Dukungan untuk Para Janda Korban Kejahatan Belanda

HMINEWS – Terkait dengan gugatan akibat kejahatan perang Belanda di Rawagede yang telah memperoleh keputusan Majelis Hakim Pengadilan Den Haag pada 14 September 2011 telah membuka perspektif baru dalam perjuangan hukum menyangkut harkat dan martabat para pejuang kemerdekaan bangsa.

Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (YKUKB) menyampaikan bahwa dikabulkannya gugatan janda-janda korban peristiwa Rawagede telah terberitakan sangat luasnya dan telah menjadi perhatian nasional dan internasional. Keputusan tersebut akan berakibat semakin luasnya tuntutan-tuntutan masyarakat Indonesia yang merasa harkat dan martabatnya juga perlu dipulihkan dan diperjuangkan dalam hubungannya dengan kejahatan perang Belanda yang pernah terjadi pada masa kolonial dan masa agresi militer Belanda I dan II tahun 1946 s/d 1949.

“Tentu tuntutan-tuntutan tersebut tidak dapat dihindarkan dan bahkan harus diperjuangkan dalam kerangka kemartabatan bangsa dan kehormatan bangsa Belanda pula dengan tetap menjunjung tinggi hubungan persahabatan kedua negara,” demikian kata ketua YKUKB Irwan Lubis, SH.

Keputusan gugatan Rawagede akan mempunyai kekuatan hukum yang tetap (inkracht) bilamana hingga pada 14 Desember 2011 Pihak Pemerintah Belanda tidak menyatakan Banding. Keputusan Majelis Hakim tersebut dan hingga surat ini kami sampaikan Pemerintah Belanda belum menyatakan akan Banding sehingga bilamana kelak ternyata Pemerintah Belanda tidak menyatakan Banding maka pemulihan dan pemenuhan hak keperdataan para Penggugat (janda-janda korban) akan dilaksanakan.

Para Penggugat pada hakikatnya tidak terlalu membutuhkan lagi kompensasi-kompensasi sebagaimana maksud Keputusan Majelis Hakim itu, para Penggugat lebih mementingkan pengakuan secara adil dan yuridis bahwa Pihak Belanda telah diputuskan bersalah (onrechtmatige daad) dalam hal itu.

Para Penggugat telah menegakkan dan menjaga harkat dan martabatnya secara khusus dan pada akhirnya para Penggugat itu telah turut serta dalam menjaga harkat dan martabat bangsa kita dihadapan bangsa lain dengan cara yang elegan dan realistis.

 

Perjuangan ini adalah sebuah perjuangan yang panjang dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, sehingga banyak hal yang belum dapat dilakukan secara maksimal, namun oleh karena terdorong akan nilai-nilai kejuangan dan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalamnya maka kita tetap teguh dan gigih terus memperjuangkannya semampu yang bisa dilakukan.

Dan dalam perjuangan ini pula para Penggugat dengan sukarela dibantu secara gigih dan dengan pertimbangan hati nurani Prof. Liesbeth Zegveld (Pengacara) dan Jeffry M. Pondaag (Ketua yayasan K.U.K.B di Belanda). Sudah selayaknyalah pula pihak-pihak yang berjuang  gigih di Belanda kita beri penghargaan dan terima kasih dengan selayaknya walau pada hakikatnya Pengacara di Belanda berjuang dalam konteks profesionalisme namun menimbang peristiwa hukum yang menjadi dalil dan pledoi gugatannya erat kaitannya dengan harkat dan martabat para pejuang kemerdekaan kita. Dan dalam perjuangan ini yayasan K.U.K.B. di Belanda tentu berjuang dalam konteks nilai-nilai kebangsaan.

 

Yayasan K.U.K.B Perwakilan di Indonesia berketapan hati telah mengundang Prof. Liesbeth Zegveld dan Ketua yayasan K.U.K.B Belanda untuk datang ke Tanah Air dalam rangka menghadiri Peringatan Peristiwa Rawagede di Monumen Rawagede Karawang pada Jum’at 9 Desember 2011 dan menghadiri Peringatan Korban Westerling di Monumen Korban 40.000 Jiwa di Makassar pada 11 Desember 2011.

Dalam kesempatan berada di Tanah Air dari tanggal 8 Desember 2011 s/d 22 Desember 2011 semoga masyarakat Indonesia dapat memanfaatkannya untuk dapat bersilaturahmi, berdiskusi, menerima pengaduan-pengaduan dan aspirasi-aspirasi dan berinteraksi langsung dengan beliau-beliau akan segala hal terkait dengan kapasitasnya itu. []