Menelisik Taman Baca idi Perkampungan

HMINEWS – Demi mewujudkan tatanan yang lebih baik dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, baru-baru ini Rumah Pendidikan Sciena Madani (RPSM) yang di pimpin Lukni Maulana berserta beberapa orang dan tidak ketinggalan Agus Thohir pengurus besar HMI yang saat ini menjabat Sekretaris Jenderal ikut mengunjungi Taman Baca Masyarakat (TBM) Praja Muda yang beralamatkan di Desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara.

 

Disambut oleh Saiful Mustakim selaku pengelola TBM Praja Muda dan selama disitu membahas berbagai persoalan tentang dunia pembelajaran di sekolahan. Paling menarik dalam dialog tersebut ialah pembahasan mengenai Fun Learning yakni pembelajaran yang menyenangkan untuk para siswa di sekolah. Dimana sekolah menjadi tempat yang menakutkan jika hanya menerapkan model pembelajaran yang kaku dan monoton, namun bagaimana sekolah mampu menerapkan berbagai metode yang mendukung guna mencapai tujuan dan membuat anak didik merasa nyaman didalamnya.

 

Agus Thohir mengatakan, dengan adanya Taman Baca Masyarakat dapat memberikan pembekalan baru pada masyarakat yang haus dengan ilmu. Tentu diimbangi dengan berbagai macam program kegiatan, terutama bekal ketrampilan yang saat ini sangat di butuhkan.

 

Ada beberapa alasan berkunjung ke TBM Praja Muda, terkait program pemerintah dalam mengentaskan buta huruf dan kegiatan belajar untuk masyarakat selain program rumah pintar dan pos paud. Alasan utamanya yakni TBM Praja Muda merupakan TBM salah satu yang terbaik di Jawa Tengah. Di sana walau tampak sederhana namun program kegiatanya berjalan lancar dan terorganisir seperti; sedekah buku, Teater dan musikalisasi puisi, pemutaran film indie, gelar budaya, keterampilan dan kejurnalistikan.

 

Seiring perkembangan arus globalisasi yang tajam dalam dunia pendidikan, masyarakat harus semakin menyadari bahwa belajar tidak hanya di bangku sekolah. Akan tetapi bisa dimanapun tempatnya. Diharapkan disetiap RT ada Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh masyarakat dan tentunya dikembalikan ke masyarakat. Sehingga kelak generasi anak bangsa semakin matang dan memiliki nilai-nilai budi pekerti yang luhur, karena dengan baiknya pendidikan baik pula generasinya. Jika buruk pendidikannya buruk pula generasinya. [] lk

Muslim yang bisa menjadi pemimpin di masyarakat yang multikultural

London/Doha – Multikulturalisme semakin mendapat kritikan di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, saat berbagai masyarakat berusaha memikirkan bagaimana sebaiknya menghimpun berbagai komunitas dengan latar belakang yang beraneka ragam. Kanselor Jerman, Angela Merkel menyatakan multikulturalisme telah gagal dan pandangannya diikuti pula oleh para pemimpin Inggris, Italia dan Perancis. Komentar mereka muncul menyusul menguatnya sentimen sayap kanan-jauh terhadap tumbuhnya populasi Muslim di negara-negara ini.

Theos, sebuah lembaga think tank keagamaan di Inggris, Oktober lalu mengeluarkan laporan bertajuk, “Multiculturalism: A Christian Retrieval”, yang menyeru agar para tokoh politik mendukung multikulturalisme, dan menegaskan bahwa multikulturalisme merupakan satu-satunya jalan untuk mengatasi kebinekaan masyarakat zaman sekarang. Dengan meminjam definisi dari Tariq Modood, pakar minoritas etnis di Inggris, laporan tersebut menyebut multikulturalisme sebagai “akomodasi politik terhadap minoritas yang terjelma dari imigrasi ke negara-negara Barat.” Laporan Theos memberi argumen dari perspektif Kristen agar kita “tak mengabaikan kontribusi multikulturalisme yang sangat diperlukan untuk mewujudkan masyarakat yang adil.” Fakta bahwa mereka membahas isu multikulturalisme ini sendiri cukuplah penting bagi perdebatan ini karena menunjukkan bahwa tidak saja Muslim, tetapi juga aktor masyarakat sipil lainnya, yang menganggap multikulturalisme sebuah kontribusi positif dan sangat diperlukan oleh masyarakat.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa keadilan multikultural merupakan sebuah konsep yang memberi pemerintah sebuah metode guna menghadapi tantangan untuk menciptakan “hubungan publik yang fair dan saling menghargai di kalangan minoritas.”

Menegakkan keadilan merupakan prioritas semua agama, di samping juga prioritas masyarakat modern. Jika masyarakat yang multikultural menjadi kunci untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil, maka satu-satunya pilihan bijak adalah memanfaatkan kekuatannya.

Menariknya, laporan tersebut menyatakan bahwa negara demokrasi multikultural yang adil bisa muncul bila ikatan-ikatan moral dipelihara dalam masyarakat warga yang lebih luas, dan bukannya oleh pemerintah semata. Ini berarti bahwa masyarakat sipil perlu melakukan upaya penting untuk melindungi minoritasnya dan memantapkan tempat mereka di level kepemimpinan untuk mewujudkan keadilan seperti yang dimaksud oleh laporan ini.

Salah satu prakarsa yang menggali inspirasi dari kaum Muslim – untuk mengatasi tantangan-tantangan masyarakat multikultural ini – adalahMosaic International Summit, yang dimulai 15 November kemarin di Qatar.

Masyarakat global berada di tengah era “menggembungnya jumlah anak muda”, yang khususnya cukup mencolok di negara-negara mayoritas Muslim. Faktanya, 780 juta Muslim berusia di bawah 25 tahun, dan ini merupakan 11 persen dari seluruh penduduk dunia. Seperti kita telah saksikan pada Musim Semi Arab, arti penting pemuda ini di masa depan tidaklah bisa disangkal.

