Gerakan Mahasiswa dalam Mengawal Hegemoni Rezim

Oleh Subhan Agung[1]

 

Pengantar

Rezim Soeharto terkenal dengan pendekatan economic-depelovmentalisme dalam konsep pembangunan negara yang menempatkan ekonomi sebagai ‘panglima’. Pendekatan Rezim ini membuat gerakan mahasiswa nyaris kehilangan tempat berpijak. Untuk mengamankan laju pertumbuhan ekonomi, pemerintah melakukan standar ganda yang ambivalen bagi mahasiswa (dan rakyat secara keseluruhan). Di mana di satu sisi pemerintah membatasi ruang gerak seluruh kekuatan masyarakat dalam segala bentuknya. Proses depolitisasi dan deideologisasi yang diterapkan pemerintah terhadap masyarakat telah mampu menyerap seluruh kekuatan massa rakyat. Semuanya larut dalam kekuatan hegemoni negara. Proses ini hanya menawarkan dua alternatif, ikut dalam kemauan negara dengan menempati seluruh wadah yang telah disediakan pemerintah atau hancur sama sekali.

 

Mahasiswa dan Gerakan Moral

Kondisi politik di atas tentu saja membuat gerakan mahasiswa cenderung dilematis, bahkan seperti jalan tanpa arah. Namun, walaupun cenderung tanpa arah, gerakan mahasiswa mampu menyesuaikan dengan gejala politik kekinian dibanding gerakan sosial lainnya. Satu hal yang menjadikan “kekenyalan” aktivitas gerakan mahasiswa untuk mampu bertahan adalah komitmen mereka pada nilai dan keteguhan jiwa untuk tetap berpegang pada gerakan moral.

Dalam pengamatan Al-Zastrouw (1998; 141), yang dimaksud gerakan moral di sini adalah komitmen mereka pada nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, menjunjung tinggi nurani, harkat, martabat kemanusiaandan selalu berusaha menggugat kesenjangan di lingkungannya. Kesenjangan di sini mengandung makna suatu realitas yang seharusnya tidak terjadi karena tidak layak, merugikan dan mengandung unsur ketidakadilan. Di mana kalau kita cermati kesemua nilai-nilai tersebut merupakan esensi dari perjalanan menuntut ilmu yang merupakan “pekerjaan sehari-hari” mahasiswa.

Selama ini hampir seluruh gerakan mahasiswa selalu mengklaim diri sebagai gerakan moral. Meski dalam operasionalnya terbagi menjadi varian yang sangat beragam, kelompok-kelompok diskusi (focus group discussion), pers, LSM, organisasi ektra kampus—termasuk organisasi masyarakat (Ormas)– sampai kelompok-kelompok aliansi dan front yang biasa turun ke jalan.

Menjadikan nilai dan moral sebagai basis dan orientasi gerakan mahasiswa adalah suatu keniscayaan. Kalau Antonio Gramsci menyebutnya dengan gelar organic-intelectuals, Ali Syari’ati dengan raushanfikr dalam Al-Mandary (2002:112). Namun, pada hakikatnya keduanya memiliki banyak kemiripan, yakni manusia yang menguasai teori dan berupaya untuk mensinkronkan dengan realitas objektif di lingkungannya sampai mampu untuk mewujudkannya.

Lebih lanjut Al-Zastrow Ng (1998, 143), mengulas gerakan mahasiswa dari segi ferforma dan orientasi gerakannya, secara umum kita dapat melihat empat macam tipologi gerakan mahasiswa. Pertama, tipe gerakan elitis dan berorientasi elitis. Pada tipe ini sama sekali tidak punya concern pada persoalan sosial-kemasyarakatan. Bagi kelompok ini realitas adalah kenikmatan hidup, oleh karenanya aktivitas mereka sepenuhnya diorientasikan pada upaya memenuhi kenikmatan. Persoalan kemiskinan, problem sosial dan sejenisnya adalah merupakan sesuatu yang terkutuk dan sama sekali harus dihindari karena menjijikkan.

Kedua, gerakan populis, berorientasi elitis. Tipe ini selalu akrab bergumul dengan berbagai problem sosial dan membincangkannya setiap saat. Namun, tetap saja tidak berpretensi menyelesaikan masalah tersebut. Tipe ini justru merasa diuntungkan dengan adanya problem sosial. Bagi mereka kemiskinan dan problem kerakyatan merupakan komoditi yang biasa diperjualbelikan. Gerakan ini mempertahankan elitisme dengan bersikap populis. Tipe semacam ini sama bahayanya dengan tipe pertama.

Ketiga, gerakan elitis, berorientasi populis. Pada tipe ini sudah ada kemauan untuk melakukan transformasi sosial. Namun, karena alasan-alasan tertentu (status sosial, kemampuan bahkan derajat keberanian) menyebabkan mereka enggan menyentuh langsung medan yang sesungguhnya. Problem-problem sosial diamati dan dipecahkan dari jauh, seperti seorang dokter yang menyembuhkan pasien. Kelompok ini tercermin dalam gerakan kelompok diskusi, pers mahasiswa dan sejenisnya.

Kelompok keempat yang paling ideal yaitu gerakan populis, berorientasi populis. Pada gerakan ini seluruh aktivitas bersentuhan langsung dengan fakta dan realitas empiris yang ada dan bertujuan untuk menyelesaikan dan menjawabnya. Gerakan ini lebih efektif karena ada hubungan emosional dan sikap empati yang cukup tinggi antara pelaku aksi dengan masyarakat.

