Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi

HMINEWS.COM, Jakarta – Tepat satu tahun program Indonesia Mengajar menerjunkan ‘Pengajar Muda’ (PM) ke 5 pelosok Indonesia sebagai pilot project-nya. Yaitu Halmahera Selatan, Majene, Passer, Tulang Bawang dan Bengkalis. Tanggal 10 November 2011 angkatan pertama PM kembali ke Jakarta untuk digantikan oleh angkatan berikutnya yang akan bertugas selama setahun penuh di 5 wilayah tersebut ditambah sejumlah daerah lain.

PM angkatan pertama terdiri dari 51 orang sarjana dari berbagai perguruan tinggi dan beragam bidang pendidikan. Ada yang dari fakultas teknik, kimia, sospol, ilmu gizi, hubungan internasional dan sebagainya. Sedangkan yang berlatar belakang fakultas pendidikan hanya satu orang.

Ditempatkan di daerah terpencil artinya jauh dari ‘kesempurnaan’. Seperti fasilitas belajar mengajar yang kurang memadai, lokasi sekolah yang jauh, jumlah tenaga pengajar kurang, serta minimnya kesadaran warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka yang masih dalam usia belajar.

Meski begitu, bertugas di pelosok pun tak selalu identik dengan kemiskinan. Seperti rombongan yang bertugas di Kabupaten Passer, Kalimantan Timur. Tepatnya di wilayah Slengot, Kecamatan Tanjung Harapan.

“Sebagian besar penduduknya sudah haji. Akan tetapi terhadap pendidikan, mereka menganggap sudah cukup apabila anak-anak mereka sudah mampu baca tulis sederhana,” kata Tidar, PM alumnus UI yang bertugas di Passer, Minggu (13/11/2011).

Makanya tak heran, lanjutnya, jumlah siswa sekolah dasar dari seperti pola piramida. Di kelas 1 SD jumlah siswa bisa mencapai 50-60 anak, namun di kelas 6, jumlahnya jauh berkurang, bisa hanya tinggal 6 anak saja.

Mencicipi Indonesia

Seluruh anggota PM angkatan pertama mengaku mendapatkan kesan mendalam selama mengajar. Mereka pun menyelami budaya dan adat istiadat setempat, membaur dengan masyarakat dan bergelut dengan segala tantangan untuk berbagi pencerahan dan memajukan pendidikan Indonesia.

Berbagai pengalaman unik, lucu, memalukan dan bahkan bahaya. Ada yang pernah ditonjok warga. Selain itu, terjadi pada saat upacara bendera yang pertama kalinya di sebuah sekolah di Bengkalis, Riau. Ada orang tua siswa yang datang dan marah-marah saat bendera merah putih dikibarkan dan peserta upacara tengah menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pengalaman yang bertugas di daerah lain pun tak kalah seru. Dan dari pergumulan tersebut, dalam acara syukuran kepulangan PM angkatan pertama, semua tim menampilkan tari dan lagu daerah tempat mereka bertugas, lengkap dengan busana dan cerita rakyatnya.

Kini PM angkatan pertama kembali, PM angkatan kedua diterjunkan dengan jumlah yang lebih banyak dan dengan daerah tujuan yang lebih luas lagi. Pengabdian tulus pengajar muda tersebut menjadi seperti fajar yang merekah untuk daerah yang kekurangan, dan laksana oase di tengah terasingnya manusia yang hanya mengejar hidup serba kecukupan di kota besar. (Ftr)