Kaum Muslim terhubung satu sama lain lewat konsep “umat”, yang bisa disebut bangsa Muslim multikultural sedunia. Para pemimpin masa depan perlu menangani kebinekaan 1,6 miliar penduduk Muslim, serta keragaman seluruh komunitas global. Selain itu, sebagian besar negara Muslim memiliki populasi minoritas yang cukup besar, atau mereka sendiri merupakan minoritas signifikan yang semakin mengambil peran dalam kepemimpinan.

Pertemuan ini, yang terbuka bagi para delegasi dari semua latar belakang – tidak hanya Muslim – diikuti oleh 80 pemuda, berusia antara 25 dan 35 tahun, dari 17 negara yang memiliki keragaman seperti Afghanistan dan Aljazair hingga Indonesia dan Irak. Ini merupakan pertemuan ketiga yang diselenggarakan oleh Mosaic, prakarsa amal yang berbasis di Inggris di bawah perlindungan Yang Mulia Pangeran Wales (Pangeran Charles). Misi Mosaic adalah menciptakan peluang bagi anak-anak muda dari semua latar belakang yang hidup di komunitas yang tidak terpenuhi hak-haknya.

Para delegasi dalam pertemuan ini ambil bagian dalam sebuah program terstruktur selama sepuluh hari, yang berisi lokakarya-berbasis-keterampilan dan kegiatan perencanaan program yang bertujuan membuat mereka akrab dengan teori-teori kepemimpinan sembari membekali mereka dengan keterampilan kepemimpinan yang praktikal.

Setelah pertemuan ini, Mosaic akan memberi dukungan pada para delegasi selama setahun dan meminta mereka melaporkan setiap tiga bulan tentang bagaimana mereka menerapkan wawasan dan keterampilan baru mereka. Para delegasi dari pertemuan tahun lalu mengembangkan program-program seperti program magang, penggalangan dana bagi keluarga yang membutuhkan, dan bahkan menciptakan modul kewirausahaan sosial bagi para mahasiswa yang tengah menempuh kuliah di bidang bisnis.

Akibat dari pertemuan ini, para delegasi Mosaic bisa merasakan pengalaman di negara dan budaya baru, dan bertemu dengan para calon pemimpin dari berbagai ragam latar belakang. Pada gilirannya, pelatihan ini juga mengharuskan para delegasi merasakan perpaduan perspektif dan lingkungan baru, yang menjadi salah satu alasan mengapa Qatar dipilih sebagai lokasi pertemuan ini. Di tengah berbagai kejadian seputar Musim Semi Arab tahun ini, Timur Tengah terus memberi inspirasi bagi para pemimpin muda.

Kenyataannya, membangun masyarakat dengan modal multikulturalisme bukanlah sebuah paradoks. Justru, para pemimpin yang terlatih untuk memimpin masyarakat yang multikultural bisa menciptakan komunitas yang lebih kuat, lebih kohesif dan lebih adil.

###

* Shelina Zahra Janmohamed ialah pengarang Love in a Headscarf dan menulis blog di www.spirit21.co.uk.

Artikel ini kerasama dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Walhi Aceh Ajak Siswa & Mahasiswa “Mari Menulis Isu Lingkungan”

HMINEWS, Banda Aceh – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh memberikan undangan bagi siswa-siswa sekolah untuk menulis isu-isu lingkungan. Undangan menulis ini juga diberlakukan untuk mahasiswa yang aktif menulis baik di media kampus maupun di internet.
Kepada The Globe Journal, Senin (21/11) tadi pagi, Kepala Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh, Muhammad Nizar yang didampingi rekannya Yusriadi mengatakan undangan menulis sebenarnya berlaku untuk umum. Kegiatan ini merupakan kerjasama Walhi Aceh dengan Forum Wartawan Peduli Lingkungan (GreeN Journalist).

Tulisan yang dikirimkan harus terkait dengan isu-isu lingkungan yang ada disekitar sekolah atau kampus. Tema tulisan bebas dan sebaiknya dalam bentuk “process journalism” dan “in depth reporting” dan dapat dikirimkan ke alamat email ;aceh.greenjournalist@gmail.com.

Nizar menjelaskan deadline tulisan dari para siswa(i) dan mahasiswa(i) sampai minggu pertama Januari 2012. Setiap tulisan lingkungan yang terkumpul akan dipilih tiga terbaik untuk diterbitkan dalam bulletin Walhi Aceh “Tanah Rencong”.

Sementara itu Yusriadi mengatakan bahwa hadiah tulisan terbaik sengaja tidak disebutkan jumlah atau bentuknya, hal ini agar mendorong agar para siswa atau mahasiswa tidak cenderung melihat bentuk hadiahnya setiap membuat tulisan.

“Kita ingin melatih ketrampilan siswa dan mahasiswa yang aktif menulis sebagai bagian dari “citizen journalism” yang peka terhadap isu lingkungan,” kata dia. Artinya menulis bukan karena hadiah tapi menulis adalah keinginan yang datang dari hati.

Undangan tulisan ini bersifat umum bagi siapa saja anak-anak sekolah dan mahasiswa untuk mengembangkan ketrampilan menulis terhadap isu-isu lingkungan yang ada disekitarnya. Tulisan ini akan diseleksi oleh GreeN Journalist bersama Walhi Aceh pada pertengahan Januari 2012 dan akan diumumkan melalui email masing-masing siswa dan mahasiswa yang terpilih dalam tulisan terbaik.

Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi Eksekutif Daerah WALHI Aceh: Jl. Tgk. Ma’in Lorong Chik Mahmud No. 26 Lambhuk Kec. Ulee Kareng, Banda Aceh 23116, email: walhinad@gmail.com Telp. +62 651-21183 Fax: +62 651-21184     http://www.walhiaceh.org

Demi Demokrasi Islam, Ulama Aceh Musti Terlibat Politik

HMINEWS, Aceh –  Wakil Gubernur Provinsi Aceh, Muhammad Nazar, meminta seluruh ulama di Provinsi Aceh melibatkan diri dalam perpolitikan guna menunjukkan demokrasinya agama Islam di mata dunia. Dalam agama Islam, menurutnya, tidak ada satu larangan pun bagi ulama untuk berpolitik. Karena itu, diharapkan ulama ikut berpartisipasi memberikan saran dan pendapat dalam hal perpolitikan.

Islam adalah agama yang demokrasi tidak pernah mengekang hak pemeluknya untuk mengikuti perkembangan zaman, terlebih dalam memikirkan pembangunan negara karena ulama juga merupakan pemimpin umat Muslim, kata Nazar di Meulaboh, Ahad (20/11).

Kondisi ketidakstabilan politik di wilayah Aceh karena kurangnya partisipasi ulama dan ada pihak yang menilai ulama yang masuk ranah politik sudah melenceng dari ketentuan agama Islam. Padahal, menurut Nazar, peran ulama sangat penting untuk mengolaborasikan kondisi daerah Aceh dengan penganutnya 100 persen Muslim sehingga roda pemerintahan dijalankan tetap berbasis Islam.

Dengan peran ulama, Aceh pasti lebih dapat memopulerkan martabat agama Islam sehingga tidak ada pandangan negatif ajaran Islam tidak memihak pada pemerintah, katanya.

Lebih lanjut dikatakan ulama dan umara (pemimpin) merupakan dua golongan yang harus dipadukan untuk menciptakan ketahanan agama Islam. [] antara/lk

Restorasi Gerakan Mahasiswa Islam dalam Agenda Anti-Hegemoni

Abstrak

Gerakan Islam, khususnya Gerakan Mahasiswa Islam di berbagai dunia kini tengah merumuskan sebuah resolusi baru atas permasalahan yang terjadi dalam kehidupan umat muslim saat ini. Polemik kemerdekaan Palestina, Revolusi Timur Tengah, Diskriminasi Muslim di beberapa negara minoritas Muslim seperti Thailand, kejatuhan kapitalisme global, agenda khilafah Islamiyah dan berbagai problematika lainnya membutuhkan suatu pemikiran orisinil dari gerakan mahasiswa yang saat ini tidak lagi terkungkung dalam ruang-ruang kajian namun perlu untuk terjun kedalam permasalahan umat secara langsung. Makalah ini akan membedah sejarah pemikiran serta relevansinya terhadap strategi gerakan mahasiswa untuk melepaskan hegemoni kekuatan Barat yang desktruktif terhadap pemikiran Intelektual Muslim, khususnya Intelektual Mahasiswa Islam di Indonesia. Secara garis besar, makalah ini membahas peta pergerakan dan syarat-syarat objektif tercapainya suatu pemikiran baru dalam gerakan Mahasiswa Islam yang akan berpengaruh terhadap kebangkitan Islam di seluruh dunia. Pemikiran baru inilah yang disebut dengan Restorasi Gerakan.

Latar Belakang

Pemikiran-pemikran Barat yang telah berabad-abad mendominasi segala aspek kehidupan Intelektual Muslim membuat sejarah selalu berpihak terhadap kegemilangan penemuan-penemuan baru di Barat dan menafikan adanya kebudayaan serta peradaban yang lebih maha-agung sebelum Barat meng-hegemoni dunia saat ini. Sejak kejatuhan Turki Usmani, dan perampasan kitab para Intelektual Muslim secara besar-besaran yang terjadi saat perang Salib, seolah peradaban Islam telah hilang sama sekali. Jejak-jejak sejarah peradaban Islam hanya dilihat sebatas romantika peradaban yang ideal, tanpa menghubungkannya dengan konteks zaman ini. Sejak keruntuhan Turki Usmani, yang kemudian dimulai dengan timbulnya aliran-aliran atau pergerakan baru yang memiliki misi melepaskan diri dari penjajahan Barat baik secara materiil maupun secara pemikiran dengan melakukan berbagai perubahan telah menjadi dasar yang kuat terhadap kebangkitan Islam di era modern ini.

Munculnya Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 sebagai representasi gerakan pemikiran, serta perpolitikan Islam turut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap orientasi gerakan Islam di dalam masa pelepasan diri total terhadap penjajahan Barat. Catatan perjalanan gerakan pembaharu di tengah kejatuhan peradaban umat Islam serta ditengah gempuran penjajahan, imprealisme negara Barat dan penyebaran dogma-dogma pemikiran sekuler Barat memberikan sebuah inspirasi atas harapan bangkitnya gerakan Islam yang mampu mendobrak kebuntuan, setidaknya mampu menandingi hegemoni Barat.

Pengaruh Ikhwanul Muslimin terhadap Gerakan Intelektual Islam pun dijadikan model ideal berbagai macam gerakan baru yang muncul dikalangan mahasiswa Islam, khususnya di Indonesia, bahkan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) secara tidak langsung mengambil pola pengkaderan yang hampir mirip dengan pola pengkaderan Ikhwanul Muslimin.

Sementara itu pasca Revolusi Mesir tahun 1971, Ikhwanul Muslimin mengalami masa subur dalam hal pemikiran dan tafsir berbagai kitab-kitab sufistik penting untuk dijadikan pedoman Gerakan Islam yang komprehensif. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Sayyid Quthb, dan Hassan Hanafi menambah khazanah pemikiran Islam yang cenderung revolusioner dan berkontradiksi langsung dengan Barat. Dengan produktivitas karya pemikiran dan pola pengkaderan yang cukup dinamis inilah Ikhwanul Muslimin dapat tumbuh menjadi gerakan Nasional-Regional sumber inspirasi gerakan sejenis di berbagai negara di dunia saat ini. Walaupun Ikhwanul Muslimin hampir 50 tahun dicap sebagai organisasi terlarang di negara asalnya, namun karya pemikiran serta kejelasan arah geraknya mampu menggugah semangat aktivis Mahasiswa Islam di Indonesia untuk mendefinisikan kembali strategi dalam mencapai kebangkitan Islam.

