Aktivis Islam Malaysia Selenggarakan Acara Ramadhan di Selatan Thailand

HMINEWS – Inilah kabar kegiatan dari saudara kita sesama gerakan mahasiswa Islam dari negara tetangga, Malaysia. Pada 11-13 Agustus 2011 bersamaan 11-13 Ramadhan 1432H, Persatuan Pelajar Islam Kelantan (PPIK) Malaysia melakukan perjalanan ke wilayah Selatan Thailand yang diberinama program Ziarah Saudara Ramadhan (ZiSRa), yang melibatkan dua wilayah Tak Bai dan Yala. Rombongan terdiri dari empat orang yang diketuai Saudara Mohd Syahiran, Timbalan Yang Dipertua. Tujuan kunjungan ini adalah untuk merasakan suasana Ramadhan di negara yang sedang bergolak serta mengunjungi keluarga-keluarga yang ibu-bapaknya telah mati dibunuh tentera Thailand.

Menyerahkan kenangan lewat Isamaae dari FEHRAD

Rombongan ini bertolak pada jam 8 pagi waktu Malaysia dan disambut oleh Ust Nawawi, Pengurus Badan Kebajikan Anak-anak Yatim, Tabal-Takbai (AYATA) di jeti Tabal setelah 45 menit perjalanan dari Kota Bharu ke Pengkalan Kubor.

Puan Zainab, tokoh pejuang perempuan Pattani

Kemudian rombongan berehat di asrama AYATA & selepas ashar bertolak ke Majlis memperingati tragedi Tabal pada tahun 2004, yaitu peristiwa pembunuhan beramai-ramai oleh tentara Thailand. Majlis ini dibuat disebuah tadika milik pribadi dan dianjurkan oleh Kak Nab (Puan Zainab) yang merupakan seorang wanita yang gigih membela nasib orang kampungnya. Turut bersama dalam majlis ini beberapa orang aktivis berketurunan Siam bukan Islam dan En. Wan Abdul Rahman, Wakil Global Peace Mission (GPM).

Selepas berbuka puasa, rombongan meneruskan perjalanan ke Yala dengan menumpang kereta En. Dahlan yang merupakan cucu kepada Ust. Dahlan pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Beliau besar di Bangkok dan menetap di Songkla serta aktif dengan Youth Muslim Assosiation Thailand (YMAT). Beliau tidak bisa berbahasa Melayu dan hanya dapat bertutur dengan menggunakan bahasa inggeris.

Rombongan PPIK selamat tiba di Bandar Yala dan disambut oleh En. Ismae Sale atau biasa dipanggil Abg Mail yang merupakan pengurus Yayasan Pendidikan & Pembangunan Sumber Manusia (FEHRD), beliau membawa menginap di pusat Tabligh di Wilayah Yala.

Pada keesokan harinya, selepas sahur & solat Subuh di pusat Tabligh tersebut, rombongan di bawa ke sebuah sekolah Agama Santitham untuk program “English Camp”, yang peserta-pesertanya terdiri daripada pelajar sekolah menengah tingkatan 3 hingga 5. Sorenya rombongan berbuka dengan masyarakat setempat di kampung “Berserat”.

Selepas berbuka & solat Maghrib, rombongan dibagi dua yaitu dua orang menginap di rumah pengurus FEHRD dan dua orang lagi, termasuk ketua rombongan, bermalam di rumah Abg Mail.

Pada esokkan hanya yang merupakan hari terakhir di Selatan Thailand, rombongan dibawa perkuburan Sultan Melayu terkahir Pattani, yaitu Sultan Sulaiman dan kemudiannya ke rumah cucu atau waris terakhir kesultanan tersebut yang biasa dipanggil Pok Ku.

Mengunjungi makam Sultan Pattani

Pok Ku menceritakan asal usul kesultanan Malayu Pattani dan saat berakhirnya kesultanan tersebut sehingga akhirnya kerajaan Siam dapat menguasai seluruh tanah Pattani, Selatan Thailand.Tengah hari, rombongan di rumah Pok Ku & kemudian Abg Mail membawa rombongan ke terminal bus penumpang di kota Yala. Perjalanan dari Yala ke Tabal memakan waktu selama dua jam dan kami sampai di jeti sempadan waktu masuknya asar.

Opini publik, kebijakan politik dan Mesir baru

Kairo – Kini ada Mesir baru — di mana opini masyarakat menjadi penting. Mesir telah melewati tujuh bulan masa yang sarat kekacauan, dan Ramadan memberi kesempatan untuk jeda dari urusan politik karena kaum Muslim menunaikan puasa dan banyak melakukan perenungan spiritual di bulan ini.

Tapi pemilu parlemen kian dekat – mungkin dalam beberapa bulan lagi – dan para aktor politik perlu memikirkan strategi-strategi mereka. Jelas bahwa perpecahan telah muncul dalam jajaran penggerak revolusi, antara mereka yang fokus menjadi pengkritik dan mereka yang fokus pada pemilihan umum. Ramadan memberi mereka kesempatan untuk berdiskusi, berdebat dan, setelah itu, membentuk kelompok kembali.

Opini publik tidak bisa diabaikan seperti pada masa rezim yang lalu, meskipun opini publik tidak (belum) menguasai negeri ini. Meski faksi-faksi politik telah menyuarakan pikiran mereka tentang Mesir baru, gagasan-gagasan bagus semata tidak serta-merta menciptakan para pemimpin yang baik. Bahkan saat mereka tidak setuju dengan suara publik, para politisi yang mau sukses harus bicara dengan masyarakat.

Ekonomi, agama, militer dan media sosial adalah empat masalah penting yang perlu dimengerti dan dipikirkan oleh para politisi. Abu Dhabi Gallup Center kini tengah mengikuti perkembangan transisi penting Mesir setiap bulan – dan data dari beberapa bulan terakhir mengungkap kecerdasan publik tentang keempat tema tersebut.

Partai-partai politik Mesir harus menyiapkan rencana-rencana ekonomi yang matang – sesuatu yang akan perlu dengan cepat dilakukan. Data Gallup menunjukkan bahwa orang Mesir lebih optimis dengan masa depan setelah revolusi; mereka ingin tahu bagaimana mereka bisa bangkit dari situasi ekonomi sekarang, yang mereka tahu akan tidak mulus dalam jangka pendek, menuju situasi yang jauh lebih baik di masa depan. Penting untuk menekankan bahwa, menurut jajak pendapat masyarakat, perbaikan situasi ekonomi lebih diperhatikan dari semua masalah yang lain. Seluruh kekuatan politik mau tidak mau harus membahasnya dengan tepat.

Peran agama di ruang publik adalah masalah penting lainnya – setidaknya di media – secara nasional dan internasional. Berdasarkan data Gallup, memikirkan kembali fokus ini cukuplah bermanfaat.

