Perjuangkan kesetaraan nyata bagi perempuan Turki

 

 

HMINEWS – Ankara, Turki – Perempuan Turki termasuk yang pertama di Eropa mendapatkan hak politik seiring berdirinya Republik Turki pada 1924, namun 87 tahun kemudian Turki berada di urutan 122 dari 135 negara dalam Indeks Ketimpangan Jender Dunia 2011.

Hak-hak perempuan di Turki memiliki rekam jejak yang berliku. Perempuan Turki telah mendapatkan banyak hak sosial, budaya dan politik mereka sejak 1920-an dan 1930-an setelah pendirian republik Turki. Pada 1934, sebelum Prancis dan Swiss, Turki telah mengakui hak perempuan untuk memilih dan maju sebagai kandidat dalam pemilu. Dan seiring dengan hak-hak politik, sejumlah pembaruan hukum penting diberlakukan pada 1920-an dan 1930-an untuk memberi hak yang setara kepada perempuan Turki di bidang pendidikan, keluarga, pekerjaan, sosial dan hukum.

Namun, kini ada berbagai masalah mendesak terkait kesetaraan jender di Turki. Masalah-masalah ini tidak hanya berdampak buruk pada perempuan, tetapi juga laki-laki dan masyarakat secara lebih umum.

Kesetaraan jender kini merupakan landasan penting demokratisasi dan upaya Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa, serta perhatian utama gerakan perempuan yang semakin kuat. Sejumlah langkah hukum, khususnya yang terkait dengan konstitusi, hukum sipil dan hukum pidana, telah diambil dalam sepuluh tahun terakhir untuk menyelarskan undang-undang Turki dengan perjanjian-perjanjian internasional.

Amandemen Pasal 10 konstitusi 1982 pada tahun 2004, misalnya, menambahkan satu ketentuan khusus yang melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. KUHP Turki juga diamandemen pada 2004 untuk membuat kejahatan terhadap perempuan dipahami dalam bingkai kejahatan terhadap kemanusiaan, dan untuk memberlakukan hukuman seumur hidup bagi para pelaku “pembunuhan demi kehormatan”.

Dan sekarang, pemerintah tengah merancang hukum baru yang komprehensif tentang kekerasan terhadap perempuan.

Kendati ada kerangka hukum ini, sulit untuk bicara tentang kesetaraan sosial yang sesungguhnya bagi perempuan. Kendati pemerintah sekarang dengan bangga menegaskan bahwa Turki termasuk di antara 20 negara tercepat di dunia dalam hal perkembangan ekonomi, rankingnya di Indeks Kesetaraan Jender Dunia 2011 menunjukkan cerita yang berbeda. Bidang-bidang di mana ketidaksetaraan jender paling mencolok adalah partisipasi dan kesempatan ekonomi – di mana Turki menduduki urutan 132 dari 135 negara, dan capaian pendidikan – di mana Turki berada di urutan 106.

Meski rata-rata partisipasi tenaga kerja perempuan dunia mencapai 52 persen, di Turki hanya berkisar antara 24 hingga 28 persen, kurang dari separo rata-rata dunia. Selain itu, jumlah perempuan yang bekerja telah menurun sejak 1990-an, karena ada urbanisasi besar-besaran dari kawasan perdesaan, yang berarti bahwa perempuan yang dulu bekerja dalam pertanian dan kini tinggal di kota memiliki pekerjaan di sektor informal, atau tetap menganggur karena tidak memiliki keterampilan dan pendidikan. Perempuan pun merupakan mayoritas dari warga tuna aksara di Turki, dengan adanya empat juta perempuan tuna aksara sekarang ini.

Pengalaman Turki selama sepuluh tahun terakhir secara jelas menunjukkan bahwa kesetaraan hukum tidak mesti berdampak pada kesetaraan yang nyata. Ada berbagai contoh praktik yang baik, termasuk kampanye dan prakarsa nasional untuk mendorong keluarga-keluarga menyekolahkan anak perempuan yang didukung oleh LSM-LSM perempuan yang semakin aktif. Namun, dampaknya masih terbatas karena kesulitan ekonomi dan nilai-nilai sosial patriarkis.

Banyak keluarga yang masih tidak menyekolahkan anak perempuan karena perempuan mengemban peran di rumah tangga sejak usia dini. Pendidikan formal bagi perempuan tidaklah diprioritaskan, sebuah masalah yang di daerah-daerah perdesaan ditunjang oleh masalah transportasi.

Ada kebutuhan serius akan adanya kemauan politik untuk menerjemahkan reformasi hukum ke dalam kesetaraan jender yang praktikal dan nyata dalam semua aspek kehidupan. Memberi pelatihan dan pendidikan bagi perempuan, untuk memberdayakan mereka agar menjadi kuat dan independen, adalah langkah penting pertama. Karena itu, memperbaiki sistem pendidikan formal dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi perempuan sangatlah penting.

Laki-laki semestinya juga disertakan dalam upaya untuk mendorong kesetaraan jender demi melawan pola pikir dan nilai-nilai yang ada. Memasukkan mata pelajaran kesetaraan jender dalam sistem pendidikan formal dan memberikan pelatihan kesetaraan jender – terutama kepada personel militer, polisi dan badan layanan hukum – bisa menjadi langkah-langkah pertama dalam hal ini.

Kendati upaya-upaya pemerintah untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan patut dicatat, upaya-upaya ini hanya berguna bila dilengkapi dengan prakarsa-prakarsa konkrit di ranah lain, yakni, independensi ekonomi dan partisipasi sosial perempuan.

###

* Idil Aybars ialah guru besar muda bidang sosiologi di Middle East Technical University, Ankara, Turki.

Artikel ini ditulis kerjasama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Catatan Sebulan Dahlan Iskan menjadi Meneg BUMN

HMINEWS – Sudah satu bulan kementerian BUMN dipimpin oleh Dahlan Iskan berapa langkah langkah strategi mulai dilakukan oleh Dahlan Iskan dalam memiloti BUMN. Berikut ini adalah catatan dari Komite Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengenai kepemimpinan mantan bos Jawa Pos Group itu, sebagaimana diungkapkan oleh ketua umum FSP BUMN Arief Poyuono, S.E dan sekretarisnya Ainur Rofiq:

Ada beberapa catatan yang perlu diberikan apresiasi dari seorang Dahlan Iskan dalam melakukan langkah langkah yang strategis. Llangkah tersebut adalah kunjungan Meneg BUMN ke BUMN BUMN yang kurang sehat serta bertemu langsung dengan karyawan BUMN dan pimpinan serikat pekerjanya. Ini merupakan langkah yang sangat baik, sebab hal ini jarang dilakukan oleh Meneg BUMN sebelumnya, kalaupun ada meneg BUMN, hanya mengunjungi BUMN BUMN yang sudah sehat.