Hal ini menarik untuk dijadikan kajian awal tentang pondasi gerakan restorasi sebuah organisasi Islam, terutama yang bergerak di bidang pengkaderan dan pemikiran, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang kini tengah dalam masa mencari arah gerakan baru.

Ada berbagai landasan penting yang digunakan penulis untuk mendefinisikan Restorasi pergerakan Mahasiswa Islam ini. Sebagai contoh, penulis menggunakan gagasan orisinal Jamalludin Al-Afghani, seorang tokoh pembaharu Islam, yang terkenal dengan gerakan Pan-Islamismenya untuk me-redefinisi Gerakan Islam ke dalam perlawanan terhadap Barat secara total.

Latar belakang inilah yang kemudian menjadikan alasan penulis dalam membuat makalah yang berjudul “Restorasi Gerakan Mahasiswa Islam dalam Agenda Anti-Hegemoni”.

Landasan Pemikiran

Dalam berbagai dinamika pergerakan sosial di dunia, gerakan Islam menempati posisi yang sangat strategis. Namun hal ini sempat menjadi titik balik yang sangat disayangkan karena perpecahan dalam internal gerakan akibat perebutan kekuatan politik yang sebenarnya tidak perlu hingga dampak dari peristiwa 11 September, dimana Gerakan-Gerakan Islam yang progresif dicap sebagai gerakan radikal terorisme. Berbagai umpatan dan kritikan pun silih berganti bertubi-tubi mengarah pada dakwah Islamiyah yang dijalankan oleh Gerakan tersebut, mulai dari Salafiah hingga Ikhwanul Muslimin di Mesir yang dianggap sebagai poros pengkaderan ekstremis-fundamentalis Islam.

Hal ini pun di Indonesia diperparah oleh sikap Mahasiswa sebagai poros pemikiran intelektual yang akhirnya memilih untuk bersikap pragmatis serta terjebak pada simbol-simbol kapitalisme Barat yang meruntuhkan semangat dakwah Islamiyah tersebut. Adapun dakwah Islamiyah yang dimaksud tidak hanya berkisar pada ibadah wajib, namun keberpihakan kepada golongan Mustad’afin yang diorientasikan dengan Siyasah atau politik Islam. Hegemoni Barat yang menguasai hampir seluruh aspek inilah yang kemudian menimbulkan suatu aras pemikiran baru dikalangan Mahasiswa, khususnya Mahasiswa Kiri dan Mahasiswa Islam. Jika mahasiswa Kiri tetap konsisten membela cara-cara Marxisme melalui aksi-aksi sporadis dan cenderung reaksioner, mahasiswa Islam kini tengah merumuskan beberapa gaya baru yang cenderung elitis dan ber-orientasi pada Internasionalisasi gerakan. Internasionalisasi gerakan inilah yang kemudian membuat gerakan mahasiswa Islam berbeda ruang strategi dan taktiknya dalam melawan hegemoni Barat yang telah mengakar ini.

Pemikiran Hassan Hanafi terhadap Fundamentalisme Islam memiliki relevansi terhadap restorasi gerakan Mahasiswa Islam saat ini. Ideologisasi yang berjalan secara sistematis dipandang sebagai solusi untuk membakar kembali api pergerakan Mahasiswa. Selain itu Hassan Hanafi juga membuat sebuah peta pergerakan dunia dari drama pelarangan Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga bangkitnya generasi baru gerakan Al-Jihad, yang pada akhirnya berhasil memimpin rezim baru setelah Revolusi Mesir setelah terbunuhnya Anwar Sadat. Gerakan massa ini di inisasi oleh ide pokok Hassan Hanafi serta Sayyid Quthb dalam mengemban Jihad secara total di dunia pemikiran serta aksiologi pemuda Islam di seluruh dunia yang harus berorientasi pada ketaatan mutlak terhadap Allah maupun niat untuk menentang segala bentuk hegemoni kapitalisme-Barat. Jika kita melihat kebangkitan  Ikhwanul Muslimin, hal ini dapat dijadikan sebagai model baru gerakan Mahasiswa Islam yang saat ini masih terjebak dalam pola kaderisasi semu tanpa memberikan bekal ataupun kesadaran untuk bergerak.

Pembahasan

Kontra Hegemoni

Antonio Gramsci menyebutkan bahwa bentuk kapitalisme yang dikutuk Marx tidak akan berakhir begitu saja, dia akan berubah bentuk menjadi ideologi yang lebih halus dan mengakar dalam masyarakat, hal inilah yang disebut sebagai Hegemoni menurut Gramsci. Lahirnya budaya post-modernisme dan budaya pop dikalangan intelektual Mahasiswa menandai era hegemoni Barat dalam kehidupan mahasiswa. Cafe-cafe lebih dinikmati sebagai tempat bersenda gurau atau sekedar membicarakan trend fashion saat ini. Padahal ruang-ruang publik seperti Cafe-lah yang melahirkan semangat pemberontakan terhadap pemerintah, seperti revolusi Perancis tahun 1789 yang di inisiasi kaum Blanquisme. Hal ini menjadi sebuah kritikan serius, dimana mahasiswa saat ini tidak memiliki kesadaran untuk bangkit melawan segala hegemoni dan berusaha menghindar dari hingar-bingar politik Negara. Sikap apatis ini yang kemudian melahirkan suatu tantangan dalam Generasi Islam saat ini.

