Bangkrutnya Tradisi Intelektual Islam; Redesain Gerakan Intelektual-Sistemik Nasional

Para sarjana dan cendekiawan muslim mempunyai peranan vital untuk menghilangkan ketidakadilan dan penindasan dalam kehidupan masyarakat. Mereka harus mencurahkan tanggung jawabnya secara lebih serius dan menunjukan perhatian yang positif terhadap kebudayaan dan nilai-nilai pandangan dunia islam. Mereka harus memperjuangkan kebenaran dan keadilan sebagai pejuang-pejuang independen sambil memodifikasi karakter intektual untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan masyarakat kotemporer [1] 

Dalam perkembangan sejarah pemikiran islam, tidak sedikit tokoh-tokoh cendekiawan dan intelektual yang lahir seraya melakukan rekayasa peradaban masyarakat. Ghairah baru yang diajarkan oleh tokoh-tokoh intelektual tersebut, menurut Ali Syariati merupakan gerakan menciptakan kekuatan, menghadirkan kesadaran diri dan pencerahan serta menguatkan kepekaan politik dan tanggung jawab social. Sehingga setiap kelahiran tokoh intelektual, paling tidak ada gagasan yang bisa di jadikan rujukan oleh semua kalangan, utamanya dalam penekanan komitmen dan tanggung jawab perjuangannya ditengah-tengah masyarakat.

Bisa dilihat, dalam pemetaan sederhana perkembangan pemikiran intelektual islam, yang dimulai dari pemikiran klasik islam, pemikiran modern sampai pemikiran islam kontemporer tidak sedikit menghasilkan karya-karya agung yang menjadi patokan para cendekiawan dan intelektual.  Munculnya karya-karya pemikiran Klasik seperti Nahj-Al-Balagah, karya Imam Ali Bin Abi Thalib, terbukti menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan para cendekiawan dan ulama islam, yang hendak meruntuhkan ketidakadilan dan penindasan, sebagai contoh revolusi Islam Iran yang pernah terjadi pada tahun 1997.

Berikut Karya-karya Al-Gajali yang dilanjutkan oleh Ibn Taimiyah, sebenarnya menunjukan betapa pemikiran mereka menjadi pondasi dalam membentuk tata desain masyarakat yang dibangun berdasarkan pada pemahaman yang sangat mendalam terhadap Al-quran dan Sunnah. Terbit pula karya-karya Ibn Sina, Al-Kindi, Al-Farabi dalam membentuk kesadaran masyarakat yang didasarkan pada penalaran rasional akan konsep-konsep Ketuhanan.

Begitu pula perkembangan pemikiran islam modern yang mencoba melakukan penilaian atau verifikasi terhadap budaya timur agar bisa berkembang dalam dunia modern. Dominasi perkembangan dunia barat membuat para pemikir modernis membentuk gerakan kritis. Adanya Muhammad Iqbal, Muhammad Bin Abdul Wahab, Ahmad Khan dan Sayyid Amir Ali, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Ja maludin Al-Afghani adalah para tokoh yang hendak melakukan gugatan dan rekayasa intelek untuk mengarahkan masyarakat kembali kepada keautentukan ajaran islam. Rekayasa intelek yang diciptakan oleh tokoh-tokoh ini berbentuk perlawanan terhadap tradisi Barat yang terbukti membebaskan manusia dari kungkungan kemoderenan dan eksploitasi social.

Pemikiran Islam kotemporer pun melakukan hal yang sama, yakni hendak menghadirkan gagasan intelektual islam sebagai alternative terhadap berbagai persoalan global. Penjajahan yang terjadi disetiap belahan dunia, seperti eksplotasi ekonomi, social-politik, budaya dan agama menjadi keprihatinan tersendiri bagi kaum cendekiawan. Kompleksitas persoalan global mengundang beberapa tokoh intelektual tampil di Persia, pernah lahir Allamah Thabathaba’i, Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, Mizbah Ha’iri Yazdi, Sayyid Hasn Nasr dan Ali Syaria’ti. Di Timur Tengah muncul Hassan Hanafi, Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb. Di Maroko pernah ada Muhammad Abied al-jabiri, di Indonesia pun ada Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid.

