Anas Pergi Umroh. Pencucian Dosa?

Banyak orang menanggapi sinis mendengar keberangkatan Anas Urbaningrum ke Mekkah untuk melakukan ibadah umroh. “Mau nyuci dosa dia!”,  begitu celetuk beberapa orang dan bunyi SMS dari teman-teman.  Saya terhenyak. MasyaAllah…, orang berniat ke tanah suci tentu lazimnya sudah dengan segala rencana dari jauh hari, dan tentunya karena panggilan hati.  Apakah keberangkatannya memang di luar kelaziman? Apapun, lepas dari urusan belepotannya kasus heboh  yang menimpa Anas,  saya menganggap dia pergi umroh ya sah-sah saja.

Reaksi ‘miring’ masyarakat atas Anas pergi umroh tak sepenuhnya bisa dihambat begitu saja.  Tuduhan memang belum terbukti sama sekali, namun Anas  bercap ‘korup’  dan terlibat dalam permainan duit serasa sudah menempel di jidatnya. Sanksi sosial kadang memang lebih nyelekit ketimbang sanksi-sanksi  resmi yang lain.  Contohnya ya inilah, lagi-lagi, soal pergi umrohnya.

Rakyat tak akan lupa saat seorang pejabat penting ketahuan korupsi gede-gedean di departemennya yang ‘basah’.  Ia ngabur berangkat umroh beserta seluruh keluarga besarnya.  Dari bisik-bisik kerabat sang istri, saya dapat bocoran bahwa si bapak itu memang setengah mati memohon doa di depan Ka’bah agar terhindar dari hukuman.  Menangis, sesunggukan, bahkan ia sempat lari ke lantai atas sore-sore menjelang maghrib,  bersujud menghadap kiblat (ka’bah), lagi-lagi dengan air mata yang tak putus mengalir.  Pulang dari umroh, tak berapa lama setelah itu,  ia mulai diadili dan… mendekam di bui. Hanya Allah semata-mata yang tahu, permohonan ampunnya didengar diketahui dikabulkan atau tidak. Itu semua  mutlak urusan DIA. Namun permohonan agar  luput dari hukuman, ternyata terbukti, Tuhan tidak mengabulkannya.

Anas pergi umroh. Akankah ia juga seperti bapak pejabat yang saya ceritakan tadi? Apa yang akan dikatakannya sembari bersujud di subuh hari di muka Ka’bah? Apa doanya setelah sholat di dalam hijir Ismail,  atau di bawah talang emas misalnya.  Apa pula isi hatinya saat ia bertawaf dan melakukan syai?  Semua itu adalah urusan Anas dengan Tuhannya. Semua adalah privasi yang tak bisa diganggu gugat.

Tak pula saya lupa, seseorang sangat ingin sekali menduduki posisi tinggi pada sebuah perusahaan raksasa. Ia ngotot sekali. Melobi sana-sini, mengumbar pencitraan sampai kalau perlu ia suruh istrinya berangkat menuju istri ‘boss’  yang memegang peranan dalam menyatakan ‘ya’  atau ‘tidak’ pada pengangkatannya.  Sebagian besar pegawai di tempat itu sungguh sangat berharap orang itu tidak sama sekali menduduki posisi tinggi, karena mereka kenal betul dengan kualitas kerjanya yang di bawah standar.  Lalu ia lari ke Mekkah. Umroh dianggapnya tempat yang paling tepat untuk meminta. Lagi-lagi saya saat itu mendapat bocoran, bahwa dia memang bermotivasi untuk memohon di depan Ka’bah, demi kelancaran karirnya.  Tak lama setelah pulang umroh, ia boleh tersenyum puas. Pelantikan berlangsung. Ia menjadi pimpinan.  Apa yang terjadi setelah itu? Tak sampai sekian bulan, kasus besar menimpanya. Ujung-ujungnya penjara menjadi rumah utamanya beberapa lama. Duh !