Pierre Bourdieu mengungkapkan kaitan intelektual dengan struktur kelas menurut beberapa aliran penting dalam Gerakan Sosial, yang pertama adalah pandangan Karl Mannheim dalam buku Ideologi dan Utopia, ia berargumen bahwa intelektual merupakan lapisan sosial yang relatif tidak terikat dan tidak berkelas. Hal ini berarti seorang intelektual tidak memiliki tanggungjawab apapun terhadap kelas yang dibelanya. Berbeda dengan Mannheim, Gramsci mengkaitkan secara jelas dalam teori Intelektual Organiknya bahwa Intelektual jelas terikat oleh kelas sosial yang dimilikinya, dan penting untuk memiliki keterkaitan dengan kelas proletar sebagai kelas yang harus dibela oleh kaum intelektual. Dari berbagai kaitan inilah maka Pierre Bourdieu kemudian lebih cenderung memaknai intelektual dalam artian Gramsci.

Dalam agenda kontra-Hegemoni secara politik, posisi Intelektual yang jelas berpihak ini dapat menjadi dasar dari Gerakan Mahasiswa Islam. Agenda berikutnya adalah menemukan cara perlawanan terhadap Hegemoni kapitalisme secara politik yang paling efektif, salah satu solusinya adalah kontra-hegemoni yang melibatkan restorasi terhadap gerakan Mahasiswa Islam secara total.

Ketika Francis Fukuyama berusaha meyakinkan pembacanya dalam buku “The End of Ideology”, ia telah melewatkan suatu pembahasan penting bahwa kapitalisme sebagai ideologi tidak mati, hanya saja berubah menjadi Hegemoni dengan bayang-bayang perusahaan multinasional yang terus memasok produk-produk tidak berguna yang membuat pemuda-pemuda di negara dunia ketiga merasa terbuai dan melupakan permasalahan di negaranya. Seperti yang dikatakan Anthony Giddens dalam thesisnya, “Masa Depan Gerakan Radikal, Ekstreem Kiri dan Kanan” bahwa Ideologi tidak berakhir, namun melakukan transformasi secara perlahan dan memasuki era baru. Secara perlahan perubahan besar dalam kapitalisme yang telah memasuki arena baru merupakan bentuk kongkrit dari adanya perubahan secara evolusioner. Kapitalisme sebagai sebuah ideologi tidak lagi memaksakan dirinya masuk melalui jalan perang atau kekerasan, namun kapitalisme masuk ke ranah yang lebih halus, seperti bantuan-bantuan donor negara asing atas nama kemanusiaan dan lingkungan hidup, inflirtasi melalui LSM maupun lembaga politik Negara, serta memanfaatkan media mainstream untuk membela kepentingan pemodal asing.

Kebangkitan Pergerakan Kontra-Hegemoni di Dunia

Apakah kaum intelektual yang diwakili berbagai lapisan masyarakat khususnya mahasiswa kini tengah bosan dengan sistem Kapitalisme Global? Mungkin jawabannya bisa ditemukan dalam gerakan Occupy Wallstreet yang bermula di Amerika kemudian menyebar secara sistematis melalui media-media publik untuk melakukan aksi serupa hampir di 90 Negara dan 900 kota diseluruh dunia. Ini bukan hal yang sifatnya reaksioner, namun ada keyakinan besar bahwa gerakan ini merupakan suatu anti-tesis permanen terhadap sistem Kapitalisme yang menyandang status quo saat ini. Kerusakan-kerusakan kapitalisme seperti yang Marx ramalkan kini tengah mengalami gejolak ketidakpastian yang sangat parah, krisis demi krisis tidak lagi bisa diatasi dengan bail-out IMF atau World Bank. Perlu ada satu sistem baru yang akan menggantikan sistem Kapitalisme ini, dan inilah kesempatan bagi Gerakan Mahasiswa Islam untuk dapat mengajukan berbagai solusi-solusi alternatif sistem ekonomi baru.

Agenda-agenda kontra-hegemoni Kapitalisme global juga terjadi di beberapa negara lainnya, yang pada dasarnya adalah suatu bentuk kekecewaan yang mendalam terhadap sistem Pemerintahan yang menyokong kuat Liberalisasi disegala aspek ekonomi seperti contoh Gerakan Tolak Komersialisasi Pendidikan di Chile, Kolombia dan negara lainnya di Amerika Latin serta Inggris yang memiliki semangat Anarkisme Bakunin digabungkan dalam nuansa semangat revolusi Che Guevara untuk menuntuk diadakannya reformasi total dalam sistem pendidikan mereka yang dinilai sarat dengan komersialisasi.

Agenda Restorasi Gerakan

Gerakan Mahasiswa kini harus dituntut untuk mampu berdiri menyelesaikan permasalahan yang bukan saja seputar permasalahan di level nasional saja, namun jauh melampaui batas-batas geografis suatu negara. Pan Islamisme telah mengajarkan kita bahwa umat Muslim memiliki suatu kekuatan yang sangat besar dalam memukul mundur kekuatan Barat apabila mereka bersatu. Kesatuan inilah yang dapat diciptakan melalui strategi Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu, dimana Gerakan Mahasiswa Islam yang ada di Indonesia menciptakan suatu ikatan-ikatan baru dengan Gerakan Mahasiswa Islam yang ada di seluruh penjuru dunia. Penggabungan dua metodologi dasar antara Pan-Islamisme dengan Intelektual Kolektif ini niscaya menjadi panduan Gerakan Mahasiswa Islam dimasa depan.

Ada berbagai bentuk hasil penggabungan kedua metodologi perjuangan anti-hegemoni tersebut, sebagai contoh perkumpulan demi perkumpulan Internasional menjadi ajang olah pemikiran serta diskusi yang sifatnya solutif-konstruktif. Berbeda dengan aksi-aksi reaksioner gerakan Kiri yang masih terbenam dalam romantisme gerakan post-Marxisme. Walaupun beberapa aksi mereka mendapatkan tanggapan dari pengambil kebijakan namun hasil yang dicapai kurang maksimal.