Perkembangan tradisi intelektual islam diatas, bisa dijadikan signifikansi kehidupan intelektual di Indonesia, dalam melakukan analisa yang kritis terhadap kekuatan internal dan eksternal yang dibangun, apakah gerakan intelektual dan cendekiawan Indonesia hendak mengikuti jejak langkah para pemikir intelektual Islam yang disebutkan diatas. Ataukah kelahiran mereka adalah hasil rekayasa kultural yang tabu akan pejuangan dan pengorbanan misi kemanusiaan ketika terjadi keterpurukan sosial.

Memang perlu di telaah secara kritis, sebab tidak sedikit tokoh intelektual dan cendekiawan yang mengukuhkan kekuasaan melalui legislasi untuk kepentingan politik kekuasaan. Banyak yang menjual dirinya kepada pemerintah, korporasi, kekuatan modal, demi mendapatkan upah yang tinggi untuk kemakmurannya. Mereka tidak lagi mempedulikan ketimpangan, ketidakadilan, status-quo, kebobrokan, dan peristiwa apapun yang muncul di tengah masyarakat. Mereka meninggalkan fungsinya sebagai agen pembaharu dan pencipta kebangkitan martabat suatu bangsa. Inilah awal kehancuran peradaban kita, ketika peranan intelektual dan cendekiawan tercerabut dari kehidupan masyarakat.   

Menurut Sri-Ei Swasono, Guru besar Universitas Indonesia bahwa saat ini, terjadi kemiskinan akademis (academic proverty), sekaligus kelengahan intelektual (cultural norance) yang memalukan[2] dikalangan intelektual. Sehingga muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap kaum cendekiawan, bisa jadi akibat tradisi kebudayaan mereka yang jauh dari penyelesaian problem kehidupan sosial. Para sarjana yang banyak belajar ilmu pengetahuan, memiliki banyak pengalaman, kemampuan analisis yang kuat seharusnya menjadi icon atau wakil masyarakat dalam menciptakan paradigma kesadaran sosial-ternyata sudah jauh dari realisasi penanaman kesadaran ilmu pengetahuan. Inilah kekhawatiran salah satu cendekiawan muslim Pakistan, Ziaudin Sardar, bahwa akan terjadi eksploitasi sosial secara dominan dalam masyarakat akibat kurangnya wacana-wacana kesadaran epistemologis dari kaum intelektual.

Ahmad Badowi, Salah satu pemerhati sosial pernah berucap bahwa Kampus dan Sekolah kita hari ini telah mati (palsied school). Indikator yang digunakan dalam menganalisis gerakan sosial yang dimotori institusi pendidikan dalam menciptakan para pekerja sosial (social worker) pun kurang bisa diandalkan. Menurutnya, Terjadi eksploitasi intelektual (Intellectual Exploitation), dimana nalar mereka justru mengukuhkan ketidakadilan melalui legislasi kekuasaan bahkan terkadang berdiam diri dalam ruang kekuasaan yang menyejukan. Mereka, kata Ahmad Mushilli dan Luay Shafi, diarahkan untuk mengebiri kepentingan inteleknya ketimbang keberpihakan terhadap kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Menumbuhkan Tradisi Intelektual-Sistemik

Dengan berbagai latar diatas, hubungannya dengan kondisi nasional maupun local saat ini, pekerja intelektual (social worker) harus benar-benar serius dalam menyelesaikan problem masyarakat. Untuk dapat mencari penyelesaian atau jalan kelestarian, harapannya dengan menumbuhkan tradisi intelektual-sistemik di lingkungan sosial. Tradisi ini, harus dimulai dari komunitas intelektual, dimana mereka menerima dan mentransfer nilai, mencipta kesadaran epistemologis. Tanggung jawab keilmuan harus benar-benar disadari dengan baik, agar maindset berpikir mengarahkan pada penyelesaian persoalan mendasar dan kemanusiaan. Sebab, kata Hassan Hanafi, tidak ada teori atau ilmu tanpa keberpihakan terhadap suatu persoalan mendasar bangsa, sebagaimana tidak ada ilmu untuk ilmu, tetapi ilmu untuk menyelesaikan persoalan riil rakyat.