 

Mengawal Hegemoni Rezim

Arbi Sanitdalam M. Rusli Karim (1997 : 15) berpendapat bahwa sedikitnya ada lima alasan mengapa mahasiswa terpanggil untuk menjadi agen perubah (agen of social change) atas segala kemapanan yang menindas rakyat, yakni ; pertama, adanya kesadaran berbagai kelompok masyarakat yang pendidikannya relatif baik. Kedua, lamanya proses pendidikan yang dialami memberikan sosialisasi politik yang relatif lama. Ketiga, akulturasi sosial-budaya yang tercipta di lingkungan kampus. Keempat, kesadaran berbagai kelompok elite di kalangan pemuda yang nantinya akan memasuki “lapisan atas” dalam hierarki politik dan kepemimpinan bangsa. Kelima,  keterlibatannya dalam

Harus diakui bahwa sejarah menunjukkan gerakan mahasiswa dalam perkembangannya terjadi pasang-surut dan sangat tergantung kepada momentum. Selain itu juga gerakan mahasiswa masih terkesan tidak kompak, sporadis dan membludak ketika ada satu momentum dalam gejala sosial tertentu. Ini bisa terlihat dari terkotak-kotaknya gerakan mahasiswa dalam dekade zaman tertentu. Misalnya kita mengenal gerakan mahasiswa 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978,1990-an dan 1998. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh, di mana posisi mahasiswa yang sangat terbatas oleh waktu dan mengurai teori di kampus menjadi satu penyebab signifikan.

Dari periode-periode yang dipaparkan di atas, maka sangatlah kentara bahwa walaupun terkesan sporadis, namun pergerakan mahasiswa merupakan gerakan yang sudah mengakar semenjak puluhan tahun silam. Konsistensi inilah yang akan terus diperjuangkan oleh mahasiswa untuk selalu bersikaf kritis dan “gerah” terhadap realitas objektif di sekitarnya yang dinilai mengalami ketimpangan dan ketidakadilan.

Pantas kiranya ketika gerakan mahasiswa menjadi elemen penting bangsa ini. Bahkan dalam studi Ilmu Politik[2], posisinya merupakan salah satu kekuatan politik di negeri ini. Salah satu ranah yang menjadi titik perhatian gerakan mahasiswa adalah sikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah, terutama kebijakan yang berpengeruh besar terhadap nasib masyarakat. Dengan naluri kritis dan senantiasa dekat dengan realitas objektif masyarakat, tidak kurang mahasiswa harus menentang kebijakan tersebut.

“Penentangan” mahasiswa yang dilandasi oleh idealisme yang mereka perjuangkan yang merupakan hasil olah fikir, olah pergulatan —dialectica, bahasanya GWF. Hegel—wacana dan teori menjadi satu persepsi yang tegas dalam membela masyarakat atas sikap, tindakan dan kebijakan pemerintah yang arogan dan hegemonik dalam bahasanya Gramsci disebut perlawanan kaum intelektual (counter hegemony).Gerakan mahasiswa seyogyanya tidak dikuasai atau “ditumpangi” oleh arus kekuatan manapun, selain panggilan suci yang berbasis moral-intektual. Kita akan selalu mengharapkan gerakan mahasiswa, khususnya di Indonesia menjadi intelektual-organik yang selalu menjadi penyeimbang atas hegemonisasi penguasa.

 

Penutup

Semoga apapun organisasinya, gerakan mahasiswa selalu mampu mempertahankan idealismenya berdasarkan intelektualitas dan moral dalam mengawal kemungkinan penyelewengan rezim. Dalam gerakan semua mahasiswa harus bersatu padu merapatkan barisan dalam dinamika sosial-politik dan menjadi garda depan perubahan yang progresif. Amin, semoga saja.

 

 

 

Referensi

 

Al-Mandary, Syafinuddin, 2002, HMI MPO dan Transformasi Sosial, Penerbit Hijau-Hitam, Jakarta.

 

Gramsci, Antonio, 2001, Catatan-Catatan Politik, Pustaka Promethea, Surabaya.

 

Karim, M Rusli, 1997, HMI MPO dalam Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia, Mizan, Bandung.

 

Ng, Al-Zastrouw, 1998, Reformasi Pemikiran : Respon Kontemplatif  terhadap Persoalan Kehidupan dan Budaya,  LKPSM,  Jakarta.

 

Patria, Nezar dan Andi Arief, 1999, Antonio Gramsci : Negara dan Hegemoni,  Cet I, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

 

Rodee, Clymer Carlton, dkk, 2000, Pengantar Ilmu Politik, Cet IV,  Raja Grafindo Utama, Jakarta.

 

 

 

 



[1]Pengajar dan Ketua Laboratorium  Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.

[2]Prof. DR. Clymer Rodee, dkk, bukunyaPengantarIlmuPolitik (2000;23) menyebutkanbahwabukuBiografiAsosiasiIlmuPolitikAmerikatahun 1973 mencirikandelapankategoriumumIlmuPolitik, yang dibagidalamenambelasbidangspesialisasi. Salah satu kajian pentingnya adalah gerakan mahasiswa.