Prospek pemikiran gerakan baru atau restorasi inilah yang harus terus dikaji, karena masa depan pergerakan mahasiswa bukan lagi terletak pada epistemologi an sich, namun harus merambah pada aksiologi lapangan. Seperti yang dikatakan oleh Pierre Bourdieu bahwa Mahasiswa dan Kaum Intelektual harus memanfaatkan ruang-ruang publik yang ada untuk melawan segala bentuk hegemoni rezim penindasan, caranya dengan menyebarkan ide-ide melalui koneksi Intelektual Kolektif.

Cita-cita dari kesatuan Mahasiswa Muslim dunia dalam menghadapi hegemoni barat ini harus kembali dibangkitkan melalui forum-forum mahasiswa Islam dunia, sebagai contoh UIWS atau Union of Islamic World Student, dan PEPIAT atau Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara. Dakwah-dakwah gerakan mahasiswa Islam pun haruslah mengalami transformasi ke dalam bentuk yang elegan dan efektif dalam merubah tatanan dunia. Isu-isu seputar problematika umat Muslim pun dapat diangkat dan dicari solusinya secara kolektif dalam forum-forum internasional ini. Sebuah resolusi yang hadir haruslah ide-ide orisinal dari perwakilan gerakan mahasiswa yang nantinya akan dijadikan sebagai action plan atau agenda kerja penyelesaian masalah selama periode tertentu.

Sebagai contoh adalah aksi kongkrit untuk mendukung Palestina merdeka melalui sebuah aksi berikut ini:

Penting untuk di ingat, Palestina sebagai kiblat kedua bagi umat Muslim di seluruh dunia haruslah menjadi titik balik bagi perjuangan gerakan Islam. Penguatan dan solidaritas diantara delegasi konferensi-konferensi Internasional pun belum mampu menandingi gempuran Israel di Palestina. Yang harus dilakukan oleh Gerakan Islam adalah melakukan kajian-kajian analisis dalam hal ekonomi khususnya perdagangan internasional antara negara-negara di Arab dengan Israel, kajian ke-efektifan hegemoni politik OKI dimata dunia dalam menyelesaikan permasalahan Palestina, serta mendorong terbentuknya negara Palestina merdeka dengan melakukan diplomasi dengan wakil-wakil negara yang belum mengakui Palestina di PBB. Berbagai hal tadi merupakan langkah yang sangat kongkrit dalam menunjukan kapasitas gerakan Islam, khususnya mahasiswa dalam memanfaatkan ruang-ruang atau arena Gerakan yang sudah ada.

 Kesimpulan

Pada dasarnya Gerakan Intelektual Islam memiliki satu simpul pemersatu yaitu lepasnya umat Muslim dari Hegemoni Barat yang telah merusak segala aspek kehidupan umat Muslim di seluruh dunia. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metodologi aksi baru, dimana merujuk pada Pan-Islamisme sebagai gerakan internasional dan Intelektual Kolektif sebagai sarana menuju kekuatan anti-hegemoni.

Adanya gerakan-gerakan untuk melakukan restorasi terhadap pemerintah maupun lembaga-lembaga yang tunduk pada hegemoni Barat atau pro-kapitalisme dengan momentum serta gerakan yang berbeda di hampir seluruh penjuru dunia saat ini menunjukkan munculnya syarat-syarat objektif adanya Gerakan global yang memiliki visi anti-hegemoni. Dalam momentum ini diperlukan arahan gerak baru bagi Gerakan Mahasiswa Islam untuk menunjukkan kekuatannya di level Internasional melalui program-program pembenahan yang kemudian disebut sebagai gerakan restorasi.

Masa depan ada ditangan Gerakan Mahasiswa Islam, dan harapan akan bangkitnya Islam dikemudian hari perlu dipersiapkan dengan strategi yang sangat terencana. Restorasi merupakan sebuah syarat mutlak bagi Gerakan Islam untuk terus melakukan perlawanan. Tanpa restorasi maka yang tersisa hanyalah romantisme gerakan, sedangkan kapitalisme terus menekan lawan-lawannya untuk diam dan menerima hegemoni mereka sebagai suatu kebenaran mutlak.

Referensi

Adhinegara, Bhima Yudhistira. “Gerakan Mahasiswa Islam di Asia Tenggara”. Harian Republika, 10 November 2011.

Hanafi, Hassan. 2003. Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam. Yogyakarta: Islamika

Himpunan Mahasiswa Islam. Khittah Perjuangan.

Mutahir, Arizal. 2011. Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Rahmena, Ali. 2000. Ali Syari’ati, Biografi Politik Intelektual Revolusioner. London: I.B Tauris & Co. Ltd.

Schiff, Maurice dan L.Alan Winters. 2002. Regional Integration and Development.Washington: World Bank Publisher.

http://klipingpilihanku.blogspot.com/2007/06/pemikiran-politik-islam-jamaluddin-al.html

Penulis: BHIMA YUDHISTIRA ADHINEGARA, Sekretaris Umum HMI Komisariat Ekonomi UGM

Email: bima.mail@gmail.com

Densus 88, Si Boneka AS itu Siksa Sasaran di Depan Anak-Istrinya

HMINEWS – Densus 88 kembali memperlihatkan sikapnya yang arogan dan menyebalkan. Detasemen anti teror bikinan SBY atas pesanan Amerika itu menangkap terduga Teroris bernama Dian Adi Priyana (DAP) di Pasar Nyamuk Cipondoh Tangerang Selatan, Sabtu (12/11/2011) dengan cara disiksa di depan anak istrinya.