Langkah langkah dari Dahlan Iskan dalam sebulan memiloti BUMN dengan kunjungan ke BUMN BUMN yang sakit .bisa menjadi bahan bagi Meneg BUMN untuk melakukan evalusai secara komprehensif dan menghilangkan budaya ABS (asal bapa senang ) , serta pertemuan Meneg BUMN dengan pimpinan serikat pekerja bisa menjadi modal untuk menciptakan hubungan industrial yang baik

 

Strategi lainnya kementerian BUMN dibawah pimpinan Dahlan iskan  yaitu segera menuntaskan pengalihan aset tidak produktif tujuh perusahaan milik negara yaitu PT Pertamina, Perum Bulog, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara II dan VIII dan PT Pos Indonesia. “Tujuh BUMN tersebut memiliki aset tidak produktif yang paling besar di antara BUMN lainnya. Ini harus segera kita benahi,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.22 November 2011

 

Rencana pengelolaan asset tidak produktif ketujuh BUMN tersebut akan di serahkan pada PT Perusahaan Pengelola Aset  ,dengan alasan untuk mengurangi beban perusahaan juga untuk meningkatkan kinerja perusahaan .

 

Patut dipertanyakan adalah mengapa menteri BUMN justru tidak memberikan kesempatan kepada BUMN BUMN yang memiliki asset tidak produktif untuk kembali megelola asetnya .sebab seperti asset Pertamina yang tidak produktif yang sekarang dikelola oleh oleh PPA pun kinerjanya takkunjung membaik , malah asset Pertamina yang berupa hotel Patrajasa dan tanah akan dijual murah murah oleh Perusahaan Pengelola Aset .

 

Sebaiknya asset asset BUMN yang tidak effetif justru dikelola kembali oleh BUMN tersebut tetapi dengan pengelolaan yang benar benar professional , sebab dengan adanya pengalihan asset asset BUMN yang tidak produktif  ke PPA dari sisi pembukuan  justru akan meyebabkan menurunnya nilai perusahaan dari BUMN tersebut  karena asetnya berkurang .

 

Pembenahan asset BUMN yang tidak produktif oleh menetri BUMN juga patut dicurigai sebagai upaya nantinya untuk melakukan obaral murah asset BUMN dengan dalih asset BUMN tidak produktif . sebab ketidak produktifan dari asset BUMN karena kurangnya program revitaslisasi terhadap asset asset BUMN yang tidak produktif selama .dan terkesan disengaja agar bisa dijual murah murah .seperti pada kasus kerjasama operasi Hotel Indonesia dan hotel Wisata dibawah PT Hotel Indonesia Natour dengan sistim   Built Operate Transfer  dengan grup Jarum selama 30 tahun yang nyatanya tidak memberikan keuntungan bagi negara .

 

Rencana lain untuk melakukan likuidasi dan pegabungan terhadap BUMN yang kurang sehat juga menjadi agenda dari Dahlan iskan , tentu saja kebijakan tersebut mempunyai dampak yang positif dan negative , mungkin tujuan awalnya adalah baik tapi dampak dari likuidasi dan pegabungan akan berimbas pada nasib karyawan karyawan BUMN , yang mana sudah dipastikan akan ada PHK besar besaran , tentu hal ini harus dipersiapkan dengan baik dan jangan samapi pekerja BUMN yang terkena PHK tidak dibayarkan hak haknya .

 

 

Dari langkah langkah yang diambil oleh Dahlan Iskan sepertinya Dahlan Iskan melupakan misi utama dari didirikannya BUMN yaitu untuk meyerap tenaga kerja yang tidak terserap oleh sector usaha swasta , seharusnya meneg BUMN tidak berkiblat pada neoliberalisme yang semata mata perusahaan dibuat hanya untuk mencari keuntungan belaka , sebaiknya pada BUMN BUMN yang merugi perlu dilakukan revitalisasi dan tidak perlu diberikan target target yang ambisius , lebih kepada target untuk tidak rugi dan mampu meningkatkan gaji pekerjanya itu sudah baik .

 

Ada beberapa langkah yang seharusnya cepat dilakukan oleh meneg BUMN jika ingin melakukan efisiensi dan efektifitas BUMN dalam mengahadapi pasar Global diantaranya dengan mengurangi jumlah komposisi komisaris komisaris di BUMN , dan biaya pengurangan posisi  komisaris komisaris di BUMN dapat dialokasikan untuk program pelatihan pegawai BUMN .langkah lainya adalah segera menganti para direksi yang kinerjanya tidak terlalau memuaskan serta direksi yang diindikasikan terlibat kasus korupsi .

 

Dahlan Iskan mungkin akan sulit sekali dikritisi atau  oleh stake holder BUMN sekalipun nantinya langkah langkah ataupun kinerja meneg BUMN kedepan tidak memuaskan alias gagal karena Dahlan Iskan tertolong posisinya diluar sebagi pemilik perusahaan media massa terbesar di Indonesia .tentu saja akan terjadi konflik of interest jika media massa ingin memberitakan ketidakmampuan Dahlan iskan atau kritik kritik dari stake holder BUMN seperti LSM, Serikat Pekerja BUMN ,DPR dan lain lain. []

Pemerintah Harus Hati-hati Sola Orang Hutan

HMINEWS – Kasus dugaan pembunuhan Orangutan di Kutai Kartanegara cukup menarik perhatian kita beberapa minggu belakangan ini. Jika benar terjadi pembunuhan Orangutan secara sistematis, maka pelaku pembunuhan tersebut harus lah ditindak tegas dengan berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Ancaman pidana terhadap pembunuh Orangutan dalam UU tersebut adalah 5 tahun penjara.

Jurus bicara Serikat Pengacara Rakyat Habiburokhman, SH meminta agar penindakan terhadap orang yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Orangutan haruslah dilakukan secara proporsional, professional dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai.