Orang Mesir (Kristen maupun Muslim) umumnya menerima agama lain. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, orang Mesir adalah bangsa yang paling bisa menerima seorang tetangga dari agama lain, setelah orang Lebanon. Pada saat yang sama, sebagian besar orang Mesir (96 persen) merasa agama itu penting. Ini menunjukkan bahwa orang Mesir boleh jadi ingin agama memainkan peran serupa seperti di negara-negara Eropa yang punya gereja-gereja yang mapan – untuk menjadi kekuatan moral di ranah publik.

Namun, menghormati agama tidak mesti berarti memiliki visi Islamis: gerakan politik Islamis yang utama, al-Ikhwan al-Muslimun, hanya mendapat dukungan 15 persen dalam jajak pendapat, dan kurang dari satu persen responden menganggap Iran sebagai model politik bagi Mesir. Agama menjadi wilayah pertikaian hanya jika partai-partai memutuskan untuk menjadikan agama demikian.

Mengenai militer, media Mesir penuh dengan kritik terhadap kekuatan bersenjata dalam berbagai isu. Namun, meski ada ketidakpuasan yang diekspresikan lewat berbagai cara, entah dibenarkan atau tidak, tentara menjadi yang paling populer di mata publik. Gallup baru-baru ini menemukan bahwa 94 persen orang Mesir percaya pada militer, sesuatu yang harus betul-betul dipertimbangkan oleh kekuatan politik yang mau berhasil.

Akhirnya, media sosial, yang dampaknya telah terpublikasi begitu luas, tampaknya tidak akan penting dalam pemilu. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa hanya seperlima orang Mesir yang menggunakan internet, apalagi mengakses situs seperti Twitter atau Facebook. Kendati ada klaim-klaim sebaliknya, revolusi 25 Januari sendiri bukanlah “revolusi media sosial”; hanya delapan persen orang Mesir yang mengatakan mereka menggunakan Facebook atau Twitter untuk mendapatkan berita tentang aksi-aksi protes, menurut data Gallup. Media sosial bukanlah, sampai sekarang, media informasi utama bagi rata-rata orang Mesir. Tidak ada jalan pintas untuk menjangkau “orang di jalanan”, dan semua pihak mestilah dianggap hanya akan mencoba melakukan itu.

Ramadan bisa memberi kesempatan kepada kekuatan-kekuatan untuk menata strategi, tetapi Ramadan segera berakhir dan pemilu pun semakin dekat. tidak ada orang yang bisa mendapat dukungan rakyat begitu saja. Data Gallup menunjukkan bahwa mayoritas orang Mesir acuh tidak acuh pada partai politik, dan tidak ada partai yang mendapat dukungan lebih dari sepertujuh dalam jajak pendapat. Orang-orang yang bereaksi secara strategis terhadap opini publik bisa mendapat banyak keuntungan dalam situasi ini; begitu pula halnya, orang-orang yang meremehkan opini publik akan banyak kehilangan dukungan. Waktu untuk mengatur rencana tidak akan tiba setelah Ramadan – waktu untuk itu telah tiba di hari Mubarak digulingkan dari kekuasaan. Orang-orang yang belum menyadari hal ini, perlu mengejar ketinggalan, dengan cepat.

###

* Dr. H.A. Hellyer ialah Analis Senior di Abu Dhabi Gallup Center (UEA)/Gallup Center for Muslim Studies (AS), dan peneliti Centre for Research in Ethnic Relations, University of Warwick (Inggris).

Artikel ini ditulis kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Kasus Anand Krishna: Saksi JPU Kembali Mangkir

HMINEWS – Pada Rabu (24/8) persidangan kasus Anand Krishna kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Untuk kesekian kalinya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Martha P Berliana Tobing tak mampu menghadirkan Dian Mayasari. Salah satu saksi kunci yang diminta Hakim Ketua Albertina Ho agar diperiksa ulang.

“Menurut keterangan saksi-saksi sebelumnya, telah terjadi pertemuan-pertemuan sampai hampir 10 kali di rumah Dian Mayasari, tepatnya di bilangan Cinere, Jakarta. Mereka sengaja memperkarakan spiritualis lintas agama ini sejak 2009 lalu. Pertemuan-pertemuan ini terjadi dan dilakukan oleh para saksi sebelum melaporkan Anand Krishna ke kepolisian dengan tuduhan pelecehan seksual pada Februari 2010,” terang Nahod Andreas, kuasa hukum Anand Krishna.

“Keterangan saksi Dian Mayasari penting untuk memperkuat dugaan adanya indikasi terjadinya rekayasa hukum dalam kasus ini. Suami saksi, Muhammad Djumaat Abrory Djabbar memberikan keterangan bahwa dirinya hanya memfasilitasi pertemuan-pertemuan di Cinere tersebut. Abrory Djabbar memberi kesaksian bahwa Dian Mayasari ialah inisiatornya,” tambah pengacara dari Kantor Advokat Gani Djemat ini.

Kasus Anand Krishna sudah berlangsung tepat 1 tahun sejak bergulir di PN Jaksel sejak 25 Agustus 2010 silam. Kasus ini sempat diwarnai pergantian majelis hakim. Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA) mendesak suksesi majelis hakim paska terungkap adanya “affair” antara seorang saksi JPU, Shinta Kencana Kheng dengan Hakim Ketua lama, Hari Sasangka yang kini dipindah ke Ambon.

Menurut Prashant Gangtani dari KPAA, relasi tersebut menunjukkan keberpihakan hakim. Laporan didukung oleh bukti-bukti. Berupa ratusan foto dan 5 saksi yang melihat pertemuan kedua orang tersebut di dalam mobil Suzuki Karimun Silver. Kasus dugaan pelanggaran kode etik kehakiman ini sedang ditangani oleh Komisi Yudisial (KY). Ironisnya, sempat pula terhambat karena saksi Shinta Kencana Kheng mangkir dari panggilan KY.

Dalam sidang sebelumnya, seorang saksi bernama Leon Filman mengaku sekarang bekerja sebagai ajudan seorang mantan pejabat. Menurutnya ia ditempatkan oleh adiknya yang juga seorang pengacara dan bekerja di salah satu LSM. Leon sendiri mengaku berulangkali terlibat dalam pertemuan-pertemuan di kediaman Dian Mayasari.

Sekilas tentang Leon Filman, dari keterangan juru bicara KPAA, dr. Wayan Sayoga, “Hingga 2008 bekerja di Padepokan One Earth di Ciawi, Bogor. Lantas ia keluar karena urusan kesehatan (tidak tahan dingin). Sebagaimana diungkapkan sendiri dalam persidangan. Kalau ia sungguh melihat kejanggalan-kejanggalan sebagaimana diungkapkannya sekarang, pertanyaannya ialah kenapa tidak keluar sejak 2005 saat ia mengaku sudah melihat hal itu?”

KPAA pun sudah mengontak LSM tempat adiknya bekerja. Orang yang disebut memang pernah bekerja beberapa tahun lalu. Tapi kini sudah tidak bekerja di sana lagi. Ternyata orang yang dimaksud tidak memiliki adik laki-laki.