Sebagaimana dikutip oleh www.voa-islam.com, istri terduga teroris, Ummu Yasmin,
menyaksikan penangkapan dan penyiksaan terhadap suaminya menceritakan
detik-detik kebiadaban Densus.

Pagi itu, sekira pukul 07.30 WIB, terduga teroris Dian Adi Priana yang disebut polisi terkait dengan
jaringan Abdullah Omar sedang mengantar istri dan dua anaknya dengan
mengendarai motor ke pasar untuk belanja. Ketika sampai di dekat SDN 3
Cipondoh, sekitar 50 meter dari rumah kontrakannya, tiba-tiba motornya
diberhentikan secara paksa oleh Tim Densus 88. Setelah dihentikan paksa
kemudian motornya dibelokkan ke arah got, lalu salah seorang anggota
Densus 88 menodongkan senjata ke arah Dian dengan sangat kasar.
Sementara itu, anggota Densus lainnya menyeretnya dari motor, memukul,
menendang dan menginjak-injaknya sampai mulutnya berdarah.

Biadabnya, penganiayaan yang tak
manusiawi tersebut dilakukan di depan istri dan dua anak Dian yang
bernama Azzam (4,5) dan Syamil (1,5).

Tak sampai di situ, dengan kejinya,
kedua anak balita itu juga mendapatkan perlakuan kasar dari tim Densus
88, sama seperti ayah mereka. Azzam yang terluka karena motor terjatuh
ke got itu terus menangis melihat ayahnya dipelakukan kasar. Semantara
Syamil yang baru berumur 1,5 tahun direnggut dengan paksa oleh tim
Densus 88 sampai pelipisnya legam.

Sesaat kemudian, puluhan petugas dari
Detasemen Borgol tersebut mengerubuti terduga teroris Dian Adi Priyana
bersama istri dan kedua anaknya yang terus menangis karena ketakutan.
Tak mau ambil pusing, Ummu Yasmin dan kedua anaknya pun diangkut ke
dalam mobil Avanza warna putih, sementara Dian sendiri dinaikkan ke
mobil lain warna hitam. Dari dalam mobil, Ummu Yasmin dan kedua anaknya
mendengar teriakan takbir dari Dian yang sedang disiksa oleh anggota
Densus 88. Teriakan takbir tersebut membuat anggota Densus 88 marah
kemudian mereka mengambil lakban dari mobil yang ditumpangi oleh Ummu
Yasmin dan kedua anaknya.

“Dengan lakban itulah mulut suami saya dibungkam, mungkin karena mereka membenci suara takbir,” ujar Ummu Yasmin kepada voa-islam.com, Senin (15/11/2011).
Setelah itu, Ummu Yasmin dan kedua
anaknya dibawa ke Polsek Cipondoh sedangkan Dian sendiri entah dibawa
ke tempat lain, entah ke mana.

Rupanya polisi tidak puas
mempertontonkan kebiadaban dalam menyiksa Dian di depan istri dan kedua
anaknya. Hari itu juga polisi menjemput dua anak perempuan Dian yang
bernama Syifa (11) dan Yasmin (9) yang sedang bersekolah untuk dibawa
ke Polsek Cipondoh. Ummu Yasmin dan keempat anaknya pun ditahan di
Polsek Cipondoh dari jam 8 pagi sampai larut malam. Jam 21.00 WIB
mereka baru diantar pulang.

Selama di penjara, Ummu Yasmin dan
keempat anaknya, dua di antaranya masih balita, dipaksa untuk menonton
drama kebiadaban Densus 88 yang menyiksa suami dan ayah mereka.
Dampak dari peristiwa tak manusiawi
itu, jelas Ummu Yasmin, keempat anaknya, terutama Azzam dan Syamil yang
masih balita, sampai sekarang masih trauma dan sering menangis jika
mengingat kejadian penyiksaan yang menimpa ayah mereka.

Sangat disayangkan, anak-anak kecil itu
adalah generasi bangsa yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa itu
teroris. Tapi Densus telah menyuguhkan tindakan teror kepada anak-anak
suci itu. Anak-anak yang masih polos itu menjadi korban teror dan
intimidasi dari negara melalui aparatnya yang katanya menjunjung tinggi
HAM.

Soal tudingan bahwa Dian adalah anggota
teroris jaringan Abdullah Omar alias Zulfikar yang memiliki senjata
api, Ummu Yasmin meragukan tudingan itu. Sebagai istri Dian, ia tidak
pernah melihat ataupun mengetahui adanya senjata api di tangan suaminya.
Melalui berita ini, Ummu Yasmin
berharap agar jeritan hatinya didengar oleh para aktivis pendekar HAM
atau Komisi Nasional Perlindungan Anak.  [] voa/lk

Edan, Biaya Pernikahan Ibas dengan Anaknya Hatta Radjasa 12 Milyar?

HMINEWS, Jakarta – LSM Bendera yang terkenal paling kritis terhadap rezim SBY merilis biaya pernikahan Sekjen Partai Demokrat, Edhie Baskoro atau Ibas dengan Aliya Radjasa, putri Hatta Radjasa, menelan biaya hingga Rp 12 miliar.

“Seluruh prosesi pernikahan Ibas dan Aliya di perkirakan habiskan biaya mencapai sekitar Rp 12 miliar. Ironis, pernikahan mewah dua anak pejabat yang hidupnya dibiayai dari pajak rakyat sementara sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan, jutaan anak kurang gizi, jutaan anak putus sekolah, belasan ribu perempuan menjadi pelacur karena kemiskinan,” ujar koordinator Bendera, Mustar Bona Ventura dalam pernyataannya persnya, Kamis (17/11/2011).

Menurut Mustar, dengan jumlah uang sebanyak itu setidaknya 120 SD bisa di bangun dan setiap tahun ada 6.000 anak bisa menikmati sekolah. Atau, lanjut Mustar, bila uang sebanyak itu diangarkan sebagai modal usaha maka setidaknya mampu memodali lebih dari 2.000 usaha kecil dan
menengah (UKM) yang mampu menyerap hingga 6.000 tenaga kerja dan menghidupi 18.000 jiwa.