“Jangan sampai Polri terjebak melakukan kriminalisasi terhdap pihak-pihak yang sebenarnya tidak terlibat hanya karena desakan dari LSM yang reputasinya tidak jelas, sehingga mengakibatkan permasalahn Orangutan ini justru menjadi pemicu permasalhan-permasalahan lain. Polri harus bebas dari intervensi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kasus pembunuhan Orangutan ini.” Katanya

Disisi lain pemerintah juga harus bersikap tegas tetapi arief dalam merespon dan menangani permasalahan dugaan pembunuhan terhdap Orangutan ini. Pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk melindungi investasi yang masuk ke daerahnya baik dari dalam maupun luart negeri.

Terus-terang kami curiga da pihak-pihak yang berniat mengambil keuntungan dengan melakukan dramatisasi terhadap kasus pembunuhan orang utan ini. Bahkan dramatisasi tersebut dilakukan dengan mengeksploitasi sentiment anti-Malaysiahanya karena pemegang saham terbesar perusahaan tersebut berasal dariMalaysia.

Dramatisasi tersebut sungguh sangat berbahaya karena akan mengakibatkan kita tidak lagi berfikir dan bersikap logis dalam menyelesaikan permasalahan dugaan pembunuhan Orangutan ini.

Satu hal yang perlu disadari adalah, jangan sampai pengusustan kasus dugaan pembunuhan Orangutan ini justru menghancurkan industry kelapa sawit kita , karena banyak sekali pihak yang menggantungkan hidupnya  pada industry kelapa sawit tersebut.

Untuk kasus PT Khaleda misalnya, dengan luas lahan 16.000 Hektar, kami memperkirakan tenaga kerja yang terserap sekitar 20.000 orang. Ditambah lagi dengan petani plasma yang  jumlahnya sekitar 4000 orang.

Jika masing-masing pekerja dan petani plasma mempunyai 3 anggota keluarga, maka setidaknya perkebunan tersebut dapat menghidupi 72 000 orang. Jumlah ini sangatlah signifikan untuk mengurangi beban pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi rakyat.

Perlindungan terhadap Orang utan memang sangat penting, akan tetapi jangan sampai karena kesalahan penanganan kasus kematian 20 ekor orangutan justru menyengsarakan nasib 72.000 pekerja dan petani plasma. [] lk

Ada dugaan Rekayasa dalam Kasus Dugaan pembunuhan Orangutan di PT KAM

HMINEWS – Keaneka ragaman hayati baik flora dan fauna memanglah harus selalu dijaga dan dilindungi oeleh kita sebagai masyarakat Indonesia, namun janganlah isu isu lingkungan yang tidak benar dijadikan sebagai alat untuk melakukan pemerasan terhadap Perusahaan Perusahaan yang melakukan kegiatannya bersentuhan dengan masalah lingkungan hidup seperti perkebunan, dan pertambangan.

Terjadinya dugaan telah adanya pembunuhan orangutan di Perkebunan PT Khaleda Agroprima Malindo bermula dari berita di salah satu harian suarat kabar di Kalimantan Timur Tribun Kaltim pada bulan september berdasarkan adanya seseorang  yang memberikan data data pada wartawan tribun kaltim. Kemudian atas adanya berita tersebut Balai Konservasi  Sumber Daya Alam Kalimantan Timur ,melakukan investigasi  dengan menanyakan  kepada sumber  surat kabar di Kaltim  darimana TribunKaltim mendapatkan dadat data tersebut , akhirnya sumber  surat kabar diKaltim memberikan satu nama yaitu Nurdin  dan berserta no HP Nurdin ,. tetapi saat BKSDA menghubungi Nurdin dan melakukan janji untuk bertemu ternyata  Nurdin ingkar janji dengan alasan dia sudah tidak samarinda tapi di Makasar . samapi saat ini Nurdin tidak pernah diketahui keberadaannya sebagai sumber utama kasus terjadinya dugaan pembunuhan orangutan tersebut .

Adanya bukti tulang belulang orangutan yang dibawa oleh para wartawan ke Universitas Mulawarman pada tanggal 2 November 2011 , untuk dilakukan investigasi , didapati bahwa menurut keterangan DR. Yaya tidak dapat menentukan kapan Orangutan tersebut dibunuh dan penyebab kematiannya dan ini menjadi liputan berita diberapa mass media .

Sampai akhirnya dengan kesigapan Polisi Sektor Kutai Kertanegara menindaklanjuti adanya laporan adanya nerita terbunuhnya orang utan di areal PT KAM . Polisi Sektor Kutai Kartanegara dalam statementnya  mengatakan tidak ada bukti yang kuat adanya pembunuhan orang utan di areal PT KAM.

Dari bulan oktober  Centre Orangutan Protection(COP)  melakukan kampanye atau mendesak  polisi untuk segera menetapkan adanya tersangka  pembunuhan orangutan di PT KAM , dalam desakan COP  kepada POLRI dan President SBY di depan istana negara pada bulan Novem ber dengan melakukan aksi , pada  3 November 2011 sebelum Mabes Polri menurunkan  tim ke Samarinda  ada terdapat seekor orangutan yang terluka diareal kebun PT KAM . dan lalu PT KAM bersama sama BKDSA melakukan penyelamatan .

Sampai akhirnya dengan turunya tim Mabes Polri dapat tertangkap dua orang pelaku pembunuh Orangutan di areal PT KAM .

Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring Munatsir Mustaman ,S.H meminta aparat mengungkap Keanehan Kasus dugaan  terbunuhnya orangutan di PT KAM. Munatsir meminta agar keberadaaan Nurdin sebagai sumber yang paling utama memberikan data pada wartawan TribunKaltim tidak jelas keberadaannya , dan sebaiknya kepolisian segera mencari Nurdin untuk dimintai keterangan .

“Untuk membuka kasus ini menjadi terang benderang agar dapat mebuktikan telah terjadinya pembunuhan orangutan di areal PT KAM wartawan tribunkaltim harus mau memberikan keterangan kepada pihak kepolisian”, kata Munatsir.

Munatsir juga meminta wartawan wartawan yang meyerahkan tulang belulang orangutan ke universitas mulawarman juga harus memberikan keterangan kepada Polisi untuk memeberikan keterangan darimana tulang belulang tersebut didapat.  Apakah benar oarangutan yang terluka di PT KAM pada 3 November benar benar datang secara alami atau sengaja diletakan di areal kebun PT KAM ,dan apakah benar orangutan tersebut dilukai oleh pihak PT KAM . ini adanya dugaan rekayasa  agar opini dapat terbentuk seolah olah PT KAM tealah melakukan pembunuhan orangutan . sehingga membuat Mabes Polri turun tangan .