Dr. Sayoga juga menyampaikan, “Leon Filman pernah menghamili seorang gadis desa di Ciawi. Perbuatan asusila itu menyembabkan amarah beberapa pemuda desa. Mereka hendak membunuh Leon. Bahkan sudah memasuki pekarangan padepokan. Namun, saat itu ia justru dibantu oleh teman-teman KPAA. Akhirnya Leon menikahi gadis tersebut.”

Selain itu, terungkap pula bahwa selama berbulan-bulan sebelum dan setelah Anand Krishna diperkarakan, Leon Filman menghubungi beberapa staf padepokan yang masih bekerja untuk menghasut mereka. Ia memberi keterangan fiktif. Bahkan ia pernah mengajak salah satu stasiun TV ke desa. Namun, tidak ditanggapi warga desa yang sudah kenal siapa dia sebenarnya.

KPAA menyesalkan kenapa seorang mantan pejabat dan akademisi terpandang bisa mendapatkan seorang seperti Leon Filman sebagai ajudannya. Leon sebelum bekerja di One Earth pernah bekerja dengan 2 orang saksi lain. Perkenalannya dengan kelompok itu memang sudah sejak lama. Kalau memang ada kejanggalan sebagaimana diberitakan sekarang, semestinya sudah terungkap jauh hari sebelumnya.

Secara khusus, Prashant Gangtani menyampaikan keprihatinan yang mendalam, “Kami menaruh rasa kasihan terhadap Tara Pradipta Laksmi dan seluruh keluarganya. Wijarningsih (Ibu), Ria (Tante), Dhanika Budi Pranata (adik), Yarry Pratomo (Ayah) yang telah diperalat dan dipengaruhi untuk menjadi bagian dari konspirasi ini. Semoga Tuhan mengampuni mereka.”

Kuasa Hukum Anand lainnya, Otto Hasibuan menambahkan bahwa kehadiran Dian Mayasari sangat penting untuk mengungkap lebih dalam motif di balik kasus ini. Sebab terkesan sangat dipaksakan. Sekedar untuk menjatuhkan kliennya. “Ini adalah upaya character assassination (pembunuhan karakter), ” tandas pengacara senior sekaligus Ketua Peradi ini.

Dalam siaran persnya, Otto Hasibuan menandaskan, “Dari keterangan saksi-saksi di ruang pengadilan terlihat jelas tak ada satu pun bukti dan saksi yang menggambarkan klien saya melakukan perbuatan pidana seperti yang dituduhkan selama ini. Malahan justru terungkap fakta-fakta yang mengindikasikan dugaan terjadinya konspirasi untuk menjatuhkan Anand Krishna. Banyak sekali keganjilan-keganjilan hukum yang terjadi selama setahun terakhir ini. Kasus ini jelas penuh rekayasa!” (T. Nugroho A)

Gagal Lulus Ujian

HMINEWS – Akhir–akhir ini negeri kita disibukkan dengan berbagai macam kegaduhan, kegaduhan itu terjadi hampir di semua ranah kenegaraan, mulai dari ranah sosial budaya, ekonomi, terlebih lagi politik yang memang tidak pernah sepi dari suasana kegaduhan diantara sesama pelakunya. Dalam ranah sosial kita disibukkan dengan urusan distribusi pendidikan formal yang belum mampu menjangkau kawasan paling pelosok negeri ini. Infrastruktur pendidikan yang tidak memadai hingga ambruknya beberapa bangunan sekolah negeri adalah contoh carut-marutnya pendidikan kita. Begitupun dengan persoalan kemiskinan yang tidak kunjung memperlihatkan korelasi positif dengan data angka–angka peningkatan kesejahteraan yang dipublikasikan pemerintah. Kedua masalah ini merupakan persoalan klise yang tak kunjung menemui titik terang.

Dalam ranah kebudayaan semakin jelas terlihat nilai budaya kita  tergerus oleh arus globalisasi. Alih–alih menjaga budaya sebagai nilai, pemerintah justru sibuk mengkomersialisasikan aset budaya nusantara demi meraup keuntungan materil sambil mengabaikan nilai yang tertananm didalamnya. Di sisi lain para petinggi negeri justru gagal menampilkan diri di panggung pemerintahan sebagai manusia berbudaya.

Dalam ranah ekonomi, kebijakan ekonomi masih saja diwarnai nuansa neoliberalisme, mulai dari penjualan aset negara kepada pihak asing hingga kebijakan yang lebih banyak berpihak kepada sektor makro dibanding sektor mikro. Padahal sektor mikro ekonomi yang paling bertalian erat dengan kehidupan riil masyarakat.

Kegaduhan di dunia politik lebih edan lagi, sejak Century Gate, Cicak vs Buaya, institusi Polri yang bereaksi keras saat salah seorang pejabatnya mencoba membongkar borok dalam institusi tersebut, hingga yang paling anyar kasus dugaan korupsi wisma atlet Sea Games yang berujung pada larinya salah seorang pelaku keluar negeri sambil menebar ancaman dari luar (walaupun akhirnya tertangkap juga). Ironisnya karena dalam suasana yang begitu kompleks sebagian besar pejabat pemerintah beserta sang pimpinan tertinggi justru gagap dan canggung dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Politik Lembek, Politik Tawar-menawar

Saat musim kampanye presiden untuk pertarungan keduanya, pasangan SBY-Boediono menggemborkan beberapa janji politik demi menarik simpati konstituen dalam rangka meraup suara sebanyak–banyaknya. Janji tesebut terbilang sukses karena pasangan ini mampu memenangi pertarungan presiden dengan sekali putaran saja. Di awal periode kedua, kabinet Indonesia Bersatu jilid II mampu membangkitkan optimisme publik, tingginya espektasi publik tercermin dari berbagai hasil jajak pendapat yang dilansir oleh beberapa lembaga survey pemerintah dan independen.

Sementara di gelanggang politik, partai pendukung pemerintah yang memenangi pemilu mampu menggalang koalisi super besar sehingga secara sadar bila potensi itu digunakan dengan baik maka otomatis usulan kebijakan pemerintah akan sangat gampang diloloskan di parlemen. Tidak ada lagi drama penentangan keras yang dilancarkan pihak opisisi terhadap usulan pemerintah karena jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan kubu koalisi.

Gambaran tersebut bisa diterjemahkan sebagai sebuah kemenangan politik sempurna oleh pasangan SBY-Boediono. Dalam suasana kemenangan semacam ini SBY seharusnya mampu menjalankan pemerintahannya secara efektif. Dalam rangka menjalankan pemerintahan yang solid maka tugas utama pemerintah adalah merawat simpati publik lewat pembuktian kinerja terutama menuntasakan seluruh janji politik yang pernah diekspos saat kampanye, SBY menyadari betul keunggulan tersebut.