Biaya sebesar Rp 12 milyar tersebut patut dipertanyakan, karena jumlah kekayaan SBY tahun 2011 yang dilaporkan dan bisa diakses di kantor KPK cuma sekitar Rp 7,6 milyar + US$ 269.000. [] lk

Meski Tanpa Kaki dan Tangan, Tangkas Bermain Bola


HMINEWS – Adalah seorang anak manusia yang dikarunia kekurangan fisik, Ellie Challis, ia tergabung dalam klub sepakbola di sekolahnya walaupun menggunakan kaki palsu dan tanpa tangan.

Virus meningitis yang hinggap di tubuhnya, membuatnya orang yang tinggal di Essex, INggris ini kehilangan lengan dan kaki sejak tahun 2005.

Lisa, sang ibu menceritakan kisah Ellie: “Ellie bangun suatu pagi dan mengeluh sakit. Badannya demam  dan tubuhnya kedinginan. Aku membawanya ke rumah sakit tapi tes darah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit dan kami diperbolehkan pulang. Tapi ketika kami tiba di rumah, saya mendapati tiga bintik merah di bagian belakang Ellie.

“Empat jam kemudian, bintik tersebut menjadi berwarna ungu tua. Saya  tahu itu meningitis dan langsung dan kami bergegas kembali ke rumah sakit. Ellie begitu berani saat dokter memasukkan tabung ke dalam dirinya dan tubuhnya membengkak sampai tiga kali ukuran.

“Ellie memburuk dengan cepat. Dalam beberapa menit dia menjadi hitam dan biru. Kemudian hanya beberapa jam kemudian jantungnya berhenti dan dokter menyampaikan kepada kami untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Ellie. Saya dan Paul (ayah Ellie) hanya berdiri di ujung tempat tidurnya dan berteriak padanya untuk bertahan hidup.

Kami pikir kami akan kehilangan Ellie, tapi luar biasa, jantung Ellie berdetak kembali. Namun empat hari berikutnya, perlahan-lahan kaki Ellie dan lengan mulai berubah menjadi hitam. Kami pun diberitahu bahwa tangan dan kakinya harus diamputasi. Kami merasa hancur. Yang saya bisa pikirkan Ellie tak akan pernah hidup normal.

Operasi itu berlangsung enam jam dan saya begitu terkejut ketika saya melihatnya – hanya tersisa sedikit dari dirinya. Saya terus menangis.”

Ellie sudah 4 tahun berjalan dan beraktivitas dengan kaki palsunya. Menurut ibunya, Ellie adalah anak yang paling berani dan luar biasa. Ellie tidak memiliki masalah di lapangan sepak bola sama sekali. Ellie begitu mencintai sepakbola. Klub kesayangannya adalah Arsenal.

“Tidak memiliki kaki tidak akan menghentikan saya!” begitu ucap Ellie.

Ellie dilengkapi dengan kaki palsu baru dari Dorset ortopedi, dengan bergerak sendi lutut, pada Desember 2006, yang benar-benar membantunya. Dan hidupnya revolusi pada April 2009 ketika ia menjadi orang termuda di dunia yang akan dilengkapi dengan beberapa serat karbon khusus olahraga kaki, yang memungkinkan dia untuk bersaing dengan saudara kembarnya. [] berita2/lk

Kehabisan Tiket, Supporter Nekad Bakar Loket

HMINEWS – Karena kehabisan tiket untuk menonton final Indonesia melawan Malaysia yang akan berlangsung Senin (21/11/2011) besok, mereka nekat membakar loket karcis.

Sebagaimana dikutip oleh Kompas.com, Arya, salah satu suporter yang turut dalam antrean, Minggu (20/11/2011), membenarkan peristiwa tersebut. “Banyak yang udah ngantre sejak pagi pukul 07.00 WIB, mungkin mereka kesel juga,” ujarnya.

Arya mengatakan, peristiwa tersebut berawal dari tindakan semena-mena petugas loket yang tanpa pemberitahuan apa-apa langsung menutup loket sekitar pukul 16.00 WIB. “Tahu-tahu loket ditutup tiba-tiba.Udah gitu petugasnya cuma ngomong, ‘Maaf Mas besok aja ya’,” ujar Arya menirukan ucapan petugas loket yang saat itu dijaga tiga orang.

Suporter yang telah menunggu lama kesal dengan penutupan tersebut dan nekat membakar loket yang berada di dekat Tennis Indoor Senayan dengan botol berisi minyak tanah. Beruntung, api tidak menyambar ke bilik loket yang ada di sebelahnya. [] lk

 

Jika Pimpin KPK, Bambang Siap Bongkar Century

HMINEWS – Berbicara dalam peluncuran buku ‘Perang-Perangan Melawan Korupsi’ karya Bambang Soesatyo di RM Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2011), Bambang Widjojato yang akrab disapa BW, mengungkapkan bahwa kasus Bank Century menyangkut hajat hidup orang banyak. Sehingga KPK wajib memberikan klarifikasi data dan fakta yang berkembang di media massa dan publik.

“Century itu intinya buktinya kuat. Di DPR cukup kuat, di KPK belum cukup bukti, perlu waktu melihat-lihat informasi yang berbeda,” ucapnya.

Terlepas dari terkatung-katungnya kasus tersebut, dia mengaku siap membongkar kasus yang diduga melibatkan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, tersebut jika terpilih jadi pimpinan KPK. Tentunya, lanjut dia, bila memang ditemukan adanya bukti-bukti yang kuat.

“Century saya beranilah, prioritas. Belum calon saja saya sudah berani, apalagi (jika) ketua nanti,” tegas Bambang. [] lk