Lebih lanjut ia menganjurkan agar pihak Polisi juga harus meyelidiki adanya kemungkinan persaingan dalam usaha perkebunan sawit dengan melakukan upaya upaya pembusukan terhadap PT KAM yang merupakan perusahaan PMA untuk menjaga image negara Indonesia terhadap perlindungan  Investasi asing  dan polisi juga harus meminta keterangan dari COP sebagai pengkampanye terbunuh orangutan apakah ada benang merah COP dengan pesaing PT KAM . [] lk

Gandhi dan Walk the Talk

 

Diceritakan pada suatu ketika ada seorang ibu yang mulai gusar dengan kebiasaan anaknya yang terus memakan permen. Sudah berkali-kali si ibu menasihati si anak agar tidak terus mengkonsumsinya. Si Ibu melarang karena khawatir gigi anaknya akan cepat berlubang dan rusak. Namun si anak tidak terlalu menghiraukan nasihat ibunya itu dan tetap saja meneruskan kesukaannya.
Hingga suatu ketika si ibu berniat minta nasihat ke seorang bijak yang dia kenal dan juga tokoh yang sangat dikaguminya, Mahatma Gandi. Ya, si ibu menemui tokoh besar india yang luar biasa itu. Dia membawa anaknya serta.
Sampai di tempat tuan Gandhi berada, si ibu menceritakan maksud dan tujuan dari kedatangannya. Setelah mendengar semua cerita dari si ibu, tuan Gandhi hanya berucap, ‘Datanglah kembali, seminggu lagi’. Hanya itu saja kalimat dari pengajar gerakan a-himsa itu. Tidak ada kalimat lain yang disampaikannya. Karena hormatnya, si ibu menuruti, bersama sang anak ia kembali pulang ke rumahnya.
Minggu depannya, si ibu kembali datang ke tempat Gandhi. Kemudian Gandhi menghampiri si anak dan menasihatinya. Setelah menerima nasihat dari Gandhi si ibu dan anak pun pulang. Benar saja, setelah menerima nasihat tersebut kebiasaan makan permen si anak berhenti total. Tentu saja si ibu sangat senang melihat perubahan dari anaknya itu. Namun ia bertanya-tanya dalam hati, ko bisa ya nasihat tuan Gandhi yang hanya sekali itu saja bisa merubah kebiasaan si anak.
Dengan rasa penasaran yang sangat, si ibu kembali menemui tuan Gandhi dan bertanya, ‘Wahai tuan guru, apa kiranya kalimat yang tuan guru nasihatkan ke anak saya?”. Tuan Gandhi menjawab dengan tenangnya, ‘Saya hanya minta, Nak, jangan makan permen lagi ya karena bisa merusak gigimu’. Ha, ekspresi si ibu semakin terlihat bingung. Terus si ibu menanyakan, “Kenapa kalau hanya dengan satu kalimat nasihat itu saja saya harus menunggu selama seminggu? Tuan Gandhi menjawab, “Ketika pertama kali ibu datang, saya masih suka mengkonsumsi permen juga. Sehingga saya meminta ibu untuk kembali menemui saya seminggu kemudian. Dan selama seminggu itu saya menghentikan kebiasaan saya makan permen”.
Wow, luar biasa! sebuah kisah yang sangat inspiratif telah diajarkan oleh founding father India itu kepada dunia. Cerita ini demikian hebatnya sehingga sudah menjadi menu wajib bagi guru-guru kepemimpinan dalam menyampaikan contoh role-model leadership pada setiap trainingnya, atau istilah yang sering disampaikan oleh para trainer ilmu kepemimpinan masa kini adalah walk the talk. Laksanakan apa yang Anda ucapkan. Selaraskan ujaran dan tindakan. Back up your talks with real actions!
Kalimat yang berdaya ubah dahsyat terhadap sikap dan pandangan orang lain adalah kalimat lisan yang dibuktikan dengan tindakan. Walk the talk, seperti kisah di atas. Jika seorang pemimpin pandai berkata-kata, namun tindakan tidak menampilkan kesesuaian dengan perkataannya itu, percayalah, pemimpin seperti ini hanya sedang berjalan menuju pinggir jurang degradasi.
Semoga kita semua bisa menjadi pemimpin yang walk the talk, di level manapun kita berada. Amin.

Penulis: Feri Susanto™, Alumni Bahasa dan Sastra Inggis UIN Bandung, Praktisi Contact Center, Penikmat Baca Tulis.

MDGs Makin Mepet, KOPEL Ingatkan Indonesia

HMINEWS.Com, Jakarta – Meski target Millenium Development Goals (MDGs) sudah semakin mendekat, namun diragukan bahwa Indonesia mampu mencapainya pada 2015. Persoalannya, pemerintah pusat dan daerah terlihat tidak serius mengejar target yang ditandantagani 189 negara anggota PBB pada tahun 2000 silam itu.

Kekhawatiran itu diperkuat dengan bukti dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Secara kasat mata, poin-poin seperti kesehatan, pengangguran, angka kemiskinan, kematian ibu dan balita, serta tingkat korupsi masih sangat memprihatinkan. Untuk mengingatkan akan hal tersebut, Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) mengadakan evaluasi nasional.

Dihadiri puluhan perwakilan kota/kabupaten dari berbagai daerah di Indonesia. “Ini sebagai evaluasi pencapaian MDGs di Indonesia, sebab tinggal beberapa tahun lagi, karena kita (Indonesia) sudah tandatangan dengan PBB,” ujar Direktur Eksekutif KOPEL, Syamsuddin Alimsyah di Hotel Maharadja, Mampang Jakarta Selatan, Selasa (29/11).

Menurutnya, pemerintah pusat maupun daerah banyak yang terkesan mengabaikan kesepakatan tersebut dan terlihat kesadaran (awareness) mereka kurang, meski waktunya sudah makin mepet. Untuk mempercepat capaian menuju MDGS, lanjutnya, KOPEL siap mengasistensi DPRD-DPRD dalam menyusun APBD, revisi anggaran dan berbagai evaluasi lainnya.