Walaupun di awal kepemimpinannya, lawan politik demokrat sempat melancarkan gugatan ketidakpuasan hasil pemilu karena dianggap sarat dengan berbagai macam skenario kecurangan  besar untuk memenangkan partai nasionalis religius, prahara politik tersebut menjadi batu ujian pertama partai pemenang pemilu sekaligus mengukur kualitas kepartaian demokrat. Tidak dapat dipungkiri jika dialektika politik yang berlangsung di awal pemerintahan turut mendatangkan sedikit pengaruh bagi stabilitas pemerintahan baru. Namun hal itu tidak perlu berlangsung lama, karena ternyata penyakit kronis masih berdiam dalam diri partai politik.  Saat tawar menawar kekuasaan telah dimainkan maka semua masalah akan langsung terlihat beres, kalau memang tidak bisa beres hingga kebagian terdalam maka paling tidak nuansa beres telah tercermin di permukaan.

Berbagai kasus besar yang menimpa negara di awal periode kedua SBY-Boediono menjadi ajang pembuktian sekaligus pertaruhan dalam merawat optimisme masyarakat terhadap pemerintah. Mulai dari kasus bank century (Century Gate), kasus Anggodo, dua petinggi KPK (Chandra  Hamzah dan Bibit Samad Rianto) yang diserang balik oleh anggodo, anekdot cicak vs buaya yang dilontarkan oleh Kabareskrim Polri (Susno Duadji), pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi secara tersistematis, mafia pajak, hingga yang teranyar adalah kasus Nazaruddin yang menggoncang stabilitas partai Demokrat sekaligus menyeret beberapa petinggi partai tersebut ke dalam kasus dugaan suap.

Dalam kasus bank Century, sang pemimpin yang diharapkan bisa bertindak cekatan ternyata tidak mampu menjalankan harapan tersebut bahkan dirinya sendiri juga dikaitkan dengan mega skandal ini.  Saat terjadi demonstrasi besar–besaran yang menyasar satu orang pejabat super elit pemerintah, yakni wakil presiden Boediono dan satu orang lagi pejabat elit pemerintah yakni menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati, SBY justru terkesan tidak bisa mengambil langkah tegas, apakah membela keduanya atau mempersalahkan keduanya? Sang pemimpin dianggap sengaja berdiam diri sambil membiarkan kedua orang pejabatnya bertarung sendiri. Dalam posisinya sebagai orang nomor satu maka SBY seharusnya mampu menunjukkan diri sebagai pemain dalam menyelesaikan masalah ini dengan segera mengambil langkah kebijaan yang tegas, bukan malah berdiam diri dalam waktu cukup lama, sebab tindakan itu justru memicu sikap kontraproduktif dari masyarakat. Alih–alih berkonsentrasi mendukung penuntasan kasus tersebut, presiden justru lebih sibuk menanggapi isu pemakzulan yang mengancam kekuasaannya. Padahal secara objektif tindakan pemakzulan hampir mustahil terjadi mengingat partai Demokrat sebagai partai utama pendukung pemerintah memiliki jumlah kursi terbanyak di legislatif bahkan mereka mampu membangun koalisi gendut di DPR. Akumulasi partai politik di parlemen seharusnya bisa menenangkan hati sang pemimpin sebab tindakan kekhawatiran SBY yang berlebihan justru bisa menyulut munculnya persepsi krisis kepercayaan terhadap sang pemimpin dan partainya.

Terlepas dari skenario politik yang dimainkan presiden dan lingkaran pemerintahannya, namun jelas bahwa persepsi pemimpin lambat tanggap yang pernah dialamatkan kepadanya di periode pertama pemerintahan kembali menemukan momennya. Ujian awal tidak mampu dijalani dengan mulus, optimisme masyarakat mulai terciderai, masyarakat kemudian berpaling ke legislatif dengan harapan legislatif lebih bisa diandalkan dibanding eksekutif. Paling tidak dalam wilayah kewenangannya menyangkut kasus tersebut, walaupun terlihat sangat antusias di awal–awal. Namun publik kembali menelan ludah karena pembahasan kasus century di parlemen justru berakhir antiklimaks setelah partai penguasa mampu merangkul kembali teman koalisinya lewat media Setgab (sekretariat gabungan). Century Gate yang tadinya begitu heboh sampai memunculkan selebriti baru di parlemen menjadi terkatung–katung dan tidak memiliki nasib jelas hingga sekarang. Stigma bahwa orang–orang parlemen tidak pernah bisa bertindak sebagai juru bicara rakyat yang diwakilinya tapi hanya menjadi juru bicara untuk kepentingan diri dan partainya semakin menancap kuat. Akhirnya legislatifpun mendapat penilaian yang sama mengecewakannya dengan eksekutif.

Setelah gagal menjalani ujian pertamanya, komitmen kebinet Indonesia Bersatu jilid II kembali diuji oleh kasus lanjutan yang sebenarnya masih merupakan efek bola salju dari Century Gate. Mega skandal century yang menyeret salah seorang pengusaha ternama yakni Anggodo Widjojo ke meja hijau merupakan salah satu bukti kredibilitas dari lembaga pemberantasan korupsi tersebut. Akan tetapi rupanya terdakwa melakukan hantaman balik terhadap dua orang petinggi KPK yakni Chandra  Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Dalam kasus ini anekdot “cicak vs buaya” dilontarkan oleh Kabareskrim Polri Susno Duadji yang kemudian menjadi istilah populer kala itu, kasus ini berpengaruh terhadap kelancaran pemberantasan korupsi. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan KPK menjebloskan beberapa orang besar ke dalam jeruji besi telah turut mengangkat pamor lembaga penegak anti korupsi tersebut, sekaligus menyebabkan simpati dan harapan publik terhadap kinerja KPK mulai menguat. Sehingga ketika Anggodo menyentil nama kedua orang petinggi KPK maka publik segera bereaksi.

Reaksi publik yang lahir dari aksi Anggodo merupakan sebuah kesadaran alamiah yang timbul dari diri masyarakat bukan merupakan kesadaran palsu yang disulut oleh penguasa. Masyarakat kemudian berharap agar sang pemimpin turun tangan menyelamatkan KPK dari bahaya pelemahan. Walaupun tuntutan tersebut direspon oleh presiden dengan membentuk tim khusus demi menjernihkan masalah, akan tetapi presiden lagi–lagi dianggap lamban dalam bersikap. Sang pemimpin dianggap terlalu lama merenung dan membiarkan masyarakat berada dalam ketidakpastian menanti keputusannya. Sang pemimpin juga dianggap mempertunjukkan sikap paradoks terhadap janjinya sendiri bahwa dia akan memimpin langsung proses pemberantasan korupsi karena dalam hal tertentu SBY cenderung terlalu protektif dan eksklusif dalam melindungi diri dan kepentingan politknya dari isu korupsi. Malah dalam beberapa hal dugaan korupsi yangdialamatkan kepada presiden dan kroni–kroninya justru disikapi secara negatif dengan menghantam balik sang peniup peluit. Seperti yang dialami oleh sang penulis buku gurita cikeas, niat baik untuk membongkar kasus korupsi dipusat elit kekuasaan mengantarkan dirinya ditahan dibalik jeruji besi. Sikap paradoks presiden semakin memudarkan kepercayaan publik kepada pemerintah

Dibagian lain, partai demokrat sebagai penopang utama penguasa juga mulai mengalami krisis legitimasi dari para konstituennya seiring dengan terlibatnya beberapa kader partai tersebut dalam kasus korupsi. Mungkin hal itulah yang menyebabkan partai demokrat mengurangi intensitas kampanye anti korupsi di media yang sebelumnya sangat massif menampilkan demokrat sebagai partai anti korupsi. Sebenarnya partai demokrat juga berada dalam situasi paradoks karena realitas di tubuh partai bertentangan dengan pencitraan yang selama ini dibangun di media.