Dalam pengajian yang beberapa kali saya datangi, ada ceramah seorang ustad terkenal yang mengatakan, Tuhan  bisa jadi mengabulkan permintaan hambaNYA yang ‘ngotot’  meminta,  meski akibat setelah itu menjelma mudharat.  Oleh sebab itu, mintalah kepada Allah,  ‘ segala yang terbaik menurut NYA ‘  , bukan yang terbaik menurut mata kita. Contoh si bapak tadi, begitu  ngotot ia berdoa dan berharap untuk menduduki posisi itu, yang akhirnya menjadi jurang tak sedap dalam kehidupan selanjutnya.  Selama di penjara, ia sering berkata kepada istrinya, “Andai saya tidak madatan ingin masuk di jajaran itu…”

Alhamdulillah, dalam tugas kewartawanan masa lalu, saya diperkenankan Tuhan untuk ikut masuk ke dalam Ka’bah. Peristiwa besar itu sampai detik ini betul-betul tak mudah saya lupakan. Ini adalah rizki yang maha nikmat dan anugrah Allah yang tiada terkira. Air mata saya berlinang terus saat sholat sunnah beberapa kali di dalam Ka’bah.  Dalam sujud, saya memohon agar saya diberi anak kedua, apabila ini dianggap baik oleh NYA. Susah hamil sudah saya alami sejak awal pernikahan saya. Setelah tiga tahun  menikah  baru bisa hamil,  bertahun-tahun setelah itu saya kembali sulit hamil lagi. Saya memohon berkali-kali kepadaNYA, agar anak saya diberi adik baru. Tapi selalu pula dengan kata-kata, ‘apa yang terbaik darimu ya Allah…, Engkau Maha Tahu keinginanku. Perkenan dariMU tetap yang paling mulia’.   Apa yang terjadi?  Doa yang satu itu memang  tidak dikabulkan. Semula, jujur saja, sebagai manusia biasa   terbesit rasa kecewa.  Ternyata setelah saya  pahami benar, ada rahasia Tuhan di balik semua itu. Dan saya tahu semua berjalan atas kehendakNYA  untuk  dipilih yang terbaik bagi diri saya. Mungkin inilah buah dari doa saya yang selalu berkata, ‘yang Engkau anggap baik ya Allah…’

Kembali ke Anas, betapa kita tentu paham apa yang sedang berkecamuk pada dirinya.  Tak ringan tentu mendekam beban dituduh seseorang diikuti banyak rakyat Indonesia sebagai orang yang terlibat dalam pencurian uang negara. Bila cibiran masyarakat tentang ‘pencucian dosa’ nya, biarlah itu menjadi  sepenuhnya urusan pribadinya.  Semua orang, bila mengalami hal seperti Anas, barangkali akan melakukan hal yang sama. Bila  merasa memang ‘berbuat’ sekalipun, tentu ada dialog-dialog khusus manusia dengan Tuhannya di tempat peribadatan itu. Hanya saja, janganlah kita menganggap tempat suci itu sebagai tempat pencucian dosa  bagi para pendosa yang memang berniat mengulang-ulang terus predikatnya sebagai pendosa – seperti yang dilakukan oleh salah satu kenalan saya, yang tiap tahun umroh namun sepulangnya dari sana, maaf, perzinahan tetap saja diulang dan diulang kembali. Tahun berikutnya, umroh lagi. Kebiasaan buruk tetap tak berubah dan diulang lagi. Kalaupun Anas dianggap ‘lari’  ke Mekkah, saya rasa itu sangat jauh lebih baik ketimbang acapkali  lari ke wartawan infotainmen sembari setengah mati membangkitkan pencitraan plastis yang akhirnya menjadi bahan ejekan masyarakat kita yang sudah tidak bisa dibodohi  ini.

Sebelum mengakhiri tulisan  ini, teringat saya akan omongan sahabat Suharto Mohammad Bob Hasan, yang menjadi penghuni LP Nusakambangan bertahun-tahun.  Ia sempat berkata  dengan ringan  kepada saya, “Saya ikhlas menjalankan ini semua. Biarlah saya hadapi semua hukuman ini” .  Kini ia sudah bebas kembali. Tanpa harus diudak-udak sampai Singapura, Vietnam, Thailand dan sebagainya, meskipun tentu uangnya sangat cukup untuk membiayai ‘perkaburannya’ pada saat itu.   Apakah sebelumnya ia sempat berupaya ‘mencuci dosa’ dulu di tanah suci ?  Wah, saya belum pernah menanyakannya…..dan, lagi-lagi, biarlah itu menjadi bagian dari privasinya.

Oleh Linda, pernah menjadi wartawan selama 23 tahun untuk majalah Tempo, Gatra dan penulis lepas di beberapa majalah wanita.