutan UU darurat penahanan masyarakat.
Sedangkan kesepakatan kedua ialah menyepakati  untuk bersama-sama
membantu pendidikan anak-anak di selatan Thai. Perwujudan kegiatannya
adalah pertukaran aktivis pelajar ke wilayah selatan thai, fasilitasi
beasiswa anak yatim, dan kegiatan training pendidikan lainnya. Yang
terakhir ialah penyebaran Isu terkait konflik yang terjadi di Pattani
Darussalam, terutama di Indonesia. Kampanye isu merupakan faktor
penting untuk menumbuhkan kesadaran Ummat untuk kebebasan Pattani. Isu
Pattani terutama sangat jarang terdengar di Indonesia, jauh lebih
tidak terdengar daripada Issu Palestina.

Dengan 3 butir inti kesepakatan tersebut, maka selanjutnya konferensi
beralih ke agenda hari selanjutnya. Secara tidak sengaja pada rehat
sore di sebuah warung kopi kami bertemu dengan seorang mantan aktivis
patani. Imam masjid Thailand dalam rombongan kami mengenalinya meski
sudah 20 tahun tidak bersua. Aktivis dengan nama samaran “hezbollah”
ini, sejak 20 tahun lalu mengasingkan diri di Malaysia. Ialah satu
dari beberapa aktivis utama Pattani semasa tahun 90an. Ia merupakan
satu yang tertinggal hidup sekarang, sedang yang lain telah diasingkan
ataupun ditahan oleh pemerintah.

Dalam kesempatan ini, dengan spontanitas ia bercerita pertama tentang
kisah perjuangannya dari Selatan Thailand hingga sekarang untuk
sementara tinggal di Malaysia. Pak “Hezbollah” dengan dramatis
berhasil melarikan diri dari Pattani ke Malaysia waktu itu, tanpa
perbekalan yang cukup. Namun karena pertolongan Allah ucapnya, ia
dapat bertahan hingga sekarang di Malaysia walaupun dalam keadaan
serba sederhana. Dalam pesannya juga beliau beramanat pada kami untuk
bersatu antarnegara khususnya sesama rumpun melayu untuk melawan
penjajahan Siam / Thailand di Patani. Penjajahan ini beliau ibaratkan
sebagai “Palestina-nya Asia Tenggara”. Sebabnya pendudukan disana
memang didukung penuh oleh negara barat; Amerika dan Israel.
Perdamaian disana juga dapat terwujud bila muslim di asia tenggara
seluruhnya bisa bersatu menentang kedzaliman.

Silaturahim dan konsolidasi PEPIAT ini diakhiri dengan sebuah acara
talkshow di Universitas Selangor dan pertemuan dengan wakil menteri
pendidikan Malaysia esoknya. Di acara talkshow tersebut, Mustafa Kamil
Ayyub tampil sebagai keynote speech dengan posisinya sebagai wakil
Partai Keadilan Rakyat yang diketuai Anwar Ibrahim. Beliau adalah
salah satu angkatan pertama pendiri PEPIAT. Dalam pidatonya, pak
Mustafa menyemangati organisasi-organisasi yang tergabung dalam PEPIAT
untuk produktif menyikapi isu internasional khususnya di regional asia
tenggara. Menurutnya PEPIAT merupakan organisasi yang istimewa karena
independensi dan prestasinya untuk memobilisasi pemuda antar negara.

Pertemuan para peserta dengan Wakil / Timbalan Menteri pendidikan
Malaysia juga menandai perpisahan kami dengan peserta dan narasumber
dari selatan Thai. Selanjutnya organisasi masing-masing akan
melaksanakan tanggung jawabnya untuk meneruskan hasil dari konferensi.
Nantinya akan diadakan lagi kegiatan seperti camp dan pertemuan lain
di Selatan Thailand guna memperjuangkan kebabasan rakyat Pattani
Darussalam. HMI juga membawa pulang tanggung jawab sebagai organisasi
yang mendapat giliran sebagai ketua dalam konsolidasi kegiatan PEPIAT
di tahun kepengurusan berikutnya.

Raushanfikr Muthahhari
Wakil HMI dalam konferensi PEPIAT
utusan HMI cabang Sleman.