Sebagai partai pengusung presiden maka demokrat tidak bisa memotong garis korelasi dengan figur SBY, bahkan jika demokrat ingin memotongnya maka garis korelasi tersebut akan tetap hidup dalam ingatan publik. Terlebih lagi dalam berbagai kesempatan demokrat sering mengakui jika popularitas ketua dewan pembina sangat berkontribusi positif dalam meraup suara terbanyak dalam pemilu. Di tengah opini semacam ini maka sikap politik SBY akan berpengaruh terhadap popularitas partai nasionalis religius. Begitupun sebaliknya, segala manuver yang dilakukan Demokrat akan turut mempengaruhi persepsi publik terhadap figur Sang Presiden. Jika presiden dianggap gagal maka secara otomatis partai Demokrat pun akan dianggap keliru dalam memilih figur. Dalam konteks ini penting kiranya bagi kita untuk melihat kembali implikasi manuver Nazaruddin yang mampu mengotak–atik konsolidasi internal partai. Bahkan dalam titik terjauh menyebabkan ketua dewan pembina terlihat panik dan cenderung melangkahi wewenang Anas Urbaningrum sebagai ketua umum.

Walaupun semboyan penegakan anti korupsi tetap selalu keluar dari lisan presiden akan tetapi kata-kata itu seakan semakin hampa dan berlalu begitu saja. Justru idealnya kata–kata sejenis itu perlu diminimalisir karena semakin ia sering diucapkan maka publik akan semakin menganggap bahwa SBY hanya berbohong, sebab penyataan tersebut hanya semakin menegasikan dengan fakta yang sedang berlangsung. Yang paling ideal adalah SBY mestinya memperlihatkan bukti untuk mendorong proses investigasi terhadap nama–nama yang disindir Nazarudin dalam berbagai pesan singkatnya.

Berbagai ujian yang gagal dilewati dengan mulus atau paling tidak hanya berakhir pada penyelesaian kompromistis menunjukkan kredibilitas pemerintahan yang masih rapuh, tidak berkarakter, dan terkadang paradoks antara janji dengan realitas kebijakan. Karakter seorang pemimpin merupakan kunci utama dalam melewati ujian yang serba sulit. Karakter yang dimaksudkan dalam arti keberanian sikap, konsistensi, dan cepat tanggap dalam menyikapi masalah kebangsaan.

Kita tidak harus berhitung apakah kebijakan itu populer atau tidak di mata dunia. Karena salah satu letak kelemahan kita selama ini adalah terlalu banyak menggunakan resep asing untuk menyelesaikan masalah dalam negeri sehingga yang muncul hanyalah klaim keberhasilan menurut pemerintah tetapi rakyat sama sekali tidak merasakan efek klaim keberhasilan tersebut.

Karakter Pemimpin

Karakter bagi seorang pemimpin tentu harus muncul secara alamiah bukan merupakan karakter hasil sulap yang dimunculkan lewat berbagai media. Model karakter semacam ini sangat sarat dengan nuansa politik citra. Ia ibaratnya sama saja dengan kamumflase yang terlihat seolah–olah ada padahal sebenarnya ia tidak ada. Sudah bukan lagi zamannya untuk mengandalkan karakter citra, sebab tingkat kecerdasan masyarakat sudah terlalu naif untuk dibohongi oleh citra yang tidak memiliki fenomena dalam diri sang pemimpin. Biarlah masyarakat yang menilai apakah pemimpinnya berkarakter atau tidak supaya pemerintah memiliki referensi yang berasal dari rakyat dalam mengevalusi kinerja pemerintahan. Agar bisa mengeluarkan kebijakan yang memang dibutuhkan oleh rakyat dari segenap lapisan.

Kalau pemerintah masih menampilkan diri sebagai politikus pesolek maka sebenarnya yang memberikan penilaian baik terhadap pemerintah adalah pemerintah sendiri bukan rakyat. Dan jika hal itu yang bertindak sebagai standar kebijakan maka pemerintah hanya akan menghasilkan kebijakan langitan yang dinikmati oleh segelintir orang saja. Bagaimanapun masih ada harapan untuk tidak menjadi bangsa yang gagal.

Oleh: Zaenal Abidin Riam, ketua Korp Pengader (KP) HMI-MPO Cabang Makassar

Email: enalriam@ymail.com

Dibutuhkan 1000 Klik “SUKA” untuk HMINEWS

HMINEWS saat ini sedang mengikuti lomba kretifitas proposal CIPAMEDIA BERSAMA. Cipta Media Bersama adalah hibah terbuka yang mengajak individu atau organisasi memunculkan ide baru dan segar dalam praktek bermedia yang mampu membuat perbaikan media di Indonesia. Hibah terbuka ini menyediakan dukungan sebesar satu juta dolar AS bagi inisiatif-inisiatif yang dapat menjadi contoh praktek terbaik dalam kebhinekaan, kesetaraan, kebebasan dan etika bermedia.

Sebagai sebuah media gerakan yang usianya sudah cukup lama, berdiri sejak tahun 2001, HMINEWS memberanikan diri untuk mendaftar dalam kompetisi tersebut. Cukup kompetitif memang, tapi siapa tahu dengan dedikasi dan perjuangan HMINEWS selama sepuluh tahun ini bisa menjadi ‘washilah‘ bagi terpilihnya HMINEWS sebagai salah satu pemenang lomba tersebut.

Jika menang, HMINEWS akan mendapatkan dana pengembangan. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung dan mengembangkan HMINEWS agar lebih bisa mengabdikan dirinya bagi dunia gerakan kaum muda. Saat ini HMINEWS menjadi media gerakan bukan hanya bagi HMI saja, tetapi bagi semua golongan. Meski dari namanya masih ada embel-embel HMI, tetapu sejak tahun 2006 HMINEWS telah berikrar untuk mengabdikan dirinya bagi semua gerakan.

Sebagaimana diketahui, saat ini HMINEWS dihidupi oleh beberapa aktivis yang komitmen pada student jurnalism. Mereka menjaga keberadaan HMINEWS dengan dengan merogoh kocek sendiri. Oleh karena itu, dengan grant dari CIPTAMEDIA tersebut diharapkan dapat meringankan beban para pegiat HMINEWS tersebut.

Berikan 1000 Dukungan untuk HMINEWS

Saat ini HMINEWS membutuhkan minimal 500 dukungan dari pembaca sekalian untuk bisa masuk dalam nominasi calon pemenang. Untuk menjadi pemenangnya, HMINEWS menargetkan 1000 dukungan dari para pembaca.