Evaluasi KOPEL berlangsung sehari penuh dihadiri berbagai daerah dan mitra kerja KOPEL. Acara terdiri dari talkshow, penganugerahan penghargaan dan pameran produk KOPEL dan mitra kerja. Talkshow terdiri dari dua sesi dengan pembicara sejumlah kepala daerah dan kepala DPRD serta pengurus KOPEL berbagi pengalaman. (Fathur)

KPK Harus Masuk Sektor Pertambangan

HMINEWS.Com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) didesak lebih greget lagi. Tidak hanya mengurusi kasus kecil dan menangkapi koruptor kelas teri, akan tetapi KPK harus berani pula merambah sektor pertambangan dan energi. Sebab di situlah terjadinya korupsi yang paling memiskinkan.

“KPK harus masuk di sektor mafia tambang dan mafia perminyakan, jangan hanya menangkapi jaksa yang korupsi 50-60 juta saja. Benar itu (korupsi jaksa) memang termasuk korupsi juga, tapi harus ada skala prioritas,” ujar Ahmad Yani, anggota Komisi III DPR dalam diskusi Universitas Al Azhar Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (26/11).

Anggota fraksi PPP tersebut juga mempertanyakan mengapa harga jual gas dari Pertamina ke Cina lebih murah dibanding ke PLN. Yani menuding ada mafia yang bermain di balik itu dan orangnya itu-itu saja dari dulu. Ia juga menyoroti kasus Kereta Api Indonesia yang tidak disubsidi.

Dalam dialog bertajuk “Koreksi Pemberantasan Korupsi di Era Susilo Bambang Yudoyono” itu, hadir juga pembicara lain yaitu Bambang Soesatyo (Golkar), seorang pembicara dari Mabes Polri, KPK, Noviar Saleh, serta ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Al Azhar Indonesia.

Bambang Soesatyo menilai masalah utama dalam pemberantasan korupsi adalah pada itikad baik dan keberanian dari pemimpinnya. Korupsi yang ada sekarang justru dikemas dalam kesantunan, sehingga mengecoh masyarakat. “Pemimpin sekarang pintar berpidato, menawan dalam penampilan dan santun dalam korupsi,” kata Bambang.

Persiapan Aksi 9 Desember

Dialog digagas Front Aksi Mahasiswa Indonesia dengan Universitas Al Azhar Indonesia dan Universitas Indonesia sebagai panitianya. Dihadiri FAM Banten, President University, Trisakti, Usahid dan kampus lainnya. Selain refleksi pemberantasan korupsi, usai dialog acara dilanjut dengan konsolidasi gerakan menyambut hari anti korupsi sedunia, 9 Desember nanti.

“Ini juga sekaligus konsolidasi untuk tanggal 9 Desember nanti,” terang Ikhwan, seorang panitia dari FAM UI. (Fathur)

Pesan Anies Baswedan untuk Pengajar Muda

HMINEWS –  Tanggal 10 November 2011 yang lalu, angkatan pertama Pengajar Muda kembali dari penugasan dengan pengalaman hidup yang luar biasa kaya. Kini mereka akan kembali berkarier di bidangnya. Dalam acara orientasi paska penugasan, Anies Baswedan selaku penggagas dan ketua Indonesia Mengajar menyampaikan pesan bagi Pengajar Muda yang baru kembali dari desa-desa di pelosok itu. Pesan yang disampaikan dalam acara penutupan ini bisa bermanfaat bukan saja bagi Pengajar Muda tapi juga releven untuk anak-anak muda Indonesia. Selamat membaca.

Assalamu’alaikum wr wb

Pengajar Muda yang tercinta dan terhormat,

Hari ini sebuah tugas telah purna. Perjalanan setahun yang penuh kenangan telah berakhir. Kalian akan memulai sebuah babak baru, mencari, dan menemui tantangan baru. Perjalanan kemarin menjadi bagian dari masa lalu kalian. Kebahagiaan, keharuan, kegetiran, problem, tetes air mata, dan keringatmu itu adalah bagian dari masa lalu.

Pengajar Muda, kalian telah memainkan peran bagi saudara sebangsa, sekecil apapun peran itu menurutmu. Kalian risih mendengarnya dan tak pernah mau disebut pahlawan, karena itu memang bukan urusanmu. Itu bukan urusan kita. Label-label itu adalah urusan para sejarawan nanti. Urusan kita adalah soal turun tangan atau lipat tangan. Kalian pilih turun tangan. Kalian pilih kemuliaan, kalian tak banyak cakap, kalian tinggalkan banyak urusan dan kalian terlibat langsung di berbagai penjuru tanah air.

Pengajar Muda yang tercinta, kalian sudah lewati sebuah fase luar biasa dalam hidupmu. Lihat masa depan dengan tegak dan penuh optimisme. Sesekali boleh kalian tengok ke belakang, sesekali kalian buka catatan harian semasa pengabdian di desa itu. Rasakan lagi denyut suasana batin hari-hari kemarin. Resapi desiran rasanya.  Sesekali buka foto-foto itu. Lihat lagi wajah murid-muridmu, lihat wajah adik kakakmu, wajah ayah ibu angkatmu. Permanenkan suasana desa tempat kalian mengabdi di kenanganmu.

Kalian hadir di sana selama satu tahun, jadi penyala harapan bagi mereka. Padamu harapan itu ditautkan. Lalu beberapa hari yang lalu kalian pulang, kalian tinggalkan mereka. Ada kekosongan hati yang luar biasa di sana. Anak-anak di sana masih saja menyebut namamu. Anak-anak di sana masih saja ingin bertemu kalian meski hanya dalam mimpinya. Tiap mereka lihat ruang kelasmu, lihat kamar tidurmu, lihat tempatmu berenang, lihat lapangan tempatmu bermain dan berlari-lari mereka seakan masih melihatmu, apapun yang mereka lihat seakan masih ada wajahmu.

Pengajar Muda, kalian bukan sekadar rekaman dalam memori. Kalian hidup dalam memori mereka selamanya. Mereka buat prasasti  dalam hatinya. Prasastinya permanen karena dibangun oleh ketulusan dan cinta saudara sebangsa. Lihatlah yang terjadi saat kalian kemarin meninggalkan desa itu: ada yang rakyat sedesanya turun gunung ke jalan raya untuk melepas kalian pulang, atau yang satu kampung berdiri di atas dermaga papan seadanya untuk melepas kalian pulang naik perahu kecil atau warga sekampung kumpulkan lembar seribuan rupiah lusuh kumal sambil bilang buat “ongkos Pak Guru pulang”, atau pidato perpisahan kepala sekolah yang suaranya tersedak tangis dan tak sanggup dia teruskan. Mereka lepaskan butir demi butir air matanya karena hatinya tak sanggup lepaskan kalian pulang. Butiran air di mata mereka adalah cermin kehadiran pengabdianmu di desa itu.

