Rukyat Sempurna, Menuju Solusi Idulfitri

Oleh M. Syahran W. Lubis, Wartawan Bisnis Indonesia*

Ini kisah nyata lebih dari 20 tahun lalu. Seorang tokoh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang bermukim di Lampung, sekitar pk. 10 pagi 30 Ramadan versi pemerintah, menelepon adik kandungnya yang juga tokoh agama dari organisasi lain yang juga terhitung besar.

“Batalkan puasa kalian. Haram! Hilal sudah terlihat,” kata sang kakak. Namun si adik tidak bergegas memberitahu keluarganya agar membatalkan puasa, karena memang mereka telah ber-Idulfitri, karena memang berdasarkan hisab, waktu telah berada di 1 Syawal meskipun pada saat maghrib 29 Ramadan, hilal terlihat tipis saja.

Yang dilakukan sang kakak, yang ketika itu merupakan orang nomor satu organisasi keagamaan terbesar tersebut di Lampung, pada akhirnya ‘menemukan’ kesamaan dengan keluarga sang adik, yang juga bukan tokoh sembarangan di Lampung untuk organisasi besar lainnya itu.

Temuan kesamaan itu merupakan buah dari ketekunan melaksanakan rukyat hingga saat terakhir menentukan dimulainya puasa 30 Ramadan ataukah justru harus ber-Idulfitri hari itu.

Tulisan ini saya buat dengan semangat ingin mencapai hal yang lebih baik dalam penetapan 1 Syawal, meskipun perbedaan penetapan Idulfitri itu pun sebenarnya bukan masalah besar yang sampai memicu friksi umat.

Perbedaan itu memang rahmat, tetapi jika terlalu sering terjadi penetapan 1 Syawal berlainan, saya pikir akan menjadi lebih merupakan rahmat jika jauh lebih sering berlebaran pada hari yang sama. Apalagi, kita pernah mengalami periode yang cukup panjang, hingga puluhan tahun, berlebaran pada hari yang sama. Lantas, kenapa kita kini larut dalam ketidakberanian—atau setidaknya kesungkanan—untuk mencapai titik temu padahal itu dimungkinkan?

Dibesarkan di organisasi nahdliyyin lebih dari 23 tahun membuat saya sulit menerima pernyataan bahwa hisab saja sudah cukup untuk menentukan 1 Syawal. Sulit bagi saya untuk mengabaikan hadits Rasulullah SAW “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (Idulfitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, genapkanlah bilangan bulan 30 hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Meski begitu, saya bisa menerima mereka yang berpuasa hanya 29 hari karena mencukupkan keyakinannya pada hisab. Bagaimanapun, Islam memuliakan akal fikiran yang dalam bahasan ini mengakibatkan pembatasan hanya penggunaan hisab cukup untuk menentukan 1 Syawal.

Kehati-hatian
Dengan keyakinan bahwa rukyat tetap harus dilakukan untuk menetapkan 1 Syawal, mari kembali ke alinea pembukan tulisan ini.

Makna empat alinea teratas itu ialah: lakukanlah rukyat secara utuh sampai saat terakhir yang menentukan akan berpuasa ataukah tidak, akan berlebaran pada hari itu ataukah tidak, yakni pada 1 detik sebelum subuh 30 Ramadan yang merupakan waktu dimulainya puasa.

Rukyat hingga akhir yang menentukan hari itu harus puasa ataukah tidak itu sejalan dengan kehati-hatian dalam beribadah sebagaimana yang biasa diterapkan oleh mazhab Syafii.

Sidang itsbat dilaksanakan dengan memakai hasil hisab dan rukyat pada menjelang maghrib 29 Ramadan, padahal selama sidang itsbat, bahkan hingga masuk waktu subuh 30 Ramadan, pembentukan hilal hingga lebih dari 2 derajat sangat dimungkinkan. Jadi, boleh jadi jika rukyat dilaksanakan utuh hingga 1 detik subuh 30 Ramadan, hilal saat itu sudah terlihat.

Yang terjadi saat ini, sidang itsbat mengabaikan proses di langit yang pasti terus terjadi dalam jangka waktu 10 jam sejak pemantauan hilal pada menjelang maghrib 29 Ramadan.

Dengan proses rukyat hingga 1 detik sebelum masuk subuh 30 Ramadan, jika ternyata hilal masih tak terlihat, boleh jadi akibat awan begitu tebal, maka hasil sidang itsbat tidak perlu direvisi, kalau memang sidang itu menetapkan Ramadan 30 hari.

Namun, jika hasil rukyat hingga 1 detik menjelang subuh menunjukkan hilal telah terlihat, pemerintah harus sesegera mungkin menginformasikan ke seluruh wilayah Indonesia melalui kerja sama dengan organisasi Islam seluas-luasnya.

Masjid-masjid yang memulai takbir selepas subuh itu merupakan kabar bagi umat Islam bahwa puasa Ramadan telah harus diakhiri dan hari itu Idulfitri sudah tiba.

Pemerintah harus berani mengambil keputusan revisi ini. Jangan khawatir revisi itu dicemooh. Sebaliknya keputusan yang meluruskan umat ke jalan yang benar dengan membatalkan puasa sehingga tidak terjerumus kepada shaum yang haram—jika memang hilal telah terlihat paling lambat 1 detik menjelang azan subuh—lambat laun akan membangkitkan rasa hormat masyarakat terhadap umara.

*) Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia, 3 September 2011