Untuk memberikan dukungan, caranya gampang. Buka website CIPTAMEDIA, cari halaman untuk polling HMINEWS dan kemudian klik “pilih” atau “suka” (untuk facebook), atau “tweet” (untuk tweeter). Gampangnya, klik link ini: http://www.ciptamedia.org/2011/08/24/hminews/

.

.

Berdasarkan pengumuman dari panitia, saat ini sudah masuk sebanyak 170 proposal. Dari jumlah tersbeut, nantinya hanya 30 permohonan hibah akan yang diteruskan pada Tim Penasehat dan Seleksi Akhir terdiri dari 25 permohonan hibah yang dipilih oleh Tim Seleksi Awal dan 5 permohonan hibah terbanyak yang akan dipilih oleh publik.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana publik memilih dan berapa ukuran “banyak?”. Panitia menentukan bahwa pagu masuk minimum permohonan hibah adalah 500 suara yang didapatkan dari total angka yang terdapat pada tombol “pilih” yang akan merekam alamat IP anda, “suka” melalui akun facebook anda, dan “tweet” dari akun twitter yang tertera pada gambar. Pemilihan oleh publik secara resmi dibuka hari ini per tanggal 24 Agustus 2011.

So,… tunggu apa lagi, berikan kepedulian Anda sebagai pembaca. Buka website Ciptamedia, berikan dukungan melalui satu jari Anda!

Peringati Al-Quds, Masyarakat Sulteng Tolak CPM & MEDCO

HMINEWS, PAlu – Dalam momentum hari AL-Quds internasional, Aliansi Masyarakat Sulawesi Tengah menyerukan persatuan untuk menolak PT. Citra Palu Mineral (PT. CPM) yang akan masuk melakukan eksplorasi di Tambang Poboya Palu. Mereka juga menuntut agar perusahaan Join Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P yang beroperasi di Palau Tiaka, Kabupaten Morowali segera di tutup karena tidak menguntungkan masyarakat.

Massa aksi dai HMI (MPO) di depan KPF Palu

Mengawali Orasinya, Koordinator, Dedi Irawan mengatakan bahwa VOC dalam bahasa Inggris adalah perusahaan, sementara dalam bahasa Indonesia adalah penjajah. Dalam skala nasional, banyak sekali perusahaan asing yang masuk ke setiap daerah. Mereka adalah penjajah yang bermuka manis ingin melakukan ekploitasi untuk mengeruk kekayaan alam bangsa kita.

“Momen ini adalah hari dimana seluruh dunia bertekad untuk melawan penjajah, seperti Zionis Israil, AS dan sekutunya. Suara merdeka harus didengungkan kembali seperti yang terjadi pada saat para pejuang bangsa melawan VOC Belanda dulu.” VOC hari ini berbentuk perusahaan yang mengambil hak-hak rakyat dan menjajah kita. Apa bedanya VOC dengan PT.CPM. tegasnya, sambil diiringi teriakan “MERDEKA” !!“TOLAK CPM” dari para demonstran.

Ketua Umum HMI-MPO Cabang Palu, Mahadin Hamran mengatakan mengecam company zionis Israil yang telah ratusan tahun melakukan penjajahan terhadap negeri Palestina. Begitu pula company di Bangsa kita hari ini, mereka adalah bagian dari gerakan Zionisme yang juga menembaki rakyat, mengambil dan merampas kekayaan alam kita.

Lebih lanjut, Mahadin menuturkan, dalam manifesto politik, presiden Soekarno menyatakan “Revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia tidak mengizinkan Indonesia menjadi padang pengerukan harta bagi siapa pun, Asing atau bukan asing”. Sekarang, daerah kita menjadi daerah yang hartanya dikeruk oleh asing dan para penguasa negeri ini. Imbuhnya

Ditambahkan Wilianita Silviani, Direktur WALHI Sulteng, bahwa Bangsa kita hari ini terpuruk dan belum merdeka. kemerdekaan yang baru saja kita rayakan mengandung seribu tanda tanya. Merdeka adalah ketika rakyat jauh dari kemiskinan, jauh dari kerusakan lingkungan, jauh dari kapitalisme pendidikan, jauh dari pengangguran dan kepalaran.

Sementara Aktivis Jaringan advokasi Tambang (JATAM), Etal mengungkapkan bahwa hari ini aparat kepolisian telah melakukan praktek sewenang-wenang kepada masyarakat. Kapolda Sulteng saat ini telah berlumuran darah akibat tragedy penembakan yang terjadi di Kabupaten Buol ramadhan tahun lalu dan beberapa hari ini di Kabupaten Morowali.

“setelah kami turun lapangan, ternyata terjadi pembohongan public dengan mengatakan bahwa rakyat telah merampas senjata aparat dan membuat kericuhan, padahal ini semua adalah setingan kepolisian untuk melindingi penguasa tambang. Apabila pengelolaan tambang masih dikuasai asing dan para elit penguasa, maka jangan harap rakyat akan sejahtera, negeri kita akan selalu menjadi negeri peminta-minta.” tambahnya.

Lanjut, Nanang, Ketua Tokaili Bangkit, menuturkan bahwa Zat kimia beracun mecury dan Sianida akibat dari aktivitas Tambang Poboya di Kota Palu sudah mencemari lingkungan sekitar. Berdasarkan penelitian para ahli, lingkungan sudah tercemari gas beracun itu, Olehnya kita patut untuk menolak kedatangan PT. Citra Palu Mineral (CPM) yang akan mengeksplorasi di Poboya tersebut.[]Mahadin

Jelang Hari Al-Quds, 10 Warga Palestina Gugur Syahid

Rezim Zionis Israel terus melakukan serangan beruntun ke Jalur Gaza. Dalam 24 jam terakhir, warga Palestina yang gugur syahid dalam berbagai serangan Israel , mencapai 10 orang.

Sebelumnya, Kantor Berita AFP melaporkan, lima warga gugur syahid dan 30 lainnya terluka dalam serangkaian serangan Israel menjelang fajar Israel yang berlanjut sampai dini hari Kamis. Menurut laporan Press TV, serangan tersebut terus berlangsung sepanjang hari Kamis.

Di antara korban gugur syahid adalah dua anggota Gerakan Jihad Islam yang bernama Ismail al-Asmar (34 tahun), dan Ismail Amum (65 tahun). Menurut laporan tersebut, Asmar gugur syahid ketika mobilnya menjadi sasaran rudal Israel pada Rabu pagi di kota Rafah selatan. Sedangkan jenazah Amum ditemukan setelah gugur syahid dalam serangan sebelumnya dekat Deir al-Balah di Gaza tengah.

Pejuang lainnya yang gugur syahid adalah Atiya Muqat yang berumur 20 tahun. Ia gugur syahid dalam serangan Israel, Rabu malam. Dilaporkan pula, serangan terpisah di Rafah menggugurkan seorang pekerja sipil di terowongan bawah tanah Gaza-Mesir.