Pengajar Muda, camkan ini: bagi mereka, melepas kalian pulang terasa seperti melepas sebuah harapan.  Harapan itu serasa terbang dari genggaman mereka. Pasanglah foto desa dan foto murid-muridmu di dinding kamar tidurmu. Tatap foto itu dan tetapkan sebuah kalimat di hatimu: Saya akan terus hadir, saya tidak pernah pulang, saya akan selalu bersama saudara-saudara sebangsa.

Pengajar Muda, selama setahun kalian mewakili kita semua, mewakili seluruh bangsa ini, hadir di sana memberikan harapan buat saudara sebangsa. Kalian tak minta penghormatan karena kalian tahu penghormatan itu bisa semu dan dipanggungkan. Kalian terhormat bukan karena penghormatan tapi karena kalian pilih sebuah langkah yang penuh kehormatan. Kalian dapat kehormatan untuk hadir di desa itu, kalian masih muda tapi sudah ikut melunasi janji kemerdekaan kita: mencerdaskan saudara sebangsa. Sekecil apapun peran itu menurutmu, kalian telah pilih langkah terhormat.

Tiap kalian bangun pagi dan menyongsong tugas baru maka lihatlah foto itu dan ingatlah bahwa apapun yang kalian kerjakan nanti, yang serba sulit, yang serba berat adalah untuk meneruskan harapan mereka. Ingat lambaian tangan di tepi jalan raya, di tepi dermaga kayu, di depan sekolah-sekolah. Lambaian cinta tulus memancarkan harapan buatmu untuk tetap berjuang demi masa depan semua.

Bayangkan kesuksesan kalian itu dibayar dengan peluk kuat anak-anak yang mencintaimu. Bayangkan suatu saat nanti kalian pulang ke desa itu lagi, mendatangi tempat itu lagi dan dipeluk oleh anak-anak itu lagi. Suatu saat nanti, kalian jadi manusia dewasa yang berperan di republik ini, kalian jaga ikatan batin itu dengan mereka. Biarkan tali ikatan itu kuat agar mereka bisa selalu menarik manfaat ke desanya.

Kemarin kalian menyalakan harapan, kalian menyalakan pelita, supaya gelap itu berubah jadi terang. Kini kalian masuki babak baru, tetapkan hatimu untuk menyalakan pelita dan harapan di seantero Indonesia. Kalian bukan hanya akan menerangi sebuah desa. Kalian akan hadir untuk menyalakan Indonesia kita jadi terang benderang.

Pengajar Muda, di depan kalian kini ada peluang besar untuk meraih masa depan yang lebih baik buat semua. Pasang layar besar, cari angin yang kuat lalu arungi samudra dengan keyakinan dan keberanian. Di sana kalian akan temui gelombang besar, badai yang menggentarkan. Hadapi itu dengan keyakinan bahwa kalian akan besar, akan kuat, dan kelak setiap kehadiranmu akan punya efek yang dahsyat.

Jauhi sungai kecil walau indah dan tenang. Di sana mungkin dekat dengan pujian, banyak ketenangan. Jauhi itu. Pilihlah sungai besar, samudra luas yang arusnya kuat, yang penuh dengan tantangan. Arena yang bisa membuatmu dibentur-benturkan, dihantam tantangan. Arena yang bisa membuatmu makin kuat dan tangguh

Persiapkan diri dengan baik tapi jangan pernah kalian gentar dengan benturan. Jangan pernah takut salah. Jangan takut dunia korporasi, jangan takut dunia pemerintahan, jangan takut dunia global. Kalian masuki semua itu. Di semua sektor, republik ini perlu lebih banyak orang yang bisa menjaga kehormatan. Republik ini perlu lebih banyak orang yang pegang hati nurani secara radikal. Kalian jadi harapan kita semua. Kalian sudah rasakan bagaimana dicintai itu, kalian sudah rasakan bagaimana ketulusan itu. Bawa itu semua di gelanggang barumu.

Raihlah puncak-puncak tinggi itu, puncak-puncak yang jangkauannya sulit, yang tetes keringatnya banyak, yang kadang terasa pedih, yang bebannya berat. Tapi ingatlah wajah anak-anak itu, ingat lambaian tangan saudara sekampungmu itu selama kalian meniti perjalanan kerja dan hidup kalian nanti. Dan sesungguhnya, seberat-beratnya tantanganmu, tantangan yang mereka hadapi di kampung sana sering lebih terjal, jalannya sering tanpa penunjuk arah.

Di tempat-tempat barumu nanti, yang mungkin senyap, mungkin jauh dari hiruk pikuk “perjuangan” tapi yakinlah bahwa kerja itu adalah bagian penting dari ikhtiar kolektif generasi baru anak bangsa ini. Kerjakan hal-hal yang mungkin nampak tak penting dan tak heroik, tapi jalani itu dengan kesungguhan untuk menuju keberhasilan baru.

Ingat wajah saudara barumu di desa itu dan tetapkan dengan penuh percaya diri: akan kucapai puncak-puncak baru. Lalu kerja keraslah dan capailah puncak-puncak tinggi itu. Di sana kalian kumandangkan suara hati nurani. Jangan kalian pilih puncak-puncak rendah yang mudah dijangkau.

Kalian sudah rasakan bagaimana sebuah karya betapapun kecilnya bisa menggulirkan perubahan.  Songsong dan rasakan perubahan itu di arena-arena besar. Jelajahi jalan baru yang mendaki, jangan pilih jalan yang datar atau jalan turun. Jalan datar itu nyaman menjalaninya, jalan menurun itu ringan melewatinya. Sesungguhnya melalui jalan mendaki itulah kalian bisa mencapai puncak baru untuk mengumandangkan hati nurani, mengumandangkan pesan anak-anak desa pelosok itu.

Jalan mendaki itu bisa sempit dan bisa membuat kalian tak leluasa bergerak tapi jalani itu dengan kesungguhan dan totalitas: mendakilah terus. Begitu sampai di puncak kalian akan leluasa bergerak. Seruan kalian akan terdengar dan berdampak bukan saat masih di jalan sempit yang membuatmu tak leluasa bergerak. Seruan kalian akan bisa menggetarkan dan berdampak justru saat kalian sudah sampai di puncak-puncak baru. Di puncak itulah seruan kalian akan terdengar ke seluruh  penjuru.