Belajar dari tradisi intelektual islam, sesungguhnya mereka lahir dari rahim pergulatan wacana pemikiran yang kuat. Kalau kita baca biografi tokoh-tokoh cendekiawan dan intelektual, mereka dibesarkan dari lingkungan yang sarat dengan kesadaran pengetahuan. Selalu ada tawaran gagasan yang mengintari persoalan kemanusiaan, karena tidak luput dari pendidikan yang ketat soal bagaimana menyelesaikan problem masyarakat, bukan problem pribadinya. Apalagi spirit perjuangan yang mereka ajarkan, tak kunjung sirna hingga melahirkan pengorbanan harta dan jiwa yang tiada tara, pun patut dicontoh oleh kaum cendekiawan dan intelektual saat ini. 

Tradisi intelektual-sistemik, bisa dijadikan referensi yang akan  mengarahkan para intelektual kearah perbaikan masyarakat dengan berpikir integral dan sistematis dalam merumuskan pergerakannya. Pertama, Perubahan cara berpikir yang sistemik dikalangan intelektual, untuk melihat bahwa kondisi politik nasional dan local (local content) sangat dipengaruhi oleh kondisi politik internasional. Kita tidak sadar bahwa desain politik disetiap daerah, bahkan kekuatan negara pada level kebijakan tidak luput dari  pengaruh politik global. Sehingga analisis dari kalangan intelektual sangat diharapkan untuk melakukan desain kekuatan gerakan politik ke arah pembentukan masyarakat yang adil dan beradab secara nasional bahkan internasional.

Kedua, di lingkungan sosial, harus membentuk pusaran kajian-kajian kritis yang berkesinambungan tentang bagaimana menyelesaikan problem masyarakat, ditopang dengan dukungan media publikasi yang bersifat independen agar tidak diarahkan untuk kepentingan tertentu. 

ketiga, kekuatan gerakan harus diarahkan pada problem penyelesaian nilai kemanusiaan, bukan atas sifat ekslusif pribadi atau fanatisme kelompok. Termasuk menepis kepentingan pribadi atau kelompok yang mengatasnamakan gerakan sosial, padahal hanya bergerak pada wilayah simbolis islam. Sebab selama ini, gerakan sosial umat cenderung membela hal-hal simbolis dari pada hak-hak kemanusiaan.

Keempat, penguasaan sains dan teknologi yang di topang dengan kesadaran ideologi sebagai arah perjalanan pergerakan yang beretika dan bermoral. Ketika para ilmuan yang bekerja di dunia sains lahir tanpa kesadaran kemanusiaan, maka cara yang dilakukannya mengikut pada desain kekuatan tekhnologi global yang tidak pernah memandang nilai kemanusiaan sebagai nilai harus diperjuangkan. 

Kelima, kerjasama antara ideolog dan tekhnokrat membentuk persatuan dan kesatuan untuk bersama-sama menyatukan persepsi tentang keselamatan bangsa dan masyarakat dari ketidakadilan. Dengan demikian sesungguhnya yang dibutuhkan adalah ilmuan yang ideolog, bukan ilmuan pragmatis. Intelektualis  harus bergerak dalam dua aras; antara idealita dan realita, antara individu dan sosial, antara vertikal dan horizontal, antara profesionalisme dan humanisme, antara misi kemanusiaan dan misi kenabian, antara kehidupan dunia dan setelahnya. Mereka itu kata Ali Syariati adalah ulil albab, rausyanfikr yang menyimpan energi untuk menggerakkan peradaban.  

 

MAHADIN HAMRAN, Penulis adalah Ketua Umum HMI-MPO Cabang Palu. Staf Tenaga Laboratorium Komputer SMAN 1 Palu

 

 


[1] Buku Ziauddin Sardar. Jihad Intelektual; merumuskan parameter-parameter sains Islam.2000.Risalah Gusti  Hal.19

[2] Kelengahan Kultural. Opini Media Mercusuar. Terbit Senin, 8 Agusutus 2011