Israel menyerang Jalur Gaza sepanjang hari Kamis. Dilaporkan pula, pesawat tempur Zionis menarget aula olahraga di utara Beit Lahiya yang menggugurkan seorang warga sipil dan menciderai 20 lainnya. Sejam setelah serangan tersebut, seorang warga korban luka di Beit Lahiya gugur syahid setelah mengalami luka parah akibat brutalitas Israel.

Zionis Israel meningkatkan serangan udara terhadap Jalur Gaza yang diblokade dalam beberapa hari terakhir ini. Serangan-serangan itu hingga kini, menggugurkan lebih dari 20 warga di Palestina dan meninggalkan puluhan lainnya terluka.

Hari Peringatan Al-Quds yang biasa disebut Yaumul Quds atau Al-Quds Day, selalu digelar pada Jum’at terakhir bulan Ramadhan, tepatnya hari ini tanggal 26 Agustus 2011 yang juga bertepatan dengan 26 Ramadhan 1432 Hijriah.

Hari Al-Quds Sedunia digagas oleh Pendiri Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini sebagai bentuk dukungan konkrit atas bangsa Palestina yang ditindas Zionis Israel. Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran pada Agustus 1979, sekitar enam bulan pasca kemenangan Revolusi Islam menetapkan Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia.

Di Indonesia, Hari Al-Quds juga digelar secara serempak di seluruh penjuru nusantara. Direktur Voice of Palestine (VOP) Indonesia, Mujtahid Hashem, mengatakan, Hari Quds Sedunia diperingati setiap hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan, 26 Agustus 2011 di ratusan kota di seluruh dunia, dari Asia, Eropa, Amerika, Australia, Amerika Latin, dan Afrika.

Peringatan al-Quds di Indonesia digelar di beberapa kota di antaranya, Jakarta, Palu, Semarang, Surabaya, Medan, Lampung, Riau, Makasar, Balikpapan, Samarinda, Tenggarong dan lain-lain. [] lk

Bilang Kerusuhan Tiaka Merusak Citra, DPRD Sulteng Tidak Punya Hati

HMINEWS, Palu. Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Asgar Ali Djuhaepa mengangap bahwa kerusuhan di Tiaka merusak citra investasi di Sulawesi Tengah yang sudah bersusah payah dibangun.

“Kerusuhan di Tiaka sebenarnya sudah merusak citra keamanan di Sulawesi Tengah. Daerah kita identik dengan konflik, Saya khawatir ini berpengaruh besar terhadap berbagai usaha investasi di daerah ini.” Kata Asgar Djuhaepa, yang juga ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Asgar menambahkan, saat ini masih ada dana penerimaan bukan pajak pada Triwulan I sebesar 20 persen dan Triwulan II 2011 sebesar 15 persen belum diserahkan ke daerah. “Ini hasil konsultasi kami belum lama ini di Jakarta, tapi belum jelas rinciannya berapa kontribusi Tiaka. yang jelas Tiaka cukup memberi kontribusi besar.”katanya.

Sementara Yusuf Lakaseng, Ketua DPW Partai NasDem mengatakan terjangan timah panas oleh aparat kepolisian terhadap warga di anjungan pengeboran Tiaka Join Operating Body (JOB) Pertamina-Medco E&P, menjadi fakta betapa nyawa rakyat tidak ada harganya di mata kepentingan pemilik modal. Negara yang diharapkan menjadi pengayom, dianggap gagal melindungi kepentingan rakyatnya.

“Pemerintah sebagai wakil rakyat harus melihat tragedi ini sebagai bentuk keresahan masyarakat karena perusahaan hanya memberi janji-janji manis kepada rakyat. Seperti kesejahteraan, lapangan kerja, pembangunan fasilitas umum yang hanya pepesan kosong belaka.

Yusuf dalam orasinya, menuturkan kekesalannya terhadap ucapan salah satu anggota DPRD Provinsi, Asgar Djuhaepa dengan teriakan DPRD sungguh tidak punya hati karena hanya memperhatikan kepentingan para investor asing.

“Kami menilai, Pertamina-Medco ini telah bertindak tidak adil karena aturan kerja yang diberlakukan selama ini tidak berpihak kepada buruh dan pemberian upah yang tidak layak.” ujarnya disela-sela keramaian peringatan hari Al_Quds (Jum’at 26/08).

Sementara Irwan B. Lapa, salah satu Pengurus Besar HMI-MPO,  menuturkan bahwa DPRD Provinsi Sulteng maupun DPRD Kabupaten Morowali tidak punya hati dalam melihat kasus penembakan di Tiaka. Pemerintah daerah kabupaten Morowali baik eksekutif maupun legislative sampai hari ini masih bungkam atas persoalan penembakan di Tiaka.

“Tidak ada upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini. Mereka malah membiarkan PT. Medco beroperasi kembali ditengah tuntutan dan kemarahan rakyat.” ungkapnya [] Mahadin

Sulawesi Tengah Peringati Hari Al-Quds

HMINEWS, Palu –  Dalam rangka memperingati Hari Al-Quds Internasional, Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sulawesi Tengah menyelenggarakan aksi demonstrasi (Jum’at 26/08). Massa aksi berseru mengajak seluruh masyarakat untuk bergabung dalam menyuarakan solidaritas kemerdekaan bagi bangsa Palestina dari penjajahan zionis Israel.

Aksi yang diperingati setiap hari jum’at terakhir ramdahan ini, diikuti oleh HMI-MPO Cabang Palu, Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR), Unde Komunity, Tokaili Bangkit, Persatuan Rakyat Demokrasi (PRD), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulteng, Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Itrah Institute, Jaringan Advokasi Tambang Sulteng (JATAM), Partai Nasional Demokrat, P3MIB (Paguyuban Morowali), BEM Universitas Alkhairaat, BEM Universitas Tadulako dan BEM STISIPOL Palu.

Massa aksi yang tergabung dalam beberapa elemen masyarakat tersebut berjumlah sekira 100 orang lebih. Mereka membagi-bagikan 5.000 selebaran yang bertuliskan SELAMATKAN PALU !! AWAS BAHAYA TAMBANG Oleh COMPANY dilengkapi dengan gambar-gambar para korban yang terkena penyakit serta kerusakan lingkungan akibat pengelolaan tambang. Selain Selebaran, massa aksi juga membagikan Bunga Mawar Putih kepada pengguna jalan sebagai symbol menumbuhkan rasa kemanusiaan dari kondisi bangsa saat ini.

Tuntutan Aliansi Masyarakat Sulawesi Tengah adalah sebagai berikut :

  1. Mendukung kemerdekaan Negara Palestina
  2. Menolak Pengelolaan Tambang Oleh Company PT. CPM
  3. Mengecam Aksi Penembakan yang dilakukan Oleh Company PT. MEDCO
  4. Mendorong Persatuan Nasional untuk membebaskan negeri dari cengkeraman Company

Aksi ini dimulai dari jam 15.30 Wita dan berakhir pada Jam 18.10 Wita yang di rangkaikan dengan Buka Puasa bersama di jalan samratulangi depan Kantor Gubernur Sulteng yang berdekatan dengan kantor DPRD Provinsi Sulteng dan kantor POLDA Sulteng. Aksi ini ditutup dengan Doa dan pengiriman Surah Al-

Path: pFatehah yang dipimpin oleh Direktur YPR, Dedi Irawan sebagai Koodinator lapangan.

