Analisis Gerakan Mahasiswa di ASEAN

HMINEWS – Perkembangan gerakan mahasiswa di Asia Tenggara mengalami berbagai tahapan sejarah dan corak gerakan yang berbeda sehingga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan gerakan-gerakan mahasiswa di Eropa maupun di Amerika. Menarik untuk mendalami sejauh mana mereka bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan strategis di negaranya masing-masing, dan pengaruh mereka terhadap perkembangan intelektual di lingkungan universitas maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya. Berikut ini adalah hasil analisis gerakan mahasiswa di  ASEAN berdasarkan catatan perjalanan dan diskusi bersama para aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi di ASEAN.

 

Organisasi mahasiswa di Thailand terkenal karena memiliki sejarah panjang dalam pergolakan politik di negaranya, seperti perlawanan mahasiswa secara serentak pada tahun 1970an saat pemerintah dipimpin rezim junta militer membuktikan bahwa gerakan sosial-politik masih di awali oleh gerakan intelektual mahasiswa. Budaya masyarakat di sekitar universitas yang berada di Bangkok kini telah mengalami perkembangan pesat sehingga layak disebut kota post-modernisme, dengan gaya mahasiswa yang borjuis-hedonis dan kurang peduli terhadap dinamika perpolitikan negara seperti dekade 70’an. Seperti yang disampaikan oleh Aktivis mahasiswa dari Kassetsart University bahwa “sistem pendidikan yang ada memang disusun untuk melemahkan pemikiran mahasiswa yang cenderung radikal dan frontal, kami tidak lagi merasakan kebebasan berpolitik seperti dulu”.

 

Kondisi kerja BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di Thailand pun sangat berbeda ketika dibandingkan dengan BEM di Indonesia yang cenderung informal serta anti-birokrasi.  BEM di Thailand sangat berorientasi pada kegiatan administratif dan menghindari diskusi-diskusi yang bersifat ideologis. Hal ini dikarenakan pengawasan pemerintah yang sangat ketat dalam hal aktivitas politik mahasiswa, terlebih mencuatnya kasus pertikaian antara massa pro-Thaksin dan anti-Thaksin beberapa waktu yang lalu. Kebebasan berpolitik mahasiswa pun hanya dibatasi pada ruang-ruang kelas jurusan politik, di luar itu mahasiswa dilarang untuk ikut dalam diskusi atau organisasi politik mahasiswa (baca: gerakan ekstra kampus), apalagi menjadi aktivis oposisi pemerintah. Pola kaderisasi pemikiran mahasiswa di Thailand hanya terbatas pada bidang akademik, dan perektrutan anggota baru di setiap awal tahun. Ideologisasi kader, diskusi kritis dan dialektika politik merupakan hal yang sangat langka, hanya mahasiswa serta civitas akademika di Thammasat University yang berani dengan lantang menyuarakan demokrasi serta tidak segan untuk terjun ke perpolitikan praktis.

 

Hal ini sangat berbeda dengan Badan Eksekutif Mahasiswa di Kamboja, seperti di Panasastra University dan Norton University yang sangat sederhana dan hampir sama dengan gerakan mahasiswa di Indonesia, karena isu yang dibahas bukan menyoal pada demokrasi namun pembangunan negara berkembang. Sebagai contoh, perjuangan Khmer Youth Goodwill Mission terfokus pada pendidikan ke desa-desa dan bakti sosial lainnya, hampir sama dengan program Gadjah Mada Mengajar BEM KM UGM.

 

BEM di Singapura tidak berbeda jauh dari Thailand, profesionalitas dan budaya administratif-birokrasi merupakan pondasi awal mereka dalam menentukan langkah bergerak. Namun terkadang, profesionalitas inilah yang menyebabkan hubungan dengan BEM atau student union lain bersifat formalitas, tanpa adanya rasa persaudaraan untuk bergerak bersama dengan BEM lainnya. Negara terakhir yang menarik untuk dikaji adalah Malaysia yang memiliki ciri khas gerakan tersendiri, BEM di Universiti Malaya dan Universiti Kebangsaan Malaysia memiliki kedekataan khusus dengan BEM di Indonesia, hal ini dapat terlihat dari kesamaan visi tentang pergerakan mahasiswa di kancah perpolitikan mahasiswa dan nasional. Melihat pergerakan mahasiswa Malaysia saat ini mengingatkan kita pada zaman reformasi ’98, dimana pemerintah memberlakukan pengawasan ketat terhadap kegiatan mahasiswa karena dapat dianggap mengancam keamanan negara (Malaysia terkenal dengan ISA atau Internal Security Act nya).

 

Walaupun gerakan mahasiswa di beberapa negara tersebut berbeda, namun ada satu kesamaan penting yaitu kesamaan untuk membangun gerakan bersama di wilayah Asia Tenggara baik di bidang akademis maupun komunikasi antar gerakan mahasiswa, dan tahun ini BEM KM UGM bersama beberapa Student Union di negara-negara ASEAN berhasil menginisiasi forum BEM se-ASEAN atau yang dikenal dengan nama ASONe (ASEAN Student Organization Network). Harapannya ASONe dapat menjadi forum untuk memfasilitasi kegiatan BEM di ASEAN yang memiliki karakter masing-masing namun  memiliki tujuan bersama untuk bergerak menuju visi ASEAN Community 2015, dimana “one community, one identitiy” merupakan suatu keniscayaan untuk membangun wilayah ASEAN.

Bhima Yudhistira Adhinegara, Menteri Riset dan Pengembangan BEM KM UGM

email: bima.mail@gmail.com

* Artikel ini dimuat di Koran Republika, 10 November 2011