Buatlah kita semua bangga karena punya saudara seperti kalian, punya saudara anak-anak muda tangguh yang bisa membawa kantung berisi hati nurani sampai ke puncak.  Buat kita bangga karena menyaksikan kantung hati nurani kalian tidak bocor di perjalanan walau terjal dan mendaki.

Pengajar Muda, terbanglah tinggi, jelajahi dunia. Di tiap penerbangan tinggi yang melampaui benua, kalian ingat desa itu. Di tiap pintu gerbang negara yang kalian kunjungi, tuliskan sebuah pesan untuk kampungmu di pelosok itu agar adik-adikmu di sana bisa pancangkan mimpi yang tak kalah tinggi.

Buat saudara-saudaraku yang mengelola program di Jakarta, teman-teman tidak berada di pelosok Indonesia, tapi ruang-ruang kantor itu jadi saksi bisu atas ketulusan yang tak kalah dahsyat. Teman-teman jauh dari perhatian, jauh dari lampu terang benderang tapi hatimu terangnya luar biasa.

Ketulusan teman-teman memancar dan menyilaukan. Teman-teman yang senyatanya menggelindingkan bola salju kecil itu jadi bola salju besar dan menggulir cepat. Pada teman-teman pahala besar dan kuat itu menempel. Teman-teman bekerja siang-malam untuk membesarkan, merawat, dan menggelorakan semangat pengabdian itu jadi seperti sekarang.  Juga untuk keluarga-keluarga di rumah, apresiasi kita yang luar biasa untuk mereka di rumah yang merelakan sebagian waktunya diambil untuk mengelola bola salju ini. Juga terima kasih dan apresiasi untuk Indika Energy yang sedari awal sekali sudah memberikan dukungan pada ikhtiar ini. Dukungan dari Indika Energy inilah yang telah memungkinkan sebuah ide menjadi realita. Dan, apresiasi untuk semua pihak yang mendukung sejak mulai gagasan hingga selesainya siklus pertama program ini. Mari bersama-sama kita jaga bola salju ini tetap putih, tetap bergulir, dan tetap membesar.

Saudara-saudaraku Pengajar Muda, selamat menjalani fase baru hidup. Kalian anak-anak muda terpilih, kalian telah membuktikan bahwa kita masih punya cukup stok anak muda pejuang. Kalian membuktikan bahwa keluarga-keluarga Indonesia tetap keluarga pejuang dan kalian telah tanamkan bibit optimisme yang dahsyat. Jaga ikatan persaudaraan ini, jaga tali nurani ini, jaga ketulusan ini, jadikan persaudaraan kita menjadi hub of trust yang bisa mendorong kemajuan di republik tercinta ini. Jadikan persaudaraan ini sebagai fountain of hope yang memancarkan harapan buat kita semua.

Selamat Pengajar Muda, selamat saudaraku, selamat melanjutkan perjalanan . . . . .

Anies Baswedan

Terkait Hutan Rawa Gambut Tripa, Koalisi LSM Lingkungan Gugat Gubernur

Banda Aceh – Tim Koalisi Tim Koalisi Penyelamatan Rawa Tripa (TKPRT) dan Forum Tataruang Sumatera (For Trust) yang dalam hal ini diwakili oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI, hari Rabu (23/11) mengajukan gugatan terhadap Gubernur Aceh ke Pengadilan Tata Usaha Negeri Banda Aceh. Gugatan ini dilayangkan setelah sebelumnya somasi yang dikirimkan oleh Tim Koalisi ke Gubernur diabaikan. Tim Koalisi menganggap Gubernur Aceh telah melawan hukum dengan mengeluarkan Surat Izin Gubernur Aceh No. 525/BP2T/5322/2011 tanggal 25 Agustus 2011 tentang Izin Usaha Perkebunan Budidaya kepada PT. Kalista Alam di  Desa Pulo Kruet Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh dengan luas areal +1.605 Ha.

WALHI Aceh yang mewakili Tim Koalisi menyerahkan materi gugatan bersama tim pengacara yaitu Syafruddin, SH, Jehalim Bangun, SH, dan Nurul Ikhsan, SH. Gugatan diterima oleh Panitera PTUN Banda Aceh, Syaifuddin Ansari, SH.MH, dan telah teregistrasi dengan nomor pendaftaran 19/G/2011/PTUN-BNA tanggal 23 November 2011. WALHI Aceh sebagai penggugat mengajukan gugatan dengan menggunakan mekanisme Legal Standing, yang merupakan hak sekaligus kepentingan penggugat sebagai organisasi lingkungan hidup, sebagaimana secara tegas telah diatur dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 1997  Tentang Perlindungan dan   Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Hasil penelusuran WALHI, areal lahan seluas + 1.605 Ha seperti tercantum dalam surat izin Gubernur Aceh, terletak di Desa Pulo Kruet Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, ternyata dalam kenyataannya tidak berada pada wilayah hukum Desa Pulo Kruet, akan tetapi seluruh areal lahan yang dimaksud berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) wilayah Aceh. KEL sendiri telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional berdasarkan PP No.26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Sejak awal Tim Koalisi telah membuat kajian tentang dampak negatif bagi lingkungan hidup yang akan ditimbulkan oleh pembukaan lahan di Rawa Gambut Tripa. Gubernur Aceh sebagai kepala Pemerintahan Aceh ternyata tidak mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi dampak kerusakan lingkungan hidup dengan tidak melakukan analisa dampak lingkungan (AMDAL) sebelum menerbitkan izin. Hal ini menunjukkan bahwa Gubernur, selaku penyelenggara negara telah bertindak tidak sesuai dengan kewajiban hukumnya dan tidak menjalankan prinsip-prinsip pemerintahan yang baik.

Dampak dikeluarkannya Izin Usaha Perkebunan Budidaya kepada PT. Kalista Alam di Kawasan Hutan Rawa Gambut Tripa menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan hidup berupa kehilangan mata pencaharian masyarakat disekitar Kawasan Hutan Rawa Gambut Tripa, hilangnya habitat satwa yang dilindungi oleh peraturan dan perundang-undangan, salah satunya adalah Orangutan Sumatera (Pongo abelii), lele dan jenis-jenis ikan rawa lainnya merupakan sumber ekonomi dan sumber protein penting bagi masyarakat sekitar Rawa Tripa.