“Sebelum buka puasa, marilah kita tundukan hati kita seraya mendoakan arwah para Syuhada di Palestina, para pejuang Indonesia, korban penembakan yang telah Syahid di Buol dan Morowali, serta para syuhada yang telah gugur berjuang menuntut keadilan.” Mudah-mudahan mereka semua diterima dan gerakan kita juga mendapat rahmat dari Allah SWT. Amin, ungkap Dedi Irawan yang juga alumni HMI-MPO dan juga sebagai Ketua IJABI Sulteng []Mahadin

Apa yang kita tahu tentang anak muda Muslim Inggris?

Oleh: Sughra Ahmed

London – Menyusul berbagai kerusuhan di beberapa kota di Inggris, sebagian laporan media berfokus pada anak-anak muda Muslim Inggris. Anak-anak muda ini umumnya merupakan para imigran generasi ketiga yang tumbuh besar di sebuah negara yang sering kali memandang anak-anak mudanya dengan sinis, dan menganggap mereka bermasalah dan mengganggu. Namun, kita jarang mendengar dari anak-anak muda Muslim Inggris sendiri dan mengetahui bermacam cara mereka memandang identitas mereka.

Menurut data sensus Inggris, Muslim di sana rata-rata berusia 28 tahun (13 tahun di bawah rata-rata nasional), dan sekitar separonya di bawah usia 25 tahun dan sepertiganya berusia 16 tahun atau lebih muda lagi. Kita biasa mendengar tentang anak-anak muda Muslim dalam konteks radikalisasi, tetapi hidup mereka jauh lebih kompleks dan sangat jauh terpisah dari debat-debat tentang ekstremisme.

Ada kisah tidak terungkap tentang tantangan-tantangan antargenerasi, kepemimpinan dalam masyarakat dan keterasingan dari institusi-institusi masyarakat luas. Lalu apa yang tidak kita dengar? Ke manakah anak-anak muda itu menyalurkan berbagai kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri? Bagaimanakah kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi?

Menurut berbagai laporan penelitian Policy Research Centre, anak-anak muda Muslim sangat merasa bahwa masyarakat tidak melihat mereka seperti halnya mereka memandang diri mereka sendiri: sebagai anak-anak muda modern yang menghadapi berbagai tantangan abad ke-21. Mereka menekankan bahwa kita tidak semestinya menganggap mereka sebagai orang-orang yang menghadapi pertentangan antara identitas keagamaan dan identitas kebangsaan mereka. Seorang responden mengatakan, “Orang-orang menantang Muslim Inggris, [dengan mengatakan] bahwa Anda itu Inggris atau Muslim; mengapa kita tidak bisa menjadi dua-duanya?”

Identifikasi diri bagi anak-anak muda Muslim tidak hanya soal menegosiasikan dunia politik dan agama formal. Ada perasaan yang kuat akan identitas lokal di kalangan pemuda, yang nenek moyang mereka boleh saja dulu bermigrasi, tetapi mereka sendiri telah sejak lahir menetap di sini. Orang Muslim Skotlandia terang-terangan menganggap diri dan merasa bangga sebagai orang Skotlandia. tetapi ini juga sebagiannya terkait dengan penerimaan dari orang lain. Misalnya, seorang anak muda Muslim Skotlandia benar-benar merasa sebagai orang Skotlandia untuk pertama kalinya ketika berhadapan dengan para penggemar sepakbola di atas sebuah kereta api yang bertanya apakah ia mendukung tim Skotlandia. Ia menjawab, “Tentu iya.” Sang penanya pun membalas, “Aku akan membelikan Anda bendera, karena Anda orang Skotlandia juga.”

Identitas-identitas selalu dalam pencarian terus-menerus, kadang kala secara tidak sadar, ketika mereka menanggapi wacana, pengalaman dan tekanan yang tampak membayangi kehidupan kawula muda yang kompleks. Pemuda Muslim Inggris menggambarkan kehidupan modern mereka sebagai kehidupan yang dikelilingi oleh kesenjangan komunikasi, terutama ketika menyangkut kerenggangan antargenerasi dalam komunitas mereka sendiri. Beberapa pemudi mengaku telah merasa terpaksa mencari tahu tentang Islam untuk diri mereka sendiri, tapi, ketika mempraktikkan kepercayaan diri baru mereka dalam beragama, mendapati bahwa berbagai ekspektasi dari generasi orangtua mereka sulit diwujudkan.

Yang lain, laki-laki maupun perempuan, mengaku dihadapkan pada dua kehidupan yang sangat berbeda – kehidupan di rumah dan kehidupan di luar rumah – sebagai cara untuk menegosiasikan tantangan antargenerasi. Pada satu sisi, mereka didorong untuk memperlihatkan penghormatan terhadap keluarga dan/atau komunitas Muslim dengan menahan diri dari terlalu banyak bertanya dan belajar menerima keadaan seperti adanya. Namun, di luar, anak muda Muslim Inggris sering menemukan jalan mereka di sekitar dunia yang mereka huni dengan bertanya, belajar, mempertanyakan dan terkadang merasa perlunya melewati batas.

Meskipun anak-anak muda merasa kalau pandangan mereka tidak dimengerti oleh masyarakat, mereka jelas memiliki rasa patriotisme dan ingin memperbaiki hidup mereka dan hidup orang lain. Dari usaha mereka membantu para tunawisma Inggris melalui program Fasting not Feasting, yang dirancang untuk mendorong kebiasaan berbagi makanan, dan membantu petugas kebersihan di seluruh Inggris setelah terjadi kerusuhan, hingga terlibat dalam persiapan Olimpiade 2012 di Inggris, kita bisa melihat dan mendengar, jika kita mau, bagaimana anak-anak muda Muslim Inggris menginspirasi orang lain untuk turut berbangga membuat Inggris tempat yang lebih baik bagi setiap orang.

Bagaimana kita bisa membuat mereka mampu memperbaiki hidup mereka dan, pada gilirannya, masa depan mereka? Kita hanya perlu meninggalkan stereotipe, politik identitas, ketakutan terhadap “orang lain”, dan melihat mereka apa adanya: sebagai pewaris masa depan negara dan masa depan kita.

###

* Sughra Ahmed ialah peneliti Policy Research Centre, yang membuat laporan penelitian berjudul ”Seen and Not Heard: Voices of Young British Muslims” (2009) dan penelitian lapangan lainnya yang menghimpun pandangan-pandangan Muslim dari 15 etnis di seantero Inggris, Skotlandia dan Wales.

Artikel ini ditulis kerja sama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).