Selain Orangutan Sumatera, berbagai jenis primata lainnya juga dapat ditemukan di Rawa Tripa, seperti siamang, wau-wau dan kedih. Sedangkan satwa langka lainnya yang terdapat di kawasan ini antara lain Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis), beruang madu (Helarctos malayanus), buaya rawa (Crocodylus porosus), ular python (sanca), serta berbagai jenis burung rawa seperti bangau storm (Ciconia stormi), dan burung belibis (Cairina scutulata). Vegetasi dan jenis-jenis tumbuhan di Tripa juga diperkirakan memiliki komposisi sangat beragam, sebagaimana rawa gambut lainnya di Sumatera (Laumonier, 1997).

Selain nilai keanekaragaman hayati, Rawa Tripa juga memiliki fungsi ekologis sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Lahan gambut memiliki peranan hidrologis penting karena secara alami berfungsi sebagai cadangan (reservoir) air dengan kapasitas sangat besar. Jika tidak mengalami gangguan, lahan gambut dapat menyimpan air sebanyak 0,8 – 0,9 m3/m3 (Murdiyarso et al, 2004).

Dengan demikian Rawa gambut Tripa memiliki peran sangat penting sebagai pengatur siklus air tawar dan banjir. Tripa sangat penting untuk penduduk lokal karena mampu menjadi buffer zone tangguh saat bencana Tsunami menghantam Aceh pada Desember 2004. Hal ini terlihat dari minimnya kerusakan yang terletak di belakang kawasan hutan rawa gambut Tripa yang masih terjaga dengan baik.

Tim Koalisi menilai tindakan Gubernur atau tergugat yang telah mengeluarkan Izin Usaha Perkebunan Budidaya kepada PT. Kalista Alam di Kawasan Hutan Rawa Gambut Tripa melampaui kewenangannya sebagai Kepala Pemerintahan Daerah, juga telah melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 5 Tahun 1994 Tentang Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati, UU No. 6 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi Pemerintah terhadap Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim dan ada setumpuk peraturan perlindungan lingkungan lainnya.

Tim Koalisi sebagai penggugat meminta hakim PTUN menangguhan pelaksanaan surat izin Surat Izin Gubernur Aceh  No. 525/BP2T/5322/2011 tanggal 25 Agustus 2011 Tentang Usaha Perkebunan Budidaya dan menghentikan sementara segala aktifitas terkait surat izin yang dikeluarkan gubernur tersebut sampai adanya keputusan hukum tetap.

Dalam pokok perkara gugatan, Tim Koalisi meminta PTUN agar membatalkan atau menyatakan tidak sah Izin Usaha Perkebunan Budidaya kepada PT. Kalista Alam di Kawasan Hutan Rawa Gambut Tripa  tanggal 25 Agustus 2011 dan memerintahkan Tergugat untuk mencabut Surat Izin Gubernur Aceh No. 525/BP2T/5322/2011 Tentang Izin Usaha Perkebunan Budidaya kepada PT. Kalista Alam di Kawasan Hutan Rawa Gambut Tripa  tanggal 25 Agustus 2011.

Proses Peng-“anand-krishna”-an Dihentikan Hakim Albertina Ho

HMINEWS – “Ini adalah kemenangan peradilan,” ujar Anand Krishna ketika mendengar keputusan Majelis Hakim yang diketuai oleh Albertina Ho yang membebaskan dirinya dari segala macam tuntutan yang terkait dengan pelecehan seksual di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (22/11).

Salah satu penasehat hukum Anand Krishna, Otto Hasibuan, mengungkapkan kegembiraan-nya atas keputusan hakim ini.
“Ini merupakan harapan baik, dan sinyal jelas kepada para hakim dan jaksa bila dakwaan itu tidak selalu benar, dan setiap kasus yang masuk ke pengadilan itu tidak semestinya berakhir dengan dijatuhi hukuman terhadap seorang terdakwa,” kata Ketua DPP Peradi.

“Selain fakta persidangan yang tidak membuktikan satu pun hal yang dituduhkan kepada Pak Anand, dari segi formal maupun materiil saja dakwaan itu sejak awal sudah tidak memenuhi syarat untuk dibawa ke pengadilan. Jadi, kemenangan ini memang kita terima dengan rasa syukur dan gembira,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Koordinator Tim Penasehat Hukum Anand Krishna, Humprey R Djemaat yang menyampaikan apresiasi kepada Majelis Hakim.

“Kami juga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Hakim Albertina Ho, dan seluruh majelis hakim dalam hal ini yang telah membuat terobosan yang luar biasa dalam sejarah peradilan,” kata Ketua AAI.

Tentang kemungkinan apakah pihak Anand Krishna akan menuntut balik, Dwi Ria Latifa, Kuasa Hukum Anand lainnya mengatakan bahwa akan diadakan konsultasi dengan klien-nya, dan akan diambil langkah-langkah yang semestinya diambil dalam waktu dekat.

“Sebagai seorang aktivis perempuan, saya melihat banyak sekali kejanggalan dalam kasus ini di dalam ruang persidangan, terutama pada saat persidangan oleh Ketua Majelis sebelumnya. Saya melihat pelecehan seksual hanyalah kedok. Ada kemungkinan konspirasi untuk menjatuhkan Pak Anand. Tuntutan balik akan mengungkapkan adanya dugaan konspirasi ini ,” katanya melanjutkan.

Sementara itu, Ketua Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA), dr. Sayoga menyambut keputusan majelis hakim dengan rasa syukur, haru, dan gembira.

“Ini sudah secara jelas menunjukkan bahwa penahanan Anand Krishna oleh mejelis terdahulu yang diketuai oleh Hakim Hari Sasangka adalah salah, dan masyarakat sekarang sudah bisa melihat jelas bahwa mogok makan selama 49 hari dilakukan semata-mata supaya tidak ada lagi satu pun anak bangsa yang di-‘anandkrishna’-kan. Tidak boleh lagi ada kezaliman seperti itu.” ujarnya.

Dalam persidangan keputusan bebas ini, JPU Martha P Berliana tidak dapat hadir, sementara ini hadir untuk memberi dukungan moril kepada Anand Krishna, para tokoh nasional antara lain Aktivis Perempuan dan Kerukunan Lintas Agama Musdah Mulia, Romo Franz Magniz Suseno, Mantan Mensekneg Djohan Effendi, Aktivis dan Penulis Julia Suryakusumah, dan sejumlah aktivis dan wakil LSM yang khusus datang dari Yogya, Solo, Riau, Bali, dan beberapa kota lainnya. [] T Nugroho, Fotografer: Prabu Dennaga